<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by AlraisyFamily on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by AlraisyFamily on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@alraisyfamily?source=rss-520c3f466b52------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*eneDTq5fIzELOuZjYFJuXQ.jpeg</url>
            <title>Stories by AlraisyFamily on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@alraisyfamily?source=rss-520c3f466b52------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Tue, 26 May 2026 22:56:52 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@alraisyfamily/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Episode 9 — Saat Mendampingi Anak Belajar, Sering Kali yang Paling Takut Justru Orang Tuanya]]></title>
            <link>https://medium.com/@alraisyfamily/episode-9-saat-mendampingi-anak-belajar-sering-kali-yang-paling-takut-justru-orang-tuanya-a1475df0c7e4?source=rss-520c3f466b52------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a1475df0c7e4</guid>
            <dc:creator><![CDATA[AlraisyFamily]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 22 May 2026 16:28:01 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-22T16:28:01.549Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>“Apakah aku benar-benar bisa mendampingi anak belajar?”</p><p>Pertanyaan itu mungkin pernah muncul, bahkan berkali-kali, di kepala banyak orang tua yang memilih homeschooling atau unschooling.</p><p>Takut kalau anak tertinggal. Takut tidak cukup mampu. Takut salah arah. Takut anak nanti tidak bisa mengikuti standar yang ada di masyarakat.<br>Dan jujur saja, rasa takut itu nyata.</p><p>Apalagi ketika melihat anak lain tampak sudah bisa ini-itu di usia tertentu. Sementara di rumah, proses belajar anak kita mungkin terlihat sangat berbeda. Tidak selalu duduk rapi. Tidak selalu mengikuti jadwal baku. Tidak selalu tampak “akademis”.</p><p>Di titik itu, banyak orang tua mulai meragukan dirinya sendiri. Padahal, salah satu hal penting yang kami pelajari adalah homeschooling bukan sekolah di rumah.</p><p>Karena itu, sering kali justru akan melelahkan jika kita mencoba menyalin seluruh struktur sekolah ke dalam rumah. Jam belajar dibuat kaku, target disusun sama persis, ritme anak harus mengikuti sistem yang belum tentu cocok dengan kebutuhan keluarga.</p><p>Rumah akhirnya berubah menjadi sekolah kecil. Dan orang tua berubah menjadi guru yang terus merasa dikejar target. Padahal banyak keluarga memilih homeschooling atau unschooling justru karena ingin menghadirkan proses belajar yang lebih manusiawi, lebih fleksibel, dan lebih sesuai dengan kebutuhan anak.</p><p>Mengurangi Ekspektasi yang Terlalu Tinggi<br>Salah satu hal yang cukup membantu kami adalah belajar mengurangi ekspektasi. Bukan berarti tidak punya tujuan. Bukan berarti membiarkan semuanya berjalan tanpa arah. Tetapi lebih kepada memahami bahwa setiap anak memiliki ritme tumbuh yang berbeda.</p><p>Kadang kita merasa anak tertinggal, padahal sebenarnya mereka hanya sedang berkembang di jalur yang berbeda. Tidak semua kemampuan muncul di usia yang sama. Tidak semua anak belajar dengan cara yang sama. Dan tidak semua perkembangan terlihat dalam bentuk akademik.</p><p>Ada anak yang cepat membaca, tapi lambat membangun kepercayaan diri. Ada yang aktif bertanya, tapi belum tertarik menulis. Ada yang terlihat “biasa saja”, tapi ternyata memiliki observasi dan rasa ingin tahu yang sangat kuat.</p><p>Sering kali yang membuat kita cemas adalah karena kita tanpa sadar memakai standar yang sama untuk semua anak.</p><p>Belajar Mengamati, Bukan Hanya Menilai<br>Dalam proses homeschooling atau unschooling, observasi menjadi hal yang sangat penting. Karena saat kita mulai benar-benar mengamati anak, kita sering menemukan banyak perkembangan kecil yang sebelumnya terlewat.</p><p>Rasa ingin tahunya bertambah. Cara bicaranya lebih runtut. Mulai berani mencoba hal baru. Mulai bisa fokus lebih lama. Mulai punya inisiatif sendiri.</p><p>Perkembangan seperti ini kadang tidak langsung terlihat dalam angka atau nilai, tetapi tetap merupakan bagian penting dari proses belajar.</p><p>Karena itu, journaling atau pencatatan sederhana cukup membantu. Tidak harus rumit. Tidak harus seperti laporan sekolah. Kadang cukup menulis: hari ini anak tertarik apa, sedang sering bertanya tentang apa, aktivitas apa yang membuatnya antusias, atau tantangan apa yang sedang muncul.</p><p>Dari catatan kecil seperti itu, kita jadi lebih mudah melihat pola perkembangan anak dari waktu ke waktu.</p><p>Evaluasi Bukan untuk Menghakimi<br>Evaluasi juga penting. Tetapi bukan untuk menghakimi diri sendiri atau anak. Evaluasi bisa dilakukan mingguan, bulanan, per tiga bulan, atau per semester. Tujuannya bukan mencari siapa yang gagal, tetapi melihat apa yang perlu diperbaiki.</p><p>&quot;Apakah pendekatannya terlalu berat? Apakah ritme belajarnya terlalu padat? Apakah anak sebenarnya sedang butuh jeda? Apakah orang tua juga sedang terlalu lelah?&quot;</p><p>Kadang yang perlu diperbaiki bukan anaknya, tapi ekspektasi dan sistem yang kita buat sendiri.</p><p>Orang Tua Juga Sedang Belajar<br>Mungkin ini bagian yang paling sering terlupakan. Dalam homeschooling dan unschooling, bukan hanya anak yang belajar. Orang tua juga sedang belajar.</p><p>Belajar observasi. Belajar mendengar. Belajar memahami ritme anak. Belajar memahami diri sendiri. Dan belajar melepaskan standar yang ternyata tidak selalu sesuai dengan kebutuhan keluarga.</p><p>Jadi kalau hari ini masih sering ragu, itu wajar. Hampir semua orang tua yang mendampingi anak belajar mungkin pernah ada di fase itu.<br>Tidak harus langsung sempurna. Tidak harus langsung yakin seratus persen.</p><p>Karena proses membersamai anak sebenarnya juga merupakan proses bertumbuh bagi orang tuanya sendiri 😊</p><p>#unschooling #homeschooling #homeeducation</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a1475df0c7e4" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Episode 8 – Apa Itu Unschooling?]]></title>
