<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Iniaesha on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Iniaesha on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@aesha_7584?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*rz6jR36iIeQbh9LPXrpSYw.png</url>
            <title>Stories by Iniaesha on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@aesha_7584?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Wed, 20 May 2026 13:30:31 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@aesha_7584/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Secangkir Kopi yang Tak Habis Diminum]]></title>
            <link>https://medium.com/@aesha_7584/secangkir-kopi-yang-tak-habis-diminum-c3b2eebd37b8?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c3b2eebd37b8</guid>
            <category><![CDATA[cerpen-indonesia]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Iniaesha]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 17 May 2026 13:46:25 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-17T13:46:25.651Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*8BqhHY_g4kpj8x70" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@benkolde?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Ben Kolde</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>“Kiri dua, kanan satu, Kar.” Sari memberi informasi begitu aku mendaratkan pantatku di atas tikar. Aku memilih diam tidak menanggapi. Mataku lurus ke depan, ke arah salah satu atasan di kantor yang kini telah berubah menjadi mayat. Tertutup selembar jarik bermotif batik tulis yang sepertinya baru keluar dari lemari. Bau kapur barus tercium dengan sangat jelas.</p><p>Lantunan surat yasin yang dibacakan pelayat bersahutan dengan suara pelan. Aku hanya terdiam, tidak ikut membaca yasin yang disodorkan oleh ibu-ibu anggota rukem kepadaku. Sepertinya mereka tidak tahu, aku penganut kepercayaan lama, bukan muslim. Aku merasakan sentuhan pelan di pahaku, menoleh ke kiri, aku tersenyum tipis kepada wanita paruh baya yang memakai jilbab warna krem itu. Warna yang terlihat paling cerah diantara kumpulan warna hitam yang mendominasi. Wanita itu berdoa sebentar, lalu berbisik padaku.</p><p>“Jam berapa kejadiannya?”</p><p>“Jam dua pagi, katanya.” Aku menjawab pelan.</p><p>Mata Bu Nisrina — wanita berjilbab krem tadi — mengedar, dan aku mengikuti ke mana arah pandangannya tertuju. Dua anak Pak Broto duduk di samping ibu mereka yang sudah kehabisan tenaga untuk menangis. Bu Nisrina menggumamkan sesuatu yang tidak aku gubris karena sibuk berkutat dengan pikiranku sendiri. Aku tersadar sejenak mengenai berapa lama aku sudah duduk di sini, kemudian melirik jam di pergelangan tangan, lantas berbisik pelan pada Sari di sebelah kanan. “Sar, ayo berangkat. Nanti telat.”</p><p>Sari melotot padaku dan berkata dengan wajah yang seolah-olah mengatakan kalau aku gila. “Emang nggak libur tah? Pak Broto loh ini.” Bibir Sari miring ke kiri.</p><p>Aku menunjukkan Nokia-ku pada Sari. Barisan kata demi kata yang tertampil dalam <em>font </em>Nokia Sans berjejer dengan rapi. Kalimat yang terkesan dan seolah bukan dikirim oleh manusia itu datang dari sekretaris bagian.</p><p><em>Hari ini masuk seperti biasa, Kartika. Bilang ke yang lain.</em></p><p>Bibir Sari merot lagi. “Kiamat kubro baru libur tuh kantor, kayaknya.” Dengan enggan, wanita yang seumuran denganku itu bangkit susah payah dari duduknya. Aku meminta bantuan Sari untuk bangkit karena kakiku sedikit kesemutan. Kami menyalami dua anak Pak Broto dan memeluk istrinya sebagai ungkapan simpati. Meletakkan amplop di baskom belasungkawa yang hampir penuh, kami pamit.</p><p>Aku dan Sari berjalan menyusuri jalanan aspal berdebu. Burung gagak tiba-tiba melintas di atas kami dengan suaranya yang nyaring dan mencekik telinga. Aku bergidik. Kematian Pak Broto, salah satu orang yang dianggap penting dan terhormat di desa, sejenak menunda aktivitas yang biasanya di mulai di pagi buta. Pada umumnya, di jam segini, orang-orang sudah berangkat ke kebun, mobil yang memuat getah karet sudah lalu lalang. Tapi hari ini, kegiatan itu sepertinya tertunda selama beberapa jam karena mengurus pemakaman Pak Broto. Jalan yang kulalui bersama Sari terasa begitu lengang, hanya ada satu dua kendaraan yang lewat sekaligus menerbangkan debu-debu jalan akibat musim kemarau.</p><p>Sari menggandeng lenganku erat dan berjalan dengan lebih cepat dengan langkah lebar-lebar. Seolah takut diantara kami ada yang tiba-tiba menghilang. Suara gagak yang beberapa detik lalu lewat, masih terdengar dengan jelas seolah tidak pernah benar-benar pergi.</p><p>“Horor amat, sih,”gerutu Sari. Ia pasti membenci suasana hari ini.</p><p>Karena kematian Pak Broto menambah panjang daftar kejadian janggal yang terjadi selama sebulan terakhir.</p><p>Semula, segalanya berjalan dengan normal. Orang-orang miskin masih menjadi buruh berupah murah bagi orang kaya, dan orang kaya masih duduk di kursi goyang sembari menghitung uang yang dihasilkan dari memeras tenaga orang miskin dengan tidak manusiawi. Ya, begitulah desa ini berjalan. Semuanya seperti itu, selama bertahun-tahun. Kemudian sampai di awal bulan kemarin, sebuah kematian misterius muncul di desa kami. Jika kematian Pak Broto dihitung, sudah ada tiga orang yang meninggal dalam sebulan terakhir. Mereka semua seperti dibunuh. Lalu jari mereka dipotong dan hilang.</p><p>Kematian orang-orang itu membawa nuansa baru di desa kami. Bayangkan saja, setiap selesai acara tujuh harian di satu rumah, di rumah lain sudah ada yang meninggal lagi. Aku menghirup dalam-dalam oksigen di sekitarku. Bahkan kini oksigen itu berbau. Bercampur dengan kapur barus dan bunga-bungaan yang terus diambil untuk dibuat rangkaian kematian. Desa yang lazimnya dipenuhi dengan bau getah karet ini, kini punya bau yang baru, Bau kematian.</p><p>Bus karyawan yang berhenti menghentikan pikiranku yang terus berkelana. Aku dan Sari kemudian naik. Roda bus bergulir dengan pelan, membawa kami keluar dari desa, menuju kantor cabang yang ada di pinggiran kota.</p><p>Kota tempat kami hidup merupakan kota kecil. Satu-satunya hal membuat kota ini hidup dan besar adalah adanya perkebunan karet yang berdiri kokoh di sini. Berhektar-hektar karet tersebut adalah mata pencaharian bagi kami semua. Tidak terkecuali aku dan Sari. Kami bekerja sebagai pegawai administratif di kantor cabang.</p><p>“Sumpah Nit. Kaget banget” Sari bertelepon dengan salah satu teman kantor. “Tadi pas salah satu sodaranya dateng dan ngebuka penutup, gue denger dia bisik-bisik katanya jarinya hilang tiga. Serem banget nggak sih. Kota kita jadi kota pembunuhan gini.”</p><p>Aku menyenggol lengan Sari. Suaranya terlalu keras dan tidak elok juga membicarakan seseorang yang baru saja meninggal.</p><p>Kantor tetap sama, meskipun kehilangan lagi salah satu senior di unit, itu tidak mengubah apapun. Dan kepala bagian kami tetap menyebalkan seperti biasa.</p><p>“Kartika, kamu <em>handle</em> tugas Firman hari ini ya. Dia nggak masuk karena istrinya lahiran.”</p><p>Kepala bagian berlalu melalui diriku yang baru saja meletakkan tas di kubikel. Aku menghela napas kesal. Jika menuruti egoku, sudah pasti kepalanya yang mulai botak itu sudah kuhantam dengan berkas yang tertumpuk di meja kerjanya. Untungnya aku masih punya sisa kewarasan. Masih berwajah masam, aku mulai menyortir tugas-tugas yang harus kukerjakan.</p><p>Aku terus mengerjakan tugas semua orang, sementara bayaranku tidak pernah bertambah. Padahal aku di sini bekerja, bukan jadi sukarelawan. Harusnya kantor merekrut anjing saja jika butuh karyawan yang mau loyalitas tinggi dan tidak masalah dibayar kecil.</p><p>Menggenggam gelas yang di tangan, aku menuju dapur utama untuk membuat kopi. Setidaknya pikiranku harus fokus dan cerah hari ini karena mengerjakan tugas ganda. Seperti biasa, aku menemukan para wanita sedang bergosip di dapur. Secara tidak resmi, dapur memang menjadi sarang pertukaran berita dari segala divisi.</p><p>“Ih, kalo nggak percaya, tanya aja nih sama Kartika. Kan dia tetangganya.” Bu Nisrina menunjukku. Aku menunjuk diri sendiri dengan wajah bingung.</p><p>“Pak Broto meninggal waktu tidur juga ‘kan?”</p><p>Aku menggeleng. “Nggak tahu Bu. Kan saya nggak liat langsung.” Aku mengucap permisi pada Nita, pegawai bagian penjualan yang tubuhnya menutupi seluruh kabinet dapur.</p><p>Mendengar jawabanku, Bu Nisrina melengos. Ia berbalik mendekat pada Sari yang baru saja datang.</p><p>“Sar, Pak Broto meninggalnya kayak mana?”</p><p>Lalu dengan gaya seperti narasumber terpercaya, Sari mulai bercerita dengan disimak oleh ibu ibu yang hadir di dapur. Padahal aku yakin dia juga hanya mendengarnya dari ibu-ibu tetangga.</p><p>“Menurut yang aku dengar sih ya, Bu. Sekitar jam empat pagi itu kan lampu hidup. Istrinya Pak Broto mau ke kamar mandi, eh pas bangun mau bangunin Pak Broto udah nggak napas. Dia mulai nangis histeris, tambah histeris pas tahu jari suaminya hilang.</p><p>Bu Nisrina menyimak baik-baik sambil manggut-manggut. Yang lain juga menyimak dengan baik. “Tapi Sar, kok ceritanya mirip sama pas Pak Argo meninggal ya. Beliau korban pembunuhan juga kan?”</p><p>Sari mengangguk. “Kalau itu aku nggak tahu ya, Bu.”</p><p>“Udah lapor polisi belum sih?”