<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Odhywahid on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Odhywahid on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@cjrppnnq?source=rss-5eb151271787------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*Qyjd1MSGqHx-FYUZ2Snd7Q@2x.jpeg</url>
            <title>Stories by Odhywahid on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@cjrppnnq?source=rss-5eb151271787------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sat, 30 May 2026 17:33:07 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@cjrppnnq/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Hai.]]></title>
            <link>https://medium.com/@cjrppnnq/hai-974c94639c5d?source=rss-5eb151271787------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/974c94639c5d</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Odhywahid]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 23 May 2026 23:38:16 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-23T23:38:16.592Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*uc5yukJdWtOmPyWXGt6XUQ.jpeg" /></figure><p><strong><em>2022, abadi dalam suka dan duka. Cinta yang nyata.</em></strong></p><p>Ada beban yang nampak di hati, terlintas pula di benakku. Ada rasa rindu yang hendak datang, tetapi cepat kutepis. Ribuan kata pilu dan gundah hendak menjelma menjadi kalimat duka, duka akan perpisahan yang di depan mata.</p><p>Oh waktu…</p><p>Benar adanya bahwa waktu memang bukan kepunyaan kita. Waktu berkata, entah di mana lagi takdir mempertemukan kita. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan yang memiliki hak untuk mempertemukan dan memisahkan kita kembali, aamiin.</p><p>Kata aamiin kemudian menjadi sakral, ada harapan di dalam hati yang divisualkan lewat mata yang berkaca-kaca.</p><p>Menghindari waktu, maka karunia terbaik dari tuhan adalah sepasang bola mata.</p><p>Bola mata kemudian bersuara “siapakah yang akan berderai air mata yang mengalir melalui aku?”. Waktu berlalu. Aku berjalan dituntun bola mata, arahnya liar, seliar diksi pujangga yang dihujani cinta, seliar perasaan wanita saat dipuja-puja.</p><p><strong><em>Rangkaian diksi indah tiada mampu menghiasi perasaan dan kenangan yang telah berlalu dalam pusaran waktu.</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=974c94639c5d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Penuntun Cahaya]]></title>
            <link>https://medium.com/@cjrppnnq/penuntun-cahaya-99680933a2cb?source=rss-5eb151271787------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/99680933a2cb</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Odhywahid]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 26 Jun 2025 15:47:01 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-06-26T16:07:24.840Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>3 dan 33 sampai ribuan kata yang sama. Leluhurku tiada karena hal itu, daku juga serupa.</em></p><p>Tulisan ini tanpa diksi mewah dariku, hanya ada aku dan kematian. Kematian tidak mewah, itu menyakitkan dan indah, ironi memang tapi begitulah jika ingin berjumpa dengan yang maha pencipta dan aku mencintai-NYA.</p><p>Aku berdosa, aku hina dan aku merasa akan meninggal dalam keadaan sukses, aamiin. Aku senang sekaligus sedih, daku tak sanggup membayangkan perasaan ibuku dan ayahku jika aku telah tiada, primadona hatiku bila diriku tiada bagaimana kehidupanmu? Sungguh kematian adalah hal yang pasti dan sungguh dalam kepastian aku berjodoh dengannya.</p><p>Aku tulis ini dalam keadaan sadar, semoga Allah yang maha di atas maha, yang maha kuasa di atas kuasa memberi umurku panjang untuk sebuah nilai ibadah, bukan sebagai hukuman. Jauhkan aku dari jodoh kematian, panjangkan kebaikan dan sehatkan seluruh orang yang aku kasihi. Izinkan aku memberi setitik kebahagiaan pada mereka. Aamiin!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=99680933a2cb" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Simpang Lima & Cinta]]></title>
            <link>https://medium.com/@cjrppnnq/simpang-lima-cinta-27d79c060f75?source=rss-5eb151271787------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/27d79c060f75</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Odhywahid]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 09 Dec 2024 09:28:47 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-09T09:28:47.289Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>Waktu menjawab pertemuan selanjutnya. Terima kasih masih mengingatku.</em></p><p>Dongeng dalam detik pejalan, diterpa dingin, cahaya di sekitar yang ramah. Canda dan tawa oleh sejoli yang bahagia. Senyumnya sumringah, tentu saja oleh pujaanya. Langkah kaki kembali menyusuri jalanan, kupandangi wajah demi wajah, hasilnya tetap sama. Ada cahaya di sekitar yang ramah. Rasa dan obrolan ini semakin hangat di kala pria paruh baya menyapa. Beliau banyak cerita, cerita mengenai dia, Semarang, dan dagangannya.</p><p><strong><em>Sekali lagi, yang ramah selalu bercahaya.</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=27d79c060f75" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Orasi, Bunyi & Hati]]></title>
