<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Candra Azaria on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Candra Azaria on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@canazaria?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*YPQ7LBeFimwFP08nww63MQ.jpeg</url>
            <title>Stories by Candra Azaria on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@canazaria?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 22 May 2026 18:48:56 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@canazaria/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Chapter 1: Me and My Money]]></title>
            <link>https://medium.com/@canazaria/chapter-1-me-and-my-money-ab3ff91d3327?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ab3ff91d3327</guid>
            <category><![CDATA[money]]></category>
            <category><![CDATA[financial-literacy]]></category>
            <category><![CDATA[personal-finance]]></category>
            <category><![CDATA[gen-z]]></category>
            <category><![CDATA[budgeting]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Candra Azaria]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 21 Jan 2026 14:07:47 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-21T14:07:47.825Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*doB4TuekqDUGjWr0Z4JOlQ.jpeg" /><figcaption>Photo by Etsy on <a href="https://pin.it/7babw2olM">Pinterest</a></figcaption></figure><h3>Perasaan Ngga Belanja Banyak, Tapi Uang Habis</h3><p><em>(Spoiler: Bukan Karena Kamu Boros Aja)</em></p><p>Perasaan ngga belanja banyak, <br>ngga ada barang mahal yang dibeli, <br>atau <em>checkout </em>yang aneh-aneh<br>Tapi pas ngeliat saldo…<br>kok saldonya tinggal segini ya? kok berkurangnya jauh banget ya?<br>Baru dapet uang kemarin, <br>belum sampai akhir bulan, <br>belum ada kebutuhan besar.<br>Uangnya ngga keluar barengan, tapi dia hilang pelan-pelan.</p><p>Tapi tenang. Kamu ngga sendirian.<br>Dan kabar baiknya, ini bukan semata-mata karena kamu boros.</p><h3>Masalahnya Bukan di Uangnya, Tapi di Kesadarannya</h3><p>Banyak dari kita tumbuh tanpa pernah benar-benar diajarin cara mengelola uang. Kita diajari cara mencari uang, tapi jarang diajarin cara <em>mempertahankannya.</em></p><p>Bahkan, penelitianku tentang sosialisasi keuangan keluarga menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa hanya mendapatkan pembelajaran keuangan di tingkat sedang — sekitar 62%.<br>Artinya, banyak dari kita memang <em>ngga dibekali cukup </em>sejak awal.</p><p>Akhirnya, uang cuma lewat. <br>Masuk → keluar → hilang. <br>Tanpa pernah benar-benar “tinggal”.</p><h3>Cashless: Praktis, Tapi Bikin Uang Jadi Ilusi</h3><p>Apalagi di era <em>cashless </em>kayak sekarang ini ya? Rasanya makin parah kan?</p><h4>“Mba bisa pake Qris?” — Done</h4><p>Ngga ada rasa kehilangan. Ngga ada drama dompet kosong. Saldo berkurang pelan-pelan secara konsisten.</p><p>Sampai suatu hari kamu buka <em>m-banking</em> atau <em>e-wallet</em> dan mikir begini..</p><blockquote>“Kok aku ngerasa ga belanja banyak ya?”</blockquote><h3>Ilusi Kecil yang Bikin Uang Rasanya Cepat Habis</h3><p>coba baca baik-baik, bener ngga beberapa hal ini yang bikin uang bocor tanpa sadar:</p><h4>1. Pengeluaran Kecil Tapi Rutin</h4><p>Kopi, jajan, ongkir, subscription, diskon “mumpung”.</p><p>Satu transaksi kelihatan receh.<br>Tapi kalau dikumpulin? Bisa jadi satu pos pengeluaran yang besar loh!</p><h4>2. Mentalitas “Reward Diri Sendiri”</h4><blockquote>Capek dikit, jajan.<br>Stres dikit, <em>checkout</em>.<br>Sedih dikit, <em>healing</em>.</blockquote><p><em>Self-reward </em>itu perlu.<br>Tapi kalau “<em>setiap emosi” </em>butuh uang, dompetmu yang bakal <em>burnout</em> kak.. :))</p><h4>3. Hidup Tanpa Angka</h4><p>Kamu mungkin tau uangmu habis. <br>Tapi ngga tau habis di mana.</p><p>Dan kalo kita ngga tau ke mana uang pergi, kita ngga akan pernah bisa ngatur arahnya, iya ngga?</p><h3>Financial Literacy Itu Bukan Soal Jadi Pelit</h3><p>Banyak orang takut belajar keuangan karena mikir:</p><blockquote>“Nanti hidupku jadi kaku.”</blockquote><p>Padahal <em>financial literacy </em>bukan soal nahan diri terus.<br>Tapi soal <strong>sadar dan milih dengan sengaja</strong>.</p><p>bukan</p><blockquote>“Aku ngga boleh jajan”</blockquote><p>Tapi</p><blockquote>“Aku jajan karena aku mau, bukan karena ngga kepikiran”</blockquote><p>Coba bedanya apaa?</p><h3>Langkah Paling Basic Tapi Penting</h3><p>Kalo kamu ngerasa uang selalu habis, jangan langsung mikir investasi atau <em>side hustle</em> dulu.</p><p>Mulai dari ini:<br><strong>Cek ke mana uangmu pergi.</strong></p><p>Sederhana:<br>- Catat pengeluaran seminggu aja<br>- Ngga usah rapi, yang penting jujur<br>- Lihat pola, bukan cari salah</p><p>Biasanya dari situ baru kelihatan:<br>“Oh, ternyata bukan pemasukanku yang kecil.. <br>tapi bocornya yang banyak..” <br>(apalagi dikit-dikit jajan wkwk)</p><h3>Kamu Ngga Gagal, Kamu Cuma Belum Diajarin</h3><p>Kalo selama ini uangmu selalu habis, <br>itu bukan bukti kamu gagal jadi orang dewasa.<br>Itu cuma tanda kamu <strong>belum punya sistem.</strong></p><p>Dan kabar baiknya:<br>Sistem bisa dipelajari.<br>Pelan-pelan.<br>Tanpa harus langsung sempurna.</p><p>Karena ngatur uang itu bukan soal jadi kaya cepat.<br>Tapi soal <strong>ngga terus-terusan kaget lihat saldo sendiri.</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ab3ff91d3327" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Aku Tidak Sampai ke Mana-Mana Tahun Lalu, Tapi Aku Bertumbuh]]></title>
            <link>https://medium.com/@canazaria/aku-tidak-sampai-ke-mana-mana-tahun-lalu-tapi-aku-bertumbuh-40096e2beb3e?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/40096e2beb3e</guid>
            <category><![CDATA[self-reflection]]></category>