</p><p>“Emang berguna?” Sari bertanya dengan sarkas. Aku yang sedang menyeduh kopi jadi mengingat kembali kejadian tersebut.</p><p>Lima belas tahun lalu, saat aku dan Sari masih SD, ayahnya kehilangan tiga ekor sapi. Keluarga Sari melaporkannya ke polisi, karena tidak kunjung diproses, ayah Sari memenggal sendiri kepala pencuri menggunakan pacul. Alih-alih mendapat keadilan, keejadian tersebut justru membuat ayah Sari jadi tersangka pembunuhan. Sejak saat itu kota kecil ini tidak pernah memandang polisi lebih dari sekumpulan orang berbaju cokelat yang lalu lalang dengan arogan memalak uang tilang dengan alasan ketertiban.</p><p>“Lah, tapi serem loh, Sar. Udah tiga orang yang meninggal. Lebih serem lagi pegawai unit semua.”</p><p>Mereka semua yang ada di dapur terdiam. Baru menyadari, tiga orang yang meninggal dalam sebulan terakhir adalah pegawai unit. Pegawai senior tepatnya. Hal yang sama terlintas di kepala mereka. Pembunuhan dilakukan oleh orang yang juga bekerja di unit. Suara mesin kopi menjadi satu-satunya suara di sana. Mereka yang biasanya ramai kali ini memilih bungkam.</p><p>“Udah lapor polisi, kata Bu Nina.” Aku memecah keheningan dan menyebutkan nama istri Pak Broto</p><p>Perhatian yang tadinya terarah pada Sari kini berpindah padaku. Aku jadi kikuk sendiri.</p><p>“Bu Nina cerita sama elo, Kar?”</p><p>Aku menggeleng. “Cerita sama ibuku. Ibuku cerita ke aku.”</p><p>Mulut sari membentuk huruf o kecil. Melirik jam dinding yang sudah mengarah ke angka delapan dan dua belas, tanpa dikomando oleh siapapun, kami lekas membubarkan diri. Aku baru saja melangkah dua langkah, saat Sari tiba-tiba mencekal lenganku.</p><p>“Berapa hari lagi lu?”</p><p>Aku melepaskan tangan Sari dari lenganku. Aku kurang suka disentuh. “Seminggu,”jawabku singkat.</p><p>Sebulan yang lalu, aku melayangkan surat pengunduran diri di meja kepala bagian personalia. Aku hendak mencari pekerjaan ke ibukota bersama dengan kakakku untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Mengandalkan gaji di unit, hanya cukup untuk makan, tidak untuk hal lain.</p><p>Aku kembali ke kubikel. Merenggangkan leher dan mulai mengetik, menyelesaikan tugasku yang kini bertumpuk tambah banyak. Lewat kaca yang aku letakkan dekat komputer, aku bisa melihat polisi berjalan di koridor ruangan. Penyelidikan akan dimulai rupanya. Meskipun keliatan selalu datar dan minim ekspresi, jujur saja, aku penasaran siapa pembunuh ketiga senior kantor.</p><p>Bagaimana kira-kira cara pembunuh itu menentukan siapa yang saja layak mati di kantor ini?</p><p>***</p><p>Seseorang berjalan dalam ruangan yang gelap, mengenakan kaus kaki dan memegang senter kecil. Perlahan ia membuka pintu. Sudah ada seseorang yang menunggunya di balik pintu. Ia mengangguk. Entah apa maksudnya. Wajahnya tertutup kain. Aku menemukan diriku hanya bisa melihat di pojokan. Kakiku seperti terpasung di lantai, tidak bisa melakukan apa pun kecuali memperhatikan gerak-geriknya.</p><p>Ia mendekati ranjang. Menempelkan jari telunjuknya di hidung seseorang yang terbaring di ranjang. Entah tidur, tidak sadarkan diri atau mati. Setelah memastikan sesuatu, ia tersenyum miring, dalam keremangan cahaya, anehnya aku bisa melihat senyum yang Nampak janggal di atas matanya yang Nampak kosong itu. Orang itu lalu mengeluarkan pisau dari saku jaket kulit yang ia kenakan. Aku melihatnya dengan jelas bahkan dalam keremangan cahaya. Segala sesuatu di ruangan itu mendadak menghilang, hanya ada aku, dia, dan seseorang yang terbaring di kasur. Ia menunduk, sekarang aku bisa lihat orang itu ternyata perempuan. Dengan gerakan yang sepertinya sangat terlatih, ia menggesekkan pisau tersebut ke jari telunjuk pria yang sedang tertidur. Jarinya kemudian terjatuh.</p><p>Mataku membelalak, dengan reflek menutup mulutku agar tidak berteriak. Menyaksikan adegan demi adegan di mana jari tersebut terjatuh, darah segar menetes dan wanita itu mengambilnya dan memasukkannya ke dalam kantung blacu yang ia bawa. Kemudian ia beralih, memotong lagi jari yang lain, sekarang jari tengah. Lalu pada tangan yang satu lagi, jari manis. Tapi jari manis itu tidak ia masukkan ke dalam kantong blacu. Ia terdiam sebentar, aku seperti merasa terancam, sepertinya wanita itu tahu keberadaanku di sini. Ia memutar tubuh, tanganku berkeringat sebesar biji jagung, jantungku berdetak bertalu-talu seolah ada yang menabuh genderang di dalam sana. Apa yang harus aku lakukan jika ia melihatku? Akankah orang itu membunuhku juga?</p><p>Dan kemudian…</p><p>Aku terbangun, dengan napas terengah-engah seperti baru saja ikut lari marathon lima kilometer, keringat membanjiri seluruh tubuhku.</p><p>Mimpi itu lagi.</p><p>Mimpi yang selalu sama, dari hari ke hari.</p><p>Aku duduk di atas ranjang dan menyeka keringat yang menempel di dahiku. Ternyata hari sudah subuh dan aku sudah tidak bisa tidur lagi. Aku menatap setumpuk tas yang sudah di susun rapi di sebelah ranjang. Kami akan pergi hari ini. Aku dan ibuku.</p><p>Dari kota kecil, kami menuju ibukota kabupaten untuk naik kereta yang nantinya akan membawa kami berpindah provinsi. Di dalam kereta, aku memijit kepala yang rasanya pening. Padahal aku tidur dari jam delapan malam, tapi karena mimpi menyebalkan itu, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak dan berkualitas. Ibuku duduk dengan wajah kaku. Beliau selalu seperti itu.</p><p>“Semua sudah selesai Kar. Jangan pernah kembali lagi ke sini.” Aku menatap ibu dengan wajah heran, tidak mengerti maksud ucapan beliau.</p><p>“Ibu tahu Kar. Ibu tahu semuanya.”</p><p>Kerutan di dahiku makin dalam. Apalagi saat ibu menyentuh kedua bahuku dan menatap lurus ke arah mataku langsung. “Dengar Kartika, apa yang kita lakukan tidak ada yang salah. Mereka juga orang jahat. Ingat ini baik baik. Mereka menuduh bapakmu maling dan membunuh di pabrik gula. Gara-gara itu bapak harus mati di lantai dingin penjara dalam keadaan mengenaskan.” Ibu masih menatapku dengan lekat, beliau bahkan tidak berkedip. “Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, Kartika.”</p><p>Kepalaku terasa sakit luar biasa tiba-tiba. Kenangan-kenangan acak dari dalam mimpi kini muncul ke permukaan. Meski awalnya sulit membedakan mimpi dan realitas, kepingan acak itu kini tersusun dengan jelas. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas siapa wanita yang membunuh Pak Broto dan beberapa rekan seniornya.</p><p>Wanita itu…</p><p>Adalah aku.</p><p>Tamat.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c3b2eebd37b8" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Maybe We Get Married One Day, But Who Knows?]]></title>
            <link>https://medium.com/@aesha_7584/maybe-we-get-married-one-day-but-who-knows-a738507a8f4e?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a738507a8f4e</guid>
            <category><![CDATA[daniel-caesar]]></category>
            <category><![CDATA[married-life]]></category>
            <category><![CDATA[adult-life]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Iniaesha]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 30 Dec 2025 04:24:31 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-12-30T04:24:31.577Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*-pgnEf8YVykGN_le" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@oulashin?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Sean Oulashin</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p><em>When I was Younger, </em>Aku sering berpikir mungkin aku akan menikah di usia paling lama dua puluh lima tahun. Bahkan waktu aku SMA, ketika ada yang nanya kira-kira mau menikah kapan, aku optimis banget jawab, “Kayaknya 5 tahun lagi.”</p><p>Sebuah jawaban yang tentu saja sangat naif dari remaja berusia belasan tahun.</p><p>Sebuah ke-naifan yang mungkin dimiliki hampir semua remaja sebelum akhirnya mereka mengenal bagaimana sebuah hubungan di usia dewasa.</p><p>Seiring berjalannya waktu, layaknya dunia terbalik, ketika beranjak dewasa, kita justru cenderung menghindari pertanyaan seputar kapan nikah. Pertanyaan itu serupa bom waktu yang bisa menghancurkan mood dan suasana hati seseorang dan juga menjadi penyebab seseorang enggan menghadiri acara-acara keluarga.</p><p>“Kapan nikah?” menjelma menjadi sosok hantu sial yang kehadirannya selalu ingin dihindari.</p><p>Pertanyaan ini dihindari bukan hanya sekedar kita belum punya calon. Lebih dari itu, ada fase ketika kita justru mulai mempertanyakan,</p><p>Kenapa memangnya harus menikah?</p><p>Apakah menikah memang <em>worth it?</em></p><p>Keresahan ini rupanya tidak hanya menjadi obrolan kosong di ruang-ruang pribadi. Ia juga mulai menampakkan diri dalam wujud angka penurunan pernikahan di Indonesia.</p><p>Menurut data kementerian agama, dalam rentang tahun 2019–2024 terjadi penurunan pernikahan sebesar 27%. Meskipun ada beberapa yang masih termasuk milenial belum menikah, yang menyumbang angka penurunan pernikahan tertinggi tentu saja Gen Z. Mengingat Gen Z generasi awal saja lahir tahun 1997.</p><p>Gen Z memang tumbuh dengan cara berpikir yang berbeda dari generasi sebelumnya. Kami terbiasa mempertanyakan nyaris segalanya. Termasuk mempertanyakan hal-hal yang dulunya dianggap mutlak. <em>Once we realize something is not worth it, even the whole world says it’s good, we still dare to say no</em>. Termasuk soal pernikahan.