<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Anesa Fitria Afni on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Anesa Fitria Afni on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni?source=rss-b9818d87a536------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*OOdj1A3Q7g-DQGPyoPKHkQ.jpeg</url>
            <title>Stories by Anesa Fitria Afni on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni?source=rss-b9818d87a536------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sun, 24 May 2026 02:00:41 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[The Sudden Indoor-Plant Lover]]></title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/the-sudden-indoor-plant-lover-e1dc6c12b09e?source=rss-b9818d87a536------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e1dc6c12b09e</guid>
            <category><![CDATA[plant-lover]]></category>
            <category><![CDATA[philosophy]]></category>
            <category><![CDATA[meaning-of-life]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anesa Fitria Afni]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 21 May 2026 17:33:23 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-21T17:33:23.529Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/567/1*upq7CUmq2eA5zeXSiTiIow.jpeg" /><figcaption>Pict : Anesa’s Personal Album</figcaption></figure><p><em>“An indoor plant is a small reminder that life continues gently, even indoors.”</em></p><p>Dalam salah satu buku aku pernah membaca teori mengenai <em>Biophylia Hypothesis. </em>Teori ini menjelaskan bahwa manusia secara alami mencintai alam karena sejarah panjang kita yang telah berevolusi dan hidup berdampingan bersama alam selama ribuan tahun.</p><p>Bangsa Mesopotamia dahulunya membuat simbol<em> “Tree of Life” </em>yang menggambarkan hubungan langit, bumi dan manusia ribuan tahun lalu. Sedangkan dalam <em>Norse Mythology, </em>pohon bahkan dianggap sebagai penopang alam semesta. Sementara berdasarkan Hadits Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa<em> “Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan burung, manusia, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya.” </em>Sesignifikan itu keberadaan alam, tanaman, fungsi dan posisinya bagi manusia sejak ribuan tahun lalu dalam berbagai kepercayaan, mitologi, bahkan peradaban.</p><p>Di sepanjang hidupku, aku sendiri hampir selalu menyukai tanaman yang merupakan bagian penting alam. Kembang, sayur, buah, bonsai, pepohonan, apapun. Sejujurnya keberadaan mereka di sekeliling secara tidak langsung memberikan energi positif dan ketenangan pikiran. Semakin hijau dan rimbun tanamannya, semakin tenang yang kita rasakan di dalam dada. <em>Forest bathing </em>atau<em> shin-rin yoku </em>sebagai relaksasi? Memeluk pohon untuk grounding? Berkebun sederhana? Melihat <em>nemophila field di Hitachi Seaside Park </em>selama Musim Semi? Manfaat fisik dan psikologisnya membuat kita jelas merasa jauh lebih baik.</p><p>Akhir-akhir ini secara spesifik aku mulai menyukai tanaman <em>indoor</em> (tanaman dalam ruangan). Kehadiran tanaman indoor sebenarnya bukan hal baru. Sejak Mesir Kuno, Romawi, hingga Era Victoria, manusia telah membawa alam masuk ke dalam ruang hidup mereka, hingga abad ke-20 ini. Sekarang ini malah menjadi bagian dari design interior yang digandrungi seperti gaya Scandinavian, Japandi, Urban Jungle Aesthetic, atau Biophilic Design yang banyak kita lihat di sekeliling kita. Tokoh-tokoh seperti Pelukis Frida Kahlo di <em>Casa Azul</em>nya, Hayao Miyazaki dan dunia ghiblinya, serta RM BTS juga menunjukkan kepemilikan dan kecintaannya pada ‘kehidupan hijau’ ini melalui design interior mereka.</p><p>Alasanku menyukai tanaman indoor berangkat dari pemikiran bahwa bagiku, tanaman merupakan objek yang menjadi salah satu sumber kebahagiaan. Jadi menghadirkan kebahagiaan ini di dalam ruang yang menjadi tempat untuk sendiri, berkreasi, menuangkan pikiran, bekerja, dan menghabiskan banyak waktu menurutku adalah keputusan yang tepat.</p><p>Orang bijak mengatakan bahwa <em>“A peaceful life often begins with filling your space with things you genuinely love.” </em>Ruang tempat kita hidup jelas mencerminkan apa yang sedang kita rawat di dalam diri: ketenangan, kreativitas, kelembutan, atau bahkan harapan. Karena apa yang kita lihat setiap hari diam-diam bisa jadi mempengaruhi suasana hati, energi, dan cara kita berpikir. Dan itu yang aku rasakan ketika mulai merawat tanaman-tanaman ini di dalam ruangan.</p><p>Sejauh ini aku memiliki beberapa tanaman indoor yang mudah dirawat di dalam rumah seperti <em>Bonsai, Monstera, Sansiviera, Begonia Maculata, Calathea, Philodendron hederaceum, Zamioculcas zamiifolia</em> dll. Hanya perlu diganti air sekali beberapa hari, diberi nutrisi, perawatan daun, dan pruning jika perlu.</p><p>Orang-orang mengatakan bahwa itu adalah pekerjaan yang melelahkan dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai banyak waktu luang. Yang tidak mereka ketahui adalah, proses ini adalah harga yang harus dibayar untuk ketenangan pikiran dan kebahagiaan yang ditawarkan oleh tanaman. Jadi, seharusnya ini bukan hal besar. Karena kadang, merawat tanaman juga menjadi cara sederhana untuk merawat diri sendiri. Rumah yang lebih hidup, hati yang lebih tenang dan pikiran yang nyaman untuk berisitirahat di tempat yang penuh energi positif.</p><p>Bagiku, sebuah rumah tidak benar-benar hidup hanya karena furniturnya saja, tetapi karena hal-hal kecil yang terus tumbuh dengan tenang di dalamnya seperti keinginan untuk merawat tanaman indoor.</p><p><em>Payakumbuh, May 22nd 2026</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e1dc6c12b09e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kita Tidak Benar-benar Mendengarkan Sesuatu Sampai Kita Sendiri Yang Membutuhkan : Toothache Case]]></title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/kita-tidak-benar-benar-mendengarkan-sesuatu-sampai-kita-sendiri-yang-membutuhkan-toothache-case-d942c7809ed9?source=rss-b9818d87a536------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d942c7809ed9</guid>
            <category><![CDATA[reflections]]></category>
            <category><![CDATA[listening-skills]]></category>
            <category><![CDATA[life-lesson-101]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anesa Fitria Afni]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 19 Apr 2026 12:56:37 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-19T12:56:37.768Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="Source : Pinterest" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/720/1*GAyplP9T-VX1AJatnGPMig.jpeg" /><figcaption><em>Pict Source : Pinterest</em></figcaption></figure><p>Dalam kebisingan dunia yang terus menerus ‘meminta’ untuk didengar dan menawarkan berbagai informasi, entah kenapa kemampuan “mendengar” menjadi semakin sulit untuk diasah.</p><p>Seorang pembelajar bisa duduk dalam sebuah hall besar dengan mata terpaku pada Profesor di depannya tetapi tetap tidak dapat mendengarkan apapun ilmu yang coba di transfer kepadanya. Seberapa keraspun dia mencoba, fikiran tentang hal-hal lain diluar perkuliahan acap kali lebih mendominasi kepalanya. Seorang hamba bisa berdoa kepada Rabb-nya tetapi aneh karena bahkan dirinya sendiri tidak dapat mendengarkan doa-doa yang ia panjatkan. Apakah sekedar hafalan yang menjadi rutinitas membuatnya tidak mendengarkan lagi harapannya sendiri? Seorang ibu bisa berdiskusi dengan anak-anaknya tentang impian masa depan sang anak tetapi yang didengarnya hanyalah impian yang digaungkan kepalanya kepada dirinya sendiri. Dia tidak dapat mendengarkan serpihan rencana yang telah coba dibangun oleh sang anak dengan berapi-api di depannya.</p><p>Benar, mereka semua dan kita jarang sekali benar-benar mendengarkan. Dan itu menjadi normalisasi yang cukup mengganggu karena dunia seolah berjalan dengan jutaan solusi yang tidak dibutuhkan oleh manusia itu sendiri. Dunia dalam kepala seringkali lebih terfokus untuk mendengarkan hal-hal lain yang tanpa disadari telah mengabaikan dunia nyata.</p><p>Kate Murphy dalam bukunya yang bertajuk<em> “You’re Not Listening”</em> telah membahas hal ini. Ia menjelaskan bahwa “mendengar” tidak pernah sama dengan “mendengarkan”. Mendengar hanyalah fungsi biologis yang dijalankan organ tubuh manusia. Sementara mendengarkan menuntut perhatian dan fokus penuh, pemahaman dan rasa ingin tahu. Ada perbedaan siginifikan disini karena mendengarkan melibatkan banyak aspek seperti psikologis, sosial, dan kognitif.</p><p>Pertanyaannya, dengan semua kompetensi lengkap yang dianugerahkan kepada manusia, mengapa skill mendengarkan malah menjadi langka dan sulit?</p><p>Stephen R Covey, penulis buku “<em>The 7 habits of Highly Effective People” </em>mengatakan bahwa “<em>Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply”. </em>Tanpa disadari, kebanyakan kita tidak benar-benar mendengarkan karena terlalu sibuk menunggu giliran berbicara, didengar, membantah, atau memikirkan hal lain. Menunggu giliran ego kita terpenuhi dengan cara-cara tersebut. Tidak salah saat Maslow meletakkan <em>“Self Actualization”</em> sebagai hirarki kebutuhan tertinggi manusia. Sayangnya, pemenuhan ego dalam hal ini menghambat atau merugikan manusia itu sendiri untuk dapat mendengarkan dan memahami sesuatu.</p><p>Sementara itu Libby Larsen mengatakan bahwa “<em>The great myth of our times is that technology is communication”. </em>Ada banyak penelitian tentang teknologi khususnya internet yang berkaitan dengan perhatian atau fokus manusia. Betapa teknologi yang digunakan dengan tidak cakap membuat manusia perlahan-lahan hanya hadir secara fisik saat mendengarkan seseorang, namun tidak hadir secara mental. Berat sekali memang untuk mengatur dan berprinsip dalam menggunakan teknologi pada rentang masa ini. Namun manajemen yang disiplin sepertinya bisa membantu meningkatkan kemampuan mendengarkan. <em>So no more bodies in the room, minds in the feed.</em></p><p>Lalu, kapan seseorang benar-benar mendengarkan?</p><p>Studi menyatakan bahwa manusia memiliki tendensi untuk mendengarkan jika informasi yang disampaikan adalah sesuatu yang relevan dengan kebutuhannya. Hal ini berkaitan dengan konsep ilmiah seperti <em>selective attention, motivated attention, uses and gratifications theory </em>dan<em> goal-directed cognition. </em>Jadi secara umum, manusia memilah informasi yang hanya dibutuhkannya dan mengabaikan hal-hal lain yang tidak relevan baginya.</p><p>Hal ini persis seperti yang kualami beberapa hari terakhir.</p><p>Sebagai seseorang yang bekerja sebagai pelaksana bidan di bidang kesehatan, aku sering bertanggungjawab memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Terkadang sendiri, terkadang bersama petugas lainnya seperti dokter, dokter gigi, perawat, tenaga farmasi dll. Dalam banyak kesempatan seperti saat menyuluh kepada anak sekolah dan remaja, sangat sering kolaborasi bidan dan dokter gigi terjadi. Kami memberikan ilmu secara bergantian kepada anak-anak dengan topik sesuai kewenangan masing-masing. Belasan kali selama karirku sebagai tenaga kesehatan. Ironisnya, selama belasan kali aku duduk disamping dokter gigi tersebut untuk ikut mendengarkan penyuluhan beliau, aku tidak pernahbenar-benar mendengarkan secara utuh isi penyuluhan beliau tentang perawatan gigi, penanganan gigi berlubang, dll. Aku bahkan tidak tahu bagaimana step menggosok gigi yang benar padahal aku ikut bertepuk tangan mengiringi nyanyian dokter gigi di depan anak-anak! Kepalaku memilih untuk sibuk memperhatikan reaksi audiens, memikirkan kapan harus membagikan absen, jadwal setelah penyuluhan atau pekerjaan yang tertinggal di kantor sana.</p><p>Sampai akhirnya beberapa waktu yang lalu gigiku mulai terasa sakit. Gigi geraham bagian belakang yang berlubang sepertinya terinfeksi. Sebuah hasil dari pola rutinitas bertahun-tahun yang salah. Pada waktu-waktu seperti ini aku akhirnya datang dan mendengarkan penuh apa yang disampaikan dokter gigiku. Kondisi yang sebenarnya bisa aku hindari dan tangani jika aku “mendengarkan” dari dulu. Kondisi yang sekarang relevan dengan apa yang aku butuhkan.</p><p>Malam ini, setelah mengonsumsi antibiotik, aku duduk dan berfikir : Apalagi hal yang telah aku lewatkan selama ini karena aku tidak ‘mendengarkan’ dengan baik?</p><p>Apalagi kerugian di waktu mendatang yang akan ku panen karena tidak ‘mendengarkan’ dengan seksama?</p><p>Dan semua refleksi itu bermuara pada tekad untuk menjadi pendengar yang lebih baik ke depannya. Semoga saja.</p><p><em>When people talk, listen completely. Most people never listen — Ernest Hermingway</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d942c7809ed9" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mengenal Denmark Lebih Dekat Sebagai Negara Paling Bahagia di Dunia]]></title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/mengenal-denmark-lebih-dekat-sebagai-negara-paling-bahagia-di-dunia-fac686bc1115?source=rss-b9818d87a536------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/fac686bc1115</guid>
            <category><![CDATA[negarapalingbahagia]]></category>
            <category><![CDATA[motivasi]]></category>
            <category><![CDATA[denmark]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anesa Fitria Afni]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 04 Jun 2022 15:51:23 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-06-04T15:51:23.368Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>Sometimes we forget that parenting, like love, is a verb — Jessica Joelle Alexander</em></p><p>Penulis dongeng terkenal <em>The Ugly Duckling</em> dan <em>The Little Mermaid</em>, Hans Christian Andersen patut berbangga karena negara asalnya, Denmark, selama 40 tahun lamanya telah berhasil didapuk sebagai negara paling bahagia di dunia menurut OECD dan <em>United Nation</em> dalam <em>World Happiness Report</em>. Bukan hanya karena pendapatan per-kapita warga negaranya yang tinggi, Denmark merupakan negara yang paling aman dan damai, ramah perempuan, memiliki tingkat kesejahteraan hidup yang tinggi serta angka kriminalitas yang sangat rendah. Pertanyaan demi pertanyaan jelas bergaung di dalam benak kita semua karena seluruh fakta tersebut. <em>Bagaimana bisa?</em> <em>Apa yang menyebabkannya?</em></p><p>Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissin Sandahl dalam buku <em>The</em> <em>Danish Way Of Parenting</em> menemukan faktor utama dari kebahagiaan yang menyeluruh dalam lini kehidupan masyarakat Denmark ini yakni : Gaya Pengasuhan/<em>Parenting</em> yang mengakar dalam budaya mereka.</p><p><em>“Happy kids grow up to be happy adults who raise happy kids and so on”</em>. Begitu bunyi filosofi yang menjadi mata rantai gaya pengasuhan anak di Denmark tersebut. Anak-anak yang bahagia, tangguh, dan stabil secara emosi akan tumbuh menjadi orang dewasa yang tegas dan kokoh secara emosi, yang akan mengulangi gaya pengasuhan yang sama seperti yang di dapatkannya di masa kecil terhadap anak-anaknya di masa depan. Dengan kata lain, bagi orang Denmark, parenting merupakan sebuah pola kebiasaan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Yuval Noah Harari dalam bukunya <em>21st lesson for 21st century</em> mengatakan teori serupa yakni seluruh tindakan, keputusan, perilaku, emosi, dan hasrat manusia bukanlah dibuat berdasarkan sebuah intuisi atau kehendak bebas yang misterius melainkan sebuah pola yang dibentuk dari pengalaman. Hal ini menjawab pertanyaan penting tentang bagaimana seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan akan cenderung melakukan kekerasan terhadap anaknya sendiri di masa depan. Pun, anak-anak dengan orangtua permisif juga berlaku sama terhadap anak-anak mereka. Dapatkah pola ini dirubah atau diputus bila kita sudah terlanjur menjadi orangtua yang otoriter atau permisif? Tentu. Perilaku seseorang dapat diubah dengan mengubah pengetahuan, sikap, persepsi, serta lingkungan. Adalah kabar baik apabila setiap orangtua memang hendak berniat memutus rantai yang selama ini telah menghasilkan anak-anak yang tidak bahagia. Kabar baik, tentu saja.</p><p><strong>Denmark dan Bermain</strong></p><p>Bisakah kita merasakan bahwa dalam beberapa waktu terakhir kebanyakan orangtua cenderung memprogram kehidupan anak-anak bahkan waktu bermain mereka? Tidak mengejutkan melihat anak-anak sekolah dasar telah diberikan jadwal yang luar biasa padat diluar jam sekolah seperti les mata pelajaran, les bahasa dan sebagainya. Orangtua pada saat ini menganggap dengan memasukkan anaknya ke klub olahraga atau klub seni merupakan pilihan yang tepat sebagai sarana bermain yang terbaik dan bermanfaat. Bermain dengan teman-teman sekitar rumah sebaliknya dinilai hanyalah kegiatan yang membuang-buang waktu saja.Tapi benarkah begitu? Mari kita simak bagaimana pemikiran tersebut sepenuhnya berbanding terbalik dengan filosofi orang Denmark.</p><p>Denmark semenjak tahun 1871 telah mengembangkan berbagai teori pendidikan yang melibatkan permainan. Jauh sebelum negara lain mengembangkan hal serupa. Bahkan faktanya, mainan edukatif ‘lego’ pertama kali dibuat oleh negara ini pada tahun 1932. Karen waktu bermain dengan porsi besar pada anak sangatlah penting, negara ini telah lama menerapkan program bernama <em>skofritidsordring</em> atau <em>free time school</em> yang mendorong anak-anak untuk lebih banyak bermain setelah waktu sekolah yang juga singkat seperti di Finlandia. Orangtua biasanya akan mendorong anak-anak untuk lebih banyak bermain dengan menggunakan program itu. Tidak cukup hanya itu, di sekolah juga diterapkan program bernama <em>Play Patrol</em>. Pada program ini, anak-anak sekolah dasar yang paling kecil akan bermain permainan mengasyikkan dengan teman-teman dan kakak kelasnya. <em>Play Patrol</em> terbukti efektif mendorong setiap anak khususnya anak pendiam dan pemalu untuk dapat bersosialisasi.