The Painful Truth is Better than Sweetest Lies?

Kebanyakan manusia sering mengucap: “Lebih baik kebenaran, walaupun emang pahit.”

Verbal berucap enteng, sarkasme. Di satu sisi, batin seringkali berontak ingin keluar, seraya berucap, “No..no..no…no jangan berikan akuhhh realita! pa….hitttt.”

Namun.

Sejak manusia diciptakanNya saling berbeda. Kita mungkin serupa tapi tak sama. Saya keukeuh, lebih baik opsi pertama, daripada yang nomor dua itu. Getir, penuh satir menguras logika yang pasti berhantaman dengan emosional sebuah perasaan dalam diri. Hati, itu yang dimaksud.

Bukankah lebih baik painful truth yang sengaja diumbar ke permukaan sedari awal, daripada memang harus ditemukan, di tengah gelapnya pekat berlorong-lorong dalam lingkar labirin?

Kemungkinan kita memiliki respon yang berbeda, acapkali menerima realita yang kontradiktif, meluber penuh kekecewaan.

Dalam harapan, semoga kebenaran selalu tetap berjalan mengiringi perubahan. Entah perubahan dalam dimensi waktu, atau perubahan dalam perjalanan menuju cinta hakiki.

Karena saya selalu percaya:

“Innamal A’malu Binniyat.”

Selalu yakin, semua berawal dari niat yang mendalam. Ikhlas dan tulus. Apapun hasilnya nanti. Biarlah.

Painful itu pasti, namun memilih ada di pelukan perihnya penderitaan batin, hanyalah sebuah pilihan (pada akhirnya, sekarang ataupun nanti).

Biarlah menjadi terus begini. Sembari menaruh harapan Infinity, semua bisa berubah.

Mungkin?

Ehm. Biasakan sedari dulu, untuk menjauh dan diam. Lalu, sakit sendiri.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.