            <category><![CDATA[self-journey]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Candra Azaria]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 09 Jan 2026 14:02:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-09T14:02:26.814Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>Catatan tentang gagal, mencoba, dan belajar pada proses sendiri.</blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*arVi1lq2Xsr6e6lhtzJhpg.jpeg" /><figcaption>Zamzam Tower, Mecca, July 17th 2025. Taken by me with Nikon S4300</figcaption></figure><p>Aku mengakhiri tahun lalu tanpa pencapaian besar yang bisa dipamerkan.<br>Tidak ada kabar yang buat aku merasa “akhirnya...”<br>Tidak ada hidup yang tiba-tiba terasa mapan.</p><p>Jika dilihat sekilas, mungkin aku seperti tidak ke mana-mana.</p><p>Padahal kenyataannya, aku kelelahan — bukan karena terlalu banyak berlari, tapi karena terlalu lama bertanya, <em>“Kenapa ya hidupku belum juga sampai?”</em></p><p>Setelah kelulusanku di tahun 2024, aku pikir hidup akan terasa lebih jelas. Tapi tidak ada yang benar-benar membuat aku berpikir kalau aku menggenggam kemenangan. Setidaknya, ada satu jalur yang bisa diikuti dengan rapi. Nyatanya, justru setelah itu aku lebih sering diam, menunggu, dan meragukan diri sendiri.</p><p>Ada hari-hari ketika aku merasa gagal hanya karena belum berada di titik yang sama dengan orang lain. Ada momen ketika aku bertanya dalam hati. <em>“Apa aku salah dalam memilih jalan ya?”</em></p><p>Dan jujur saja, tidak semua pertanyaan itu punya jawaban sampai sekarang.</p><p>Tahun lalu juga penuh dengan kegagalan-kegagalan kecil yang sunyi.<br>Rencana yang tidak berlanjut.<br>Harapan yang berulang kali harus dikoreksi.<br>Usaha yang berhenti bukan karena malas, tapi karena memang belum waktunya.</p><p>Tidak ada satu kejadian besar yang menghancurkan, tapi justru itu yang membuat lelah. Kegagalan yang pelan-pelan menggerogoti rasa percaya diri yang sudah lama ku bangun diam-diam.</p><p>Namun dari situ aku mulai belajar satu hal: gagal tidak selalu berarti mundur. Kadang ia hanya meminta kita berhenti sebentar, lalu bertanya ulang pada diri sendiri — <em>apa yang sebenarnya ingin aku bangun?</em></p><p>Di tengah kebingungan itu, aku menjalani umrah. Salah satu hal besar yang sangat aku syukuri di tahun lalu. Aku datang tanpa banyak tuntutan, hanya membawa hati yang lelah dan pikiran yang terlalu penuh.</p><p>Di sana, aku tidak menemukan jawaban instan. Hidupku tidak tiba-tiba rapi sepulangnya. Tapi aku pulang dengan pelajaran sederhana: aku tidak harus memegang kendali atas segalanya. Belajar sabar juga termasuk di dalamnya.</p><p>Ada ketenangan saat aku berhenti memaksa hidup untuk segera sesuai rencana. Ada kelegaan saat aku mengakui bahwa aku manusia yang sedang belajar, bukan seseorang yang harus selalu tahu arah.</p><p>Tahun lalu aku juga mencoba hal-hal baru, meski sering merasa belum siap. Aku belajar berada di peran yang tidak besar, tidak mencolok, tapi nyata. Aku belajar bekerja, belajar bertanggung jawab, dan belajar bahwa pengalaman tidak selalu datang dari posisi yang kita impikan.</p><p>Dan anehnya, dari mencoba hal-hal kecil itu, kepercayaan diri mulai tumbuh pelan-pelan.</p><p>Ada satu momen yang masih terasa tidak nyata sampai sekarang: berdiri sebagai pembicara di depan ratusan mahasiswa. Aku sempat bertanya dalam hati, <em>“Aku pantas di sini?”</em></p><p>Ternyata aku tidak perlu merasa paling hebat untuk bisa berbagi. Aku hanya perlu jujur — tentang proses, tentang kegagalan, tentang menjadi seseorang yang masih mencari arah.</p><p>Dari sana aku belajar bahwa cerita yang belum selesai pun tetap layak dibagikan.</p><p>Hari ini, aku masih belum bisa menunjuk satu titik dan berkata <em>“Aku sudah sampai.” <br></em>Tapi aku tahu satu hal: aku tidak lagi berdiri di tempat yang sama seperti setahun lalu.</p><p>Aku lebih mengenal diriku sendiri.<br>Lebih jujur pada batasanku.<br>Lebih berani mencoba tanpa menunggu rasa siap yang sempurna.</p><p>Tahun lalu mungkin tidak memberiku hidup yang rapi, tapi ia memberiku daya tahan. Dan ternyata, itu cukup untuk terus melangkah.</p><p>Jika kamu menutup tahun dengan lebih banyak jeda daripada pencapaian, lebih banyak pertanyaan daripada jawaban — mungkin kita tidak sedang tertinggal.</p><p>Mungkin kita hanya sedang bertumbuh, dengan cara yang tidak selalu bisa dijelaskan ke siapa pun.</p><p>Dan sekarang aku percaya:<br>tidak sampai ke mana-mana pun tidak apa-apa,<br>selama kita tidak berhenti menjadi diri sendiri yang sedang belajar.</p><blockquote>Not every year is for winning; some are for becoming.</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=40096e2beb3e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[The Version of Me I Never Let You See]]></title>
            <link>https://medium.com/@canazaria/the-version-of-me-i-never-let-you-see-31dec6feb5a8?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/31dec6feb5a8</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Candra Azaria]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 28 Jun 2025 15:13:34 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-06-28T15:13:34.335Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/474/1*bosM3mSVgc3ZhbbdZTYLoQ.jpeg" /><figcaption>photo by <a href="https://pin.it/4W67pJ5y5">Pinterest</a></figcaption></figure><p>There are things I wish I could tell you.<br>Not grand, dramatic things. Just… the little truths I carry alone.<br>Like how I sometimes cry in the shower (a lot in the bed),<br>or how I go quiet not because I’m fine — but because I don’t know how to explain it.</p><p>Sometimes, I rehearse what I’d say.<br>How I would begin.<br>What I would say.<br>How you might respond.<br>And then — how I would retreat, quietly, when I realize I’ve said too much.</p><p>I’ve always believed that vulnerability is beautiful.<br>But when it’s mine,<br>It feels risky.<br>It feels like handing someone a piece of me,<br>without knowing if they’ll hold it gently — or drop it.</p><p>So I give you the edited version.<br>I keep it light.<br>I keep it easy.</p><p>You see the way I listen more.<br>The one who laughs at your jokes,<br>even when her chest feels tight.<br>The one who says “I’m okay,”<br>because she’s scared you’ll walk away if she says she’s not.</p><p>What you don’t see:<br>The overthinking at night.<br>The messages I type and delete.<br>The version of me who stares at the ceiling at 2 a.m, wondering if anyone<br>would still stay if she stops pretending to be easy to love.</p><p>You think I’m strong.<br>You say it like it’s a compliment.<br>But deep down,<br>I know: sometimes “strong” just means “no one noticed I was hurting”</p><p>I don’t show you the messy.<br>The needy.<br>The scared.<br>Because somewhere along the way,<br>I learned — maybe not through words, but through silence and distance — <br>that people don’t always stay<br>when you become too much.</p><p>And still— <br>even with all that,<br>some part of me still waits.</p><p>Wait for someone who won’t flinch when I come undone.<br>Someone who stays when I stop smiling.<br>Someone who won’t make me feel guilty for feeling deeply.<br>Someone who whispers,<br>“It’s okay. I see you. All of you.”</p><p>That version of me?<br>She’s quiet.<br>She’s scared.<br>But she’s real.<br>She exists.<br>She’s just doesn’t show up unless she feels truly, completely safe.</p><blockquote>And maybe someday,<br>if you’re patient enough,<br>gentle enough,<br>real enough — <br>you’ll meet her.<br>Not the version of me you’ve known,<br>but the one I’ve always been,<br>underneath it all.</blockquote><p>I write to understand, to remember, and to feel less alone.<br>📮 Instagram: @notcacasdiary<br>✉️canazaria97@gmail.com</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=31dec6feb5a8" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[berhenti mengejar bayangan diri yang sempurna]]></title>