</p><p>Pada dasarnya ‘bermain’ yang dimaksud disini adalah ketika anak-anak dibiarkan bermain permainan sesuai apa yang menarik bagi diri mereka sendiri dengan teman-teman mereka. Bermain terbukti meningkatkan <strong>ketangguhan</strong> yang menjadi faktor penting dalam kesuksesan kehidupan. Orangtua di Denmark paham bahwa setiap anak membutuhkan ruang untuk belajar dan tumbuh dari proses bermain atau <em>proximal development.</em> Orangtua tidak akan ikut campur saat anak-anak bermain agar anak-anak bisa melakukan hal-hal baru dan membentuk kepercayaan diri dengan kemampuannya sendiri. Seringkali dengan motif melindungi, orangtua berperilaku berlebihan dan tanpa sengaja menekan anak dengan terus mengawasinya saat bermain, memuji mereka dengan berlebihan, dan melindungi mereka dengan cara pandang orang dewasa. Ketangguhan anak tidak dapat terbentuk dengan cara itu. Ketangguhan tidak diperoleh dengan menghindarkan anak dari masalah, melainkan dengan membiarkan mereka berlatih dalam menjinakkan dan mengatasinya. Orangtua yang memprogram kehidupan anaknya dan ikut campur dalam dunia permaina anak tanpa sadar telah menjauhkan sang dari pelajaran penting dalam hidupnya : belajar tangguh.</p><p>Jadi biarkan anak-anak bebas bermain tanpa tekanan agar mereka tumbuh tangguh. Hal ini juga supaya anak memiliki <em>locus of control</em> yang menjadi kekuatan untuk mengendalikan hidupnya sendiri secara internal. Anak yang dikendalikan oleh faktor eksternal misalnya orangtua, biasanya mudah mengalami depresi dan stress. Riset di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pada 50 tahun terakhir pusat kendali eksternal meningkat terutama pada anak sekolah dasar. Dan ini diasosiakan dengan angka kecemasan dan depresi yang meningkat. Jadi, setiap kita tertarik untuk ikut campur dengan permainan mereka, tarik nafas dan jangan ikut campur. Ketangguhan ini akan dibawanya seumur hidup kelak wahai orangtua. Biarkan dia berjuang hari ini.</p><p>Selain melatih ketangguhan, bermain juga berdampak langsung pada kemampuan beradaptasi anak. Dalam bermain memanjat pohon/balok atau melompat misalnya. Biasanya anak-anak akan belajar mengatasi rasa takut dan melatih keberanian disini. Dalam permainan kelompok biasanya mereka belajar bagaimana bersosialisasi, bekerjasama, mengendalikan diri, dan merespon perasaan orang lain. Dalam bermain menggambar, imajinasi mereka berkembang berlipat-lipat karena mereka bebas mengekspresikan diri dan tidak terikat arahan orangtua tentang teknik yang benar. Dan yang terpenting adalah, dalam bermain tidak ada pujian berlebihan sehingga anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bisa melihat dirinya sendiri dengan akurat di masa depan. <em>So, will you let them play?</em></p><p><strong>Autentisitas/Keaslian Sikap Orang Denmark</strong></p><p>Orang-orang Denmark mengutamakan kejujuran dua arah terhadap anak-anak mereka. Baik dalam memuji ataupun dalam membicarakan berbagai hal termasuk perasaan. Faktanya, berbeda dengan Disney dan Hollywood yang gemar menghasilkan film dengan <em>ending</em> bahagia, film serta dongeng yang dipublikasikan di Denmark kebanyakan memiliki <em>ending</em> sedih/tragis. Orang Denmark terbiasa dan menyukai gambaran kehidupan nyata dan asli bahkan dalam karya yang mereka nikmati. Kepura-puraan dan kebohongan akan mengakibatkan masalah besar di masa depan sementara kejujuran akan membuat setiap orang belajar menerima. Mereka percaya bahwa segala bentuk emosi harus dibicarakan dan dirasakan. Anak-anak terutama, biasanya hanya mempelajari ekspresi senang dan bahagia dari orangtua mereka, namun memiliki gambaran negatif tentang bagaimana mengekspresikan kecemasan, ketakutan, rasa sedih dan depresi karena emosi tersebut jarang ditampilkan pada mereka.</p><p>Selain itu bentuk kejujuran yang paling kentara tampak pada pujian yang dilontarkan orangtua di Denmark pada anak-anak. Anak Denmark dilatih untuk menjadi sosok yang rendah hati. Mereka tidak pernah dibanjiri dengan pujian yang kosong dan hampa yang tentunya berpengaruh dalam terhadap ketangguhan. Mereka dilatih agar memiliki <em>growth mindset</em> dibandingkan <em>fixed mindset</em>. Anak-anak yang dipuji sebagai anak cerdas secara alami, berbakat, atau genius biasanya akan cenderung memiliki <em>fixed mindset</em>. Anak-anak dengan tipe ini akan tumbuh sebagai anak yang hanya peduli pada penilaian orang lain, cenderung takut berusaha, dan takut kehilangan citra diri sebagai sosok brilian. Sementara anak-anak yang dipuji atas usahanya, akan cenderung memiliki <em>growth mindset.</em> Anak-anak dengan tipe ini akan tumbuh sebagai pribadi yang tangguh dan selalu mengembangkan kemampuan. Banyak penelitian dalam ranah psikologi yang menunjukkan bahwa <em>growth mindset</em> merupakan katalis kesuksesan yang luar biasa. Lantas bagaimana contoh pujian pada anak agar mereka menumbuhkan <em>growth mindset? </em>Contohnya adalah, : ‘<em>Aku suka cara kamu membuat gambar ini. Kamu tidak menyerah dan berusaha menemukan warna terbaik’</em> atau ‘<em>Aku sangat bangga bagaimana kamu mampu berbagi makanan dengan kakakmu’</em>, ‘<em>Aku tahu kamu tidak mencapai tujuanmu, tetapi ini hampir. Ayo latihan lagi minggu depan!’</em> Bagaimana? Siapkah kita menanamkan dan mencontohkan sendiri kejujuran dan sikap rendah hati pada anak kita melalui bingkaian kata yang jujur dan apa adanya?</p><p><strong>Mengajarkan Anak Memaknai Ulang Setiap Peristiwa</strong></p><p>Anggaplah kita tengah tidak memiliki uang, mengalami myopi, dan hanya memiliki satu kacamata buram sehingga terpaksa memakainya. Apabila kita menggunakan kacamata dengan lensa yang buram itu, apa yang kita lihat? Citra yang buram bukan? Kebanyakan orang akan mengeluh dan berfokus pada nasib buruk yang menimpanya. Sementara hal yang menarik dari orang Denmark adalah pribadi mereka yang berkebalikan dari sifat kebanyakan orang. Kita menyebutnya <strong>optimis realistis</strong>. Orang Denmark selalu berusaha memaknai ulang hal negatif di kehidupan mereka menjadi hal yang positif. Berbeda dengan pribadi absolut-positif yang cenderung menganggap bahwa hal negatif tidak ada di hidup mereka, orang-orang optimis realistis lebih cenderung menyaring informasi negatif yang tidak perlu untuk dikemukakan. Mereka menyadari dan menerima adanya hal negatif, namun mereka selalu melihat sisi positif dari hal tersebut. Misalnya dalam keadaan kaca mata buram tadi, mereka akan berkata, “<em>Kacamataku buram sekali tapi ini membantuku untuk lebih menghargai apa-apa yang ada didepanku</em>”. Dalam berbagai kesempatan, cobalah untuk memancing orang Denmark agar bersikap negatif. Bersiap-siaplah untuk mendapatkam sudut pandang positif yang mengagumkan.</p><p>Dibandingkan pengalaman, pendidikan atau latihan, kemampuan memaknai ulang sesuatu menunjukkan ketahanan dan kekuatan seseorang yang paling besar dalam menghadapi situasi terburuk. Kita merasakan apa yang kita pikirkan. Memaknai sesuatu dengan positif dengan melihat sisi baiknya akan membantu perasaan kita menjadi lapang dan bahagia. Tentunya juga mengeleminasi hal-hal tidak penting yang berpotensi merusak suasana hati dan kehidupan sosial.</p><p>Oleh karena itu kemampuan memaknai ulang suatu peristiwa ini ditanamkan pada tiap anak di Denmark. Anak-anak dipandu untuk menemukan sesuatu yang konstruktif dan positif alih-alih berfokus pada perasaan negatif. Mengajarkan anak memaknai ulang sesuatu tentu saja harus dimulai dari praktek keseharian orangtuanya. Orangtua harus mulai mempelajari dan mempraktekkan ini karena anak-anak terutama pada usia kecil itu cenderung meniru kebiasaan orangtua. Ajarkan anak untuk tidak menggunakan pemikiran dan bahasa negatif atas segala sesuatu. Koreksi apabila anak terlihat penuh kebencian dan diselubungi asap negatif. Dalam mengoreksi, jangan melabeli mereka karena satu dua tindakannya yang salah. Ingat, tindakan dapat diubah namun pelabelan akan bertahan lama dan menyakiti harga diri sang anak.</p><p><strong>Empati dan Kemampuan Survival Anak Denmark</strong></p><p>Ribuan tahun lalu, suku Neandhentral menggunakan kekuatan fisik individu untuk bertahan hidup. Dan apa yang terjadi? Mereka punah. Ditilik dari sejarah evolusi, sebagai manusia kita bertahan bukan karena cakar dan kekuatan individu, melainkan karena persaudaraan, kolaborasi, dan kerjasama dengan orang lain. Kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain atau kita sebut sebagai empati adalah hal berharga yang akan membantu kita bertahan dalam banyak kondisi. Mengapa? Karena menyadari kerapuhan diri dan bersikap penuh empati mendekatkan kita satu sama lain. Mempedulikan kebahagiaan orang lain selalu penting untuk menciptakan kebahagiaan sendiri.</p><p>Namun pada masyarakat modern ini empati merupakan hal langka yang sulit dijumpai. Orang-orang menutup diri dan membangun pagar individu yang ketat. Para ibu menyembunyikan kerapuhannya dalam pengasuhan karena takut dianggap sebagai ibu yang tidak baik sehingga tidak dapat benar-benar terhubung dengan perasaan ibu lainnya. Berlomba-lomba dalam meraih standar dangkal pengasuhan membuat mereka mati rasa secara perlahan-lahan. Setelah itu apa? TV, makanan, berbelanja, internet, alkohol, obat dan narkoba untuk menutupinya. Empati yang hilang dalam diri orangtua akan mempengaruhi tindakan mereka kepada anak. Tahukah anda? Melakukan kekerasan fisik, verbal, seksual, akan mengganggu empati anak. Begitu juga dengan sikap terlalu dilindungi anak dan mendidik anak bersikap sangat manja. Anak-anak ini akan kesulitan untuk berempati terhadap orang lain karena keterbatasan diri dalam mengenali emosi diri sendiri dan orang lain dengan baik.</p><p>Pada dasarnya anak-anak bayi usia 18 bulan telah memiliki empati bagus. Bila diperhatikan, apabila orangtua ingin menjangkau sesuatu benda, anak biasanya akan ikut menjangkau ke arah yang sama. Ketika orangtua menjatuhkan sesuatu di lantai, anak akan berusaha untuk mengambilkannya. Di Denmark, empati yang sudah berkembang dari kecil ini diasah terus menerus oleh orangtua, sekolah dan masyarakat. Di sekolah Denmark terdapat program <em>Step by Step</em>. Program ini melatih anak-anak untuk berempati, memecahkan masalah, mengendalikan diri dan membaca ekspresi wajah. Kemudian terdapat program <em>CA-kit</em> yang berfungsi memperbaiki kesadaran emosional, rasa empati, serta berfokus pada bagaimana seorang anak dapat mengartikulasikan pengalaman, pikiran, perasaan dan indera. Sementara itu program <em>my</em> <em>circle</em> membantu anak menilai dan memahami orang sekitar dengan menggmbar ekspresi wajah dan korelasinya dengan gambaran perasaan. Untuk anak-anak yang mengalami gangguan empati akibat <em>bullying</em> dan <em>violence</em> maka dibuat program <em>Free of Bullying</em> bagi anak usia 3–8 tahun.</p><p><strong>Bebas Ultimatum</strong></p><p>Ultimatum dan hukuman fisik pada anak tidak meninggalkan satupun efek positif dan sebaliknya menyebabkan harga diri anak terluka, depresi, memicu kebohongan, masalah mental dan bahkan penurunan kinerja IQ. Rasa takut memang memiliki dampak yang kuat, namun tidak permanen dan berasal dari eksternal sehingga tidak kondusif dalam membentuk kepercayaan. Sementara respect dan kasih sayang akan menjadi kebiasaan yang bertahan sangat lama karena berakar dari dalam diri anak tersebut.</p><p>Hampir seluruh gaya pengasuhan bersifat demokratis di negara dengan warna bendera yang sama dengan Indonesia. Apabila di Inggis anak-anak usia dua tahun yang nakal disebut ‘Terrible Twos’, maka di Denmark disebut dengan ‘Trodstalder’ (usia ambang batas). Hal tersebut dikarenakan orang Denmark menganggap semua anak itu hakikatnya baik. Bahkan guru di sekolah Denmark dilatih untuk membedakan anak dengan tindakannya sehingga guru tidak mengeluarkan ultimatum atau kekerasan yang jelas memperburuk tindakan serta beresiko melukai harga diri anak. Seorang anak yang bersikap nakal atau berisik di kelas biasanya dihukum dengan menyuruh seluruh isi kelas untuk berkeliling kelas sebanyak beberapa kali sambil bertepuk. Hal ini memberikan efek jera yang lebih efektif karena tindakan nakal satu orang disadari anak dapat merugikan banyak orang lainnya sehingga dia akan hati-hati dalam bersikap.</p><p>Untuk membiasakan diri terbebas dari ultimatum, maka orangtua harus membiasakan diri untuk menanamkan respect dua arah dengan anak. Hargai anak seperti kita ingin dihargai. Jangan berebut kekuasaan dengannya di hadapan orang banyak dan jangan khawatir tentang pikiran orang lain atas gaya pengasuhan kita. Beberapa ibu mungkin akan menghasut kita untuk melakukan ultimatum atau kekerasan saat anak bertindak kurang baik di depan umum. Namun sekalipun jangan coba pedulikan karena bagaimanapun kita memiliki pendekatan gaya pengasuhan yang berbeda dengan para ibu tersebut. Dalam kondisi ini sebaiknya tunjukkan pada anak bahwa kita mendengarkan, menghargai, serta menerima semua jenis perasaan mereka. Berusahalah untuk menawarkan jalan keluar atas permasalahan anak dan bangun kepercayaan dalam diri mereka bahwa kita adalah sandaran bagi mereka dan bukannya polisi yang terus-terusan akan menghukum. Jadilah sebuah rumah dan pelukan hangat bagi anak-anak yang seluruh dunia bahkan tidak menyukai kehadirannya karena tindakannya. Bangunlah kepercayaan sebelum mengoreksi tindakan tersebut dengan baik. Karena yang tidak baik itu bukannya, melainkan tindakannya. <em>Right?</em></p><p><em>Lastly, children learn more from what you are than what you teach</em>. Anak-anak belajar dari dirimu dibandingkan dari apa-apa yang kamu ajarkan. Akan sulit untuk mengharapkan apel besar yang manis apabila pohonnya sama sekali tidak menyerap nutrisi. Orangtua harus mempelajari dan menguasai sikap itu dahulu, baru bisa mengharapkan sikap yang sama pada anak. Dan juga, tidak ada gaya pengasuhan yang tepat dan tidak tepat untukmu. Setiap orang tua sangat unik. Gunakan keunikan tersebut untuk menjadi pendidik generasi yang hebat di masa yang akan datang…</p><p>With Love, Bidan Anesa</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=fac686bc1115" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Dear Self…]]></title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/dear-self-8c8bc477619d?source=rss-b9818d87a536------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8c8bc477619d</guid>
            <category><![CDATA[motivasi-diri]]></category>
            <category><![CDATA[refleksi-diri]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anesa Fitria Afni]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 04 Jun 2022 15:48:13 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-06-04T15:48:13.040Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>Dear self</em>,</p><p>Saat menulis surat ini, aku mulai menyadari bahwa selama ini aku terlalu sibuk memperhatikan bagaimana dunia berputar dan lupa untuk berbincang denganmu tentang banyak hal yang terjadi selama dua puluh lima tahun hidupku. Yasmin Mogahed dan Aidh Al-Qarni lah yang beberapa waktu belakangan ini menyarankanku untuk banyak bercakap denganmu melalui karyanya, wahai diri. Maka disinilah aku. Berusaha berbincang dan berkomunikasi denganmu melalui sebuah tulisan yang menurut kebanyakan orang adalah salah satu medium hati yang paling efektif bahkan untuk diri sendiri. Entahlah. Semoga tulisan kecil dariku ini bisa bermakna untukmu nantinya. Semoga saja.</p><p><em>Dear self</em>,</p><p>Kita sama-sama mengetahui bahwa dualisme adalah hal yang nyata di dalam kehidupan ini. Sebut saja Yin dan yang. Air dan api. Kebaikan dan kejahatan. Surga dan neraka. Hitam dan putih. Laki-laki dan perempuan. Kesedihan dan kebahagiaan. Dualisme itulah yang aku lihat selama menemani perjalanan hidupmu di dunia ini. Kesedihan dan kebahagiaan. Keduanya hadir silih berganti untuk mengisi kehidupan seperti bergantinya <em>peony</em> dan <em>tulip</em> di Keukenhoff. Pernah seseorang bertanya kepadamu dulu tentang apa yang kamu inginkan dalam kehidupan ini. Lalu kamu menjawab dengan senyum lebar, ‘<em>Aku ingin selalu bahagia seperti kehidupanku sekarang</em>’. Sejujurnya aku heran mendengar jawabanmu saat itu. Menurutku sebetulnya kamu tidak bersungguh-sungguh menjawabnya karena aku tahu persis kenyataan di balik semua itu. Orang-orang mengatakan kepadamu bahwa kebahagiaan adalah keluarga, rumah, pekerjaan, cinta dan kesehatan. Dan kamu menganggukkan kepala menyetujui hal tersebut. Pernahkah kamu berfikir apakah kehidupan hanya berisi hal-hal itu saja? Jika kamu berhenti memiliki itu semua, menurutmu apakah manusia masih bisa berbahagia? Aku tidak yakin karena mereka telah membuat standar untuk sesuatu yang tiada terukur. Kuharap kamu memahami itu dengan baik. Kebahagiaanmu dan kebahagiaan orabg disekitarmu berada pada koridor yang berbeda. Jika orang lain mengukurnya melalui logika, maka biarkan saja. Toh ketika kamu mau membuka buku folio yang kamu samarkan sebagai buku <em>debate</em>, disitu kamu bisa menemukan bukti bahwa kebahagiaan terbesar yang bertahan dalam memorimu hanya sebatas hal-hal kecil, bukan pencapaian wahai diri</p><p>Aku tidak akan menutup-nutupi kenyataan bahwa aku lebih sering melihat kebahagiaan dari tampilan luarmu, dan melihat lebih sering kesedihan jauh di dalan jiwamu. Bibirmu bisa tersenyum seperti <em>cherry blossom,</em> tapi sorot matamu pada pukul 01.00am tidak bisa membohongi siapapun. Jadi berhentilah berbohong, terutama kepadaku, dirimu sendiri.