            <link>https://medium.com/@cjrppnnq/orasi-bunyi-hati-70cae429106b?source=rss-5eb151271787------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/70cae429106b</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Odhywahid]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 09 Dec 2024 09:17:38 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-09T09:17:38.500Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*QqL8HuTxQLaiiQ8MeePtfQ@2x.jpeg" /></figure><p><em>Semoga selalu patuh pada nilai-nilai kemanusiaan. Gugurlah rasa pragmatis itu, aamiin.</em></p><p>Terimalah salam cinta, suka dan duka. Hidup rakyat indonesia, hidup perempuan yang melawan, merdeka!!!.</p><p>Kawan-kawan sekalian, izinkan saya mengobarkan semangat perjuangan kawan-kawan, izinkan saya berdiri dan melantangkan suara saya, suara kita untuk keadilan yang hari ini tinggal mitos di sanubari kita. Hadirnya dirimu di sini bukanlah tanpa sebab, ada panggilan nurani ada gonggongan birokrasi yang harus kita matikan bersama-sama. Sejarah telah tertulis, bahwasanya hari ini kita berdiri, menatap dan merenung sekalian menumpahkan rindu atas gugurnya seluruh pejuang kemanusiaan kita, almarhum Iwan Budi Prasetyo, salah-satu dari sekian banyaknya korban atas matinya keadilan, atas hinanya perhatian negara dan seisinya akan orang-orang seperti kita. Kawan-kawan seperjuangan, saya kembali ingatkan kepada kita semua bahwa negara hari ini mengunci kebebasan ruang hidup masyarakat sipil, revisi UU TNI/POLRI yang hendak disahkan oleh negara semakin mengkhawatirkan, sebab kita akan diperkenalkan oleh kembalinya DWIFUNGSI ABRI, belum kembali saja kita sudah digembosi habis-habisan, diri kalian, saudara perempuan kalian, anak cucu kitalah yang akan mati jikalau tidak kita bendung, jikalau tidak kita hentikan hari ini.</p><p><strong><em>Apa gunanya studi intelektual kita, jika tidak berpihak pada yang lemah, apa gunanya mata, suara dan darah kita jika tidak berpihak pada kebenaran dan apa yang hendak ditakuti sementara yang pasti ialah mati.</em></strong></p><p><strong>MERDEKA!!!</strong></p><p><em>Intansurullahi yanshurkum, billahi fisabilillhaq, wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=70cae429106b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Menuju Kepunahan “Maha” dalam Mahasiswa]]></title>
            <link>https://medium.com/@cjrppnnq/menuju-kepunahan-maha-di-dalam-mahasiswa-21808e51689a?source=rss-5eb151271787------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/21808e51689a</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Odhywahid]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 08 Dec 2024 15:16:44 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-08T15:24:42.424Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Keluh abadi ini semoga sirna secepatnya, aamiin.</em></strong></p><p>Mimbar akademik atau arena kampus terutama ruang-ruang kelas harusnya menjadi arena pertempuran intelektual yang membangun nalar kritis setiap mahasiswa di dalamnya, bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk saling mengisi kekosongan. <em>Karl Popper </em>menuangkan pandangannya <em>“We are all fallible, but we can learn from our mistakes.”</em> Dengan diskusi dan kritik, seseorang mampu memperbaiki kesalahan kita dan menuju pada pemahaman yang lebih baik. Penulis secara pribadi kemudian menuangkan keresahan dalam tulisan ini sebab menurut penulis telah terjadi kemunduran dalam bertarung mengasah pikiran di dalam arena kampus terutama ruang-ruang kelas itu sendiri (kelas saya pribadi).</p><p>Mahasiswa Indonesia di awal abad 20 sudah berkelana ke negeri Belanda hingga menghasilkan <em>STOVIA </em>kemudian menghasilkan Budi Utomo. Kehadiran organisasi tersebut dan orang-orang di dalamnya merupakan hasil dari <strong><em>diskusi, adu gagasan, adu pandangan, adu ide dan adu argumen yang pada akhirnya membentuk eskalasi intelektual di dalamnya.</em></strong> Era orde baru, masa kekuasaan rezim Soeharto yang otoriter (ABRI mendominasi) hingga menciptakan rasa muak dan akumulasi kemarahan masyarakat Indonesia akhirnya mampu menumbangkan rezim otoriter tersebut. Ya, sekali lagi ada eskalasi intelektual, ada kesadaran bahwa sesuatu yang terlalu mendominasi itu tidak bertahan lama. Gerakan-gerakan besar seperti itu tentu berawal dari diskusi di warung kopi, lapak baca, kampus dan lain-lain. Apakah mampu mahasiswa di era reformasi ini melampaui apa yang diciptakan oleh senior-senior di masa lalu? Pertanyaan ini menghantui pikiran penulis, variabel apa yang menyebabkan taring mahasiswa ini menjadi tumpul. Apakah disebabkan oleh komersialisasi pendidikan? Atau dibelenggu oleh aturan kampus yang mewajibkan kepatuhan dan tunduk pada aturan hingga menyebabkan kurangnya kebebasan dalam kehidupan kampus atau masalah utamanya adalah pada pribadi mahasiswa itu sendiri?</p><p>Akhir kalimat, m<em>ahasiswa itu mewah, mewah dalam arti mampu membawa dampak baik terhadap lingkungan sekitarnya, jangan berubah menjadi mahasewa dan menurunkan makna mahasiswa dari apa yang seharusnya.</em> <em>Semoga sifat aktif seorang mahasiswa tidak menjatuhkan dirinya ke dalam lubang kebencian kawan-kawannya.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=21808e51689a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Seutas Rindu, Mama]]></title>
            <link>https://medium.com/@cjrppnnq/seutas-rindu-mama-4f3bb807fefb?source=rss-5eb151271787------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4f3bb807fefb</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Odhywahid]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 08 Dec 2024 11:12:32 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-03-31T21:13:36.599Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Catatan harian di malam yang kelam, hatiku berkecamuk di ujung tahun.</em></strong></p><p>Yang perkasa adalah langkah kaki pria yang keluar dari rahim indah. Lelaki yang beranjak dari tanah leluhur memikul beban nama yang amat berat, untuk memikulnya saja air matanya dilarang mengalir. Kenapa demikian? Sebab takdirnya mengalir ketika bersandar di pundak pemilik rahim. Dialog papa<em> “Nun, kita berhasil, Nun dalam susah dan derai air mata kita masih mampu sejauh ini, Nun air matamu….Nun….”.</em></p><p>Salam hangat dari jarak yang jauh pada keluargaku yang aku rindu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4f3bb807fefb" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>