            <link>https://medium.com/@canazaria/berhenti-mengejar-bayangan-diri-yang-sempurna-b69609f55833?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b69609f55833</guid>
            <category><![CDATA[personal-growth]]></category>
            <category><![CDATA[life-lesson-101]]></category>
            <category><![CDATA[self-acceptance]]></category>
            <category><![CDATA[self-reflection]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Candra Azaria]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 04 Jun 2025 15:25:06 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-06-04T15:25:06.252Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>You are allowed to be both a masterpiece and a work in progress, simultaneously. <br>— Sophia Bush</blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*yy7mInnSCso_VKKAQsBieQ.jpeg" /><figcaption>Photo captured by me.</figcaption></figure><p>Ada versi diriku yang hidup di kepala. Bangun pagi, sholat sunah, sholat wajib, dan dzikir tidak tertinggal, baca buku beberapa menit atau lembar, dilanjut olahraga ringan, kerja tepat waktu, lancar, selalu tahu apa yang harus dilakukan serta dikatakan ketika dalam obrolan penting dan bersosial . Dalam bayanganku, aku menjadi sosok yang rapi, terstruktur, tenang, dan (setidaknya) cerdas di satu bidang yang disukai dan ditekuni, produktif, serta semuanya serba seimbang. Dalam kata lain, memang hal tersebut terkesan sangat “idealis”.</p><p>Tapi semuanya menjadi aneh, ketika semakin aku membayangkan sosok ‘dia’, rasanya semakin terasa jauh pula aku dari kenyataan hidupku saat ini. Padahal katanya, mimpi itu harus dikejar, kan? Tapi, kenapa hal yang satu ini justru bikin aku semakin lelah dan merasa gagal setiap hari, ya?</p><p>Terkadang aku tidak sadar. Yang bikin capek bukan hidup, tapi ekspektasi. Yap, ekspektasi yang sudah aku <em>setting</em> sedemikian rupa. Parahnya lagi, ekspektasi itu datang dari bayangan sempurna nan ideal tentang siapa kita<em> “seharusnya”</em>, bukan siapa kita <strong>“sebenarnya”</strong>.</p><p>Tekanan terbesar justru seringkali datang bukan dari orang lain, melainkan dari dalam diri sendiri. Kita yang memasang standar setinggi langit bahkan mungkin sampai menembusnya. Lalu berharap versi kita yang “<strong>sebenarnya</strong>” harus selalu sempurna, selalu kuat, dan selalu bisa diandalkan, dan lagi, betul, ideal.</p><p>Tapi tentu, kenyataannya berbanding terbalik. Setiap kali merasa gagal memenuhi ekspektasi itu, rasa bersalah dan kecewa sangat menyiksa diri, siksaannya-pun rasanya lebih dalam, lebih kuat dan keras, dibandingkan bila dikritik oleh orang lain. Mungkin, aku terlalu keras pada diriku sendiri dalam usaha menjadi versi yang bahkan belum tentu ada, ya.. :”))</p><p>Di banyak kesempatan dan waktu yang tak tentu, mengejar bayangan diri menjadi sosok yang sempurna justru membuatku menjadi semakin jauh dari kenyataan. Seperti saat mencoba menangkap bayangan kita sendiri di bawah sinar matahari, semakin dikejar, bayangan itu semakin menjauh bahkan menghilang.</p><p>Sejujurnya, lelah sudah pasti, motivasi semakin menurun, pun.. rasa putus asa mulai menampakkan diri di balik jendela pikiran dan hati. Di titik ini, kita (khususnya aku sendiri) harus menyadari bahwa mengejar kesempurnaan bukan tujuan akhir yang harus kita penuhi. Hal tersebut malah membuat kita lupa untuk menghargai apa yang sudah kita miliki saat ini.</p><blockquote>Ataukah.. mungkin, kita tidak perlu selalu jadi sempurna untuk selalu merasa cukup.</blockquote><p>Setelah ku pikirkan kembali, ini saatnya menerima diri apa adanya, dengan segala kekurangan, kebingungan, dan ketidaksempurnaannya. Meski belum sempurna, meski belum ideal, meski terkadang lelah, namun kita harus terus dan tetap berusaha. Kita boleh kok realistis, bukan berarti pesimis. Namun memang sudah seharusnya begitu. Dunia sudah di-<em>set</em> sedemikian rupa untuk membentuk kita menjadi diri kita seperti saat ini.</p><p>Kata “cukup” bukan berarti “sempurna”, karena dari penerimaan itulah kita akan menemukan kekuatan yang lebih tulus dan bertahan lama, tanpa harus terus memaksakan diri mengejar bayangan sosok “ideal” itu.</p><p>Berhenti mengejar versi “sempurna” bukan berarti kita menyerah begitu saja terhadap mimpi-mimpi yang sudah kita bangun sejak lama, akan tetapi ini saatnya memilih untuk hidup dengan cara yang lebih sehat dan realistis. Tentunya, ini tentang belajar mencintai, menikmati dan menghargai proses perjalanan, bukan hanya fokus pada hasil yang ideal.</p><p>Kita cukup menerima setiap langkah perjalanan, dengan segala ketidaksempurnaannya, dengan banyaknya keraguan, namun hal-hal itu cukup berarti. Dari situlah nantinya kita akan mulai menemukan ketenangan yang selama ini ternyata kita cari.</p><blockquote>Mungkin hari ini aku belum menjadi apa-apa. Tapi hari ini juga, aku berhenti menghukum diriku karena itu.</blockquote><p>I didn’t write this because I have everything figured out — I wrote it because I’m still in the process of learning. And maybe, you are too.<br>This isn’t about giving advice or sounding wise. It’s simply a space — to reflect, to understand, and to slowly heal through words.</p><p>Feel free to connect or reach out — I’m also open to collaborations and meaningful convos.<br>📩 Email: canazaria97@gmail.com<br> 📷 Instagram: @notcacasdiary</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b69609f55833" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[why silence isn’t always safe]]></title>
            <link>https://medium.com/@canazaria/say-something-anything-076742d89102?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/076742d89102</guid>
            <category><![CDATA[self-reflection]]></category>
            <category><![CDATA[emotional-intelligence]]></category>
            <category><![CDATA[human-connection]]></category>
            <category><![CDATA[unsaid-thoughts]]></category>