</p><p><em>Dear Self</em>,</p><p>Aku sering mendapatimu tengah merenungi berbagai hal tentang hari-hari di masa depan. Padahal belasan tahun lalu kamu lebih memilih untuk bermain di bawah hujan deras dibandingkan berdiam diri di dalam rumah meskipun orangtuamu telah mengingatkan risiko demam di keesokan hari. Kalau saja waktu itu kamu menahan diri dan terus khawatir akan demam yang akan menimpamu, mungkin saat itu kamu tidak akan tertawa sangat bahagia karena merasakan bulir air hujan bukan? Benar sekali. Dulu dirimu tiada pernah merisaukan hari esok dengan segala tabir yang menutupinya. Kamu hidup dan merekah untuk setiap harinya. Berbahagia sebagai bentuk rasa syukurmu kepada Rabb-mu. Entah sejak kapan masa depan menjadi sangat merisaukan dirimu. Entahlah. Padahal aku tahu persis bahwa sepotong roti hangat di pagi hari, selimut di waktu malam, dan sehelai sajaddah seharusnya sudah cukup bagimu. Pertanyaanku, apa gunanya dirimu memikirkan hal yang masih menjadi rahasia semesta dan mengkhawatirkan dirimu sendiri denga hal itu?</p><p>Di lain hari aku melihat jelas wajah sedihmu saat engkau terpaku pada bayangan masa lalu. Aku melihatmu menyesali impian-impian yang telah kandas, cinta yang telah pupus, dan waktu-waktu berharga yang tidak mungkin lagi untuk kembali. Seperti masa-masa saat dirimu memutuskan mempelajari sesuatu yang tidak kamu inginkan sehingga harus meninggalkan impian. Atau saat dirimu memilih melepaskan sesuatu yang sangat kamu cintai dan lupa bahwa angin tiada pernah kembali sekali dia berhembus kencang. Aku melihatmu menanggung seluruh beban masa lalu itu di punggungmu sepanjang hari dan kamu diperbudak oleh penyesalan yang dalam. Kamu tidak bisa hidup dengan bahagia setiap harinya karena hal itu. Seolah-olah dirimu adalah Atlas yang harus menahan bola dunia. Sadarlah wahai diri, jika kamu bisa meneguk segelas air susu pada hari ini, untuk apa terus menyesal atas air asin yang kamu teguk kemarin?</p><p>Dan jangan mengira bahwa aku tidak memperhatikan gurat mata kesedihanmu ketika orang lain berbicara perihal kesuksesan semu. Kamu menundukkan kepala berkali-kali karena belum memiliki pekerjaan yang bonafide seperti kebanyakan teman-temanmu. Kamu masih belum menemukan pasangan hidup yang tepat dan masih bertanya-tanya tentang perjalanan demi perjalanan yang nantinya akan menyongsong kehidupan di masa yang akan datang. Aku paham sekali bahwa puluhan sindiran tajam dari orang sekitar seringkali membuatmu menitikkan airmata begitu saja. Ya, dirimu yang dahulunya terkesan kuat kurasa mulai merapuh karena pendapat yang dibangun tanpa pemahaman yang tepat. Maafkan aku diriku. Karena aku tidak bisa mendengarkan, menenangkan dan memeluk deritamu pada saat itu. Maafkan aku karena berteman karib dengan sang ego yang serupa bara api. Maafkan aku karena membiarkanmu menundukkan kepala terlalu lama. Maafkan aku karena menyuruhmu mengabaikan kesedihan dan malah menumpuknya dalam fikiranmu hingga kamu merasa sangat buntu. Maafkan aku yang menutupi kesedihan demi kesedihan dengan silau dunia. Akulah yang menyebabkan dirimu semakin lemah wahai diri. Aku bersama ego yang selalu mengecohmu. Maafkan aku untuk itu.</p><p>Tapi aku akan jujur mengenai beberapa hal. Hatiku hangat setiap kali memikirkan kebahagiaan dan kebanggaanmu karenamu. Aku rasa kamu telah berubah lebih banyak dari yang kamu fikirkan. Aku melihatmu mendengarkan suara hatimu lebih banyak daripada suara orang lain dalam beberapa waktu terakhir. Dan aku melihatmu menegakkan kepala dengan keputusan-keputusan yang kamu buat dan pertimbangkan sendiri. Aku tahu semuanya sangat dramatis dan benar-benar menguras emosi. Itulah mengapa aku bangga kepadamu karena telah menjadi jujur dengan keinginan dan impianmu sendiri. Bukankah Paulo Coelho menjelaskan bahwa kesedihan acapkali berasal dari sana? Dan kenyataan bahwa kamu mulai memilih menjadi dewasa dan mengabaikan dunia adalah hal terbaik mengenai dirimu yang harus kukatakan kepadamu.</p><p>Ah, seringkali juga aku melihatmu membalik lembar demi lembar buku motivasi setiap malamnya. Mencari-cari jalan kebahagiaan dan pengetahuan yang mungkin diselipkan Tuhan dalam tulisan anak manusia. Aku merasakan betapa besarnya keinginanmu untuk bangkit dan terus mencari pengetahuan yang benar. Walaupun sel-sel otakmu tidak setajam dan sebanyak saat kamu menghafal ayat suci Al-Quran pertama kalinya dulu, namun aku berterimakasih karena kamu berusaha memberikan yang terbaik untuk hari tuamu. Demensia, Alzheimer, atau yang terburuk seperti menua dengan kebodohan adalah risiko jika fikiranmu tidak diasah semenjak muda. Bukankah mengerikan? Aku berterimakasih karena kamu memotong waktu istirahatmu untuk menggelar karpet pengetahuan di malam yang senyap. Teruslah melakukan hal itu dan teruslah merasa belum memiliki apa-apa di atas dunia ini. Anggaplah kamu adalah Zather si pengembara, dan buku adalah kompas yang akan membimbingmu melewati gurun Sahara.</p><p>Hey, aku sebenarnya marah kepadamu karena kamu menulis ratusan kata cinta di atas buku catatan personal, pesan dan media sosial untuk banyak orang setiap tahunnya. Tapi sadarkah kamu bahwa kamu tidak pernah mengatakan hal tentang cinta kepadaku wahai diri? Aku lebih sering disalahkan dan disesali atas hal-hal buruk yang menimpamu daripada menerima cinta yang seharusnya kuterima karena telah menemanimu selama ini. Disaat dunia telah meninggalkanmu, keluarga dan teman seluruhnya memusuhimu, siapa yang menerimamu dengan tulus selain aku Rabb-mu dan aku? Pernah aku melihatmu terdiam di depan sebuah toko buku karena menahan diri untuk tidak membelinya bagi kebahagiaanmu sendiri. Tapi di lain hari aku juga pernah melihatmu tengah menghabiskan ratusan ribu hanya untuk membuat teman-temanmu tertawa dan membuat dunia menyukaimu. Aku kasihan padamu. Tentang betapa pentingnya bagimu cinta kepada dunia dibandingkan cinta kepada dirimu sendiri. Padahal kamu mengetahui persis dari cuplikan buku ‘Fihi ma Fihi’ bahwa cinta yang tulus baru benar-benar dapat dibagikan kepada banyak orang setelah seseorang benar-benar mencintai dirinya sendiri. Aku harap di masa depan kamu memahami hal kecil ini untuk dirimu sendiri. Bahwa alasan kamu berbahagia bukan karena orang lain, melainkan karena dirimu sendiri.</p><p><em>Dear Self,</em></p><p>Saat menulis surat ini hidupmu belum berjalan dengan benar-benar baik. Kamu menangis di suatu hari dan tertawa di hari lainnya. Kamu masih membayangkan masa depan dan mengira-ngira konstelasi kehidupanmu yang berikutnya. Kamu masih terlambat tidur di malam hari dan tetap harus bekerja di pagi harinya. Kamu masih menggunakan parfum dengan harga yang murah dan belum berfikir untuk menggantinya. Kamu masih terjatuh dan tersungkur saat orang-orang lain terus berlari. Tidak apa-apa. Tariklah nafas sejenak jika hal itu mengganggumu dan berbicaralah kepadaku. Aku, dirimu ini, akan selalu menyemangati dan mengingatkanmu bahwa kamu adalah perempuan muda yang baik dan sederhana. Aku juga akan mengingatkanmu kepada rumput hijau di pagi hari untuk menyejukkanmu dari ambisi dunia.</p><p>Kejutkan aku!</p><p>Aku berharap kamu akan mengejutkanku dengan berbagai hal baik yang kamu terima di masa datang. Aku juga akan menyimak dengan tenang perihal hal buruk yang kamu dapatkan dan kamu pelajari dari dunia ini. Kamu hanya perlu mengingat satu hal. Hidup ini adalah semua tentang kejutan. Jangan biarkan euforia suatu peristiwa memudar karena tuntutan dan perencanaan. Jalani hidupmu dengan sepenuh hati.</p><p>Love,</p><p>Youself</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8c8bc477619d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Membiasakan Diri Untuk]]></title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/membiasakan-diri-untuk-776df658988d?source=rss-b9818d87a536------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/776df658988d</guid>
            <category><![CDATA[membaca]]></category>
            <category><![CDATA[motivasi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anesa Fitria Afni]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 04 Jun 2022 15:46:49 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-06-04T15:46:49.426Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Membiasakan Diri Untuk Membaca</h3><p><em>To acquire the habit of reading is to construct for yourself a refuge from almost all the miseries of life — W Somerset Maugham</em></p><p>Beberapa waktu terakhir, ‘medium’ benar-benar menjadi platform digital favoritku. Alasannya karena hampir seluruh jenis artikel dan konten yang di sajikan para <em>author</em> pada platform ini bermuatan ilmu pengetahuan dan informasi yang kompleks, membuka wawasan, dan sangat inspirasional.</p><p>Seperti halnya tadi pagi, ketika aku duduk di meja kerja dan mendapatkan sebuah artikel di medium yang ditulis oleh Charles Chu dengan judul ‘<em>The Simple Truth Behind Reading 200 Books a Year’</em>. Judul artikel yang cukup persuasif ini memaksaku untuk menelaah dan memberikan perhatian lebih dalam kepadanya. Dalam artikel disebutkan bahwa Warren Buffet, investor terbesar dunia yang juga seorang philantrophist, menghabiskan 80% waktunya setiap hari untuk membaca buku. Ia mampu setidaknya menyelesaikan 200 buku dalam kurun waktu satu tahun karena kedisiplinannya dalam membaca. Selaras dengan kebiasaan Warren Buffet, Zuckerberg, pendiri <em>facebook</em> juga membaca minimal 24 buku dalam satu tahun sedangkan Bill Gates, ketua <em>Microsoft</em>, membaca minimal 50 buku setiap tahunnya. Yang perlu digarisbawahi dari secuil fakta menarik itu adalah, ketiga tokoh yang menerapkan kebiasaan membaca buku tersebut merupakan orang-orang sukses dengan kekayaan ilmu dan materi yang sangat berlimpah. Menarik karena di balik semua jaminan kesejahteraan tersebut, kegiatan membaca buku masih merupakan sebuah kebutuhan tersier yang mendapatkan porsi waktu terbesar dalam kehidupan mereka.</p><p>Sebuah komparasi yang ironis jika dibandingkan dengan kebiasaan membacaku terutama.</p><p>Memang bukan sebuah rahasia lagi bahwa selain ketiga tokoh tersebut, hampir seluruh tokoh sukses dunia lainnya memiliki kebiasaan membaca yang menyita sebagian besar hari-hari mereka. Nama-nama besar seperti Harun Yahya, Imam Al-Ghazali, Elon Musk, Oprah Winfrey dll adalah beberapa tokoh yang paling terkenal karena kedisiplinan dan kecintaannya akan kegiatan membaca buku. Kesibukan, ketenaran, bahkan jaminan kesejahteraan ekonomi bukanlah sebuah alasan bagi mereka untuk tidak meluangkan waktu bercengkrama dengan buku. Buku serupa dengan sumber harta yang tidak pernah habis ketika digali. Dan tokoh sukses dunia tersebut adalah orang-orang yang tiada henti melakukan penggalian hingga ke inti bumi. Satu hal yang membedakan mereka dengan manusia lainnya yang ada di dunia.</p><p>Artikel singkat dari Charles Chu ini sontak saja membuatku diam-diam gelisah karena teringat pada resolusi tahun baru yang kutulis dalam agenda tahunan pada awal Januari lalu. Kuambil agenda tahunan itu dari tumpukan rak buku dan disana jelas-jelas tertulis bahwa aku telah mengikrarkan diri untuk rutin membaca minimal 5 buku setiap bulannya. Aku mencoba memanggil memoriku dan mengingat kembali jumlah buku yang sudah kubaca semenjak awal Januari hingga pertengahan Februari. Sayangnya, dalam kurun waktu dua bulan ini aku hanya membaca tiga buku saja, dua buku fiksi bergenre philosophy dan satu buku nonfiksi bertema <em>self-help. </em>Dan itu hanya 30% dari target bacaan yang ditetapkan. <em>It’s true, goal without stability = unfulfill resolution.</em></p><p>Membaca buku dapat dikatakan sebagai nutrisi dari segala pohon pengetahuan. Tiada bertumbuh dan berkembang sebuah pohon pengetahuan apabila tidak mendapatkan asupan nutrisi berupa bacaan yang berkelanjutan setiap harinya. Sebaliknya, akan berbunga dan berbuah ranum sebuah pohon yang ditanam ditengah oase jika dicukupi dan senantiasa dicurahi dengan asupan nutrisi. Buku adalah harta karun yang dapat diambil sewaktu-waktu. Sebuah tumpukan ilmu yang tersebar di lautan tinta dan kertas. Bijaksanalah orang-orang yang meraup nutrisinya setiap saat.</p><p><strong>Read More?</strong></p><p><em>‘Read More’</em> memang menjadi salah satu tagline yang paling banyak diserukan oleh banyak orang di seluruh dunia seperti halnya tagline ‘<em>Be yourself</em>’, ‘<em>Fight for your dream</em>’ dan ‘<em>Explore the world</em>’ yang sering dijumpai di berbagai media sosial. Hal ini bukannya tidak beralasan. Banyak orang yang menjadikan membaca buku sebagai resolusi hidupnya karena mengetahui secara pasti bahwa membaca buku memberikan banyak manfaat bagi kesehatan fisik-mental dan kecerdasan kognitif-emosional seseorang. Sebuah studi di <em>Sussex University</em> menunjukkan bahwa kebiasaan membaca buku dapat mengurangi stress hingga 68% serta menghilangkan kecemasan. Dibandingkan dengan kegiatan seperti mendengarkan musik, jalan-jalan atau menghirup teh, membaca buku dalam waktu singkat ternyata menunjukkan hasil yang lebih efektif sebagai sebuah metode relaksasi. Pada studi lainnya, kebiasaan membaca buku terbukti dapat menurunkan risiko penyakit Alzheimer dan Demensia yang terkait dengan daya ingat seseorang. Bacalah buku selama enam menit, maka kegiatan tersebut juga dapat mengurangi ketegangan saraf dan otot. Atau bacalah buku selama tiga puluh menit perhari secara rutin untuk dapat meningkatkan usia harapan hidup hingga dua tahun lamanya.</p><p><strong>Mulai Dari Buku Apa? </strong><br> Sekarang pertanyaan besar yang mungkin timbul adalah, jenis buku apakah yang sebaiknya dibaca agar seseorang dapat memperoleh manfaat kesehatan dan kecerdasan maksimal seperti yang disebutkan diatas?</p><p>Setiap buku, baik buku fiksi maupun non-fiksi, sama-sama memberikan manfaat yang luar biasa pada kesehatan dan kecerdasan seseorang. Menurut salah satu artikel yang ditulis oleh Andrew Merie, sebagian besar orang sukses di dunia cenderung membaca buku non-fiksi seperti buku autobiografi, biografi, keilmuan, dan<em> self-help</em> yang lebih bermuatan konten dengan tujuan pendidikan dibandingkan hiburan. Buku-buku ini dapat menambah pengetahuan, merangsang kemampuan analitis dan kemampuan berfikir kritis. Lain halnya dengan buku-buku nonfiksi seperti novel, prosa, puisi, dan cerpen yang membantu memberikan kekuatan imajinasi, meningkatkan kemampuan kognitif maupun empati, dan meningkatkan kecerdasan emosional seseorang. Imajinasi yang terbentuk pada saat menempatkan diri sebagai tokoh pada sebuah cerita fiksi juga dapat melatih kepekaan diri dan sosial seseorang sesuai dengan konteks yang disajikan. Selain itu buku fiksi juga membantu menghadirkan kebahagiaan dan perjalanan emosional yang kompleks pada diri seseorang karena bermuatan hiburan, drama, dan bahasa yang indah.</p><p>Intinya, tidak perlu merepotkan dan mengkhususkan diri untuk membaca buku non-fiksi atau buku fiksi saja. Bacalah kedua jenis buku tersebut dan tenggelamlah dalam strategi perang Muhammad Al-Fatih dan Napoleon Bonaparte, arungilah sungai-sungai dan perbukitan hijau penuh bunga<em> redbell</em> di yang dilalui oleh Gandalf dan para <em>elf, </em>serta dengarkanlah perjalanan hidup seorang ilmuwan yang tiada lekang di makna zaman.<em> </em>Setiap buku yang ditulis dan dibaca dengan seksama akan mampu membuka satu ruang pikiran dan satu imajinasi yang selama ini tertutup rapat. Ia membuka dunia, membuka perjalanan, dan membuka pikiran-pikiran baru yang tiada terbatas. Tak heran jika para banyak orang berkata, <em>a world is a book</em>. <em>You can travel all over the world through the book. So those who cant travel, read a book.</em></p><p>Nah bagaimana denganmu? sudahkah membiasakan diri untuk membaca setiap harinya? berapa buku yang sudah kamu baca semenjak awal tahun? Sudahkah sesuai dengan resolusi di awal tahun yang kamu tulis?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=776df658988d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mempersiapkan Kehamilan Dengan Optimal]]></title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/mempersiapkan-kehamilan-dengan-optimal-e51eeccb2818?source=rss-b9818d87a536------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e51eeccb2818</guid>
            <category><![CDATA[tipskehamilan]]></category>
            <category><![CDATA[persiapan-kehamilan]]></category>
