Jejak Patrian Kakek

Sarip, umur 95 tahun, masih kuat memanggul 2 kotak perkakas patri dengan pikulan yang ia bawa keliling daerah Cisitu Baru sampai ke Simpang Dago. Ini bukan pekerjaan baru bagi seorang kakek 15 cucu ini, “Saya sudah 50 tahun menyediakan jasa patri”, ujar Sarip. Istrinya berumur 75 tahun, setiap pagi selalu menyiapkan sarapan untuk energi Sarip berkeliling. “Makan apa aja lah yang penting keisi perutnya”, ujarnya.

Lahir di Tasikmalaya tahun 1922, sekitar 2 tahun lebih lambat dari berdirinya Technische Hogeschool Bandoeng, atau 6 tahun lebih cepat dari Sumpah Pemuda, Sarip pernah menjadi mandor pasang seng perumahan kota Bandung dengan upah 2 ketip. Sempat pulang ke Tasikmalaya karena kondisi tak kondusif saat Jepang masuk Hindia Belanda, hingga akhirnya pada tahun 1950 Sarip memutuskan untuk ke bandung lagi jadi mandor dan akhirnya jadi tukang patri. “Sehari belum tentu ada yang pakai, kalau dihitung-hitung seminggu pemasukan bisa sampe seratus ribu”, katanya.

Dia berbagi cerita tentang daerah sekitar ITB. “Itu Sabuga (daerahnya) dulunya sawah semua terus dibangun tahun 90an. Kalau yang itu (Kampung Kolase) tanahnya punya PU”, sambung dia, “Soekarno dulu sering datang ke Gasibu, ITB, sama di Balkot. Itu anak-anak ITB juga yang gerak sampai Soekarno legrek”. Dia bercerita tentang masa lalu, “Dulu jalan ini (jalan di segitiga Simpang Dago depan Si**e dan Co****do) mah kosong, saya bisa gelar tiker jam 1 siang di tengah jalan”. Satu lagi kalimat pamungkas, “Operasi Janur Kuning itu bohong. Soeharto itu bohong”.