</p><p>Lalu kemudian muncul pertanyaan ini:</p><p>Kenapa Gen Z memandang pernikahan seperti melihat jurig di siang hari?</p><p>Sikap ini tidak lahir begitu saja, skeptistime Gen Z dibentuk oleh pengalaman dan lingkungan sekitar. Mau tak mau harus mengakui jika social media ikut andil dalam membentuk bagaimana cara seseorang memandang relasi. Kesetiaan yang lebih rapuh dari pada sebatang sereh seringkali membuat seseorang skeptis dengan pernikahan itu sendiri.</p><p>Belum lagi realitas ekonomi. Kita hidup di masa ketika hampir semua harga naik secara brutal, kecuali pendapatan. Menikah tanpa kesiapan finansial terasa seperti menjerumuskan diri ke dalam lubang penderitaaan yang tidak jelas ujungnya.</p><p>Perubahan pola hubungan juga ikut andil membentuk bagaimana seorang Gen Z berpikir. Pernikahan di pandang sebagai sesuatu yang harus dipersiapkan dengan matang, bukan sekedar tahapan hidup yang harus dilewati.</p><p>“Seumur hidup terlalu lama apabila harus dihabiskan dengan orang yang salah.”</p><p>Dari apa yang aku amati (dan aku sendiri alami) Gen Z bukan generasi yang takut kehilangan. Kami hanya belajar untuk tidak bertahan pads sesuatu yang tidak memberi ruang untuk tumbuh. Termsuk dalam urusan cinta.</p><p><em>if we can being honest, we still want to be great wives and husbands.<br> We still want to be good moms and dads.<br> </em>Kami hanya belajar bahwa cinta saja tidak selalu cukup.</p><p>Tanpa persiapan yang benar-benar matang, dari pada mengorbankan orang lain untuk terjebak dalam sebuah hubungan, lebih baik sendirian.</p><p><em>In the end</em>, Entah kita berjodoh di dunia ini atau tidak, semoga kita selalu dilapangkan untuk menerima takdir. Tanpa memaksakan garis waktu dan tanpa mengkhianati diri sendiri.</p><p>“You are pure, You’re Kind, Mature, Divine.” — Daniel Caesar</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a738507a8f4e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Sawang Sinawang and A Gentle Hug of Understanding]]></title>
            <link>https://medium.com/@aesha_7584/sawang-sinawang-and-a-gentle-hug-of-understanding-44609532499b?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/44609532499b</guid>
            <category><![CDATA[sawang-sinawang]]></category>
            <category><![CDATA[selfreflectionjourney]]></category>
            <category><![CDATA[job-hugging]]></category>
            <category><![CDATA[dreams]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Iniaesha]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 25 Sep 2025 17:34:29 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-25T17:41:02.755Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*nNL7u2eUy2wLofy_" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@tioma_st?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Artem Stoliar</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Sebagai manusia yang chronically online di aplikasi X, aku lumayan rajin memantau berita-berita maupun tren yang berseliweran di sana. Salah satu berita yang cukup menyita perhatian aku adalah pemberitaan mengenai fenomena <em>job hugging</em> yang sedang jadi <em>hot topic </em>di Indonesia. Saking populernya pembahasan soal <em>job hugging</em> ini, salah satu akun besar di X sampai ngerencanaian sebuah <em>space</em> untuk ngobrol-ngobrol mengenai <em>job hugging</em>.</p><p><em>So, what is job hugging?</em></p><p>Menurut Korn Furry, seorang konsultan manajemen asal Amerika Serikat, <em>job hugging</em> diartikan sebagai upaya mempertahankan pekerjaan yang dimiliki selama mungkin. Sementara itu, kalau mengacu dengan konsep yang ada di aplikasi X, artinya akan jadi lebih relate:upaya memeluk erat pekerjaan yang sedang dilakoni walau rasanya tiap hari pengen resign. <em>In this economy</em>, walaupun bikin kurang tidur, anxiety, asam lambung dan sederet gejala gangguan mental lainnya, pada akhirnya orang-orang tetap memeluk erat pekerjaan mereka walau merasa nggak bahagia. <em>As long as</em> bisa memenuhi kebutuhan dasar ala maslow, diri kita dipaksa percaya bahwa “everything will be fine” — meski kenyataannya nggak sesederhana itu.</p><p>Menariknya <em>job hugging</em> ini sebenarnya nggak hanya perihal pekerjaan. Kalau dipikir-pikir lagi, beberapa waktu belakangan, banyak dari kita yang tetap ‘memeluk’ erat hal-hal yang dimiliki semata-mata karena hal tersebut sudah terlalu melekat ke dalam diri kita. Pekerjaan, rutinitas, hubungan. Semua terasa melekat, datar, sampai bikin kita kehilangan spark dalam hidup.</p><p><em>In the end, everything feels meaningless.</em></p><p>Sembari menjalani hidup yang rasanya hambar dan gitu-gitu aja ini, kita juga melihat banyak hal menarik yang muncul dan tertampil, mau di <em>real life</em> maupun di media social. Semuanya kerasa gemerlap dan terang sementara kita jadi satu-satunya hal abu-abu yang ada. In this situationI think the one of hardest moment is seeing people living in the way that we always dreaming for. Kinda hurt and yeah…it make us a little bit envious, isn’t?</p><p>Di titik demikian, aku merasa kita perlu inget baik-baik kalau dalam hidup manusia ada yang namanya konsep sawang sinawang. Dalam bahasa Jawa, kata “sawang” berarti memandang, dan kata “sinawang” berarti dipandang. Hidup manusia pada dasarnya saling memandang. Apa yang kita lihat dan dengar hanya menampilkan apa yang orang lain memang tampilkan. Sama aja kayak kita yang pilah-pilih terkait apa yang mau ditampilkan. <em>nobody really shows all the emss behind the scene. </em>Realita ini penting untuk ngasih reminder bahwa perbandingan yang sering kita dramatisir itu kadang cuma ilusi.</p><p>Pada akhirnya, memeluk erat sesuatu yang udah nggak ngasih kebahagiaan itu melelahkan bagaimanapun dipaksakannya. Kalau Marie Kondo bilang tiap barang punya “jiwa” dan pantas diperlakukan dengan penuh penghargaan, bukankah hal-hal yang kita peluk dalam hidup layak mendapatkan perlakuan yang sama?</p><p>Tetap dipeluk erat padahal tidak lagi dicintai dan barangkali mulai dibenci eksistensinya, <em>what’s a nightmare..</em></p><p>Aku harap kita nggak terus-terusan jadi orang jahat yang memeluk erat tanpa mencintai dan punya keberanian untuk melepas hal-hal yang sudah nggak lagi kita cintai. Atau diberi kelapangan hati untuk mencintai ulang apa yang sudah kita genggam. Karena hidup nggak melulu soal menggenggam erat, tapi juga tahu kapan waktunya <em>let go.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=44609532499b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[If Red String Theory was Right, I Wish We Could Meet Again]]></title>
            <link>https://medium.com/@aesha_7584/if-red-string-theory-was-right-i-wish-we-could-meet-again-85197107fd21?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/85197107fd21</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Iniaesha]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 24 Aug 2025 13:11:58 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-08-24T13:11:58.468Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*gUuA8bWVo48vVg7A" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@mak_jp?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Mak</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>The first time we met was when we attended a seminar. Because I came late, I was separated far from my friends and ended up sitting among strangers I didn’t know. I tried to listen to the speaker, but my eyelids grew heavy and my glasses slipped down the bridge of my nose. I straightened up, forcing myself to focus, yet in just a blink my eyes were about to close again. The voice of the speaker drifted faintly in my ears, almost like a lullaby, when suddenly a hand waved in front of my face, startling me awake. The young man who did it looked equally startled. He asked if I was okay; I nodded, adjusted my glasses, and tried to listen again, though a bit lost after nearly dozing off.</p><p>The speaker’s voice echoed through the auditorium, swallowing every other sound. The seminar ended only after I emptied a 600 ml bottle of water and chewed through four handfuls of coffee candies — my survival kit against drowsiness. Like ants pouring out of their nest, we rushed out the moment the MC closed the session. My friends and I jogged toward the nearest bus stop, slipping through the growing drizzle. Out of the corner of my eye, I saw the young man who sat beside me earlier standing at the terrace, stretching out his hand as if measuring the weight of the falling rain.</p><p>We joked and chatted as usual while waiting for the bus. One by one, my friends were picked up by their rides, until only I remained — with someone in a white vest whose presence I hadn’t noticed until the others were gone. We exchanged a shy greeting. He moved a little closer, narrowing the space between us. At first, the rain was the only sound filling the silence, but soon it became the background to another sound: his voice. He asked me a simple question — where I was heading. And then, the conversation just flowed. From the seminar, to our favorite ramen shops nearby, and even which Beatles album we liked best.</p><p>After about fifteen minutes, my bus finally arrived. Our talk was cut short; I had to leave. As I was about to step onto the bus, he flinched a little as if remembering something.<br> “Almost forgot — my name is Ryu. Watanabe Ryu.”</p><p>I smiled, bowing slightly as I said my name in return. It was strange, really — how we had talked about so many things, yet forgot to ask each other’s names. From my seat on the bus, I saw him still looking in my direction. When the wheels began to roll, he lifted his hand and waved with a smile. I smiled back.</p><p>And in my heart, I wished — <br> <em>If the red string theory was true, then I hope we could meet again.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=85197107fd21" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[In the Quiet of Letting Go, I Choose Myself]]></title>
