<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by ayya on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by ayya on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@ayahaeyiee?source=rss-de057a50425------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*mYASIQ6bDapqPBzdSkGiag.jpeg</url>
            <title>Stories by ayya on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee?source=rss-de057a50425------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Thu, 28 May 2026 21:21:40 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@ayahaeyiee/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[you are the first]]></title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee/you-are-the-first-e611e77b85e6?source=rss-de057a50425------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e611e77b85e6</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayya]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 20 May 2026 13:34:06 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-20T13:34:06.229Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/898/1*NQPNB2BXFhupSmzNImCEmA.jpeg" /></figure><p><em>From AU Eldest Daughter chapter 99 on instagram @/perfecltyfinelagi</em></p><p>Lorong rumah sakit beraroma khas obat kimia menyapa indra penciuman Shreya persis seperti kala Ibu Ratih dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat bukan lalu. Bedanya, kali ini Shreya perlu menaiki lift untuk tiba di bilik ruangan yang disebutkan Rayyan melalui pesan singkat. Derap langkahnya baru berhenti ketika tiga laki-laki berpakaian kasual terlihat menempati kursi pengunjung di sisi sebuah pintu kamar pasien.</p><p>“Jesan di dalem,” ujar Rayyan tanpa ingin berbasa-basi.</p><p>“Lo bawa motor dari toko, Ya?” tanya Kael yang sudah berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Shreya.</p><p>“Iya, pinjem motor Dinar,” jawab Shreya apa adanya. “Dia gimana keadaannya? Lo bertiga kenapa nggak masuk?” tanyanya kemudian.</p><p>“Sebenernya cuma kecelakaan kecil, tapi anaknya minta lo jenguk,” balas Javino dengan kepala yang mendongak dari posisi duduknya. “Langsung masuk aja. Kita tungguin di sini.”</p><p>Shreya melirik Kael untuk meminta konfirmasi sebelum anggukkan kepala dari lelaki berjaket hitam itu menggerakkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar pasien.</p><p>Dengan bekal rasa khawatir dan izin cuti kerja pertama yang diberikan Kak Rachel, Shreya mendekati ranjang pasien yang terletak tidak jauh dari bilik jendela. Kekhawatiran yang sebelumnya terpampang nyata di wajahnya seketika berubah drastis begitu netranya menemukan sepasang orangtua yang berdiri di sisi kanan dan kiri ranjang dengan tangan yang terlipat di depan dada.</p><p>“Kamu bukan anak kecil lagi, San. Masa masih sebegini cerobohnya?” Pertanyaan bermaksud sindiran keras diberikan oleh sosok pria berbalut pakaian olahraga di sebelah kiri. “Nggak pernah-pernahnya Papa terbayang kamu akan menyetir tanpa liat kanan kiri seperti ini.”</p><p>“Mama, kan, ini yang bolehin dia beli motor dan nyetir motor? Padahal tau kalau anaknya udah lama nggak bawa motor, ini malah dikasih nyetir sendiri,” ocehannya masih berlanjut.</p><p>“Kok jadi salahin aku sih, Mas? Orang anaknya yang keras kepala mau beli dan nyetir motor sendiri. Aku mana tau dia masih inget apa enggak aturan lalu lintas sepeda motor!” sewot wanita paruh baya di seberangnya.</p><p>“Ya, masih inget, lah, Maaaa. Ya kali aku berani bawa motor tanpa tau aturan lalu lintas?” Si objek kekhawatiran justru terkekeh renyah memperhatikan kedua orangtuanya yang belum berhenti mengomel sejak sepuluh menit lalu.</p><p>“Kamu, tuh, pengemudi sepeda motor yang masih amatiran, sadar nggak?! Gosok gigi aja belum, udah main nyetir motor tanpa jaket, tanpa sarung tangan! Liat nih akibatnya. Untung itu kepala nggak kebentur aspal. Mau jadi apa kalau tadi kamu juga lupa pakai helm?!”</p><p>Pria berusia lima puluh tahunan itu tak henti-hentinya bersikap dramatis walaupun anak dan istrinya menanggapi omelannya dengan senyuman lebar yang hampir seperti mengejek. Shreya yang tubuhnya membatu beberapa langkah di belakang punggung mereka diam-diam merasa terhibur sekaligus iri dengan bagaimana keluarga kecil itu menghadapi suatu masalah serius. Jauh sekali perbedaannya dengan situasi keluarganya di rumah.</p><p>Selang beberapa detik kemudian, kekehan ringan di sekeliling ranjang pasien meredup saat netra Jesan menangkap kedua bola mata Shreya yang tampak terkejut. “Loh, Shreya? Sejak kapan lo berdiri di sana?” Lalu senyum tipis yang lebih damai tercipta di wajah pucatnya. “Sini, Ya, sini.”</p><p>Perasaan gugup sekaligus ragu serta merta menyerang Shreya pada detik selanjutnya. Sepasang orangtua yang mengikuti arah pandang anak semata wayang mereka memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung rambut sebelum akhirnya Ibu Jesselyn menyadari eksistensinya.</p><p>“Loh, Shreya!” sapa si wanita berbalut jaket olahraga berwarna <em>beige</em> sembari menghampiri gadis penjual roti yang tersenyum kikuk. “Kamu dari tadi di sana? Kok diem aja? Nggak kedengeran sama sekali, loh, suara masuknya.”</p><p>“Eh… I-iya, Ibu,” balas Shreya dengan punggung yang sedikit membungkuk. “Maaf ya, kedatangan aku jadi mengganggu obrolan kalian.”</p><p>“Tidak, tidak ada yang merasa diganggu.” Kini Pak Sekala yang menyahuti Shreya dengan ramah. Lelaki itu berjalan mendekat untuk mengajak Shreya bersalaman. “Selama ini Bapak hanya mendengar cerita tentang kamu dari Mamanya Jesan dan Jesan sendiri. Akhirnya pagi ini kita bisa bertemu, ya, meskipun alasan utamanya karena si anak ceroboh ini,” katanya — masih tidak luput dari sindiran halus untuk anaknya.</p><p>“Shreya naik apa ke sini, Nak?” Tanya berikutnya diajukan setelah Shreya membalas uluran tangannya.</p><p>“Saya naik motor, Pak.”</p><p>Jawaban yang terdengar kelewat formal itu mengundang kekehan kecil dari Pak Sekala — juga Ibu Jesselyn di sebelah Shreya.</p><p>“Nggak usah terlalu kaku sama Bapak, Nak. Anggap aja seperti teman lama, seperti Shreya ke istri Bapak,” pinta Pak Sekala.</p><p>“Nggak perlu sebegitunya, ah, sama papanya Jesan. Tampangnya emang agak sangar, tapi dia nggak gigit kok, Ya,” timpal Ibu Jesselyn.</p><p>Tak ingin dikecualikan dari percakapan, Jesan berinisiatif untuk menimbrung, “Naik motor siapa, Ya? Bukannya motor lo masih di Karin?” tanyanya.</p><p>“Naik motor Dinar. Pinjem sebentar,” balas Shreya singkat.</p><p>“Berarti habis ini balik lagi ke toko roti?”</p><p>“Iya.”</p><p>Shreya menyunggingkan senyum kecilnya dan diam-diam menghela napas lega sebab kondisi Jesan di atas ranjang ternyata jauh dari kata mengkhawatirkan. Wajah lelaki itu bersih dari luka berat kecuali dahi sebelah kiri yang dihiasai sebuah perban. Lalu di tangan kirinya ada perban lain yang membalut siku sampai lengannya. Tidak ada luka serius seperti yang Shreya bayangkan selama perjalanan menuju rumah sakit.</p><p>“Pa, kita beli jus, yuk, di kantin bawah. Aku haus nih, kepingin jus jeruk.” Tanpa menunggu suaminya memberikan tanggapan, Ibu Jesselyn sudah bergerak cepat untuk merangkul lengan lelakinya selagi berpamitan kepada kedua muda-mudi yang tampak membutuhkan ruang bicara.</p><p>“Shreya ngobrol di sini dulu aja, ya, sama Jesan. Kamu dipersilakan banget deh untuk ngomelin keteledoran laki-laki sok paling keren itu. Ibu sama Bapak turun dulu ke bawah.”</p><p>Shreya hanya sanggup memberikan respons dengan satu kata <em>‘iya’</em> bervolume kecil sepaket dengan senyum manis dan kepalanya yang sedikit menunduk sampai sepasang orangtua itu benar-benar meninggalkan ruangan.</p><p>“Nggak perlu seformal itu, Ya, astaga.” Keluhan pertama disampaikan Jesan sembari tangannya menepuk-nepuk sisi ranjang — meminta Shreya untuk mendekat padanya.</p><p>“Di sini mereka orangtua gue. Tadi mereka nyapa lo sebagai orangtua gue, bukan yang lain. Lo nggak perlu sebegitunya.”</p><p>“Gue rela-relain ninggalin kerjaan gue untuk ke sini dan yang gue dapet dari lo adalah omelan?” sahut Shreya tepat setelah kursi di sisi kanan ranjang ia tempati. “Gimana ceritanya sampe bisa kecelakaan begini? Lo teledor dimana?”</p><p>Jesan sontak menguarkan kekehan ringan mendengar Shreya yang bertanya dengan mimik muka datar yang baginya menggemaskan. “Kecelakaan tunggal, Ya. Gue masih ngantuk dan salah nyalain lampu sein. Mau ambil kiri, tapi gue malah nyalain lampu kanan dan berakhir hampir ditabrak mobil lain. Gue ngerem mendadak, terus jatuh deh.”</p><p>Penjelasan lelaki berbalut pakaian pasien rumah sakit itu berhasil merubah raut wajah Shreya menjadi terkejut tak percaya. “Lo? Nyetir motor? Dalam keadaan ngantuk?” Ia sengaja mengulang jawaban Jesan. “Berarti lo beneran pergi ke toko tanpa gosok gigi?”</p><p>Pertanyaan di luar konteks yang diajukan Shreya sukses membuat Jesan tergelak — dan berakhir membuatnya meringis sebab pundak kirinya terasa ngilu. “Lo dengerin semua omongan Papa Mama dari tadi?” Tawanya menyela kalimatnya. “Enggak, lah, Ya. Gue udah gosok gigi kookk, udah cuci muka juga, cuma emang nggak mandi.”</p><p>“Dih, jujur banget!!!” seru Shreya tidak habis pikir. Alisnya mengernyit heran sedangkan tangannya terulur tanpa sadar untuk memeriksa perpotongan pundak kiri Jesan yang masih dipegangi si empunya. “Kenapa pundak kirinya?”</p><p>“Nggak papa, cuma agak ngilu aja.” Jesan menarik turun sedikit kerah bajunya untuk memperlihatkan perban khusus yang melilit perpotongan pundak kirinya. “Waktu jatuh, tubuh bagian kiri gue refleks nahan beban tubuh gue sebelum akhirnya gue terkapar karena nggak sanggup nahan berat motor.”</p><p>“Lo ketiban motor segede itu?” Sepasang netra Shreya membelalak. Kekhawatirannya kembali secepat kilat sebab membayangkan bagaimana motor besar Jesan menimpa tubuhnya di jalan raya — dan di tengah keramaian lalu lintas sanggup membuatnya meringis.</p><p>Kekehan kembali disuarakan Jesan sebelum ia menimpali, “Aman aja, Ya. Badan gue nggak seringkih itu. Masih mampu buat nahan motor.”</p><p>“Kalau beneran mampu, ini pundak harusnya nggak perlu dibalut <em>tensocrepe</em>!” seru Shreya.</p><p>“Nggak usah marah-marah doongg. Yang nyuruh gue dateng ke toko, kan, lo,” balas Jesan.</p><p>“Kok gue?!” Shreya melotot tidak terima.</p><p>“Lah, kan lo yang bilang kalau gue mau tau nanti sore lo kemana, gue harus cepet-cepet dateng ke toko.” Jesan memberikan pembelaan.</p><p>“Nggak ada yang nyuruh lo cepetan ke toko!” bantah Shreya. “Gue cuma bilang kalau lo mau tau, ya, dateng ke toko, tanya langsung. Nggak ada gue minta lo buru-buru!”</p><p>“Hahahaha. Gemes banget marah-marah mulu.”</p><p>“Gue marah karena lo nuduh gue.”</p><p>“Bukan karena lo kelewat khawatir? Takut gue kenapa-napa?”</p><p>“Bukan.” Shreya menolak tuduhan Jesan secepat kilat dengan wajahnya yang mulai memerah sedangkan si lelaki semakin tergelak.</p><p>“Ohh, bukan, ya?” goda Jesan. “Jadi, lo yang langsung otw setelah Rayyan nge-chat dan lo yang dateng ke rumah sakit tanpa ganti seragam toko itu bukan sebuah bukti kalau lo khawatir?”</p><p>“Iya, bukan.” Shreya melipat kedua tangannya di depan dada. “Tapi lo puas kan ngeliat gue begini, San? Puas ngeliat secara langsung segimana berantakannya gue kalau lo nggak hati-hati? Puas lo jadi alesan gue terpaksa pakai jatah cuti kerja pertama gue di toko?”</p><p>Nada bicara Shreya memang terdengar sinis, tapi jangan salahkan Jesan kalau wajahnya bersemu menerima semua pertanyaan itu. “Puas,” jawabnya. “Jauh lebih puas daripada denger pengakuan kalau lo khawatir sama gue.”</p><p><em>“Congratulations then.”</em></p><p><em>“Congratulations for you too.”</em> Jesan tersenyum penuh arti. “Kalau bukan karena mau cepet-cepet ketemu lo, mungkin gue nggak akan nekat untuk terabas rasa ngantuk gue. Gue juga nggak akan tiba-tiba beli motor dan aktif motoran lagi kayak apa yang Papa sempet bilang kalau bukan karena lo yang lebih suka dibonceng.”</p><p>“Gue nggak pernah bilang gue lebih suka dibonceng!” Protes Shreya.</p><p>“Komentar mulu kayak Ahmad Dhani.”</p><p>“Lo pasien ternyebelin!!!”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e611e77b85e6" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[she listened]]></title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee/she-listened-a9d45aaa6d38?source=rss-de057a50425------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a9d45aaa6d38</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayya]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 20 May 2026 13:28:41 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-20T13:28:41.762Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*n0vIw4jThvnPgFlcnBrE1Q.jpeg" /></figure><p><em>From AU Eldest Daughter chapter 86 on instagram @/perfecltyfinelagi</em></p><p>Sepasang muda-mudi masih merengkuh tubuh mereka satu sama lain di balik sehelai tirai yang membatasi ruang pasien. Diiringi bising yang berasal dari para dokter, perawat, dan pasien lain di ruang udara Instalasi Gawat Darurat, Shreya memejamkan matanya untuk menikmati lukanya — luka yang secara hati-hati disentuh oleh Jesan, luka yang terus berteriak perih walau tak pernah benar-benar berdarah.</p><p>“<em>I got your back, </em>Kakak Eya. Tenang ya, gue di sini…”</p><p>Kali ini Shreya berikan anggukan kecil untuk Jesan. Kedua tangannya yang melingkari pundak lelaki itu perlahan mulai melonggar bersamaan dengan satu bulir air mata yang diam-diam membasahi pipi wanita di atas ranjang pasien.</p><p>Ratih dapat mendengar semuanya; bagaimana laki-laki yang pernah dicintainya menyakiti putri sulungnya untuk kesekian kali, bagaimana anak gadisnya menangis pilu menahan sakit, bagaimana pemuda asing merengkuh serta menenangkan anaknya persis seperti apa yang selama ini tidak pernah berani ia lakukan. Tanpa ditangkap netra siapa pun, Ratih menggigit bibir bawahnya, menahan sakit atas penyesalan yang begitu besar akan apa yang telah menimpa putrinya selama ini. Sekali lagi ia disadarkan Tuhan bahwa dosanya sebagai seorang Ibu tak pantas mendapatkan ampunan. Shreya — maupun anaknya yang lain tidak seharusnya memiliki tanggungan hidup seberat ini. Dirinyalah yang patut disalahkan untuk semua luka yang dipaksa meninggalkan jejak pada kehidupan mereka.