            <category><![CDATA[bidananesa]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anesa Fitria Afni]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 04 Jun 2022 15:41:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-06-04T15:41:30.456Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>Preparing for pregnancy is the best way to preparing a new life, new baby, and new you — Anesa Fitria Afni STr.Keb</em></p><p>Memutuskan untuk mulai mempersiapkan kehamilan akan membuat seorang calon ibu merasakan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perut mereka. Bagaimana tidak? Berbagai perasaan kerap muncul di dalam diri secara bersamaan karena antusiasme sekaligus kekhawatiran untuk melalui satu fase berharga dalam menyambut keturunan.</p><p>Pada beberapa calon ibu, waktu yang dibutuhkan untuk berhasil hamil memang relatif singkat, namun pada beberapa calon ibu lainnya, waktu yang dibutuhkan mungkin akan sedikit lebih lama. Perbedaan tersebut ada kalanya menimbulkan keresahan dan kekhawatiran dalam diri. Apalagi bila dihadapkan dengan lingkungan, budaya, dan kondisi lainnya yang membuat seorang calon ibu acapkali semakin khawatir dan mengalami stress akinat tekanan. Tulisan ini akan mencoba untuk membantu anda, para calon ibu dan ayah untuk memaksimalkan program hamil yang tengah anda jalankan. Usaha yang maksimal selalu harus dibarengi dengan doa yang tiada henti. Maka, tulisan ini pada akhirnya hanyalah media untuk menunjukkan kesungguhan anda pada Allah SWT. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.</p><p><strong>Tahukah Anda?</strong></p><p><em>Pada seratus pasangan yang tengah mengusahakan kehamilan,</em></p><p><em>Sekitar 30 orang akan hamil pada satu bulan pertama,</em></p><p><em>Sekitar 75 orang akan hamil pada enam bulan pertama,</em></p><p><em>Sekitar 80–90 akan hamil dalam satu tahun pertama,</em></p><p><em>10–20 lainnya akan membutuhkan waktu lebih lama dan membutuhkan bantuan tenaga kesehatan</em><br> <br>Ada banyak calon ibu dan calon ayah yang juga berada pada posisi mempersiapkan dan menanti kehadiran si buah hati. Satu hal yang harus diingat adalah, kesempatan untuk hamil akan semakin besar jika calin ibu dan pasangan berada pada kondisi fit dan sehat. Hal-hal yang biasanya di anggap sepele seperti makanan sehat, olahraga, gaya hidup, bahkan obat-obatan yang dikonsumsi, harus mulai diperhatikan dengan seksama jika ingin memulai program kehamilan dan mempersiapkan bayi yang sehat di masa depan. Sudah siapkah untuk bertransformasi pada fase kehidupan puncak seorang wanita? Jika sudah, berikut beberapa hal yang benar-benar harus diperhatikan selama program kehamilan :</p><p><strong>1.Kondisi Medis Tertentu</strong></p><p>Terdapat beberapa kondisi medis yang membutuhkan perhatian khusus selama program hamil maupun proses kehamilan nantinya. Jika calon ibu adalah seorang penderita diabetes, epilepsi, riwayat penyakit jantung, tekanan darah tinggi, obesitas, dan thrombosis, atau memiliki penyakit kandungan seperti endometriosis, PCOS, atau riwayat kehamilan ektopik, maka sangat penting untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan anda untuk mendapatkan infromasi khusus sesuai kondisi. Begitupun jika anda maupun pasangan memiliki penyakit keturunan seperti anemia <em>sickle cell</em>, thalasemia, cystic fibrosis, serta penyakit seksual/berisiko menderita penyakit seksual. Sebaiknya lakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan dan skrining kesehatan reproduksi di layanan kesehatan terdekat.</p><p><strong>2. Disabilitas</strong></p><p>Selain penyakit-penyakit yang dipaparkan diatas, jika calin ibu memiliki keterbatasan/ kecacatan fisik ataupun mental, maka beritahukan kondisi tersebut kepada dokter karena kondisi tersebut membutuhkan perawatan dan penanganan khusus dalam kehamilan. Dokter mungkin akan merujuk anda kepada spesialis yang dapat membantu proses kehamilan dan persalinan anda nantinya. Jangan pernah menyembunyikan keterbatasan anda karena ini berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan anda dan calon anak di masa depan.</p><p><strong>3.Obat-obatan</strong></p><p>Jika anda saat ini mengonsumsi obat-obatan tertentu karena berbagai alasan, anda harus memberitahukan dokter anda mengenai hal ini karena obat-obatan yang anda konsumsi bisa saja mengandung zat-zat yang dapat mempengaruhi kesehatan janin anda nantinya. Apalagi obat yang dikonsumsi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Jangan hentikan pemakaian obat tersebut sampai anda mendapatkan arahan dari dokter. Hindari mebgonsumsi obat-obatan yang tidak begitu mendesak bagi anda. Dan jika anda adalah pengguna obat-obatan herbal, maka pastikan herbal yang anda konsumsi selama program hamil tergolong aman. Tanyakan pada bidan, dokter, atau ahli farmasi jika anda ragu tentang obat-obatan yang aman selama program kehamilan.</p><p><strong>4. Rubella</strong></p><p>Penting untuk melakukan tes rubella sebelum mempersiapkan kehamilan karena penyakit ini dapat membahayakan janin dalam 12 minggu pertama kehamilan. Infeksi rubella dalam kehamilan nantinya dapat mengganggu kesehatan mata, telinga, bahkan jantung janin. Jika anda mempertimbangkan untuk mendapatkan vaksinasi rubella, maka lakukan vaksinasi tersebut sekitar satu bulan sebelum anda mencoba untuk hamil.</p><p><strong>5.Asam Folat dan Vitamin E</strong></p><p>Calon ibu yang tengah mempersiapkan kehamilan dianjurkan untuk mengonsumsi 0,4 mcg asam folat dan 200 IU vitamin E setiap harinya. Asam folat berfungsi untuk perkembangan janin pada minggu awal kehamilan untuk mencegah abnormalitas pada otak dan syaraf seperti <em>neural defect tube</em>. Sementara suplemen Vitamin E bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan karena dapat menangkal radikal bebas yang merusak sel tubuh termasuk sel telur dan sperma. Lengkapi jiga konsumsi asam folat melalui sumber makanan seperti brokoli, ikan, telur, bayam, lobak, bunga kol, jeruk, melon, kacang-kacangan, kentang, tomat. Sementara Vitamin E juga dapat ditemukan pada biji-bijian utuh, almond, asparagus, mintak bunga matahari, alpukat, kiwi, lobak, bayam, labu-kacang-kacangan.</p><p><strong>6.</strong> <strong>Nutrisi Dalam Program Kehamilan</strong></p><p>Jika anda adalah penggemar <em>fast food </em>dan <em>junk food, </em>maka ini saatnya untuk beralih pada diet sehat. Konsumsi makanan dengan menu gizi seimbang setiap harinya. Caranya mudah, bagilah piring anda menjadi tiga bagian dan isi 1/3 bagiannya dengan karbohidrat, 1/3 bagian dengan protein, dan 1/3 bagian untuk sayur dan buah-buahan.</p><p>Nah, sebenarnya setiap makanan sehat dan alami mengandung beragam nutrisi yang dibutuhkan tubub setiap harinya. Namun, berikut terdapat beberapa zat makanan yang secara khusus dapat anda konsumsi selama program kehamilan untuk meningkatkan kesuburan, selain asam folat dan vitamin E, yakni :</p><p><strong><em>Protein</em></strong></p><p>Berfungsi untuk meningkatkan produksi sperma pada pria. Tedapat pada Ikan, telur, daging, susu dan produk turunannya, tempe tahu, kedelai , biji-bijian, yoghurt, dan keju.</p><p><strong><em>Vitamin A</em></strong></p><p>Berperan penting dalam produksi sperma yang sehat. Terdapat pada Ikan, kuning telur, sayuran dan buah-buahan berwarna jingga dan oranye seperti wortel, aprikot, mangga, jeruk, dan tomat. Selain itu juga terdapat pda sayuran dan buah-buahan hijau seperti brokoli, melon madu, bayam, dll.</p><p><strong><em>Vitamin B6</em></strong></p><p>Kekurangan Vitamin ini akan menyebabkan ketidak seimbangan hormon-hormon penting dalam tubuh seperti hormon estrogen dan progesteron yang berperan penting dalam kesuburan. Makanan yang kaya akan vitamin B6 adalah daging, pisang, sereal whole-grain, ayam, ikan, beras merah, kacang kedelai, kacang tanah, pisang, dan sayur kol.</p><p><strong><em>Vitamin C</em></strong></p><p>Berfungsi untuk meningkatkan kesehatan indung telur, pembentukan sel telur, serta sebagai antioksidan tubuh. Vitamin C terutama terdapat pada buah-buahan sitrus (strawberry, mangga, jeruk, raspberry, anggur dll), papaya, jambu biji, apel, blackberry, kiwi, tomat, kacang hijau, lobak, lada merah, brokoli, bayam, kentang, dan kacang kacangan</p><p><strong><em>Zinc</em></strong></p><p>Cukupi kebutuhan zinc. Bagi wanita, zinc berperan dalam produksi materi generatik saat pembuahan terjadi sementara pada pria, zinc membantu melancarkan pembentukan sperma. Banyak terdapat pada daging, ikan, telur, jamur, tempe, udang, plain popcorn, tahu, dan kacang-kacangan</p><p><strong><em>Zat Besi</em></strong></p><p>Kekurangan zat besi akan membuat pelepasan sel telur akan terganggu. Makanan yang mengandung zat besi akan membantu untuk mencegah anemia pada calon ibu yang tengah mempersiapkan kehamilan. Zat besi banyak terdapat pada daging sapi, daging ayam, daging domba, sarden, tuna, salmon, ikan, telur, tempe, tahu, aprikot kering, blackcurrants, sayuran berwarna hijau seperti brokoli, bayam, dan kacang- kacangan.</p><p><strong><em>Fosfor</em></strong></p><p>Kekurangan fosfor dalam tubuh akan mengakibatkan kurangnya kualitas sperma pada pria. Terdapat pada ikan teri dan susu.</p><p><strong><em>Selenium</em></strong></p><p>Kekurangan selenium berkaitan dengan kondisi tekanan darah tinggi, disfungsi seksual, dan ketidaksuburan pada wanita dan pria. Zat ini banyak terdapat pada beras, semangka, bawang putih, seafood, dan jamur.</p><p>Selain makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi tersebut terdapat beberapa makanan yang sebaliknya <strong>harus anda hindari</strong> selama mempersiapkan kehamilan yaitu :</p><p><em>Makanan yang mengandung bakteri Listeria monocytogenes</em></p><p>Bakteri <em>Listeria monocytogenes</em> merupakan salah satu bakteri merugikan yang terdapat pada beberapa jenis makanan. Listeria sangat berbahaya jika terdapat dalam tubuh ketika ibu hamil nanti karena dapat melewati plasenta dan menginfeksi janin sehingga mengakibatkan terjadinya kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah, keguguran, bahkan kematian bayi.</p><p>Berikut beberapa jenis makanan yang dapat mengandung bakteri Listeria, diantaranya :</p><p>a) Daging mentah/tidak matang sempurna dan daging deli. Selain mengandung bakteri Listeria, bahan makanan ini juga mengandung parasit berbahaya lainnya seperti Salmonella, E Colli, toxoplasmosis, dll. Beberapa contoh makanan yang mungkin mengandung bakteri Listeria adalah sushi, sashimi, <em>undercook barbeque</em>, dan beberapa makanan olahan daging lainnya yang dimasak setengah matang.</p><p>b) Telur mentah/setengah matang. Telur mentah atau makanan olahan lain yang mengandung telur mentah harus dihindari seperti misalnya dressing salad buatan sendiri, mayonaise buatan sendiri yang menggunakan telur mentah, cake busa/<em>meringue</em>, telur orak-arik setengah matang, es krim atau <em>custard</em> buatan sendiri yang menggunakan telur mentah, dll. Jika hendak menggoreng telur yang matang sempurna, maka sebaiknya gorenglah telur selama 3 menit untuk tiap-tiap sisinya. Jika merebus dengan cangkangnya, maka rebuslah selama 7 menit agar telur matang sempurna dan terbesas dari bakteri Listeria.</p><p>c) Keju Lunak. Hindari mengonsumsi keju lunak seperti <em>Brie, Camembert, Roquefort, Feta, Gorgonzola, Queso Blanco, Queso Fresco, Paneli, Havarti</em> serta <em>Monterey Jack</em>, bila kemasannya tidak menunjukkan bahwa produk keju tersebut terbuat dari susu yang telah dipasteurisasi. Untuk jenis <em>Blue Veins</em>, hindari konsumsi keju jenis ini meskipun telah dipasteurisasi. Pastikan untuk mengecek label kemasan dan menjadi konsumen yang cerdas karena produk keju dan olahan keju tersebar luas di sekitar anda. Sebaiknya konsumsi keju cheddar, parmesan, keju cottage, mozarella, dll.</p><p>d) Susu dan jus yang tidak dipasteurisasi. Ada kalanya ketika berkunjung ke peternakan, calon ibu tergoda untuk meminum susu segar tanpa olahan dan pemanasan. Padahal susu yang tidak dipasteurisasi mengandung banyak parasit khususnya Listeria. Begitu pula dengan jus. Jika berniat membuat jus sendiri di rumah, maka pastikan anda memperhatikan petunjuk keamanan makanan/<em>food safety.</em></p><p><em>Makanan yang mengandung parasit Toxoplasma gondii</em></p><p>Infeksi yang disebabkan oleh parasit ini dalam kehamilan nanti dapat mengakibatkan gangguan otak dan mata pada janin, serta keguguran dan kematian janin. Parasit ini dapat ditemukan pada :</p><p>a) Sayur dan buah yang tidak dicuci. Sayuran dan buah-buahan segar memang menawarkan jutaan manfaat bagi kesehatan calon ibu. Namun, sebelum diolah dan dikonsumsi, sayuran dan buah harus dicuci sampai bersih di air mengalir agar terbebas dari parasit salah satunya <em>Toxoplasma gondii.</em></p><p>b) Daging mentah/tidak matang, khususnya daging sapi, daging domba, daging babi, dan kambing yang lebih berisiko mengandung parasit ini. Oleh karena itu, ketika berkunjung ke restoran makanan yang menyajikan makanan tersebut, pastikan daging yang hendak dikonsumsi telah matang sempurna/<em>well done.</em></p><p>c) Makanan beku/<em>frozen food</em> yang tidak dipanaskan atau dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Contoh beberapa <em>frozen food</em> yang kerap dikonsumsi tanpa dipanaskan adalah hot dog.</p><p>d) Meminum air yang terkontaminasi parasit <em>Toxoplasma gondii</em>. Selalu gunakan gelas dan peralatan minum lainnya yang bersih sebagai wadah minum. Ketika tengah melakukan olahraga renang, <em>jacuzzi</em>, atau kegiatan outdoor lain yang melibatkan air, pastikan tidak menelan air walau dalam jumlah sedikit.</p><p><em>Ikan tinggi kandungan Merkuri dan Polychlorinated Biphenyl.</em></p><p>Ikan tinggi kandungan merkuri dan zat berbahaya dapat mengganggu perkembangan sistem saraf pada janin. Hindari mengonsumsi daging hiu, marlin, dan swordfish. Batasi konsumsi ikan tuna tidak lebih dari dua porsi (sekitar 140gr daging matang/170gr daging mentah. Dan batasi konsumsi ikan dengan kandungan minyak yang tinggi seperti tuna, salmon, mackerel, dan sarden tidak lebih dari dua porsi seminggu.</p><p><em>Suplemen Makanan dan Produk Herbal Tanpa Pengawasan Tenaga Kesehatan</em> Peredaran berbagai produk herbal yang menawarkan manfaat bagi kesehatan calon ibu harus dikonsultasikan terlebih dahulu sebelum digunakan kepada tenaga kesehatan khususnya dokter kandungan dan ahli farmasi.</p><p><strong>7. Konsumsi Kafein</strong></p><p>Kafein telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern pada zaman sekarang. Namun penting diketahui bahwa batas konsumsi kafein yang aman saat program hamil adalah 200mg/harinya. Konsumsi kafein dengan jumlah berlebihan dalam kehamilan diasosiasikan dengan kondisi dehidrasi pada ibu hamil, anemia, berat bayi lahir rendah, dan keguguran. Kafein terutama terkandung pada sumber makanan dan minuman seperti kopi, teh, soda, minuman energi, cokelat, dan lain-lain. Berikut merupakan jumlah kandungan kafein yang terdapat pada beberapa makanan/minuman yaitu :</p><p>-1 cangkir kopi instan mengandung 100mg kafein<br> -1 cangkir kopi filter mengandung 140mg kafein<br> -1 cangkir teh mengandung 75mg kafein<br> -1 kaleng cola/minuman soda mengandung 40mg kafein<br> -1 kaleng minuman energi mengandung 80mg kafein<br> -50gr cokelat batang murni mengandung 50 mg kafein<br> -50gr cokelat susu batang mengandung 25mg kafein</p><p>Jadi semisal dalam satu hari anda mengonsumsi dua cangkir teh (2 x 75mg) + sebatang cokelat susu batang (25mg), maka anda telah mengonsumi nyaris 200mg kafein (175mg). Jadi penting untuk anda hitung setiap harunya, agar konsumsi kafein anda tidak melewati batas aman kesehatan anda.</p><p><strong>8. Gaya Hidup</strong><br> <em>Merokok</em></p><p>Merokok dapat mengurangi kesuburan baik pada calon ibu maupun calon ayah. Selain itu calon ibu yang merupakan perokok aktif atau pasif berisiko mengalami kelahiran prematur, keguguran, komplikasi saat hamil maupun saat bayi dilahirkan, BBLR, dan IUFD. Dan calon ayah yang perokok juga memiliki lebih sedikit sperma ketika ejakulasi. Secara medis, merokok terbukti menyebabkan impotensi. Berhenti merokok merupakan salah satu cara untuk benar-benar mempersiapkan kehamilan dan kesehatan keluarga di masa depan. Oleh karena itu, ingatkan dan informasikan orang terdekat agar sama-sama menjauhkan diri dari asap rokok.</p><p><em>Alkohol</em></p><p>Hindari mengonsumsi alkohol selama program hamil karena alkohol dapat mengganggu produksi sperma dan mempengaruhi kualitasnya dengan menurunkan tingkat testosteron dan bisa menyebabkan testis menjadi layu. Pada calon ibu, alkohol dapat mempengaruhi kesehatannya dan perkembangan bayinya di masa depan. Bayi dapat mengalami FAS, dan bila ibu mengonsumsi alkohol dalam kehamilan nanti, maka janinnya berisiko mengalami kecacatan pada wajah. Otak, jantung, ginjal, dan masalah perilaku .</p><p><em>Berat badan selama program hamil</em></p><p>Berat badan yang kurang dari normal bisa membuat seseorang menjadi kurang subur karena kekurangan lemak yang dapat mendukung proses metabolisme tubuh. Sementara kelebihan berat badan juga menempatkan seseorang pada risiko lebih besar untuk mengalami komplikasi, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes selama kehamilan. Selain itu, berisiko tinggi mengalami komplikasi selama persalinan dan kelahiran, dan orang yang terlalu gemuk akan mengalami proses ovulasi tidak teratur sehingga menghambat kesempatan untuk dapat hamil. Berapa <em>Body Mass Index </em>anda? Sudah tergolong normalkah?</p><p><em>Olahraga</em></p><p>Lakukan olahraga selama maksimal 150 menit perminggunya, baik olahraga renang, membersihkan kebun, berjalan-jalan santai atau melakukan <em>pilates</em> dan yoga. Olahraga yang teratur akan memberikan manfaat seperti menjaga stamina, membuat tubuh lebih bugar, melancarkan metabolisme tubuh, mengurangi nyeri punggung dan kram kaki, meringankan keluhan konstipasi, membantu ibu hamil untuk menjaga berat badan agar tidak berlebihan dan meningkatkan kualitas tidur di malam hari.</p><p><em>Travel and Rest</em></p><p>Usahakan untuk tidak melakukan perjalanan yang sangat melelahkan secara rutin saat program hamil. Kondisi dehidrasi dan tubuh yang tidak prima tidak bagus untuk persiapan kehamilan. Bicarakan dengan dokter anda jika kondisi ini tidak memungkinkan untuk dihindarkan. Istirahatlah selama 8 jam pada malam hari dan 1–2 jam pada siang hari.</p><p><em>Hubungan Seksual</em></p><p>Lakukan hubungan intim 2–3 kali dalam seminggu pada masa tidak subur, dan 3–4 kali/minggu saat masa subur secara rutin. Penting untuk menghitung masa subur wanita karena keberhasilan kehamilan akan lebih tinggi pada waktu-watu tertentu. Penting juga untuk mengetahui bahwa sperma akan berada pada kondisi terbaik pada saat suhu udara rendah. Selain itu, berhati-hatilah dalam menggunakan produk pelumas vagina karena sebagian produk tersebut mengandung zat yang dapat menurunkan kesuburan. Jadilah pembeli yang cerdas dan konsultasikan produk tersebut sebelum digunakan.</p><p><strong>9. Manajemen Stress Yang Baik</strong></p><p>Pasangan terutama wanita, yang berada dalam masa perencanaan kehamilan sangat rentan dengan kecemasan, kekhawatiran, stress, ataupun depresi. Hal ini dikarenakan faktor dari dalam maupun luar seperti tekanan langsung atau tidak langsung dari anggota keluarga, masyarakat luas, maupun ekspektasi diri yang tak kunjung menjadi kenyatan. Perasaan tersebut sangat wajar apabila muncul dalam diri anda. Namun, larut dalam kondisi tersebut secara berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan dan kesuburan karena stress dapat menyebabkan peningkatan kadar hormon kortisol dan penurunan hormon estrogen dan progesteron pada wanita, serta testosteron pada pria. Ketidakseimbangan ini juga menyebabkan gejala negatif seperti insomnia, migrain, dan perubahan suasana hati yang tidak menentu.</p><p>Anda dapat memperkaya pengetahuan seputar kehamilan yang berhubungan dengan perencanaan, perawatan selama kehamilan, menjelang persalinan, pasca persalinan dan juga perawatan bayi dari berbagai sumber yang terpercaya untuk mengurangi kekhawatiran. Diskusikan berbagai keluhan dan jadilah calon ibu yang terbuka kepada pasangan agar setiap permasalaha dan kegundahan dapat teratasi dengan baik. Selalu rutin beribadah dan apabila diperlukan anda langsung dapat bertanya dengan ahlinya sehingga anda dapat mempersiapkan langsung kehamilan anda secara sehat.</p><p>Selamat mencoba!</p><p><strong>References :</strong></p><p><em>FPA. 2010. Planning A Pregnancy. Available at </em><a href="http://www.fpa.org.uk"><em>www.fpa.org.uk</em></a></p><p><em>The American College of Obstetricians and Gynecologists, District II/NY. Preconception Care : A guide for optimizing pregnancy outcomes. Available at </em><a href="http://www.acogny.org"><em>www.acogny.org</em></a></p><p><em>Family Planning NSW. Pre Pregnancy Plannin. Available at </em><a href="http://www.fpnsw.org.au"><em>www.fpnsw.org.au</em></a></p><p><em>BKKBN. 2014. Mempersiapkan Kehamilan Yang Sehat.</em></p><p><em>Crawley H. Eating Well For Healthy Pregnancy. London : First Step utrition Trust</em></p><p><em>Health Nexus Sante. 2016. A Healthy Start for Baby and Me.</em></p><p><em>Bidan Muda Bergerak. 2018. Modul Kebutuhan Dasar Ibu Hamil.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e51eeccb2818" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Untukmu Yang Saat Ini Berada di Titik Terendah Kehidupan]]></title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/untukmu-yang-saat-ini-berada-di-titik-terendah-kehidupan-99b2d44b7b3f?source=rss-b9818d87a536------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/99b2d44b7b3f</guid>
