<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Allen on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Allen on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@congaxtion?source=rss-39788f313bba------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*ZrYxVWcnDbozLotmh_yyoQ.jpeg</url>
            <title>Stories by Allen on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@congaxtion?source=rss-39788f313bba------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sat, 30 May 2026 17:32:09 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@congaxtion/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Green Greed]]></title>
            <link>https://medium.com/@congaxtion/green-greed-4fdddb3b64d6?source=rss-39788f313bba------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4fdddb3b64d6</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Allen]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 30 May 2026 03:01:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-30T03:33:44.536Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/672/1*CcGGFXjjxpmWeVnhoR_oLQ.png" /></figure><p><em>cw // usage of feminine terms (princess), mentions of sex</em></p><p><em>“Kalian adik-kakak, dibiasakan apa-apanya itu diomongin biar nggak ada yang salah paham.”</em></p><p>Ucapan Mama tertanam kuat dalam benak Gege dan Andrea sejak kecil. Dalam tumbuh dan berkembang, Gege selalu berusaha menjaga komunikasinya dengan Andrea sebaik mungkin.</p><p><em>Their bond is always strong because they both made an effort to communicate: what they want, how they feel, why they feel it.</em></p><p>Gege menyadari bahwa pola komunikasi itu sulit ia terapkan bersama Amar.</p><p>Rasanya, Amar memegang kendali atas emosi Gege — <em>more than Gege allows himself to acknowledge</em>. <em>Gege doesn’t just let people have the privilege of affecting him emotionally. But with Amar, it felt safe to just… feel.</em></p><p><em>It was stupid beyond fault, but he finds himself to be clingier and emotional over mundane things when it’s Amar and his absence.</em></p><p><em>He hates how missing Amar affects his mood badly. Easily.</em></p><p><em>‘Because you love him,’ his mind supplies, ‘Love makes way to affect you on a deeper emotional level.’</em></p><p><em>Love.</em></p><p>“Gege.”</p><p>Lamunannya buyar seketika. Subjek utama yang memenuhi pikirannya berdiri tepat di depan mata, bersandar pada kap mobil yang terparkir rapi di depan kos tiga lantai Jalan Cikuda. Wajahnya tenang — tidak terlihat senyum hangat dan kekehan lucu yang biasanya hadir terpatri.</p><p><em>Gege could feel Amar’s eyes darken when his gaze fell on Dafa beside him.</em></p><p>“Amar, ini Dafa.” Gege buru-buru memperkenalkan. “Dafa, Amar.”</p><p>Amar melangkah maju dan mengulurkan tangannya — matanya lurus pada Dafa, tajam, <em>but barren from any ease he used to have around people. A firm handshake, and a calculating gaze is what he offers, which Dafa easily returns. They stare at each other in silence.</em></p><p>“Balik dulu ya,” Amar berpamitan, tidak berhenti untuk sekedar basa-basi. Ia melirik Gege sekilas, buat Gege menegakkan tubuhnya dan buru-buru mengikuti.</p><p>Gege mengangguk kikuk pada Dafa, berpamitan sebelum berjalan pada pintu mobil yang sudah dibukakan oleh Amar tanpa melihat padanya.</p><p><em>The journey home was void from any warmth Gege so familiar with. The engine rumbles gently, radio cruising hit after hit, filling the silence.</em></p><p>Mata Amar fokus ke depan, tangan kiri memegang setir dan tangan kanan bertumpu di kaca mobil. Ia tidak meraih tangan Gege untuk menggenggamnya, tidak menghujani Gege dengan ciuman, tidak menawarkan Gege untuk <em>connect </em>ke <em>audio </em>mobilnya.</p><p><em>Gege hates how he misses those little routines.</em></p><p>“Udah beres tadi ngerjain UAS-nya?”</p><p>Amar memecah sunyi.</p><p>Gege menjawab pelan. “Udah.”</p><p>“Dikasih makan nggak tadi sama tuan rumah?”</p><p>“Udah makan,” <em>Gege answers instead.</em></p><p>Percakapan itu selesai saat Amar mengangguk tanpa ada pertanyaan lanjutan.</p><p>Setibanya di apartemen Gege, rasa khawatir perlahan mengakar di dadanya, bahwa Amar hanya akan mengantarnya pulang lalu pergi tanpa obrolan berarti. Saat mobil Amar belok ke arah <em>basement </em>dan parkir seperti biasa, Gege menghela napas yang tanpa sadar ia tahan.</p><p>Gege membuka <em>seatbelt</em>-nya dengan kikuk. Saat ia hendak keluar, ia mendapati Amar di sampingnya tidak bergeming. Tidak mematikan mobil. Hanya diam, mengetuk setir pelan.</p><p>Dengan ragu, Gege meraih lengan Amar. Sentuhan yang berhasil membuat mata biru yang sedari tadi menghindari itu akhirnya fokus padanya. Gege berbisik lirih, “Ayo naik…”</p><p><em>Amar stares at Gege’s face</em> — <em>like searching for something. He found it, maybe, with the way he finally agrees. Turning the engine off and walking out.</em></p><p>Di <em>lift, </em>Gege berdiri kaku, menempelkan kartu aksesnya dan memencet lantai sembilan. Hening menyelimuti sekali lagi.</p><p>Saat tangan mereka bersentuhan, Amar meraih tangannya untuk menggenggamnya erat.</p><p><em>Gege felt his heart soar. God, he’s so dumbly emotional. He missed this closeness so much.</em></p><p><em>He longed for Amar too much.</em></p><p>Tanpa ia sadari, Amar menatapnya dari pantulan <em>lift </em>di depan mereka. Mengamati.</p><p>“Mandi dulu. Biar ngobrolnya enak.” di kamar Gege, Amar membuka suara. Membimbing Gege ke kamar mandi dengan telapak tangan yang mendorong lembut di punggung bawahnya — <em>hands still gentle, despite the storm between them.</em></p><p><em>And there they finally are.</em></p><p>Duduk berdampingan di sofa apartemen Gege. Jemari Gege sibuk bermain dengan kausnya, tidak berani menoleh dan buka suara. Tercekat oleh perasaan malu dan bersalah yang berkecamuk.</p><p>Gege merapal doa agar Amar membunuh sunyi ini lebih cepat dari sunyi mengubur dalam-dalam keberaniannya.