            <category><![CDATA[communication]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Candra Azaria]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 03 Jun 2025 09:49:50 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-06-03T13:03:57.002Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>many relationship (of any kind) don’t end bcs a lack of love, but bcs too much is never said.</blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*PnxPn_bFuqRIIArR60ErrQ.jpeg" /><figcaption><a href="https://id.pinterest.com/mdpvela/">https://id.pinterest.com/mdpvela/</a></figcaption></figure><p>Sometimes, I wonder how many things go unsaid,<br>not bcs we don’t want to speak, but bcs we don’t know how. <br>Because somewhere along the way, silence started to feel safer than trying to explain what we don’t fully understand ourselves.</p><p>Silence isn’t peace — but distance.<br>We think we’re protecting ourselves by not saying it.<br>“Oh yes, i’m okay/fine”<br>“it’s nothing”<br>“it’s up to you”</p><p>We laugh off the things that actually hurt us.<br>We pretend to agree just to avoid conflict.<br>We disappear when what we really wanted to say was… “<strong>PLEASE STAY</strong>”</p><p>And little by little,<br>we start building walls in the place we needed bridges.</p><p>I get it, that…<br>The truth is: communication is scary.<br> — risking rejection.<br>saying what hurts,<br>what confuses us,<br>what we hope for —even when we can’t control the outcome.</p><p>And most of us rather keep it to ourselves than face what the possibility of being misunderstood.</p><p>But here’s the thing — people aren’t mind readers.<br>Not even the ones we love.<br>And expecting they would “<em>just</em> <em>get it</em>” only leaves room for hurt and assumptions.</p><p>Sometimes, one honest sentence can save what almost got destroyed.</p><p>Imagine how many misunderstandings could’ve softened with a simple “what did you mean by that?”.<br>How many hurts could’ve healed sooner with a brave “that really hurt me”.<br>How many people walk around thinking they’re unloved, when in truth, they’re just unheard?:”)</p><p>We talk a lot.<br>But do we really communicate?</p><p>Maybe I’m not the best person to talk about communication, I still hold things in, say “it’s fine” when it’s not, and overthink texts I never send. But the older I get, the more I wonder what could’ve been different if I had just tried. If I had said it sooner. Or at all.</p><p>So, this isn’t a guide. It’s a mirror.<br>Maybe you’re like me,<br>still learning, <br>still scared, <br>still silent sometimes.</p><p>But maybe that quiet ache inside us is just trying to ask:<br><strong><em>What if we said it, anyway?</em></strong></p><p>I write to understand, to remember, and to feel less alone.<br>📮 Instagram: @notcacasdiary <br> ✉️canazaria97@gmail.com</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=076742d89102" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Your mind cannot hold two thoughts at once— and Why That Matters]]></title>
            <link>https://medium.com/@canazaria/your-mind-cannot-hold-two-thoughts-at-once-a2a48fc2d892?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a2a48fc2d892</guid>
            <category><![CDATA[self-reflection]]></category>
            <category><![CDATA[inner-peace]]></category>
            <category><![CDATA[self-awareness]]></category>
            <category><![CDATA[thoughts-and-emotions]]></category>
            <category><![CDATA[mindfulness]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Candra Azaria]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 28 May 2025 12:02:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-28T12:03:30.372Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Your mind cannot hold two thoughts at once — and Why That Matters</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*gCRsi4gDjOTMsPQOXrS2Bw.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="https://id.pinterest.com/ngocan1792004/">Ngăn Ọk</a> on <a href="https://pin.it/4nyZXWnWi">Pinterest</a></figcaption></figure><blockquote>Your mind cannot hold two thoughts at once.<br>This means that a single thought can occupy your entire mind.<br>Whether good or bad, everything stems from a single thought.<br>If we are careful with that first thought, even tragedies can be prevented.<br> — <em>Taro Gold, </em>Open Your Mind, Open Your Life: A Book of Eastern Wisdom<em> (Kansas City, MO: Andrews McMeel, 2002).</em></blockquote><p>Kutipan ini pertama kali aku temukan di buku favoritku karya Haemin Sunim, <em>The Things You Can See Only When You Slow Down </em>(2018). Kalimatnya sederhana, tapi punya arti mendalam yang membuatku berhenti sejenak dan berpikir: betapa besar dampak dari satu pikiran yang muncul dalam kepala kita.</p><p>Sama halnya dengan yang dikatakan oleh <a href="https://www.psychologytoday.com/us/blog/behavior-briefing/202110/holding-two-thoughts-at-the-same-time-is-hard-and-important">F. Scott Fitzgerald</a> bahwa memegang dua pikiran yang berlawanan dalam kepala kita <em>is challenging!</em></p><p>Di sisi lain, <a href="https://www.theguardian.com/notesandqueries/query/0,5753,-4565,00.html">Descartes (filsuf Prancis)</a> mengatakan, “<em>Corgito, ergo sum</em>” — <em>corgito</em> berarti proses berpikir, aktivitas mental, atau segala sesuatu yang kita sadari terjadi dalam diri kita, dan <em>ergo sum</em> berarti maka aku ada. Hal tersebut berarti, kesadaran akan proses berpikir itu sendiri sudah menunjukkan bahwa kita hidup dan kita hadir.</p><p>Pikiran kita sebenarnya cukup sederhana. Ia hanya bisa fokus pada satu hal dalam satu waktu. Ketika pikiran muncul, ia bisa mendominasi ruang hati dan menguras energi kita. Tentu disini letak kekuatan sekaligus bahayanya.</p><p>Satu pikiran kecil bisa jadi awal dari banyak hal. Karena, baik atau buruk, semua tindakan, keputusan, bahkan perasaan yang kita alami sering kali dimulai dari satu pikiran yang muncul begitu saja. Rasa marah yang tidak dikelola dengan baik, bisa saja berubah jadi perkara yang besar. Kecemasan ringan yang dibiarkan, bisa tumbuh menjadi overthinking yang sangat menguras tenaga. Tapi di sisi lain, satu pikiran baik, seperti niat untuk memahami, memberi maaf, atau bersyukur, bisa membawa kita pada ketenangan, bahkan membentuk perubahan yang lebih baik dalam hidup.</p><p>Rasanya penting untuk lebih sadar terhadap apa saja yang pertama kali muncul di kepala kita. Bukan untuk mengontrol, tapi untuk tahu ke arah mana pikiran kita akan bergerak. Dengan kesadaran itu, kita bisa mencegah banyak penyesalan, mengurangi konflik, dan mengambil keputusan dengan lebih jernih.</p><p>Kadang, hidup tidak ditentukan oleh hal atau peristiwa yang besar. Tapi oleh satu pikiran kecil yang kita izinkan tumbuh.</p><blockquote>If you are depressed, you are living in the past.<br>If you are anxious, you are living in the future.<br>If you are at peace, you are living in the present.<br> — Lao Tzu</blockquote><blockquote>The mind is everything. What you think, you become.<br> — Buddha</blockquote><blockquote>If this piece made you pause and reflect — even just a little — consider sharing it with someone who might need it today.</blockquote><blockquote>Let’s help each other become more mindful, one thought at a time. 💭</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a2a48fc2d892" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Too Tired to Please Everyone: Let’s Talk Boundaries & Self-Respect for Overthinkers]]></title>