            <category><![CDATA[kehidupan]]></category>
            <category><![CDATA[motivasi-diri]]></category>
            <category><![CDATA[titikbalik]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anesa Fitria Afni]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 04 Jun 2022 15:32:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-06-04T15:32:30.683Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>Only I can change my life, no one can do it for me — Carol Burnett</em></p><p>Setiap orang mungkin pernah, sedang atau akan merasakan suatu titik terendah dalam fluktuasi kehidupannya. Sebuah titik yang menukik tajam ke tempat tergelap yang acapkali membuat seseorang merasa bahwa dirinya bukanlah sesuatu yang berguna di atas dunia ini. Yang juga membuat seseorang berputus asa terhadap segala upaya menggapai nektar dalam kehidupan yang telah dia damba.</p><p>Adalah sangat biasa medapati diri ini terpesona ketika mendengar cerita dongeng atau menonton film fantasi mengenai keunikan burung <em>phoenix</em> yang dapat bangkit dari abu kematiannya sendiri. Adalah sebuah kebijaksanaan jua apabila diri ini berhasil mengambil hikmah dari dongeng tersebut dan dapat dengan mudahnya bangkit serupa burung <em>phoenix</em> yang bangkit dari abu kematiannya jika dihadapkan pada terendah suatu waktu. Namun pada kenyataannya, aksi tak pernah semudah kata-kata. Realita tak pernah seramah yang kita kira. Ya, kebanyakan dari kita pada kenyataannya merasa kesulitan bahkan untuk berdiri pada akal sehat sendiri bila dihadapkan pada titik terendah tersebut. Sendirian. Terkatung-katung antara keinginan bangkit atau menyerah. Kita bisa apa selain membiarkan diri ini menjadi abu dan terhembus ke sungai Gangga?</p><p>Orang yang berada pada titik terendah diibaratkan seolah-olah tengah terikat pada sebuah bola rantai besar di dasar palung lautan Vitiaz. Terengah-engah berusaha untuk mengambil oksigen ke permukaan samudera, namun mengalami kesulitan karena seutas bola rantai besar pada kenyataannya masih melilit di kedua kaki orang tersebut. Kesulitan yang seolah hampir tidak mungkin dipecahkan tersebut tidak pelak memunculkan keinginan yang kuat dan pekat untuk menyerah dan pasrah. Seringkali pada kondisi seperti ini orang-orang tidak lagi bisa memikirkan cara yang dapat dilakukan untuk membuat raganya tetap ‘hidup’ dan berguna memperjuangkan nasibnya. Selayaknya pecandu <em>khamr</em>, mereka kesulitan agar tersadar menyelamatkan diri. Benar, bertubi-tubinya kesulitan di tengah segala keterbatasan kondisi tersebut kemudian menumpuk dan membuat mereka pada akhirnya memilih untuk menyerah. Membiarkan diri mereka selesai dengan segala hasrat, impian, cinta, bahkan oksigen di dada. Ketahuilah, yang membunuh orang tersebut pada akhirnya bukanlah rantai yang mengikat kakinya di palung lautan tadi, melainkan keyakinannya yang terus menguat bahwa seberapa besar pun ia mencoba, ia tidak akan dapat berguna.</p><p>Ketika menamatkan pendidikan DIII Kebidanan aku pernah berada pada kondisi yang sama. Singkatnya, aku pernah mengalami trauma psikologis setelah bekerja di sebuah klinik bidan di pinggiran kota. Aku tidak pernah menceritakannya dimanapun dan kepada siapapun sehingga menuliskan ini juga sebenarnya merupakan tantangan tersendiri bagiku. Pada saat itu kepercayaan diriku yang cukup tinggi benar-benar merosot habis oleh peristiwa-peristiwa di klinik yang tidak dapat aku ceritakan disini namun membuatku setengah mati ketakutan sebagai bidan tersebut. Ya, berbagai peristiwa yang membuatku tidak memiliki cukup nyali untuk kembali menjadi bidan di lapangan pada saat itu. Berbulan-bulan setelah <em>resign</em> aku menghabiskan waktu dengan mengurung diri di dalam kamar. Aku merasakan perasaan takut, tertekan, ingin lari dari dunia kebidanan, dan kalut dalam waktu yang bersamaan. Benar, jauh di dalam hatiku aku tahu bahwa diriku ini belum selesai dan belum berdamai dengan momok yang memakan kepercayaan diriku tersebut. Sangat menyedihkan karena aku tidak tahu sampai kapan aku akan seperti itu, sampai kapan aku akan tekatung-katung diantara rasa takut dan keberanian, dan apa yang harus aku lakukan agar keluar dari kekalutan tersebut.</p><p>Ketika seseorang mengalami krisis diri baik pada tingkatan ringan maupun berat, seringkali sisi negatif dirinya mendorong orang tersebut merasa bahwa seluruh dunia tengah berkonspirasi untuk menyudutkannya. Bahwa seluruh dunia tengah berkoalisi untuk menjauhinya. Sumbu rasionalitas orang yang tengah mengalami krisis diri diputarbalikkan oleh aura negatif dan membuatnya buta akan perilaku sosial yang baik. Benar, sangat aku sadari bahwa pada saat itu aku menjadi semakin enggan sekedar untuk keluar rumah karena sedih memikirkan kemungkinan komentar tetangga. Aku mulai merasa tidak enak hati bahkan untuk makan di rumah sendiri karena merasa tidak berhak. Aku juga merasa benci kepada diri sendiri karena tidak pernah bisa berdamai dengan kekurangan diri. Aku juga kadang merasa tidak berani meminta uang sepeserpun kepada kedua orangtua karena merasa tidak tahu diri. Aku merasa hampa. Benar-benar hampa sampai kadang-kadang aku menangis sendiri tanpa tahu sebabnya. Beberapa kali aku mencoba keluar dari lingkaran tersebut dengan mulai membaca berbagai buku motivasi seperti buku karangan Dale Carnegie dan Yasmin Mogahed. Sayangnya fikiran negatif terlalu dominan dan membuat semua isi buku yang bermanfaat tersebut seolah-olah hanya menguap di kepalaku. Sia-sia. Pada momen itu aku merasa sangat kosong. Namun momentum ‘<em>vacum of power’ </em>itu dimanfaatkan dengan baik oleh pikiran negatif untuk membuatku merasa tidak berguna. Aku mulai sangat putus asa. Dalam beberapa kondisi, aku bahkan benar-benar berfikir untuk pergi sejenak dari rumah karena merasa tidak tahan dengan pikiranku sendiri. Edward Dahlberg mengatakan bahwa jika aku sampai pada tahap merealisasikan tindakan tersebut, maka itu adalah sebuah konsekuensi dari perasaan putus asa yang sangat dalam.</p><p>Sampai pada suatu hari, muncul hal kecil yang tanpa disangka ternyata dapat membantuku keluar dari semua kekalutan ini. Waktu itu setangkai bunga anyelir yang hampir mati dan seekor anjing penjaga rumah berhasil menarik perhatianku. Kasihan sekali mereka karena tertambat di tanah dan tertambat oleh rantai. Jangankan untuk tumbuh dan berkembang bebas, mencari makanan sendiripun mereka tak bisa selain mengharap otoritas manusia. Ah, lupakan juga tentang hasrat mereka untuk berkumpul dengan kelompoknya. Lantas pernahkah ada hewan dan tumbuhan yang tampak selalu tidak bersemangat? Tidak. Neha Rawat dalam essaynya yang menjuarai <em>Goi Peace International Competition </em>pada tahun 2017 menjelaskan bahwa makhluk hidup seperti tumbuhan dan hewan pada dasarnya tidak pernah menyerah untuk hidup. Mereka hidup dengan semangat seolah-olah tiada hari esok. Lihatlah anyelirku yang kekeringan. Tak akan dia layu jikalau masih bertemu air hujan. Lihatlah anjingku. Tidak pernah ia meronta-ronta ketika dirantai. Rezekinya telah diatur melalui pemiliknya. Meronta hanya akan menyakiti dirinya, maka ia tampak tenang dan menerima.</p><p>Dengan pemikiran itu, ku ambil segayung air dan kusirami anyelir tersebut. Aku juga memberi makan anjingku. Melihat dedaunan yang tadinya kering menjadi basah, dan melihat lahapnya hewan tersebut menyantap makanannya, aku tersenyum sendiri. Aku mulai menyukai tindakan kecil yang biasanya kuabaikan tersebut. Dan tak terasa aku melakukan hal tersebut dengan rutin hari demi hari, minggu demi minggu. Pada pertengahan tahun 2016 aku menyadari bahwa anyelir yang kusiram setiap hari telah menjadi semakin tinggi dan menjelma menjadi primadona halaman. Anjing yang kuberi makan dengan rutin dengan lincahnya selalu mengibaskan ekornya seraya mengikuti langkah kakiku kemana saja. Pada saat itu untuk pertama kalinya aku kembali merasa bahwa apa yang aku lakukan sehari-hari adalah sesuatu yang berguna. Bahwa kehidupanku ternyata berguna. Mungkin bukan sesuatu yang hebat dan mendunia, tapi aku telah memberikan dunia yang lebih baik untuk dua makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa.</p><p><strong>Perasaan</strong> <strong>Tidak Berguna</strong></p><p>Perasaan tidak berharga dan tidak berguna berkaitan dengan depresi. Jika ini terjadi pada orang dewasa maka akan mengganggu kualitas hidupnya. Dan jika terjadi pada anak-anak, maka akan terbawa hingga si anak mencapai usia dewasa. <em>Seoul National University</em> menjelaskan bahwa perasaan tidak berharga secara signifikan sangat terkait dengan depresi dan upaya bunuh diri. Sementara menurut <em>Manual Diagnostik dan Statistik</em>, perasaan tidak berguna muncul sebagai salah satu gejala kecemasan dan spektrum kepribadian. Biasanya peristiwa seperti kehilangan pekerjaan, perceraian, masalah keuangan, kehilangan orang yang dicintai, tekanan eksternal dan internal merupakan peristiwa yang paling rentan terhadap gangguan ini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa generasi muda sering mengalami perasaan ‘tidak berguna’ dengan proporsi kejadian yang lebih besar pada kelompok wanita. Sayangnya, sebagian besar masyarakat memiliki persepsi bahwa bahwa orang-orang yang mengalami krisis diri ini adalah orang-orang yang bermasalah. Alih-alih merangkul dan mengarahkannya pada terapi yang benar, masyarakat sebaliknya acapkali memilih untuk mengabaikan kondisi tersebut dan menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, baik-baik saja sampai menemukan si penderita pulih dengan sendirinya atau berakhir dengan depresi berat, <em>self-harm,</em> dan <em>suicide.</em></p><p>Mark Manson dalam bukunya <em>The Subtle Art of Not Giving A F*ck </em>menjelaskan bahwa setiap orang dalm setiap fase memiliki masalah dalam hidupnya. Hal ini dikarenakan tuntutan dan transformasi masalah dari tahun ke tahun. Ada banyak orang di dunia ini yang memiliki masalah baik itu masalah besar maupun kecil. Petani memiliki masalah dengan harga panen. Psy memiliki masalah dengan popularitasnya di dunia. Bahkan ibu di rumah memiliki masalah dengan menu yang hendak dihidangkan malam nanti. Semua orang menganggap bahwa masalah adalah makanan sehari-hari yang harus dihadapi oleh diri sendiri-sendiri. Inilah yang membuat sebagian besar orang menjadi <em>ignorant</em> dan merasa bahwa masalah diri sendiri selalu lebih utama dari masalah orang lain yang sebenarnya sudah mencapai level krisis.</p><p>Jika anda tidak mengalami perasaan ini, adalah sebuah tindakan yang benar untuk mulai memperhatikan dan merangkul orang-orang disekeliling anda dengan bantuan moral dan tindakan. Tidak semua orang dapat memutuskan rantai yang melilit kakinya di dasar lautan, beberapa memerlukan orang lain sebagai pahlawan dalam kehidupannya. Nah, sekarang bagaimana jika diri anda sendiri yang tengah merasa tidak berguna? Berikut beberapa hal yang mungkin dapat membantu anda keluar dari krisis yang anda hadapi :</p><ol><li><strong>Titik Penerimaan</strong></li></ol><p><em>Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (Qs Al-Baqarah [2] : 155)</em></p><p>Selama beban dan tekanan yang dirasakan belum diluahkan seluruhnya, maka ia akan selalu<em> </em>memberatkan sang pemikulnya. Selama ketidakmampuan dan kelemahan dilawan sekuat tenaga, maka ia akan selalu menjadi kecemasan dan rasa tidak berdaya. Berpura-pura kuat memikul beban layaknya Atlas tidak akan membuat diri semakin kuat, melainkan semakin rapuh. Untuk itu, kita perlu meluahkan perasaan. Perlu mengadu. Perlu menerima. Dan sebaik-baik tempat untuk berserah diri adalah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Hamza Yusuf dalam buku <em>Purification of The Heart </em>menyampaikan bahwa meminta ampun dan bersyukur merupakan salah satu cara untuk memotivasi dan menerima kesulitan itu sendiri. Rhonda Bryne dalam bukunya <em>The Secret</em> juga menyinggung bahwa <em>gratitude </em>merupakan kunci dasar untuk menjadi pribadi yang lebih positif. Oleh karena itu, adalah langkah yang tepat untuk menerima diri sendiri dengan meluahkan segala perasaan tidak berguna, tidak berdaya, lelah, histeria, bahkan putus asa melalui berbagai upaya mendekatkan diri kepada Allah seperti shalat malam dan membaca Al-Quran. Kemudian, ingat atau tulislah hal-hal yang membuat kita bersyukur ada di bumi Allah ini untuk meningkatkan optimisme dan rasa positif di dalam diri.</p><p><strong>2. Ayo Berkontribusi Pada Orang Lain dan Komunitas</strong></p><p>Untuk menjadi ‘berguna’ artinya kita harus memberikan manfaat bagi orang atau makhluk yang ada disekitar kita. Haruskah kita menjadi relawan atau membuka sebuah badan <em>foundation </em>yang berguna bagi masyarakat miskin? Jangan berfikir yang muluk-muluk. Lakukanlah sesuatu yang kecil namun berarti bagi diri kita. Berjalanlah keliling rumah dan perhatikan orang-orang dengan nasib yang tidak beruntung. Bantu mereka semampu kita dan lihat apa yang terjadi setelahnya. Deddy Corbuzier pada salah satu episode dalam acara <em>Hitam Putih </em>menyebutkan bahwa memberi manfaat kepada orang lain adalah upaya untuk membahagiakan diri kita sendiri. Dan itu benar adanya.</p><p>Atau jika anda tidak memiliki kepribadian yang cukup terbuka untuk melakukan hal-hal seperti itu, maka alihkanlah pandangan anda pada berbagai makhluk hidup lain di rumah anda yang selama ini kurang anda perhatikan. Berikan mereka makan dan minum. Biarkan diri anda mengamati perilaku mereka lebih jauh terhadap kontribusi anda.</p><p>Benar. Kontribusi akan membuat anda menyadari bahwa aksi dan tindakan baik anda dibutuhkan oleh banyak orang di sekitar anda. Aktif memberikan bantuan dan menerima senyuman akan membuat anda merasa ‘berguna’.</p><p><strong>3. Berhenti Berfikir Bahwa Segalanya Adalah Keharusan</strong></p><p>Bahkan jika masyarakat telah menyusun sebuah standar kesuksesan menurut mereka sendiri, yang paling mengetahui perihal kesuksesan diri ini tidak lain tetaplah diri kita sendiri. Ketika seseorang mengatakan bahwa menikah bagi wanita adalah harus dibawah usia 25 tahun, apakah memang benar-benar harus? Tidak. Ada yang baru mendapatkan jodohnya di usia yang lebih tua. Dan stereotype semacam itu jelas akan memberikan tekanan sosial pada sang wanita. Seorang anak harus sukses dan menjadi kaya agar bisa dibanggakan ibunya. Apakah memang harus? Tidak. Tidak ada sebuah keharusan sebenarnya. Yang ada hanyalah orang-orang yang menyusun standar sesuai dengan persepsi orang lain. Yang sangat memikirkan pendapat orang lain sehingga membenci dirinya sendiri.</p><p>Jadi, tidak ada kata harus. Ubahlah <em>mindset</em> yang selama ini anda pupuk terkait hal ini. Lepaskan segala standar yang memusingkan. Biarkan semuanya berjalan seperti seharusnya.</p><p><strong>4. Terapi Perilaku Kognitif</strong></p><p>Terapi perilaku kognitif merupakan jenis terapi yang dapat membantu individu untuk menyesuaikan pikiran mereka agar mempengaruhi emosi dan perilaku. Sangat efektif untuk perasan tidak berharga. Jika krisis diri yang anda alami sudah sangat berat, maka ini waktunya untuk mendapatkan bantuan dari profesional. Kunjungilah terapis/psikolog untuk mendapatkan bantuan terkait hal ini agar benar-benar pulih dan berangsur menjadi pribadi yang lebih baik.</p><p><em>You are stronger than you think. You just need to continue on it. </em>— <em>Unknown</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=99b2d44b7b3f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Membiasakan Diri Untuk Berbuat Baik]]></title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/membiasakan-diri-untuk-berbuat-baik-1e7963784eba?source=rss-b9818d87a536------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1e7963784eba</guid>
            <category><![CDATA[motivasi-diri]]></category>