</p><p>“Maafkan Ibu, Kak…”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a9d45aaa6d38" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[touch down]]></title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee/touch-down-3972f1d761c8?source=rss-de057a50425------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/3972f1d761c8</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayya]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 01 May 2026 06:47:05 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-01T06:47:05.465Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/900/1*slnfMXG51uRHDXLmwdPElQ.jpeg" /></figure><p><em>From AU Eldest Daughter on instagram @/perfecltyfinelagi chapter 85</em></p><p>Tidak ada kata yang terucap selama kedua kaki sepasang muda-mudi itu menyusuri lorong rumah sakit menuju Instalasi Gawat Darurat di lantai dasar sebuah rumah sakit umum ibu kota. Sederet kalimat penenang dan penuh dukungan sudah Jesan berikan ketika sepeda motor Shreya terparkir sempurna di area basement. Anggukkan kecil yang diberikan sang puan cukup memompa keberanian Jesan untuk menemani Shreya sebelum diminta.</p><p>Kenzi menjadi yang pertama berdiri dari kursinya begitu Shreya menggeser tirai pembatas antar pasien di sisi kanan sebuah ranjang yang ditempati Ibu. Dengan wajah yang basah oleh air mata dan kekhawatiran yang tampak begitu jelas di kedua bola matanya, Kenzi bergerak cekatan memeluk Shreya erat-erat sembari menenggelamkan wajahnya di lengan kakak tertua.</p><p>“Ibu nggak akan kenapa-napa, Dek. Kakak janji sama Kenzi, Ibu akan cepat sembuh dan pulang,” janji Shreya — yang sebenarnya ia sendiri tidak sepenuhnya yakin itu bisa ditepati. “Kenzi udah makan malam belum? Pergi makan dulu sama Kezia di kantin mau, ya?”</p><p>Gelengan diberikan Kenzi — juga Kezia yang baru saja bertukar sapa dengan Jesan.</p><p>“Aku yang jagain Ibu di sini. Aku udah makan tadi sama Kak Jesan, sementara kalian belum,” ujar Shreya sambil menarik tangan Kezia mendekat. “Aku udah minta ayah pulang, tapi kayaknya dia bakal tetep ke sini. Kamu tolong bawa Kenzi jajan dulu, ya? Biar aku aja yang ngadepin ayah kalau dia cari masalah di sini,” pintanya.</p><p>Kezia tak punya pilihan lain selain mengangguk patuh. Ia membujuk Kenzi kemudian melirik Jesan yang sedang memeriksa isi nakas di samping ranjang Ibu. “Kak Jesan gimana? Di sini aja emang nggak papa? Dia tau ibu sama ayah gimana?”</p><p>Pertanyaan tersebut mengalihkan pandangan Shreya pada lelaki berbalut pakaian formal seperti dirinya. Ada jeda yang ia ambil sebelum bertanya, “San, lo baru balik magang juga, kan, ya? Mau ke kantin aja nggak biar bisa istirahat? Di sini cuma ada satu kursi, nanti lo nggak bisa du — “</p><p>“Gue di sini aja, boleh?” sela Jesan. Senyum hangatnya terukir untuk Kezia dan Kenzi yang menatapnya penasaran, “Aku di sini aja nemenin Kak Eya boleh, ya? Biar nanti kalau ibu sadar, aku yang pergi panggil dokter.”</p><p>Hening beberapa detik dipatahkan oleh Kenzi yang bersuara, “Kalau gitu tolong jagain ibu sama Kak Eya, Kak. Kita mau jajan doang sebentar.”</p><p>Jesan tersenyum lebih lebar. “Siap, laksanakan!”</p><p><em>“Just info.</em> Gue nggak berminat gantian kursi, ya,” kata Shreya ketika kedua adiknya sudah hilang dari pandangannya. “Lo nyender aja kek kemana.”</p><p>“Iya, gampang,” sahut Jesan kelewat santai. “Ini ibu lagi tidur aja kok, Ya. Kayaknya dokter ada ngasih obat <em>pain killer </em>di infusnya, jadi ibu ngantuk. Lo nggak perlu terlalu khawatir lagi ya, sebentar lagi pasti ibu sadar.”</p><p>“Lo ngecek apa tadi?” tanya Shreya penasaran.</p><p>“Cuma coba cek denyut nadi sama cek respon tubuh. Terus tadi ada gerakan spontan waktu gue kasih rangsangan di jari tangannya,” jawab Jesan.</p><p>Helaan napas berat dilepas Shreya pelan-pelan. Kekhawatiran yang dimilikinya tentu saja tak kalah besar dengan Kenzi maupun Kezia. Sejak pesan Kezia memenuhi layar ponselnya, akal Shreya hampir tidak mampu berpikir dengan jernih. Ia bergerak refleks meraih kunci motor di meja makan untuk kemudian berlari menuruni tangga menuju parkiran. Beruntungnya, Jesan berhasil mencekal lengannya dan menawarkannya bantuan untuk mengantarnya ke rumah sakit.</p><p>Jesan tidak buta akan sebesar apa kekhawatiran yang sedang disembunyikan mati-matian oleh gadis sulung di depannya. Tangannya yang bergetar ketika menaiki sepeda motor, matanya yang tidak fokus ketika Jesan mengajaknya berbicara, bibirnya yang pucat serta peluh di dahinya sudah lebih dari cukup untuk membuat Jesan mengerti apa yang wanita itu rasakan sebenarnya. Namun, melihatnya berdiri tegap dengan senyum yang merekah tenang di depan kedua adiknya sukses membuat hati Jesan mencelos.</p><p><em>Right. Ini Shreya. Si paling mahir berpura-pura.</em></p><p>Atensi Jesan yang hanya tertuju pada wanita berbalut kemeja hitam garis-garis itu mendadak direbut paksa oleh kehadiran seorang lelaki tua yang membawa aroma tembakau di bajunya.</p><p>“Oh, jadi ini alasan utama kamu meminta Ayah untuk segera pulang, Shreya?” sapanya. “Karena ada pacar kaya kamu di sini ya? Kenapa, sih? Takut Ayah minjem uang lagi ke dia?” Ayah Bima mengambil tempat kosong di antara Shreya yang terduduk dan Jesan yang berdiri di sisi ranjang Ibu.</p><p>“Kezia sama Kenzi nyusul ke kantin. Ayah nggak ketemu sama mereka?” tanya Shreya — berusaha menjaga intonasi bicaranya untuk tetap tenang. “Oh, pantes nggak ketemu,” lanjutnya begitu tersadar dengan aroma tembakau yang tersisa di baju Bima.</p><p>Yang ditanya melengos malas lalu berfokus pada Jesan yang membukukkan sedikit tubuhnya sebagai bentuk salam.</p><p>“Kamu ngapain ke sini sama Shreya? Mau bayarin biaya berobat ibunya?”</p><p>Pertanyaan Bima sontak membuat Shreya berdiri dari kursinya. “Ayah,” tegurnya dengan tegas. Kedua netranya kini menatap nyalang, berharap sang ayah dapat membungkam mulutnya setidaknya untuk malam ini.</p><p>“Loh, kenapa marah? Ayah, kan, cuma nanya,” jawab Bima. “Nggak sekalian kamu bawa Kenzi sama Kezia makan keluar, Nak?”</p><p>Shreya sukses terpancing emosinya. Sebelum Jesan sempat membuka mulut, wanita itu berujar lebih dulu, “Tunggu di luar sebentar, San. Gue perlu bicara berdua sama Ayah.”</p><p>Tak ingin membantah, Jesan memilih untuk kembali menundukkan sedikit kepalanya — bermaksud berpamitan, lalu ia keluar dari bilik Ibu Ratih setelah menarik seluruh tirai pemisah untuk memberikan sepasang anak dan ayah itu waktu berbicara.</p><p>“Nggak usah bahas uang di saat semua yang terjadi sama ibu malam ini karena Ayah yang terus-terusan merusak keuangan keluarga,” ketus Shreya dengan suara sepelan mungkin. “Jangan pikir aku nggak tau, Yah, apa yang ayah lakukan dengan uang tabungan kita untuk sekolah Kenzi. Jangan pikir karena aku sibuk magang, Ayah bisa semena-mena sama orang di rumah.”</p><p>“Semena-mena apa, sih, maksud kamu?” tukas Bima. “Ayah udah bilang ibu kalau Ayah mau pinjam uang untuk melunasi hutang Ayah di Pak Didi. Pak Didi butuh cepet, Ayah nggak punya pilihan lain selain pake uang yang ada!”</p><p>“Dan asal kamu tau, ibu sama Ayah nggak ribut di kamar mandi, jadi ibu yang jatuh itu bukan salah Ayah! Enak aja tiba-tiba datang dan main menyalahkan Ayah!”</p><p>Kalimat berintonasi menusuk yang dilontarkan Bima telak menghancurkan hati Shreya untuk kesekian kalinya. Menyaksikan dengan kedua mata kepalanya sendiri bagaimana sosok ayah di hadapannya tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun atas apa yang telah menimpa Ibu terasa jauh lebih menakutkan dari mimpi buruk mana pun yang pernah menghampiri Shreya dalam tidurnya.</p><p>“Yah, bahkan di saat ibu lagi nggak sadarkan diri kayak begini, Ayah bakalan tetep egois, ya?” lirih Shreya. “Aku udah nggak punya kata-kata untuk nyampein segimana besar kecewanya aku atau sakit hatinya aku ketika tau uang yang selama ini aku dan ibu kumpulkan pelan-pelan untuk sekolah Kenzi dipakai seenaknya untuk bayar hutang Ayah. Aku cuma berharap Ayah punya sedikit aja rasa bersalah atas apa yang ibu alamin. Ibu nggak akan selemah ini sampai jatuh di kamar mandi kalau Ayah nggak bikin ibu marah. Ibu juga nggak akan kehilangan fokus atau keseimbangan tubuhnya kalau Ayah nggak ambil uang sekolah Kenzi…”</p><p>Jeda yang tak sengaja tercipta digunakan Shreya untuk mengembalikan kendali atas dirinya sendiri. Kedua tangannya yang mengepal di sisi tubuhnya yang sudah berteriak lelah menjadi satu-satunya tumpuan Shreya saat Bima kembali berujar.</p><p>“Sudah, lah. Lagipula uangnya sudah di Pak Didi, nggak usah dibahas lagi,” katanya tak acuh. “Kamu bukannya ada uang tabungan untuk kuliah Kezia? Pake itu aja dulu buat sekolah Kenzi. Kan Kezia masih tahun depan kuliahnya.”</p><p>Tangan lelaki itu merampas beberapa permen mint di laci nakas, membukanya kasar, memasukkannya ke dalam mulut seakan apa yang diucapkan lidahnya merupakan solusi yang paling masuk akal.</p><p>“Terus Kezia kuliahnya gimana tahun depan?”</p><p>“Masih ada satu tahun lagi, masih bisa menabung dari awal lagi.”</p><p>“Maksudnya siapa yang menabung? Aku lagi?”</p><p>Bima menoleh dengan mata terbelalak, “Ya, iyalah. Emangnya Ayah punya uang, hah? Uang Ayah cuma cukup untuk makan, uang kamu yang lebih banyak apalagi sekarang punya pacar orang kaya. Kalau Ayah nggak boleh pinjem uang dia, kamu aja yang morotin dia langsung.”</p><p>Kini Shreya yang membelalakkan kedua netranya. “Ayah ternyata seneng, ya, liat aku kerja dari pagi sampai pagi lagi? Ayah seneng liat aku yang nggak pernah absen kerja, nggak pernah liburan, nggak pernah makan enak, nggak punya tabungan untuk masa depanku sendiri, bahkan nggak punya waktu untuk diriku sendiri? Ayah seneng, Yah, liat anak sulungnya hidup <em>kayak gini</em>?”</p><p>Satu bulir air mata tidak mampu ditahan Shreya yang suhu tubuhnya mulai meningkat. Kepalanya terasa berat bukan main sebab emosi di dalam dadanya bersorak ricuh untuk dikeluarkan. Kedua tangannya masih mengepal, menahan sekuat tenaga kata menyerah yang sudah menjejaki ujung lidahnya. Namun Shreya tidak akan menuruti keinginan hatinya — tidak ketika ia sadar satu-satunya lelaki yang berusaha menyelamatkannya masih di sana.</p><p>“Yang hidup kayak kamu di dunia ini bukan kamu doang, Shreya. Nggak usah berlebihan,” sinis Bima. “Kamu pikir Ayah enak hidup kayak gini? Kamu pikir Ayah mau ditipu ratusan juta demi menyekolahkan kamu dulu?” Tangan tua itu meraih jaketnya di sisi ranjang Ibu untuk kembali dikenakan. “Kalau tau akan hidup sesusah ini, mending dulu kamu nggak usah sekolah supaya bisnis Ayah tetep berjalan lancar, supaya ibu kamu nggak termakan iklan investasi dan bikin kita jatuh miskin.”</p><p>“Mikir, Shreya. Kamu itu anak sulungnya Ayah sama ibu. Kalau sudah kayak begini, memang adik-adikmu mau ngandelin siapa kalau bukan kamu?”</p><p>Langkah berat lelaki yang dipanggil Shreya dengan sebutan Ayah selama dua puluh tahun bernapas di dunia berangsur menjauh setelah tangannya menyibak tirai bilik pasien. Bersamaan dengan itu, tubuh Shreya jatuh terduduk di sisi meja nakas. Kepalanya segera bersembunyi di antara kedua kakinya yang ditekuk sampai dada. Air matanya berlomba-lomba membasahi lengan kemejanya meski isak tangis terus ditelannya kuat-kuat. Shreya sangat benci menjadi lemah. Tetapi malam ini, dunia seakan memaksanya untuk mengibarkan bendera putih tanda menyerah.</p><p>Tepat sebelum bibirnya mengeluarkan darah akibat digigit terlalu keras, sebuah rengkuhan hangat dari seseorang yang wanginya sudah tersimpan rapat di dalam memori tiba-tiba mendarat di kedua lengannya. Kepala Shreya yang sedari tadi sibuk bersembunyi kini diletakkan pada pundaknya yang lebar. Tubuh ringkih dengan rambut yang sudah tak tertara itu dibawa masuk ke dalam dekapan yang menguarkan rasa aman tidak masuk akal.</p><p>“Gue di sini. Sama gue aja nangisnya.”</p><p>Jangan salahkan Shreya jika kalimat sederhana yang dilontarkan Jesan sukses mendorong air matanya untuk turun lebih deras. Tubuhnya tidak bisa lagi mengendalikan seluruh emosi yang beradu di dalam hati dan kepalanya. Sakitnya berlebihan dan Shreya tidak menemukan penawar lain selain membiarkan dirinya terisak pilu di dalam pelukan hangat Jesan.</p><p>“Ma — maaf…,” lirih Shreya. “Maaf… Lo jadi denger semuanya…”</p><p><em>“Ssstt.”</em> Jesan bubuhkan punggung sempit Shreya usapan-usapan penuh sayang, berharap gadis itu mengerti bahwa ia tidak perlu mengkhawatirkan hal lain. “Nggak papa, Kakak Eya. Diresapi dulu sedihnya, nggak papa.”</p><p>Shreya kembali gagal mengontrol air matanya untuk tidak meluncur membasahi kemeja Jesan. Perasaan malu yang sudah membeludak di hatinya berhasil dikalahkan dengan rasa aman yang ditawarkan Jesan secara cuma-cuma.</p><p>“Maaf… Gue — gue nggak sehebat yang lo kira. Gue malu, San. Gue malu lo denger semuanya.”</p><p>Apa yang dikatakan Shreya menciptakan debaran menyakitkan di dada Jesan yang masih bergemuruh. Hatinya seperti ditampar berkali-kali sejak percakapan Bima dan Shreya tertangkap oleh telinganya beberapa saat lalu.</p><p>“Lo manusia dan lo bisa kesakitan, Ya. <em>It’s normal</em>. Lo udah keren banget selama ini, jadi nggak papa ya… Dilepasin aja semuanya sekarang, gue temenin. Gue ada selalu di sini sama lo,” bisik Jesan. “Nggak perlu merasa malu lagi sama gue, Ya. Lo dunia gue.”’</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=3972f1d761c8" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[pat-pat]]></title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee/pat-pat-9ec39154f5e2?source=rss-de057a50425------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9ec39154f5e2</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayya]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 23 Apr 2026 09:41:37 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-23T09:41:37.088Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/728/1*5suvSgvmqbObyrcbXPXcYQ.jpeg" /></figure><p><em>From AU Eldest daughter on instagram @perfelctyfinelagi chapter 85</em></p><p><em>She’s here.</em></p><p>Kedua sudut bibir Jesan sontak terangkat begitu netranya menemukan sosok wanita yang dituju oleh kata rindu di dalam dadanya belakangan ini muncul dari anak tangga tertinggi. Senyum dibagikan secara cuma-cuma oleh Shreya sembari menempati bantalan sofa yang dijadikan alas duduk lesehan di seberang si lelaki.</p><p>“Nggak mau duduk di sini aja?” tawar Jesan dengan tangan yang menepuk sisi kanannya. “Biar lo makannya enak sekalian mandangin langit. Anginnya juga lagi nggak kenceng dan banyak bintangnya.”</p><p>Shreya menggeleng kecil. “Gue lagi nggak tertarik mandangin langit ataupun bintang-bintang.”</p><p>“Ya, udah. Senyamannya lo aja,” sahut Jesan sesederhana mungkin demi menyembunyikan kepercayaan dirinya yang sudah melambung tinggi akibat kalimat Shreya tertangkap menyiratkan maksud lain.</p><p>“Bebek goreng bagian dada, suka, kan?”</p><p>“Suka.”</p><p>“Minumnya gue beli <em>lemon-tea</em> sama <em>lychee-tea</em>. Terus ini ada air mineral dingin juga. Lo bebas pilih mau yang mana, gue nggak masalah.”</p><p>“Hm.”</p><p>“Ini tahu sama tempenya juga dimakan.”</p><p>“Makasih.”