Mencari Apa di Ciheras?

Oleh-oleh perjalanan dari Lentera Bumi Nusantara, Ciheras.


Teman: Ngapain ke Ciheras?

Jawaban formalitas: Mau maiiiin~

Padahal mah.. Ingin mencari jawaban.


Lokasi tujuan main saya adalah Lentera Bumi Nusantara (LBN) — sebuah lembaga penelitian, universitas kehidupan, kewirausahaan sosial berbasis local wisdom.

LBN berada jauh dari kota, sekitar 6–8 jam perjalanan dari Bandung. Berada di daerah Pantai Cipatujah. Hal yang menarik justru mayoritas penggeraknya adalah anak-anak muda. Berbagai karya riset yang dihasilkan diantaranya wind turbine, hingga produk agribisnis (madu hutan, teh kelor, peternakan kambing, dll).

Pertanyaan yang membuat saya penasaran, hingga tertarik ke Ciheras adalah:

Apa sih sebenarnya yang di cari dari para anak muda di Ciheras?

Kok lulusan perguruan tinggi bagus, ada yang sudah lama tinggal di luar negeri, ada yang anak s2 fast track itb, kok malah pergi ke daerah yang jauh dari kota..? Di saat anak muda, mulai terbuai dengan mengejar gaji agar digit terus bertambah, mulai nyicil beli rumah dan mobil sana-sini, mengejar kemapanan dan kenyamanan.. Kenapa mereka berpikir demikian? Apa yang melandasinya?


Saya sampai di LBN sekitar 6 jam perjalanan. Ada banyak aktivitas menyenangkan yang dilakukan, mulai dari menyaring madu, jalan-jalan ke sekitar pantai, main sama anak kambing dan anak kucing. Rasanya hidup tenang dan bahagia banget di sini.

Saya bertemu dengan Inay dan Bang Ricky. Ikut menyimak dalam briefing pagi yang dilakukan. Saya cukup kaget, kalau ternyata yang dipikirkan LBN dari aktivitasnya selama ini adalah perubahan sosial di masyarakat Ciheras.

Ciheras jauh dari kota, sekilas saya merasa “wah enak disini hidup tenang”. Tapi dengan berbagai isu kompleksitas masyarakat di desa, serta cita2 LBN untuk menjadi lentera, saya jadi sadar bahwa mereka bekerja di Ciheras bukan untuk mencari ketenangan. Ada amanat yang besar.

Di luar itu, saya juga mendapatkan 7 pesan berharga, yang secara tidak langsung menjawab pertanyaan saya di awal.

  1. Kenyamanan hati, melalaikan*
  • Hati dalam konteks ini berkaitan dengan ego dan hawa nafsu. Saat seseorang mengedepankan ego, tak lain seseorang tersebut berada dalam kelalaian.
  • Terkadang kita lebih memilih berada di zona nyaman, padahal hal tersebut sangat melalaikan.. Melalaikan dalam konteks apa? Fitrah dan tugas manusia untuk berjuang.

2. Re-definisi.

  • Keterbatasan kita dalam mendefinisikan -> berpengaruh erat terhadap sudut pandang. Tingkatkan definisi tersebut, perkaya! Termasuk dengan banyak baca buku.
  • Kadang apa yang terjadi dalam hidup, tidak selalu memuaskan hati. Hal yang menjadi check point terpenting adalah: tujuan. Apa yang sebenarnya kita cari, niat awalnya apa? Seiring perjalanan dan proses, kita perlu mengecek kembali kesesuain dengan tujuan.

3. Buat tabungan untuk melangkah lebih jauh, untuk menghadapi tantangan kedepan.

  • Semakin didorong, semakin terbiasa.
  • Limit itu dibuat oleh diri sendiri. Sempit/tidaknya ada dalam persepsi diri.

4. Hidup jangan bergantung pada orang.

  • Jangan pedulikan terhadap jasa pencapaian, karena tugas hidup ada pada perjuangan.

