<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Sea on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Sea on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@Jelusea?source=rss-70e3a8eb6f9d------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*jHgAFmnU-4dy6oE7SfaBwg@2x.jpeg</url>
            <title>Stories by Sea on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@Jelusea?source=rss-70e3a8eb6f9d------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Thu, 28 May 2026 00:57:55 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@Jelusea/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Benci]]></title>
            <link>https://medium.com/@Jelusea/benci-aa45b689fddf?source=rss-70e3a8eb6f9d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/aa45b689fddf</guid>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Sea]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 May 2026 19:31:38 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-19T13:18:15.916Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Aku benci bagaimana kau bisa mengenalku dengan sangat baik.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/367/1*jSqxtumjcOAEr0gC5A8AGA@2x.jpeg" /></figure><p>Awalnya ku kira kau hanya akan menjadi manusia yang lewat sepintas saja. Manusia yang bahkan tak ku ingat bagaimana pertemuan pertamanya. Manusia yang bahkan wajahnya sulit ku cari di dalam kepala. Manusia yang bahkan perlu ratusan kali ku dengar namanya agar kemudian mampu ku eja.</p><p>Kala itu, aku belum berniat menulis namamu di daftar orang yang ku kenal. Kau luput dari perhatianku karena aku sibuk menanamkan nama orang lain dalam ingatan—yang pada kenyataannya sekarang sudah tidak pernah ku jumpakan.</p><p>Tapi kemudian kau menjadi manusia pertama yang menyentuh jiwa milikku. Kau menjadi orang pertama yang mampu menatap ke dalam diriku. Semua itu kau lakukan tanpa memberi permisi terlebih dahulu.</p><p>Tiba-tiba kau memberi peduli padaku di tengah riuhnya manusia. Kau sadar bagaimana suasana di sekitarku padam perlahan. Kau sadar cahayaku berangsur pergi seiring mentari tenggelam. Seolah kau sudah kenal dekat dengan jiwaku—walaupun aku yakin kau pun belum tau banyak selain nama depan dan nama panggilanku.</p><p>Siapa sangka pertanyaan yang kau lemparkan malam itu akan mengguncang ketenangan yang sedang ku pertahankan?</p><p>Pertanyaan yang terlampau ringan itu kau selimuti dengan nada yang kelewat halus hingga mampu membuatku terperangah.</p><p>Hanya kau dan pertanyaan berupa “Apa kau lelah?” yang kau genggam.</p><p>Tapi kau membungkus pertanyaan itu dengan sangat apik, kemudian menyerahkannya padaku dengan terlampau baik.</p><p>Tanpa aba-aba kau memberi makna pada diam yang kutunjukkan dan pada lelah yang ku sembunyikan . Padahal aku belum mengenalkan bagian itu padamu—entah bagaimana kau bisa tau.</p><p>Kita belum sempat berbincang sebelumnya, dan barusan itu yang pertama—mungkin kedua setelah kau tanya namaku di pertemuan awal kita. Tapi aku sudah merasakan bagaimana kau bisa melihat ke bagian terdalam milikku. Bisa mengerti semua perilaku tanpa bertanya yang tidak perlu.</p><p>Kemudian semakin sering kau hadir, semakin akrab pula kau dengan perilaku kecil yang tidak sengaja kutunjukkan. Bagaimana aku selalu sedia permen di saku. Bagaimana aku selalu punya camilan di tas ku. Dan bagaimana aku suka memainkan tanganku ketika gugup.</p><p>Tapi dari semua itu yang paling membuatku terkesiap adalah bagaimana kau bisa menerjemahkan apa yang kurasakan hanya lewat ekspresi minim yang kuberikan.</p><p>Lalu tanpa kusangka aku mulai merasa nyaman yang hangat ketika dikenal baik oleh jiwa milikmu. Tapi aku tidak mau kau tau.</p><p>Aku selalu berlagak dongkol ketika kau bercanda denganku. Aku berlagak geram ketika kau menarik ujung rambutku. Aku berlagak muak ketika kau mencolek tanganku di keramaian hanya untuk menarik perhatianku kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah kata padaku.</p><p>Tanpa ku sadar, kau selalu ada di sana—setiap detik hidupku yang akan selalu singgah di ingatan. Namamu selalu hadir di kepala—antah ketika ramai atau hening.</p><p>Maka, bisakah kau tetap seperti ini? mengenalku dengan baik bahkan disaat diriku sendiri belajar melakukannya melalui dirimu yang jauh lebih mengerti?</p><p>Karena sepertinya aku suka dikenal olehmu.</p><p>Midnight at 15.05.2026</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=aa45b689fddf" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Amarah]]></title>