            <link>https://medium.com/@aesha_7584/in-the-quiet-of-letting-go-i-choose-myself-3d1460e7f860?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/3d1460e7f860</guid>
            <category><![CDATA[alone-again]]></category>
            <category><![CDATA[letting-go]]></category>
            <category><![CDATA[farewell]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Iniaesha]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 09 Aug 2025 06:53:38 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-08-09T06:53:38.218Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/676/1*yasbRUzHF2azAquD_puwPQ.jpeg" /><figcaption>Image from Pinterest</figcaption></figure><p>I’ve always been in love with the sentence, <em>“Meet people who you want to talk with.”</em></p><p>In moments of silence, I often imagine how warm and comforting it must feel to sit across from someone, sipping a cup of hot chocolate (because I don’t like coffee), watching the drizzle fall to the ground and release that calming scent of petrichor, while talking about anything. Politics, newly opened tourist spots, hidden beaches nearby, even random things like — why does it always rain right after we wash our motorcycles?</p><p>Spending years befriending silence has its own kind of peace, but it turns out, I’ve grown tired of having conversations that only bounce around in my own head every single night.</p><p>And then, a small reunion with old friends brought him back into my life.</p><p>He wasn’t someone new. We’d met years ago when we were still teenagers. Not much had changed about him over the past ten years. Time seemed like nothing more than numbers that didn’t really mean anything. That familiar, pleasant face — somehow it stayed with him, untouched, even after all the storms adulthood must have thrown his way.</p><p>Our first conversation was the usual kind of small talk between old friends. He asked what I’d been up to after finishing my studies, and I asked the same. The next conversations just… flowed. As if we were close friends who had been apart for a while and finally reunited. It didn’t feel like we had once been just casual acquaintances.</p><p>After a while, I realized — we had so much in common.<br> I felt like a turtle who had finally found a friend to dive with, to explore the deep ocean together, after swimming alone for so many years. It felt exciting, loud in a good way, full of little adventures — because we both loved exploring. After a series of failed relationships that ended because we simply weren’t right for each other, I thought, maybe this time, I’ve finally met the right person — someone who truly matched what I’d been looking for.</p><p>But it turns out, that sense of connection didn’t automatically make everything easier.<br> Being compatible and on the same wavelength just wasn’t enough.<br> Maybe he could always accept me — but I was the one who struggled to accept the parts of him that hurt. When I finally chose to walk away because I couldn’t deal with the way he handled his emotions — so poorly — many people said I was foolish.</p><p>They said, <em>“Nobody’s perfect.”</em></p><p>And I’ve never forgotten that.I always remember.I always try.</p><p>To understand him.</p><p>I kept trying to stay, to be patient, to understand. But constantly trying to understand someone who doesn’t really want to be understood… it drained me. It wore down my sanity.</p><p>I need someone who’s open, someone I can build mutual understanding with.<br> I felt like I was dying a little every time I had to keep guessing what was going on inside him. I was exhausted, because in the end, whenever he had a problem, I wasn’t the person he came to — I was the first one he shut out.</p><p>I want a relationship that grows from mutual effort — not guessing, not waiting. I know relationships aren’t always 50:50. Sometimes they’re 70:30, or 60:40. But if I always have to give 80 while he gives 20… maybe it’s time I let go, before I completely lose myself in trying to meet all his needs.</p><p>I still think he’s someone I clicked with. We were on the same frequency.<br> But what’s the point of being on the same frequency,<br> if our voices only ever echo in one direction?</p><p>Losing everything is still better than losing myself. So this time, in the slow and bitter silence,I choose to let go.</p><p>In the quiet of this letting go,<br> I choose myself.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=3d1460e7f860" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[A Short Story: Life Goes On]]></title>
            <link>https://medium.com/@aesha_7584/a-short-story-life-goes-on-6badef1e5472?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6badef1e5472</guid>
            <category><![CDATA[short-fiction]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Iniaesha]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 08 Mar 2025 03:40:18 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-03-08T03:40:18.395Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/686/1*Xq2_qNvt1Nma0DRtk7uf3A.jpeg" /><figcaption>picture from Pinterest</figcaption></figure><p>“Kalau semisal kali ini gagal juga, apa nggak papa?” Stevani menarik napas sejenak ketika selesai membaca baris terakhir email yang dikirim ke kanal Podcast milik Rie. “Nggak papa kok. Gagal melakukan sesuatu, bukan berarti kita gagal dalam hidup ‘kan.” Rasa tidak nyaman menjalari perut Vani, perlahan naik ke kerongkongan dan membuatnya mual. Vani merasa telah menjadi orang paling munafik sedunia karena mengatakan kalimat tersebut. Sepanjang dua puluh empat tahun hidupnya, Vani selalu melihat kegagalan selayaknya warna merah di barisan nilai rapor. Kacau, tidak pantas dan memalukan. Sebelum ke orang lain, Vani seharusnya mengatakan kalimat tersebut ke dirinya sendiri. Melihat Vani yang tiba-tiba terdiam tanpa mengatakan apapun selama sekian menit, Rie mengambil alih pembicaraan.</p><p>“Nggak ada manusia yang nggak pernah gagal. <em>It’s okay to made a failure because, ya, this is our first life. </em>Kemungkinan gagal itu selalu ada. Jangan pernah merasa kalo kita gagal ngelakuin sesuatu, hidup kita berakhir. Oke?” Rie mengakhiri jawaban untuk email tersebut dan beralih pada email terakhir pada episode kali ini. Meninggalkan Vani yang masih terjebak di dunianya sendiri. Selesai membaca dan menjawab email terakhir, Rie menyenggol lengan Vani yang kini sudah tidak melamun tapi sibuk main ponsel.</p><p>“Van, lo ngapain?”</p><p>Vani menunjukkan layar ponsel ke arah Rie. “Si Caca sekarang kerja di Big 4, Ri. Tiap hari dia foto di lift pake<em> lanyard</em>.”</p><p>Rie melengos tidak peduli dengan gambar yang ditunjukkan Vani. “Kalo lo mau, tinggal pake <em>lanyard</em> kantor lo terus foto di pintu masuk, kok.”</p><p>“Males.” Vani meletakkan ponselnya dengan sembarangan di atas meja Rie yang penuh dengan makanan. “<em>Lanyard</em> gue nggak bagus dipamerin di <em>instagram story.” </em>Vani menjawab asal. Hanya kepada Rie dia berani mengungkapkan hal-hal yang ada di kepalanya secara sembarangan. “Apa gue bikin akun baru aja ya, Ri?”</p><p>“Ngapain bikin akun baru, akun lo yang sekarang aja sawangan.” Rie menggunting bungkus basreng diskon yang ia beli di swalayan tadi pagi dan memakan isinya sendirian. Setelah sebelumnya sudah menawarkan ke Vani dan hanya dibalas, “Bernapas pun rasanya gue males. Apalagi makan basreng.”</p><p>Dalam diam, Vani membenarkan perkataan Rie. Akun <em>Instagram</em> yang sekarang ia pakai sudah tidak pernah mengunggah postingan apapun selama dua tahun. Unggahan terakhir Vani tertanggal bulan Agustus 2022 saat dirinya wisuda. Setelah itu dibiarkan kosong begitu saja. Alasan Vani tidak mengunggah apapun selama dua tahun terakhir adalah karena memang tidak ada hal bagus yang terjadi semenjak dirinya lulus kuliah.</p><p>Lulus <em>cumlaude </em>tidak mengantarnya kemana-mana.</p><p>Hal yang selalu Vani bayangkan selama kuliah adalah ketika lulus dari jurusan yang sama sekali bukan minatnya ini, adalah setidaknya ia bisa bekerja kantoran di Jakarta dan menghasilkan minimal delapan juta perbulan. Nilai yang menurut Vani setara setelah ia menggadaikan mimpinya dan menyelesaikan kuliah dengan sangat baik.</p><p>Namun mimpi itu layaknya kapas yang terbang mengelana dari pohon tempatnya hidup. Terbang, menjauh dan pada akhirnya tidak pernah tergapai lagi.