Monumen

Lima belas menit. Dari 4th Avenue menuju Broadway. Terdorong kerumunan. Menikmati segala kenangan yang menjadi simbol dan monumen hidup. Menjadi hasrat-hasrat bawah sadar yang dipendam. Aku di kota besarmu.

Menyusun kembali memori dalam berpuluh surat yang kau kirimkan. Merekonstruksi tiap adegan demi adegan. Menariknya kembali ke garis waktu dimana aku berdiri. Turis yang menyebalkan. Begitu pikir mereka.

Bunyi beker. Terbangun dari mimpi panjang yang melelahkan. Menyaksikan segalanya yang datang dan berlalu begitu saja. Sepertimu.

Monumen kotaku masih berdiri kokoh. Putih. Tetap berada dalam garis waktu dan ruang yang sama. Tapi kamu pergi. Bersama duapuluh enam inchi sisa badai salju semalam.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.