</p><p>Jesan mati kutu. Banyaknya pertanyaan yang telah ia tata rapi di dalam kepala seketika lenyap dibawa angin malam. Shreya yang dikabarkan memiliki hari yang berat satu bulan belakangan ini terlihat terlalu tenang di depan sepiring nasi bebek seharga lima belas ribu. Tangan kecilnya meraih tahu maupun tempe yang Jesan ulurkan tanpa berucap kata. Napasnya terdengar teratur walau netranya jelas berujar lelah. Punggungnya tegak tanpa bersandar dengan tulang pipi yang cukup menunjukkan seberapa banyak ia kehilangan berat badan.</p><p>Sebelum Shreya menangkap Jesan yang diam terpaku, lelaki itu berhasil bergerak lebih dulu untuk ikut menyantap nasi bebek di piringnya. Secara natural, ia bawakan Shreya topik-topik ringan untuk mengisi meja nomor dua belas di sisi <em>railing</em> balkon. Ia suguhkan Shreya cerita-cerita jenaka dari lingkungan magangnya maupun lingkungan sahabat-sahabatnya. Ia balas seluruh penat yang ditelan wanita itu dengan senyum juga canda tawa yang entah kapan terakhir kali memenuhi telinganya.</p><p>Dan tanpa disampaikan melalui kata, Shreya harap Jesan tahu kalau yang dibutuhkannya malam ini hanya kehadirannya. Shreya harap Jesan mengerti bahwa yang ingin dilihat netranya bukan bentangan langit yang luas melainkan <em>dirinya</em>. Dirinya yang menatapnya penuh ketenangan, dirinya yang menyapanya penuh rasa aman, dirinya yang memperlakukannya penuh kehati-hatian. Shreya ingin merasakan tenang setelah harinya yang terasa tak berujung. Sebuah rasa tenang yang hanya mampu diberikan oleh sosok laki-laki di hadapannya saat ini.</p><p><em>“So, how’s life, Shreya?”</em> tanya Jesan usai menghabiskan menu makan malamnya.</p><p>Ada jeda seperkian detik sebelum si wanita menjawab pelan, “<em>It was hard, but it’s okay.</em> Masih ada besok.”</p><p>“Besok pasti lebih baik?”</p><p>“Besok pasti lebih baik.”</p><p>Senyum Jesan terukir penuh rasa hormat. Salut dengan bagaimana cara kepala wanita itu bekerja.</p><p>“Masalah sama Jihan udah selesai?” tanyanya kemudian. “Dia masih gangguin lo?”</p><p>Shreya terkekeh kecil. “Gisella bilang, ya?” Sebelum diberi Jesan sebuah anggukkan, ia melanjutkan, “Tadi masih, nggak tau kalau besok. Mudah-mudahan udah nggak. Mudah-mudahan dia sadar dan lebih prioritasin dirinya sendiri.”</p><p>“Kalau besok dia masih bertingkah, biar gue yang urus.”</p><p>Kalimat Jesan sontak merebut seluruh atensi Shreya. “Ngapain? Kan masalah dia sama gue, bukan sama lo,” katanya. “Lagian tadi udah beres kok. Gue sama dia sama-sama udah ngeluarin semua unek-unek di hati, jadi harusnya besok keadaannya udah lebih damai.”</p><p>Tertarik dengan fakta yang dibeberkan Shreya, Jesan mendekatkan tubuhnya untuk menggali informasi lebih dalam. “Gisella nggak cerita ke gue kalau lo udah ngobrol sama Jihan. Lo aja yang cerita mau nggak?”</p><p>“Kenapa penasaran?”</p><p>“Karena mau tau tindakan lo sekeren apa.”</p><p>Jawaban Jesan sepertinya tidak mampu meyakinkan Shreya, maka sebelum kepalanya kehabisan ide, ia tambahkan alasannya, “Gue harus tau, Ya, supaya gue bisa mutusin gue perlu ikut campur atau nggak.”</p><p>Lima detik digunakan Shreya untuk berpikir sembari mengaduk es <em>lychee-tea</em> yang tersisa setengah gelas sebelum akhirnya setuju untuk menceritakan kejadian di ruang meeting sampai pantry kantor. Tentu saja Shreya tidak membagikan dengan detail setiap kalimat yang ia ucapkan pada Jihan tadi sore.</p><p>“Sekarang masih perih nggak pipinya?” Pertanyaan Jesan sontak menyela susunan cerita Shreya. Tangannya bergerak gesit meraih botol air mineral dingin yang masih tersegel untuk kemudian diletakkan di sisi pipi kanan wanita yang masih termangu di tempatnya.</p><p>“Kerasa dinginnya nggak? Atau malah terlalu dingin? Atau gue mintain es batu sama handuk aja, ya, ke pelayannya?”</p><p>“Gue nggak papa.” Shreya menatap Jesan tepat pada sepasang netranya yang menyorot cemas. “Udah nggak perih, San. Nggak sakit sama sekali. Gue tadi sempet kaget, tapi ya udah. Semuanya udah terbalas sama rasa puas setelah gue akhirnya ngeluarin semua hal yang mau gue omongin ke Jihan.”</p><p>Jesan lagi-lagi dibuat terpaku. Kali ini bukan karena Shreya yang menunjukkan keberaniannya, namun karena telapak tangannya yang mulai kebas akibat menggenggam botol air mineral dingin dipaksa beradu dengan punggung tangannya yang dibebankan tangan hangat milik Shreya di atasnya. Gadis itu meletakkan tangannya di sana tanpa merasa kasihan dengan Jesan yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggenggam tangannya.</p><p>“Gue baik-baik aja soalnya gue juga nampar dia.”</p><p>Kalimat selanjutnya sukses membawa tangan Jesan — dan botol air mineral untuk meninggalkan sisi wajah Shreya yang sedikit memerah.</p><p>Shreya melanjutkan sesi berceritanya dengan serpihan emosi yang masih tertinggal. Kini nada bicaranya tidak lagi terdengar datar. Ia tirukan bagaimana dirinya dan Jihan beradu kata beberapa jam lalu sampai Jesan merasa ia dibawa masuk ke dalam kisah yang sedang dibagikan.</p><p>“Bener-bener saluuuttt, salut. Keren banget emang yang namanya Shreya Diandratari!” puji Jesan tak ada habisnya. “Gue suka banget cara lo ngadepin Jihan, Ya. Keren. Bener-bener gue nggak salah pilih cewek.”</p><p>“Apa-apaan?” Shreya terbahak mendapati Jesan yang terlihat terkejut dengan kalimatnya sendiri.</p><p>“Lo nggak tau, ya, gue sekhawatir apa setiap denger kelakuan Jihan ke lo? Lo nggak tau, kan, segimana pusingnya gue yang mau bantuin lo tanpa ngebuat lo merasa gue nggak percaya kalau sebenernya lo bisa?”</p><p>“Ngomong apa, sih?” ledek Shreya. “Intinya, gue percaya kalau lo percaya sama gue, dan gue beneran bisa handle semuanya sendiri, makanya gue nggak cerita apa pun. Gue tau lo pasti bantu gue kalau gue cerita, tapi ini urusan gue, di lingkungan magang gue. Nggak ada urusannya sama lo.”</p><p>“Gimana maksudnya nggak ada urusannya sama gue padahal Jihan begitu karena gue sukanya sama lo bukan sama dia?”</p><p>Bibir Shreya sontak terkatup rapat.</p><p>“Kalau dari awal gue sukanya sama dia, kalau dari awal kehadiran lo di hidup gue nggak mengambil bagian sebegini besarnya, Jihan nggak akan ngapa-ngapain lo. Bener nggak?” Pertanyaan yang dilontarkan Jesan tidak membutuhkan jawaban.</p><p>“Nggak usah ngomel-ngomel. Gue lagi capek.”</p><p>Pengakuan dari Shreya dibalas Jesan dengan sorot matanya yang kembali meneduh. Segera ia buang jauh-jauh nada bicaranya yang tadi sedikit meninggi. Ini memang bukan saatnya untuk mengeluarkan keluh-kesah atau kekhawatirannya atas Shreya yang tampak belum ingin memanfaatkan dirinya.</p><p>Sebelah tangan Jesan kemudian meraih gelas kosong untuk dituangkan air mineral ke dalamnya. Lalu setelah menyodorkannya di hadapan Shreya, Jesan memberanikan diri untuk mengusap lembut sisi kepala wanita berwajah datar itu. “Makasih udah bertahan, Shreya. Makasih udah jadi perempuan kuat dan keren. Gue tau lo emang perempuan hebat, tapi nggak pernah kebayang bakal sehebat ini. Gue bangga banget sama lo.”</p><p><em>“I’m pretty sure you don’t know how much impact you’re having on the back of your word, San.”</em></p><p>Satu sudut bibir Jesan terangkat, <em>“Do you like to hear that?”</em></p><p><em>“I do,” </em>bisik Shreya tanpa memindahkan tangan Jesan dari atas ratusan ribu helai rambutnya.</p><p><em>“I’ll say it more frequently from now on. Only for you, Ya.”</em></p><p>Shreya hampir saja meloloskan satu bulir air mata yang meneriakkan rasa hangat di seluruh hatinya ketika layar ponselnya memunculkan notifikasi pesan beruntun dari kontak bernama Kezia. Di detik yang sama dengan Jesan menjauhkan tangannya, Shreya dibuat tercekat oleh kabar buruk yang disampaikan adiknya: Ibu terjatuh di kamar mandi setelah bertengkar hebat dengan ayah dan kini sedang dilarikan ke rumah sakit terdekat.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9ec39154f5e2" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[fight back]]></title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee/fight-back-bb37114f91de?source=rss-de057a50425------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/bb37114f91de</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayya]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 23 Apr 2026 09:14:00 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-23T09:14:00.688Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/993/1*rPAgcwIZLMLgCckq7ZdqeA.jpeg" /></figure><p><em>From AU Eldest Daughter on instagram @/perfecltyfinelagi chapter 83.</em></p><p>“Selamat siang, Bapak, Ibu. Saya Shreya, salah satu mahasiswa magang yang dipercaya Ibu Rika untuk bertanggungjawab atas notulen rapat di departemen kami.” Kata pembuka segera dilayangkan Shreya ketika pijakannya berhenti di depan kedua atasannya yang sudah terlihat tidak sabar.</p><p>“Oh, ini yang namanya Shreya, ya?” Seorang lelaki berusia empat puluh tahunan mengulas senyum tipisnya. “Temanmu sudah kesulitan dari tadi. Katanya semua notulen rapat nggak ada di <em>flashdisk</em> yang sudah kamu siapkan. Bagaimana ini?”</p><p>Shreya menundukkan sedikit tubuhnya tanpa memedulikan tatapan remeh yang diberikan Jihan dan Risma di sudut ruangan. “Izin untuk langsung saya periksa sendiri ya, Pak. Saya izin buka laptop juga untuk menampilkan notulen saya.”</p><p>“Silakan.”</p><p>Sebelum laptop yang dibawa Shreya menyala dengan sempurna, sindiran halus dilontarkan Rika sembari meraih secangkir kopi di depannya. “Lain kali harusnya profesional ya, Shreya. Masa ketika ada Pak Kadep di sini, kamu malah menunjukkan keteledoran kamu. Saya yang malu, loh, ini.”</p><p>“Shreya, butuh alas untuk <em>mouse</em> laptopnya nggak?” Tawaran yang mengandung maksud pencitraan dari Jihan diabaikan sepenuhnya oleh Shreya setelah ia menanggapi ucapan Rika dengan senyum tipis. Di balik raut wajahnya yang berusaha tenang, Shreya tidak bisa memungkiri rasa kesal di dalam dadanya semakin menumpuk. Selama ini, Shreya memang tidak meladeni Jihan karena tingkah lakunya tidak pernah mengganggu kinerjanya secara langsung. Namun, kejadian siang ini seakan sengaja memeras sisa-sisa kesabarannya.</p><p>“Ada, Ya?” tanya Kamila sembari mendekat pada gadis di balik layar laptop. Gelengan diberikan si empunya tanggung jawab dengan bibir dalam yang diam-diam digigit. Lalu satu notifikasi yang muncul di layar ponselnya memberikannya sebuah solusi. Ada pesan dari Gisella yang berdiri di sudut lain ruangan</p><p><em>Lo bawa binder hitam yang sering gue suruh ganti nggak? Lo biasa buat catatan di sana, kan, setiap abis rapat?</em></p><p>“Bapak, Ibu, maaf, saya izin keluar sebentar untuk ambil barang di meja ya. Dua menit!”</p><p>Pinta Shreya segera diberikan anggukan oleh Sean dan Rika walaupun suara decakan dari si wanita paruh baya mengantarkan langkah Shreya sampai keluar ruangan. Ia tidak peduli lagi dengan bagaimana cara supervisor-nya menatapnya remeh atau bagaimana senyum Jihan terukir puas di balik punggungnya. Shreya hanya perlu membuktikan diri kalau ia tidak selemah yang mereka harapkan.</p><p>Tepat dua menit setelahnya, wanita berbalut kemeja hitam garis putih itu kembali ke ruangan rapat dengan tangan yang menggenggam buku binder berwarna hitam. Dibukanya buku tersebut di meja panjang berisikan delapan orang, dijawabnya pertanyaan-pertanyaan terstruktur dari beberapa staff senior yang terlibat rapat, dibantunya Kamila dengan gesit atas hal-hal sepele yang tidak sempat disiapkan, diabaikan segala tatapan tidak menyenangkan yang diberikan Jihan di kursi paling belakang, Shreya sukses menyelesaikan tugas dadakannya hari ini tanpa sedikit pun cacat dan lengkap dengan pujian dari Sean serta staff senior lain atas kopi racikannya.</p><p>“Keren dan selalu keren!!!” Pujian dari Gisella dilayangkan setelah Shreya usai menerima ribuan kata terima kasih dari Kamila yang masih dituntut melanjutkan tanggung jawabnya dengan Rika di ruangan pribadinya. “Gue udah deg-degan banget, jujur aja. Untung gue inget lo kalau gabut suka buat catetan ulang setelah rapat.”</p><p>Shreya tersenyum lebar sembari menepuk lengan Gisella penuh rasa syukur. “Makasih banyak ya, Sel. Kalau nggak diingetin lo kayaknya gue juga bakal lupa tentang keberadaan binder itu. Makasih banget pokoknya.”</p><p>Gisella membalas dengan senyum yang tak kalah lebar. “Santai ajaaa. Kita di sini magang bareng-bareng, jadi gue maunya kita berhasil bareng-bareng. Kecuali si jamet satu itu, tuh.” Sudut mata Gisella tertuju pada Jihan yang tampak menahan Sean dan satu orang di belakangnya untuk meninggalkan departemen mereka. “Pasti lagi cari muka, tuh, sama Pak Sean. Bener-bener nggak ngerti gue sebenernya mau dia apa. Kalau cuma untuk dapet kontrak kerja di sini setelah lulus nanti, gue yakin dia lebih dari mampu untuk dapet kerja di perusahaan lain yang <em>grade</em>-nya lebih oke,” komen Gisella dengan cibirannya yang khas.</p><p>“Jihan, kan, yang ganti gulanya tadi siang? Apa dia juga yang hapus notulen lo di <em>flashdisk</em>?” Tanpa menunggu gadis di sebelahnya menjawab, Gisella kembali berujar, “Kelakuan dia yang ini udah kelewatan, sih, menurut gue. Lo masih mau diemin aja?”</p><p>Ada jeda yang diambil Shreya sebelum memutuskan, “Habis ini gue ajak Jihan ngobrol.”</p><p>“Labrak, Ya, jangan cuma ngobrol,” seru Gisella sembari merangkul Shreya lalu membersamai langkahnya untuk kembali ke meja kerja mereka.</p><p>Shreya hanya terkekeh ringan. Kekesalan di dalam dadanya perlahan berubah menjadi simpati ketika menangkap sorot mata Jihan yang berbinar.</p><p><em>Kenapa seorang Jihan sanggup berlaku sebegininya hanya karena ditolak cinta?</em></p><p>— —</p><p>“Mau ngomong apa?”</p><p>Jarum jam sudah menunjuk angka lima ketika Shreya mengajak Jihan berbicara empat mata di <em>pantry</em> kantornya usai mengisi kembali tenaganya. Ia merogoh saku celananya untuk kemudian menunjukkan sebuah video yang diputar di layar ponselnya. Wanita di depannya mau tak mau mendekat untuk memperhatikan video berisikan seseorang sedang membuang seluruh isi jar berlabel <em>sugar</em> dan menuangkan bubuk putih lain berlabel garam ke tempat yang sama. Kakinya mengambil langkah mundur satu detik setelah menyadari isi di dalam video itu adalah dirinya sendiri.</p><p>“Siapa yang bolehin lo ngambil video orang tanpa izin, Shreya? Lo mau gue laporin atas pelanggaran hak privasi dan pelecehan karena <em>zoom-zoom</em> badan gue kayak gini?”</p><p>Sikap <em>playing victim </em>yang menjadi respon pertama Jihan sudah diperhitungkan oleh Shreya sebelumnya, maka tidak heran ia hanya menyunggingkan senyuman tipis sebagai sebuah tanggapan.</p><p>“Lo mau apa untuk video sesepele ini, Ya? Lo pikir ini bakal ada ngaruhnya buat gue?”</p><p>Shreya memasukkan kedua tangannya di saku celana kemudian netranya menatap Jihan dengan belas kasihan. “Hidup lo kurangnya dimana, Han?”</p><p>Jihan langsung terdiam.