</p><p>Vani tidak ke Jakarta setelah lulus, ia mengabaikan email panggilan <em>interview </em>salah satu kantor impiannya. Email tersebut mungkin datang kepada orang yang tepat namun di waktu yang salah. Tiga hari sebelum email dikirim Vani terima, ayahnya jatuh dari kamar mandi dan harus dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Di kamar mandi rumah sakit, ia masih menangis. Masih sulit mempercayai jika kesempatan yang selama tiga tahun ini ia nantikan justru diabaikann layaknya email spam iklan. Dalam kepalanya saat itu, tidak apa menolak sekali ini, walau berat. Baginya, lebih baik menemani ayah di sini dari pada harus jauh-jauh ke Jakarta. Kesempatan kerja bisa datang lain kali, tidak ada yang pernah tahu umur ayah. Vani terjebak dalam pemikiran demikian.</p><p>Dari sekian banyaknya penyesalan, keputusan Vani untuk tetap tinggal di rumah sakit dan tidak memenuhi panggilan<em> interview </em>adalah salah satu hal yang tidak pernah ia sesali.</p><p>Ayahnya berpulang setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Menurut dokter, penyebabnya karena pendarahan otak. Tapi menurut Vani itu hanya takdir. Agak konyol mengingat sebelumnya ayahnya sehat bugar dan hanya jatuh di kamar mandi. Hal yang berulang kali Vani alami. Sebuah takdir yang masih sulit ia terima sampai hari ini.</p><p>Seolah jadi kewajiban yang mutlak harus ia lakukan, kakak-kakak Vani berpesan jika sebaiknya ia kerja di kota ini saja sambil menjaga Ibu setelah ayah berpulang karena dia adalah anak bungsu.</p><p>“Ibu sama siapa lagi, Van, kalo bukan sama kamu. Kamu kan tau, aku juga kerja dan tinggal jauh dari sini. Tolong pengertiannya, lah.” Begitulah ujar Kakak Vani saat ia protes kenapa tidak boleh melamar kerja di Jakarta atau di kota besar manapun di Indonesia.</p><p>Jika terlahir sebagai anak bungsu artinya ia harus melepas sayap dan impiannya, akan lebih baik jika ia tidak pernah lahir. Menjalani kehidupan yang semakin lama, makin jauh dari ekspektasi dan mimpinya, terlalu melelahkan dan menguras kewarasan.</p><p>Vani memandang sekeliling studio podcast ala kadarnya milik Rie. Studio ini dibangun oleh abang Rie saat gadis itu iseng mengatakan jika ia ingin memulai kanal podcast. Dinding kuning pucat, meja besar sepaket dengan seperangkat alat mengedit, dua <em>microphone condenser </em>dan sosok manusia yang belum mandi sore, sibuk memakan basreng diskonan sambil memelototi beranda Komunitas Murah-Murah di aplikasi X. Rie terlihat sama sekali tidak terganggu dengan wajah kusut yang senantiasa di tampilkan Vani saat mampir ke rumahnya. Bisa dibilang Rie dan Vani satu nasib. Sama-sama anak bungsu yang harus tinggal bersama orang tua mereka di hari tua. Mungkin itu alasan Rie tidak pernah mengusir Vani meskipun seringnya Vani hanya datang ke rumah Rie hanya untuk sambat soal pekerjaan dan perintilannya.</p><p>Sejujurnya Vani tidak benci pekerjaan yang ia jalani. Meskipun kadang sikap bosnya tidak bisa dipahami akal sehat manusia, ia punya rekan kerja yang baik,<em> jobdesk </em>yang tidak terlalu sulit dan lokasi kantor yang dekat dari rumah. Hal yang membuat pekerjaan ini terasa dua kali lebih berat dari seharusnya, adalah karena..</p><p>Ini bukan pekerjaan yang ia inginkan.</p><p>Sejak kecil Vani dikenal sebagai anak yang cemerlang. Si bungsu yang selalu ranking satu dan memenangi berbagai perlombaan. Spekulasi jika ia akan jadi orang sukses di masa depan sudah bergema di telinga Vani sejak ia masih kecil. Ia hidup dengan segudang ekspektasi yang secara tidak sengaja orang-orang berikan kepadanya.</p><p>Tidak pernah sekalipun terlintas dibenak Vani, jika pada akhirnya ia tidak menjadi siapa-siapa. Hanya karyawan perusahaan kecil dengan segudang tugas dan dituntut punya kemampuan setingkat avatar, tapi gaji hanya UMK lebih sedikit. Cahaya yang selama ini mengelilingi dirinya kian meredup dan perlahan kehilangan semua kecemerlangannya.</p><p>“Ri, lo nggak merasa frustasi sama hidup yang kayak gini-gini aja?”</p><p>Rie mengalihkan pandangan dan menatap Vani dengan dahi berkerut. “Kenapa harus frustasi? Hidup gue rasanya baik-baik aja kok, Van.”</p><p>Vani menghela napas. Mencari kata yang tepat untuk diungkapkan. “Dua tahun lalu lo termasuk lulusan terbaik di jurusan elo, Ri.”</p><p>Rie mengangguk-angguk. Mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. “<em>As you see, i try to enjoying my life </em>Van. Mungkin orang lain, termasuk elo, melihat gue ngejalanin hidup yang agak ‘sia-sia’. <em>I mean, </em>dengan <em>title</em> lulusan terbaik, tapi gue cuma bantu bokap gue ngelola toko sembako ini itu pasti agak aneh di mata orang. Tapi kalo boleh mengutarakan pendapat, beberapa orang senang dengan hidupnya yang gitu-gitu aja, Van. Selagi toko ini masih beroperasi, gue nggak butuh hal lain.” Rie menghela napas sejenak, kemudian melanjutkan. “Gue bisa ngelanjutin hidup gue kapan aja, Van. Tapi Papi gue makin hari makin tua. Gue nggak mau nyesel karena ninggalin Papi.”</p><p>Kesunyian memenuhi studio podcast karenaVani tidak memberikan tanggapan lebih lanjut. Selama ini ia memang selalu bertanya-tanya, apakah Rie punya penyesalan yang sama seperti dirinya. Karena dilihat dari sisi manapun, Rie justru terlihat menikmati hidup yang sekarang dijalani. Dalam hati kecil Vani, ia juga sebenarnya iri kepada Rie, kenapa ia sangat sulit untuk menerima takdir dari pada Rie? Kenapa perasaan legowo itu tidak lekas datang ke hatinya?</p><p>“Lo nggak perlu nyalahin diri sendiri karena masih ngerasa berat untuk tinggal di sisi nyokap lo sementara kakak-kakak lo bisa bebas melalang-buana semasa mereka muda. Nggak pernah ada yang bilang kalo ngelepasin mimpi yang mati-matian kita perjuangin itu mudah kok, Van. Pelan-pelan aja.”</p><p>Kini giliran Vani yang menghela napas. Ia mendongak, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata dan siap jatuh kapan saja. Dadanya terasa sesak dengan penyesalan dan rasa iri. Setiap kali bangun tidur yang ia pikirkan adalah bagaimana bisa hidupnya jadi semembosankan ini. Vani merasa jadi seperti ikan koi besar yang terjebak dalam sebuah kolam kecil. Sesak, sulit bergerak dan terasa salah tempat.</p><p>Tapi ketika keluar kamar dan melihat ibunya sedang menyiapkan sarapan, sisi dirinya yang lain memaki Vani yang terlampau ambisius dan egois. Bagaimana mungkin ia bisa berpikir bahwa menjaga ibu adalah beban? Ibu adalah orang yang selalu memprioritaskan Vani di atas kepentingan pribadi beliau. Apa yang sekarang Vani lakukan, tidak akan pernah setara jika dibandingkan dengan bagaimana perjuangan ibu untuk mendukungnya selama ini.</p><p>Pintu studio <em>podcast</em> terbuka dan menampilkan Papi Rie yang membawa sepiring kue putu. “Nih buat cemilan biar ngobrolnya lebih enak,” ujar beliau.</p><p>“Papi beli?”</p><p>“Enggak, Ri. Papi ngerampok tukang putu yang lewat,” jawab Papi Vani asal bunyi.</p><p>Rie menaikkan ujung bibir sebelah kanannya, keki. Sementara Vani berusaha menahan tawa melihat interaksi Rie dan papinya. Ah, ia mendadak kangen ayah.</p><p>“Eh Van, kemarin Om liat si siapa itu, calon mantu ibumu jogging di GOR. Dia nyapa Om duluan. Lama ya dia nggak keliatan di kompleks ini.”</p><p>“Udah bukan calon mantu ibunya Vani lagi itu tuh, Pi. Mereka udah lama putus–aw!” Vani mencubit paha Rie dari bawah meja dan tersenyum canggung kepada papi Rie.</p><p>“Oh iya? Papi nggak inget. Maklum ya, udah tua jadi gampang lupa, Van.”</p><p>“Iya nggak apa, Om,” Vani menanggapi dengan tenang. Selain kegagalan meraih mimpi, gagal dalam menjalin hubungan juga jadi permasalahan serius yang membuat Vani sempat meragukan diri sendiri. Putus hubungan dari seseorang yang menemani dirinya selama lima tahun terasa agak berat dan butuh adaptasi ulang cukup lama karena hampir seluruh lini di hidup Vani, ada dia di dalamnya. Tetapi jika boleh jujur, perpisahan tersebut adalah satu-satunya hal yang ia akhiri dan tidak ia sesali selama setahun terakhir.</p><p>“Meskipun terlambat, selamat karena akhirnya lo sadar. Kalo gue jadi elo, udah gue putusin dari lama tuh cowok. Baik sih, tapi nggak punya pendirian dan hidupnya disetir omongan orang sama tren TikTok.” Begitulah tanggapan Rie saat Vani mengabarkan berita putus.</p><p>“Ngomong-ngomong, Devano kemarin ketemu gue di kondangannya Ega. Dia nanya lo kenapa nggak dateng. Temen-temen yang lain juga nanyain tau, Van.” Rie mengabarkan.</p><p>“Kan gue udah bilang ke elo, kalo gue sakit perut,” ujar Vani. Itu tidak sepenuhnya salah. Tiap kali ada kesempatan yang membuat ia bertemu dengan teman-teman semasa kuliah, Vani merasa mulas dan gelisah. Ia sudah panik duluan membayangkan pertanyaan semacam ‘Vani sekarang kerja di mana?’ sangat sulit rasanya untuk menjawab jika ia kerja di sini saja. Satu kelas tahu betapa ambisnya dia untuk bisa masuk Big 4.</p><p>“Lo sebenernya boong kan? Lo nggak sakit perut.” Mata Rie menyipit dengan tatapan menyelidik.</p><p>“Gue beneran mules. Tanya aja Gusti kalo nggak percaya. Kan dia yang jemput gue.”</p><p>“Kata Gusti sakit perut lo bukan karena salah makan. Tapi trauma psikologis.”</p><p>“Sotoy. Emang dia anak psikologi. Sok-sokan diagnosis.” Vani mengambil tas nya di atas meja dan berdiri untuk bersiap pulang ketika melirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam petang.</p><p>“Nikahannya Salwa minggu depan dateng, Van. Lo udah kehabisan alasan buat nggak dateng. Semua sakit udah pernah lo coba ‘kan.” Rie meledek Vani.</p><p>“Iya bawel. Gue usahain dateng kalo nggak mules.”</p><p>“Nggak perlu cemas berlebihan. Mereka nggak akan nanya hal-hal yang lo takutin kok.”