            <link>https://medium.com/@Jelusea/amarah-9fb1be3dcbb7?source=rss-70e3a8eb6f9d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9fb1be3dcbb7</guid>
            <category><![CDATA[mental-health]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <category><![CDATA[psychology]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Sea]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 24 Mar 2026 21:38:09 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-26T19:20:36.742Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>“Kau benar-benar marah? Kenapa tidak terlihat seperti itu?”</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/320/1*Z--I4w0xoAiGmtKvWEKH_Q@2x.jpeg" /></figure><p>Bagi segelintir jiwa yang ada, menunjukkan sisi marahnya merupakan suatu hal yang sulit—entah karena terhalang oleh segan dan bersihnya hati atau memang sang jiwa belum mengerti bagaimana menunjukkan amarahnya pada jiwa lain.</p><p>Kebetulan jiwa milikku juga seperti itu.</p><p>Sebenarnya, aku bukan manusia yang marahnya bisa disulut dengan mudah, aku juga bukan manusia yang bisa berapi-api ketika marah menguasai.</p><p>Entah bagaimana, jiwaku rasanya sulit untuk menyahut ketika amarah menyentuh. Pernah aku berhadapan dengan manusia bajingan yang terus memantik amarahku setiap mulutnya itu bersuara, ia selalu saja membuat darahku mendidih. Tapi pada akhirnya tidak ada kalimat terbalut emosi yang aku serahkan padanya.</p><p>Awalnya kupikir mungkin aku memang sudah terlatih menjaga tutur kataku, tapi kemudian aku tersadar, bukan itu alasan utamanya.</p><p>Saat pikiranku melanglang buana di sunyinya malam—menjelajahi memori yang sudah sulit ku ingat di ramainya isi kepala—akhirnya aku menemukan jawaban. Bahwa tak pernah sekalipun amarah menguasai jiwaku, dan bibirku belum pernah menyampaikan isi hati dan kepalaku dengan jujur.</p><p>Jiwaku terlanjur terbiasa menelan dan mendekap gejolak amarah terlalu erat hingga membuatnya sulit bersuara. Pada akhirnya jiwaku hanya mengenal amarah yang seperti itu, caranya menanggapi hanya dengan menerima tanpa membalas.</p><p>Tapi terkadang menelan paksa pahitnya amarah yang membara membuat tenggorokanku tercekik seolah terdapat batu yang menyangkut di kerongkongan, membuat tubuhku membeku walaupun hatiku berdegup seperti gemuruh yang tidak sabar menyambut sang hujan.</p><p>Pada awalnya tidak terasa begitu menyiksa—mungkin karena aku belum merasa muak, tapi kemudian semakin hari rasanya semakin sesak.</p><p>Untuk meredam amarahku yang tak bisa bersuara dengan bebas aku harus mengalihkannya dengan cara lain, tentunya selain dengan mengamuk seperti sapi. Aku harus mengepalkan tangan dengan keras—terkadang rasanya perih karena kuku ku selalu panjang. Atau aku harus menggigit pipi dalamku sekuat tenaga agar kalimat sembarangan tidak mengalir deras—kadang pula rahangku tidak mau diam dan berakhir gigiku saling menekan dengan sembarang.</p><p>Tapi seberusaha apapun jiwaku untuk membungkam amarah yang terus bergejolak, akan ada kalanya rasa muak menghampiri, dan jiwaku akan mencapai pada batasnya. Semakin aku menelan kalimat yang kutahan, maka semakin cepat pula aku akan mencapai batas dan berakhir memuntahkan semuanya.</p><p>Ledakan yang tak kusangka itu tidak disebabkan oleh suatu yang besar, hanya sebuah pemantik kecil yang menyulut amarah yang nyaris tumpah. Lalu tanpa sadar jiwaku sudah dilahap habis oleh amarah yang lepas dari dekapan.