</p><p>“Lo sehat, lo cantik, lo pinter, lo punya keluarga yang harmonis, lo punya rumah yang aman, lo bisa berteman dengan siapa pun, lo bahkan nggak perlu pusing dengan masa depan lo. Tuhan kasih lo hidup yang jauh lebih sempurna dari gue, jadi gue bener-bener nggak habis pikir kenapa lo selalu ikut campur urusan gue. Apa karena terlalu sempurna dan lo berakhir bosen, Han?”</p><p>Tanya selesai Shreya lontarkan, sementara Jihan melipat tangannya di depan dada.</p><p>“Oh, ini mau mulai bahas kehidupan?” sinis Jihan. “Mau mulai dari mana? Dari seberapa bedanya hidup lo dan gue atau dari seberapa memalukannya lo dan keluarga lo di mata gue?”</p><p>“Kenapa lo suka ikut campur sama urusan gue? Kenapa lo selalu mau banyak tau tentang keluarga gue? Apa pengaruhnya hidup gue yang udah sekacau ini untuk kehidupan lo yang sempurna?” cecar Shreya. Dadanya terasa diketuk ketika topik keluarga dibawa Jihan sebagai senjata utama.</p><p>“Karena lo mengganggu kehidupan gue yang seharusnya bisa lebih sempurna dari ini, Ya. Lo merebut apa yang seharusnya gue miliki dari awal. Lo merusak semua rencana masa depan gue cuma dengan kelakuan murahan lo yang suka ngemis-ngemis.”</p><p>“Jadi titik tengahnya emang Jesan, Han?” Shreya bertanya dengan nada tak percaya sekaligus prihatin. “Lo bertindak sejauh ini cuma karena Jesan nggak mau bales perasaan lo?”</p><p>“Bukannya nggak mau. Jesan nggak bisa bales perasaan gue karena ada lo yang nempelin dia kayak benalu,” tukas Jihan. “Lo sadar nggak, sih, seberapa murahnya harga diri lo, Ya? Lo nggak malu?”</p><p>Kekehan kecil kembali terbit di bibirnya yang tidak meninggalkan bekas lipstik. Jika yang menerima pertanyaan tersebut adalah Shreya tujuh bulan lalu, mungkin ia akan memilih tak acuh dan membiarkan Jihan melakukan apa pun seenaknya. Namun, kini Shreya bukan lagi seorang pengecut yang akan menerima dengan pasrah tuduhan tidak mendasar dari siapa pun.</p><p>“Yang harusnya malu bukannya lo, ya, Han?” sahut Shreya. “Mau sampai kapan lo merasa kalau lo itu pusat dunia? Mau sampai kapan lo mengemis cinta dari seorang Jesan Sakala? Mau sampai kapan lo ngelakuin hal semurah ini cuma karena lo nggak terima perasaan lo nggak terbalas?”</p><p>“Jaga omongan lo, Shreya.” Jihan mengambil langkah mendekat dengan sepasang netranya yang membelalak. “Apa yang lo lakuin jauh lebih murah dari apa yang gue lakuin ke lo belakangan ini. Jangan merasa paling bener!”</p><p>Shreya sengaja menyunggingkan senyum lebar selagi menyahut, “Gue melakukan apa sih, Han? Lo denger atau liat gue melakukan apa?” Tangannya turut terlipat di depan dada. “Apa gue ngemis-ngemis cinta ke Jesan? Kalau iya, kapan? Apa gue mohon-mohon ke Jesan untuk ditebengin pulang? Kalau iya, kapan? Atau, apa gue pernah sengaja ikut kepanitiaan cuma buat deketin dia? Pernah emangnya, Han?”</p><p>“Gue nggak pernah melakukan hal-hal sesepele itu cuma untuk ngebuat Jesan suka. Gue nggak perlu selalu ada di sekitar dia cuma untuk memastikan kalau Jesan nggak melirik perempuan lain. Jesan selalu kasih apa yang gue butuh tanpa sekali pun gue meminta. Jadi, dari segi mananya lo menilai kalau kelakuan lo gak lebih murah dari gue?”</p><p>Rentetan pertanyaan penuh sindir dan fakta-fakta tak terbantahkan yang disuarakan Shreya sukses mengambil alih emosi yang mengalir di darah Jihan. Wanita itu mendekat dan melayangkan satu tamparan keras di pipi kanan Shreya tanpa ragu-ragu.</p><p><em>Plak!</em></p><p>“Lo bukan apa-apa tanpa belas kasihan Jesan, Shreya! Lo nggak akan jadi apa-apa di mata Jesan kalau keluarga lo — kalau bokap lo bisa menghidupi keluarga lo dengan becus. Jesan nggak akan simpati sama lo — bahkan dia nggak akan ngelirik lo kalau muka lo nggak melas minta dikasihani. Lo pikir apa yang dia lakuin ke lo itu karena rasa suka?! Lo pikir seorang Jesan akan punya selera serendah itu, Ya?!”</p><p>Shreya mengatupkan bibirnya rapat-rapat guna memberikan Jihan waktu untuk berbicara sesuai egonya. Bukan, ini bukan karena ia merasa kalah. Sebagai sesama perempuan, Shreya menyadari bahwa kalimat terakhirnya tadi sukses meningkatkan emosi Jihan sampai puncaknya. Wanita di depannya jelas terguncang sebab harga dirinya lagi-lagi dibuat tak bernilai.</p><p>“Gue nggak akan begini kalau lo nggak tiba-tiba muncul di kehidupan Jesan. Semuanya nggak akan semembosankan ini kalau dari awal Jesan nggak pernah tau keberadaan lo!” ucap Jihan berapi-api. “Seumur hidup, gue selalu mendapatkan apa yang gue mau, Ya. Hidup gue seharusnya berakhir sempurna dengan kehadiran Jesan yang sebentar lagi bakal jadi milik gue, tapi lo tiba-tiba muncul dan merusak semuanya! Lo dan keluarga lo yang mental pengemis itu merusak semua impian gue! Sadar nggak?!”</p><p>Berapa kali pun Jihan mencaci maki dirinya, Shreya mampu untuk tidak peduli dan berpegang teguh pada pendiriannya tanpa ingin menginterupsi. Namun, lain ceritanya jika keluarganya mulai disebut untuk dijadikan objek merendahkan, Shreya tentu tidak akan tinggal diam.</p><p>“Orang kayak lo mana pantes sih, Ya, buat hidup berdampingan sama Jesan? Keluarga lo punya apa untuk mengimbangi keluarga dia? Apa semua anggota keluarga lo punya muka setebal lo sampai-sampai mereka nggak punya malu untuk pinjem uang? Apa orangtua lo malah seneng, ya, lo deket sama anak konglomerat supaya bisa kapan pun diporotin?”</p><p>Tangan kanan Shreya mendaratkan tamparan mulus di pipi kanan Jihan yang masih berlapis riasan tebalnya. “Lo boleh caci maki dan merendahkan gue sepuas lo, tapi nggak dengan keluarga gue,” tegas Shreya. Jari jemarinya meraih dagu Jihan tanpa kelembutan sedikit pun. “Gua turut prihatin sama harga diri lo yang semudah ini dikorbankan, Han. Gue turut berbelas kasihan atas rasa syukur yang nggak pernah Tuhan kasih di dalam hati lo untuk semua yang lo punya di dunia ini. Dan gue minta maaf sedalam-dalamnya karena apa pun yang lo lakuin ke gue sebelum ataupun sesudah hari ini nggak akan memengaruhi sebesar apa tempat yang udah Jesan punya di hati gue. Gue nggak peduli lo mau merendahkan gue kayak apa di depan Jesan atau orang lain. Gue nggak peduli satu bulan kedepan lo mau melakukan hal gila apa lagi di sini. Tapi, tolong diinget kalau gue nggak akan ngelepasin Jesan. Apalagi untuk perempuan serendah lo, gue nggak akan sudi.”</p><p>Cekalan di dagu Jihan dilepas sebelum Shreya meraih secangkir teh hangat yang tadi dibuatnya. “Gue nggak akan aduin semua hal jahat yang udah lo lakuin ke gue ke siapa pun. Gue tau lo suka kerja di sini dan gue nggak akan ganggu masa depan lo. Gue cuma berharap lo bisa lebih mencintai hidup lo tanpa mengemis cinta dari orang lain karena lo dikasih Tuhan kemampuan untuk itu. Nggak perlu hidup yang sempurna, Han, yang penting bermakna.”</p><p>Shreya tidak berminat untuk mendengar Jihan kembali berbicara setelah kalimat panjang lebarnya diutarakan. Ia juga tidak berniat untuk mengadu atau melapor kemana pun tentang kejadian hari ini karena baginya; <em>setiap manusia bisa berubah.</em></p><p>Tentu, tidak ada harapan sekecil biji sawi di dalam dadanya untuk perubahan sikap Jihan esok hari. Tapi, mungkin tidak ada salahnya jika Shreya berharap dunianya berubah lebih damai setelah keberaniannya dipertaruhkan sore ini.</p><p>Dengan senyum tipis yang terukir sebagai bentuk kata pamit pada beberapa staff yang masih menetap, Shreya meraih tas selempangnya dan menghela napasnya dalam-dalam sembari berjalan gontai menuju pintu lift.</p><p><em>San, I did it. I did what I wanted to do</em>.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=bb37114f91de" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[i am all yours]]></title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee/i-am-all-yours-74cb313b5716?source=rss-de057a50425------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/74cb313b5716</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayya]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 18 Apr 2026 03:11:41 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-18T03:11:41.875Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/720/1*6aWH3uawafFXjRsPjebHuw.jpeg" /></figure><p><em>From AU Eldest Daughter on instagram @/perfecltyfinelagi chapter 78</em></p><p>Selama perjalanan menuju tempat kerjanya malam ini, Shreya sudah memikirkan seribu satu cara untuk menghindari Jesan yang mengajaknya bertemu. Gadis itu bahkan memacu sepeda motornya lebih cepat dari hari-hari biasanya. Ia bertekad untuk tiba lebih awal agar Jesan tak memiliki alasan memintanya bertemu di tengah jam kerjanya yang sedang berlangsung.</p><p>Namun, Tuhan sepertinya tidak ingin membiarkannya melarikan diri kali ini. Usai memarkirkan sepeda motornya di area khusus karyawan, langkah Shreya harus terhenti ketika netranya bertemu dengan sepasang bola mata teduh yang terakhir dilihatnya satu bulan lalu. Tidak ada jalan keluar yang masuk akal selain menghampiri lelaki itu untuk menduduki tempat kosong yang berjarak beberapa jengkal dari sisi kanannya.</p><p><em>“How’s life, Shreya?”</em></p><p>Mantra ajaib yang selalu diberikan Jesan kembali memenuhi indra pendengaran Shreya. Sapuan angin malam yang berubah hangat seketika terasa menyelimuti relung dadanya yang belakangan menderita kemarau panjang. Gadis itu tanpa sadar menundukkan pandangannya. Ia sibuk meratapi para kerikil di sekitar kedua kakinya yang tidak akan mengerti seberapa besar ketakutan yang sedang dihadapinya — Shreya takut Jesan berhasil membuatnya rubuh malam ini.</p><p>“Keadaan gue kayak yang lo liat aja,” jawab Shreya beberapa detik setelahnya.</p><p><em>“It’s a mess, isn’t it?”</em> Jesan mengarah langsung pada intinya. Ia terlihat tidak ingin berbasa-basi. “Magang bareng Jihan, ngundurin diri dari sekolah, selesai ngajar sama Aruna. Padahal cuma harus menyelesaikan magang wajib kampus, tapi lo harus sampe ngelepas salah satu mimpi lo.”</p><p>“Semuanya lagi terasa berat, kan, Ya?”</p><p>Shreya tidak merasa perlu mempertanyakan dari mana Jesan mengetahui dua situasi yang sedang dihadapinya. Ia hanya menelan ludahnya dan bersiap membangun benteng baru demi memaksa Jesan mundur untuk kesekian kalinya. “Nggak, gue biasa aja. Hidup gue emang selalu kayak gini dari dulu, jadi ngelepas mimpi bukan suatu masalah penting buat gue.”</p><p>Tanpa disangka, Jesan mengeluarkan kekehan kecil, “Enak banget hidupnya bisa ngerelain mimpi semudah itu. Enak banget hidupnya kalau bisa sepasrah itu sama takdir. Gue jadi iri.”</p><p>Sebuah tawa miris diberikan Shreya sebagai balasan, “Enak lo bilang?” Ia terkekeh, tak habis pikir. “Nggak ada yang lebih enak dari hidup yang bisa kita atur sendiri sesuai kemauan kita, San. Ngapain juga lo iri sama gue padahal lo lebih beruntung karena punya kemampuan untuk ngubah takdir lo?”</p><p>“Gue jelas iri karena lo bisa menganggap semuanya jadi <em>‘biasa aja’</em>,” sahut Jesan kelewat santai. “Gue iri karena lo nggak terlihat frustasi setelah ngelepas salah satu mimpi lo begitu aja. Gue juga iri karena lo masih bisa bilang<em> ‘nggak masalah’</em> di saat lo paling tau kalau lo lagi nggak baik-baik aja.”</p><p>“Itu bukan suatu hal yang harus lo cemburuin.”</p><p>“Tetep aja. Sampai kapan pun gue nggak akan bisa jadi kayak lo.” Jesan menoleh sejenak tanpa beralih dari niatnya untuk memancing Shreya jujur dengan emosinya. Jika caranya selama ini tidak cukup berhasil, maka Jesan siap mengerahkan cara lain meskipun ia tahu dampaknya mungkin akan menyakiti keduanya.</p><p>“Gue mana bisa ngerelain mimpi gue semudah itu, Ya. Gue juga nggak mungkin bisa bilang nggak papa di saat keadaan berkali-kali nggak berpihak ke gue. Beda banget, kan, sama lo? Lo punya sabar yang nggak kehitung berapa banyak lapisannya, lo juga punya pendirian yang nggak gampang goyah oleh apa pun. Lo tahan banting sampe-sampe lo merasa semua yang menimpa lo kesannya <em>‘biasa aja’</em>.”</p><p>Shreya yang merasa dirinya disindir bertubi-tubi hanya sanggup menumpuk emosinya di dalam dada dan di kepalan kedua tangannya.</p><p>“Lo selalu bisa bilang <em>‘nggak papa’</em> seakan dari awal emang nggak mau berjuang untuk sesuatu yang lo impikan. Lo selalu bisa kasih senyuman palsu lo ke orang-orang yang lo temui tanpa repot-repot mikirin mereka bakal peduli sama lo atau enggak.” Jesan menyilang kedua tangannya di depan dada. “Lah, coba gue? Mana mungkin bisa kayak begitu.”</p><p>“Nggak ada yang mau hidup kayak gitu, Jesan,” lirih Shreya tanpa ingin menoleh.</p><p>“Tapi, lo kayaknya mau aja, tuh, hidup begitu. Lo nggak ada perlawanan. Pasrah terus,” Jesan masih mempertahankan intonasi bicaranya yang bermaksud menyindir tanpa mengabaikan perasaan bersalah yang mulai muncul ketika Shreya semakin mencengkeram telapak tangannya. “Dikasih tau magangnya bakalan bareng Jihan, lo pasrah. Dikasih tau lo harus ngundurin diri karena nggak dapet cuti, lo pasrah. Apa lo bakal pasrah juga kalau gue akhirnya milih nyerah dari lo, Ya?”</p><p>Tak tahan dengan semua sindiran halus yang ditujukan untuknya, Shreya memilih bangkit dari duduknya lalu berdiri di hadapan Jesan. “Gue masuk kalau alasan lo ngajak gue ketemu cuma untuk ini,” katanya. “Banyak hal yang harus gue urus di depan, dan meratapi nasib gue di belakang nggak ada porsinya lagi di kepala gue, San.”</p><p>“Lo mau hadapin yang di depan pake apa?” tanya Jesan dengan kepalanya yang kini mendongak menatap Shreya. “Pake kaki lo yang udah teriak minta istirahat? Pake tangan lo yang udah ngejerit minta belas kasihan? Atau pake bahu lo yang udah minta tolong untuk dipapah?”</p><p>“Mau sampe kapan, Ya, lo jahat sama diri lo sendiri? Mau sampe kapan lo berusaha baik-baik aja di depan semua orang? Mau sampe kapan lo bohongin diri lo terus di depan gue?” Shreya maupun Jesan tak goyah sama sekali di tempatnya masing-masing. “Gue ngajak lo ketemu supaya lo seenggaknya bisa keluarin unek-unek di hati lo dengan bebas. Gue ngajak lo ketemu supaya lo tau kalau masih ada orang yang mau denger keluh kesah lo tanpa menghakimi keputusan lo di sini. Gue ngajak lo ketemu karena gue kangen. Gue mau liat lo, gue mau tau gimana kabar lo setelah semua informasi hidup lo gue denger dari orang lain,” ujarnya panjang lebar.</p><p><em>“Go easy on yourself, Shreya. </em>Jangan dijahatin terus <em>lo-nya</em>.”</p><p>“Yang jahat bukan gue, San… Tapi semua yang ada di sekeliling gue,” aku Shreya pada akhirnya. Kepala yang sedari tadi tertunduk itu mulai dibawa untuk membalas sorot netra Jesan di depannya. Ia berikan apa yang Jesan mau; <em>pengakuannya</em>.</p><p>“Gue nggak pernah berniat jahat sama diri gue sendiri. Gue sayang sama diri gue sendiri, tapi gue nggak hidup di dalam rotasi yang memperbolehkan gue menomorsatukan diri gue sendiri,” ungkap Shreya. “Lo salah besar kalau iri sama kemampuan gue yang bisa menganggap semuanya <em>‘biasa</em> <em>aja’</em> di saat gue cuma punya dua kata itu untuk diperdengarkan. Gue harus bisa menganggap semuanya biasa aja karena gue nggak punya ruang untuk merasa kecewa, gue nggak punya waktu untuk meromantisasi apa pun bentuk kesedihan gue, San.”