            <link>https://medium.com/@alraisyfamily/episode-8-apa-itu-unschooling-2a703696cfbc?source=rss-520c3f466b52------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2a703696cfbc</guid>
            <category><![CDATA[homeschooling]]></category>
            <category><![CDATA[education]]></category>
            <category><![CDATA[home-education]]></category>
            <category><![CDATA[unschooling]]></category>
            <category><![CDATA[learning]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[AlraisyFamily]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 31 Jan 2026 07:46:23 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-31T07:46:23.419Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>Sebelum bicara tentang unschooling, ada satu hal penting yang perlu kita samakan dulu.</blockquote><blockquote>“Yang wajib itu adalah pendidikan, bukan sekolah.”</blockquote><p>Sekolah hanyalah salah satu wadah untuk menjalani proses pendidikan. Artinya, belajar bisa terjadi di mana saja, dengan banyak cara, dan lewat banyak pengalaman.</p><p>Ini juga sejalan dengan UU Sisdiknas Pasal 6 ayat 1–2 yang menegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, tidak terbatas pada ruang kelas semata. (Silakan cek artikel kami di episode 7).</p><p>Unschooling sendiri adalah pendekatan belajar yang berangkat dari minat, kebutuhan, dan kehidupan nyata anak.</p><p>Dalam UU Sisdiknas Pasal 13 ayat 1 disebutkan ada tiga jalur pendidikan. Yaitu formal, nonformal, dan informal.</p><p>Di sinilah posisi unschooling—sebagai salah satu metode dalam homeschooling—masuk ke jalur pendidikan informal.<br>Di dalam unschooling, anak belajar bukan karena didorong oleh kurikulum yang kaku, tapi karena rasa ingin tahu yang alami dan pengalaman hidup sehari-hari. Belajar tidak dimulai dari “harus”, tapi dari “ingin tahu”. Anak tidak dipaksa mengejar materi, melainkan diajak menemukan makna dari apa yang ia alami.</p><p>Dalam proses ini, peran orang tua pun berubah. Kita tidak lagi berdiri sebagai “guru” yang memberi perintah, tetapi sebagai pendamping yang hadir,<br>fasilitator yang menyediakan ruang dan alat, serta sebagai teman bertumbuh yang berjalan bersama anak.</p><p>Belajar bisa terjadi lewat banyak hal yang sangat dekat dengan hidup kita.<br>Melalui bermain, membaca, mengobrol, bereksplorasi, mengerjakan proyek kehidupan, sampai aktivitas sehari-hari di rumah dan lingkungan.</p><h3>Lalu, apa bedanya Sekolah, Homeschooling, dan Unschooling?</h3><p>Sederhananya, ini bukan soal mana yang paling benar. Tapi soal mana yang paling sesuai dengan kebutuhan tiap keluarga.</p><p>🌻 Sekolah<br>Cocok untuk orang tua yang membutuhkan pembelajaran akademik yang terstruktur, menyerahkan proses belajar ke lembaga, membutuhkan ijazah resmi, dan anak belajar dalam sistem kelas.</p><p>🌻 Homeschooling<br>Cocok untuk orang tua yang ingin membimbing anak sendiri, tetap membutuhkan akademik dan ijazah, tapi dengan ritme dan cara yang lebih fleksibel.</p><p>🌻 Unschooling<br>Cocok untuk keluarga yang ingin mendampingi anak secara penuh, tidak menjadikan akademik dan ijazah sebagai pusat, serta memandang belajar sebagai proses hidup, bukan sekadar kumpulan mata pelajaran.</p><p>Semua jalur itu sah.<br>Yang terpenting bukan mengikuti tren, tapi menemukan jalan yang paling selaras dengan nilai, kondisi, dan kebutuhan setiap keluarga.</p><p>Artikel ini sudah kami terbitkan juga di laman blog <a href="https://anisanuruljanah.blogspot.com/2026/01/eps-4-apa-itu-unschooling.html?m=1">https://anisanuruljanah.blogspot.com/2026/01/eps-4-apa-itu-unschooling.html?m=1</a></p><p>#homeschooling #unschooling #alraisyfamily</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2a703696cfbc" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Episode 7 — Pendidikan Itu Wajib. Pendidikan menurut Undang-Undang]]></title>
            <link>https://medium.com/@alraisyfamily/episode-7-pendidikan-itu-wajib-pendidikan-menurut-undang-undang-01d7e23a3f1b?source=rss-520c3f466b52------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/01d7e23a3f1b</guid>
            <category><![CDATA[home-education]]></category>
            <category><![CDATA[education]]></category>
            <category><![CDATA[homeschooling]]></category>
            <category><![CDATA[unschooling]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[AlraisyFamily]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 30 Jan 2026 20:19:02 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-30T20:19:02.862Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu kalimat yang sering sekali muncul ketika orang membahas pendidikan:<br>“Kalau nggak sekolah, berarti anak itu belum mengenyam pendidikan dong?”</p><p>Kalimat ini terdengar wajar. Tapi di dalamnya tersembunyi satu asumsi besar:<br>bahwa pendidikan adalah sekolah</p><p>Jika kita mengacu pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No. 20 Tahun 2003), kita akan menemukan bahwa cara negara memandang pendidikan jauh lebih luas dari sekadar sekolah. Dan Indonesia adalah satu-satunya negara yang dengan tegas dan lugas menuliskan dalam Undang-Undang.</p><h3>1. Apa Itu Pendidikan Menurut UU?</h3><blockquote>Di Pasal 1 ayat (1) UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tertulis:<br>“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”</blockquote><p>Maksud pasal ini:<br>Pendidikan bukan soal gedung, seragam, atau jam pelajaran.<br>Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar , di mana anak aktif mengembangkan dirinya.</p><h4>Kalau di rumah ada suasana belajar, ada proses tumbuh, ada anak yang aktif mencari tahu. Maka itu sudah masuk wilayah pendidikan.</h4><h3>2. Wajib Belajar tidak sama dengan Wajib Sekolah</h3><blockquote>Di Pasal 6 ayat (1) dan (2) tertulis:<br>(1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.<br>(2) Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan.</blockquote><p>Yang diwajibkan oleh negara adalah anak mengikuti pendidikan dasar,<br>bukan “harus duduk di SD dan SMP formal”.</p><p>Kata yang dipakai adalah pendidikan dasar, bukan sekolah dasar.</p><p>Ini penting sekali.<br>Karena berarti:</p><ul><li>Negara mewajibkan anak mendapat pendidikan</li><li>Tapi tidak memaksa satu bentuk tunggal bernama sekolah formal</li></ul><h3>3. Jalur Pendidikan Itu Ada Tiga</h3><blockquote>Pasal 13 ayat (1) disebutkan:<br>“Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.”</blockquote><p>Pendidikan di Indonesia memiliki 3 jalur yang bisa dipilih. Pendidikan formal hanyalah salah satu jalur, selain itu masih ada pendidikan nonformal dan pendidikan informal (pendidikan dalam keluarga &amp; lingkungan)<br>Dan ketiganya sah sebagai jalur pendidikan.</p><h3>4. Pendidikan Keluarga Diakui Negara</h3><blockquote>Di Pasal 27 ayat (1):<br>“Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.”<br>Dan ayat (2):<br>“Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.”</blockquote><p>Maksud dari pasal ini:</p><ul><li>Negara mengakui bahwa keluarga adalah ruang pendidikan.</li><li>Anak yang belajar di rumah tetap dianggap sedang menempuh pendidikan.</li><li>Hanya saja, untuk keperluan administrasi sistem, hasilnya baru “dibaca” negara jika diuji lewat mekanisme tertentu.</li></ul><p>Ini bukan soal anak tidak belajar tanpa ijazah. Tapi tentang sistem yang hanya bisa mencatat yang bisa diukur dengan ujian dan dokumen.</p><p>Sayangnya sudah terpatri dalam masyarakat kita, bahwa sekolah itu wajib dan setiap orang harus memiliki ijazah. Jika tidak sekolah dan tidak berijazah, artinya anak ditelantarkan dan orang tua tidak memenuhi hak anak.</p><p>Padahal, yang merupakan hak anak adalah belajar (pendidikan) bukan sekolah. Dan pendidikan bisa didapat melalui 3 jalur pendidikan yang sudah tertera pada Undang-Undang.</p><h3>Jadi… Haruskah Anak Unschooling Punya Ijazah?</h3><p>Boleh dan bisa saja, ikuti saja alur/proses untuk mendapat legalitas, dengan terdaftar di dapodik, melalui PKBM/SKB/Sekolah Payung.</p><p>Namun, biasanya jika unschooling mendaftar legalitas untuk ijazah, maka tidak bisa disebut lagi sebagai unschooling, tetapi masuk dalam pendidikan non formal. Sebab yang mengeluarkan ijazah adalah lembaga bukan keluarga. Ini bertolak belakang dengan pengertian pendidikan informal yang berfokus pada keluarga.</p><p>Ijazah bukan untuk membuktikan bahwa ia terdidik, melainkan untuk membuktikan pada sistem administratif negara.</p><p>Tidak terdaftar di dapodik dan tidak memiliki legalitas, tidak lantas unschooling menjadi ilegal. Sebab proses belajar unschooling sejak awal hingga akhir itu legal dan jelas dituliskan dalam Undang-Undang sebagai jalur pendidikan keluarga (informal). Kata ilegal artinya adalah melanggar hukum, ini tidak bisa disematkan pada praktisi unschooling, sebab unschooling tidak melanggar hukum. Unschooling itu hasil belajarnya hanya tidak terdaftar secara administraai saja.</p><p>Ijazah itu, bukan ukuran tumbuhnya anak, bukan ukuran kecerdasannya, bukan ukuran kemanusiaannya.</p><p>Ijazah hanyalah alat pencatatan negara.<br>Kalau suatu hari anak ingin masuk kuliah, ikut seleksi formal, atau masuk sistem berbasis dokumen. Maka anak mungkin perlu sertifikat kesetaraan.</p><p>Bukan karena tanpa itu ia tidak belajar, tapi karena sistem hanya membaca yang tertulis.</p><h3>Pendidikan Lebih Luas dari Sekolah</h3><p>Undang-undang tidak pernah bilang: “Anak harus sekolah supaya dianggap belajar.”</p><p>Yang diwajibkan adalah:</p><ul><li>Anak mendapat pendidikan</li><li>Anak tumbuh dan berkembang</li><li>Anak dihormati sebagai subjek belajar</li></ul><blockquote>Sekolah adalah salah satu jalan.<br>Bukan satu-satunya.<br>Ijazah adalah alat.<br>Bukan tujuan.<br>Dan pendidikan…<br>adalah proses panjang membentuk manusia.<br>Bukan mencetak kertas.</blockquote><p>Artikel ini juga dituliskan pada laman blog kami di <a href="https://anisanuruljanah.blogspot.com/2026/01/eps-3-pendidikan-itu-wajib-tapi-sekolah.html?m=1">https://anisanuruljanah.blogspot.com/2026/01/eps-3-pendidikan-itu-wajib-tapi-sekolah.html?m=1</a></p><p>#homeschooling #unschooling #alraisyfamily</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=01d7e23a3f1b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Episode 6 — Bagaimana Proses Bertanya, Diskusi dan Mencoba Terjadi di Rumah Kami]]></title>
            <link>https://medium.com/@alraisyfamily/episode-6-bagaimana-proses-bertanya-diskusi-dan-mencoba-terjadi-di-rumah-kami-4bcf9f8c2389?source=rss-520c3f466b52------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4bcf9f8c2389</guid>
            <category><![CDATA[homeschooling]]></category>
            <category><![CDATA[home-education]]></category>
            <category><![CDATA[education]]></category>
            <category><![CDATA[unschooling]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[AlraisyFamily]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 28 Nov 2025 09:28:38 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-28T09:28:38.879Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Di rumah kami, proses belajar tidak pernah dimulai dari jadwal atau kurikulum. Ia muncul dari hal-hal yang sederhana. Seperti percakapan kecil di pagi hari, rasa ingin tahu yang tiba-tiba muncul di tengah memasak, atau keheningan sore hari ketika anak-anak berdiskusi tentang sesuatu yang mereka lihat di halaman belakang.</p><blockquote>Belajar bukan aktivitas terpisah dari kehidupan. Belajar adalah bagian dari alur hari kami.</blockquote><p>Hampir setiap hal dimulai dengan sebuah pertanyaan. Kadang pertanyaan itu terdengar remeh, kadang muncul tiba-tiba, dan kadang mengantar kami pada topik baru yang sama sekali tidak kami rencanakan.</p><p>“Kenapa adonannya bisa mengembang?”</p><p>“Kenapa burung hantu itu selalu datang di jam yang sama?”</p><p>“Kalau aku ingin membuat game atau animasi, mulai dari mana?”