            <link>https://medium.com/@canazaria/too-tired-to-please-everyone-lets-talk-boundaries-self-respect-for-overthinkers-11433802fae4?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/11433802fae4</guid>
            <category><![CDATA[psychology]]></category>
            <category><![CDATA[gen-z]]></category>
            <category><![CDATA[mental-health]]></category>
            <category><![CDATA[self-care]]></category>
            <category><![CDATA[boundaries]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Candra Azaria]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 20 May 2025 03:27:57 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-20T03:27:57.990Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*e80gjf51hPGGGnpRgtDuSA.jpeg" /><figcaption>Photo by mr.bubbles.mo on <a href="https://www.instagram.com/p/CvcdqzDyiKx/?utm_source=ig_web_copy_link">Instagram</a></figcaption></figure><blockquote>Pernah ngga kalian merasa “kok kayanya aku terlalu sering mengiyakan orang lain dibandingkan mengiyakan/menuruti diri sendiri ya?”</blockquote><p>Kalo kamu tipe yang <em>overthinking</em> tiap kali nolak orang,</p><p>yang selalu jadi tempat curhat tapi malah ngga tau harus cerita ke siapa,</p><p>yang selalu bilang “oke gapapa kok” padahal dalam hati rasanya pengen teriak “<em>I NEED SPACE, please</em>!!”</p><p>Hey <em>bestie</em>, <em>you’re not alone</em>. Kamu ngga lebay kok.</p><p>Anddd yup, <em>let’s talk about </em><strong><em>boundaries </em></strong><em>&amp; </em><strong><em>self-respect</em>. </strong><em>Because you’re allowed to take up space</em>, bilang “<em>no</em>” dan memilih untuk kedamaian dibandingkan menyenangkan orang lain 24/7.</p><h3>🚧So, What Are Boundaries Anyway?</h3><p><em>Boundaries</em> itu kaya semacam <strong>batas sehat</strong> yang kamu bikin biar energi, emosi, dan waktumu ngga habis disedot orang lain (bahkan mungkin orang terdekatmu sekalipun yaa..).</p><p><em>It’s not about being rude.</em></p><p><em>It’s about choosing yourself.</em></p><p><em>It’s about choosing your peace</em> — <em>because constantly saying “yes” while screaming “no” inside is exhausting.</em></p><p>Jadi intinya..</p><p><em>Boundaries</em> = bentuk<em> self-care</em> yang paling <em>underrated </em>tapi paling penting.</p><h3>⚠️Tanda Kamu Butuh Boundaries</h3><ul><li>Selalu bilang “iya” atau “oke” walau lagi capek banget</li><li>Ngga enak nolak karena takut dianggap egois atau ngga peka</li><li>Ngerasa <em>energy</em> <em>drained</em> tiap habis ngobrol sama orang tertentu (<em>i think,</em> ini sih kayaknya <em>energy</em> kalian ngga sinkron aja yaa)</li><li><em>Overthinking</em> setelah nolak sesuatu, “kalo aku ngga ngiyain dia bakal kecewa ngga ya?”</li><li>Sering mikir, “Aku yang ngerti, tapi siapa ya yang bakal ngertiin aku?”</li></ul><p>Kalo kamu ngangguk lebih dari 2 kali, yess! <em>we need to talk about this</em>.</p><h3>💡Why It’s Harder for Girls (Esp. Soft Ones)</h3><p>Dari kecil cewek sering diajarin buat jadi anak baik yang paling nurut, paling ngerti perasaan orang lain, dan ngga nolak permintaan. Masalahnya <em>girls</em>, akhirnya kita bisa aja jadi terlalu fokus menyenangkan semua orang, sampai lupa nanya…</p><p>“Eh, aku sendiri nyaman ngga ya kaya gini?”</p><p>“Aku sendiri udah ngerti diriku belum ya?”</p><p>Padahal…</p><ul><li><em>Being kind</em> ≠ <em>being available</em> 24/7</li><li><em>You can be soft and have strong boundaries</em></li></ul><h3>💡5 Types of Boundaries You Deserve to Set</h3><ol><li><strong><em>Physical Boundaries </em></strong>/ex:<strong><em> </em></strong>“Aku kurang nyaman kalo disentuh, ya”</li><li><strong><em>Emotional Boundaries </em></strong><em>/ex: “Aku seneng kamu mau cerita dan percaya cerita ke aku, tapi untuk sekarang aku juga lagi overwhelm. Boleh nanti aja ya ceritanya?”</em></li><li><strong><em>Time Boundaries </em></strong><em>/ex: “Aku bisa bantu, tapi maaf ya ngga bisa hari ini. Aku sepertinya lagi butuh istirahat”</em></li><li><strong><em>Digital Boundaries </em></strong><em>/ex: “Aku slowresponse ya. Lagi limit screen time nih”.</em></li></ol><h3>✨Cara Simple Set Boundaries</h3><ul><li>Bilang “nggak” tanpa <em>over-explaining</em>:</li></ul><p>— “Kayanya aku ngga bisa nih” = <em>enough</em>. Kamu ngga harus jelasin semuanya ke orang lain.</p><ul><li>Gunakan kalimat “aku” (bukan nyalahin orang):</li></ul><p>— Ex. kalimat “Aku butuh waktu sendiri” lebih baik dibandingkan “Kamu ganggu banget sih”</p><ul><li>Validasi perasaan sendiri:</li></ul><p>— Kalo rasanya capek terus, itu sinyal. Sinyal tubuh kamu butuh istirahat. Bukan kamu yang lemah kok, kamu cuma udah lama ngga ngerawat diri.</p><ul><li><em>Practice</em> di hal kecil:</li></ul><p>— Mulai dari nolak ajakan yang ngga <em>urgent</em> atau hal lain yang bisa diganti jadwalnya.</p><p><strong><em>⚠️But it’s not always easy…</em></strong></p><blockquote>Pas kamu mulai bikin boundaries, bisa aja ada orang yang ngerasa kamu berubah, jadi “ngga asik”, atau bahkan “dijauhi”. Dan itu… normal. Karena kadang orang yang paling sering ngelangkahin batas kita, akan paling keras bereaksi saat kita mulai ngejaga batas itu.</blockquote><h3>😬Kalo Orang Bilang “Kok Kamu Berubah?”</h3><blockquote>“Aku mulai nolak hal-hal yang bikin capek, tapi malah dibilang berubah, sombong, nggak <em>care</em> lagi.”</blockquote><p>Yuppp, kamu <strong>memang berubah</strong>, <em>dear</em>.