</p><p>“Udah marahnya?” tanya Amar dengan tenang.</p><p>Gege menolak menjawab. Mendelik dengan lemah karena malu.</p><p>“Aku ngomong boleh ya?”</p><p>Gege menggigit bibirnya, mengangguk pelan.</p><p>“Aku nggak suka cara kamu bikin aku sakit karena kamu lagi kesel.”</p><p><em>That’s it. Straight to the point. Gege felt his tongue freeze.</em></p><p>Gege menunduk, menarik ujung kausnya seperti anak kecil yang tengah ditegur ibunya.</p><p>Amar bersandar di sofa, matanya tajam pada Gege. “Aku ngerti kalau kamu marah. Aku juga ada porsi salah dan nyebelinnya,”</p><p>Amar memberi jeda, memilah apa yang hendak ia ucapkan dengan hati-hati.</p><p>“Aku tahu aku lagi <em>unavailable </em>banget buat kamu. <em>I didn’t make time for you as much as I used to, and it made you feel sad. It’s valid, Ge.</em>”</p><p>Mata biru itu mengedarkan pandangan pada apartemen Gege yang sudah tidak ia datangi dua minggu ke belakang.</p><p>“Tapi aku nggak suka cara kamu ngadepin rasa keselnya. <em>With the very conscious intention of hurting me back.</em>” Amar menghela napas. “Aku santai aja kalau kamu kerjain UAS bareng temen-temen kamu. Tapi, kamu punya pilihan untuk pulang sama Ale, atau aku temenin biar nggak berduaan sama Dafa. <em>But you choose not to do either of that. </em>Kenapa?</p><p>Karena kamu tahu aku nggak suka lihat kamu berduaan sama orang lain di kos kayak gitu. Kamu tahu kalau <em>it will affect and hurt me.</em>”</p><p>Dada Gege terasa berat — <em>being called out for his childish behavior is not something he’s keen on. It’s like being picked apart. But he needs to hear this. To let it wash over him, this mistake he’s ashamed of.</em></p><p>“Kalau aku bikin kamu marah, kesel, atau sedih,” ujar Amar, menjaga nada suaranya agar tetap netral. “Kamu bilang sama aku. Kita diskusi, aku perbaiki. Kamu mau ngambekin aku dulu, adu bacot sama aku, gapapa, sumpah, Ge. Tapi bukan gini, bukan kamu sengaja ngasih liat ke aku kalau kamu bisa aja deket sama orang lain.”</p><p>Amar bergeser mendekat, mengikis jarak antara mereka dan rasakan hangat tubuh Gege di sampingnya. “<em>You know it’s been a shitty semester for me. </em>Tugas numpuk, revisi <em>legal drafting </em>berturut-turut, temen kelompok aku kayak tai.”</p><p>Gege melirik sekilas — <em>now that they finally met, he saw the blatant exhaustion bleeding into his boyfriend’s face.</em></p><p>“<em>But I still try. For you. </em>Aku coba ajak kamu <em>call, </em>tetep anter kamu, ngajak kamu ketemu tuh terakhir kemarin waktu presentasi aku beres satu. Tapi<em> </em>kamunya malah cuek, judes, dan berduaan sama Dafa.”</p><p>Gege terdiam. Bibirnya mengerucut.</p><p>“Aku minta maaf karena bikin Gege bete. <em>I’ll do better in terms of reassuring you. </em>Ngabarin kamu kalau sempet. Waktu di Dago kemarin, aku sadar mungkin harusnya aku <em>make time </em>buat kamu daripada malah jauh-jauh ke Bandung cuma buat nugas.”</p><p>Buru-buru Gege menggeleng, menatap Amar. “<em>It’s not</em> — <em>it’s not a problem </em>kalau kamu mau ke Bandung atau <em>hangout </em>kemana sama temen-teman kamu. <em>I understand. It’s not an issue, Mar.</em>”</p><p>Amar tersenyum, mengusap pelipis Gege pelan. “<em>I’ll balance it out for you.</em>”</p><p>Lidah Gege terasa kelu, tercekat. Gege paham bahwa Amar tidak bisa serta-merta <em>dropping his duty just to give him attention. He’s being unfair, throwing threats that he could just give up the relationship anytime, while all Amar did is try for them.</em></p><p>“<em>You’re cranky,</em>” <em>Amar points out gently. </em>“<em>Because you miss us, don’t you?</em>”</p><p><em>Godness. The gentleness even after Gege’s childish anger, the loving touch after Gege’s selfishness simply because he couldn’t have Amar for himself when Amar is just busy being a college student.</em></p><p>Amar hanya mengerjakan kewajibannya; seorang mahasiswa yang memprioritaskan akademiknya, sama seperti Gege — <em>even when admittedly, there is quite an imbalance of workload in him and Amar’s major</em> — <em>but Gege understood.</em></p><p>Perlahan, air mata Gege menetes. Mengangguk. Penglihatannya mulai kabur.</p><p>“Aku,” lirih Gege. Malu setengah mati karena suaranya gemetar bersama linang air mata. Ia menarik napas dengan gemetar. “Aku kangen sama kamu.”</p><p><em>Those words were like magic</em> — <em>the strain and anger in Amar’s face dissipated like the wind, replaced by gentle and loving gaze as he pulled Gege into his lap softly. It was funny, the sofa too cramped to occupy Gege and his long legs, but he makes do anyway.</em></p><p>Berhadapan dengan Amar yang kini memeluk pinggangnya, kedua tangan Gege bertengger di kedua sisi bahu Amar. <em>Chest to chest as Amar looks up to Gege’s tear-stricken face.</em></p><p>“<em>Oh, pretty princess,</em>” lirih Amar. Tatapnya memuja, mendongak pada bibir manis yang bergetar. <em>Even in his sob, Gege looks downright angelic. </em>“<em>I miss you too.</em>”</p><p><em>Gege’s walls crumbled all at once. He hid his face on Amar’s chest, welcoming the signature cologne and a hint of cigarette smell that felt too much like coming home.</em></p><p>Dalam sesenggukan kecilnya, Amar dengan tenang mengusap punggungnya; naik, turun, naik perlahan lagi. Menenangkan dengan ciuman lembut di kening yang Gege rindukan.</p><p>“Maaf aku marah nggak jelas,” lirih Gege. Masih mengubur wajahnya di dada Amar, namun Amar mendengarkan dengan baik. “Padahal <em>you’ve been through a lot, and I made it worse.</em>”</p><p>“<em>No. You were hurting from my absence too. It’s okay,</em>” Amar tersenyum lembut. Wajah tampan itu terfokus padanya. Tatapan dan atensi yang sungguh Gege rindukan, seolah bagi Amar, pusat dunia terletak pada Gege dan Gege seorang.</p><p>Amar meraih dagu Gege pelan dengan jemarinya. <em>Gege immediately leans into the touch, soft as his eyes flutter shut.