</p><p>Pertanyaan seperti ini tidak pernah kami batasi. Justru kami sambut, karena di rumah kami, bertanya adalah tanda bahwa anak-anak sedang memperhatikan dunianya. Mereka sedang menghubungkan apa yang mereka lihat dengan apa yang mereka pikirkan.</p><p>Setelah pertanyaan muncul, proses belajar di rumah kami bergerak ke fase yang lebih cair yaitu diskusi. Diskusi tidak selalu terstruktur atau dibuat-buat. Kadang terjadi sambil memotong buah, sambil melipat baju, atau sambil duduk santai di lantai.</p><p>Kami berbicara tentang berbagai kemungkinan jawaban, mencoba menghubungkan pengalaman sebelumnya, atau sekadar menebak-nebak bersama. Tidak ada yang lebih benar atau salah, karena tujuannya bukan mencari jawaban yang paling tepat, tetapi memperluas cara pandang.</p><p>Di titik ini, orang tua lebih berperan sebagai teman berpikir daripada guru. Kami akan bertanya balik, ikut penasaran, dan ikut belajar hal baru dari perspektif mereka.</p><p>Yang paling menarik, setelah berdiskusi, biasanya muncul keinginan untuk mencoba. Inilah bagian yang membuat homeschooling terasa sangat hidup.</p><p>Ketika membahas roti, kami benar-benar membuat adonan dan memperhatikan bagaimana ragi bekerja. Ketika penasaran dengan burung yang selalu datang di jam yang sama, kami mengamati selama beberapa hari dan mencatat polanya. Ketika anak ingin membuat animasi, ia langsung membuka aplikasi, menggambar karakter, lalu mencoba menggerakkannya sedikit demi sedikit.</p><p>Tidak semua percobaan selesai dengan hasil sempurna. Tidak semua proyek menjadi besar. Tapi setiap percobaan selalu membawa kami pada pengalaman baru yang jauh lebih kuat daripada sekadar membaca teori.</p><p>Di tengah proses ini, ritme kami terbentuk perlahan. Bukan ritme yang dipaksakan, tetapi ritme yang lahir dari kebiasaan alami. Pagi hari penuh pertanyaan, siang hari penuh diskusi, dan sore atau malam sering menjadi waktu mencoba.</p><p>Ritme ini tidak kaku, kadang berubah, kadang melebar, kadang melompat dari satu topik ke topik lain. Namun ritme ini membuat anak-anak belajar dengan rasa kepemilikan penuh. Mereka tidak merasa “belajar karena harus”, tetapi belajar karena ingin tahu, ingin mencoba, dan ingin memahami dunia dengan cara mereka sendiri.</p><p>Yang paling kami sukai dari proses bertanya–diskusi–mencoba ini adalah bagaimana pola ini perlahan membentuk karakter. Anak-anak belajar untuk tidak takut penasaran, tidak takut salah, dan tidak takut mencoba hal baru. Mereka belajar bahwa pengetahuan bukan sesuatu yang diberikan, tetapi sesuatu yang bisa dicari dan diuji. Mereka belajar bahwa ide tidak berhenti di kepala, tetapi bisa diwujudkan menjadi pengalaman nyata. Tanpa kami sadari, mereka sedang membangun fondasi penting dari pembelajar sepanjang hayat.</p><p>Pada akhirnya, proses belajar di rumah kami adalah perjalanan yang selalu berulang. Setiap hari ada hal baru yang muncul, tapi polanya tetap sama: bertanya, berdiskusi, mencoba.</p><p>Dan dari pola sederhana itu, tumbuh hubungan yang lebih hangat, rasa percaya diri yang lebih kuat, serta pemahaman bahwa belajar adalah proses yang alami, bukan kewajiban yang dibatasi jam pelajaran.</p><p>Di keluarga kami, belajar terjadi di antara napas, obrolan ringan, dan keberanian mencoba. Ia mengalir. Ia tumbuh. Ia hidup bersama kami, tanpa perlu dipaksa, tanpa perlu jadwal yang kaku, dan tanpa harus jauh-jauh mencari tempat belajar lain selain rumah itu sendiri.</p><p>Artikel ini juga kami tulis di laman blog kami <a href="https://anisanuruljanah.blogspot.com/?m=1">https://anisanuruljanah.blogspot.com/?m=1</a></p><p>#homeschooling #unschooling #rumahalraisy</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4bcf9f8c2389" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Episode 5 –Mengapa Kami Memilih Pendidikan Tanpa Jadwal Kaku dalam Homeschooling]]></title>
            <link>https://medium.com/@alraisyfamily/episode-5-mengapa-kami-memilih-pendidikan-tanpa-jadwal-kaku-dalam-homeschooling-bcb10e908b6a?source=rss-520c3f466b52------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/bcb10e908b6a</guid>
            <category><![CDATA[education]]></category>
            <category><![CDATA[homeschooling]]></category>
            <category><![CDATA[unschooling]]></category>
            <category><![CDATA[home-education]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[AlraisyFamily]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 24 Nov 2025 09:11:45 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-24T09:30:03.476Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Episode 5 — Mengapa Kami Memilih Pendidikan Tanpa Jadwal Kaku dalam Homeschooling</h3><p>Beberapa keluarga yang tertarik dengan homeschooling sering bertanya:<br>“Kalau tidak ada jadwal pelajaran yang ketat, apakah anak tetap bisa belajar dengan baik?”</p><p>Pertanyaan ini muncul karena kita tumbuh dengan sistem pendidikan yang menekankan jadwal terstruktur. Namun dalam perjalanan kami menjalankan homeschooling dengan metode unschooling, kami menemukan bahwa belajar tanpa jadwal kaku justru memberi ruang bagi proses belajar yang lebih alami, fleksibel, dan mendalam.</p><h3>1. Belajar Alami Terjadi Sepanjang Hari</h3><p>Kami menyadari bahwa anak-anak tidak belajar hanya di jam tertentu.<br>Mereka belajar:</p><p>Saat memasak dan menghitung bahan,</p><p>saat berkebun dan melihat siklus hidup tanaman, saat membuat proyek kreatif,</p><p>ketika membaca buku favorit, atau saat bertanya tentang hal-hal yang mereka temui sehari-hari.</p><p>Pendekatan natural learning membuat kami melihat bahwa momen belajar terbaik sering muncul tanpa direncanakan. Karena itu, jadwal kaku justru sering mengganggu proses alami ini.</p><h3>2. Setiap Anak Punya Ritme dan Kecepatan Belajar Berbeda</h3><p>Homeschooling memberi kami ruang untuk menghargai ritme unik tiap anak.<br>Ada hari mereka ingin fokus pada seni, ada hari mereka semangat bereksperimen sains, dan ada hari mereka butuh waktu tenang.