<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by K on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by K on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@autumntownleave?source=rss-d1f5b9aa14cc------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*y6EU7Y9Ke5ZgcRcYQxYC0Q.webp</url>
            <title>Stories by K on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@autumntownleave?source=rss-d1f5b9aa14cc------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sun, 17 May 2026 17:15:54 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@autumntownleave/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[00. Kereta Terakhir]]></title>
            <link>https://medium.com/@autumntownleave/00-kereta-terakhir-a48e6db33316?source=rss-d1f5b9aa14cc------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a48e6db33316</guid>
            <dc:creator><![CDATA[K]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 May 2026 05:59:50 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-16T07:59:48.045Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*dKf26ygrvDt2zv5yUWHUyw.jpeg" /></figure><p>Depok, 2023.</p><p>Pengumuman pemberhentian menggema di sepanjang gerbong. Saya mendengar samar-samar di telinga, namun mata ini rasanya tidak mau terbuka. Tubuh ini terlalu lelah untuk bangun dari tidur setelah seharian berada dalam perjalanan. Nadia yang duduk di samping menepuk-nepuk pundak saya untuk membangunkan.</p><p>&quot;Mar, bangun! Hitungan tiga gak bangun gue tinggal beneran,&quot; ucapnya dengan nada sebal.</p><p>&quot;Satu... dua... ti—&quot;</p><p>Saya terkekeh kecil dan akhirnya bersiap untuk turun dari kereta terakhir setelah beberapa kali transit di stasiun Pasar Senen. Tidak lupa saya mengecek barang bawaan, memastikannya tidak ada yang tertinggal satu pun.</p><p>Ketika kereta berhenti dengan sempurna, kami turun melalui peron sebelah kanan.</p><p>Nadia menggenggam tangan saya dengan erat, takut jikalau ia tertinggal di antara kerumunan orang yang turun bersamaan. Saya memutuskan untuk menepi sejenak di kursi tunggu dan mengabari bunda bahwa saya sudah sampai dengan selamat di Depok.</p><p>Belum sempat menekan tombol panggilan, bunda sudah lebih dulu menekan panggilan untuk saya.</p><p>&quot;Halo, bun,&quot; ucap saya dengan semangat menggebu.</p><p><em>&quot;Lio... Papa...&quot;</em> ucapnya dari seberang sana dengan nada yang membuat saya khawatir. Kenapa suara bunda terdengar lemah?</p><p>&quot;Papa kenapa, bun?&quot; tanya saya dengan jantung yang kini berdetak tak karuan setelah mendengar suara bunda.</p><p><em>&quot;Papa meninggal,&quot;</em> ucapnya, diikuti tangisan yang pecah. Saya terdiam mematung, tak percaya dengan yang saya dengar saat ini. Otak saya rasanya seperti tidak mau menerima kenyataan yang terjadi. Panggilan dari bunda terputus. Saya berusaha meneleponnya lagi, tapi tak ada jawaban. Air mata rasanya tidak ingin keluar, tapi hati dan pikiran saya menolak untuk merasakan sakit.</p><p>&quot;Mar, lo kenapa?&quot; tanya Nadia yang sadar raut wajah saya berubah seketika. Saya hanya mengusap rambut kasar, tak tahu harus berkata apa.</p><p>&quot;Papa meninggal, Nad.&quot; Satu kalimat terakhir sebelum akhirnya saya berdiri dan berjalan lebih cepat, meninggalkan Nadia di belakang. Tujuan saya saat ini adalah pulang dan menemui bunda. Pikiran saya tidak bisa dikendalikan, bahkan saya sempat menabrak satu perempuan yang juga turun dari kereta yang sama dengan saya tadi.</p><p>&quot;Maaf, gue lagi buru-buru,&quot; ucap saya sambil terus berjalan, meninggalkan perempuan itu yang mungkin menatap saya dengan tatapan tak sopan dan umpatan-umpatan tentang saya. Tapi saya tidak peduli.</p><p>Setibanya di rumah, sudah banyak orang berkerumun untuk melontarkan ucapan duka pada bunda. Saya melihat bunda duduk lemah di samping tubuh yang sudah tidak bernyawa. Barulah saat saya menginjakkan kaki di ambang pintu, tangisan pecah begitu saja. Bahu yang dipaksa tegak sudah tidak bisa lagi naik. Tangan yang dipaksa untuk tetap tegar kini bergetar hebat. Papa terbaring pucat tak bernyawa, begitu pun bunda yang seolah juga tak bernyawa kembali. Saya duduk di samping papa untuk terakhir kalinya. Nadia berusaha menenangkan dengan membelai lembut punggung saya.</p><p>Sudah saatnya papa dikembalikan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Papa diberikan pakaian terbaik dan beliau terlihat tampan, bahkan untuk yang terakhir kalinya.</p><p>Saya melihat dengan mata saya sendiri ketika papa dimasukkan ke dalam peti. Kami siap untuk melepas papa selamanya. Bunda memegang bingkai foto papa yang tersenyum lebar. Bagi saya, itu adalah foto terbaik papa, sebab senyum di foto itu terlihat sangat sempurna. Kami berjalan menuju tempat peristirahatan terakhir papa. Bunda kini tidak lagi menangis, tapi saya tahu bahwa bunda adalah orang yang paling sulit untuk menerima kenyataan pahit ini. Saya terus berdiri memegangi payung di samping bunda, berusaha untuk menjadi sandaran semua orang yang berduka saat ini. Eyang yang juga ikut menguburkan papa berusaha untuk tetap tegar. Untung saja Nadia sigap menjaga eyang di saat saya sibuk menenangkan bunda. Setelah doa-doa yang dipanjatkan, kami memutuskan pulang untuk mengistirahatkan tubuh lelah ini. Walaupun dengan hati yang penuh kegelapan, kami melangkah meninggalkan papa yang sudah tenang.</p><p>Sesampainya di rumah, saya tidak masuk bersama bunda dan eyang. Saya berdiri menatap satu buah lonceng yang berada di ambang pintu, mengingat kembali ucapan papa. <em>Lonceng yang berdenting menandakan kebahagiaan akan datang</em>. Tetapi kali ini, lonceng itu berdenting menandakan duka yang menyelimuti saya mulai hari ini.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a48e6db33316" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>