<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Aisyah nuzul on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Aisyah nuzul on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul?source=rss-605448bae096------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/0*_YNxvVWOtn-l12yu</url>
            <title>Stories by Aisyah nuzul on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul?source=rss-605448bae096------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 15 May 2026 19:22:48 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@aisyahnnuzul/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[aku lelah di rumah]]></title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul/aku-lelah-di-rumah-0b8cee3c07ae?source=rss-605448bae096------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0b8cee3c07ae</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Aisyah nuzul]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 11 May 2026 10:44:52 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-11T10:44:52.099Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>aku lelah di rumah tapi ia tempatku pulang.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0b8cee3c07ae" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Selama ini aku salah]]></title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul/selama-ini-aku-salah-d60b398ed094?source=rss-605448bae096------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d60b398ed094</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Aisyah nuzul]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 07 May 2026 15:49:04 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-07T15:49:04.155Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin selama ini aku salah untuk menilai orang lain telah jahat dengan tindakan kasar dan semena mena. tapi aku lupa untuk muhasabah dulu, kenapa ia begitu ke aku?</p><p>jangan jangan aku nggak benar benar memberi rasa aman padanya.</p><p>atau aku justru menaruh ekspektasi pada kadar yg tidak tepat.</p><p>jangan-jangan..</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d60b398ed094" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Si Bungsu Mau Cerita]]></title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul/si-bungsu-mau-cerita-09381e714f38?source=rss-605448bae096------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/09381e714f38</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Aisyah nuzul]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 28 Sep 2025 16:04:27 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-28T16:04:27.313Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>halo kakak, ibu, bapak .. sayangku</p><p>Ku harap tulisan ini pernah sampai pada keluarga tersayangku. Kata orang, Ga kerasa si kecil udah besar. Aku udah 20 tahun dan maret nanti menginjak 21 tahun. Artinya apa? Iya, aku sebaiknya sudah lebih dewasa (kata orang yang lebih tua dariku). Aku tertawa tiap tahun mendengar kalimat ‘lebih dewasa’ ketika ulang tahunku.</p><p>Sayangku..ibu dan bapak, si bungsu ini sebenernya sering overthingking tentang kalian. Kalian mendidik ku untuk menjadi bungsu yang manja. Ku pikir dengan sifat manja dan periang akan selalu menyenangkan hati kalian..tapi nyatanya enggak. Ketika kakak udah menikah kalian tiba-tiba menaruh jiwa kakak yang dewasa padaku. Di rumah tinggal bertiga dan kalian tiba-tiba menjadikanku anak tunggal yang bisa diandalkan. Padahal selama ini nggak ada training untuk jadi anak tunggal tuh. Dulu waktu kakak masih di rumah, kalian mengabaikanku untuk menjadi manusia dewasa. Aku tak sehebat kakak dan selalu di posisi ‘apa-apa harus dibantu kakak’. Kakak capek dan aku semakin bodoh. Aku merasa dipukul hebat ketika kalian menjadikanku anak tunggal.</p><p>Bisakah kalian menemaniku untuk berproses menjadi anak tunggal seperti yang kalian harapkan? Beri juga aku ruang untuk mengeluh tanpa kalian bandingkan dengan kakak. Perkara kehidupanku lebih mudah dibanding kakak bukan berarti kalian bisa menyepelekanku. Dulu kalian sibuk mencari uang untuk memenuhi finansialku sehingga aku tumbuh dengan berkecukupan. Lantas kalian sebut si manja. Padahal aku ingin disayang dan ditemani sebagai anugrah. Sayangku..kalian sadar nggak? Euforia senang punya anak rasanya udah habis di kakak semua (apalagi kakakku 2) dan aku hanyalah sisa yang awalnya tidak diharapkan hadir.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=09381e714f38" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Jadi dewasa itu apa? seperti siapa?]]></title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul/jadi-dewasa-itu-apa-seperti-siapa-dae161f8abb0?source=rss-605448bae096------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/dae161f8abb0</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Aisyah nuzul]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 17 Sep 2025 17:18:01 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-17T17:18:01.710Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Jadi dewasa itu apa? seperti siapa?