</p><p>Dengan melepas jadwal yang kaku, anak-anak bisa:</p><p>Belajar saat otak mereka paling siap,</p><p>mendalami minat tanpa dibatasi waktu,</p><p>mengulang materi dengan tenang,</p><p>dan berhenti sejenak ketika tubuh atau emosi mereka membutuhkan istirahat.</p><p>Ritme pribadi jauh lebih efektif daripada jadwal seragam.</p><h3>3. Fleksibilitas Justru Membawa Kedalaman Belajar</h3><p>Tanpa tekanan berpindah dari satu pelajaran ke pelajaran lain, anak-anak bisa mengalami deep learning: fokus lama, eksplorasi lebih dalam, dan memahami konsep dengan lebih menyeluruh.</p><p>Mereka bisa tenggelam berjam-jam dalam satu topik tanpa harus berhenti karena “jadwal sudah berganti”.</p><p>Inilah salah satu alasan kuat mengapa pendidikan fleksibel sangat efektif untuk homeschooling.</p><h3>4. Tidak Ada Jadwal Kaku Bukan Berarti Tanpa Struktur</h3><p>Banyak yang salah paham: “homeschooling tanpa jadwal bukan berarti hidup tanpa arah.”<br>Keluarga kami tetap memiliki ritme harian yang jelas, seperti waktu pagi yang tenang, siang untuk eksplorasi, dan malam untuk membaca atau refleksi.</p><p>Bedanya, ritme ini fleksibel, bukan memaksa.<br>Kami menyesuaikan dengan kebutuhan dan energi anak, bukan sebaliknya.</p><h3>5. Pendidikan Fleksibel Membuat Anak Lebih Mandiri dan Terkoneksi</h3><p>Tanpa jadwal kaku, anak belajar mengatur waktu, mendengarkan tubuhnya, mengelola fokus, dan mengikuti minatnya.<br>Kami melihat bagaimana mereka tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri, kreatif, dan berani mencoba hal baru.</p><p>Selain itu, hubungan kami sebagai keluarga menjadi lebih dekat.<br>Kami tidak lagi terjebak mengejar jam pelajaran, tapi fokus menikmati proses dan percakapan yang terjadi secara alami.</p><blockquote>Kesimpulannya adalah Fleksibilitas Adalah Kekuatan, Bukan Kekurangan</blockquote><p>Tidak semua keluarga cocok dengan sistem tanpa jadwal kaku dan itu tidak masalah.<br>Namun bagi kami, pendidikan yang fleksibel memberi ruang bagi anak untuk belajar dengan cara yang lebih otentik, lebih tenang, dan lebih selaras dengan kehidupan nyata.</p><p>Homeschooling tanpa jadwal ketat bukan berarti kurang disiplin.<br>Justru sebaliknya:<br>Ia membantu anak membangun disiplin yang tumbuh dari dalam, bukan dari tekanan luar.</p><p>Dan bagi kami, itu adalah salah satu hadiah terbesar yang bisa diberikan oleh pendidikan berbasis rumah.</p><p>Artikel ini juga sudah kami publish di <a href="http://anisanuruljanah.blogspot.com/2025/11/eps-2mengapa-kami-memilih-pendidikan.html">http://anisanuruljanah.blogspot.com/2025/11/eps-2mengapa-kami-memilih-pendidikan.html</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=bcb10e908b6a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Episode 4 — Menemukan Hal Paling Berharga dari Homeschooling]]></title>
            <link>https://medium.com/@alraisyfamily/episode-4-menemukan-hal-paling-berharga-dari-homeschooling-b032dc375a1d?source=rss-520c3f466b52------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b032dc375a1d</guid>
            <category><![CDATA[homeschooling]]></category>
            <category><![CDATA[unschooling]]></category>
            <category><![CDATA[education]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[AlraisyFamily]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 03 Oct 2025 14:45:04 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-10-03T14:45:04.461Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>“Apa sih bagian terbaik dari homeschooling?”<br>Pertanyaan sederhana ini ternyata punya jawaban yang luas dan berlapis. Karena setiap keluarga yang memilih homeschooling pasti punya cerita, pengalaman, dan keajaibannya masing-masing.</p><p>Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah cerita dari seorang ibu yang sedang menjalani tahun kedua homeschooling. Ia menulis tentang bagaimana matanya berkaca-kaca setiap kali melihat anaknya belajar dengan penuh semangat. Tentang bagaimana rasa ingin tahu anaknya kembali tumbuh, bertanya tanpa henti tentang bagaimana sesuatu bisa bekerja atau kenapa sesuatu terjadi.</p><p>Ia bercerita bahwa anaknya kini lebih percaya diri, lebih berani menegaskan dirinya, bahkan tahu bagaimana bersikap ketika diperlakukan oleh orang lain. Ada pancaran yang berbeda di wajah anak itu, seolah homeschooling memberinya ruang untuk menjadi diri sendiri. Sang ibu menutup ceritanya dengan rasa syukur yang dalam, karena bisa menyaksikan anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh dan percaya diri.</p><p>Membaca kisah itu, saya mengangguk-angguk kecil. Karena saya pun merasakan hal yang sama, meski dengan warna pengalaman yang berbeda.</p><h3>Ruang untuk Observasi</h3><p>Bagi keluarga kami, homeschooling bukan hanya soal belajar di rumah, tetapi tentang memiliki waktu yang cukup untuk benar-benar mengamati anak-anak kami.</p><p>Di tengah ritme hidup yang sering terasa cepat, homeschooling memberi jeda. Jeda untuk melihat apa yang sebenarnya menarik perhatian mereka. Apa yang membuat mata mereka berbinar. Apa yang diam-diam mereka ulangi lagi dan lagi karena merasa senang melakukannya.</p><p>Ruang observasi ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Karena dari sanalah kami bisa menemukan minat anak-anak.</p><p>Ada anak yang tidak pernah menyerah dengan tantangan yang ditemukannya saat mempelajari coding. Ada anak yang betah berjam-jam menggambar, memperhatikan detail kecil yang orang dewasa sering abaikan. Ada yang suka bongkar pasang barang, hanya untuk tahu bagaimana mekanismenya bekerja. Ada pula yang betah di dapur, ikut memotong sayur atau mencampur adonan, seolah memasak adalah bahasa cinta yang ia pahami sejak dini.</p><h3>Memberi Ruang Eksplorasi</h3><p>Begitu minat mereka terlihat, homeschooling memberi kami kesempatan untuk memberi ruang eksplorasi seluas-luasnya. Tanpa harus dibatasi oleh jadwal ketat atau standar kurikulum yang sama untuk semua anak, kami bisa mengikuti alur rasa ingin tahu mereka.