Ahmad Tohari Membahasakan Pedesaan

Perjumpaan saya dengan karya-karya Ahmad Tohari dapat dikatakan baru seumur jagung. Kubah, novel beliau yang terbit pertama kali pada tahun 1980 adalah karya pertama yang saya baca. Menyusul kemudian Bekisar Merah, walau tidak sampai selesai, dan Di Kaki Bukit Cibalak. Semuanya saya baca di semester-semester awal perkuliahan. Cara Tohari dalam menggambarkan lanskap pedesaan, keindahan dan eksotisme alam, serta pergolakan batin tiap-tiap karakter yang ia bangun, menunjukkan khazanah kebahasaan Tohari yang begitu kaya.

Ibarat seorang pelukis, Tohari mampu merekam dan menggambarkan keindahan alam dengan kombinasi kata dan bahasa. Pria kelahiran Banyumas ini tidak hanya piawai menggunakan bahasa Indonesia dengan pemilihan kata yang digunakan. Pembaca juga diajak menyelami khazanah budaya dan bahasa Jawa lewat berbagai istilah serta peribahasa yang disisipkan di tiap-tiap karyanya.

Ahmad Tohari, sebagai seorang penulis tidak hanya produktif menulis novel dan cerpen. Ia juga aktif mengisi berbagai diskusi serta seminar-seminar kebudayaan. Selain itu, ia juga pernah berkarir dalam dunia jurnalistik. Selain menjadi staf redaktur di harian Merdeka, ia juga pernah berkarir di majalah Keluarga, dan majalah Amanah. Namun, ketertarikannya terhadap keaslian alam menjadikan Tohari tidak betah tinggal di kota. Saya pribadi kurang tau kebenarannya, tetapi pernyataan ini setidaknya dapat kita jumpai di profil diri yang berada di halaman akhir tiap karyanya.

Tema-tema yang sering diangkat Tohari sebenarnya sangat dekat dengan keseharian wong cilik. Apalagi jika dikontekskan ke waktu saat karya tersebut diterbitkan. Kubah misalnya, bercerita tentang kondisi eks tapol setelah huru-hara politik tahun 60-an. Tema serupa juga dapat kita jumpai pada opus magnum-nya, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Novel itusendiri dibuka dengan penggambaran latar tempat kisah tersebut. Tohari menulis:

Sepasang burung bangau melayang meniti angin, berputar tinggi di langit. Tanpa sekali pun mengepak sayap, mereka mengapung berjam-jam lamanya. Suaranya melengking seperti keluhan panjang. Air. Kedua unggas itu telah melayang beratus-ratus kilometer mencari genangan air. Telah lama mereka mencari mangsa; katak, ikan, udang, atau serangga air lainnya.

Selayaknya sebuah film dokumenter yang dibuka dengan scene bergaya eagle eye — pengambilan gambar dari sudut pantang seekor burung, dari atas. Tohari menggambarkan Dukuh Paruk dengan menceritakan burung-burung yang bergantung pada kondisi alam Dukuh Paruk. Sebuah pedukuhan kumuh yang dikelilingi pesawahan yang memisahkan Dukuh Paruk dari pedukuhan lain disekitarnya, lebih-lebih pesawahan tersebut menjadi semacam benteng yang memisahkan Dukuh Paruk dari permasalahan diluar dirinya.

Otentisitas masyarakat desa dengan berbagai sifat, permasalahan, dan dinamika yang ada dikisahkan dan menjadi fokus dalam berbagai karya Tohari. Dalam Di Kaki Bukit Cibalak, misalnya,Tohari berkisah tentang dinamika penduduk desa dalam menghadapi gempuran modernitas yang sedemikian intens. Dibandingkan dengan karya-karya berupa novel tersebut di atas, beberapa cerpen yang terkumpul dalam Senyum Karyamin misalnya, secara lebih radikal mengangkat masalah sehari-hari yang jujur saja agak jauh untuk saya bayangkan. Karena konteks kedesaan dari tiap-tiap kisah dan latar yang disajikan Tohari sesungguhnya amat jauh dari keseharian saya yang hampir dua puluh tahun hidup di tengah kota.

Cerpen berjudul Senyum Karyamin itu sendiri misalnya, berkisah tentang hidup seorang kuli panggul batu alam yang kelaparan dan dihimpit hutang akibat kondisi ekonomi yang tidak menentu. Gurauan Karyamin dan rekan-rekan sesama kuli panggul yang jujur dan dangkal, khas masyarakat pedesaan sama sekali tidak membekas buat saya. Tapi kalau dilihat konteks kisahnya, apa-apa yang terjadi dalam semesta yang dibangun Tohari sangat masuk akal. Namun sekali lagi, saya merasa terasing dari karya-karyanya, sebab konteks pedesaan hanya dapat saya bayangkan lewat karyanya.

Tohari berkisah dengan bahasa yang lugas dan sederhana. Sesederhana permasalahan yang ia angkat lewat karya-karyanya. Namun satu yang menurut saya harus dicontoh penulis-penulis muda. Khazanah bahasa, khususnya pembendaharaan kosakata bahasa Indonesia sangat penting untuk mampu menghadirkan keindahan dan eksotisme alam kita. Walau sekali lagi, bahasa semata-mata sebagai simbol. Keindahan yang ditangkap indera manusia sampai kapanpun tidak akan mampu dibahasakan, sebagaimana keterbatasan akal manusia untuk mencapai pengetahuan murni. Tapi toh, sebagaimana filsafat, yang terpenting bukan kesempurnaannya kan. Tapi usaha manusia untuk mendekati kesempurnaan dan keindahan semesta itulah yang kita apresiasi.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Faisal Nur’s story.