5. Membangun diri, membangun negeri

  • Perkuat nilai diri. Tempa diri u/ terus berkembang.
  • Harus lebih berani untuk menyampaikan apa yang diyakini hati dan nilai-nilai yang dianut. Bukan hanya tulisan, tapi ditunjukan dengan aktivitas keseharian dan pengambilan keputusan.

6. Pola pikir ketika mengambil keputusan, pertimbangkan: a) tujuan (re-definisi), b) berpikir ke depan, c) berpikir besar (sudut pandang sekeliling)

  • Saya cukup kaget, kalau ternyata yang dipikirkan LBN dari aktivitas agribisnisnya adalah perubahan sosial di masyarakat Ciheras.
  • Cerita 1: Setelah idul adha, ada yang nanya apakah masih bisa nyumbang dan motong kambing. Kang Ricky memutuskan masih nerima kambing, dengan pertimbangan, kalau di tolak ada 3 kebaikan yang hilang: 1)orang yg ingin menyembelih, 2)orang yang menjual kambing, 3) masyarakat penerima manfaat.
  • Cerita 2: masyarakat tidak selamanya bisa didampingi. Cara yang dilakukan LBN adalah memberikan “pengetahuan” kepada masyarakat: 1)value — bahwa apa yang disekitar mereka, apa yang dianggap tidak bernilai, sebenarnya bernilai. Konsep “tabungan rumput”. rumput di sekitar rupanya memiliki nilai, daripada digunduli bahan kimia, lebih baik diarit dan dijual. 2)channel — dimana, dan bagaimana mendapatkan uang tersebut.

7. Memberikan wasiat ke sekitar.

  • Saya jadi keinget surat Al-Asr, tentang konsep menasihati "watawassaw", tentang perkataan yang berkesan dan berharga kepada orang sekitar
  • LBN setiap hari mengadakan briefing pagi dan malam. Briefing nilai2 dan motivasi.
  • Hal menarik kepala sekolah ciheras senang sekali memberikan "wasiat".
  • Pertanyaaan penutup saat meninggalkan Ciheras: “apa yang kamu pelajari dari sini?” — Ketika bertemu dengan seseorang/kondisi, harus ada hikmah dan pembelajaran yang bisa dipetik.

Terima kasih Inay dan Bang Ricky atas kesempatannya bisa main ke sana. Memberikan insight baru dan penyegaran.

Jadi teringat jaman OSKM dulu (ospek mahasiswa) dan apapun aktivitas kemahasiswaan biasanya selalu membahas ini: “Apa tujuan pendidikan? Buat apa belajar?”

Jawabannya: “memanusiakan manusia”, “kebermanfaatan di masyarakat”, “supaya membangun negeri”.

Hampir saya lupa dengan tujuan tersebut. Ciheras kembali menyadarkan, bahwa hidup bukan sebatas mengejar karir dan ijazah..

Terima kasih juga untuk adys telah menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.

Salam dari Ciheras. Semoga bisa main ke sini lagi!

*Tambahan — catatan internal:

  • Saya juga jadi menginstopeksi diri. Buah dari value adalah tindakan. Seharusnya, jika saya memegang teguh iman dan akhirat mengakar kuat, tidak ada yang perlu ditakutkan dalam hidup, dan yang dikejar adalah impact.
  • Kata “melalaikan”, mengingatkan akan perkataan Rasulullah SAW: “ Akan datang kepada umatku suatu masa dimana mereka mencintai lima perkara dan melalaikan lima perkara pula. Mereka mencintai dunia dan melalaikan akhirat, mereka mencintai kehidupan dan melalaikan kematian, mereka mencintai gedung-gedung dan melalaikan kuburan, mereka mencintai harta benda dan melalaikan hisab (penelitian amal akhirat), mereka mencintai makhluq dan melalaikan khaliqnya”
  • “Za, kamu kebanyakan refleksi dah, ayo sekarang diiringi juga dengan sikap dan pilihan keputusan” ~
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Faiza Fauziah’s story.