</em></p><p>“Aku mending berantem sama kamu, debat, ngeladenin kamu ngomel. Yang aku nggak suka,” ibu jari Amar mengusap tulang pipi Gege pelan. “Itu kalau kamu jadi bawa-bawa orang lain <em>just to prove a point.</em>”</p><p>Gege menelan ludah. Mengangguk patuh. Berujar dengan suara yang masih serak usai menangis. “Maaf, ya… <em>I won’t do that to us again. I’m sorry for being selfish and annoying, for not trying to fix things for us when made an effort. I… I’ll do better. I’ll try to be better for us, too.</em>”</p><p>Amar menatapnya lamat-lamat. Satu, dua, dan di detik ke lima, senyumnya melebar. Senyum hangat dan jahil yang sudah lama Gege rindukan. Ia menarik Gege turun, membawa kening mereka untuk bersentuhan.</p><p>“<em>Good.</em>” lirihnya. “<em>Because I’m done being angry. And I miss you.</em>”</p><p>Sebelum Gege bisa membalas, tangan Amar melingkar kembali di pinggangnya — mengangkat Gege dari pangkuannya dengan mudah, dengan tangan kirinya menopang Gege dari bawah paha dan menggendongnya.</p><p>“Mar!” pekik Gege. Wajahnya merona, dengan refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Amar, berpegangan erat.</p><p>Amar hanya tertawa — amarah dan sedih itu hilang seketika. Di tepi kasur, Amar dengan mudah merebahkan Gege, kemudian merangkak dan mengunci Gege yang menatapnya, tangannya menopang di sisi kiri dan kanan kepala Gege. <em>Careful not to squish Gege with his weight.</em></p><p>“Hi, cantikku yang nyolot.” godanya.</p><p>Gege memutar bola mata, walau senyum lebarnya mengkhianati sandiwaranya. “Halo juga, orang nyebelin.”</p><p>Amar hanya tertawa — membawa tubuhnya turun untuk menyapa. Memetakan kembali titik-titik dimana senandung nikmat Gege paling indah terdengar di telinga.</p><p>Di tengah bibirnya yang terus racaukan nama Amar bagai rapal doa, Gege menutup mata, tenggelamkan dirinya dalam sentuhan Amar yang penuh cinta.</p><p><em>In these quiet moments, Gege lets himself be greedy. Of that touch, that warmth, that undivided attention. He wants it all, soaks it all, and gives back just as eagerly.</em></p><p><em>‘Godness, I’m greedy for you’, </em>pikir Gege.</p><p><em>But with the way Amar stares at him and touches him like Gege is his lifeline, Gege thinks Amar is equally greedy for him, too.</em></p><p><em>And somewhere in the deep pool of that greed, love comes in between. Rooted, as it keeps on growing.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4fdddb3b64d6" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Go to the moon, kita berdansa]]></title>
            <link>https://medium.com/@congaxtion/go-to-the-moon-kita-berdansa-41202df8dca3?source=rss-39788f313bba------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/41202df8dca3</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Allen]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 24 Apr 2026 11:08:47 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-24T19:02:42.648Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/713/1*tlijf9iRiwy47uq6bNts5Q.jpeg" /></figure><iframe src="https://cdn.embedly.com/widgets/media.html?src=https%3A%2F%2Fopen.spotify.com%2Fembed%2Ftrack%2F5rhwXZP0luMucnEPnYJpbI%3Futm_source%3Doembed&amp;display_name=Spotify&amp;url=https%3A%2F%2Fopen.spotify.com%2Ftrack%2F5rhwXZP0luMucnEPnYJpbI&amp;image=https%3A%2F%2Fimage-cdn-fa.spotifycdn.com%2Fimage%2Fab67616d00001e028afa25403ff8a518ee7a9f94&amp;type=text%2Fhtml&amp;schema=spotify" width="456" height="152" frameborder="0" scrolling="no"><a href="https://medium.com/media/17b93d8f8edb13ddee98c30cafa72a4f/href">https://medium.com/media/17b93d8f8edb13ddee98c30cafa72a4f/href</a></iframe><p><em>cw // blasphemy (kinda). seperti biasa for maximum experience pls sambil dengerin lagunya biar joget bareng amargege</em></p><p>Malam puncak yang merupakan bagian dari <em>closing ceremony </em>festival kampusnya itu akhirnya tiba. Atas bujuk rayu dari teman-temannya yang tidak ada habisnya, Gege Williams akhirnya menyerah dan setuju untuk ikut serta.</p><p>Lapangan merah yang kosong itu sudah berubah total. Lampu sorot hadir di panggung yang berdiri kokoh, bersinar terang menghadap puluhan <em>booth </em>makanan, minuman, serta <em>brand-brand </em>sponsor yang terbentang. Orang-orang bergerak dari segala arah, tertawa, berbincang, bernyanyi.</p><p>Riuh dan jauh dari kata tenang — <em>not really something Gege preferred.</em></p><p>Dalam saku celananya, getar ponselnya yang konsisten itu semakin sulit diabaikan. <em>Gege doesn’t even need to check it to see who’s messaging him.</em></p><p><strong>[gegewilliams] amaransya: </strong>Kata Ale kalian jadi ke closing?<br><strong>[gegewilliams] amaransya: </strong>Dimana? Havent seen you anywhere :(<br><strong>[gegewilliams] amaransya: </strong>Ketemu dong</p><p>“Tuh diajak ketemu,” Ale menyenggol bahu Gege. Sudut bibirnya terangkat, terkekeh penuh arti.</p><p>“Lo ngapain bilang ke dia,” tukas Gege, buru-buru miringkan ponselnya untuk jauhkan layar dari pandangan teman-temannya. “<em>Nosy. Let him find me, then,</em>”</p><p><em>Axel stopped on his track, then stares at him like he suddenly grew two heads. </em>“<em>Find you? </em>Di antara orang sebanyak ini di lapmer?”</p><p>Gege hanya mengedikkan bahu. Lily menambahkan, “Biarin aja. Emang gitu Gege konsepnya, <em>leave it to the universe to make them meet. </em>Kayak jodoh.”</p><p>“Ngaco lo,” Gege merengut.</p><p><em>If Gege hated crowds in a rowdy bar, he definitely despised music festival crowds. Noisy, body-to-body contact all too close to each other, full of sweat and smell.</em></p><p>Lagu demi lagu silih berganti, <em>performer </em>yang naik dan turun panggung, pengumuman pemenang festival dari tiap kategori dibacakan. <em>Gege finds himself enjoying it nonetheless, surrounded by his close peers, even his major’s friends.</em></p><p><em>At one point, Gege spots Amar</em>—<em>right in the middle of the stage, receiving trophy with his friends for his faculty’s win</em>. Ia menggunakan kaus hitam yang dibalut jaket hitam, tetap dengan celana <em>jeans </em>yang membuat Gege meringis.