            <category><![CDATA[berbuat-baik]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anesa Fitria Afni]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 04 Jun 2022 15:28:23 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-06-04T15:28:23.440Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>Everytime you do a good deed, you shine a light a little further into the dark. And the thing is, when you’re gone that light is going to keep shining on, pushing the shadows back — Charles de Lint</em></p><p>Apakah anda pernah melihat seekor kupu-kupu berukuran cukup besar dengan sayap lebar dan warna biru yang memanjakan mata? Akan sangat luar biasa jika anda pernah melihatnya. Sebenarnya yang akan kita bahas bukanlah keindahan dari kupu-kupu tersebut, melainkan sebuah cerita menarik yang ditemukan pada siklus kehidupannya. Siapa yang menyangka bahwa kupu-kupu biru besar yang teramat indah itu merupakan parasit bagi makhluk hidup lain yakni semut merah? Selayaknya benalu, kupu-kupu biru besar itu merugikan kehidupan dan kerja keras koloni semut.</p><p>Bagaimana bisa?</p><p>Ketika telur kupu-kupu biru menetas dan menjelma menjadi ulat pengonsumsi daun <em>thyme</em>, tiga minggu kemudian ulat tersebut jatuh ke tanah dan menarik perhatian para semut. Tahukah anda? Saat semut merah mendekat, ulat tersebut menggembungkan tubuhnya menyerupai larva semut. Hal ini membuat para semut menyangka bahwa ulat tersebut merupakan bagian dari koloninya. Mereka pun membawa si ulat ke sarangnya yang aman dan penuh makanan. Si ulat hidup disana selama satu tahun, memakan larva semut yang ada disana dan berhibernasi dengan nyaman sebagai kepompong. Baru kemudian saat berubah menjadi kupu-kupu dewasa, ia akan meninggalkan sarang dan semut-semut yang telah ditipunya mentah-mentah demi kepentingan dirinya sendiri. Ratusan spesies kupu-kupu biru besar melakukan hal yang sama pada ratusan koloni semut merah. Namun alam memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan pelajaran kepada kita semua. Secara mengejutkan, spesies terakhir dari kupu-kupu biru besar mengalami kepunahan pada tahun 1979 di habitat terakhirnya di negara Inggris. Perubahan ekologi mengakibatkan para semut merah bermigrasi ke tempat lain sehingga tidak ada lagi yang menyelamatkan dan memberi makanan bagi generasi kupu-kupu biru besar. Perilaku parasitisme hewan ini mendapatkan ganjaran dari alam.</p><p>Selain kupu-kupu biru tersebut, apakah anda juga pernah melihat pohon akasia Afrika? Ya, pohon yang batangnya dipenuhi duri-duri tajam tersebut ternyata juga memiliki hubungan/simbiosis yang erat dengan semut. Kontras dengan kupu-kupu yang bersifat parasit, pohon akasia dan semut memiliki hubungan yang bersifat mutualisme. Mereka saling berbagi manfaat dan kebaikan antara satu sama lain. Pohon akasia menjadi habitat utama dan sumber makanan bagi semut pekerja. Duri-duri yang tampaknya mengancam di sekujur batang pohon tersebut menjadi tempat hidup yang nyaman bagi para semut. Selain itu, pohon akasia bahkan menyediakan nektar khusus yang kaya akan minyak dan protein. Thomas Belt dalam salah satu penelitiannya menyatakan bahwa satu-satunya fungsi nektar di pohon akasia ini adalah untuk menyediakan nutrisi bagi semut pekerja. Bagaimana nasib pohon akasia? Apakah juga mengalami kepunahan? Tentu saja tidak. Pohon tersebut bisa dijumpai hingga hari ini karena semut pekerja enggan meninggalkannya dan selalu melindunginya dari ancaman hewan lain. Semut menyerang secara agresif setiap hewan yang mendekati pohon akasia dan menghancurkan tumbuhan yang tumbuh dalam jarak satu meter dari pohon tersebut. Kebaikan akasia dibalas dengan kebaikan oleh semut. Perilaku mutualisme tumbuhan ini menjaga keduanya dalam melanjutkan generasi mereka.</p><p>Alam telah mengajarkan kita banyak hal mengenai kompleksisitas kehidupan mengenai kebaikan dan keburukan.</p><p>Pandangilah pohon apel yang tumbuh di pekarangan. Pohon ini memberikan kebaikan dengan meneduhi banyak orang dan mengenyangkan perut banyak orang dengan buahnya yang ranum serta manis. Pohon ini juga memberikan kebaikan karena menjadi habitat bagi organisme lainnya. Burung-burung hinggap di dahannya. Semut-semut membentuk sarang di pokok batang. Ulat-ulat berpesta ketika musim berbuah tiba. Cacing berkembang biak dengan baik di sekitaran akarnya.</p><p>Merugikah pohon apel karena seluruh kebaikannya dimanfaatkan organisme lain?</p><p>Tentu saja tidak.</p><p>Kebaikan dan kebermanfaatannya ternyata berbuah kebaikan bagi dirinya sendiri. Karena bermanfaat, manusia merawat pohon ini dengan sangat baik. Mereka mencabut gulma yang tumbuh di sekitaran pohon apel, memotong dahannya yang terlalu panjang, bahkan merapikan daun-daun yang telah mengering. Burung-burung silih berganti datang meramaikan sang pohon dengan nyanyian merdu mereka. Cacing-cacing menggemburkan tanah dan memastikan bahwa pohon ini mendapatkan air dan mineral yang cukup. Luar biasa bukan? Kalau dipikirkan dengan seksama, manusia yang selalu berbuat kebaikan juga seperti itu. Manusia yang selalu menolong orang lain dengan mendahulukan kebutuhan dan kebahagiaan orang lain dibandingkan kepuasannya sendiri juga selalu mendapatkan kebahagiannya sendiri dalam menjalani kehidupan. Paulo Coelho dalam buku Zahir menyebut perbuatan baik ini sebagai <em>Bank Budi</em> yang sewaktu-waktu berguna bagi kehidupan. Karena berbuat baik kepada orang lain pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan manfaat bagi diri sendiri.</p><p>Secara teori, Auguste Comte menyebut sikap penolong, atau menempatkan kebutuhan orang lain diatas kebutuhan sendiri tanpa mengharapkan ganjaran tersebut dengan istilah <strong>Altruisme</strong>. Altruisme merupakan lawan dari sikap egoisme atau mementingkan diri sendiri. Contoh kecilnya adalah ketika seseorang menyedekahkan hartanya, memberikan kursi yang ia tempati di kereta kepada ibu hamil, atau membuatkan secangkir teh lemon bagi pasien yang sedang mengalami mual muntah di tengah kesibukan. Oleh karena kebajikan yang tiada mempertimbangkan diri sendiri itu, altruisme sendiri dianggap sebagai etika emas yang dimiliki seseorang oleh berbagai budaya dan agama. Pertanyaan mendasarnya, sudahkah sikap tersebut kita miliki dan terapkan kepada orang sekitar?</p><p><strong>Berbuat Baik dan Manfaatnya Bagi Kehidupan</strong></p><p>Dilansir dari <em>mentalhealth.org.uk</em>, berbuat baik dengan membantu orang lain ternyata berefek pada kesehatan mental seseorang. Orang-orang yang melakukan kebaikan sebagai rutinitas cenderung terbebas dari stres dan memiliki suasana hati yang baik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Daniel George pada tahun 2011 menunjukkan bahwa sukarelawan/<em>volunteer</em> yang mengabdikan diri untuk membantu masyarakat memiliki stres yang lebih rendah daripada orang dewasa yang tidak terlibat. Selain berdampak pada kesehatan mental, berbuat baik juga memberikan dampak yang luar biasa pada metabolisme tubuh. Salah satu penelitian menunjukkan setiap membantu orang lain, kita dapat mengaktifkan hormon dopamin dan serotonin dalam tubuh kita. Hormon dopamin tidak hanya membantu seseorang untuk merasa lebih baik, namun dari segi kesehatan juga membantu mengobati tekanan darah rendah, sakit jantung, Parkinson, gangguan hyperaktif dll. Nah, bukankah luar biasa?</p><p>Selain manfaat kesehatan, berbuat baik juga membuat seseorang matang dalam segi pemikiran dan kehidupan sosial. Menolong orang lain dalam berbagai kondisi membuat seseorang melihat dunia dalam perspektif yang berbeda dari biasanya. Ada kalanya ketika membantu orang lain, kita melihat langsung keterbatasan fisik, ekonomi, kemampuan, dll. Hal ini membantu kita untuk lebih banyak bersyukur dengan keadaan dan kekurangan yang terdapat di dalam diri kita. Selain itu, hal ini membantu mengasah empati dan meningkatkan rasa kemanusiaan yang menjadi salah satu unsur vital seorang manusia. Secara tidak langsung, membantu orang lain membuat kita lebih positif dalam berbagai hal.</p><p>Kita mungkin tidak menyadarinya, namun satu tindakan kebaikan yang kita berikan kepada orang lain secara cuma-cuma sebenarnya dapat meningkatkan optimisme, kontrol diri, dan kepercayaan diri orang tersebut terhadap dunia. Satu uluran tangan kebaikan yang kita lakukan mungkin telah mengubah seluruh perspektifnya mengenai kelamnya dunia. Satu hal kecil yang tanpa sengaja kita berikan ternyata mampu mengubah dunia orang tersebut. Sebagai dampaknya, orang yang telah kita bantu tersebut akan terdorong untuk mengulangi kebaikan yang sama bagi orang lainnya sehingga akan tercipta dunia kecil yang lebih baik bagi banyak orang.</p><p>Saya seringkali mengalaminya. Dan salah satu peristiwa yang terjadi baru-baru ini berhasil mendorong saya untuk berbuat serupa. Waktu itu saya sedang berkunjung ke rumah salah satu bidan yang menjadi <em>clinical instructure </em>saya di salah satu Puskesmas di Kabupaten Agam ketika masih kuliah dulu. Ibu bidan hebat itu saya panggil Bu Mel. Beliau memiliki cukup banyak klien yang berkunjung ke tempat prakteknya dan setiap hari menerima berbagai pasien dengan latar belakang ekonomi yang berbeda. Ada lumayan banyak pasien yang tidak mampu membayar biaya pengobatan, persalinan dll sehingga Bu Mel membuat sebuah buku yang berisi catatan hutang. Yang menarik adalah, di samping harga pelayanan yang sangat murah namun berkualitas, Bu Mel juga selalu membakar buku tebal catatan hutang tersebut begitu penuh dan mengikhlaskan seluruh jerih yang ia lakukan. Buku tersebut ditulis hanya untuk memastikan bahwa tidak ada klien yang berpura-pura tidak memiliki uang untuk pelayanan yang ia berikan. Namun pada pelaksanaaannya, beliau hanya memungut biaya pelayanan minimal sesuai obat dan jasa yang dibutuhkan setiap pasien. Bagi saya, bidan-bidan seperti Bu Mel adalah teladan dalam bersikap sebagai abdi masyarakat. Dan saya ingin melakukan hal yang sama dan lebih baik lagi ketika berpraktek nanti.</p><p><strong>Memulainya Detik Ini Juga</strong></p><p>Setiap orang memiliki hati yang akan selalu berpihak pada kebaikan. Namun tidak semua orang hari ini bisa berbuat baik. Apa alasannya? Bermacam-macam. Ada yang pada awalnya merasa malu berbuat baik karena takut dikira sedang pamer. Ada yang merasa berat untuk mulai melakukannya karena sudah terbiasa mengabaikan kesulitan orang lain. Ada yang terlalu fokus pada kepentingan dirinya sendiri dan permasalahannya sehingga dunia ini sempit sekali terasa. Ada juga telah berniat, namun ragu-ragu untuk melakukannya sehingga peluang untuk berbuat baik itu terelakkan.</p><p>Katakan kepada diri sendiri, ketika muncul niat untuk melakukan suatu perbuatan baik sekecil apapun, maka lakukanlah segera. Mungkin kita hanya akan melakukan hal kecil seperti penyulut lentera pada cerita <em>Le Petite Prince</em> karya Antoine de Saint Exupery, bukannya sosok <em>Land Lord</em> pada cerita <em>Oliver Twist</em> karangan Charles Dickens. Ingat, bahwa tujuan kita adalah membantu orang lain dan bukan perkara besa kecilnya bantuan tersebut. Perasaan malu untuk bertindak karena takut dianggap tengah memamerkan sesuatu disebabkan karena rendahnya percaya diri dan pikiran yang mudah dipengaruhi oleh persepsi orang lain. Hal itulah yang menahan kita selama ini. Jika terus dipupuk, maka hal ini akan selalu menyurutkan langkah untuk berbuat kebaikan. Ada baiknya untuk tidak berfikir banyak ketika melakukan sebuah kebaikan. Lakukan saja saat hati nurani telah memerintah. Lakukan dari hal-hal kecil yang terlihat sederhana. Penting untuk tidak berlebih-lebihan dalam membantu orang lain diluar kemampuan diri sendiri. Sesuaru yang dipaksakan hanya akan membuat seseorang merasa terbebani serta kehilangan essensi dari keikhlasan dari pekerjaan yang tengah ia lakukan.</p><p>Jadi, hal kecil apa saja yang bisa kita lakukan mulai detik ini?</p><p>Jika anda adalah seorang bidan yang tengah berpraktek di berbagai tempat pelayanan kesehatan, maka hal-hal kecil berikut mungkin bisa membuat hari-hari anda menjadi lebih menyenangkan bagi diri anda dan orang lain, yaitu :</p><p>1. Jika selama ini kita sering lalu lalang dari satu ruangan ke ruangan lainnya dan tanpa sengaja sering mengabaikan pasien, keluarga pasien, maupun rekan kerja yang sudah tersenyum kepada kita, maka ini saatnya lebih memperhatikan lingkungan, melempar senyum, dan menyapa ramah setiap orang yang kita temui. Baik seseorang yang dikenal ataupun yang tidak dikenal. Tersenyum akan sangat membantu mengubah suasana hati kita yang kacau, dan mengubah suasana hati orang-orang di sekitar. Sebuah senyuman dan sapan. Sesuatu yang tidak berat dan menyenangkan untik dibagikan bukan?</p><p>2. Jika selama ini tanpa sengaja kita selalu memberikan nasehat panjang lebar tanpa benar-benar mendengarkan pasien kecuali keluhan umumnya, maka ini saatnya untuk mendengarkan mereka dengan penuh empati. Stephen Covey dalam bukunya yaitu <em>The 7 Habit of Highly Succesful People </em>menyatakan bahwa kemampuan mendengar dengan penuh empati dapat membuat seseorang yag didengarkan merasa berdaya dan dipahami. Hal ini merupakan sebuah modal awal untuk kedekatan emosional yang intens. Kemampuan ini sebenarnya adalah kemampuan dasar komunikasi bidan. Kita memahami bahwa bidan bukanlah sebuah mesin pengetahuan. Kita bukan hanya mentransfer ilmu, melainkan memastikan bahwa ilmu yang kita berikan dapat dimengerti, diterima, dan menjadi solusi bagi permasalahan wanita, karena bidan merupakan sahabat wanita yang memahami kebutuhan fisik maupun psikologis wanita. Jika selama ini kita merasa bahwa tugas kita adalah untuk ‘nyerocos’, maka kita bisa mulai menolong orang lain dengan mendengar.</p><p>3. Jika selama ini waktu kita dihabiskan untuk menatap layar ponsel selama bekerja, maka ini saatnya untuk melakukan hal-hal kecil yang bermanfaat bagi orang banyak seperti mambantu memperbaiki posisi pasien, menanyakan ketidaknyamanannya, dan membantu hal-hal yang mungkin dibutuhkannya. Kita juga bisa memanfaatkannya dengan memberikan informasi seluas-luasnya kepada orang yang bertanya. Bukankah respon berupa senyuman tulus dari pasien yang kita bantu lebih berharga dibandingkan ‘like’ di sosial media?</p><p>4. Jika selama ini kita menggerutu melihat sampah yang bertebaran di klinik atau puskesmas usai memberikan pelayanan, maka ini saatnya untuk bergerak dan memungut sampah tersebut. Gerutuan hanya akan membuat hati kita semakin meradang, sementara satu gerakan kecil yang kita perbuat dapat menyelamatkan lingkungan. <em>The choice is yours.</em></p><p>5. Jika selama ini kita selalu berfokus kepada kecemasan kita sendiri selama membantu proses persalinan, maka ini saatnya untuk berfokus pada kecemasan pasien yang menjadi fokus pelayanan kita. Salah seorang rekan sejawat saya semalam mengirimkan sebuah jurnal mengenai dampak rasa cemas yang sangat tinggi pada bidan terhadap pelayanan yang diberikan. Jurnal ini membuat saya berfikir banyak, apakah saya terlalu mementingkan keberhasilan saya sendiri sendiri mengabaikan orang yang membutuhkan?</p><p>6. Jika selama ini kita enggan bekerjasama dengan teman sedinas karena dia cenderung memilih-milih pekerjaan, ini saatnya untuk mengulurkan tangan terlebih dahulu dalam membantunya melakukan tugas yang belum sempat dikerjakannya. Ingat, kemudahan dan kelapangan yang kita berikan kepadanya akan menjadi kelapangan bagi kehidupan kita nantinya.</p><p>7. Jika selama ini kita mengabaikan pesan-pesan dari orang yang membutuhkan jawaban seputar kesehatan, maka ini saatnya untuk membalas pesan tersebut dengan hati yang lapang. Mungkin bantuan kecil kita tersebut dapat menenangkan kegundahan mereka. Mungkin bantuan kecil tersebut dapat menjadi penawar duka yang mereka rasakan. Mungkin bantuan kecil tersebut membuat mereka menghemat uang ratusan ribu yang dapat dimanfaatkan untuk hal lainnya. Kita tidak pernah tahu.</p><p>8. Jika selama ini kita tergolong sebagai orang yang sangat <em>money-oriented</em>, maka ini saatnya untuk memberikan kebaikan melalui penghasilan yang telah kita kunpulkan tersebut. Menyediakan air mineral dalam bentuk kemasan gelas bagi pasien yang berkunjung ke klinik kita tidak akan membuat kita bangkrut. Ini akan membantu membuat mereka nyaman menunggu giliran pengobatan. Dan tak lupa, jangan sungkan membiarkan orang-orang mengambil buah-buahan di pekarangan rumah kita secara bebas. Di negara maju, orang-orang membagikan buah-buahan yang mereka miliki di pekarangan karena mengetahui ada banyak orang yang kelaparan dan menginginkannya.</p><p>Itu hanyalah contoh kecil saja. Ada banyak jenis kebaikan yang dapat dipersembahkan oleh seseorang kepada orang lain, lingkungan, dan masyarakat banyak melalui profesi mulia ini. Tidak ada satupun perbuatan baik yang akan menghasilkan hal-hal buruk. Kita tidak mengetahuinya, tapi Allah melihatnya. Dan janji Allah itu pasti adanya sebagaimana terdapat dalam Surah Al-Zalzalah ayat 7.</p><p>Jadi bagaimana? Sudah siap untuk berbuat baik bu bidan?</p><p><em>I alone cannot change the world. But I can cast a stone across the river to create many ripples — Mother Teresha</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1e7963784eba" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Cerita Bidan Yang Mengikuti Program Nusantara Sehat di W]]></title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/cerita-bidan-yang-mengikuti-program-nusantara-sehat-di-w-cd6b59ccdf0?source=rss-b9818d87a536------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/cd6b59ccdf0</guid>
            <category><![CDATA[nusantara-sehat]]></category>
            <category><![CDATA[pengalaman-hidup]]></category>