</p><p>Kalau hari itu anak ingin membaca buku tentang hewan laut, kami beri kesempatan. Kalau esoknya mereka ingin bereksperimen dengan cat air, kami sediakan alatnya.</p><p>Kadang-kadang, minat itu hanya bertahan sebentar. Kadang justru berlanjut lama, menjadi pintu ke dunia baru yang lebih luas.</p><p>Dan yang membuat hati kami lega adalah proses ini bisa mereka jalani tanpa intervensi yang berlebihan dari pihak luar.</p><blockquote>Tidak ada label “pintar” atau “kurang” yang menempel di dahi mereka. Tidak ada tekanan untuk selalu sama dengan teman sebaya. Mereka belajar dengan ritme mereka sendiri.</blockquote><h3>Pertumbuhan yang Alami</h3><p>Hal yang indah dari homeschooling adalah melihat bagaimana anak-anak bertumbuh secara alami. Bukan berarti tanpa tantangan, tentu saja ada hari-hari penuh drama, kebosanan, bahkan keraguan dari pihak kami sebagai orang tua. Tetapi di sela-sela itu semua, ada momen-momen kecil yang justru jadi hadiah terbesar.</p><p>Momen ketika anak datang dengan pertanyaan yang tak terduga.<br>Momen ketika mereka berani mengungkapkan pendapat dengan lantang.<br>Momen ketika mereka menyelesaikan sesuatu dengan penuh percaya diri, meski sederhana bagi mata orang dewasa.</p><p>Di titik itu, kami sadar bahwa homeschooling bukan sekadar tentang akademis. Bukan tentang seberapa cepat mereka bisa membaca atau menghitung. Tetapi tentang bagaimana mereka menemukan dirinya sendiri, dan tumbuh dengan keyakinan bahwa apa yang mereka sukai itu berharga.</p><h3>Hadiah yang Tak Tergantikan</h3><p>Kalau ditanya apa hal terbaik dari homeschooling sejauh ini, mungkin jawabannya begini:<br>Kesempatan untuk benar-benar hadir. Hadir dalam setiap proses pertumbuhan anak, bukan hanya menyaksikan hasilnya. Hadir untuk melihat rasa ingin tahu mereka berkembang, hadir untuk memberi ruang ketika mereka jatuh cinta pada sesuatu, dan hadir ketika mereka belajar berdiri dengan percaya diri.</p><blockquote>Homeschooling memberi hadiah yang tidak selalu bisa diukur dengan angka atau rapor. Hadiah itu berupa anak-anak yang tumbuh sesuai ritme mereka, dengan keunikan mereka, dan dengan keyakinan bahwa dunia ini bisa mereka jelajahi tanpa harus kehilangan dirinya.</blockquote><p>Dan bagi kami, itu lebih dari cukup.</p><p>Artikel ini juga kami tuliskan pada laman blog <a href="https://anisanuruljanah.blogspot.com/?m=1">https://anisanuruljanah.blogspot.com/?m=1</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b032dc375a1d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Episode 3 —Homeschooling: Tentang Suara Orang Luar dan Pertumbuhan yang Tak Terlihat]]></title>
            <link>https://medium.com/@alraisyfamily/episode-3-homeschooling-tentang-suara-orang-luar-dan-pertumbuhan-yang-tak-terlihat-b72c24706118?source=rss-520c3f466b52------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b72c24706118</guid>
            <category><![CDATA[homeschooling]]></category>
            <category><![CDATA[unschooling]]></category>
            <category><![CDATA[education]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[AlraisyFamily]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 27 Sep 2025 15:50:46 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-27T15:50:46.281Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>Setiap orang punya pendapat.<br>Keluarga, teman, bahkan orang asing di media sosial. Mereka bisa dengan mudah menilai, mengkritik, atau memberi saran. Tetapi ada satu hal yang jarang mereka lihat: Pertumbuhan kecil yang terjadi setiap hari di dalam rumah.</blockquote><p>Mereka tidak melihat ketika anak yang tadinya pemalu mulai berani bertanya.<br>Mereka tidak mendengar obrolan ringan yang berubah jadi percakapan penuh makna.<br>Mereka tidak menyadari ketika seorang anak perlahan menemukan minatnya, lalu menekuni dengan penuh semangat.</p><p>Itu semua berlangsung di ruang yang sunyi, di dalam ritme keluarga, di luar sorot mata orang lain.</p><p>Sering kali, komentar tentang homeschooling datang dengan bentuk kekhawatiran.<br>“Takut nanti anaknya kurang sosialisasi.”<br>“Takut tidak bisa bersaing.”<br>“Takut orang tuanya kewalahan.”</p><p>Padahal homeschooling bukanlah tentang membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia bukan alat untuk memenangkan perdebatan dengan teman atau keluarga.</p><blockquote>Homeschooling adalah tentang memberi anak-anak sebuah kehidupan yang mereka tidak perlu pulihkan di kemudian hari. Sebuah masa kecil yang tidak harus mereka sembuhkan ketika dewasa.</blockquote><p>Ketika kita memilih homeschooling, kita sedang berusaha menciptakan ruang di mana anak-anak bisa tumbuh sesuai fitrah mereka. Ruang di mana belajar tidak harus berarti tekanan, melainkan rasa ingin tahu yang alami. Ruang di mana kesalahan bukan aib, melainkan bagian dari perjalanan.</p><p>Sebagai orang tua, kita tahu jalan ini tidak selalu mudah. Ada rasa lelah, ada keraguan, ada godaan untuk membandingkan. Tetapi setiap kali kita melihat anak kita belajar dengan mata berbinar, kita tahu alasan kita memilih jalur ini.</p><p>Dan yang penting untuk diingat: kita tidak sendirian. Ada banyak orang tua lain yang juga sedang berjalan, mencari ritme, belajar dari hari ke hari.</p><p>Jadi, teruslah melangkah.<br>Pertumbuhan itu nyata, meski dunia luar tidak selalu melihatnya.</p><p>Kalau kamu juga menjalani homeschooling, bagian mana dari perjalanan ini yang paling menguatkanmu? Atau kalau kamu masih di tahap mempertimbangkan, hal apa yang paling ingin kamu tanyakan?</p><p>#unschooling #homeschooling #pendidikan</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b72c24706118" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Episode 2 —Deschooling : Langkah Awal yang Sering Terlupakan dalam Homeschooling]]></title>
            <link>https://medium.com/@alraisyfamily/episode-2-deschooling-langkah-awal-yang-sering-terlupakan-dalam-homeschooling-72e3c2a8463c?source=rss-520c3f466b52------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/72e3c2a8463c</guid>