</p><p>sekali lagi pikiranku melesat ketika malam tiba. Menerawang jauh dari masa lalu menuju gerbong pendewasaan.</p><p>Apa dewasa disebut ketika kita sudah menghasilkan uang sendiri? apa dewasa itu ketika kita berani mengalah? Atau dewasa itu menjadi seseorang yang senantiasa berfikir logis? objektif?</p><p>entahlah… barangkali definisi tidak begitu penting saat ini, dibanding memaknai proses pendewasaan itu sendiri.</p><p>Lantas apa masalahnya?</p><p>Aku cuma merasa sejauh ini belum menjadi seseorang yang dewasa. Tidak sedih kok, sedikit merefleksikan ulang aja. Selama aku sekolah dari tk sampai kuliah, dimana titik balik nya? Kapan aku benar-benar berubah? Aku terus menunggu hingga tak sadar terpaku pada romantisasi kehidupan di film-film. Dimana selalu ada identifikasi-konflik-resolusi. Aku mencari dimana tahap kedua ku? Melihat teman-teman lain yang mengembara jauh dan berani tak hanya melangkah tapi mengarungi! Sedang aku merasa masih di titik -1.</p><p>Aku harus pergi juga! Aku harus berani dengan konsekuensi apapun di masa depan. aku harus berani tidak disukai dan bersahabat dengan ketidak nyamanan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=dae161f8abb0" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[sekali lagi sebelum tidur,]]></title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul/sekali-lagi-sebelum-tidur-8e09030d245a?source=rss-605448bae096------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8e09030d245a</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Aisyah nuzul]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 24 Apr 2025 17:53:45 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-04-24T17:56:57.686Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>sekali lagi sebelum tidur,</p><p>kali ini aku kepikiran dengan lalu lalang teman-teman yang hadir menarik ku keluar dari zona aman. kalau di pikir, kok mereka mau ya? kok mereka percaya banget sih sama ais? Kok bersikap baik sama ais? siapa ais? ais seperti apa sih yang mereka kenal? dulu sedikit ovt perkara aku harus jadi ais yang seperti apa supaya ga dijauhi mereka.</p><p>Tapi sekarang, agaknya ovt semacam itu sia-sia. Justru aku menyadari bahwa mereka yang benar teman-temanku, orang-orangku, tidak datang membawa ekspektasi.</p><p>Aku sepakat dengan Albert Camus, “You give me more than I could ever deserve”</p><p>Terima kasih, kehadiranmu sangat berharga :</p><p>Khusni, Rissa, Chinta, Kilau, Nia, Nabila, Mila, Jasmine, Mas Ilham, Jeni, Icip, Aida, Nida, dan bersambung di larik selanjutnya..</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8e09030d245a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Selamat UTS di semester 6]]></title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul/selamat-uts-di-semester-6-e6b60b84e14e?source=rss-605448bae096------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e6b60b84e14e</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Aisyah nuzul]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 07 Apr 2025 14:45:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-04-07T14:45:26.960Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Udah berapa kali kita uts? wow udah 11 kali. Yah, meskipun beberapa matkul gada ujian tapi apa salahnya menyemangati kawan-kawan ku yang semakin sepuh ini?</p><p>Semester tua emang butuh mengirup udara lebih banyak karna kita bener-dipaksa menyelam. Waktu semester kecil, kita sih masih diajarin TEORI berenang jadi masih bisa ketawa ketiwi karna gaakan tenggelam. Nah sekarang ketika kita harus praktek di lautan biru yang dalam, aku berdoa supaya kita semua bisa! Nanti kalau dirasa mau tenggelam dan nafasnya mau habis jangan lupa liat disebelahmu. Jangan ragu buat raih tangan orang lain di sekitarmu yahh.. Begitu juga dengan kamu, kalau ada orang yang meraih tanganmu jangan ditepis dulu, coba diperhatikan meski sesaat. Pada dasarnya kita semua bisa menyelam tapi keberaniaan dan mental tiap orang tidaklah sama bukan?</p><p>Yang bisa kita lakukan adalah saling meyakinkan!</p><p>Mau ada ujian kek, sidang kek, atau skripsi kek… asal berdiri diantara orang-orang tersayang kita, sulut api semangat mereka bakal ikut menghangatkan kita kan? Meski kita padam setidaknya masih ada rasa hangat dan terang walau remang-remang. it’s okey kok kalau spirit kita tidak sebesar orang lain toh sama-sama MENYALA.</p><p>sampai sini udah semangat belum kawanku? kalau masih belum ayo kita lanjutkan tutur kata ini ahahha..</p><blockquote>kala ku berdiri di tanah Soegondo,</blockquote><blockquote>dan angin malu-malu mengibaskan ekornya,</blockquote><blockquote>siapakah dia yang punya nyala?</blockquote><blockquote>yang senyum dan tangisnya adalah anugerah.</blockquote><blockquote>Sungguh keberkahan karena mengenalnya.