</p><p>Sudah berkali-kali aku membayangkan diriku yang berapi-api dan menggila. Bahkan aku sudah menghafal setiap kata yang selama ini ku tahan dalam kepala karena enggan menumpahkannya—walaupun pada akhirnya kalimat tersebut tak pernah sampai pada sang penerima.</p><p>Begitu jiwaku sudah tidak sanggup menahan, ku kira aku akan terbakar oleh amarah dan kemudian hangus berapi-api. Tapi tanpa disangka hangatnya air mata malah menyapa pipiku tanpa aba-aba.</p><p>Kenapa aku malah menangis? Padahal rasanya aku bisa saja meledak dan menggila kali ini. Tapi bibirku kembali membisu—sama seperti biasanya, yang membedakan hanya mata yang menunjukkan emosiku dengan jujur kali ini.</p><p>Aku belum berkenalan dengan benar pada amarah yang selama ini kupaksa bersembunyi, maka pada akhirnya ia tidak bisa menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Yang bisa jiwaku curahkan hanya air mata yang tanpa sadar sudah membendung, kemudian mengalir deras tanpa bisa kutahan. Sementara bibirku masih belum bisa berucap dengan benar karena sibuk terisak.</p><p>Amarah yang terpendam sekian lama berubah drastis dari wujud awalnya yang kutau. Ia tidak menunjukkan kedatangannya dengan berteriak dan memaki dengan frustrasi, tapi hanya dengan diam dan air mata jika sudah tidak bisa kuatasi.</p><p>Midnight at 25.03.2026</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9fb1be3dcbb7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Tenang]]></title>
            <link>https://medium.com/@Jelusea/tenang-f4943a10c209?source=rss-70e3a8eb6f9d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f4943a10c209</guid>
            <category><![CDATA[mental-health]]></category>
            <category><![CDATA[psychology]]></category>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Sea]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 16 Mar 2026 18:23:36 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-25T20:32:51.572Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Sampai saat ini aku masih mengharapkan ketenangan.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/360/1*jVHF_c2Ou988XoLViCnpQw@2x.jpeg" /></figure><p>Entah sejak kapan aku mulai rindu dengan adanya ketenangan.</p><p>Ketenangan yang terasa ketika tidak ada rasa gundah akan ketidaktahuan pada masa depan. Ketenangan ketika aku sudah tidak dihantui rasa penyesalan karena telah memilih jalan yang saat ini kutempuh. Ketenangan ketika hati ini akhirnya bisa menerima takdir yang sudah terukir dengan lapang dada.</p><p>Tapi rasa tenang yang kucari terasa masih sangat jauh untuk kukejar, karena ternyata hidupku selama ini masih pada halaman awal, dan masih banyak halaman yang belum ku lewati—bahkan mungkin saja masih ada halaman kosong yang masih belum terukir takdir sang pencipta.</p><p>Aku bukannya benci akan ketidakpastian, hanya saja rasa resah yang tidak nyaman dan diriku yang tidak siap untuk menerima masa depan yang masih abu-abu ini terus tumbuh di tengah ributnya badai di kepalaku, membuat hati ini sulit menerima ketidakpastian dengan leluasa.</p><p>Walaupun begitu, aku masih memegang percaya pada takdir dan rencana yang ada akan membawaku ke jalan yang lebih baik. Tapi juga tidak dapat dipungkiri kalau aku ragu apakah aku bisa membawa diriku melewati jalan yang penuh rintangan ini untuk sampai pada hal baik di akhir tanpa kehilangan cahayaku—yang selama ini kujaga agar tidak padam.</p><p>Cahaya yang ku pancarkan mungkin tidak akan terasa hangat untuk banyak jiwa, tapi cahaya itulah yang membuatku tetap hidup. Cahaya yang setidaknya bisa dirasakan oleh jiwa yang sudah mengenalnya dengan baik. Cahaya yang selama ini kujaga dan kupantik sedikit demi sedikit agar setidaknya bisa menyelimuti keraguan dihati yang memaksaku menyerah.</p><p>Berkali-kali aku hampir kalah dengan pasrah yang terus mengusik, berkali-kali resah terus menyelimuti dikala cahaya yang ku usahakan tak kunjung terang, dan berkali-kali aku mencoba meyakini bahwa waktuku akan tiba di saat yang tepat—walaupun entah kapan tepat itu akan ditemukan.</p><p>Walaupun semuanya masih terasa samar dan tak tentu apa yang sedang menungguku di depan sana, tapi hatiku mulai yakin bahwa suatu saat tenang yang ku dambakan akan menghampiri saat aku sudah siap menerimanya.</p><p>Maka dari itu diri ini sedang ku usahakan untuk bersiap. Bersiap menerima takdir dengan lapang dan bersiap menyambut tenang yang kurindukan.</p><p>Midnight at 17.03.2026</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f4943a10c209" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Selamanya]]></title>