            <category><![CDATA[homeschooling]]></category>
            <category><![CDATA[unschooling]]></category>
            <category><![CDATA[education]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[AlraisyFamily]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 27 Sep 2025 15:46:48 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-27T15:46:48.872Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang tua yang baru memulai homeschooling berharap anak mereka akan langsung semangat belajar. Ada harapan, begitu keluar dari sekolah, anak akan menemukan kembali rasa ingin tahunya, rajin membaca, atau sibuk bereksperimen dengan hal-hal baru.</p><p>Namun, kenyataannya tidak selalu seperti itu. Ada anak yang justru terlihat bosan, tidak mau bermain, atau bahkan tidak tertarik melakukan apa pun. Orang tua pun sering khawatir, “Apakah homeschooling ini gagal? Apakah anak saya benar-benar belajar?”</p><blockquote>Sebenarnya, apa yang sedang terjadi itu wajar. Anak yang baru keluar dari sekolah sedang melalui fase yang disebut deschooling.</blockquote><h3>Apa itu Deschooling?</h3><p>Deschooling adalah masa transisi setelah anak berhenti dari sekolah formal. Fase ini memberi kesempatan bagi anak untuk melepaskan pola pikir, kebiasaan, dan tekanan yang dibentuk oleh sistem sekolah sebelumnya.</p><p>Bayangkan anak yang selama bertahun-tahun terbiasa dengan jadwal ketat, PR, ujian, dan perintah guru. Begitu semua itu hilang, tentu wajar jika mereka bingung.</p><p>“Kalau belajar bukan dengan cara itu, lalu seperti apa?”</p><p>Di sinilah deschooling berperan. Anak perlu waktu untuk:</p><ul><li>Beristirahat secara mental</li><li>Menemukan kembali rasa aman</li><li>Menyadari bahwa belajar bisa hadir dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya dari buku pelajaran.</li></ul><h3>Berapa Lama Fasenya?</h3><p>Tidak ada waktu yang pasti. Ada anak yang hanya butuh beberapa minggu, ada juga yang memerlukan berbulan-bulan. Lamanya sangat dipengaruhi oleh pengalaman mereka di sekolah sebelumnya.</p><p>Semakin berat tekanannya, semakin panjang pula proses pemulihannya. Selama periode ini, anak mungkin terlihat “tidak produktif”. Mereka lebih sering bermain bebas, santai, atau bahkan hanya diam.</p><p>Tapi percayalah, ini bukan tanda kemunduran, namun sebuah proses pemulihan.</p><h3>Orang Tua Juga Perlu Deschooling</h3><p>Yang sering dilupakan adalah bukan hanya anak yang perlu deschooling, orang tua juga.</p><p>Sebagian besar dari kita tumbuh dengan pola pikir sekolah formal. Kita terbiasa berpikir bahwa belajar harus ada jadwal, harus ada buku, harus ada PR, dan harus ada hasil yang bisa diukur.</p><p>Akibatnya, ketika anak “tidak terlihat belajar” di rumah, kita cepat panik. Kita takut homeschooling tidak berjalan. Kita pun tergoda untuk buru-buru membuat aturan kaku, seakan-akan sekolah harus dipindahkan ke ruang tamu.</p><p>Padahal, homeschooling memberi ruang untuk menemukan ritme keluarga sendiri. Untuk orang tua, deschooling berarti:</p><ul><li>Belajar ulang tentang apa itu belajar.</li><li>Melepas ekspektasi ala sekolah</li><li>Melatih diri percaya pada proses alami anak</li><li>Menyadari bahwa bermain, membaca santai, atau ngobrol sehari-hari pun adalah bagian dari belajar.</li></ul><p>Di awal homeschooling, yang paling dibutuhkan bukan modul, jadwal, atau kurikulum yang sempurna. Yang dibutuhkan adalah kesabaran, ruang, dan kepercayaan.</p><p>Anak sedang belajar menemukan kembali kebebasannya. Kita sebagai orang tua pun sedang belajar menata ulang cara pandang kita tentang belajar.</p><p>Ketika keduanya berjalan beriringan, anak dan orang tua sama-sama melewati proses deschooling, maka homeschooling tidak lagi terasa seperti “sekolah yang dipindahkan ke rumah.”</p><p>Ia tumbuh menjadi suasana belajar yang lebih natural, menyenangkan, dan sesuai dengan kehidupan keluarga.</p><p>Jika kamu baru memulai homeschooling, yuk refleksikan apa saja yang perlu dilonggarkan 🤗</p><p>#pendidikan #homeschooling #unschooling</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=72e3c2a8463c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Episode 1 — Berkenalan dengan Homeschooling]]></title>
            <link>https://medium.com/@alraisyfamily/episode-1-berkenalan-dengan-homeschooling-225c4585cf9f?source=rss-520c3f466b52------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/225c4585cf9f</guid>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[home-education]]></category>
            <category><![CDATA[unschooling]]></category>
            <category><![CDATA[education]]></category>
            <category><![CDATA[homeschooling]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[AlraisyFamily]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 21 Jul 2024 09:43:52 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-07-22T00:26:11.134Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Apa itu homeschooling dan bagaimana legalitas di Indonesia?</h3><p>Artikel ini adalah tulisan kami yang pertama di Medium, kami masih mempelajari beberapa tools nya, dan kami berharap pembaca dapat menikmatinya dan mendapat sedikit inspirasi dari tulisan ini.</p><p>***</p><p>Awalnya tahun 2015, istilah homeschooling saja kami baru dengar saat Si Kembar anak pertama kami berusia 1 tahun, dan kami tahu dari sebuah komunitas, yang kemudian kami berdiskusi. Semua pertanyaan sebagai orang awam pun muncul.</p><p>“Homeschooling, jadi guru sendiri ya?”</p><p>“Ijazahnya nanti bagaimana?”</p><p>“ Apa orang tua tidak bertambah stress?”</p><p>“ Pasti harus kaya, dan bebas finansial jadi tidak memikirkannilai atau ijazah.”</p><p>“ Apakah harus memanggil guru ke rumah untuk anak belajar?”</p><p>“ Bagaimana sosialisasinya nanti, anak yang sekolah saja belum tentu bisa bersosialisasi, apalagi ini homeschool?”</p><p>“ Biaya homeschooling berapa?”</p><p>Dan berbagai pertanyaan yang tentunya kalau kami ingat dan menjadi sebuah kenangan, kami bisa tertawa, ah … lucunya pemikiran kami yang dulu.