</p><p>Dulu kamu selalu <em>available</em>. Selalu “ngga apa-apa”. Selalu pasang senyum. Tapi sekarang? Kamu mulai sadar: kamu juga butuh <em>space</em>, dan itu bisa bikin sebagian orang ngga nyaman, kan? <em>Anddd yess</em>, sebagian akan bilang kamu “berubah”, “jutek”, atau “nggak sebaik dulu”</p><p>Tapi ingat: kamu bukan berubah menjadi buruk. kamu cuma berhenti jadi versi <em>burnout</em> dari dirimu sendiri</p><p><em>And read this</em>:</p><p>Orang yang kehilangan akses ke versi kamu yang <em>burnout</em>, wajar mereka kaget lihat kamu sekarang punya batas.</p><blockquote>Let them be uncomfortable. Your peace isn’t negotiable.</blockquote><h3>📌Gentle Reminder for You All (Women and Men)</h3><p>Kamu ngga egois kok. Kamu cuma belajar mencintai diri sendiri tanpa harus jadi <strong><em>penyelamat </em></strong>semua orang.</p><p><em>And healing sometimes sounds like</em>:</p><p>— “maaf, aku ngga bisa nemenin hari ini”.</p><p>— “Aku ngga bisa jadi <em>support system</em> kamu terus-terusan.”</p><p>— “Aku juga butuh <em>space</em>, bukan cuma kamu”.</p><ul><li><em>“Soft” doesn’t mean “walked all over”</em></li><li><em>“Nice” doesn’t mean “nonstop available”</em></li><li><strong><em>Boundaries are how you keep your softness safe.</em></strong></li></ul><p><em>So, next time</em> kamu <em>overthinking</em> mau nolak sesuatu, ingat:</p><p><em>You’re not too much. You are just no longer okay with too little.</em></p><blockquote>This is your sign to stop explaining yourself every time you say “no”.</blockquote><h3>📚Recommended Reads &amp; Follows</h3><p>(rekomendasi dari beberapa sumber yang relevan)</p><p><strong>Book: <em>Set Boundaries, Find Peace </em>by Nedra Glover Tawwab</strong></p><p><strong>IG: </strong>@the.holistic.psycologist, @nedratawwab</p><p><strong>Youtube: </strong>Therapy in a Nutshell (short vids)</p><p><strong>Podcast: </strong>“Self Love Fix” by Beatrice Kamau</p><blockquote>Let’s romanticize choosing peace over pleasing.</blockquote><blockquote>You’re not here to carry everone’s baggage.</blockquote><blockquote>You’re here to live grow, and breathe. With space.</blockquote><p><strong>Kalo kamu sampai di bagian ini, <em>maybe it’s time to start choosing you.</em></strong></p><p><strong><em>Thanks for reading, and remember: boundaries</em> bukan tembok, tapi jendela untuk hidup lebih sehat.</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=11433802fae4" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mute, Block, Detox: Real Talk for Staying Chill in a Noisy Timeline]]></title>
            <link>https://medium.com/@canazaria/mute-block-detox-real-talk-for-staying-chill-in-a-noisy-timeline-a3bbee1369d7?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a3bbee1369d7</guid>
            <category><![CDATA[digital-detox]]></category>
            <category><![CDATA[mindful-living]]></category>
            <category><![CDATA[social-media]]></category>
            <category><![CDATA[online-wellness]]></category>
            <category><![CDATA[mental-health]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Candra Azaria]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 19 May 2025 14:38:04 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-20T02:57:47.232Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="“Quote ‘learn to rest, not to quit’ sebagai ajakan beristirahat dari media sosial.”" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*DniWCUQBwRU96lLnR2H_OQ.jpeg" /><figcaption>This image is taken from Pinterest (by <a href="https://id.pinterest.com/pin/68748476994/">Whimsicalways</a>)</figcaption></figure><p>Guys, pernah ga sih <em>scroll timeline</em> terus isinya drama — entah temen, artis/selebgram atau berita yang bikin kepala pusing? Ditambah notifikasi yang terus-terusan muncul kaya ngga ngerti waktu terus bikin <em>mood auto down</em>? Kadang tuh rasanya pengen langsung <em>mute, block, atau detox</em>, tapi bingung juga mulai dari mana. Aku juga pernah kok (sering malah), <em>so you’re not alone..</em>🫂</p><p>Pernah suatu masa, aku hampir tiap hari liat satu (mungkin beberapa) mutual yang kerjaannya <em>flexing</em> atau repost berita (yang entah itu dari mana kebenarannya). Awalnya seru yaa liat “wah keren banget dia bisa ini, bisa itu” atau “bener ya beritanya gitu?”, tapi lama-lama bikin capek banget. Akhirnya aku mute dia, dan beneran, rasanya kaya bisa napas lega 😌<br>Disclaimer: <strong><em>mute</em> bukan berarti marah, kesal, atau iri yaa.. ini cuma masalah <em>energy</em>-ku yang <em>drained</em> aja kok.. 🤗</strong></p><h3>🤯<em>Timeline</em> yang ‘<em>Noisy</em>’ Bikin Stres</h3><p>Kalian ngerasa ngga sih kalo medsos tuh lebih kaya pasar, tapi pasar yang bukanya 24/7, alias tiap hariii?!</p><p>Semua orang bisa dengan mudah buka aksesnya, bisa nulis opini semaunya, mengumbar dan atau menciptakan drama disana. Yaaa, kalo kita amati hal-hal ini bakal terus menerus masuk tanpa henti.</p><p>Kebayang kan kalo kebanyakan input ini malah bikin kepala penuh, gampang stres, dan <em>mood</em> jadi <em>down</em>. Apalagi sebenernya ya ngga semua hal harus kita tau, harus kita cerna, atau harus kita konsumsi setiap hari, bener ga? Makanya penting banget buat punya cara-cara supaya ngga kebawa suasana, ngga ngikut arus yang entah tujuannya kemana.</p><p><a href="https://repository.unmul.ac.id/handle/123456789/23143?utm">Hal tersebut diperkuat dari studi yang dilakukan di Universitas Mulawarman, 24,5% mahasiswa mengalami stres sedang, 10,5% stres parah, dan 6% stres sangat parah akibat intensitas penggunaan media sosial yang tinggi.</a> <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36703861/">Sedangkan studi lain di Shanghai menyoroti hasil bahwa sebanyak 644 mahasiswa menunjukkan <em>overload</em> informasi dan media sosial berkorelasi positif dengan gejala kecemasan <em>(anxiety)</em>.</a></p><h3>🎧<em>Mute, Block, Detox: The Real Talk Tools Buat Stay Chill</em></h3><p>Jadi gimana sih cara kita biar tetep waras di tengah riuhnya medsos? Nih aku <em>spill tools</em> yang <em>works</em> buatku..</p><p><strong>🔕<em>Mute</em></strong></p><p>Sekarang ini banyak medsos yang udah ngasih banyak fitur canggih, salah satunya fitur <strong><em>mute</em>. </strong>Buat aku, fitur ini <em>lifesaver</em> banget. Soalnya kadang kita ngga pengen buat <em>unfollow</em> atau <em>block</em> temen ya, apalagi konotasi <strong><em>block</em></strong> ini sering dianggap negatif (ex: jadi dianggap marahan atau musuhan). Pun, kadang kita cuma pengen jaga <em>mood</em>, nah, fitur <em>mute</em> ini jadi solusi kaya semacam “<em>silent treatment” </em>tapi tanpa drama. Kalo ngeliat postingan mereka malah bikin kepala penuh pikiran negatif, ya kenapa ngga di-<em>mute</em> dulu? hehehe</p><p><strong>🚫<em>Block</em></strong></p><p>Lanjut ke fitur <strong><em>block </em></strong>yang juga penting banget buat aku. Kadang kalo nemuin orang annoying yang jatuhnya jadi <em>toxic</em> banget atau bahkan <em>spam</em> terus-terusan padahal kenal aja ngga?! Nah, <em>block</em> ini cara yang udah paling akhir ketika kita udah sangat amat merasa terganggu, alasannya ya buat proteksi diri. Opiniku, <em>block</em> ini bukan berarti kita jahat kok, tapi demi menjaga kesehatan mental, kenapa ngga?