<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Zzaaa on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Zzaaa on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@ZzaazZ?source=rss-4706ebcfca01------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*tDkgKTSXXZSn2xx9AG1U6g.jpeg</url>
            <title>Stories by Zzaaa on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@ZzaazZ?source=rss-4706ebcfca01------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Thu, 28 May 2026 00:58:04 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@ZzaazZ/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Semoga Bandung Menjadi Pertemuan Selanjutnya]]></title>
            <link>https://medium.com/@ZzaazZ/semoga-bandung-menjadi-pertemuan-selanjutnya-68e9e88fa453?source=rss-4706ebcfca01------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/68e9e88fa453</guid>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[crush]]></category>
            <category><![CDATA[yearning]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Zzaaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 27 May 2026 16:07:21 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-27T16:07:21.774Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Jatinangor akan selalu punya tempat tersendiri di ingatanku.<br>Di sana, untuk pertama kalinya semesta mempertemukanku denganmu—dengan segala kebetulan kecil yang akhirnya tumbuh menjadi sesuatu yang diam-diam sulit kulupakan.</p><p>Dan lucunya, tempat yang sama juga menjadi tempat terakhir aku melihatmu.<br>Seolah Jatinangor sengaja menyimpan awal dan akhir kita dalam waktu yang bersamaan.</p><p>Kadang aku masih memikirkan bagaimana pertemuan sesingkat itu bisa meninggalkan rasa yang begitu lama tinggal.<br>Tentang obrolan-obrolan sederhana, tatapan yang mungkin biasa saja bagimu, tetapi entah mengapa selalu berhasil menetap di kepalaku.<br>Ada banyak hal yang tidak sempat terjadi, banyak cerita yang bahkan belum sempat dimulai, tetapi perasaan ini sudah terlanjur tumbuh terlalu jauh.</p><p>Kini yang bisa aku lakukan hanya berharap pada kota lain.<br>Pada Bandung, yang mungkin suatu hari nanti akan mempertemukan kita kembali dengan versi diri yang lebih baik, lebih dewasa, atau mungkin dengan perasaan yang masih sama.</p><p>Dan jika nanti semesta benar-benar mempertemukan kita lagi, aku harap saat itu aku tidak lagi hanya menjadi seseorang yang mengagumimu dari jauh.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=68e9e88fa453" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Barangkali Aku Memang Hanya Ditakdirkan Mengagumimu]]></title>
            <link>https://medium.com/@ZzaazZ/barangkali-aku-memang-hanya-ditakdirkan-mengagumimu-b24c5602160e?source=rss-4706ebcfca01------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b24c5602160e</guid>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[admiring-from-afar]]></category>
            <category><![CDATA[crush]]></category>
            <category><![CDATA[yearning]]></category>
            <category><![CDATA[this-happened-to-me]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Zzaaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 27 May 2026 03:16:52 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-27T03:16:52.910Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin benar, ada orang-orang yang memang diciptakan untuk dikagumi terlalu dalam, tetapi tidak untuk dimiliki.<br>Dan tanpa sadar, aku menempatkanmu di sana—di tempat paling tinggi yang bahkan tak berani aku gapai.</p><p>Segala tentangmu selalu terlihat begitu sempurna di mataku.<br>Wajahmu yang rupawan dengan tahi lalat kecil yang entah kenapa begitu manis, senyummu yang mampu membuat suasana terasa hangat, kacamata yang membuatmu terlihat semakin menenangkan, juga postur tubuhmu yang pas, seolah semesta benar-benar melukismu dengan sangat hati-hati.<br>Belum lagi tentang namamu yang selalu berada di deretan paling atas, pencapaian-pencapaianmu yang terus bertambah, dan caramu menjalani hidup yang membuat banyak orang mudah kagum padamu.</p><p>Sedangkan aku…<br>aku bahkan masih kesulitan memahami diriku sendiri.</p><p>Aku tidak merasa buruk, hanya biasa saja.<br>Wajahku tak cukup cantik untuk membuat seseorang menoleh lebih lama, tubuhku terlalu besar dan tinggi dibanding perempuan lain seusiaku, aku tidak sepintar itu, juga bukan seseorang yang pandai berbicara.</p><p>Sering kali aku merasa canggung menjadi diriku sendiri, apalagi jika harus berdiri di dekatmu.<br>Karena semakin dekat aku melihatmu, semakin jelas pula semua kekurangan yang ada pada diriku.</p><p>Kadang aku iri pada orang-orang yang bisa dengan percaya diri mendekatimu.<br>Sedangkan aku, bahkan untuk sekadar membayangkan diriku berada di sisimu saja terasa terlalu berlebihan.</p><p>Aku selalu berpikir, perempuan seperti apa yang nanti akan berjalan bersamamu?<br>Mungkin seseorang yang cantik, pintar, lembut, dan mampu mengimbangi semua hal hebat yang ada dalam dirimu.