</p><p>Namun, karena rasa penasaran yang tinggi dengan homeschooling, kami lantas mencari tahu, apa itu homeschooling, bagaimana caranya, segi biaya, dll. Kami bertanya pada teman-teman di komunitas yang merupakan praktisi homeschooling, dan mereka menyarankan untuk ikut seminar saja.</p><p>Kami akhirnya mengikuti seminar, membeli beberapa buku dan membaca banyak artikel di internet untuk menggali apa sih homeschooling itu, apa uniknya, bedanya apa dengan sekolah formal, dan apakah di Indonesia itu legal?</p><p>Homeschooling merupakan pendidikan berbasis pada keluarga, di mana keluarga yang memegang tanggung jawab dan peranan penuh dalam pendidikan anak. Orang tua sebagai fasilitator anak yang memberikan fasilitas dalam pendidikan. Jadi homeschooling bukan sekadar memindahkan sekolah ke rumah, namun pengertiannya lebih dari itu.</p><p>Di Indonesia, istilah homeschooling sering sekali diasosiasikan dengan sebuah lembaga sekolah di rumah, yang mengira bahwa orang tua mengajar anak di rumah seperti guru mengajar pada muridnya di sekolah, jadi orang tua harus sangat pintar dalam segala bidang. Seringkali juga ada pertanyaan, “Berapa biaya jika masuk ke dalam homeschooling?” Pada pertanyaan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa homeschooling itu sebuah lembaga yang mengampu, bukan sebuah pendidikan berasaskan keluarga. Ada biaya yang ditentukan dan ada pembelajaran yang ditentukan lembaga tersebut.</p><blockquote><strong>Fakta sebenarnya homeschooling bukanlah sebuah lembaga, ini konteksnya sangat berbeda sekali.</strong></blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/960/1*o08qgAY6PfVg_nzB89Yadw.jpeg" /><figcaption>Photo ini diambil tahun 2018, saat kami sudah menjalankan homeschooling selama 3 tahun.</figcaption></figure><p>Perlu diketahui, berdasarkan Undang-Undang no. 20 tahun 2003, ada tiga jalur pendidikan yang diakui, yaitu jalur formal, jalur informal dan juga jalur non formal. Berikut kami jelaskan secara singkat berikut dengan ciri-cirinya.</p><ol><li><strong>Jalur pendidikan formal</strong> yaitu jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang. Pendidikan ini berlangsung di sekolah-sekolah tradisional, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Ciri-cirinya : Ada lembaga yang menaungi baik dari pemerintah maupun swasta, bertempat di dalam gedung, ada biaya yang harus dibayarkan oleh orang tua, kurikulum dan jadwal yang terstruktur, jenjang pendidikan yang jelas (SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi), ijazah atau sertifikat resmi sebagai bukti kelulusan. Contohnya : SD, SMP, SMA, Universitas.</li><li><strong>Jalur pendidikan informal</strong> yaitu pendidikan yang berasaskan keluarga, dengan proses belajar yang terjadi secara alami dalam kehidupan sehari-hari, tidak terikat oleh kurikulum dan jadwal yang kaku. Jadi sangat fleksibel baik dari segi waktu, biaya dan kegiatan. Ciri-cirinya : tidak terstruktur, terjadi di lingkungan (keluarga, masyarakat, atau tempat kerja), belajar mana saja dan siapa saja (pengalaman, lingkungan, keluarga, dan teman), belajar sesuai dengan minat, bakat dan potensi anak. Contohnya, homeschooling.</li><li><strong>Jalur pendidikan non formal</strong> merupakan jalur yang terorganisir tetapi tidak memiliki jenjang yang sejelas pendidikan formal. Pendidikan ini lebih fleksibel dan sering kali untuk tujuan tertentu seperti pengembangan keterampilan atau peningkatan pengetahuan di bidang tertentu<strong>. </strong>Ciri-cirinya : terorganisir tetapi tidak berjenjang seperti pendidikan formal, kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan, sertifikat atau penghargaan tertentu bisa diberikan sebagai bukti pencapaian. Contohnya : Pondok Pesantren (ada yang formal dan non formal tergantung dari kurikulum yang dipakai), bootcamp, vokasi (ada yang formal ada yang non formal tergantung dari penyelenggaranya), bimbel atau kursus lainnya.</li></ol><p>Setelah tahu ada 3 jalur pendidikan di Indonesia yang diakui, homeschooling termasuk dalam jalur pendidikan informal, meski tidak tersirat dengan jelas. Pendidikan informal diatur dalam pasal 27 undang undang №20 tahun 2003 :</p><ol><li>Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.</li><li>Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.</li><li>Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.</li></ol><p>Maka peserta didik di pendidikan informal dan non formal tetap harus melewati proses belajar seperti jalur pendidikan lainnya, yang dibuktikan dengan e-rapor terdata di DAPODIK.</p><p>Peraturan terbaru mengenai pelaksanaan ujian siswa Homeschooling juga ditetapkan dalam peraturan menteri (Permen) oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, yaitu permendikbud RI №129 Tahun 2014 pasal 12, yang menyatakan bahwa siswa.</p><p>Homeschooling dapat mengikuti UN/UNPK pada satuan pendidikan formal atau nonformal yang disetujui atau ditunuk oleh Dinas Pendidikan kabupaten/kota setempat.</p><blockquote><strong>Pemerintah juga mengeluarkan surat edaran nomor 107/MPN/MS/2006 yang meminta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Kepala Staf TNI AD, TNI AI, TNI AU, Kapolri, Kepala BKN, dan Rektor Universitas/Direktur Politeknik/Ketua Sekolah Tinggi untuk menerima lulusan Pendidikan Non Formal ke dalam institusi mereka.</strong></blockquote><p>Maka dari peraturan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan homeschooling diakui pemerintah dan bersifat legal di Indonesia. Anak yang menganut sistem pendidikan homeschooling juga berhak mendapatkan kesempatan untuk mengikuti ujian dan memperoleh ijazah dari Depdiknas, layaknya siswa dari sekolah formal. Berbekal ijazah kesetaraan tersebut, maka anak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.</p><p>=====</p><p>Ada beragam metode homeschooling, insya Allah akan saya bahas pada artikel berikutnya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=225c4585cf9f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>