</blockquote><blockquote>itu, adalah teman ais</blockquote><p>/habis nulis puisi kok malu ya hwhwhw</p><p><em>Intine wae Is</em>, Ya pokoknya aku bersyukur sangat amat bersyukur dikelilingi orang-orang super baik kayak kalian gess…gada ekspektasi dan persaingan antar sesama. Spirit kalian dalam menghadapi masalah atau ujian di perkuliahan itu UNIK dengan cara masing-masing. And I banyak belajar from you oll, of course uts ga sebanding sama papi I lah. Life is still going on..tapi kamu berharga dalam situasi terburuk pun. I pun bingung tutur ini awalnya ngasih semangat uts tapi isinya kok beda.</p><p>Yang ingin dibilang ais dari fafifufufufafa diatas,</p><p>Hal-hal selalu bermakna ketika ada kalian ❤️❤️</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e6b60b84e14e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kungkang versi Etnografer?]]></title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul/kungkang-versi-etnografer-cce21280fa52?source=rss-605448bae096------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/cce21280fa52</guid>
            <category><![CDATA[sloth]]></category>
            <category><![CDATA[filosofi]]></category>
            <category><![CDATA[kungkang]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Aisyah nuzul]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 01 Mar 2025 14:53:48 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-03-01T14:53:48.593Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Bisa dibilang, sebuah refleksi setelah membaca buku “The Little Book of Sloth Philosophy” karya Jenifer McCartney.</p><p>Di titik ini aku sedang memutuskan utuk menambahkan versi kungkang dalam diriku. Tidak semua yang dikatakan dalam buku relate untuk dimanifestasikan namun sebagian, setidaknya menarik dicoba. Bisa jadi filosofi hidup kungkang akan menjadi pelarianku dalam ketidakberdayaan mengikuti arus dunia saat ini.</p><p>Tau nggak? Ternyata ga terlalu buruk jadi kungkang. Hidup kungkang bukan berarti bermalas-malasan dan tidak melakukan apapun. Dan aku baru menyadari ternyata selama ini, definisi “malas” dalam pikiranku terlalu sempit. Waitt.. siapa yang menciptakan standar kemalasan coba? sehingga kungkang dilabeling sebagai hewan pemalas di dunia. Dia cuma hidup dengan cara berbeda loh…dan dia bahagia?!</p><p>Layaknya seseorang yang berjalan lebih lambat dibanding yang lain. Dia cuma mau berkoneksi dengan lebih mendalam, melihat lebih detail dan intim. Pola ini mengingatkanku dengan pekerjaan seorang etnografer. Dia adalah seorang peneliti masyarakat dalam skala mikro dengan cara berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia akan tinggal bersama keluarga asing dan mengamati mereka dengan detail. Meskipun dinilai lambat namun keuletan dan kesabaran etnografer harus diapresiasi betul. Mereka bisa melakukan penelitian selama satu hingga 10 tahun! !</p><p>Di saat dunia menuntut manusia berjalan lebih cepat dan waktu seseorang untuk sekedar bersantai makin dipotong, seorang etnografer justru berjalan perlahan sambil mengamati orang lain kemudian mencatatnya. Etnografer seolah menjadi penonton rutinitas masyarakat. Ia berada diluar jalur realitas serta tuntutan kehidupan masyarakat. Bukankah keren menjadi seorang etnografer? kamu bersikap santai, tidak terpengaruh cara kerja dunia yang kejam, justru kamu yang menulis bagaimana cara dunia yang kerjam itu bekerja.</p><p>ehh.., topik kungkang ini malah mengalir ke topik antropologi haha.</p><p>aku pikir akan membahas per-kungkang-an ini lagi lain kali, ada film yang mau ku tonton.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=cce21280fa52" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Refleksi mungil di Kelas “Konflik”]]></title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul/refleksi-mungil-di-kelas-konflik-ac01283205be?source=rss-605448bae096------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ac01283205be</guid>
            <category><![CDATA[diskusi]]></category>
            <category><![CDATA[refleksi]]></category>
            <category><![CDATA[epistemic]]></category>
            <category><![CDATA[sosial]]></category>
            <category><![CDATA[konflik]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Aisyah nuzul]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 14 Feb 2025 15:50:20 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-02-14T15:50:20.855Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Berdiskusi mulai dari kelompok kecil hingga diskusi besar di kelas berhasil<br>memantik saya setidaknya menarik minat untuk tetap mempertahankan kelas. Yang paling berkesan adalah diskusi mengenai definisi konflik. Kesimpulan umum yang saya tarik, konflik merupakan sebuah “fase” yang seringkali terjadi akibat perbedaan kuasa. Namun dibanding kesimpulan akhir di kelas saya menyadari hal lain yang tak kalah penting yakni proses mencapai kesimpulan tersebut.</p><p>Setiap argumen yang disampaikan dan didiskusikan tiap tim adalah benar adanya namun yang perlu digaris bawahi adalah kacamata yang kita pakai. Dari perspektif ilmu sosial tentu konflik cenderung dilihat sebagai perselisihan antar person atau antar kelompok/golongan. Hal inilah yang hilang dari diskusi di kelompok kecil saya. Ketika kita tidak berpijak dari satu ilmu sehingga yang terjadi malah kehilangan arah. Antara konflik dan debat pun menjadi masalah yang tak berujung sehingga premis yang didapatkan hanya abu-abu saja.