</p><p>“Cowok lo tuh,” bisik Ale dengan jahil. Axel, Lily, hingga beberapa teman-teman jurusan Gege ikut tertawa, menimpali tanpa ampun. Gege hanya memutar bola matanya.</p><p>Tatap Gege melekat pada Amar dan rambut acaknya hingga ia turun dari panggung, disambut dengan tepukan dan pelukan dari teman-temannya. Gege mengalihkan pandang.</p><p><em>‘Good,’ Gege thinks. ‘Let him spend time with his friends. Let him celebrate.’</em></p><p>“Ge, gue beli minum dulu, ya. Haus banget anjrit. Lo mau apa?” Ale menepuk pundaknya. Matanya mengabsen deretan <em>booth </em>minuman yang penuh dengan antrean.</p><p>Gege mengerucutkan bibir. “Terus gue sendiri? Tuh dua temen lo udah ngilang gak tau kemana.”</p><p>“Bentar aja,” Ale berjanji. “Hp lo jangan mati atau di-DND. Ntar gue susah nyari lo.”</p><p>“Yaudah. Jangan lama-lama. Gue <em>mineral water </em>aja Le, tapi jangan yang dingin,”</p><p><em>After gesturing a salute, Alaia Latheef disappeared in the crowd.</em></p><p>Gege menghela napas. Kenapa Ale harus pergi saat <em>headliner</em> sudah akan tampil beberapa menit lagi? <em>They’ve promised to dance to Naykilla together, for God’s sake.</em></p><p>Gege mendelik pada orang-orang di sekitarnya — <em>couples backhugging, holding hands, kissing, wow, so brave remembering it’s not that dim in this area. </em>Gege memalingkan wajah, fokus pada <em>headliner </em>yang tampil<em>.</em></p><p>Kata Lily, ‘<em>leave it to the universe to make them meet’.</em></p><p><em>Gege could feel a group of people staring.</em></p><p>Saat melirik ke kanan, matanya beradu dengan sekumpulan orang yang berdiri tidak jauh; saling sikut, berbisik, sesekali melirik pada Gege. Mereka kemudian menepuk bahu lelaki yang berdiri di tengah-tengah.</p><p>Amar Ansya.</p><p>Gege mengulum senyum puasnya saat Amar secara otomatis berpaling dari percakapan dengan dua perempuan di depannya—kepalanya dengan terburu-buru menoleh, mengikuti arah tunjuk teman-temannya.</p><p><em>God, it felt magnetic, those eyes zeroing instantly on him and only him.</em></p><p><em>Gege smirks, tilting his head to Amar.</em></p><p><em>And how it oh so pleased him so much — just with a slight smile and a tilt of head, Amar turns his body completely to him.</em></p><p><em>Like moth to a flame.</em></p><p>Ia melihat Amar buru-buru berpamitan. <em>The view of those boys and girls protesting and wanting him to stay fell to no ears, as he all but ran to Gege instead.</em></p><p>Seperti yang Gege perkirakan.</p><p>Gege memalingkan wajah, kembali menghadap pada panggung. Seolah ia tidak menunggu seseorang yang tengah menghampiri.</p><p>Gege tidak perlu menoleh untuk tahu Amar sudah berada tepat di sampingnya, tidak menyisakan banyak jarak antara mereka. Amar tersenyum senang, memiringkan wajahnya, menatap Gege dengan tajam.</p><p>“<em>Gege. Found you.</em>”</p><p>“<em>Found me indeed,</em>” Gege membalas santai, melirik. “Ngapain disini? Nanti gue dimarahin sama kakak dan adek-adekan lo.”</p><p>Di antara mereka, segala sisi dipenuhi oleh manusia yang berdesakan, menyanyikan Bintang 5 dengan bertenaga.</p><p><em>Ale loved that one song, a thought suddenly fleets to Gege’s mind.</em></p><p>Amar berdiri begitu dekat. Kaus hitam itu sedikit basah dengan keringat, rambutnya yang penuh peluh menempel di keningnya. <em>Very unapologetically himself</em> — <em>big smile, focused eyes, head held high.</em></p><p>“Siapa sih yang berani marahin lo,” Amar mendengus. “<em>I just want to see my favorite pretty boy.</em>”</p><p>Gege merengut. Mengulang ucapannya di Bale Santika beberapa hari lalu. “<em>I’m not y</em> — ”</p><p>Ucapan Gege terpotong bersamaan dengan <em>intro</em> dari salah satu lagu <em>hit </em>mereka memenuhi lapangan. Ia mendesis saat terdorong oleh orang-orang yang berebut untuk lebih dekat dengan panggung.</p><p>“Sini,” Amar memanggil pelan, dengan sigap menarik pinggang Gege untuk bersandar lebih dekat.</p><p>Setengah dari punggung Gege kembali bertemu dengan kokoh dada Amar — hangat dan lembab oleh cuaca dan desakan manusia. Satu tangan kekar itu menetap kuat di pinggangnya, menahannya dari tubuh di sekeliling mereka yang tidak hentinya bergerak.</p><p>Gege menatap bagaimana jemari itu menekuk, jari jempolnya mengelus sisi pinggang Gege perlahan.</p><p><em>Amar Ansya and his unhealthy obsession with Gege’s waist, truly.</em></p><p>Telinga Gege memerah sempurna. <em>This very position brings him back to that time at Amar’s law major home.</em></p><p><em>The only difference will be they’re currently standing up, not sitting down.</em></p><p>“Mau majuan lagi gak nontonnya?”</p><p>Amar berbisik lembut di sampingnya. Gege hanya menggeleng. Benci bagaimana perbedaan tinggi mereka membuat napas hangat itu mendarat manis di lehernya, bukan telinga; <em>more personal, more intimate.</em></p><p><em>Was it a blessing or a curse, is a question for another day.</em></p><p>“Jangan banyak gerak, nanti kesenggol lagi,” Amar mengelus pinggangnya.</p><p>Gege mendengus, <em>trying to collect himself (and his dignity</em>). “<em>I can take care of myself just fine,</em>”</p><p>“Tau, kok. Lo <em>capable </em>banget, Ge, asli. <em>But I still want to keep you safe anyway.</em>”</p><p>Gege menghela napas pelan, tidak mau percakapan itu berlarut tanpa arah. Atas suara feminin Naykilla yang sopan menyapa, ada dorongan aneh di dadanya — <em>perhaps an emotional boost that made Gege turn his body, facing Amar directly.</em></p><p>“<em>Sing along, Mar.</em>” perintah Gege tajam. Ia melingkarkan jemari lentiknya dengan erat di pergelangan tangan Amar — <em>not enough to hurt, but enough to make Amar shiver</em>.</p><p>Wajah terkejut Amar seketika tergantikan oleh senyum lebar. “<em>So bossy. So demanding</em>.”</p><p>Namun, ia menurut. Dengan mudah, jemarinya mengisi celah antara setiap jari Gege, mengait dan menggenggam erat. Ia menarik Gege lebih dekat, bergerak mengikuti irama.