</p><p>Vani mengangguk mengiyakan supaya cepat. Orang-orang yang ia kenal selalu terbagi ke dalam dua sisi ketika melihat keputusan yang Vani ambil. Yang menyayangkan keputusan Vani untuk tinggal di sini dan yang memuji karena ia bersedia mengorbankan mimpinya demi menjaga ibu yang sudah sepuh. Mendengar dua pendapat berbeda dari orang-orang membuat Vani merasa berdiri di persimpangan jalan yang dipenuhi pertanyaan.</p><p>Jadi apakah ia masih bisa disebut berhasil, meskipun tidak meraih impiannya? Atau ia memang gagal?</p><p>Entahlah. Vani masih berusaha mencari jawabannya.</p><p>Vani keluar dan berpamitan kepada papi Rie. Ia menatap langit yang warna jingganya perlahan meredup, sekaan ikut menyimpan segala letih dan beban emosional yang ia tanggung setahun terakhir. Warna jingga yang membara perlahan digantikan warna ungu pucat yang memancarkan aura hening yang pekat. Vani selalu suka suasana pergantian sore ke petang. Rasanya, seluruh lelah yang ia rasakan hari itu, ikut hilang bersama dengan memudarnya kehadiran matahari. Ia kemudian menatap sekeliling, dengung suara tukang kue putu terdengar samar, terbawa angin yang berhembus dengan pelan hari ini. Lapangan di depan rumah Rie dipenuhi anak-anak yang berlarian selepas pergi mengaji. Pada akhirnya, menyesal atau tidak menyesal dengan keputusan yang ia ambil, hidup yang sekarang adalah hidup yang harus ia jalani dengan baik.</p><p>Vani menghela napas dan mencoba memberikan afirmasi positif ke dirinya sendiri seperti yang diajarkan Rie, walau rasanya masih garing dan canggung.</p><p><em>“You did great today, Van. as always.”</em></p><p><em>Inspired from BTS’s song. Life Goes On</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6badef1e5472" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[People Come and Go, That’s Normal and Always Happen]]></title>
            <link>https://medium.com/@aesha_7584/people-come-and-go-thats-normal-and-always-happen-e226a5a7c9b1?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e226a5a7c9b1</guid>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Iniaesha]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 14 Oct 2024 15:39:41 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-10-14T15:39:41.802Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*Yrbaj8NI6-_tG0yw" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@ep_petrus?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Edwin Petrus</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Berapa banyak orang yang pernah singgah di kehidupan ini?</p><p>100? 200? 300?</p><p>Yang pernah jadi bagian paling akrab tapi sekarang <em>lost contact</em>?</p><p>50? 100?</p><p><em>One of the hardest moment is seeing people come and go -</em>Christoper Bang.</p><p>Pertama kali aku sadar kalau manusia itu nggak bisa terus bareng-bareng selamanya waktu aku pisah sama temen SD yang udah enam tahun bareng dan kami sering banget sebangku berdua. Meskipun kami sekolah di SMP yang sama, terus kelasnya sebelahan, bahkan pas kelas delapan dan sembilan sekelas lagi, kami nggak bisa sedekat waktu masih SD dulu.</p><p>Awalnya aku sempet ngerasa ini aneh, kenapa nggak bisa deket kayak dulu? Kenapa ujung-ujungnya punya temen deket yang baru? Pertanyaan itu aku biarin lewat sambil lalu. Kemudian aku lulus SMP, dan mulai <em>lost contact </em>sama sebagian besar temen SMP termasuk dia. Kejadian ini berulang sampai aku lulus SMA.</p><p>Semasa sekolah-kuliah kalian pasti akrab sama siklus yang aku ceritain barusan. Kenalan-akrab-lulus-<em>lost contact </em>adalah hal yang sangat lumrah terjadi. Beberapa mungkin masih akrab sampai sekarang, tapi sebagian besar, enggak ‘kan?</p><p>Sebagai manusia yang selalu ingin tahu seluk-beluk hubungan manusia, kenapa manusia harus datang dan pergi cukup mengganggu perasaan aku.</p><p>Satu hari aku beli es dawet di taman sama temenku, terus dia bilang gini, “Syah. Salah satu bentuk seleksi alam itu kita berhenti ketemu sama orang setelah masa mereka di hidup kita udah habis.”</p><p>Di umur 21 (waktu itu aku masih segitu) aku akhirnya tahu itu apa yang dimaksud ‘semua orang ada masanya’</p><p>Manusia adalah makhluk yang sangat dinamis. Pada satu keadaan, kita semua berkembang dan berubah. Aku pikir salah satu alasan kita nggak selalu bisa bareng-bareng terus sama mereka yang berasal dari masa lalu adalah karena kita belum tentu bisa memaklumi perubahan satu sama lain.</p><p>Kayak yang temenku bilang, seleksi alam. Orang yang udah nggak sejalan sama kita, perlahan pergi dan yang tetap tinggal sama kita yang masih sejalan sama kita. <em>In the end, </em>kita ketemu sama orang-orang yang bisa menerima perubahan kita di masa sekarang. Orang yang bisa menerima perubahan kita di masa sekarang juga nggak selalu orang baru, contohnya temenku tadi, kami malah baru akrab sekarang pas dia selesai studi, padahal udah kenal selama hampir 10 tahun. Orang yang bersama kita hari ini, bisa jadi memang orang baru, bisa juga orang yang udah ada sejak lama dan selalu terikat sama kita.</p><p>Point terakhir dari tulisan ngalor-ngidul ini adalah..</p><p>Menerima bahwa kita nggak bisa selalu sejalan menandakan kita sudah beranjak dewasa dan belajar lebih bijak. Yang perlu digaris bawahi, nggak akrab lagi, bukan berarti saling benci. <em>Masa kita cuma udah habis. </em>Mari belajar untuk tetap berhubungan baik sama orang-orang yang pernah ngasih kenangan berharga di hidup kita dan belajar untuk ngasih kenangan yang berharga pula buat orang-orang yang ada di hidup kita sekarang. Perpisahan kadang menyedihkan, tapi memang lumrah terjadi. <em>People come and go, that’s fine and always happen, then, enjoying your present life!</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e226a5a7c9b1" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Things I’Ve Learned While Becoming An Adult: Adulthood is About Making Peace With the Confussion…]]></title>
            <link>https://medium.com/@aesha_7584/things-ive-learned-while-becoming-an-adult-adulthood-is-about-making-peace-with-the-confussion-6f16fbb95888?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6f16fbb95888</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Iniaesha]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 14 Aug 2024 13:37:06 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-08-14T13:37:06.595Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*CtUg0qIO8WtNkwQn6Lgvdw.jpeg" /></figure><h3>Things I’Ve Learned While Becoming An Adult: Adulthood is About Making Peace With the Confussion Within</h3><p><em>When i was teenage</em>, aku selalu melihat orang dewasa sebagai sosok yang keren. Bisa buat keputusan sendiri tanpa perlu tanya ke Ibu, pergi kerja, punya uang sendiri. Di mata anak berusia sepuluh tahun kala itu, selain pengin jadi reporter, aku juga pengin segera beranjak dewasa.</p><p><em>I think, most of us</em>, tumbuh besar dalam gaya pengasuhan yang sama. Kita tumbuh besar dengan duduk di jok belakang mobil, sementara orang tua kita pengemudinya. Orang tua punya peran lebih besar dalam pengambilan keputusan dalam hal-hal yang ada di hidup kita. Kala itu, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh diarahkan oleh orang tua. Pilihan yang kita punya cenderung terbatas dan kita melihat dunia dengan hitam putih. Selama masa pendidikan, kita punya goals yang jelas. Belajar rajin supaya nilai UNBK bagus, kuliah dengan baik dan rajin supaya bisa berkembang dan dapet IPK bagus.</p><p>Kemudian kita lulus.</p><p>Ada satu kalimat yang aku baca di Twitter, bunyinya gini, ”<em>Life After Graduation </em>itu lebih memusingkan<em> dari pada life after breakup.”</em></p><p><em>I totallly agree.</em></p><p>Aku sempat berdiskusi dengan salah satu sobat <em>online</em>ku, Hey Sil, hari ini di kerjaan lembur nggak? Meskipun kami berdua kayak hidup di dunia yang berbeda dan kadang bersebrangan pendapat, kami sepakat soal satu hal.</p><p>Beranjak dewasa jika diimajinasikan rasanya seperti dilemparkan ke tengah laut sendirian setelah sebelumnya menumpang kapal besar yang dihuni oleh aku, keluarga dan teman-temanku. Berbekal nasihat yang kadang masuk telinga kanan keluar telinga kiri, aku harus menemukan apa tujuan dan visi hidup.</p><p>Mendadak semuanya terasa samar dan kabur. Dunia tidak lagi hitam putih dan kita linglung. Pertanyaan semacam, “Mau jadi apa?” dan “Mau bagaimana ke depannya?” terasa bagai hantu yang mengikuti dan mengelilingi kita ke mana pun kita pergi.</p><p>Semuanya terasa memusingkan karena dalam sekejap, mendadak kita punya semiliar pilihan dan semiliar resiko di dalamnya.</p><p>Seandainya jadi dewasa ada tombol <em>cancel</em>, aku kayaknya bakal pencet tombol <em>cancel</em> dan <em>prepare</em> dulu. <em>But, no. There’s no cancel tombol.</em></p><p>Maka, satu-satunya cara untuk berhenti bingung dan survive dengan kehidupan ini adalah menjawab semua pertanyaan yang berputar di kepala. Tahun-tahun ke depan, mungkin akan makin banyak kebingungan yang muncul, tapi setidaknya kita tahu, cara keluar dari kebingungan tersebut adalah mencari jawaban.</p><p>Ada satu kutipan dari buku Kafka On The Shore karya Murakami yang aku pikir cukup relate untuk kita yang beranjak dewasa ini.</p><p><em>“In everybody’s life, there’s a point of no return. And in a very few cases, a point where you can’t go forward anymore. And when we reach that point, all we can do is quietly accept the fact.”</em></p><p>Menjadi dewasa adalah momen yang tidak bisa kita putar balik, ketika momen tersebut datang, yang bisa kita lakukan adalah pelan-pelan menerima fakta tersebut dan mulai berdamai dengan semua hal tidak nyaman di dalamnya.</p><p><em>Being adult is making peace with confussion within.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6f16fbb95888" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[A short story by Aesha]]></title>