</p><p>🧘<strong><em>Detox</em></strong></p><p>Saat pikiran lagi penuh/stress dari masalah-masalah kehidupan, kadang kita butuh <em>break </em>beneran dari medos. <em>Break</em> disini itu ya bisa kita lakukan dengan nge-<em>set</em> limit waktu penggunaannya, <em>logout</em> akun, <em>uninstall</em> aplikasi, atau bahkan <em>temporary deactivate</em> medsos.</p><p>Pleaseee, kalo ada yang belum pernah cobain, aku kasih saran coba dari yang paling mudah dulu, di-limitasi penggunaannya. Kalo masih banyak distraksi, kalian bisa coba naik level ke <em>logout </em>akun — lalu <em>uninstall</em> — baru deh <em>temporary</em> <em>deactivate</em>. Bertahap aja kalo memang belum pernah. <em>Detox</em> tuh kayak <em>reboot</em> buat otak. Setelah <em>break</em>, rasanya lebih jernih, fokus, dan ngga gampang kebawa emosi kecil di medsos. hihi..</p><h3>😌Kenapa <em>Chill</em> Itu Penting?</h3><p>Masih terkait dengan bahasan di atas, memasang <em>boundaries</em> di dunia digital perlu dan penting banget. Buat apa? Ya tentu buat jaga kesehatan mental kita, bro.. Dengan batasi input dari medsos, nantinya kita jadi bisa lebih fokus dengan apa yang dikerjakan, kehidupan jadi lebih tenang, dan yang paling berpengaruh jadi ngga gampang terbawa emosi. Itung-itung sambil belajar <em>emotional intelligence</em> lah yaa.. Tujuan tadi bikin kita jadi lebih <em>chill, </em>bukan berarti cuek ya, tapi kita jadi sadar dan bisa pilah-pilih apa yang otak kita mau konsumsi, jadi lebih tersaring…</p><h3>💡Tips Praktis Biar Konsisten dengan <em>Mute, Block, Detox</em></h3><p>Ini beberapa tips yang bisa kalian coba (sebagian besar sudah aku terapin dan memang ✨<strong>it works well</strong>✨):</p><ul><li>Coba buat jadwal khusus buat “<em>me-time</em>” digital, misalnya sehari sekali cek medsos di malam atau pagi hari aja.</li><li>Kalau belum familiar dengan fitur-fitur di <em>handphone </em>atau aplikasi medsosnya, coba deh sekali-kali eksplore di bagian <em>tab</em> <em>settings</em>. Fitur-fitur disana banyak bangettt, dan kalian bisa batasi notifikasi atau waktu penggunaannya.</li><li>Berani bilang ‘<em>no</em>’ ke orang yang bikin ngga nyaman, termasuk… <em>unfollow</em> tanpa drama. Hiduplah dengan mudah dengan cara membuat semua hal menjadi lebih mudah 👊🏻</li><li>Biasanya di medsos banyak rekomendasi akun yang sesuai <em>vibe</em> kita, atau bisa cari teman atau komunitas yang suportif dan positif buat jaga <em>vibe</em> kamu.</li></ul><p>Semua tips tersebut akan benar-benar ✨<strong>works well</strong>✨ apabila kita beneran konsisten yaa.. <em>it’s okay</em> coba sehari atau dua hari aja.. itu juga sudah termasuk usaha menjaga kewarasan mental kita kok, wkwkwk..</p><h3>✨<em>Reflect &amp; Take Action</em></h3><p>Coba deh, tanya ke diri sendiri: <em>Timeline</em> kamu udah terlalu <em>noisy</em> belum? Apa yang bisa kamu <em>mute, block, </em>atau<em> detox</em> hari ini? Inget yaaa, <em>chill</em> itu pilihan, dan kamu berhak jadi <em>boss timeline</em> kamu sendiri. So, siap-siap buat ngejaga <em>peace of mind</em> kamu?</p><h3>🤔Tapi… Gimana Kalau…?</h3><p>(FAQ Receh Tapi Relate Banget)</p><p>❓<strong>Kok bisa <em>overload</em> informasi bikin stres?</strong><br>✅Semakin sering main medsos, makin besar juga stresnya. Contohnya, <a href="https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/s2050-206020140000008001/full/html?utm_">dari ribuan remaja di Swiss 13% stres gara-gara medsos dan banyak yang ngerasa kebanyakan waktu habis buat <em>scroll</em>.</a> Studi <a href="https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/interaksi-online/article/view/43531?utm_">di Indonesia juga bilang, makin sering pake medsos, makin stres.</a></p><p>❓<strong>Kalo aku block temen, nanti dia marah ngga?</strong><br>✅Ya mending dia marah sih daripada kamu stres tiap buka <em>timeline</em>, kan? <em>Peace of mind</em> dulu, drama belakangan ✌🏻</p><p>❓<strong>Kalo aku <em>mute story</em> orang, dia bisa tau ngga?</strong><br>✅Tenang, <em>mute</em> itu kaya <em>ghosting</em> versi sopan — ngga bakal ketauan asal kamu ngga nge<em>like</em> <em>story</em> dia pas lagi <em>stalking</em> 😶‍🌫️</p><p>❓<strong>Tapi aku takut dibilang baper kalo tiba-tiba <em>detox</em> atau <em>deactivate</em> medsos…</strong><br>✅Bukan baper, itu namanya punya batas yang sehat loh. Yang butuh <em>recharge</em> kan bukan cuma HP kamu, tapi kamu juga kan? 🧘</p><p>❓<strong>Kalo semua orang aku <em>mute</em>, terus <em>timeline</em> aku jadi sepi dong?</strong><br>✅Yesss, akhirnya kamu bisa liat timeline yang damai, penuh video kucing, abe cekut dan cipung 😙😌🐱 <br>btw, bisa juga kamu pelariannya pake <strong><em>second account</em></strong> loh, tapi catet yaa “gausah nge<em>follow</em> banyak orang!”</p><p>❓<strong>Gimana cara tau kapan aku butuh <em>detox</em>?</strong><br>✅Kalo kamu udah ngeluarin suara ‘huhhh” tiap buka app… yuuppp saatnya <em>detox, </em>babyyy 🫠</p><blockquote><em>✨</em> “Mute, Block, Detox.”<br><em>karena:</em><br> <strong>“You can’t do big things if you’re distracted by small things.”</strong><br> — Robin Sharma</blockquote><p>[Tulisan ini diketik saat aku sedang dalam masa <em>detox</em> medsos]</p><p>Yuk, share pengalaman kamu soal <em>mute, block, atau detox</em> di kolom komentar ya!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a3bbee1369d7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[I’d Rather Stay Silent Than Be Wrong — And That’s Kinda Sad? :(]]></title>
            <link>https://medium.com/@canazaria/id-rather-stay-silent-than-be-wrong-and-that-s-kinda-sad-a884a3c98349?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a884a3c98349</guid>
            <category><![CDATA[afraid-of-failure]]></category>
            <category><![CDATA[self-awareness]]></category>
            <category><![CDATA[learning-and-development]]></category>