</p><p><em>Gege tries to not mull over how different the thickness of their hands are.</em></p><p><strong>“Tanpa ragu ku bilang kamu yang paling paham aku!”</strong></p><p>Suara mereka bercampur dengan ribuan orang lain, tertawa dan bergerak bebas. Tangan mereka tetap terkunci, mengikuti irama dan menarik satu sama lain. Terkadang, Amar membawa keduanya berputar, buat Gege tertawa.</p><p><strong>“Dua jadi satu, belah hati aku, aku mau maju tapi tinggal tunggu waktu!”</strong></p><p>Tangan Amar kembali ke pinggang Gege — <em>pulling him to dance around, shoulders swaying following the beat as they voice out the lyrics.</em></p><p>“Kita tiap ketemu tuh gini gak sih Ge?” Amar setengah berteriak. “<em>Either intoxicated, on the dance floor, or both.</em>”</p><p>“Gue lebih bisa toleransi lo kalau lagi nggak <em>sober</em>,” balas Gege pedas. Amar memutar bola matanya — <em>exasperated at the bite, but fond of the warmth of it.</em></p><p>“Gitu ya, galak, kemaren aja waktu di kontrakan gue, pas gue pangku lo — “ godaan itu terputus saat Gege melotot, mencubit pinggang Amar kencang, buatnya meringis. “Ampun, ampun! Bercanda!”</p><p><strong>“Aku mau maju, tapi tinggal tunggu waktu.”</strong></p><p>Saat lagu itu menyisakan irama tanpa lirik dan nyanyian orang-orang di sekitar mulai berganti dengan sorakan riang, Gege dengan jahil melepaskan pegangan Amar di pinggangnya. Ia mundur perlahan, matanya fokus pada Amar yang mengernyit bingung dengan tangan yang menggantung canggung di udara.</p><p>Gege tersenyum pelan — kemudian ia bergerak.</p><p>Bahunya lebih dulu bergerak pelan, mengikuti dentuman <em>bass</em> yang bergemuruh. <em>Going down to his waist that curls sinfully, enhancing his pretty and lean body, </em>menggoda dengan lekuk luwesnya.</p><p>Tangannya terlurur santai, mengayun tanpa paksa namun tetap terlihat sempurna. <em>He stares up sweetly, pulling slow blinks as he stares at Amar through his lashes with half-lidded eyes. </em>Bibirnya mengerucut manja, tidak kalah mematikan dari tariannya.</p><p><em>Like a dance that’s meant to show what Amar couldn’t touch.</em></p><p>Amar tidak berkutik dengan tubuhnya yang menegang. Matanya mengikuti setiap <em>detail</em>, seolah menjahitnya dalam-dalam di memori yang ia harap akan terpatri hingga akhir hidupnya nanti.</p><p>Kemudian, perlahan, Gege memutar tubuhnya, <em>letting Amar see the full view of him and all his glory. He spins like he aims for the kill, slowly stepping forward. When he goes full circle, his smile went more wicked as he saw Amar just staring dumbly, mouth hanging open, eyes glassy, face blushing.</em></p><p>Ia berhenti tepat di pelukan Amar, punggungnya kembali menempel di dada itu seperti posisi mereka semula.</p><p><em>Like that’s where he belongs.</em></p><p>Kedua lengan Amar bergerak tanpa banyak pikir; menangkap Gege saat tubuh itu jatuh kembali padanya, merengkuhnya lebih erat dari sebelumnya.</p><p>Matanya menatap acak; seolah tidak bisa mempercayai bahwa <em>Gege — the very object of his wet dreams — just danced a full circle, swaying, then ends up in his embrace. His waist, back in Amar’s hold.</em></p><p>Matanya bergerak acak — menatap tanpa malu, <em>heavy and burning through Gege’s skin.</em></p><p>Menyapu seluruh dari sosok yang kini dipeluknya. Garis lehernya yang tegas namun nihil dari luka, bahunya yang terlihat dari kaus yang mengintip, turun perlahan ke pinggang, lalu naik kembali ke pipi merona dan bulu mata lentiknya.</p><p>Gege bersandar santai di dalam pelukan itu. Matanya melirik pada Amar yang menatapnya begitu ingin.</p><p><em>Gege knows his body. How he moves. How he got boys hook, line, and sinker.</em></p><p><em>Like a siren.</em></p><p>“Ge,” suaranya sedikit serak, berbisik. “<em>You’re playing dirty. So unfair. You know exactly what you’re doing, teasing me like that.</em>”</p><p>Gege terkekeh, bergeser karena rasakan hangat napas Amar di tengkuknya. “<em>Am I? </em>Kenapa, gak bisa <em>keep up, </em>ya?”</p><p>Amar hanya mampu melenguh tertahan. Ia menunduk, pertemukan jidatnya dengan bahu Gege yang tidak tertutup oleh kausnya. Gege mendesah pelan atas kontak antar kulit mereka — terlalu dekat dengan area sensitif di lehernya. Tanpa ia sadari, ia memiringkan lehernya, membuka akses lebih banyak.</p><p>Amar hanya mampu melenguh tertahan — menunduk, pertemukan jidatnya dengan bahu Gege yang terbuka. Kulit bertemu kulit itu terasa hangat.</p><p><em>Gege went on a full-body shiver at the contact, feeling Amar’s soft stubble grazing his neck. He whimpers, soft and automatic, pulling a groan from Amar himself.</em></p><p>Tanpa sadar, Gege memiringkan kepalanya — memberi ruang, akses, izin, <em>you name it.</em> Jemarinya mencengkeram bahu Amar dengan ringan, <em>holding before he gets weak again.</em></p><p>Di bawah lampu yang berpendar dan suara musik yang masih menggema, dunia mereka hanya ditinggali oleh hangat napas yang beradu di kulit, jarak yang hilang, dan tubuh yang terasa terlalu berat untuk dipisahkan.</p><p>“Cantik, <em>dancing for me, back to my arms, so pretty, so beautiful, Gege.” </em>Amar memuja, mengelus pinggang Gege.</p><p><em>Gege always took pleasure in receiving praises — soaking it like sponge with water, feeds on those like vampires do with blood</em>.</p><p>Kemudian, Amar memutar tubuhnya. Senyum Gege terhapus seketika. Disadarkan oleh jarak wajah mereka yang luar biasa tipis, menyisakan keduanya bersama udara yang diperebutkan oleh bibir yang hampir beradu.</p><p><em>Gege was hyperfocused on everything — Amar’s softened eyes, rapid breathing, and how he looked at Gege.</em></p><p><em>Always at Gege.</em></p><p>Netra Amar jatuh pada bibir Gege. <em>Soft, plush lips that looked very well-taken care of, pink and full, always jutting and pouting at any slight inconvenience… begging for Amar to sink his teeth to it.