            <link>https://medium.com/@aesha_7584/a-short-story-by-aesha-106d010b07ef?source=rss-fa85fb24ddcf------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/106d010b07ef</guid>
            <category><![CDATA[angst]]></category>
            <category><![CDATA[cerita-pendek]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Iniaesha]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 29 Jun 2024 15:17:41 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-06-29T15:17:41.407Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*Y1ltUcCJrO_jk1Ob" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@mtchllhrtly?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Mitchell Hartley</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>A short story by Aesha</p><h3>She’s in the Rain</h3><p>Tidak ada yang pernah memukulnya lebih telak daripada kematian.</p><p>Begitulah yang bisa Zac simpulkan ketika jendela kafe di sebrang jalan menampilkan sosok yang memenuhi kepalanya beberapa waktu terakhir.</p><p>“Azura kadang keluar dari rumah kok. Ya walau cuma ke kafe buat beli kopi.”</p><p>Informasi yang Zac dapat dari Rima, adiknya yang bersahabat dengan Azura awalnya membuat Zac merasa lega. Karena berpikir, setelah kesedihan yang amat panjang, Azura akhirnya mau keluar dan menghadapi dunia lagi. Rupanya, kesimpulan tersebut terlalu cepat diambil. Azura memang keluar dan membeli kopi.</p><p>Tapi tidak pernah diminum sampai tandas.</p><p>Zac sudah mengamatinya dua kali. Gadis itu hanya duduk, memandang gelas kertas kopi dalam diam dan baru akan meminumnya seteguk, lima belas menit kemudian. Lalu pulang tanpa pernah menghabiskannya.</p><p>Pemandangan yang ada di hadapan Zac berganti. Pikirannya mengantarkan Zac ke sebuah rumah duka di jalan Pattimura. Ia datang bersama dengan Rima. Sementara Rima masuk ke dalam, Zac duduk di luar bersama para pelayat laki-laki. Tatapan Zac terpaku pada perempuan yang baru datang, ia mengenakan pashmina yang hanya disampirkan begitu saja. Wajahnya begitu pucat dengan tatapan kosong yang terpaku pada sesosok manusia yang kini sudah menjadi jenazah di ruang tamu kediaman tersebut. Rambut basah yang sedikit mencuat dari pashmina yang dipakai, membenarkan kabar yang ia dengar dari Rima tadi. Azura bahkan mandi di bandara dan langsung ke sini tanpa mampir ke rumah. Setelah menempuh perjalanan melelahkan menaiki burung besi terbang.</p><p>Azura tidak menangis. Di tengah pemakaman yang riuh dengan isak tangis keluarga dan teman-teman mendiang, Azura bahkan tidak meneteskan setitik air mata. Ia pulang begitu saja tanpa berpamitan kepada siapapun. Namun, tanpa air mata yang mengalir, senyum yang masih sempat Azura lemparkan ketika bersemuka dengan Zac, dan justru Rima yang malah menangis di bahunya, Zac bisa menyimpulkan satu hal.</p><p>Kesedihan yang terlalu mendalam, kadang membuat kita merasa seperti bermimpi untuk beberapa saat.</p><p><em>Kematian Raid tidak nyata. Itu tidak pernah terjadi. Aku akan segera bangun dari mimpi buruk Ini.</em></p><p>Mungkin itulah yang sedang Azura coba yakinkan kepada dirinya sendiri. Bahwa Raid tidak benar-benar mati.</p><p>Pada dasarnya, Azura memang bukan sosok yang ceria. Jika diibaratkan sebagai sebuah tanaman, Azura lebih seperti sebuah pohon berdaun lebat tanpa bunga. Tidak menarik, namun jika ada ada yang bersandar padanya, akan memberikan keteduhan dan nyaman. Azura kuliah di Melbourne bersama dengan Rima. Meninggalkan Raid dan seluruh keluarganya di Indonesia. Tidak pernah ada masalah berarti selama hampir empat tahun ia kuliah di Melbourne dan semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana. Tahun keempat mungkin tahun yang cukup sulit untuk Azura, namun sejauh ini ia masih merasa baik-baik saja.</p><p>“Ra, kalau aku mati, kira-kira kamu kenapa-napa nggak?”</p><p>Pertannyaan tersebut terlontar dari mulut Raid saat mereka sedang berbincang via telepon. Alih-alih menganggapnya serius, Azura justru melemparkan kembali pertanyaan tersebut kepada Raid.</p><p>“Ya kamu pikir aja sendiri. Kalo aku mati duluan, kira-kira kamu bakal kenapa-napa nggak?”</p><p>“Bakal kenapa-napa sih, pasti,” jawab Raid pada saat itu. “Aku nggak bisa bayangin nggak ada kamu di masa depan.”</p><p>“Ya udah. Sama aja. Aku juga nggak bisa bayangin. Kalo aku nikah nanti, kamu yang harus nyanyi di nikahanku.”</p><p>Perbincangan yang tidak nyaman tersebut segera berganti topik. Perbincangan mengenai kematian menjadi angin lalu yang tak pernah Azura anggap serius.</p><p>Mungkin itulah penyesalan pertama untuk Azura.</p><p>“Ra, aku semalem mimpi ketemu ibuku. Tapi Ibu nggak ngomong apa-apa, padahal aku kangen banget sama suaranya,” ujar Raid di lain kesempatan.</p><p>Meskipun diucapkan dengan nada ringan tanpa beban, Azura hampir menangis saat mendengar Raid mengatakan jika ia merindukan ibunya. Berusaha sebaik mungkin menahan tangis, Azura menimpali ucapan Raid. “Aku juga kangen sama ibu kamu. Beliau selalu kasih aku es krim padahal sama mama aku nggak boleh terlalu sering makan es krim hahaha.”</p><p>Wisata masa lalu disaat ibu Raid masih hidup mengalir dengan sendirinya. Bagi Azura, ibu Raid sudah seperti ibu kedua baginya. Absennya sosok ibu karena Mama yang memilih menjadi wanita karier Azura terisi oleh kehadiran ibu Raid. Masih segar di ingatan Azura, ia menangis begitu lama seolah Mama yang meninggal dan justru Raid yang memeluk menenangkan dirinya. Padahal harusnya Azura yang menghibur Raid. Azura menghela napas. Kejadian tersebut ternyata sudah hampir tiga belas tahun yang lalu.</p><p>“<em>I told my mom i feel so tired but she just smile and left me.</em>”</p><p>Azura paham betul kesulitan macam apa yang sedang dihadapi Raid. Meninggalkan karier renangnya yang gemilang karena ego orang tua, mengambil jurusan yang tidak ia sukai dan berusaha mati-matian bertahan di jurusan tersebut bukanlah hal yang mudah. Azura sendiri menyukai jurusan yang ia ambil namun tetap merasa lelah dan kesulitan. Kala itu, satu-satunya kalimat penghiburan yang bisa Azura berikan hanyalah,</p><p>“Sabar ya, Id. <em>i know it’s hard for us.</em> Tapi bisa yuk. Kita udah sampe di ujung jalan. Dikit lagi selesai.”</p><p>Raid tidak menanggapi apapun. Pemuda itu justru mengalihkan percakapan.</p><p>Azura selama ini selalu berpikir jika tidak ada yang mengenal Raid lebih baik dari dirinya. Azura dan Raid sudah berteman sejak mereka belum bisa berjalan. Rumah mereka bersebelahan kala itu. Sampai SMA, Azura dan Raid seperti anak kembar yang tidak terpisahkan. Jika Azura sakit, Raid biasanya juga ikut sakit. Dari sanalah terbentuk prasangka di kepala Azura, jika apapun yang terjadi pada Raid, Azura akan tahu karena ikatan diantara mereka sekuat itu.</p><p>Keyakinan Azura selama bertahun-tahun rubuh seperti istana pasir yang tersapu ombak pantai saat berita paling tidak terbayangkan tentang Raid datang lewat perantara ibunya sendiri.</p><p>“Ra… kamu…masih… di Singapura atau udah balik ke Aussie? ” Azura mengernyit mendengar suara mamanya yang putus-putus. Ia yang sedang bersantai sambil membaca buku langsung bangkit dari kursi saat isak tangis terdengar melalui speaker ponsel.</p><p>“Aku masih di Singapura, Ma. Kenapa?” Azura berada di Singapura untuk menghadiri acara pernikahan sepupunya dan baru berencana besok pulang ke Melbourne. Ia tidak sempat mampir ke Bandung karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.</p><p>“Raid, Ra…” isak tangis terdengar makin jelas.</p><p>Kepanikan menyergap Azura secepat hembusan angin begitu mendengar mamanya terisak lebih keras. Tidak banyak hal yang bisa membuat wanita keras hati itu menangis. “Raid kenapa, Ma?”</p><p>“Kamu… bisa pulang sekarang nggak? Raid meninggal, Ra. Nanti Papa jemput di Bandara.”</p><p>Azura menutup telepon tanpa mengatakan apapun kepada mamanya. Dunia di sekitar Azura berjalan dengan begitu lambat, pikirannya berkelana ke segala waktu. Siapa yang meninggal? Kenapa meninggal? Ia menepis tangan tantenya yang menyuruh Azura untuk tidur dulu karena penerbangan paling pagi masih jam enam pagi besok. Berjalan dengan gontai, Azura duduk di ranjang dengan menekuk kedua lutut dan menjadikannya tumpuan dagu. Siapa tadi kata mama yang meninggal? Kenapa meninggal? Kenapa mama menangis? Raid nggak mungkin meninggal. Suara tante yang mencoba menyuruh Azura tidur terasa seperti suara lebah yang sedang berdenging di telinga.</p><p>Peristiwa -peristiwa berikutnya benar-benar seperti mimpi kala itu. Azura diantar ke Changi <em>airport</em> oleh tantenya. Kemudian dijemput papa dan cuci muka di bandara. Rumah duka sudah cukup ramai saat Azura tiba. Rima meraih tangannya dan membimbing Azura untuk duduk di antara dirinya dan mama Azura. Ekor mata Azura melirik Mama yang bermata sembab. Azura baru bisa melihat wajah Raid saat salah satu keluarganya membuka penutup wajah jenazah. Alis Raid masih setebal terakhir kali mereka bertemu saat pemakaman nenek buyut Azura tiga bulan yang lalu. Bulu mata lentik nan rapi menaungi matanya yang tertutup rapat.