            <category><![CDATA[bidan]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anesa Fitria Afni]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 04 Jun 2022 15:24:31 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-06-04T15:24:31.257Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Cerita Bidan Yang Mengikuti Program Nusantara Sehat di Wakatobi</h3><p><em>I’d rather die on adventure than live standing still — V.E Schwab</em></p><p><em>Dataran tinggi Colorado, Amerika Serikat, merupakan gurun tandus yang gersang dan kering. Saking tandusnya, permukaan gurun tersebut menjadi retak-retak karena kondisi kekeringan. Hal ini membuat sebagian besar makhluk hidup enggan untuk bertahan dan bermukim pada ekosistem tersebut. Ya, apalagi berbagai jenis bunga nan indah di pandang mata. Karena biasanya bunga hanya dapat tumbuh dengan baik dan subur pada tanah yang kaya air dan zat hara. Namun, ternyata terdapat dua jenis bunga yang memilih untuk menunjukkan keindahannya dengan berjuang hidup di gurun tandus Colorado, yakni bunga scorpion weed (pachelia crenulata) dan bee plant (cleome serulata). Alih-alih mati karena kekurangan makanan dan air, sang bunga malah berhasil mengubah gurun tandus di Colorado tersebut menjadi permadani ungu serta kuning yang luar biasa indah. Ya, bunga tangguh tersebut mampu menunjukkan kepada kita semua, bahwa lingkungan yang penuh perjuangan akan menghasilkan bunga yang terindah dan istimewa.</em></p><p><em>Seperti halnya bunga yang memilih tempat tumbuh dan mekarnya sendiri, wanita juga kurang lebih seperti itu. Tidak semua wanita memilih untuk tumbuh pada lingkungan yang biasa dan tidak ada tantangan. Tidak semua wanita ingin mekar dan menjalani kehidupan dengan bersembunyi dibalik pagar-pagar besi modernitas. Beberapa wanita sebaliknya malah memilih untuk tumbuh dari perjalanan dan perjuangan yang menguji nyali di dalam dada. Mereka tangguh serupa hempasan ombak yang mengepung lautan Pasifik. Ganas seperti deru badai yang menerpa puncak jayawijaya. Kuat sekaligus tak terhentikan seperti kembang api yang telah disulut dengan pemantik. Mereka adalah perwujudan scorpion weed dan bee plant yang sebenarnya. Tangguh, pejuang, dan indah disaat bersamaan. Bagaimana tidak? Dibandingkan berjam-jam menikmati obrolan ringan di salah satu sudut kafetaria seperti anak muda kebanyakan, mereka lebih memilih untuk menyelami impian mereka dengan memandangi puncak pegunungan dan lautan dari kejauhan. Pupil mata mereka melebar penuh semangat, dan tekad mereka menyala dengan hebat di dalam dada. Ah, perasaan dan antusiasme yang mungkin juga dirasakan Junko Tabei, wanita pertama yang berhasil mencapai puncak everest dan Bula Choudary, wanita pertama yang berhasil menyeberangi tujuh lautan. Siapa tahu?</em></p><p><em>Dan betapa beruntungnya aku karena telah bertemu dan bersahabat dengan wanita tangguh seperti itu. Dan yang membuatku sangat bahagia adalah, dia adalah seorang </em><strong><em>Bidan</em></strong><em>. Meskipun memiliki tubuh yang kecil serta mata yang selalu tampak sayu, dia adalah wanita yang tiada gentar menembus batas-batas geografi dengan langkah kakinya sendiri. Dia salah satu yang meyakinkanku untuk berkali-kali ikut melakukan pendakian gunung dan bermukim di pulau tak bertuan ketika kami masih berada di Sekolah Kebidanan dulu. Dia tenang dan tidak banyak berbicara tentang mimpi-mimpi kepada kami semua, namun tindakannya menunjukkan segala impian yang terselubung jauh di dalam dadanya. Ketika melakukan pendakian ke gunung Merapi dan Talang, dia adalah wanita yang berada pada bagian terdepan rombongan. Dia juga wanita yang tertawa gembira menebas lautan Samudra Hindia sementara aku dan para wanita lainnya gemetaran ketakutan membayangkan gulungan ombak yang mengerikan. Melihat keberanian dan tekadnya, aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, Apa yang akan dia lakukan di masa depan? Bidan seperti apa yang akan muncul dari sosok seperti ini? Kemana dia akan menjelajah begitu kami menamatkan pendidikan nanti? Dan beberapa waktu yang lalu dia mengirim pesan kepadaku. Mengabarkan bahwa kaki kecilnya akan segera sampai di tanah Wakatobi, beberapa saat lagi. Bahwa sebentar lagi dia akan melakukan pengabdian di tempat yang tiada pernah ia duga. Bahwa ia akan menjelajah hutan dan lautan untuk membantu memeriksa kehamilan, menolong persalinan, dan menjadi tombak terdepan kesehatan masyarakat. Aku tertegun membaca pesan singkatnya. Kuminta dia berjanji untuk menuliskan seluruh perjalanan menakjubkannya kepadaku. Karena seperti halnya kekuatan hati dan semangat Bidan Wika yang telah kubagikan di postingan sebelumnya, perjuangan dan keteguhan bidan yang satu ini juga tidak main-main. Nyalinya sebesar kobaran api dan tindakannya sesigap cheetah di padang sabana. Maka perjalanan seperti apa yang bisa dibagikannya untuk menginspirasi kita semua? Berikut cerita selengkapnya,</em></p><p>Namaku Rahmi Putri AMd.Keb. Aku lahir di daerah pedesaan di kota kecil nan asri, Kota Batusangkar. Serupa dengan gundukan bukit-bukit yang mengelilingi daerah tempat kelahiranku, impianku dahulunya hanyalah sebatas memiliki tumpukan-tumpukan ilmu yang menyesakkan kepala dan tiada berasal dari jiwa. Tiadalah terbayang bagi anak petani kecil ini bahwa nasib akan membawa diri melangkahi gundukan perbukitan yang terkesan berkuasa tersebut.</p><p>Beruntungnya, kehidupanku yang terkungkung keterbatasan motivasi perlahan-lahan berubah dengan pasti ketika aku memasuki sekolah kebidanan beberapa tahun yang lalu. Menjadi mahasiswa bidan berarti berlatih untuk menjadi perempuan tangguh dalam artian yang sebenarnya. Anak-anak perempuan yang biasanya selalu dihubungi orangtua ketika tidak pulang kerumah saat maghrib tiba, di Sekolah Kebidanan dilatih untuk melanglang buana berkeliling daerah-daerah yang belum dikenal di sekitaran Provinsi Sumatera Barat untuk melakukan praktek kebidanan. Ya, mahasiswa bidan dibuat serupa dengan tokoh ‘pangeran kecil’ pada buku karya Antoine de Saint Exupery yang melanglang buana dengan kerapuhan dirinya. Proses itu tak lain dan tak bukan adalah untuk menjadi bidan yang kuat dan pemberani tentu saja.</p><p>Tiada disangka, perjalanan selama praktek kebidanan tersebut menjadi titik awal bagi kejadian menakjubkan di masa depan. Aku teringat betapa terusiknya diriku ketika melihat satu-dua gubuk kayu milik penduduk di pinggang bukit atau gunung yang menjulang. Atap-atap silver gubuk tersebut memantulkan cahaya matahari dan membuatnya begitu kentara untuk dipandang dan diperhatikan terutama dari jalan raya Bukittinggi-Padang. Diam-diam aku berfikir dengan prihatin, bagaimana jika seseorang di atas sana sedang sakit dan tidak sanggup berjalan menuruni lereng untuk mengakses tenaga kesehatan? Bagaimana jika ada ibu yang tiba-tiba melahirkan di tempat tersebut dan sang bidan tiada memiliki keberanian menebas hutan rimba? Apa yang akan kulakukan jika akulah bidan tersebut? Bisakah aku melangkahkan kaki kecil ini untuk mendaki perbukitan atau menyeberangi lautan?</p><p>Ah, aku merutuki diriku sendiri yang selama ini memiliki begitu banyak ketakutan di dalam dada. Yang meringkuk di ketiak ibunya tanpa mengetahui sulitnya dunia. Tapi aku juga akan menjadi seorang bidan nantinya. Seorang bidan yang memiliki hati serupa singa dan mata setajam elang. Menjadi seorang penyelamat dan garda terdepan pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses dan fasilitas. Seluruh kontradiksi antara dua fakta tersebut benar-benar sangat menggangguku. Semenjak saat itu aku bertekad untuk memberanikan diri merasakan intisari perjuangan para bidan yang menjadi penyelamat bagi banyak orang. Keinginan untuk menembus rasa takut pun semakin besar setiap harinya. Aku tidak dapat membayangkan jika aku terus menjadi sosok yang lemah. Aku ingin menaklukkan rasa takut serupa tokoh Bujang di Novel <em>Pulang. </em>Aku ingin seperti Annabeth dan Hazel yang bahkan menembus Tartarus demi menyelamatkan dunia. Aku akan menjadi wanita tangguh.</p><p><strong>Dari Merapi, Semeru, hingga Wakatobi</strong></p><p>Berbulan-bulan setelah itu Allah membuka sedikit demi sedikit tabir perjalanan hidupku. Pada tahun 2013 untuk pertama kalinya bersama sembilan orang bidan di angkatan kami, aku memutuskan untuk menantang diriku sendiri dengan melakukan pendakian ke gunung Merapi. Pada awalnya aku hanya berfikir untuk mendapatkan sedikit pengalaman dan kesenangan dari perjalanan ini. Yang tidak aku ketahui adalah, batu-batu yang ditumbuhi pakis dan bertemankan embun di sepanjang perjalanan pendakian ternyata telah membantu mengenalkanku kepada diriku sendiri.</p><p>Cadas yang sewaktu-waktu dapat menggelincirkan anak manusia di bagian puncak gunung tersebut ternyata mengingatkanku untuk selalu berhati-hati dalam setiap langkah yang berani. Ya, aku belajar bahwa anak perempuan berfisik rapuh yang bersembunyi di sudut kelas selama belajar komunikasi kebidanan ini ternyata sama sekali tidak rapuh. Anak yang terkagum-kagum mendengar penjelasan dosennya yang bercerita tentang beratnya medan di lapangan bagi seorang bidan ini sekarang merasakan medan itu sendiri. Ia telah mampu mencapai pinggang bahkan puncak gunung tanpa merasakan lelah yang berarti. Ia mampu menjangkau pemukiman satu-dua penduduk yang juga memiliki hak kesehatan dari negara yang selama ini hanya dilihatnya dari Jalan raya Bukittinggi-Padang. Itu artinya, anak perempuan ini suatu hari nanti dengan seizin Allah akan mampu untuk menjangkau orang-orang yang mungkin kesakitan, ibu-ibu yang melahirkan, dan kondisi yang membutuhkan bantuan lainnya. Anak perempuan yang rapuh ini, berhasil menemukan kekuatannya ketika melawan ketakutan dirinya sendiri.</p><p>Dan semenjak ekspedisi pertama yang sungguh sangat berarti tersebut, serupa morfin yang sungguh memabukkan, aku mulai melakukan berbagai perjalanan lainnya. Setiap akhir bulan, setelah menjejalkan ilmu kebidanan secara intens dalam proses perkuliahan, berkali-kali aku mendaki Gunung Talang, Singgalang, dan bermukim di berbagai pulau tak bertuan. Dan sungguh setiap pendakian dan perjalanan yang aku lakukan memiliki arti yang sangat berbeda antara satu dan lainnya di hatiku. Ada kalanya ketika melihat sinar lampu-lampu rumah yang tampak hanya serupa titik saja dari puncak Merapi, perasaan bahwa diri ini sungguh sangatlah rendah dan kecil, tiba-tiba menyergapku. Seperti kata pepatah, <em>Climb the mountain not so the world can see you, but in order you can see the world.</em> Ya itu benar adanya. Pada lain kesempatan, ada kalanya pendakian dan penjelajahan ini membuatku memahami karakter sahabat dan orang lain yang berada disekitarku. Mengasah humanisme sekaligus mempertaham insting bertahan yang lama tertidur di dalam jiwa. Alam juga menngajarkanku banyak hal. Tentang kekuatan hati dalam melangkahkan kaki, tentang mempercayai diri sendiri jauh diatas mempercayai rasa takut, tentang keyakinan dan tujuan kebermanfaatan, serta tentang harapan dan doa dihadapan Yang Kuasa.</p><p>Begitu menamatkan pendidikan DIII Kebidanan di Poltekkes Kemenkes RI Padang Prodi DIII Kebidanan Bukittinggi, aku memutuskan untuk melakukan perjalanan lainnya. Adalah sebuah keharusan memiliki ketakutan di dalam diri terutama kepada allah SWT dan orangtua, namun ketakutan-ketakutan yang disebabkan oleh energi negatif serupa pesimistis tidak seharusnya dipelihara di dalam jiwa. Aku sangat ingin menghilangkan ketakutan di diriku. Aku percaya bahwa seorang bidan tidak boleh memiliki ketakutan di dalam dirinya. Ketakutan yang dipupuk oleh bidan adalah hal negatif yang akan mempengaruhi keputusan dan tindakannya. Dan itu bisa berpengaruh buruk kepada kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat. Untuk itu aku melakukan suatu perjalanan yang nagi sebagian orang sangat tidak mungkin dilakukan oleh anak perempuan lemah sepertiku. Perjalanan yang menjadi pengingat bagi diriku sendiri bahwa aku bisa melakukan segala hal nantinya selama aku bertekad sekuat baja. Ya, kuputuskan untuk menabung selama kuliah di Kebidanan dan uangnya kugunakan untuk melakukan pendakian ke gunung tertinggi di indonesia, Mahameru. Berbekal persahabatan yang terjalin dengan baik antar para pendaki gunung, aku melakukan perjalanan tersebut pada tahun 2016. Turun naik mobil sayur, melawan kebas di kedua kaki, bermalam di tempat yang tidak layak, hingga akhirnya dapat memandangi keindahan ranu kumbolo, membuatku pada akhirnya menangis sendirian di puncak tersebut. Aku menangis bukan karena rasa sakit dan lelah di sepanjang perjalanan, melainkan karena berhasil mengalahkan ketakutan di dalam diriku sendiri. Mengalahkan Rahmi, bidan yang lemah dan tiada berani melangkahkan kaki sebelumnya.</p><p>Jujur saja, semasa kuliah aku bukanlah mahasiswa dengan prestasi akademik yang luar biasa. Kemampuan akademikku sangat biasa. Tapi aku tidak merasa bahwa aku akan mengalami banyak kesulitan saat menjadi bidan nanti dengan kemampuan akademikku tersebut. Petualangan telah membuatku mampu memiliki tekad yang kuat dan menjadi pribadi yang berani bermimpi. Untuk itulah aku memutuskan untuk mendaftar pada program Nusantara Sehat. Tidak sedikit komentar sarkas dan pesimistis yang dilontarkan kepadaku. Bahwa Nusantara Sehat hanyalah memilih bidan-bidan pintar dengan prestasi akademik yang bagus. Bahwa bidan-bidan berkemampuan standar sepertiku tidak akan berhasil melewati serangkaian tes nantinya. Namun bagiku diskriminasi tersebut hanyalah sebuah gunung lainnya yang harus aku daki. Dan Allah ternyata mengabulkan doaku. Setelah melalui serangkaian tes yang dilaksanakan di Kota Medan, aku pun lulus. Ah, sebelumnya terimakasih kepada sahabat di masa kuliahku, Bidan Annisa Humaira yang telah mengantarkanku pada dunia petualangan, mengajarkan aku kesabaran, selalu membuka tangannya dengan lebar setiap kali aku jatuh dan menemui kesulitan, serta membantuku selama berada di Medan. Begitu mendengar kabar lulus, kedua orangtuaku sangat cemas karena aku adalah anak perempuan paling bontot di keluarga kami. Dengan segenap tenaga aku berusaha meyakinkan mereka. Meyakinkan mereka bahwa anak perempuan ini telah diberikan rezeki, amanah, dan inshaallah kekuatan untuk menempuh perjalanan nantinya. Bahwa semua kelancaran hanya mungkin untuk didapatkan jika kedua orangtuaku ridho. Setelah perbincangan yang menguras emosi dan fikiran, pada akhirnya orangtuaku yang teramat aku cintai tersebut mengangguk dengan pasti. Aku menatap pengumuman kelulusan yang tertera di laman ponselku tersebut dengan rasa haru yang membuncah di dada : <strong>Puskesmas Popalia Togo Binongko, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, </strong>aku datang!</p><p>Satu tahun setelah pengumuman kelulusan akhirnya aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di pulau Sulawesi tepatnya Kota Makassar. Aku tidak akan menceritakan pengalamanku selama berada disini menjalani pelatihan karena pengalaman yang aku rasakan kurang lebih sama dengan pengalaman yang ditulis Bidan Wika pada postingan sebelumnya. Kami berlatih kedisplinan dan kemampuan bertahan hidup dengan tentara, belajar mengenai sistem kesehatan setiap harinya, dan menjalin persahabatan dengan sesama peserta Nusantara Sehat yang sangat luar biasa. Baru setelah menjalani pelatihan tersebut, kami diantar ke tempat penempatan masing-masing. Ya, daerah yang akan menempa jiwa dan raga kami dalam dua tahun ke depan untuk menjadi bidan sejati.</p><p><strong>Kehidupan di Wakatobi</strong></p><p>Wakatobi adalah kepulauan yang berada di daerah Sulawesi Tenggara, yang merupakan salah satu bagian dari daerah Buton. Nama Wakatobi sendiri berasal dari singkatan pulau-pulau besar yang ada disana yakni Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Keempat pulau tersebut hanya 10% bagiannya saja yang merupakan daerah daratan, 90% nya merupakan lautan. Saya sendiri ditempatkan di Pulau Binongko, pulau terakhir, terjauh, dan paling terpencil di kabupaten tersebut karena harus menempuh perjalanan paling cepat adalah 6 jam dari ibukota kabupaten. Pertama kali sampai disana, aroma lautan yang sangat khas menyentak indera-indera di sekujur tubuh. Lautan disini sangatlah indah serupa permukaan turqoise, dan pepohonannya cantik meliuk-liuk karena belum terjamah. Penduduknya silih berganti menyalami dan menyambut kami dengan keramahan yang tiada tara. Aku terkesan dan jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pulau yang menjadi rumah baruku ini. Ada yang menarik selain pesona alam yang memabukkan jiwa, yakni kehidupan di Binongko sendiri. Selama bulan Desember-Januari dan Juli-Agustus seluruh warga tidak bisa keluar dari pulau ini karena saat itu pulau tengah dilanda musim ombak besar. Itu artinya, seluruh akses akan ditutup. Kami terisolir dan harus bertahan hidup dengan keterbatasan fasilitas baik itu makanan, sarana dan prasarana kesehatan, dll. Selain itu di daerah ini listrik hanya menyala selama 12 jam saja setiap harinya pada malam hari. Jangan tanya jaringan internet jika listrik saja tidak dapat memenuhi kebutuhan warga. Selain itu di Binongko ini juga tidak ada pasar seperti di daerah lainnya di Indonesia. Cara kehidupan konvensional masih sangat diterapkan disini dan kadangkala membuat saya terkaget-kaget. Sebagai anak yang tumbuh besar di Ranah Minang dengan variasi masakan yang terutama mengandalkan cabai sebagai bahan dasarnya, saya sempat kebingungan karena disini tidak ada cabai sama sekali. Orang-orang disini biasa mengonsumsi <em>lolota</em> dan <em>kasoami</em> yang berbahan dasar ubi dan ketan. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya beradaptasi di daerah ini?</p><p>Seperti halnya Puskesmas yang berada di daerah terpencil lainnya di Indonesia, Puskesmas Popalia memiliki keterbatasan pada jumlah tenaga kesehatan dan pra sarana yang mendukung pelayanan berkualitas khususnya kebidanan. Tenaga kesehatan yang terbatas membuat kami bekerja keras siang maupun malam melakukan berbagai program kesehatan yang ada disini. Aku pribadi menikmati interaksi seputar pelayanan kesehatan dengan penduduk lokal yang cenderung lebih terbuka terhadap orang-orang baru. Meskipun ada rasa prihatin karena susahnya bagi masyarakat untuk mendapatkan akses yang lengkap dan berkualitas, aku percaya bahwa suatu hari nanti daerah ini akan semakin berkembang lagi dan lagi. Meskipun baru beberapa saat berada disini, aku belajar banyak dari keteguhan hati para tenaga kesehatan yang mengabdi pada daerah ini. Mereka kuat, tiada mengeluh, dan tiada menyesali kondisi. Hal yang sangat kontras dengan tenaga kesehatan yang sering kutemui di daerah perkotaan. Hey, bukankah kemudahan selalu membuat orang menuntut lebih sementara kesusahan akan membuat orang-orang belajar menerima dan berjuang?</p><p>Masih ada 23 bulan lagi sebelum aku mengakhiri tugasku sebagai bidan disini. Ketika ada yang bertanya, apa yang aku cari hingga bertualang sejauh ini? Kukatakan kepada mereka bahwa aku mencari diriku sendiri dalam setiap selip-selip perjalanan ini. Aku mencari kebermanfaatanku bagi masyarakat sebagai bidan di ujung-ujung negeri yang membutuhkanku. Aku mencari keberanian seorang bidan di dalam diriku. Aku mencari humanisme dan titik dimana aku merasa bahwa semua yang ada di dunia ini adalah perjuangan perjuangan dan perjuangan lagi. Pada akhirnya, aku ingin perjalanan ini menjadi jalan untuk menempa diriku agar sekuat besi yang dihasilkan oleh pengrajin wakatobi yang sangat terkenal karena kekokohannya. Bagaimana dengan kalian? Sudahkah kalian melawan ketakutan dan menemukan kebermanfaatan kalian di tengah masyarakat? Salam dariku yang baru bisa menukis sedikit semangat bidan dari pelosok wakatobi ini. Salam Bidan!</p><p><em>Cerita : Bidan Rahmi Putri AMd.Keb (instagram : Rahmiputri14)</em></p><p><em>Penyunting dan gaya bahasa : Anesa Fitria Afni STr.Keb (instagram : Anesafitriaa)</em></p><p>Anesa Fitria</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=cd6b59ccdf0" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Cerita Bidan Yang Mengikuti PNusantara Sehat di Talaud]]></title>
