Theory of ‘Tukang Warteg’

Ketika teori sederhana berasal dari kisah Tolib dan anak buahnya.


Semua berawal dari sini.

Tuol Kork, siang hari.

Ruangan yang berada di lantai dua #street. 608, seperti biasa di jam-jam hectic pasca makan siang, hening dengan keasyikan masing-masing di depan layar monitor.

Kalaupun ada desibel berbunyi, mayoritas berasal dari bunyinya tombol keyboard dan percakapan kecil kami. Ditambah bunyi dering telepon berasal dari lantai satu.

“Gimana disana? puasa gak?,” muncul satu baris pesan dalam Whatsapp saya. Dengan nomor yang tidak dikenal.

Siapa ini, pikir saya dalam hati.

Saya langsung ke bagian kiri atas profil nomor itu, kurang dari satu detik, saya hapal ini siapa.

Nah, ini si om ternyata.

Om Maman, adik kandung dari almarhum papa. Dalam foto profilnya, terlihat ia berpose santai menggunakan batik berdua teman cowoknya.

Saya tahu, harus meresponnya dengan cepat.

“Oh om Maman, disini gini dah panas! Puasa? Insya Allah,” respon hangat disertai sedikit bernada religius tapi sebenarnya ambigu.

“Lebaran pulang ya,” anjurnya singkat. Cukup tiga kalimat.

Anjuran yang jarang saya dengar keluar darinya. Asumsi saya, ia merasa berperan untuk mengingatkan saya yang jauh disini.

Setelah kepergian kakek di tahun 2007, yang kemudian disusul papa saya lima tahun berikutnya. Om maman otomatis berdiri sebagai perwakilan keluarga besar H.Muchtar.

“Nah itu dia om…” saya menjawab sekilas. Sambil pelan-pelan mikir lanjutannya.

Nah itu dia gimana?

Nah itu dia bakal pulang, atau nah itu dia….enggak!

Satu diantara tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, lebaran adalah motif terkuat untuk bisa berkumpul bareng keluarga besar dari manapun.

Saya yakin, tidak ada satupun manusia yang ingin absen saat lebaran. Di tengah-tengah keluarga mereka.

Sukacita, tertawa dan bahagia.

2015

“Kayanya, egi gak dapat izin om. Masih banyak yang harus dikerjain…” perjelas saya.

Belum selesai mengetik pesan berikutnya, ia lebih duluan membalas.

Dengan gaya ngocol-nya:

“Masa kalah ama tukang warteg,”

“Tolib aje warteg depan rumah tomang, anak buahnye mudik ke kampung,”

Yang reflek membuat tawa saya lepas, Mengagetkan Darith, di sebelah kanan meja.

”Ngehek! disamain ama tukang warteg! ada aje istilahnye.” dalam hati saya gerutu.

Yang no hard-feeling dengan gayanya, sudah hapal.

Flashback! saat dia bilang si Tolib, ingatan saya mengenang warna keruh dan kusamnya lap warteg yang tiap malam ia gunakan untuk bersihkan kaca etalase.

Tolib, warteg yang sejak awal 80-an sudah terletak di seberang rumah saya.

“Lah haha kagalah! beda om, anak buahnye Tolib balik tinggal ngesot ke Tegal. Mudiknya juga pake rupiah, bukan Dollar.” jawab tanpa mau terlihat kalah mutlak olehnya.

“Yah, sama aje. Intinye mudik ye kan, pulang kampung. Daripada enggak. Jauh-jauh kerja masa gak pulang.” argumennya bernada konservatif.

“Di mari kan beda om, liburnya juga. Lebaran orang Khmer kemarin April udah. Natalan ada, lebaran gak ada.” jelas saya.

Kingdom of Wonder yang mayoritas menganut Buddha Theravada, punya Khmer New Year. Yang April kemarin, kantor kasih kami libur panjang sepuluh hari.

Selain itu, ada libur paketan tiga hari: King’s Birthday di bulan Mei, Pcum Ben Day di akhir September dan Water Festival Day di bulan kesebelas, November.

“Salam kangen yah buat nenek, ama yang lain juga om. Maaf, pertama kalinya absen.”

Saya membalas dengan berat hati.

Sesudahnya, tidak ada lagi balasan darinya.

Maaf.


6 Juli, dua hari sekarang. Pertama kalinya.

Saya tidak akan ikutan kumpul di rumah nenek, yang hanya lima menit naik motor dari rumah saya yang juga di kawasan Tomang. Dan tidak bertemu mama, orangtua terakhir yang saya punya.

Berarti saya juga absen dalam seremonial foto edisi ‘tangga’ bersama mereka, the cengceremen adik-adik sepupu yang satu-satu mulai tumbuh besar.

Sudah jauh dari istilah lucu dan imut.

Tangga 2015

Kehilangan momen ketupat rendang plus kuah opor, guyuran kuah kikil di atas nasi putih lengkap dengan kerupuk emping, yang pasti ada sebagai pelengkap.

Semuanya all you can eat.

