Sebenarnya, Inilah yang Pasti Adanya dalam Realita Kita


Lebih baik hidup dengan seseorang yang mencintaimu, daripada dengan orang yang kamu cintai.

Sebelum kamu kehilangan, berhentilah untuk mencoba mencari lebih. Dari sebuah kepuasan, ataupun nilai dari kebahagiaan.

Dulu, saya berpikir lebih baik keduanya saling mencintai. Sayangnya salah, pasti ada salah satu yang mempunyai lebih dan sebaliknya, kurang dalam hal take and give.

Lebih baik kamu hidup dengan seseorang yang mencintaimu, daripada dengan orang yang kamu cintai. Tahu kenapa?

Karena ada baiknya, semua yang kamu lakukan dan perjuangkan, dihargai dan dianggap olehnya. Tidak sebelah mata, ataupun mengecilkan sebuah peran diri kita.

Penghargaan dalam kehidupan nyata, adalah nilai terbaik dari sekedar ucapan janji manis tanpa realita. Kosong, dan nyaring bunyinya. Pahit pada akhirnya.

Tidak menjadi eksis dalam kesehariannya, adalah menyedihkan.

Tidak berperan dalam realitanya, adalah perih. Unforgetable.

Disaat manusia-manusia lain, dianggap berperan lebih dari sekedar diri kita yang mungkin null.

Tidak bernilai.


Sebaik dan sehebat apapun dirimu, realitanya adalah: manusia menikmati kenyamanan yang lebih.

Apapun yang kamu lakukan, dengan segala upaya yang kamu keluarkan demi seseorang, semuanya akan berbalas bias subjektif: bahwa mereka inginkan hal yang lebih. Kenyamanan salah satunya.

Seseorang yang telah diperjuangkan. Dengan mudah berbalik pada realitanya. Sikap dan sebuah perasaan yang dulunya terindah, dalam sekejap menjadi terburuk.

Hal terhebat yang pernah kamu anggap dalam hidupmu, berbalik menjadi hal yang tidak bernilai di matanya.

Hal terberat yang pernah kamu lalui dalam proses kehidupan, berbalik menjadi teringan dan sangat sepele baginya. Itulah hidup, tidak ada kata maaf dan menerima lebih ‘manusiawi’.

Hati pun menjadi beku, mati suri. Selama ia mampu mencapai tingkat nyaman yang lebih. Yang banyak, dalam kuantitas.

Semuanya akan meninggalkan kita. Siapapun itu.

Hanya keluarga yang benar memahami siapa dan bagaimana kita. Semuanya akan menjadi sendiri, ketika perlahan manusia mencari hal yang lebih nyaman, indah dan baik menurut mereka.

Moral relativism.


I see human without humanity.

Manusia hanya berupa wujud, bentuk nyata. Tanpa adanya sisi rasa kemanusiaan di dalamnya, inilah realita kita di jaman ini. Manusia hanya dinilai dengan apa yang dimilikinya, sebuah nilai yang terkandung dalam objek benda, materi.

Berapa kali kita lebih menginginkan semua hal yang tidak kita butuhkan sebenarnya, sekedar ingin. Pemenuhan kepuasan diri sendiri, tanpa berpikir mendalam: sudahkah kita bersyukur dengan apa yang kita punya?

Bagaimana dengan mereka, diluar sana? yang sekedar makan pun terlihat sulit untuk dicapai sehari-harinya?. Apakah kita peka sebagai manusia, terhaedap manusia lainnya?

Yang berserakan di tepi jalan, mengemis di pinggiran, dan anak-anak yatim piatu yang lebih membutuhkan pertolongan nyata, dan sangat sederhana.


Kita ingin mencapai tujuan kita, bukan karena dari dalam diri yang menginginkan semua itu.

Sadar tidak sadar, kita seringnya menginginkan hal yang diinginkan bukan berasal dari tujuan awal sebagaimana mestinya. Karena kita lebih sering tergiring sisi ego, bahwa kita ingin berada di titik A karena orang lain sudah berada di titik A lebih dulu.

Kita hanya ingin memuaskan ego, keinginan. Pemenuhan kebutuhan, bahwa kita tidak sanggup menerima kekalahan yang dicapai orang lain. Saya sudah meninggalkan itu jauh-jauh hari yang lalu.

Sejak DNA kita diciptakan Tuhan saling berbeda satu sama lain, diantara miliaran manusia. Maka kita beda.

Misi kita beda, proses kita beda, dengan tujuan yang beda. Diiringi problematika tanpa henti mengalir dengan cara yang berbeda pula solusinya.


“You have to keep breaking your heart until it opens” — Rumi

“Semuanya sudah di ujung jalan, diabadikan di tempat terindah apa adanya. Semoga Tuhan kembalikan segalanya, untuk terakhir kali”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.