</p><p>Gadis itu kemudian menyeka air matanya yang lolos tanpa izin di pipi kanannya tanpa memutus kontak mata dengan si lelaki. “Gue juga nggak mau kok hidup kayak gini. Gue maunya hidup kayak lo yang nggak akan pasrah gitu aja kalau disuruh ngelepas mimpi lo. Gue mau banget berjuang kalau emang ada pilihan lain. Gue juga mau berontak untuk memperjuangkan mimpi-mimpi gue, tapi semuanya buat apa dan untuk siapa?”</p><p>“Apa orang rumah akan kenyang kalau mimpi gue tercapai? Apa ibu nggak akan lagi menuntut gue ini dan itu kalau mimpi gue tercapai? Apa ayah nggak akan ngutang lagi kalau mimpi gue tercapai?” Deretan tanya yang terlontar dari bibir gemetar Shreya terdengar amat memilukan di teling Jesan.</p><p>“Nggak ada yang akan peduli sama mimpi gue karena yang penting di sini adalah gue harus lulus kuliah tepat waktu dengan nilai baik supaya gue bisa cari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi. Nggak ada yang peduli gue akan jadi apa dua atau tiga tahun lagi selama gue nggak berhenti ngebiayain orang rumah.”</p><p>“Itu jalan hidup yang nggak mungkin gue ubah karena darah ibu sama ayah ngalir di tubuh gue, San.” Dua telapak tangan Shreya berlabuh di kedua bahu Jesan agar lelaki itu dapat melihat seluruh isi dunianya yang berantakan dengan jelas.</p><p>“Itu resiko gue yang terlahir sebagai anak perempuan pertama di keluarga yang kurang beruntung ini.” Bulir air mata mulai membasahi pipi Shreya tanpa jeda. Dan dari jarak wajah mereka yang hanya terpaut dua jengkal tangan, Jesan dibuat sesak atas pemandangan sosok rapuh Shreya yang diperlihatkannya untuk kali pertama.</p><p>“Gue juga mau memperjuangkan mimpi gue… Gue juga mau sekali aja egois untuk kepentingan diri gue sendiri. Sayangnya, gue nggak pernah bisa… Dunia yang gue pijaki nggak kasih gue izin untuk sayang sama diri gue sendiri.”</p><p>“Di dunia gue, semua orang boleh egois, Ya.” Kalimat pertama dilontarkan Jesan selagi tangan kanannya menggenggam lengan Shreya, sementara tangan kirinya mengusap pipinya yang basah. “Di dunia gue, semua orang boleh menjerit minta tolong, semua orang boleh saling membantu, semua orang saling menghargai. Di dunia gue, satu orang nggak harus membawa bebannya sendirian. Dia boleh minta bantuan orang lain untuk mengurangi bebannya, dia boleh menerima uluran tangan orang lain untuk meringankan bebannya. Di dunia gue, cinta itu nyata.”</p><p>Lalu lelaki berjaket hitam itu bangkit dari duduknya tanpa membiarkan lengan Shreya menjauh dari genggamannya. “Kalau lo nggak ngebolehin gue untuk masuk ke dunia lo, biar gue yang bawa lo masuk ke dunia gue,” katanya dengan penuh keyakinan. “Biar gue yang nemenin lo di setiap langkah lo, biar gue yang genggam tangan lo setiap kali lo harus ambil keputusan, biar gue yang merangkul pundak lo setiap lo mulai keberatan sama bebannya.”</p><p>Sebelah tangan Jesan meraih garis rahang Shreya yang sudah dibasahi air mata untuk mendekat padanya. <em>“You can use me as much as you want. I am all yours.”</em></p><p>Pernyataan Jesan bak sebuah sihir yang meningkatkan rasa aman dan nyaman di sekeliling tubuh Shreya. Ia dibuat memejamkan matanya yang masih mengeluarkan bulir air mata hanya untuk merasakan hembusan napas hangat Jesan di kulit wajahnya.</p><p><em>“I can’t kiss you now</em> sekali pun gue mau,” bisik Jesan.</p><p>Shreya sontak mencubit lengan lelaki itu sebelum berucap lirih, “<em>Just hug me.</em> Kaki gue udah nggak ada tenaga untuk berdiri.”</p><p>“Digendong aja mau?”</p><p>“Gue harus kerja!”</p><p>Tak ingin memberikan Shreya kesempatan untuk kembali mengomel, Jesan segera menarik tubuh kurus itu ke dalam pelukannya untuk kali pertama. Ia bawa kepala Shreya untuk bersandar pada pundaknya sembari ia berikan punggung sempit itu usapan-usapan penenang.</p><p>“Gue cuma lagi ngerasa butuh dipeluk karena capek nangis, bukan berarti gue suka balik sama lo.”</p><p>Kalimat Shreya sukses menciptakan kekehan baru dari Jesan yang sibuk menikmati aroma wanita di dekapannya, “Iyaa, <em>Miss Reya</em>, sesuka hati lo aja,” balasnya dari perpotongan leher Shreya yang memabukkan.</p><p><em>It’s as simple as that. Shreya shows her world, and Jesan understands. And it’s as simple as that. Jesan explains his world, and Shreya believes.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=74cb313b5716" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[exhausterwhelmulated]]></title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee/exhausterwhelmulated-2ce0c9e2737a?source=rss-de057a50425------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2ce0c9e2737a</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayya]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 18 Apr 2026 03:04:47 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-18T03:12:39.106Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*rdfq_bT4kWfd8ojRLJ_-TA.jpeg" /></figure><p><em>From AU Eldest Daughter on instagram @/perfecltyfinelagi chapter 70–71</em></p><p>“Shreya!”</p><p>Langkah kaki Shreya tak ingin berhenti, telinganya pun mendadak tuli. Namanya yang terus menerus dipanggil oleh seorang laki-laki yang berusaha menggapai lengan tangannya total ia abaikan. Ia sama sekali tidak ingin memedulikan hal lain terutama eksistensi seorang wanita yang masih menyilangkan tangan di depan dada dengan senyum remeh yang memuakkan. Shreya tak ingin lagi peduli sebesar apa kekecewaan di dalam dadanya sebab kini yang diperlukannya hanya <em>pulang</em>.</p><p>Namun, besarnya langkah kaki milik lelaki dengan <em>name-tag</em> bertuliskan panitia itu berhasil menghadang jarak pandang Shreya. Kedua kakinya dipaksa untuk berhenti melangkah, kepalanya dipaksa mendongak pada seseorang yang menjadi alasan pertama di balik bulir air mata yang mulai menggenang di kelopak matanya.</p><p><em>“Get out of my way, Jesan Sakala</em>. Gue nggak mau berurusan sama lo lagi.”</p><p>— — —</p><p>Situasi rumah kecil Shreya malam ini tidak jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya ketika pertikaian orangtuanya mengisi seluruh ruang udara. Shreya yang air mukanya datar hanya sanggup bergerak cekatan untuk memarkirkan sepeda motornya, membuka helm di kepalanya, dan menutup pagar rumah rapat-rapat tanpa menciptakan suara.</p><p>“Mau sampai kapan kamu mempermalukan nama keluarga kita sih, Mas?!” Teriakan Ibu menyapa langkah pertama Shreya di daun pintu yang cepat-cepat ia tutup kembali. “Mau sampai kapan kamu melukai harga diri keluarga kita? Mau sampai kapan kamu hidup dalam angan-angan di dalam kepala kamu? Mau sampai kapan saya harus memaklumi semuanya, Mas?!”</p><p>Suara Ibu mulai melemah. Shreya tebak wanita itu telah menggunakan energinya terlalu banyak selagi menunggu kedatangannya. Sorot netranya lalu beralih pada lelaki penyebab munculnya amarah Ibu. Tubuhnya yang tak sebugar dulu, telapak tangannya yang semakin kurus, rambut hitamnya yang mulai dihiasi uban, seluruhnya tidak lagi menarik perhatian Shreya untuk diberikan belas kasihan.</p><p>“Saya nggak menuntut apa pun dari kamu ya, Ratih. Apa yang saya lakukan itu demi kebaikan kita, jadi nggak seharusnya kamu semarah ini,” sahut Ayah. “Lagipula sudah berapa kali saya bilang dari tadi ke kamu, anak itu nggak sedikit pun merasa direpotkan. Justru dia sangat peduli dengan keadaan keluarga ini. Dia nggak ragu-ragu minta saya hubungi lagi kalau saya memang butuh,” sambungnya dengan nada yang kelewat santai sebelum memberikan atensi pada anak perempuannya yang membatu di atas kedua kakinya. “Pinter juga, ya, kamu cari laki. Si Ibu dari dulu udah berkali-kali Ayah suruh minjem duit ke Bu Jesselyn gak pernah mau, eh, anak Ayah dengan mudahnya bisa ambil hati anaknya.”</p><p>Shreya diam termangu.</p><p><em>“Pinter. Begini baru anak Ayah.”</em></p><p>Telak. Apa yang Shreya takutkan selama di perjalanan pulang dari kampus tadi diwujudkan secara cuma-cuma oleh Ayah Bima. Kedua telinganya dibuat mendengar suara hatinya yang patah tidak berbentuk. Kesabarannya diremas kuat-kuat begitu sendi di seluruh tubuhnya berteriak penuh permohonan agar tidak dibiarkan ambruk ke atas ubin yang dingin.</p><p>“Ayah…” Suara si sulung yang hari ini berdandan cantik untuk menikmati festival kampus terdengar gemetar. “Ayah…beneran pinjem uang ke Jesan?” Lututnya melemah. Menyebut nama seorang lelaki yang belakangan ini membawa cahaya baru di kehidupannya tidak pernah terbayang akan sememalukan ini rasanya.</p><p>“Sepuluh juta,” sebut Ibu tanpa memberikan ekspresi apa pun di wajahnya. Bibirnya yang terlihat pucat dan beberapa peluh yang membasahi dahinya cukup membuat Shreya paham seberapa marah wanita itu pada sang ayah. “Dia dapat nomor telepon Jesan dari Pak Edi. Dia hubungi Jesan dan pinjam uang dua kali.”</p><p>Satu bulir air mata lolos begitu saja membasahi pipi Shreya yang memanas. Beban yang diterima kepalanya malam ini terasa jauh lebih berat.</p><p>“Ibu baru tau tadi sore dari Pak Edi dan langsung cek <em>handphone</em> Ayah pas dia pulang. Semua bukti transfer Jesan ada di <em>whatsapp</em> Ayah,” jelas Ibu. Tangannya bergerak gelisah membasuh wajahnya yang menyiratkan lelah. “Ibu udah pernah bilang sama kamu, kan, Ya… Jangan dekat-dekat dengan orang seperti Jesan. Apa kamu nggak bisa mendengarkan Ibu sekali saja? Kamu tetap keras kepala dan mau berlaku sesuai kemauan kamu sendiri, iya?”</p><p>Shreya memalingkan wajahnya untuk membalas sorot mata Ibu yang terlihat terluka. “Ibu… Nggak begitu. Aku selalu dengerin Ibu, aku — “</p><p>“Kamu melarang dia dekat dengan Jesan?” sela Ayah — lengkap bersama sepasang matanya yang membelalak. “Kenapa kamu larang?! Kamu mikir nggak seberapa beruntungnya keluarga kita kalau anak kita ada yang menikah dengan orang kaya?! Kamu nggak mikir kalau laki-laki itu bisa merubah nasib keluarga kita?!”</p><p>“Nasib keluarga kita nggak akan membaik kalau kamu nggak berubah, Mas!” bantah Ibu. “Mau Shreya menikah sama anak pejabat sekali pun, hidup kita nggak akan pernah sejahtera karena kamu masih terobsesi dengan gaya hidup foya-foya kamu! Anak-anak kita nggak akan hidup dengan nyaman selama di kepala kamu isinya hanya uang, uang, dan uang!”</p><p>“Apa salahnya kalau saya hanya memikirkan uang?! Kenzi harus rutin ke rumah sakit, emang kamu pikir nggak pake uang?! Kezia mau kuliah, mau pake uang dari mana?! Shreya akan menikah, mana uangnya?! Apa kamu mau jual aja anak kita sekalian supaya kita nggak perlu ngeluarin modal untuk nikahin dia?!”</p><p>“Ayah! Cukup!” teriak Shreya hampir histeris. “Udah, tolong, udah… Berhenti, Yah… Cukup.” Lututnya menyerah, tubuh Shreya akhirnya terduduk pasrah di antara Ibu dan Ayah. Ia menoleh pada Ibu yang menyeka seluruh air mata yang entah sejak kapan sudah runtuh membasahi wajahnya.</p><p>“Ibu, maaf aku nggak dengerin Ibu waktu itu ya,” lirih Shreya. “Sekarang biarin aku yang ngomong sama Ayah, ya? Ibu masuk kamar aja sama Kenzi Kezia. Cuci muka dan tidur. Aku bisa hadapin Ayah. <em>Aku nggak apa-apa.</em>”</p><p>Belum terhitung tiga detik ketika Ibu memilih bangkit dari kursinya untuk meninggalkan Shreya dan suaminya yang sibuk berdecak kesal tanpa memedulikan dua wanita yang lagi-lagi ia patahkan hatinya.</p><p>Shreya mulai berbicara pada sang ayah setelah air matanya diberhentikan dengan paksa. “Kapan Jesan transfer ke Ayah?”</p><p>“Tadi pagi dan kemarin,” jawabnya.</p><p>“Berapa semuanya?”</p><p>Ayah Bima terlihat tidak ingin memberitahu Shreya sampai gadis itu berpindah posisi duduk menjadi tepat di hadapannya. Ia melipat sepasang kakinya di depan dada lalu bertanya tanpa berkedip. “Berapa?” tanyanya sekali lagi.</p><p>“Sebelas juta.” Ayah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Tadinya sepuluh. Terus Ayah bilang Ayah butuh uang buat bayar biaya <em>service</em> motor Kezia.”</p><p>Dahi Shreya sontak mengernyit. “Kan udah aku bayar semuanya?”</p><p>Diamnya Ayah di detik selanjutnya kembali menyentil amarah Shreya yang sempat meredam. “Ayah bilang ke Jesan uangnya untuk apa?”</p><p>“Bayar listrik, bayar air, berobat Kenzi, bayaran sekolah Kezia — “</p><p>“Bilang nggak buat bayar utang? Bilang nggak uangnya buat dipake judi di tongkrongan Ayah? Bilang nggak uangnya untuk traktir temen-temen Ayah?”</p><p>“Ayah jajanin orang rumah waktu ke rumah sakit kemarin! Kamu, mah, emang nggak ikut, jadi nggak ngerasain manfaat duitnya.”</p><p>Helaan napas panjang dilepaskan Shreya demi menjaga emosi yang mengalir di seluruh pembuluh darahnya. “Ayah tau kenapa aku hampir nggak pernah ikut ke rumah sakit?”</p><p>“Aku kerja, Yah. Aku kerja untuk biayain orang di rumah ini. Aku kerja untuk bayar listrik, bayar air, bayar biaya berobat Kenzi, bayar biaya sekolah Kezia,” ujar Shreya. “Semua alasan yang Ayah sebutkan ke Jesan itu nggak masuk akal karena semuanya aku yang bayar.”</p><p>“Sekarang aku tanya baik-baik. Mana uangnya?”</p><p>Hening yang diciptakan Ayah kali ini berhasil menggerogoti hati Shreya tanpa ampun. Air mata yang sudah susah payah dijaga agar tidak tumpah kembali meluruh sebelum Shreya lontarkan kata menyerah. Shreya bisa tahu jawabannya tanpa Ayah mengeluarkan satu pun kata. Prasangka buruknya tentang kebiasaan Ayah Bima tidak pernah meleset sekali pun Shreya memohon pada Tuhan agar ia dibiarkan salah paham.</p><p>“Nggak ada sisa sama sekali, Yah?” tanya Shreya dengan suara yang terdengar pilu bagi siapa pun yang memiliki nurani. “Untuk bayar pinjaman Ayah di aplikasi dan bank nggak ada? Harus dari aku, ya? Cuma boleh dari hasil kerja aku, Yah?”</p><p>Sudut mata Ayah melirik tubuh Shreya yang tak berdaya tidak jauh dari telapak kakinya. Tangannya kemudian merogoh ponsel di saku untuk melakukan sebuah transaksi dengan setengah hati. “Sisa lima ratus. Udah Ayah transfer ke rekening kamu.”</p><p>Tanpa ingin mendengar Shreya menyahut, Ayah Bima sudah berniat untuk meninggalkan rumah. Namun, satu pinta dilayangkan Shreya dengan kepalanya yang mendongak.</p><p>“Tolong jangan hubungi Jesan lagi. Aku mohon sama Ayah,” lirih Shreya. “Aku bisa penuhi semua kemauan Ayah tanpa bantuan Jesan. Aku mohon jangan ganggu Jesan semepet apa pun keadaan Ayah.”</p><p>Lelaki tua itu melanjutkan langkahnya tanpa ingin sedikit pun menoleh. Ia gapai gagang pintu selagi anak sulungnya berujar dengan pilu, “Jesan nggak boleh punya seseorang sejahat Ayah di hidupnya. Aku nggak mau orang kayak Ayah menodai hidup orang setulus dia. Jadi, tolong… Jangan ganggu dia, Yah.”