</em></p><p><em>Make it bleed.</em></p><p><em>Make him cry?</em></p><p>Saat tubuh Amar mulai condong dan ia memiringkan kepala, Gege lebih dulu memperlebar jarak — menarik kepalanya mundur dengan senyuman nakal. Amar mengeluarkan erangan protes, menarik Gege lebih erat.</p><p>“<em>No,</em>” Gege mendesis. Alis Amar bertekuk dalam, tidak suka. Namun, pikirnya masih manusia, dan atas Gege yang tidak memberi izin, ia akan selalu menghormati.</p><p>Ia merenggangkan peluk eratnya di pinggang Gege, melepas pelan.</p><p>Perlahan, Gege mengangkat tangan kanannya. Dua jari lentik berkontak dengan bibirnya — membiarkan Amar mengikuti gerak pelan itu dengan matanya.</p><p>Jari itu kini ditempeli oleh lembut kilap manis dari <em>lip gloss </em>Gege<em>. Pink, soft.</em></p><p><em>Pretty.</em></p><p>Jari itu berhenti sejenak; penuh kalkulasi dan tidak terburu-buru. Membiarkan mata Amar terus mengejar bak terhipnotis.</p><p>Jari itu — <em>after such an agonizing time — </em>akhirnya mendarat di bibir Amar yang sedikit terbuka.</p><p>Mengoles tipis dari bibir tengah hingga pipi kanan Amar. <em>Letting the pink color his pale lips, staining his cheek.</em></p><p><em>Ruining his lifeline.</em></p><p>“<em>Tell me what I am, Mar,</em>” bisik Gege. Jempolnya menekan tempat dimana noda <em>lip gloss </em>itu berhenti tepat di pipinya, mengacak wajah polosnya.</p><p>“<em>My fucking religion, Ghatsa,”</em> balas Amar begitu cepat.</p><p>Gege tersenyum puas. “<em>Correct</em>.”</p><p>Kemudian, Gege menangkap teman-teman Amar di belakang mereka. <em>Pretending to not see, yet failing as usual — hovering around, wanting to steal Amar, yet too scared to speak to the siren that lures Amar away from them.</em></p><p><em>He noticed some of the girls glare half-heartedly to him; in jealousy, maybe. Stroking Gege’s ego more.</em></p><p><em>Isn’t it so sad, losing your dear darling Amar to someone who barely tries to do anything?</em></p><p>Gege menyunggingkan senyum simpul. Dengan santai, ia memutar badan Amar yang terlihat belum sepenuhnya kembali sadar untuk menghadap mereka.</p><p>“<em>Go meet your friends, champion,” </em>bisik Gege dari belakang, tepat di telinga Amar. Sebelum Amar protes, ia mendorong Amar pada teman-temannya yang mengangguk kaku pada Gege, membawa Amar pergi.</p><p>Sesuai perkiraan, tak lama kemudian, Ale datang dengan minuman di kedua tangannya.</p><p>“Ge, <em>sorry </em>agak lama, anjir tadi ngantri parah banget…” kalimat Ale berhenti perlahan, menaikkan alis. “…Kenapa muka lo merah banget? Mabok? Beli minum dimana?”</p><p>Gege hanya tertawa, menggeleng dan menggiring Ale pergi. “Udah, yuk. <em>Crowded</em> parah, mending cari Axel sama Lily.”</p><p>Sebelum benar-benar pergi, Gege menoleh pada Amar untuk terakhir kali. Dikelilingi teman-temannya, namun ia hanya berdiri dengan tatap kosong dan jari yang meraba bibirnya seolah tak percaya.</p><p>Gege menahan tawa saat lihat Amar — <em>pointedly covering his middle from his friends who laughs and teased him for, well, getting so ‘excited’ and bricked up over Gege smearing his lips.</em></p><p><em>Or Gege dancing.</em></p><p><em>Or Gege in his arms.</em></p><p><em>Or everything, mixed in a stirring pot and manifests to a wicked devil in a form of Ghatsa Williams,</em></p><p><em>‘Go have fun with all those friends of yours,’ </em>pikir Gege, tersenyum licik. Tengkuknya yang dijelajahi oleh batang hidung Amar terasa memanas.</p><p>‘<em>I’ve marked you already, anyway.’</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=41202df8dca3" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[White in The Sea of Red]]></title>
            <link>https://medium.com/@congaxtion/white-in-the-sea-of-red-324a6b9e379c?source=rss-39788f313bba------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/324a6b9e379c</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Allen]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 19 Apr 2026 12:44:47 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-19T15:35:25.252Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*10sj5eJs080nKn715GB38A.jpeg" /></figure><p>Amar Ansya melirik papan skor di antara tribun.</p><p><em>2</em>8–32.</p><p>Tertinggal tipis.</p><p>Lampu Bale Santika di jam sembilan malam itu terasa sedikit menusuk matanya — memantul di lantai kayu yang licin dengan peluh para pemain yang menetes jatuh. Suara sepatu berdecit, beradu lihai dengan dentuman bola dan riuh teriakan <em>supporter.</em></p><p><em>Halftime break.</em></p><p>Amar mengusap peluh di pelipisnya, menoleh ke arah tribun Fakultas Hukum dengan napas terengah. Ia menyapu pandang, menatap satu per satu lautan <em>bomber </em>angkatan berwarna merah terang yang berdiri, menyemangati tanpa henti.</p><p>Namun, keberadaan dari sosok yang ia cari masih nihil. Wajahnya tertekuk.</p><p>Levi menepuk punggungnya, menyeringai penuh arti. “Nunggu si cantik, ya?”</p><p>“Siapa lagi,” tukas Amar singkat. Berusaha menelan rasa kecewa yang perlahan mengganggu fokusnya.</p><p>Seperti biasa, FEB bukan lawan yang mudah. Sering melakukan <em>friendly match </em>dengan fakultas itu membuatnya mengenali beberapa pemain emas mereka: <em>point guard </em>yang gesit, <em>center </em>yang kokoh dan nyaris tak terkalahkan. <em>Defense </em>yang luar biasa — Amar lebih suka menyebutnya menyebalkan.</p><p>Ia meneguk botol minumnya kasar.</p><p>Hingga kemudian, <em>chant </em>dari tribun FH yang ia kenal bergemuruh lebih liar.</p><p><strong>“Kalau takut pidana, takut masuk penjara, jangan berani kamu melawan FH!”</strong><br><em>*if you want to hear the tune biar kebayang, bisa cek: </em><a href="https://www.instagram.com/p/DRjWudUjT5W/">https://www.instagram.com/p/DRjWudUjT5W/</a> (detik 0:16)</p><p>Bukan, bukan bagian itu yang buat Amar membeku sempurna. Lirik itu sudah akrab di telinganya. Namun, setelahnya.</p><p><strong>“Kalau ditonton ayang, mau anterin pulang, jangan berani kalah di depan Ghatsa!”