<br>Seseorang yang ketika berdiri di sampingmu akan terlihat begitu serasi, seolah dunia memang menciptakan kalian untuk bersama.</p><p>Dan di saat yang sama, aku sadar…<br>aku mungkin tidak akan pernah menjadi orang itu.</p><p>Karena rasanya, perasaanku padamu hanya seperti langit yang diam-diam mengagumi bulan—terlihat dekat, tetapi sebenarnya terpisah sangat jauh.<br>Aku hanya bisa memandangmu dalam diam, menyimpan kagumku sendirian, tanpa pernah benar-benar berharap bisa memilikimu.</p><p>Mungkin memang itu takdirku.<br>Bukan menjadi seseorang yang kau genggam tangannya, melainkan seseorang yang diam-diam mendoakanmu dari jauh, sambil belajar menerima bahwa tidak semua rasa harus berakhir menjadi bersama.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b24c5602160e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[____]]></title>
            <link>https://medium.com/@ZzaazZ/-f5376a35bc6d?source=rss-4706ebcfca01------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f5376a35bc6d</guid>
            <category><![CDATA[one-sided-love]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[admiring-you-from-afar]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Zzaaa]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 26 May 2026 09:36:15 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-26T09:36:15.176Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Saat itu, aku tak pernah menyangka bahwa semesta akan mempertemukan kita kembali.</p><p>Kau datang dengan potongan rambut pendek barumu, sederhana, namun entah mengapa mampu menghidupkan kembali perasaan yang selama ini mati-matian kusimpan dalam diam. Perasaan yang kukira telah benar-benar hilang ternyata hanya tertidur, lalu bangun begitu saja saat melihatmu berdiri di hadapanku. Aku juga tak pernah menyangka bahwa kita akan sedekat ini. Dimulai dari kebetulan-kebetulan kecil yang terus mempertemukanku denganmu — percakapan singkat, tatapan yang tak disengaja, hingga momen-momen sederhana yang perlahan terasa istimewa. Semua itu membuatku mulai percaya bahwa mungkin memang ada hal-hal yang telah diatur oleh semesta jauh sebelum kita menyadarinya. Mungkin inilah yang orang-orang sebut sebagai takdir.</p><p>Ada begitu banyak hal tentangmu yang diam-diam kusukai.<br>Senyummu yang manis, matamu yang selalu terlihat penuh semangat di balik kaca mata itu, caramu berbicara, caramu tertawa, bahkan namamu — nama paling unik yang pernah kutemui. Kau hadir sebagai sosok yang tinggi, cerdas, hangat, dan nyaris terasa sempurna di mataku. Rasanya mustahil bagiku untuk tidak jatuh hati.</p><p>Tanpa kusadari, dirimu perlahan menjadi bagian dari hari-hariku. Kau selalu berhasil membuat hariku terasa lebih ringan dan penuh warna. Aku menyukai bagaimana aku selalu mencarimu di tengah keramaian, namun sering kali justru kaulah yang lebih dulu menemukan dan menatapku. Aku menyukai caramu memandangku saat tertawa, bagaimana pertama kalinya kau memilih duduk di sebelahku, dan saat siku kita saling bersentuhan tanpa ada satu pun dari kita yang bergerak menjauh. Hal-hal kecil itu mungkin tak berarti apa-apa bagimu, tetapi bagiku semuanya terasa begitu besar.</p><p>Aku juga menyukai caramu menjelaskan sesuatu dengan sabar, dan bagaimana akhirnya aku mendengar dirimu memanggil namaku untuk pertama kali. Aneh sekali, sejak saat itu aku merasa namaku menjadi begitu indah ketika keluar dari bibirmu.</p><p>Dan bodohnya, aku mulai berharap.<br>Aku kira tatapan itu berarti sesuatu. Aku kira perhatian-perhatian kecil itu memang hanya untukku. Aku kira mungkin kau juga merasakan hal yang sama. Namun sepertinya aku salah. Mungkin aku hanya terlalu larut dalam segala kebaikanmu, terlalu jauh menafsirkan setiap hal sederhana yang kau lakukan.<br>Tak kusangka perasaan ini tumbuh sedalam ini. Sampai-sampai aku merasa tak akan ada lagi seseorang yang mampu membuatku jatuh hati sekuat ini selain dirimu.<br>Lalu sekarang, keadaan perlahan memaksa kita untuk berjalan ke arah yang berbeda.</p><p>Dan aku tidak tahu, haruskah aku mengubur perasaan ini sekali lagi? Karena sejujurnya, aku tidak yakin aku bisa.<br>Mungkin sejak awal memang aku yang salah karena memilih jatuh hati kepadamu — seseorang yang bahkan sejak awal sudah kutahu tak akan pernah benar-benar bisa kumiliki.</p><p>Namun biarkan aku tetap menyimpan rasa ini, sampai waktu dengan sendirinya mengajarkanku untuk melepaskan.<br>Sebab meski akhirnya kita tidak menjadi “kita”, aku tetap bersyukur pernah dipertemukan dengan seseorang seindah dirimu.</p><p>Dan jika memang takdir masih baik kepada kita, semoga suatu hari nanti — entah di masa depan, atau mungkin di kehidupan berikutnya — semesta kembali mempertemukan kita, kali ini bukan hanya untuk saling singgah, tetapi untuk saling menetap.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f5376a35bc6d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>