            <link>https://medium.com/@Jelusea/selamanya-48c153adadc0?source=rss-70e3a8eb6f9d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/48c153adadc0</guid>
            <category><![CDATA[psychology]]></category>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Sea]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 08 Mar 2026 20:10:18 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-09T09:26:03.969Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Sebenarnya selamanya itu berlaku sampai kapan?</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/368/1*6xC9isFYtczwHLo7ezxP3g@2x.jpeg" /></figure><p>Sebenarnya selamanya itu sampai kapan? Sampai kematian menjemput atau saat kematian tidak bisa menyentuh?</p><p>Aku terlalu percaya akan selamanya, hingga lupa akan keberadaan kematian yang bisa saja menjadi sangat dekat.</p><p>Entah sejak kapan aku memegang percaya bahwa selamanya bisa saja terjadi dengan keajaiban, aku yakin hidup akan terus berjalan hingga entah kapan.</p><p>Kemudian kematian mulai datang mendekat—terlalu dekat, terlalu mudah dikenali hingga tanpa sadar aku sudah kenal dengan harumnya, membuatku takut bahwa ia akan nyaman di sekitar dan membuatku menjadi target selanjutnya.</p><p>Lalu aku tersadar, selama ini aku mengukir hidupku dengan sembrono dan berantakan. Menyetir dengan kecepatan tinggi hanya karena enggan terkena kejamnya matahari terlalu lama. Pulang larut malam hanya karena terlalu nyaman bercengkerama—padahal aku perempuan dan selalu pulang sendiri di jalur yang sarat akan lampu jalan. Enggan menutup mata hingga matahari mengintip di sela-sela gorden hanya karena aku mencintai tenangnya malam. Keagamaan ku yang tidak terlalu dalam karena entah bagaimana aku yakin aku akan selalu punya waktu untuk bertaubat.</p><p>Kepercayaanku pada pemikiran bahwa orang terdekatku akan terus menemaniku tanpa ada kemungkinan di jemput kematian dengan segera juga cukup mengerikan.</p><p>Aku tidak menyisihkan pundi rupiah dan tidak menabung untuk masa depan karena yakin ayahku akan selalu sedia memberi uang saku. Aku tidak memperhatikan dengan seksama bagaimana ibuku memasak karena masakannya selalu tersedia di meja semalam apapun aku menginjakkan kaki di dapur. Aku tidak menyirami kasih sayang pada adikku dengan hati lapang dan malah terus menjahilinya hingga ia kesal karena aku yakin begitu ia besar ia akan mengerti kenapa aku selalu iri padanya—hanya karena menurutku ayah dan ibu lebih sayang dirinya. Aku selalu menunda mencurahkan keluh kesahku pada teman karena menunggu waktu yang tepat—yakin akan ada pertemuan selanjutnya dan selalu ada kesempatan lain untuk berbagi cerita.</p><p>Tapi kemudian kematian tiba-tiba terasa begitu dekat. Ia sudah menjemput orang yang aku kenal—walaupun aku hanya tau namanya tapi keseharian kita sangat bersinggungan. Hal ini menjadi sirine bahaya yang memekakkan kepala, jika ia bisa saja menarik perhatian sang ajal, maka tidak menutup kemungkinan dengan diriku. Hal ini membuat keyakinanku goyah akan keajaiban hidup abadi.</p><p>Entah kenapa perasaan ini membuatku gelisah di sunyi nya malam, membuatku takut menutup mata untuk terlelap barang sebentar saja, takut jika kesadaranku melanglang buana lalu direnggut paksa oleh kematian tanpa ada yang mengetahui.</p><p>Karena kini aku sudah sadar dengan kenyataan yang dulu sulit aku telan, bahwa kematian bisa jadi sangat dekat, dan tidak ada selamanya jika menyangkut nyawa.</p><p>Midnight at 09.03.2026</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=48c153adadc0" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>