</p><p>Pintu tertutup rapat tanpa kata penutup dari lelaki yang mendekap Shreya dengan erat setiap kali ia berhasil mengikat tali sepatunya sendiri lima belas tahun lalu. Kini Shreya kembali ditinggalkan. Gadis itu kembali dibiarkan memeluk tubuhnya sendiri di tengah-tengah bangunan berwarna putih yang mulai memudar.</p><p>Malam ini, Shreya biarkan kepalanya mengumpat di antara kedua kakinya yang gemetar akibat menahan berbagai emosi di dalam dada. Matanya yang memejam erat adalah bentuk usaha Shreya untuk menggapai salah satu emosi yang memenuhi relung hatinya. Ia ingin menikmati lukanya, namun sel-sel tubuhnya seakan kehilangan arah. Shreya mendadak kebingungan. Gadis itu tidak tahu harus memvalidasi perasaannya yang mana — marah, sedih, kesal, sakit, perih, kecewa, patah, Shreya tidak tahu mana yang harus ia dahulukan sampai kakinya bergerak lebih cepat daripada kepalanya untuk berlari menuju kamar mandi.</p><p>Hanya cairan yang mampu dimuntahkan Shreya melalui mulutnya satu detik kemudian. Tidak ada sebutir pun gumpalan yang terlihat di sana sebab Shreya tidak ingat apakah perutnya sudah menyapa makanan yang layak hari ini atau belum. Ia terlalu sibuk dengan dunianya yang berputar teramat cepat. Tubuhnya mulai memberikan sinyal waspada, tapi tidak ada yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan diri sendiri setelah satu-satunya manusia yang berhasil menumbuhkan bunga matahari di hidupnya yang gersang memberikannya rasa kecewa.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2ce0c9e2737a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[the green door]]></title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee/green-door-72ec4b251c14?source=rss-de057a50425------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/72ec4b251c14</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayya]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 23 Mar 2026 07:15:09 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-23T22:52:42.577Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/587/1*rK8AGZ5JIWs6Shh7-7CgxQ.jpeg" /></figure><p><em>From AU Eldest Daughter on instagram @percecltyfinelagi chapter 66</em></p><p>“San, ini pintunya nggak bisa dikunci?”</p><p>Jesan sontak menghentikan langkahnya untuk menoleh pada Shreya yang menampakkan kepalanya di daun pintu kamar mandi rumahnya. Tragedi tumpahnya tepung maizena beberapa saat lalu menyebabkan Shreya mau tidak mau harus mengganti pakaiannya. Wanita itu diam-diam menyesali keputusannya untuk tidak mengenakan apronnya selama di dapur.</p><p>Sebagai bentuk tanggung jawab, Jesan menawarkan Shreya untuk memakai hoodie hitam miliknya, dan di sinilah Shreya berada. Ia berdiri canggung di dalam kamar mandi tamu lantai dua rumah Jesan dengan kaus beige yang bagian kanannya sudah berubah putih lengkap bersama sepotong hoodie bersih di tangan kanannya.</p><p>“Kemarin Mbak Ira sempet bilang pintu kamar mandi ini lagi rusak,” kata Jesan. “Kirain gue udah dibenerin, ternyata belum, ya.”</p><p>Tubuh Shreya mundur beberapa langkah begitu Jesan menghampirinya untuk memeriksa pintu tersebut. Setelah memastikan kuncinya memang tidak dapat berfungsi, Jesan bertanya, “Lo pasti nggak nyaman, ya, kalau nggak bisa dikunci?”</p><p>Belum sempat Shreya mengeluarkan suara untuk menjawab, Jesan sudah lebih dulu memberikan sebuah solusi, “Ganti baju di kamar gue aja gimana, Ya?”</p><p>Satu detik yang hampir diambil Shreya guna mengajukan protes dicuri lebih dulu oleh Jesan. “Lo ganti baju di kamar mandi gue, sementara gue turun ke bawah buat nyelesain adonan kuenya.”</p><p>“Dih, terus gue sendirian di kamar lo?” sinis Shreya pada akhirnya.</p><p>“Ya, lo bisa langsung turun kalau udah selesai ganti.” Mengerti alasan di balik raut wajah bimbang Shreya hadir, Jesan kembali berujar, “Kalau udah jam segini, mbak di rumah nggak ada yang ke lantai dua, Ya. Mereka lebih sibuk rapiin ruangan di bawah karena itu yang bakal terlihat sama Mama. Nggak akan ada yang tau lo di sini kecuali Pak Edi.”</p><p>Keraguan di wajah Shreya perlahan memudar. Tangannya bergerak menarik pintu kamar mandi untuk memberikannya jalan keluar. Lalu setelah anggukan kecil diberikan, Jesan menyahutinya dengan senyuman tipis sembari membawa langkah mereka menuju pintu hijau toska di sebelah kiri.</p><p>“Kunci pintunya dari dalem. Buat diri lo senyaman mungkin. Nggak akan ada yang ngintip, nggak akan ada yang ganggu lo di sini,” ucap Jesan bersamaan dengan tangannya yang membuka pintu kamar. Ia memiringkan sedikit kepalanya, tersenyum sekali lagi pada Shreya yang masih terlihat ragu. “You can trust me, Shreya.”</p><p>Maka di detik selanjutnya Shreya melangkahkan kakinya ke dalam ruangan kamar berukuran cukup luas yang didominasi warna carob, putih, dan pistachio di depannya.</p><p>“Kamar mandinya di sana. Di atas wastafelnya ada handuk baru, kalau lo butuh pake aja. Di meja sebelah lemari baju ada lotion. Kalau lo mau, pake aja, terus ada parfum yang bisa lo pake juga di sana,” jelas Jesan tanpa berniat memasuki kamarnya lebih jauh. “Gue turun dulu. Chat gue aja kalau ada apa-apa.”</p><p>Sebelum Shreya memberikan balasan, lelaki itu sudah lebih dulu menutup pintu untuk meninggalkan Shreya di dalam kamarnya yang tidak terlihat seperti kamar yang dihuni oleh seorang anak laki-laki.</p><p>Penempatan perabotan rumah tangga di kamar ini tampak begitu apik. Shreya bisa menyimpulkan seberapa rapi si empunya kamar di detik pertama ia menemukan meja khusus di sisi lain kamar Jesan yang dibatasi sebuah rak hitam berisikan beberapa buku dan miniatur dari berbagai negara. Ukuran meja tersebut jauh lebih besar dari meja di seberang tempat tidur yang dipenuhi berbagai gadget, <em>earphone</em>, dan beberapa bingkai foto. Dua layar komputer yang berukuran jauh lebih besar bersisian di tengah-tengah deretan koleksi kamera Jesan yang ditata rapi dalam sebuah rak sederhana.</p><p><em>“Camera is really his hobby,” </em>gumam Shreya tanpa mampu menghentikan langkahnya yang sibuk menghampiri tiap sudut kamar Jesan. Tangannya pun turut bergerak mengikuti kemana netranya tertuju seakan barang-barang di sana sudah lama menunggu kedatangannya. Dari barisan berbagai macam parfum di atas rak, kotak kecil berisikan alat tulis di meja, gantungan tas di sudut kamar, tumpukan catatan tidak terbaca di bawah lampu tidurnya, sampai jejeran bingkai foto di nakas yang menampilkan gambar anggota keluarganya, teman-teman kuliahnya, dan momen kelulusannya ketika SMA, seluruhnya Shreya hampiri untuk ia bubuhkan sebuah senyum.</p><p>Desiran di dalam dadanya mulai terasa asing. Segala hal di dalam kamar ini mendadak menarik bagi Shreya. Si pemilik kamar seakan sedang mempersilakan Shreya untuk masuk ke dalam dunianya, untuk mengenal dirinya lebih jauh tanpa ia perlu meminta.</p><p>— — — — — — — —</p><p>“Nak, lagi masak apa?”</p><p>Sebuah tanya dari ruang tengah hampir membuat Jesan menjatuhkan adonan <em>strawberry cheesecake</em> yang perlu dimasukkan ke dalam lemari es sebagai tahapan terakhir sebelum siap untuk disantap.</p><p>“Ma! Kok udah pulang?!” sahut Jesan, hampir gagal menyembunyikkan keterkejutan di raut wajahnya.</p><p><em>Shitmeenn. Mama pulang lebih awal dan Shreya masih di kamar gue! </em>seru Jesan dalam hati.</p><p>“Lah, nggak boleh emang?” tanya Mama Jesselyn sembari menghampiri Jesan di dapur. “Bikin apa, sih, San?”</p><p><em>“Strawberry cheesecake.”</em></p><p>Jawaban sang anak sukses mengernyitkan dahi wanita paruh baya yang masih mengenakan pakaian formalnya. “Kamu kan nggak suka olahan stroberi, terus ngapain bikin kue stroberi?”</p><p>“Lagi pengen aja, Ma. Kemarin dapet resepnya dari Kael, jadi iseng aja mau coba,” sahut Jesan, berusaha mencari alasan. “Mama istirahat, gih, ke kamar. Nanti kalau udah bisa dimakan, kuenya aku bawain ke kamar. Papa mana?”</p><p>“Papa udah duluan ke kamar,” ujar Mama Jesselyn sembari mengeringkan tangannya yang habis dibasuh air. “Kamu anterin ke kamar Mama, ya, beneran? Mama capek banget, nih. Mau istirahat dulu.”</p><p>“Iyaaa, janji. Sekarang Mama istirahat dulu aja.” Senyum lebar Jesan terpatri tanpa ingin menimbulkan kecurigaan. Selama orangtuanya berada di kamar, Jesan bisa pastikan keberadaan Shreya sore ini tidak akan diketahui orang lain selain dirinya.</p><p>Mama Jesselyn mengacungkan satu ibu jarinya pada Jesan sembari berjalan meninggalkan dapur. Sebelum anak lelakinya menaiki anak tangga, Mama Jesselyn tiba-tiba berujar dan merubah arah langkah kakinya, “Oh iya, parfum Mama kemarin ketinggalan di kamar kamu.”</p><p>Jesan buru-buru berbalik badan dan mencenggar sang mama mengikutinya ke lantai dua. “Nanti aku bawain turun waktu kita <em>dinner</em>. Aku mau istirahat dulu di kamar, oke?”</p><p>Dahi Mama Jesselyn lagi-lagi mengernyit, “Kamu dari mana kok baru mau istirahat?”</p><p>“Tadi ada rapat di kampus, terus main sama temen-temen. Aku belum lama sampe rumah,” jawab Jesan — penuh dusta.</p><p>“Oalah, <em>okay</em>. Mama ke kamar dulu kalau gitu. Mama juga mau istirahat.”</p><p>Napas Jesan yang sedari tadi tertahan akhirnya dapat dihembuskannya dengan lega. Ia kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya. Diam-diam hatinya berucap syukur sebab Shreya tidak menghampirinya di waktu yang sama dengan kedatangan orangtuanya.</p><p>“Ya, udah selesai belum? Ini gue,” kata Jesan setelah dua ketukan diberikan pada pintu kamarnya.</p><p>“Eh, baru aja gue ma — “</p><p>Kalimat Shreya segera terjeda begitu Jesan melangkah masuk ke dalam kamar — yang otomatis membuat Shreya refleks mengambil langkah mundur. Dua alisnya yang menukik sudah cukup menyiratkan tanda tanya besar di kepalanya.</p><p>“Ada mama di bawah.”</p><p>Sepasang mata wanita di depannya sontak terbelalak, “Kata lo pulangnya malem?”</p><p>Jesan mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu, lalu tangannya menarik kursi belajar di belakang Shreya untuk ditempati oleh wanita itu.</p><p>“Tunggu di sini dulu nggak papa, ya, sekalian nunggu <em>cheesecake</em>-nya agak padat?” tanya Jesan. “Gue nggak mau lo pulang nggak bawa cheesecake-nya. Kenzi sama Kezia suka stroberi, sayang kalau nggak nyobain.”</p><p>Pernyataan Jesan memperparah kerutan di dahi Shreya. Sel-sel otaknya perlu beberapa detik untuk memastikan sugestinya, “Lo sengaja buat <em>strawberry cheesecake</em> buat adik-adik gue?”</p><p>“Nggak bisa dibilang sengaja juga, sih,” ujar Jesan bersama kekehan di wajahnya selagi tubuhnya mengambil tempat di sisi tempat tidur agar dapat berhadapan dengan Shreya. “Gue sebenernya kurang suka olahan stroberi apa pun bentuknya, tapi Mama Papa suka. Dan waktu itu gue denger di toko roti kalau adik lo suka <em>pancake</em> stroberi. Supaya bisa nyobain olahan stroberi yang lain, gue kepikiran ngajak lo untuk sekalian bikinin <em>cheesecake</em> buat mereka.”</p><p>“Eh, tapi mereka udah pernah nyobain <em>strawberry cheesecake </em>belum?”</p><p>Pertanyaan Jesan memasuki telinga kanan Shreya dengan pasti, namun wanita itu tidak tahu mengapa kalimat lelaki di depannya menolak untuk keluar dari telinga kiri dan justru memilih bersarang di dalam hatinya.</p><p>Sungguh, lelaki ini… selalu berhasil membuat Shreya termangu dengan caranya yang sederhana. Ia tidak pernah bertanya lebih jauh tentang bagaimana hubungan Shreya dengan kedua adiknya di rumah, ia juga tidak pernah secara terang-terangan memberikan perhatian khusus pada kedua adiknya, ia juga tidak pernah berusaha mendekati kedua adiknya demi memenangkan hati Shreya — seperti kebanyakan lelaki pada umumnya. Namun, Jesan juga tidak pernah melupakan kedua adiknya setiap kali ia sedang menyenangkan hati Shreya. Jauh dari luar akal sehat Shreya, lelaki itu selalu memiliki cara untuk mengikutsertakan kedua adiknya dalam bentuk apa pun sebab ia ingin mengerti dan menerima seberapa berharganya mereka dalam hidup Shreya.</p><p>“Makasih. Gue yakin mereka pasti suka cheesecake buatan lo.” Senyum paling tulus diberikan wanita itu di bawah penerangan kamar Jesan yang tidak sempurna. Ia harap lelaki yang sedang menyandarkan kepalanya pada dashboard tempat tidur dapat merasakan seberapa besar Shreya menghargai kebaikannya.</p><p>“Buatan kita. Tadi bukan cuma gue yang masak,” koreksi Jesan.</p><p>“Gue nggak bantu banyak,” sangkal Shreya.</p><p>“Banyak sedikitnya nggak usah diperhitungkan karena judulnya tetep lo ngebantu gue masak dan gue merasa terbantu.”</p><p>“Gue penasaran, San.”</p><p>Jesan merapatkan bibirnya — menunggu Shreya melanjutkan kalimatnya tanpa mengabaikan perasaan aneh di dalam hatinya begitu menyadari seberapa menawan rupa Shreya yang sedang mengenakan <em>hoodie</em> kesayangannya di atas kursi belajarnya.</p><p>“Gue penasaran dari kecil Bu Jesselyn sama Pak Sekala mendidik lo sebaik apa sampai anaknya bisa kayak gini sifatnya?” Tanya yang lebih terdengar seperti ungkapan kecemburuan dilayangkan Shreya secara perlahan. “Gue penasaran harus sesiap apa sepasang suami istri untuk memiliki anak supaya anak mereka bisa menjalani hidup penuh cinta tanpa luka. Gue penasaran gimana rasanya punya orangtua yang pulangnya selalu dinanti anak-anaknya di rumah.”</p><p>Hening menyelimuti ruangan itu dalam sekejap. Sorot kedua mata Shreya terpaku pada lengan <em>hoodie</em> yang menutupi telapak tangannya sedangkan Jesan sibuk membaca setiap inci perubahan mimik wajah Shreya di hadapannya. Lelaki itu sadar ia tidak bisa menyahuti kalimat barusan dengan sembarangan.</p><p>“Dulu kayaknya gue pernah ngerasaian segimana antusiasnya nunggu orangtua pulang, tapi sebesar apa bahagianya gue udah nggak inget.” Shreya kembali berujar, “Dulu gue juga pernah, San, ada di posisi seorang anak yang punya tempat mengadu di rumah, punya banyak foto kecil yang lagi ketawa sama orang rumah, punya banyak mainan yang bisa dipamerin ke temen-temen di sekolah, tapi bahagia di masa itu ternyata nggak bisa gue bawa sampai umur segini.”</p><p>“Karena dunia terus berputar?” Sahutan pertama Jesan berikan dalam bentuk tanya.</p><p>Shreya mengangguk kecil kemudian menambahkan, “Karena <em>people</em> <em>changed</em>, San. Nggak ada yang selamanya di dunia ini termasuk karakter seseorang, kebiasaan seseorang, apalagi perasaan seseorang. Semuanya bisa berubah karena keadaan dan kayaknya… gue udah melewati perubahan paling ekstrim di dalam hidup gue.”</p><p>“Makanya lo nggak gampang ya ngebuka diri lo sama orang baru?” Pandangan lelaki itu masih lurus ke depan, memperhatikan Shreya. “Karena bagi lo, semua orang pasti berubah. Yang hari ini baik, belum tentu besok masih baik. Yang hari ini jahat, belum tentu besok masih jahat. Itu juga sebabnya lo nggak mau suka atau benci sesuatu terlalu dalam, karena lo udah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuknya; <em>perubahan</em>.”