</strong></p><p>Amar sontak menegakkan badannya. Tanpa ia ketahui, wajahnya yang sudah memerah karena letih itu kembali memanas — stadion itu ramai dengan suara jahil seluruh penonton, ponsel yang terangkat untuk menyorot dirinya dan tribun fakultas hukum yang semakin ribut.</p><p>Ia bahkan tak sempat menatap Samuel dan Ozi yang tersenyum bangga, menjadi dalang atas semuanya: kehadiran Ghatsa hingga pergantian lirik <em>chant </em>yang begitu tiba-tiba.</p><p>Amar terpaku pada sosok yang begitu mencolok, baju putih di antara lautan merah. Di sana, dengan Ale di satu sisi dan Axel di sisi lain, Gege Williams berdiri tenang, kontras dengan riuh teman-temannya yang sibuk mengusili.</p><p><em>Hypnotic eyes with lashes so long were looking straight at him, creating a noise-cancellation effect</em> — <em>everything else vanishing like white noise.</em></p><p>“Gege.” bisiknya.</p><p><em>Breathtaking as ever.</em></p><p>“Amar Ansya dari FH! Pujaan hatinya dateng tuh!” suara komentator menggema, memancing reaksi tawa dan sorakan dari seluruh <em>arena.</em></p><p>Teman komentatornya menimpali, “Wah, FH curang nih, bawa senjata rahasia!”</p><p>Dari jarak yang terpatri, Amar bisa melihat rona pipi Gege yang mekar. Bibirnya mengerucut lucu, menahan malu. Amar tidak bisa menahan rasa senangnya — <em>that deep, possessive side of him is pleased with how Gege is standing on </em><strong><em>his </em></strong><em>side of the tribune. Surrounded by </em><strong><em>his </em></strong><em>friends. By </em><strong><em>his </em></strong><em>color.</em></p><p><em>He thinks about how good Gege would look wearing </em><strong><em>his</em></strong><em> jersey.</em></p><p>Bagai sihir, wajah tertekuk Amar berubah menjadi senyum bahagia dalam sepersekian detik. Astaga, Gege-nya benar-benar datang.</p><p>“CIEEE, AMAR!!!”<br>“Mar, fokus Mar!”<br>“Menangin Mar, malu nih ada Ghatsa!”</p><p><strong>“Kalau takut pidana, takut masuk penjara, jangan berani kamu melawan FH!</strong></p><p><strong>Kalau ditonton ayang, mau anterin pulang, jangan berani kalah di depan Ghatsa!”</strong></p><p><em>Chant </em>jahil itu diulang kembali, lebih keras. Bahkan, <em>supporter </em>dari FEB ikut menyuarakan sesekali.</p><p>Amar tidak mengindahkan. Dunia dan fokusnya menyempit hanya pada Gege-nya. Gege yang juga menatap lurus padanya. Amar biarkan dirinya tenggelam di tatapan dalam itu, <em>standing straight and proud just to Gege like an obedient puppy.</em></p><p>“Gege, liat sini juga dong!” beberapa pemain dari tim lawan berseru jahil, menoleh pada tribun fakultas hukum.</p><p>Tawa di <em>arena </em>pecah seketika. Namun, tidak dengan Amar yang melirik kesal.</p><p><em>No.</em></p><p><em>Look at me.</em></p><p><em>Only me, Gege.</em></p><p><em>Don’t you ever give those beautiful eyes for someone else.</em></p><p>Gege sama lihainya dalam mengabaikan keributan. Ia dengan santai melipat tangannya, menaikkan alisnya. Seolah berkata — <em>I’m here. For you.</em></p><p><em>Now, show me what you got.</em></p><p><em>Win this and I’ll let you take me home.</em></p><p>Sudut bibir Amar ikut terangkat. <em>Gege is here for him, and only him. The match is still ongoing, but he’s already so drunk in the feeling of victory.</em></p><p>“Woi!” tegur Harris, salah satu kakak tingkatnya. Tertawa lepas melihat Amar yang membeku. “Main yang bener tuh Mar, ditonton si cakep.”</p><p>Amar mengangguk mantap. Sebelum berbalik, ia sempatkan melirik sekali lagi ke tribun. Pada Gege yang masih menatapnya, tidak goyah oleh sorak-sorai penonton yang menjahili.</p><p><em>For others, that piercing gaze was meant to make the recipient shrink in fear. But Amar Ansya relished in that asserting glare; feeling his body alive with Gege Williams’ full attention on him. Like a fuel he needed to perform.</em></p><p>Peluit wasit kembali berbunyi nyaring. Bangkitkan kembali teriakan komentator dan dukungan dari arena.</p><p><em>Quarter </em>ketiga dimulai.</p><p>Amar menarik napas dalam, lalu membungkuk. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Fokusnya kembali ke lapangan, tajam dan terarah.</p><p><em>Look at me. Keep those enchanting eyes on me, Gege williams —</em></p><p><em>and I will win this for you.</em></p><p><em>Gege Williams is one second away from bolting away from this place.</em></p><p>Jumlah <em>total </em>Gege mengunjungi Bale Santika dalam empat semesternya sebagai mahasiswa bisa dihitung jari. Biasanya, ia hanya hadir di sisi <em>auditorium </em>untuk kuliah umum dan acara jurusannya sendiri.</p><p><em>Not for… this.</em></p><p>Di antara lautan warna merah dari <em>supporter </em>fakultas hukum yang mendominasi, Gege hadir dengan kaus putihnya bersama Ale, Axel, dan Lily. Beberapa pasang mata mengikuti geraknya, mengenali dan menyapa — Gege balas mengangguk, lemparkan senyum yang seperti biasa dibalas dengan rona dan salah tingkah.</p><p>“Berdiri sini Ge,” ucap Samuel.</p><p><em>Center view.</em></p><p>Gege menatap lurus — Amar Ansya terlihat jelas dari sini, dengan mata tajam dan tubuh yang bergerak lincah menggiring bola.</p><p><em>He looked devastatingly attractive.</em></p><p>Gege menggigit bibirnya pelan. Pikirnya berkhianat, mengingat kembali pertemuan mereka di kontrakan FH kala itu.</p><p>Dengan Gege yang duduk di pangkuannya.</p><p>‘<em>Come on, princess. Use your words.’</em></p><p>Ia mendengus pelan, mengibaskan udara di sekitarnya. <em>Was it always this hot in the area?</em></p><p>Ale dan Axel ikut melakukan <em>chant</em>, <em>like the traitor they are to their respective majors (that has already lost)</em>. Gege menyernyit saat suara dentuman <em>drum, </em>terompet, hingga riuh teriakan serempak mengguncang <em>arena.</em></p><p><strong>“Kalau takut pidana, takut masuk penjara, jangan berani kamu melawan FH!</strong></p><p><strong>Kalau ditonton ayang, mau anterin pulang, jangan berani kalah di depan Ghatsa!”