Pertama kalinya. saya tidak bisa (lagi) bertemu kakek Ayib, lelaki tua yang sejak lima tahun lalu tinggal bersama di rumah saya.

Sepindah ia kerumah anaknya, itulah terakhir kali saya melihat kakek yang semakin memutih rambutnya.

Sampai sekarang, ada satu hal yang membuat saya kepikiran, tidak berpamitan langsung bertemu dengannya.

Oh ya, kalau ada saudara saya yang kebetulan membaca ini, mohon sampaikan rasa kangen dan permintaan maaf saya kepada papa dan kakek yah!

Yang ‘tinggalnya’ bersamaan di Karet.


Three card monte.

“Egi, i thought we’ve several projects that we need to you as primary role and monitor. Let’s move your plan to next year yeah? its fine right?”

Pernyataan dua minggu lalu yang dibumbui dengan nada pertanyaan di akhirannya, dari Lundy. Owner asli seorang Khmer.

Saya jawab dibarengi anggukan: “Yeah, yeah of course its ok.”

Situasi three-card monte, saya mengistilahkannya. Diambil dari satu trik populer dalam dunia sulap. Hanya cukup tiga buah kartu.

three-card monte via wikipedia

Triknya sederhana.

Di awal permainan, sang pesulap memperlihatkan ketiga bagian muka kartu dengan jelas. Kemudian ditutup terbalik dengan cepat, sang pesulap acak, di bagian akhir, penonton cukup menebak satu kartu yang benar diantara ketiganya.

Hasilnya?

Semua pilihanmu akan salah semua, kamu kalah. Si pesulap menang. Bye.

Karena itu memang sebuah ‘trik’.

Kronologis di atas, Lundy sebagai sang pesulap.


Saya masih penasaran untuk bisa pulang. Kesempatan kedua, saya coba konsep melalui Skype, basa-basi panjang lebar dari awal sampai akhir percakapan, hasilnya sama: null (noun: a zero).

Syit, miss-direction saya gagal! ya sudah, what doesn’t kill you make you stronger. Afirmasi positif ke dalam diri sendiri.

Kemudian, datanglah kembali si Om dengan topik lain, yang lumayan konyol (beserta jawabanannya).

Sepeda Vietnam.

Padahal, sudah saya alihkan dengan topik tentang foto. Tapi gagal, ia keukeuh penasaran dengan sepeda Vietnam, yang harusnya saya cari di Vietnam.

Sementara saya di Phnom Penh, Kamboja bukan?

“Sepeda gampang ban nya bisa copot packing deh bereees.” dengan mudahnya ia menginformasikan.

Mungkin sepeda yang ia maksud, seperti dulu si Arwen, sepeda lipat yang saya beli di area ruko Roxy Mas. Makanya dikira gampang.

Untuk laundry baju kotor yang jaraknya seratus meter dari guest house sudah lumayan males, gimana kalau urusan kirim sepeda?! besi dicopot-copot, pake obeng, belum lagi baut-bautnya jangan hilang.

Berkali-kali saya sering bilang padahal:

Phnom Penh itu Kamboja, Vietnam itu Ho Chi Minh. Tapi terus-terusan berulang datang lagi pertanyaan yang sama.

Mungkin salah saya, yang suka menggambarkan jarak Phnom Penh ke Saigon itu kaya dari Jakarta ke Cirebon, kira-kira empat jam-an.


Bahasan terakhir dengan si Om, makin buat saya semakin kangen untuk pulang dan bertemu mereka.

Salam, sungkeman, dengan menceritakan apa saja yang terjadi dalam hidup saya disini.

Tapi, bisa apa? pertama kalinya tanpa mereka. Hibur saya dalam diri.

Ditambah, hilir mudik update-an facebook news feed teman-teman Indonesia disini yang sudah tiba di rumah bareng keluarga.

Menelan ludah pun terasa berat, nyelekit.

Ingin cepat-cepat panggil abang tuk-tuk, tolong antarkan saya sekarang menuju airport!

Emosi, perasaan senang yang diproses Dopamin dalam otak, menyulap antusiasme ketika ‘pulang ke rumah’ punya sensasi lebih.

Tolib dan anak buahnya, sudah pasti telah sampai di kampungnya masing-masing. Beres-beres rapihkan rumah, dikelilingi aroma wangi bumbu rendang yang tercium keluar dari balik dapur mereka.

Mereka sudah pasti bersiap untuk besok takbiran.

Berapapun uang yang terkumpul, setelah banting tulang di ibukota. Nominal bukanlah menjadi masalah besar.

Asalkan bisa sampai rumah, cukup seadanya dibalut kesederhanaan. Selebihnya, keluargalah yang menjadi kuncian pelengkap kekurangan semuanya.

Keluarga adalah pain-killer.

Sesuatu yang dulu saya tidak pernah anggap begitu penting dan meremehkannya…

via buzzfeed

Theory of ‘Tukang Warteg’, begitu om Maman bilang.

Mereka pulang, saya tidak.

Selamat lebaran mama, nenek, om — tante & adik-adik di Jakarta ☺

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
Let me go home …
- Home

.Phnom Penh, dua hari sebelum Ied tiba.