</p><p>Saya jadi berefleksi apakah selama ini sering terjadi perselisihan di media sosial, salah satu sebabnya karena orang kurang menyadari bahwa perspektif yang mereka pakai bisa berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. Misalnya psikolog dan antropolog bisa melihat satu isu sosial dengan cara yang berbeda namun di media sosial hal ini sering tak disadari sehingga<br>berujung pada konflik. Fenomena ini (ketika saya searching di google) disebut sebagai kurangnya kesadaran epistemik. Akibatnya orang pun bingung memahami suatu isu ketik terjadi benturan argumen. Dampaknya terjadi konflik ‘benar-salah’ yang sempit.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ac01283205be" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[20 tahun sebelum 21]]></title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul/20-tahun-sebelum-21-843777003050?source=rss-605448bae096------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/843777003050</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Aisyah nuzul]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 15 Oct 2024 18:24:56 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-10-15T18:34:18.715Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>20 tahun sebelum 21</p><p>Siapa sangka sudah 20 tahun saya diberi nafas dan kekuatan untuk terus melangkah. Berbagai fenomena sosial saya dapati melalui pengalaman langsung, cerita orang, tulisan, video dan pameran. Wahh..seluk beluk kehidupan memang sekompleks ini ya? Rasanya bekal saya masih kurang ketika masa remaja. Persiapan untuk menjadi dewasa, siapa yang terpikir? Tidak ada yang memberi tahu apa yang akan saya hadapi di usia 20 ketika saya masih usia sekitar 16 atau 17. Ada gap yang tak bisa saya pahami. Seperti ada proses yang kurang. Apa boleh saya salahkan masa pandemi covid?</p><p>Masa itu, berapa banyak orang yang mati yang mungkin beberapa dari mereka akan bertemu saya atau anda jika masih hidup. Berapa banyak waktu yang terampas untuk manusia saling berkoneksi, berinteraksi, bersentuhan, dan memahami betapa heterogennya manusia yang nampak melalui pembawaan kultur mereka. Saya pikir, minimnya interaksi membuat kepekaan kita terhadap orang lain semakin berkurang. Pembawaan kultur lebih banyak nampak melalui barang² atau dimensi fisik/artefak (salah satu wujud kebudayaan) ketika itu ditampilkan dalam dunia maya.</p><p>Seni untuk menikmati kultur orang lain rasa-rasanya semakin kabur. Perasaan kita bisakah berbicara? Ketika itu ditampilkan melalui perantara alat. Pikiran kita, persepsi kita, sentuhan yang mendadak, tatapannya, pergerakan alam dan lingkungan yang mempengaruhi cara kita berinteraksi, dan banyak hal lainnya. Semua itu, bukankah tidak bisa digantikan dengan benda mati?</p><p>Hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan. Rasanya mulai dipecah belah dewasa ini. Ada gap yang saat ini saya tak bisa jelaskan dengan berlandaskan teori-teori yang tepat.</p><p>Saya ingin menjadi manusia yang hidup, juga hidup dalam kehidupan orang lain. Sebaik apapun revolusi industri atau society 5.0 yang fokus pada peningkatan kualitas hidup manusia, saya tak ingin dipisahkan dari manusia lainnya. Perlu diingat juga bahwa teknologi tak jauh dari values/nilai norma yang dianut pembuatnya.</p><p>Jangan goyah, tak elok bagi kita untuk mudah dikontrol, dimanipulasi, dan dieksploitasi.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=843777003050" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Keluarga]]></title>
            <link>https://medium.com/@aisyahnnuzul/keluarga-b403f286a22d?source=rss-605448bae096------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b403f286a22d</guid>
            <category><![CDATA[family]]></category>
            <category><![CDATA[keluarga]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Aisyah nuzul]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 07 Jul 2024 16:02:00 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-07-07T16:02:00.482Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Keluarga</p><p>Menurut kalian keluarga itu apa? Pertanyaan ini seringkali diartikan secara luas baik berhubungan dengan darah/keturunan atau pun ikatan sosial tertentu.</p><p>Dan aku tidak peduli harus memilih yang mana, aku hanya memimpikan “keluarga” sebagai tempatku pulang entah seburuk apapun itu.</p><p>Aku ingin memeluk segala yang ada dalam keluarga. Mau satu, tiga, seratus aku tak peduli mana saja yang kuanggap keluarga.</p><p>Impianku hanyalah keluargaku benar-benar mencintaiku. Cinta dan kasih yang tak perlu dibungkus ego segala. Aku suka itu.</p><p>Lantas, apa impianmu dalam keluarga?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b403f286a22d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>