            <category><![CDATA[education]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Candra Azaria]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 16 May 2025 13:08:56 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-16T13:08:56.199Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>I’d Rather Stay Silent Than Be Wrong — And That’s Kinda Sad? :(</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*_dsE0IUJ6ghf4p_vfeuYPg.jpeg" /></figure><blockquote>I knew the answer or at least yaa I thought I did.</blockquote><blockquote>But I just kept quiet the entire time.</blockquote><p>Sounds familiar, right?</p><p>Udah ga bisa kehitung berapa banyak aku melakukan hal tersebut. Guru, dosen, atau teman yang sedang presentasi nanya, sebenarnya yaa aku udah memikirkan kemungkinan-kemungkinan jawabannya, and yap.. tetap aja diam, lidahku mendadak beku dan rasa-rasanya kadar anxietyku naik. Satu alasan klasiknya sih: takut salah yaa, hehe.</p><p>Anehnya, itu ga cuma terjadi waktu aku di bangku Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar aja. Bahkan sampai kuliah…mmm.. sesi kedua-pun masih begitu — bahkan sekarangpun masih sering begitu — kenapa si rasa takut salah itu masih sering muncul? Kaya, seolah-olah lebih baik aku jadi orang yang “udahlah diem aja biar aman” daripada salah terus diketawain. Sad? Kinda. Real? Definitely!</p><h3>The Fear of Being Wrong is Too Deep</h3><p>Sadar ga sih kalo kita tuh dibesarkan dalam sistem yang lebih melihat hasil dan lupa mengapresiasi proses itu sendiri?</p><p><a href="https://www.straitstimes.com/singapore/education/pisa-2018-15-year-old-students-in-singapore-among-those-who-express-greater-fear?">Data dari OECD tahun 2018 menyebutkan kalo sekitar 70% siswa di Singapura mengaku lebih takut gagal karena khawatir akan dianggap bodoh.</a> Meskipun data spesifik Indonesia belum ada yang pernah nyebutin, namun budaya pendidikan di Asia sering kali menekankan pada pencapaian dan menghindari kesalahan.</p><p><a href="https://www.oecd.org/en/publications/pisa-results-2022-volume-iii-factsheets_041a90f1-en/indonesia_a7090b49-en.html?">Nah, data dari PISA 2022 menunjukkan kalo siswa di Indonesia memiliki skor kemampuan berpikir kreatif yang rendah, rata-ratanya cuma 19/60 padahal rata-rata OECD 33/60.</a> Dari data ini bisa jadi sedikit gambaran kalo siswa di Indonesia tuh masih kurang percaya diri dan berani mencoba hal-hal baru, khususnya dalam proses belajar itu sendiri.</p><p>Makanya, kalau kamu///kita ngerasa takut salah itu normal aja ga sih? Karena secara sistemik, kita memang gak dibiasakan untuk salah, mmm.. lebih ke diabiasakan untuk benar terus. Iya kan? hehehe…</p><h3>Why We’d Rather Stay Silent</h3><p>Alasan kenapa kita bisa merasa begitu:</p><ul><li>Mungkin kita punya trauma di masa lalu (ex. ketika udah coba buat berani untuk nanya tapi malah diketawain, atau bisa juga udah coba nanya tapi ga ditanggepin atau dianggap pertanyaannya receh? wkwk)</li><li>Dan atau pernah dibanding-bandingin? (ini sih biasanya bikin makin tertekan ya, misalnya dibandingin sama teman yang dirasa lebih pinter, lebih bisa, mungkin rankingnya juga lebih tinggi dari kita).</li></ul><p><a href="https://news.harvard.edu/gazette/story/2019/09/study-shows-that-students-learn-more-when-taking-part-in-classrooms-that-employ-active-learning-strategies/">Harvard juga pernah melakukan studi kalau dalam sistem pendidikan yang sangat kompetitif itu siswa lebih fokus menghindari kegagalan dibanding mencari pembelajaran.</a> Akibatnya? Yaa.. tentu mereka cenderung jadi <strong><em>passive learning</em></strong> — mendengar tanpa bertanya dan membaca tanpa berdiskusi (kok kaya introvert banget ya rasanya?)</p><p>In the end, kita malah jadi tumbuh sebagai seorang pembelajar yang ga terbiasa gagal, iya ga? Parahnya si, jadi ga terbiasa buat <strong>berani</strong> juga — bahkan bisa sampai mempengaruhi kehidupan setelahnya (terlepas dari kehidupan sekolah dan kuliah). wkwkwk</p><h3>Learning Should Be a Safe Space for Mistakes</h3><p>Kalau kita lihat Finlandia yang sistem pendidikannya udah juara banget, disana mereka tu justru menekankan <strong><em>safe learning environment</em></strong>, simple-nya murid di sana didorong buat eksplore lebih dan lebih, boleh dan diajarkan berdebat, bahkan salah (-pun, gapapa).</p><p>Pemikiran orang disana percaya bahwa <strong><em>growth mindset</em></strong> (keyakinan bahwa kemampuan bisa diasah lewat usaha) itu lebih penting daripada hasil yang instan. And guess what?? Anak-anak di sana justru tumbuh jadi para pembelajar yang lebih kreatif dan mandiri (fyi but cmiiw yaaa, hehe).</p><h3>A Little Reminder for Us All</h3><p>Kalau kamu pernah atau sering ngerasa kaya aku — lebih milih diam daripada salah — aku cuma mau bilang “Hey.. you’re not alone!”</p><p>Kita juga ga harus <em>stuck </em>di situ terus kok. Sedikit demi sedikit, kita bisa mulai ngomong. Mulai tanya. Mulai jawab. Mulai berani salah.</p><blockquote>Let’s learn loudly — even if it means being wrong sometimes. Becauseee, being wrong is just part of getting things right.</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a884a3c98349" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Embracing The Chaos]]></title>
            <link>https://medium.com/@canazaria/embracing-the-chaos-26347304c2dc?source=rss-6b979cf0f5d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/26347304c2dc</guid>
            <category><![CDATA[purpose-of-life]]></category>
            <category><![CDATA[break-time]]></category>
            <category><![CDATA[chaotic-thoughts]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Candra Azaria]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 06 May 2025 13:19:10 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-06T13:19:10.525Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*IB2Fzg73tfR7ZRO28mcbaA.jpeg" /></figure><p>—</p><p>Now, i’m in a relationship with uncertainty. It’s messy, complicated, and I can’t seem to escape it. Some days, it feels like I’m barely holding it together. Other days, I act like I’ve got it all under control.</p><p><em>I hope that writing helps</em> — if only to convince myself I have some control over the chaos, even though I know I don’t. But for now, putting it into words feels like enough.</p><p>I tell myself it’s just part of the journey, that I’ll figure it out eventually. But then again, what if I don’t? What if this chaos is just how things are meant to be?</p><blockquote>Maybe it’ll make sense one day. Maybe it won’t. For now, I’m here, lost in it.</blockquote><p>:)</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=26347304c2dc" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>