</p><p><em>Memento Mori.</em></p><p>Meskipun sudah melihat jasadnya secara langsung, Azura masih kesulitan untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Kenapa Raid meninggal? Bukannya Raid tahu, betapa terpukulnya mereka jika salah satu pergi lebih dulu?</p><p>Raid kan sudah janji, akan menyanyikan lagu Beautiful in White di pernikahannya nanti.</p><p>Atau ini mimpi?</p><p>Azura susah tidur, jadi bermimpi buruk?</p><p>Ini pasti mimpi.</p><p>Mamanya yang keras hati itu, mana mungkin menangis, Tante Emina yang cuek itu mana mungkin menata pakain Azura ke dalam koper dan mengantarnya ke bandara. Papa yang super sibuk itu harusnya kan bekerja hari ini. Kenapa menjemput Azura padahal biasanya menyuruh supir. Rima lebih tidak masuk akal lagi. Perempuan yang paling gengsi menangis, tiba-tiba menangis.</p><p>Harusnya ini mimpi, karena semuanya berjalan terlalu mulus dan tidak realistis.</p><p>Azura hanya perlu mengikuti mimpi ini dan menunggu alarmnya berbunyi.</p><p>Sebuah pamflet ungkapan duka cita yang menyertakan nama dan foto Raid di grup alumni SMA menyentak dan menyeret Azura keluar dari ilusi yang ia ciptakan. Raid benar-benar sudah meninggal. Azura bahkan menyaksikan saat jenazah Raid memasuki liang lahat. Azura bangun dari kursi yang entah sejak kapan ia duduki, menghampiri mamanya yang duduk tertunduk di meja makan.</p><p>“Mama…”</p><p>Mama Azura mengangkat kepala. “Ya, Ra?”</p><p>“Aku…Raid…” Rasa sesak di dada menyeruak, pelupuk mata Azura mendadak panas. Sangat sulit untuk melanjutkan kalimat selanjutnya seolah ada batu yang mengganjal suaranya.</p><p>“Aku udah nggak bisa ketemu Raid lagi?”</p><p>Gelengan kepala dibarengi air mata yang kembali mengalir menjadi jawaban tanpa suara.</p><p>Dalam semua skenario buruk yang mungkin terjadi di hidup Azura, Raid meninggalkannya terlebih dulu tidak pernah ada di daftar tersebut. Keyakinan bahwa ia dan Raid akan hidup sangat lama dan selalu bersama sangat kuat. Kematian adalah sebuah kepastian. Salah satu dari mereka akan berpulang lebih dulu, Azura tahu itu.</p><p>Kenyataan bahwa waktu itu datang sekarang–bukan di masa depan– memukul Azura begitu telak.</p><p><em>“Ra, aku pengen banget deh, bikin tatto. Tulisannya ini.”</em></p><p><em>“Nggak boleh. Bikin tatto kan haram.”</em></p><p><em>“Huft, iya juga, sih.”</em></p><p>Ingatan Azura tiba tiba memutar kenangan percakapan mereka setahun yang lalu.</p><p><em>Memento Mori.</em></p><p>Jika boleh membuat tatto, kalimat itulah yang ingin Raid jadikan sebagai tatto.</p><p>Apa itu artinya, gagasan ingin mati sudah ada sejak setahun yang lalu?</p><p>Dan Azura tidak pernah menyadarinya? Teman macam apa sebenarnya dia ini? Kenapa ia tidak pernah bertanya kenapa Raid ingin membuat tatto dengan tulisan <em>memento mori</em>. Kenapa tidak pernah terlintas di kepalanya jika pertanyaan-pertanyaan <em>random </em>Raid tentang kematian mengarah pada hal-hal tertentu?</p><p>Fakta bahwa Raid meninggal karena tenggelam di kolam renang padahal pemuda itu mantan atlet renang mengantarkan Azura pada kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah terlintas di kepala. Penyesalan demi penyesalan mengungkungnya sedemikian rupa. Banyak sekali opsi perandaian yang muncul di kepalanya. Andai saja Azura tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi pada Raid, andai saja ia pulang ke sini dan menemani Raid sehingga dia tidak perlu berenang. Andai ia bisa meyakinkan ayah Raid untuk membiarkan Raid melanjutkan karier renangnya alih-alih masuk kuliah dengan jurusan yang tidak ia inginkan. Andai saja Azura tidak perlu kuliah jauh-jauh ke Australia dan kuliah di sini saja menemani Raid.</p><p>Semua ini mungkin bisa dicegah. Raid mungkin masih bersamanya. Hidup sangat lama, menyanyikan lagu Beautiful in White di pernikahannya nanti.</p><p>Penyesalan dan kesedihan semakin mencekik dirinya tatkala ia akhirnya menyadari, ribuan perandaian tidak akan pernah mengembalikan nyawa Raid. Pemuda itu sudah terlanjur pergi tanpa pernah berpamitan pada Azura.</p><p>Berminggu-minggu Azura hanya berbaring di kasur. Ia makan ketika perutnya lapar, mandi ketika disuruh. Sisanya memilih untuk tidur seharian meskipun papanya meminta Azura untuk keluar sesekali. Kuliah yang tinggal sedikit lagi, ia tinggalkan begitu saja. Mamanya mengajukan cuti atau apa, terserah, Azura tidak peduli. Keluar rumah hanya akan mendorongnya ke dalam jurang kesedihan yang lebih dalam. Sudut rumah ini penuh dengan jejak Raid. Begitu keluar gerbang, ada rumah lama Raid. Ada jalanan terbentang yang selalu ia lalui bersama Raid. Tidak ada tempat di kota ini yang luput dari jejak Raid. Melalui hari ini menuju hari berikutnya membuat Azura merasa hampir mati terbunuh oleh kenangan yang bertebaran dan mendatangkan kepedihan mendalam.</p><p>Membeli segelas kopi yang biasa dibeli Raid kemudian merenungkan mengapa Raid tidak pernah mengatakan apapun kepadanya. Seringkali, Azura membuka ruang percakapan dan membaca riwayat percakapannya dengan Raid. Mencoba mencari apakah ada sebuah kode, atau apapun itu yang Raid tulis dan mengarah pada keinginan meminta pertolongan. Ketika merasa tidak menemukan apapun Azura meneguk sedikit kopi tersebut kemudian ia buang karena menurut Azura rasa pahitnya terlalu menyengat.</p><p>Kenyataan bahwa Raid beberapa waktu terakhir semakin jarang membahas kehidupan pribadinya menjebak Azura ke dalam prasangka jika dirinya adalah teman yang tidak berguna. Penyesalan mengikatnya semakin erat.</p><p><em>Kalau aku lebih sering nanyain kabar, Raid mungkin bakal berani cerita.</em></p><p>Perandaian tersebut mendorong Azura makin jauh terjebak ke dalam lubang penyesalaan dan kesedihan.</p><p>Untuk kedua kalinya di minggu ini, Zac kembali melihat Azura duduk melamun di kursi luar yang disediakan kafe masih memegang gelas kertas Wajahnya pucat, murung, dan tidak bergairah. Kebahagiaan seolah sudah tersedot, pergi bersama dengan seseorang yang sudah pamit dari bumi. Pemuda tinggi itu memberanikan diri untuk menyapa dan duduk di samping Azura. Hanya duduk. Tanpa mengatakan apapun. Sejak awal niatnya memang hanya menemani Azura. Zac pikir, ia sudah cukup lama membiarkan Azura menjalani duka berkepanjangan ini sendirian.</p><p>“Memento Mori itu punya arti lain nggak, Bang?” Azura tiba-tiba buka suara.</p><p>“Enggak kayaknya. Memento Mori itu kan kalimat dari Bahasa Latin yang artinya kita semua akan mati. <em>You’re knew it. </em>Kematian itu nggak pernah bisa kita prediksi, Zura. Kalimat itu benar. Kita semua akan mati. Kamu, aku–”</p><p>“Jangan ngomong gitu.” Azura melirik Zac dengan wajah tertekuk.</p><p><em>“You can’t deny it. </em>Siap atau enggak. Kematian itu sesuatu yang mutlak, Zura. <em>soon or later </em>kamu harus bangkit. <em>Hey, life must go on, sweety.</em>”</p><p>“Aku ngerasa nggak sanggup,” ujar Azura lemah.</p><p>Zac meraih bahu Azura, memutar tubuh gadis itu untuk menghadap dirinya. Perbedaan tinggi badan membuat Zac harus sedikit membungkuk untuk bisa menatap Azura tepat di manik matanya. “Aku tahu kamu sayang banget sama Raid. Kalian deket banget dan punya kenangan bareng-bareng seumur hidup kalian. Tapi yang sayang samu kamu juga banyak, Zura. Aku, Rima, Riena, mama papamu. Raid juga pasti sedih, Ra. Kalo dia liat kamu nyalahin diri kamu terus atas kematian dia.”</p><p>“Ya kalo dia sedih, harusnya dia nggak pergi duluan.” Azura memutar badannya, menghindari tatapan mata Za, kemudian sebulir air mata akhirnya lolos setelah susah payah Azura bendung.</p><p>“Kita sama-sama nggak tau kejadian aslinya, Ra. Apa Raid sengaja tenggelam atau tenggelam beneran, kita nggak tahu. Yang bisa kita lakuin cuma doain dia.”</p><p>Azura menghela napas berat. Ruangan gelap dalam kepalanya mendapat setitik cahaya dari luar. Semua orang membiarkannya bersedih tanpa tahu bahwa kesedihan itu sudah menyeretnya terlalu jauh. Meskipun sedikit kesal, karena Zac berusaha menariknya kembali untuk menghadapi dunia luar, ketika Azura mulai merasa enggan keluar dan kehilangan hasrat akan apapun, Azura perlu berterima kasih pada pemuda itu.</p><p>Melihat Azura masih saja terdiam dengan tatapan kosong, Zac menggenggam jemari Azura dan berujar pelan. “Kalo kamu butuh waktu lebih lama, aku bakal temenin, Zura. <em>No matter how long time that you need. I will always on your beside. Always.</em>”</p><p>Jerat penyesalan yang mengikatnya begitu kuat perlahan mengendur. Bongkahan batu yang selama ini menyesaki dadanya perlahan terangkat. Kehadiran Zac menyadarkan Azura, selama ini mungkin ia merasa bersyukur orang di sekitar membiarkannya berduka, namun keberadaan seseorang di sisinya untuk memastikan Azura tidak terlalu jauh terjebak dalam duka ternyata sama penting.</p><p>Keduanya membisu dalam waktu lama. Membiarkan suara angin, cicitan suara burung dan suara-suara lain mengambil alih percakapan mereka.</p><p>Inspired from She’s in the Rain by The Rose</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=106d010b07ef" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>