</p><p>Untuk kedua kalinya, Shreya mengangguk mengiakan. “Gue nggak mau jadi orang jahat dengan ngaku nggak peka sama perasaan lo, San, tapi rasa takut akibat perubahaan ekstrim itu mau nggak mau, terima nggak terima, memengaruhi gue dalam mengambil setiap keputusan. Karena gue cuma punya diri gue sendiri. Gue nggak tau bakal sekacau apa kalau perubahan ekstrim itu terulang di masa sekarang.”</p><p>“Gue ngerti kok maksud lo, Ya, dan gue nggak pernah sekali pun melihat lo sebagai orang jahat. Gue ngerti lo butuh waktu dan gue nggak masalah. Waktu gue banyak dan semuanya bisa lo ambil,” ujar Jesan penuh kehati-hatian. Ia dapat merasakan otot di sendi-sendi tubuhnya lebih rileks menyadari topeng di wajah Shreya berangsur-angsur luruh belakangan ini.</p><p>“Kira-kira Bu Jesselyn bakalan marah nggak kalau tau gue ada di kamar lo jam enam sore?” tanya Shreya tiba-tiba. Wajahnya berpaling pada jendela kamar Jesan untuk menemukan matahari yang sudah terbenam. “Langitnya mulai gelap…”</p><p>“Nggak tau, tapi kayaknya nggak marah. Justru dia bakal marah kalau tau tepung maizenanya tumpah semua ke baju lo karena gue teledor,” jawab Jesan dengan kekehan. “Mama, <em>tuh</em>, ternyata udah lebih dulu deket sama lo, ya?”</p><p>“Nggak bisa dibilang <em>‘deket’</em> juga karena hubungan gue sama Bu Jesselyn sama kayak Ibu dan Bu Jesselyn; atasan dan bawahan.” Jesan sudah akan mengoreksi kata yang digunakan Shreya, namun wanita itu lebih dulu berkata, “Cuma… dari awal ibu gue kerja di sini, Bu Jesselyn selalu kasih gue bantuan lebih banyak dibanding ke ibu sendiri. Makanya gue yang bener-bener mengagumi dan menghormati Bu Jesselyn ini mulai ngerasa bersalah karena sekarang lagi <em>ngumpet</em> begini sama anaknya.”</p><p>Tawa Jesan sontak menguar. “Nggak papa. Kalau gue jelasin kronologinya, mama pasti ngerti.”</p><p>“Apa yang bisa dimengerti dari fakta anak semata wayangnya lagi bawa anak ART-nya ke dalam kamar dan gelap-gelapan?”</p><p>Sindiran dari Shreya sukses membuat tawa Jesan terdengar lebih renyah. “Intinya mama bakal ngerti, Ya. Lo tenang aja. Sekali pun mama marah, yang dimarahin pasti gue.”</p><p>Sudut bibir Shreya melengkung begitu mendengar hiburan sederhana dari Jesan. Perlahan-lahan punggungnya mulai nyaman bersandar pada kursi mahal milik si anak tunggal. Sapuan halus dari pendingin ruangan menyapa wajah Shreya yang sudah bersih dari tepung maizena. Aroma pengharum ruangan kamar ini juga menyapa hidungnya dengan begitu sopan. Jika satu lamunan datang, Shreya yakini alam bawah sadar pasti akan menculiknya tanpa izin.</p><p>Beruntungnya, Jesan melontarkan sebuah pertanyaan tepat sebelum Shreya merasa terlalu nyaman. “Kalau lo sebegitunya mengagumi mama, waktu dewasa nanti lo mau nggak jadi kayak mama? Jadi kayak Bu Jesselyn?”</p><p>Shreya membutuhkan seperkian detik untuk menjawab tanpa ragu, “Mau, tapi kayaknya nggak akan bisa.” Ia membalas tatapan mata Jesan kemudian melanjutkan, “Gue nggak berniat untuk menikah. Adik-adik gue jauh lebih membutuhkan gue dari lelaki mana pun di dunia ini.”</p><p>“Tapi lo-nya gimana? Bukannya lo juga butuh seseorang untuk jadi tempat sandaran? Bukannya lo juga butuh orang yang bisa lo jadiin tempat pulang?” tanya Jesan, penasaran.</p><p>Sebuah senyum gentir muncul di wajah si puan, “Nggak punya juga nggak papa, San. Gue bisa sendiri. Lagipula gue rasa gue nggak akan punya tenaga untuk memenuhi ekspektasi orang baru.”</p><p>“Kalau nggak ada ekspektasi khusus di dalam hubungan itu, gimana?”</p><p>“Nggak mungkin.” Shreya terkekeh ringan, diam-diam berusaha melawan rasa kantuk yang semakin besar. “Hidup itu punya aturan <em>give and take.</em> Jadi, gue nggak bisa dong cuma <em>taking</em> tanpa <em>giving</em>.”</p><p>“Kalau pasangan lo nggak masalah lo cuma berperan sebagai yang <em>taking</em>, gimana?”</p><p>“Nggak mungkin ada manusia sebaik itu di dunia ini, San. <em>The world is cruel</em>.”</p><p>Sepi sengaja diciptakan Jesan agar wanita di kursinya memiliki waktu untuk berdamai dengan rasa kantuknya. Kelopak mata Shreya yang semakin kecil sudah tertangkap basah oleh lelaki itu sedari tadi. Dengan hati-hati, Jesan menarik kursi itu mendekat lalu mengambil kedua kaki Shreya untuk diletakkannya di sisi tempat tidur.</p><p>Sebelum Shreya total dibawa kabur oleh peri mimpi, Jesan berbisik di depan wajahnya yang damai. “Kalau ada dan Tuhan kasih dia buat lo. Gimana, Ya?”</p><p><em>“It must be you</em>, kan?”</p><p>Senyum Jesan terukir lagi. “Hm. <em>It must be me.</em>”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=72ec4b251c14" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[strawberry cheesecake]]></title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee/strawberry-cheesecake-eb7087504413?source=rss-de057a50425------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/eb7087504413</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayya]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 23 Mar 2026 06:57:39 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-23T06:57:39.746Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*_1gF0PVdBKOcOFGB1PPcSA.jpeg" /></figure><p><em>From AU Eldest Daughter on instagram @perfecltyfinelagi chapter 65</em></p><p>Jarak rumah Shreya yang tidak memakan waktu lebih dari sepuluh menit dari rumahnya terkadang dirutuki oleh Jesan yang ingin menghabiskan waktu lebih lama di setiap perjalanan mengantar atau menjemput wanita itu. Sebesar apa pun usaha Jesan untuk memperlambat laju motornya sore ini, ia tidak bisa lagi menghindar dari pekarangan rumahnya yang sudah terpampang nyata di depan mata.</p><p>“Orangtua lo lagi nggak di rumah?” tanya Shreya ketika langkah Jesan membawanya ke ruang keluarga rumah besar itu.</p><p>“Iya, lagi pergi. Kemungkinan nanti malem pulang, atau mungkin juga besok,” jawab Jesan. “Itu lo bawa apa?” Sepasang matanya menyelidiki sebuah <em>goodie bag</em> cokelat yang menggantung di pergelangan tangan Shreya.</p><p>“Ini wadah makanan punya Bu Jesselyn yang ada di rumah, mau gue kembaliin,” sahut si wanita berbalut kaus berwarna beige tanpa menoleh. “Beberapa kali Ibu diminta bawa pulang masakan Bu Jesselyn yang porsinya kebanyakan, dan sampai hari ini dia selalu lupa buat balikin wadahnya.”</p><p>Jesan tersenyum tipis lalu mengajak Shreya menuju dapur kering di belakang <em>kitchen island</em>. “Semua bahan-bahan untuk <em>cheesecake</em>-nya udah gue siapin. Lo mau duduk manis nontonin gue masak atau mengulurkan bantuan?” tanya Jesan, sengaja bertanya dengan nada meledek.</p><p>“Apa gunanya gue di sini kalau cuma duduk manis nontonin lo masak?” Shreya bertanya balik seraya memasukkan beberapa wadah makanan di dalam <em>goodie bag </em>ke tempat asalnya. Tanpa seutas kata, tangan Jesan sudah bergerak otomatis untuk membantu Shreya di depan lemari sudut.</p><p>“Lah, lo duduk manis nontonin gue aja udah berguna, Ya,” balas Jesan. “Dijamin masakan gue rasanya bakal sempurna kalau ditontonin sama lo.”</p><p>“Oh, jadi kalau gue mengulurkan bantuan rasanya nggak bakal sempurna?”</p><p>“Nggak sempurna, tapi jadi nggak ternilai karena saking enaknya.”</p><p>“Bisa terus, ya, jawabnyaaa.” Shreya mengulum senyumnya sebelum membalik tubuhnya untuk memperhatikan Jesan yang sedang mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas dan kabinet terdekat.</p><p>“Lo suka stroberi, kan, Ya?”</p><p>“Lebih suka mangga sebenernya. Tapi karena yang mau lo buat adalah <em>strawberry cheesecake,</em> hari ini gue lebih suka stroberi.”</p><p>Jawaban lugas Shreya sukses membawa tubuh Jesan untuk menghadap wanita itu. Sudut bibirnya tidak bisa untuk tidak tertarik kali ini. “Itu lo lagi ngegombal apa gimana, sih? Kok manis banget jawabnya?”</p><p>“Ngapain banget gue ngegombalin tukang gombal kayak lo!” Shreya tergelak. “Gue cuma ngomong apa adanya. Hari ini gue lebih suka stroberi.”</p><p>Tak ingin mendebat, Jesan memilih mengangguk setuju, “Kalau gitu hari ini <em>cheesecake</em>-nya harus sukses besar. Nggak boleh ada cacat sedikit pun karena mau dimakan orang keren.”</p><p>“Gue udah di tahap nggak perlu lagi mempertanyakan setiap denger lo ngomong manis, San,” aku Shreya sembari berjalan mendekat untuk membantu mengikatkan tali apron di punggung Jesan.</p><p>“Bagus dong. Itu artinya lo udah terbiasa gue puja-puji,” sahut Jesan dengan senyum bangga di wajahnya.</p><p>Perasaan menyenangkan diam-diam memenuhi relung dadanya saat tubuhnya merasakan gerakan tangan Shreya di atas punggungnya yang dilapisi <em>sweater</em> abu-abu. Mengikat tali apron mungkin terdengar sederhana, namun Jesan tidak bisa menyalahkan Shreya yang dengan mudahnya mampu membuat jantungnya memompa lebih cepat.</p><p>Punggung lebar Jesan dimanfaatkan Shreya untuk menyembunyikan senyum yang akhirnya terukir. “Gue nggak terbiasa, cuma udah hapal aja kemana arah bibir lo akan tertuju.”</p><p>“Kenapa bisa hapal padahal belum pernah diapa-apain?” Jesan bertanya spontan setelah tubuhnya kembali dibawa berhadapan. Sepasang netra mereka yang saling beradu segera diputus Shreya secepat kedipan mata. Wanita itu tidak tahu harus merespon candaan Jesan seperti apa selain dengan memalingkan wajahnya yang memanas.</p><p>“Ini stroberinya dimana?” tanya Shreya setelahnya.</p><p>“Di kulkas. Paling bawah,” balas Jesan. “Lo nggak mau pake apron?”</p><p>“Ini cuma mau bikin <em>strawberry cheesecake</em>, kan? Gue nggak perlu apron deh, nggak papa.”</p><p>“Waduh… Ngeri juga ya masak-masak sama kokinya toko roti paling terkenal se-Jakarta.”</p><p>“Nggak usah ngeledek.” Shreya dibuat mengulum senyumnya untuk kedua kali kemudian tangannya membawa setumpuk stroberi merah merona itu menuju <em>kitchen sink</em>. “Ini bukan stroberi lokal kayaknya, ya?”</p><p>“Lokal kok, tapi emang sengaja cari kualitas terbaik,” ujar Jesan selagi tubuhnya mendekat untuk memperhatikan Shreya yang sedang mencuci buah tersebut. “Lo mau buat selainya?”</p><p>“Boleh,” jawab Shreya.</p><p>“Oke.” Jesan mengambil alih stroberi-stroberi itu dari tangan Shreya untuk diletakkannya di <em>counter top.</em> Lalu ia bergerak cekatan mengambil bahan-bahan lain seperti biskuit, mentega, dan dua buah alu (tongkat penumbuk) untuk dibawa menuju <em>kitchen island</em>.</p><p>“Sini, Ya, bantuin gue hancurin biskuitnya sampe halus.”</p><p>Shreya segera mendekat sesuai pinta Jesan. Ia meraih alu yang diulurkan untuknya, mengambil posisi di samping laki-laki itu, dan mulai menumbuk biskuit di dalam wadah dengan gerakan konstan persis seperti yang dilakukan si empunya rumah.</p><p>“Kemarin les sama Aruna-nya gimana, Ya?” tanya Jesan, memulai topik obrolan.</p><p>“Masih sama kayak hari Rabu. <em>Mood</em>-nya belum sebagus biasanya. Kemarin malem Tante Ami bilang mau ngajak Aruna jalan-jalan keluar kota hari ini. Semoga besok Senin <em>mood</em>-nya udah balik lagi,” cerita Shreya.</p><p>“Dia ada drama ngambek atau judes gitu nggak ke lo?”</p><p>“Nggak ada, cuma emang keliatan banget lagi <em>badmood</em>. Gue udah coba semampu gue buat bikin dia seneng, eh, nggak ada yang mempan. Mungkin gue masih kurang <em>explore</em> cara menyenangkan anak-anak seusia Aruna.”</p><p>“Mungkin juga emang Aruna-nya aja yang keras kepala.” Jesan terkekeh di sela kalimatnya, “Oh iya, buku Aruna yang mau lo pinjem ada di atas. Nanti ingetin gue untuk ambil, ya, sebelum lo pulang.”</p><p>“Oke.”</p><p>Satu-persatu kepingan biskuit di dalam wadah akhirnya mulai menghalus. Dua alu yang sibuk menumbuknya bergerak seirama tanpa bermaksud menciptakan riak yang berlebihan.</p><p>Hening di tiga detik pertama mengingatkan Jesan pada rencana Shreya yang ingin membicarakan sesuatu padanya. Dengan mengesampingkan rasa gugup, Jesan memilih bertanya untuk menelan rasa penasaran yang bermukim sejak kemarin. “<em>By the way,</em> lo mau ngomongin apa, Ya?”</p><p>Shreya tak langsung menjawab setelah Jesan mengajukan tanya. Ia diam beberapa saat untuk memastikan cara terbaik membicarakan hal ini.</p><p>“Lo tau Dita tetangganya Tante Ami?”</p><p>Yang ditanya sontak menelan ludah — otaknya mulai meraba kemana arah pembicaraan mereka akan tertuju. “Hm, gue baru inget belakangan ini.”</p><p>“Diingetin Jihan?”</p><p>Jesan mengiakan tanpa menghentikan gerak tangannya. “Lo sendiri dikasih tau siapa?”</p><p>“Dita-nya langsung,” jawab Shreya. “Dita nge-<em>chat</em> gue terus belakangan ini.”</p><p>Barulah tangan Jesan berhenti bergerak begitu jawaban Shreya diproses akalnya. “Dia gangguin lo? <em>‘Belakangan ini’ </em>tuh maksudnya sejak kapan? Sejak dia liat lo di Tante Ami? Dia <em>chat</em> lo apa aja?”</p><p>Pertanyaan beruntun dari Jesan mau tidak mau turut menghentikan tangan Shreya dari kegiatannya. Ia menoleh sejenak lalu terkekeh ringan, “Kok lo kayak panik? Dita nge-<em>chat</em> lo juga?</p><p>“Gue bukan panik, Ya, gue khawatir,” koreksi Jesan.</p><p>“Kenapa khawatir? Orang gue nggak diapa-apain, cuma di-<em>chat</em> aja, dipanas-panasin,” balas Shreya kelewat santai. “Gue bahas ini sama lo karena lo minta gue untuk cerita tentang apa pun, bukan karena gue terganggu.”</p><p><em>“Are you sure?</em> Lo nggak merasa terganggu?”</p><p>Lima detik yang dibiarkan Jesan menggantung berakhir diambil alih oleh Shreya, “Nggak, sih. Sebenernya gue cukup terganggu,” akunya kemudian. “Gue terganggu karena dia ngomong ke gue seakan gue harus ambil kesempatan buat deketin lo lewat Tante Ami dan Aruna. Seakan lo, <em>tuh</em>, tipikal cowok yang bisa luluh cuma karena di-<em>modus</em>-in.”</p><p>“Emang gue nggak begitu?” Kekehan Jesan tiba-tiba pecah menghancurkan kesan serius di percakapan mereka.</p><p>“Kalau lo tipikal yang begitu, menurut gue kecil kemungkinannya lo nggak pernah pacaran sama anak kampus. Secara, yang naksir lo kan banyak, pasti yang <em>modus</em>-in lo juga banyak.”</p><p>“Tapi yang bikin gue naksir malah yang nggak pernah <em>modus</em> sama gue.”</p><p>“Ya, kalau itu sih derita lo.”</p><p>Ejekan yang dilontarkan wanita di sebelahnya dengan senyuman lebar hampir membuat Jesan kehilangan kendali pada keinginannya mengacak pucuk kepala Shreya dengan gemas. Lelaki itu mengatur deru napasnya, menepis keinginan yang tidak pantas dilakukannya dalam hubungan pertemanan mereka, lalu membawa kembali topik awal pembicaraan mereka.</p><p>“Jihan <em>chat</em> gue setelah Dita liat lo di Tante Ami,” katanya. “Ketikannya ke gue waktu itu nggak enak banget buat dibaca, jadi gue khawatir dia bakal hubungin lo dan ngomong hal yang nggak pantes buat lo denger.” Tangan Jesan beralih dari alu ke <em>frypan</em> di atas kompor untuk mencairkan beberapa sendok mentega tanpa menjauh dari Shreya. “Gue nggak tau Jihan akan bertindak apa, tapi gue harap dia nggak akan ganggu lo.”