            <link>https://medium.com/@AnesaFitriaAfni/cerita-bidan-yang-mengikuti-pnusantara-sehat-di-talaud-24ae4c6dfdea?source=rss-b9818d87a536------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/24ae4c6dfdea</guid>
            <category><![CDATA[nusantara-sehat]]></category>
            <category><![CDATA[kebidanan]]></category>
            <category><![CDATA[pengalaman]]></category>
            <category><![CDATA[motivasi-diri]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Anesa Fitria Afni]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 04 Jun 2022 15:20:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2022-06-04T15:20:26.991Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Cerita Bidan Yang Mengikuti Program Nusantara Sehat di Talaud</h3><p><strong><em>Sometimes you find yourself in the middle of nowhere. And sometimes in a middle of nowhere, you find yourself — Unknown</em></strong></p><p><em>Pagi ini ketika membaca kembali perjuangan Mr.Sosaku Kobayashi di Tomoe Gakuen (Tokyo Tenggara) pada tahun 1937–1945 untuk memperjuangkan pendidikan berkualitas, fikiran saya tiba-tiba melayang pada teman-teman seprofesi saya yang juga tengah berjuang dan mengabdi di seluruh penjuru negeri ini. Jauh di dalam hati dan pikiran, ada banyak rasa penasaran yang mewujud menjadi pertanyaan yang terlontar terkait perjuangan mereka. Seperti apa mereka menjalani kehidupan disana? Bagaimana asuhan yang mereka berikan di dalam keterbatasan sarana prasarana bahkan keterbatasan tenaga kesehatan berkompeten? Apakah mereka pernah merasa ingin menyerah? Atau apakah sebaliknya, sisi humanisme dan spiritualisme mereka malah semakin terasah selama berada disana? Jutaan pertanyaan yang meletup-letup tersebut membuat saya segera menghubungi salah satu bidan pejuang tersebut. Saya sangat percaya bahwa perjuangan dan pengabdian yang dapat diceritakan oleh teman saya ini dapat menjadi api yang mampu meletupkan semangat dan inspirasi bidan-bidan muda yang mungkin saat ini tengah memilah-milih pengabdian sesuai takaran uang serta jaminan kesejahteraan. Saya juga sangat percaya bahwa nafas pengabdian dan perjuangan bidan pejuang ini harus dirasakan dan menjadi nafas setiap bidan yang mengetahui lika-liku perjalanannya. Bagi saya yang memilih mengabdi di bidang pendidikan kebidanan, salah satu tugas saya adalah menjembatani pemikiran dan nafas perjuangan para bidan muda yang tiada mengenal batas geografis tersebut kepada teman-teman semua. Berikut selengkapnya sebuah cerita pengabdian bidan muda di Tanah Talaud, Sulawesi Utara, 2.987km jauhnya dari Kota Padang</em>.</p><p>Nama saya Wika Septia Helni, AMd.Keb. Semenjak mengikrarkan sumpah profesi sebagai seorang bidan tiga tahun lalu di Poltekkes Kemenkes Padang Program Studi D-III Kebidanan Bukittinggi, saya menyadari bahwa medan pengabdian yang menjadi tanggung jawab saya benar-benar telah berada tepat di depan mata. Medan pengabdian yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dan dari Timor sampai ke Talaud. Saya terkesiap dan bertanya-tanya kepada diri saya sendiri, <em>Apa yang harus saya lakukan sekarang? Darimana saya harus memulai? Apakah saya akan menjadi bagian dari 6,18% pengangguran di tahun 2015 tersebut? Apakah saya akan bisa bermanfaat untuk orang lain?</em> Pada saat itu, di satu sisi ketakutan demi ketakutan akan ketidakpastian masa depan datang menyerang bak ombak pasang. Namun di sisi lain, perasaan dan keinginan untuk mengabdi dan memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang malah kian membuncah di dalam dada. Kawan, kebaikan mungkin semakin langka di atas dunia ini, tapi percayalah bahwa niat yang tercetus untuk sesuatu yang baik akan selalu diijabah oleh Allah SWT. Termasuk niat dan semangat yang seakan-akan tidak mungkin menjadi nyata.</p><p><em>Perfect timing. </em>Syukurlah beberapa waktu setelah menyelesaikan pendidikan secara paripurna di Poltekkes Kemenkes Padang, saya mendapatkan informasi mengenai sebuah program yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan yang bertujuan untuk memperkuat layanan kesehatan primer atau puskesmas di seluruh Indonesia, yaitu program Nusantara Sehat. Program ini terdiri atas tim dan individu tenaga kesehatan profesional yang ditempatkan di Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) di Indonesia. Jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan adalah Dokter, Dokter Gigi, Bidan, Perawat, Tenaga Kesehatan Msyarakat, Tenaga Kesehatan Ligkungan, Ahli Laboratorium Medik, Tenaga Kefarmasian, dan Tenaga Gizi. Begitu membaca informasi tersebut, semangat pengabdian yang saya tutup rapat-rapat seolah menemukan pintu kebebasannya. Dengan antusias saya segera mengecek jadwal, persyaratan, dan hal penting lainnya di web Nusantarasehat.kemkes.go.id. Benar kata orang bijak, ketika seseorang sangat mencintai dan sangat bersemangat akan sesuatu, walau sebesar apapun halilintar yang menghadang di depan hidungnya, tiadalah akan terpengaruh dan tergerak hati orang tersebut untuk mengubah keputusan. Pada saat itu, saya sadar sepenuhnya dengan tantangan alam dan tantangan mental yang akan saya hadapi ke depannya. Tapi saya tiada gentar, karena tanggung jawab mulia menanti saya di depan sana.</p><p>google.com</p><p><strong>Bidan ‘Rasa’ Tentara</strong></p><p>Pada saat itu, seleksi Nusantara Sehat terdiri atas dua tahapan yaitu tahapan pertama yang merupakan seleksi administrasi dan tahapan kedua yang terdiri dari seleksi Psikotest, <em>Focus Group Discussion</em> (FGD) dan wawancara. Kabar baiknya, tahapan pertama atau seleksi administrasi dapat dilakukan dimanapun selama ada sinyal internet yang memadai. Syukurlah saya dapat melakukan pendaftaran di daerah asal dan domisili saya, Kabupaten Solok Selatan. Dua minggu setelah melakukan pendaftaran dan mengikuti seleksi administrasi, saya menerima pengumuman kelulusan via SMS dan mengikuti serangkaian tes tahap II (<em>Penjelasan lebih lengkap mengenai seleksi maupun kiat-kiat menghadapi test akan saya sampaikan pada tulisan lain secara terfokus</em>). Selang beberapa minggu kemudian, saya kembali menerima pengumuman kelulusan tahap II. Karena mendaftar pada program Nusantara Sehat individual, saya diminta untuk memilih lokasi Puskesmas yang diinginkan. Pada saat pemilihan, terdapat dua opsi yaitu daerah terpencil dan sangat terpencil. Saya memilih Puskesmas Nagan Raya Aceh dan Puskesmas Melonguane Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Alhamdulillah, Allah berikan saya kesempatan untuk mengabdi di ujung negeri yang permai ini dengan memilihkan <strong>Puskesmas Melonguane Kepulauan Talaud</strong> sebagai tempat pengabdian saya dalam dua tahun ke depan.</p><p>Menjadi bidan dan pernah menempuh pendidikan kebidanan sudah merupakan hal yang sangat menakjubkan bagi diri saya. Saya tidak mengetahui bahwa semenjak dinyatakan lulus di Program Nusantara Sehat, ternyata ada ribuan hari yang akan jauh lebih menakjubkan daripada yang saya kira. Saya bukan Pangeran Cilik dari <em>The Little Prince</em> karya Antoine de Saint Exupery yang tiada gugup berkunjung dari satu Asteroid ke Asteroid lainnya. Tapi saat ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya tanpa ragu menginjakkan kaki di Kota Makassar untuk melakukan pelatihan tanpa rasa gugup di dalam dada.</p><p>Pelatihan di Bapelkkes Makassar berlangsung selama 10 hari. Dua hari pertama merupakan pelatihan Bela Negara di Rindam Hasanuddin. Saya dan teman-teman lainnya dilatih oleh tentara dan melakukan serangkaian kegiatan disiplin khas tentara seperti latihan baris berbaris, senam kebugaran, dan tidur di barak. ‘Rasa’ tentara terasa semakin kental tatkala kami dilatih untuk makan dalam waktu singkat dan cenderung terburu-buru, dihukum ketika terlambat makan, baris-berbaris sebelum makan, dan mendapatkan hardikan jika melanggar aturan. Intinya, seluruh calon pejuang Nusantara Sehat belajar dan berlatih kedisiplinan diri di tempat ini untuk membangunkan kembali naluri kesigapan dan kesiapan yang telah lama tertidur pulas.</p><p>Selain kegiatan baris berbaris, kami semua juga melakukan kegiatan survival di hutan Makassar. Saya merasa menjadi bagian dari pasukan tentara saat disuruh berjalan menuju hutan sampai nafas ini terdengar sangat keras karena ngos-ngosan. Tidak berhenti sampai disana, setibanya di hutan saya dan teman lainnya juga diajarkan cara bertahan hidup jikalau nantinya di daerah pengabdian tidak terdapat makanan dan minuman. Seperti halnya <em>The Doraemons</em> yang berusaha memanfaatkan alam untuk sebuah kehidupan baru, disana saya belajar cara mendapatkan air minum dari daun-daunan hutan. Saya disuruh untuk berinisiatif mencari ubi, nenas, dan tumbuhan hutan lainnya yang dapat dimakan untuk bertahan. Bagian ini benar-benar merupakan bagian terbaik dari proses pelatihan. Saya merasa bahwa hal-hal dasar seperti ini harus diketahui oleh setiap orang karena akan sangat bermanfaat dalam kondisi darurat seperti bencana alam maupun hal lainnya.</p><p>Dua hari setelah berlatih baris berbaris dan menjelajahi hutan, kami kembali ke Bapelkkes untuk mendapatkan serangkaian pelatihan materi mengenai Puskesmas, JKN, BOK, dll. Tapi ‘bidan rasa tentara’ yang kami lakoni dua hari terakhir ternyata masih belum berakhir. Setiap harinya setelah pelatihan materi, kami selalu dikumpulkan di lapangan untuk melakukan baris berbaris dan kegiatan lainnya hingga pukul 18.00 WIT. Pada tahapan ini, semuanya dituntut serba sigap dan siap. Untuk mandi kami hanya diberikan waktu ½ jam. Setelah itu kami berbaris di ruang makan untuk mengambil makanan saat sirene telah berbunyi. Selama makan, ada tata cara yangvharus dipenuhi yaitu menghentak-hentakkan kaki sesuai komando sebelum mulai makan. Baru pada pukul 9/10 malam kami semua diperbolehkan untuk istirahat dan kembali ke dalam kamar masing-masing. Seperti halnya kedisiplinan yang diterapkan di dalam kehidupan tentara, jam 4 pagi kami semua sudah harus melakukan senam. Pukul 6, kami bersiap-siap untuk kembali melakukan rutinitas seperti hari-hari sebelumnya. Pada hari terakhir pelatihan di Bapelkkes, saya dan teman-teman diajak untuk mengunjungi berbagai Puskesmas di Kota Makassar. Dari kegiatan ini, saya mengobservasi segala komponen yang dapat saya identifikasi dalam penyelenggaraan Puskesmas di daerah ini. Saya sangat berdebar-debar sebelum benar-benar mengetahui seperti apa situasi di Puskesmas Melonguane tempat saya bertugas nanti. Apakah akan menyajikan cerita indah? Ataukah menyajikan nestapa? Barulah pada esok harinya saya menginjakkan kaki di Talaud. Tanah permai nun jauh dari Solok Selatan. Mimpi-mimpi pengabdian yang kini menjadi nyata</p><p><strong>Pejuang Nusantara Sehat di Talaud</strong></p><p>Ketika pertama kali mendengar tentang daerah sangat terpencil, apa yang anda fikirkan atau bayangkan? Terbatasnya sarana dan prasarana? Terbatasnya tenaga kesehatan dan tenaga pendidik? Terbatasnya pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder? Transportasi yang buruk? Atau segala macam keterbatasan lainnya? Saya juga memikirkan hal yang sama. Tapi saya memang sangat keliru karena tidak pernah memahami bahwa yin selalu berpasangan dengan yang. Bahwa hitam selalu bermakna jikalau berdampingan dengan putih. Itulah mengapa, dibalik seluruh keterbatasan yang mudah ditemukan, juga terdapat banyak ketidakterbasatan yang diam-diam melenakan. Tanah Talaud sungguh indah dan masih perawan. Bukit yang menjulang dan lautan yang tiada berujung memanjakan mata setiap orang yang memandangnya. Ada banyak cerita tentang keramah tamahan dan kebaikan hati penduduk yang saling bahu-membahu membesarkan tanah ini. Dan itu adalah sebuah cerita yang akan saya bungkus rapi-rapi di sepanjang kehidupan untuk dibagikan dengan anak cucu saya nanti di masa depan.</p><p>Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa daerah ini sangatlah terpencil dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan di perkotaan. Itulah sebabnya seluruh harga kebutuhan pokok maupun tambahan yang diburuhkan penduduk lebih mahal daripada di tempat lainnya. Saya kadang tersenyum sendiri ketika mengingat betapa mudahnya bagi saya untuk menikmati makanan yang saya inginkan ketika masih berada di Sumatera Barat dulu. Disini, selain makanan pokok, yang ada hanyalah sate dan mie ayam. Untuk makanan lainnya, kami sering membuat titipan dari Kota Manado. Satu hal yang saya pelajari. Semua tempat memiliki sesuatu yang patut disyukuri. Saya bersyukur hidup di Sumatera Barat karena saya menemukan ratusan jenis makanan yang bisa saya dapatkan dalam waktu singkat. Dan saya bersyukur berada di Talaud karena disini seluruh makanan yang disediakan adalah makanan sehat yang memaksa siapapun secara tidak langsung terbebas dari berbagai penyakit serius di masa depan. Dan tentu saja, saya bersyukur karena memahami arti ‘syukur’ itu sendiri ketika di tempat ini.</p><p>Ada banyak tantangan yang saya temui selama berada disini. Begitu menjalani masa orientasi di Puskesmas, saya menyadari alasan mengapa ada banyak sekali program yang tidak tercapai di Puskesmas ini. Disana hanya ada satu orang Bidan yang berstatus Pegawai Negeri Sipil. Bisa teman-teman bayangkan? Hanya satu! Karena saya tergolong ke dalam bagian Nusantara Sehat Individu, maka saya mulai berfokus kepada bagian program Kesehatan Ibu dan Anak yang menjadi tanggung jawab saya sebagai bidan. Puskesmas Melonguane merupakan puskesmas rawat inap sehingga terdapat shift dinas yaitu shift pagi siang serta malam. Keterbatasan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan Puskesmas sangat jelas dirasakan pada saat berdinas. Alih-alih menggunakan mesin sterilisator canggih yang mudah ditemui di daerah lain, disini proses sterilisasi masih dengan menggunakan mesin yang dipakai sejak zaman dahulu. Jujur, saya belum pernah melihat sterilisator ini sebelumnya dimanapun. Keadaan diperparah karena sterilisator satu-satunya tersebut sekarang telah rusak sehingga petugas kesehatan saat ini hanya merebus alat-alat. Selain kondisi sterilisator, alat-alat yang digunakan jumlahnya masihlah sangat terbatas. Itupun sebagian besar telah berkarat. Menurut Kepala Puskesmas, keterbatasan tersebut telah dilaporkan ke Dinas Kesehatan setempat. Hanya saja karena daerah ini trgolong sangat terpencil, bantuan alat-alat medis tersebut belum terpenuhi.</p><p>Fokus pelayanan saya adalah memberikan pelayanan terkait Kesehatan Ibu dan Anak yaitu pelayanan kehamilan, bersalin, nifas, bayi baru lahir, kesehatan reproduksi, balita, KB, dll. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, keterbatasan tenaga kesehatan cukup dirasakan disini sehingga terkadang saya juga melakukan tugas perawat apabila tenaga keperawatan sedang tidak di tempat seperti menjahit luka dll. Kegiatan yang menurut saya juga sangat menantang adalah kegiatan outdoor yang tidak mengenal waktu seperti salah satunya pengambilan sampel darah filariasis yang diambil pukul 23.00–01.00 WITA, kegiatan kunjungan ifas dan bayi baru lahir di 13 desa, kegiatan kunjungan ibu yang drop out KB, PIS-PK yang dilaksanakan selama tiga bulan dari pukul 08.00–14.00 WITA di luar jam dinas, dteksi bumil risti dan pemasangan stiker P4K, pendataan balita, dan kelas ibu hamil (baru terlaksana di 3 desa karena desa lain sangat jauh sementara jumlah ibu hamil sangat sedikit).</p><p>Orang-orang bertanya kepada saya melalui media sosial, mengapa saya tidak menyerah? Saya ingin bertanya balik kepada mereka, untuk apa saya menyerah? Saya telah membuka mata hati dan fikiran saya lebih lebar dari sebelumnya disini. Inshaallah saya telah memberikan manfaat bagi orang lain yang sangat membutuhkan di daerah ini. Saya mengenal perjuangan dan belajar banyak tentang diri saya melalui perjalanan ini. Saya mendapatkan pengalaman berharga yang teramat langka. Bagian mana yang membuat saya kira-kira ingin menyerah? Sejujurnya, dibandingkan menyerah, saya malah lebih bersemangat untuk menarik tangan teman-teman bidan dan adik-adik profesi saya yang masih ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya untuk membuka wawasan melalui perjalanan yang sebenarnya. Saya ingin, kita semua menjadi bermanfaat dimanapun kita berada.</p><p>Salam dari saya, bidan muda yang tengah mengabdi di Tanah Talaud.</p><p><em>Cerita : Wika Septia Helni, AMd.Keb (Instagram : WikaSeptiaAlanfo)</em></p><p><em>Penyunting dan Gaya Bahasa : Anesa Fitria Afni STr.Keb (Instagram : Anesafitriaa)</em></p><p>Anesa Fitria</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=24ae4c6dfdea" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>