</p><p>“Dita juga sama. Kalau dirasa omongan Dita udah kelewatan, lo harus bilang gue ya, Ya. Gue mau sama lo bukan berarti gue terima lo diapa-apain sama orang lain karena eksistensi gue,” sambungnya.</p><p>“Iya, gue ngerti maksud lo,” sahut Shreya sembari merapikan serpihan biskuit yang sudah menjadi bubuk di wadah baru. “Gue juga berusaha ngerti kenapa dia berpikir kalau lo adalah alasan gue mau ngajarin Aruna. Gue juga berusaha ngerti dengan omongan dia yang menganggap gue bakal memanfaatkan pekerjaan ini untuk <em>PDKT</em> sama lo. Tapi, mengerti bukan berarti gue terima diomongin kayak gitu.”</p><p>“Lo mau gue klarifikasi ke Dita?”</p><p>Tawaran yang diberikan Jesan tidak digubris oleh Shreya. Wanita itu hanya bergerak lihai mengambil <em>frypan</em> berisikan mentega yang sudah cair untuk dicampurkan di wadah biskuit lalu tangannya mulai mengaduk dengan piawai.</p><p>“Gue nggak merasa itu sebuah solusi, San,” ujar Shreya begitu Jesan sudah sibuk menyiapkan adonan kejunya. Susu <em>full-cream</em>, roti tawar, <em>cream cheese, whipped cream, </em>dan bahan-bahan lain sudah siap diolah di atas <em>counter top. </em>“Emang menurut lo, apa aja yang perlu diklarifikasi?”</p><p>“Lo yang nggak pernah modus sama gue, lo yang <em>pure</em> ngelesin Aruna karena butuh kegiatan tambahan, lo yang nggak mempan gue gombalin, gue yang ngejar lo hampir setengah tahun ini, gue yang nawarin Tante Ami supaya Aruna les sama lo, gue yang nyusul lo ke rumah Tante Ami waktu itu.” Jesan menoleh setelah menuangkan susu full-cream pada adonan, “Apa yang Dita simpulkan itu berbanding 180 derajat sama apa yang sebenernya terjadi, Ya.”</p><p>Tubuh Shreya terdiam di sisi kabinet paling sudut dapur. Tangannya terlipat di depan dada, netranya sibuk memperhatikan gerak-gerik Jesan yang terpaut jarak dua meter dari pijakannya.</p><p>“Mungkin nggak akan ada yang berubah setelah gue klarifikasi hal-hal itu, tapi apa boleh buat? Gue cuma nggak mau orang-orang mengambil kesimpulan tentang diri lo tanpa periksa kebenarannya,” ujar Jesan. “Pertimbangan gue cuma satu, Ya. Lo masalah nggak kalau gue klarifikasi semuanya?”</p><p>Kepalanya menoleh sejenak pada Shreya yang sedang menyandarkan punggung sebelum kembali berujar, “Karena kalau gue klarifikasi, cepat atau lambat semua orang bakalan tau sebesar apa gue naksir lo, sesering apa lo nolak gue, dan sekeren apa seorang Shreya Diandratari di mata gue.” Ia terkekeh. “Lo pernah bilang kalau lo nggak mau jadi pusat perhatian, kan?”</p><p>“Bener, gue nggak mau,” tegas Shreya.</p><p>“Maka dari itu gue nggak mau ambil tindakan asal untuk hal ini, Ya. Gue nggak suka sama cara mereka ngomongin lo, tapi gue nggak mau gegabah dan berakhir buat lo nggak nyaman.”</p><p>Tidak ada jawaban yang diberikan Shreya usai Jesan mengutarakan isi hatinya. Ia masih berdiri di posisinya sampai Jesan mengambil langkah mendekat dan mencuri sorot di kedua netranya.</p><p>“Kalau gitu nggak usah direspon aja kali, San. Lo nggak perlu menggubris apa pun omongan mereka tentang gue kedepannya dan gue juga bakal berusaha untuk nggak peduli,” ujar Shreya tanpa getar.</p><p>“Kalau mereka macem-macem sama lo, gimana?” tanya Jesan dengan langkah yang terus mendekat.</p><p>“Selama nggak merugikan gue, gue nggak akan gimana-gimana,” jawab Shreya. Kini kepalanya sedikit mendongak sebab Jesan hanya berjarak dua langkah dari kakinya. “Lagian, kan, ada lo.”</p><p>“Bener.” Senyum tipis di wajah kecil Jesan terukir, namun tubuhnya tidak berhenti untuk mengikis jarak yang tersisa di antara mereka. Shreya dipaksa menahan napasnya begitu Jesan menundukkan sedikit kepalanya sampai wajah mereka berhadapan di garis yang sama. Lalu dengan satu tangan yang menyelinap ke dalam kabinet di belakang tubuh Shreya, Jesan membawa bibirnya mendekat pada telinga kanan Shreya yang memerah, “Lo selalu punya gue.”</p><p>Kalimat lelaki itu berhasil membuat tubuh Shreya sedikit terlonjak seakan aliran listrik sedang menyapa kulit telanjangnya. Ia tidak menyangka Jesan akan melakukan hal sederhana yang mampu membuat bulu kuduknya merinding tanpa adanya sentuhan langsung pada kulitnya.</p><p>Sebelum Jesan menjauh, satu kalimat diberikan lagi pada Shreya yang membatu<em>, “There’s really something about you, Shreya, and I love that.”</em></p><p>Namun seluruh dopamin yang menyerbu sepasang anak Adam itu segera mengambil seribu langkah melarikan diri ketika satu bungkus tepung maizena yang diambil Jesan dari lemari belakang Shreya berhasil lolos dari cengkeramannya dan menghantam pakaian keduanya.</p><p>“JESAN!!! BAJU GUE JADI PUTIH SEMUA!!!”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=eb7087504413" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Aruna]]></title>
            <link>https://medium.com/@ayahaeyiee/aruna-9062e819876f?source=rss-de057a50425------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9062e819876f</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ayya]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 18 Mar 2026 22:53:12 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-18T22:53:12.794Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*KHg5YjLL_oQWfyYaSUYkiA.jpeg" /></figure><p><em>From AU Eldest Daughter on instagram @perfecltyfinelagi chapter 61</em></p><p>Sambutan hangat yang diberikan Mbak Ria di ambang pintu sebuah rumah berlantai tiga menjadi pembuka kegiatan baru Shreya sore ini. Dengan langkah gontai dan hati yang tenang Shreya mengikuti Mbak Ria menuju lantai dua tempat dimana seorang anak perempuan berambut sepunggung terduduk di salah satu sofa ruang keluarga.</p><p>“Aru, ini Miss Reya, guru les Aruna untuk pelajaran matematika dan Bahasa Inggris,” ujar Mbak Ria sembari mempersilakan Shreya mendekat pada Aruna yang mendatanginya untuk memberikan salam. “Aruna kenalan dulu sama Miss Reya, ya. Mbak Ria ke bawah sebentar nyiapin cemilan.”</p><p>Anak kecil berbalut pakaian rumah itu mengangguk patuh lalu meraih dua alas duduk untuk kemudian meletakkannya di sisi meja bundar. Shreya yang memperhatikan gerak-geriknya segera mendekat dan bertanya ramah, “Aruna maunya belajar di bawah? Duduk lesehan begini nggak papa?”</p><p>“Aku lebih suka di bawah. Kalau duduk di sofa punggungku nanti pegel,” jawabnya kelewat santai. Tidak ada ragu atau canggung di tiap kata yang terucap dari bibir merah mudanya. Aruna menunjukkan sikap acuh tak acuh pada Shreya yang sudah menempati alas duduknya.</p><p>“Udah makan siang belum, Aru?” tanya Shreya sembari mengeluarkan barang-barang yang ia bawa di tas ranselnya. Gadis itu berencana untuk tidak langsung memulai materi pembelajaran di hari pertama mereka bertemu. Ia akan mencoba mengakrabkan dirinya lebih dahulu dengan Aruna.</p><p>“Udah.” Aruna menjawab tanpa beralih dari kanvas bergambar kelinci yang sedang ditempeli manik-manik berwarna oleh tangan kecilnya. Netranya tampak fokus pada tiap manik meskipun tak jarang jepitan yang dijadikan alat untuk menempelkan benda kecil itu terlepas dari cengkeraman jari jemarinya.</p><p>“Mau aku bantuin nggak nempelinnya? Mumpung penjepitnya ada dua nih.” Shreya menawarkan bantuan. Tubuhnya perlahan-lahan mendekat di sisi kiri Aruna.</p><p>Anak kecil itu mengangguk setuju lalu menyodorkan alat penjepit untuk Shreya gunakan. Shreya menerimanya dengan senyuman manis yang disusul ungkapan terima kasih.</p><p>“Aruna udah dari tadi duduk di sini? Aku kelamaan, ya, datengnya?” tanya Shreya, memulai topik baru untuk memancing percakapan yang lebih panjang.</p><p>“Nggak. Aku baru aja pulang sekolah jam dua tadi,” balas Aruna.</p><p>“Sampai rumah langsung makan siang?”</p><p>Aruna menggeleng. “Ganti baju dulu, terus makan cemilan dari Mbak Ria. Makan siangnya udah di sekolah.”</p><p>“Aruna tadi pagi bawa bekal untuk dimakan di sekolah?”</p><p>Si kecil menggeleng lagi. “Nggak. Di sekolah ada <em>cathering</em>. Aku nggak pernah bawa bekal.”</p><p>Shreya merubah ekspresinya menjadi terkejut. “Loh? Berarti nggak pernah cobain masakan mamanya teman-teman Aruna dong?” Aruna yang sedikit mengangkat kepalanya membuat Shreya kembali berbicara, “Dulu waktu sekolah aku selalu bawa bekal, jadinya bisa saling cobain masakan mama sama teman-teman. Di sekolah Aruna nggak ada yang bawa bekal?” tanya Shreya — berusaha mengambil atensi anak perempuan itu.</p><p>Aruna terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab, “Ada, tapi dia nggak pernah tuh membagi isi bekalnya sama anak-anak di kelas.”</p><p>“Mungkin dia merasa ragu kali, ya, mau bagi-bagi isi bekalnya ke anak-anak yang ikut <em>cathering</em> di sekolah,” timpal Shreya.</p><p>“Mungkin juga karena masakan mamanya nggak enak.” Celetukan dari Aruna sukses menolehkan kepala Shreya. “Mungkin dia nggak percaya diri sama isi bekalnya dan mungkin juga dia emang pelit.”</p><p>Shreya sontak menahan kekehannya begitu mendengar komentar Aruna yang sangat sesuai dengan deksripsi singkat Jesan beberapa hari lalu.</p><p><em>Beneran blak-blakan banget ini anak</em>.</p><p>“Oh yaa? Kata siapaaa?” sahut Shreya kemudian. “Siapa tau dia nggak mau bagi-bagi karena takut teman-teman di kelas ketagihan setelah tau betapa enak masakan mamanya. Manusia kan cenderung senang menyembunyikan hal yang berharga, Ru.”</p><p>Entah karena kalimat Shreya yang mana, Aruna mulai menunjukkan minat untuk berbicara lebih jauh. “Kalau gitu dia aneh… Hal berharga itu harusnya kan cukup dijaga baik-baik tanpa perlu disembunyikan. Kalau emang masakan mamanya enak, harusnya dia bangga dan kasih tau aku sama teman-teman yang lain. Bukan malah jadi pelit.”</p><p>“Aruuu, umurnya berapa, sih? Kok pinter banget ngomongnya?” goda Shreya dengan kekehan yang akhirnya terbit dari bibirnya.</p><p>“Aku delapan tahun tanggal tiga Februari nanti,” balas Aruna tak acuh.</p><p>“Kok bisa anak delapan tahun seluas ini cara mikirnyaa? Dikasih makan apa sih si cantik ini?” puji Shreya sembari mengusap pucuk kepala Aruna beberapa kali.</p><p>“Aku begini diajarin mama,” sahut Aruna apa adanya.</p><p>Kepala Shreya mengangguk-angguk tanpa ingin membantah segala perspektif anak usia delapan tahun di sebelahnya. Mendebati pendapat anak seusia Aruna tidak akan berakhir baik sebab mereka belum mengerti apa bagaimana roda kehidupan yang sebenarnya berputar. Shreya hanya akan memvalidasi pendapatnya lalu mengoreksinya jika dirasa perlu.</p><p>“Apa yang Aruna pikir tentang teman Aruna benar semua, tapi ada sedikiiiit lagi tambahan yang menurut aku perlu Aruna pertimbangkan,” ujar Shreya. Ia coba kembali berbicara di tengah kegiatan mereka menempelkan manik-manik.</p><p>“Di dunia ini ada yang namanya rasa takut, Ru.” Nada Shreya kian melembut. “Hal yang berharga, hal yang sangat kita sayangi di hidup kita, bisa hilang dengan mudah kalau kita nggak menjaganya dengan baik. Beberapa teman Aruna mungkin memilih menyembunyikan hal berharganya karena takut untuk kehilangan. Mereka mungkin takut untuk berbagi karena sejatinya yang berharga nggak akan ada gantinya.”</p><p>“Misalnya deh… Aruna punya boneka <em>barbie</em> favorit. Aruna boleh banget membanggakan bonekanya di hadapan teman-teman Aruna. Aruna juga boleh meminjamkan boneka <em>barbie</em>-nya ke teman-teman Aruna. Tapi, Aruna juga boleh merasa takut boneka <em>barbie</em>-nya akan rusak kalau Aruna pinjamkan dan itu bukan berarti Aruna pelit.”</p><p>Di balik heningnya ruang keluarga di lantai dua, Aruna mendengarkan setiap kalimat Shreya dengan amat serius. Diam-diam ketertarikan di dalam dirinya untuk terus berbicara dengan seorang guru les baru yang didatangkan mamanya berkembang pesat. Ia menyukai bagaimana Shreya mengajaknya berbincang di kali pertama mereka berjumpa.</p><p>“Mungkin Aruna nggak masalah karena kalau bonekanya rusak Aruna bisa beli lagi yang baru. Tapi, kan, rasanya nggak akan sama, Ru. Bendanya tetap berbeda dan Aruna udah terlanjur merekam bagaimana bentuk boneka kesayangan Aruna yang rusak. Sedihnya nggak akan mudah hilang karena memang begitu Tuhan menciptakan hati manusia.”</p><p>“Jadi, apa yang Aruna sampaikan tadi nggak salah, namun bukan berarti sepenuhnya benar. Ada hal-hal kecil lain yang nggak akan kita ketahui karena setiap manusia punya hal-hal berharga yang mungkin nggak mau dibagi.”</p><p>Suasana berubah sunyi sesaat sebelum Aruna berhasil menempelkan manik terakhir di sudut telinga si kelinci. Bibir kecilnya tidak bersorak heboh, namun sepasang netranya mengkilap penuh bangga. Jari jemari mungil itu kemudian dihempas-hempaskan beberapa kali oleh si empunya seakan merayakan ketegangan yang akhirnya dapat dilepas oleh kedua telapak tangannya.</p><p>“Kalau Miss Reya, hal berharga apa yang nggak mau dibagi ke orang lain?”</p><p>Shreya dibuat tertegun atas dua alasan pada detik ini. Satu; pengucapan <em>‘Miss Reya’</em> dari Aruna yang entah mengapa terdengar lebih menggemaskan dari murid-murid lain yang biasa memanggilnya dengan sebutan yang sama. Dua; pertanyaan sederhana yang tak disangka meluncur dari mulutnya yang sedari tadi tertutup rapat.</p><p>“Apa ya….” Shreya menggantung kalimatnya. “Kalau Aruna sendiri apa?”</p><p>Gerakan tangannya yang sedang merapikan manik-manik terhenti sejenak. Aruna menoleh lagi pada Shreya, “Mama sama papa. Meskipun masakan mama nggak enak, meskipun papa sibuk keluar kota terus, aku nggak mau mama papa dibagi ke orang lain.”</p><p>Jawaban lugas Aruna membuat Shreya berpikir lebih keras. <em>Hal berharga yang tidak ingin ia bagi kepada orang lain?</em></p><p>“Hmm… Mungkin kehangatan yang sebelumnya nggak pernah aku dapat kali, ya?” ujar Shreya dengan keraguan yang cukup kentara. “Belakangan ini aku serasa dipeluk terus melalui kata-kata, Ru.”</p><p>“Jawaban Miss Reya aneh,” protes Aruna. “Yang bisa memeluk kita bukannya cuma manusia dan boneka? Apa coba maksudnya dipeluk dengan kata-kata?”</p><p>Sontak saja Shreya tergelak setelah mendengar nada sengit dari si kritikus Aruna.</p><p>“Ada, Ruuu. Nanti deh kalau udah dewasa Aruna mungkin akan ngerti. Manusia bisa dipeluk hangat melalui kata-kata, dan kehangatan itu yang nggak mau aku bagi ke orang lain.”</p><p>Di detik kalimat Shreya menemukan titiknya, suara Mbak Ria muncul dari anak tangga terakhir bersama sebuah nampan berisikan potongan-potongan buah, <em>cupcakes</em>, dan beberapa pilihan minuman di tangan kanannya.</p><p>“Den Jesan! Ngapain <em>atuh</em> mengendap-endap di tangga!? Jantung Mbak hampir coppoott!, Laa illahaillallah!”</p><p>Belum cukup Shreya dibuat terkejut, Aruna tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berteriak tak kalah heboh, “Bang Jesan kok baru sampe, sih!? Ini kelincinya udah keburu selesai aku kerjain sama Miss Reya!!!”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9062e819876f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>