</strong></p><p>Mata Gege membulat sempurna. Wajahnya memerah luas biasa, begitu terkejut dan hampir tidak memercayai apa yang didengarnya.</p><p>Tuhan, ia tahu Levi dan Samuel sudah meminta izinnya untuk meneriakkan nama Gege demi menyemangati Amar — <em>but Gege didn’t think it would be so… extra.</em></p><p>Ia menoleh di lapangan, bersamaan dengan mata Amar yang fokus padanya dan tidak pernah lepas.</p><p><em>Again and again, Amar and Gege are left with only the two of them, not minding every noise around them. Those eyes bore into Gege’s soul. Always at Gege. Just how Gege liked — no, preferred it.</em></p><p>Suara komentator ikut menimpali, nyaring dan penuh goda. Nama Ghatsa kembali diteriakkan di ujung <em>chant, </em>berulang tanpa ampun. Gege membiarkan. Hanya terus dan terus menatap lurus pada Amar.</p><p>Hingga permainan kembali dimulai. Bola kembali hadir, menari di antara gerak lincah para pemain.</p><p>“Bola kembali lagi ke Amar Ansya! Hakim dari FEB mulai nutup ruang, tapi Amar berhasil <em>crossover!”<br>“Three-point attempt from Amar Ansya…”<br>“…And inside it goes!!! </em>Masuk! Tiga poin dari Amar Ansya untuk Fakultas Hukum!”</p><p>Peluit panjang itu berkumandang, tandakan kemenangan mutlak untuk fakultas hukum yang sudah riuh berteriak penuh euforia. Pukul sepuluh malam, lautan merah itu berpesta.</p><p>“Bener-bener taktik luar biasa dari FH sih, ya. <em>Quarter </em>ketiga sampe terakhir, langsung main dominan banget dia.”</p><p>Komentator lainnya menimpali. “Itulah pentingnya punya <em>lucky charm, </em>ya. Langsung semangat ’45, buset!”</p><p>Gege menyeringai. Menyukai bagaimana dari seluruh sorak yang mendukungnya, pujaan dari panitia, dengan tubuh yang masih dipeluk oleh teman-temannya, mata Amar Ansya justru menemukan Gege tanpa ragu — mencari validasi dari Gege yang menunggunya.</p><p>Seolah hal lain tidak berarti apa-apa.</p><p><em>Good, </em>Gege tersenyum miring. <em>Keep those eyes on me.</em></p><p>Ia biarkan Amar berjalan menghampiri, melepaskan tubuhnya dari kerumunan orang-orang dan menatapnya. Gege menuruni tribun dengan perlahan, tangannya ia lipat di belakang.</p><p>“Gege.”</p><p><em>Gege hums. He takes Amar’s appearance slowly</em> — <em>he loves it when Amar looks up to him like he couldn’t believe what he’s seeing. He looked super good, hair disheveled, breath uneven, and sweaty.</em></p><p><em>Like a wild lion.</em></p><p>Gege merasakan hawa panas merambat perlahan di tubuhnya.</p><p>Ia mengalihkan pandang pada teman-teman Amar yang sibuk merayakan — menahan senyum saat beberapa dari mereka membuang muka, jelas-jelas melirik mereka berdua.</p><p>Memperhatikan. <em>Wanting to know how they dance around each other — the famous push-and-pull duo of Gege Williams and their major’s golden boy.</em></p><p>Gege tidak peduli, justru menikmati perhatian itu. Ia menghampiri Amar yang berdiri — napasnya masih terengah, tidak fokus. Jelas adrenalin masih mengalir dalam tubuhnya. Wajah sayu itu membawa Gege pada kenangan di Bandung pada hari ulang tahunnya.</p><p><em>Sweet, confused boy like a kitty.</em></p><p>Gege melipat kedua tangannya di dada, tersenyum pelan. “<em>I told you I’ll come.</em>”</p><p>“Tapi telat,” Amar mendecih. Gege melirik pada tangan Amar yang mengepal — menahan diri setengah mati dari menyentuhnya.</p><p><em>Cute</em>.</p><p>“<em>What can I say?</em>” Gege mengangkat bahu. Matanya menyapu wajah hingga dada Amar — garis rahangnya yang penuh keringat, <em>jersey </em>yang menempel ketat dan membentuk otot tubuhnya. Matanya naik kembali pada wajah Amar yang merona. “<em>I like keeping men on edge.</em>”</p><p>“<em>So mean to me,</em>” bisik Amar. <em>His eyes darken, noticing Gege’s gaze.</em></p><p>Gege tertawa pelan. “<em>Do you not like it?</em>”</p><p>Amar mendekat. Abaikan beberapa pasang mata yang gagal berpura-pura tak peduli, menatap mereka dengan terbuka.</p><p>“<em>You know I like it very much when you’re mean to me,</em>” bisiknya serak. Dari jarak sedekat ini, Gege dapat rasakan hawa panas dari tubuhnya.</p><p>Amar menoleh sekitar, sebelum kemudian matanya kembali mengunci pada Gege. <em>Daring him to look away.</em></p><p>Ia berbisik pelan, “<em>You’d look good in red, you know. In my jersey.</em>”</p><p>“Lo pasti pengen ya liat gue begitu? Pake <em>jersey </em>lo, ada nama dan angka lo di punggung gue…” Gege memainkan ujung <em>jersey </em>Amar. Buat Amar bernapas kasar.</p><p>“<em>Like you own me.</em>”</p><p>Amar melingkarkan tangannya di pergelangan tangan Gege. <em>Gege shivers; loving how pretty his lean hands look on Amar’s hold.</em></p><p>“Pasti cantik banget…” gumam Amar dengan suara tenang. Matanya turun dengan sengaja pada tubuh Gege tanpa rasa malu, seolah membayangkan. Buat tubuh Gege meremang di bawah tatapnya.</p><p>“…Yang paling cantik. <em>Branded as mine, with my name on you.</em> Kalau lo izinin juga gue pakai nama Ghatsa dan angka tanggal lahir lo di <em>jersey </em>gue, Ge.”</p><p>“<em>I’m not yours,</em>” tantang Gege tajam.</p><p>“<em>Yet here you are. For me,</em>” balas Amar tak kalah sengit.</p><p><em>God, Gege wanted nothing more than to wipe that smug smirk off his stupid, handsome face.</em></p><p>“WOI SINI FOTO DULU, JANGAN CIUMAN!”</p><p>Teriakan teman-teman mereka memecah hawa berat di antara mereka — <em>sipping to thin air. </em>Amar mendecak pelan, melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Gege.</p><p>“Ikut, ya? Foto sama gue.”</p><p>“Lo mau gue ikutan? Lo aja sama anak fakultas lo.”</p><p>Amar menatapnya seolah itu adalah pertanyaan retoris yang tidak perlu memperoleh jawaban. “<em>I want you there with me in my win, Ge. </em>Kalau ada yang berani protes, ngomong sama gue. <em>I’m the one who brings the trophy to the team anyway.</em>”</p><p>Gege mendecih, berjalan ke arah teman-teman Amar yang memerhatikan dengan senyuman jahil.</p><p>Tangan Amar tidak pernah benar-benar pergi — membimbing Gege, hangat menekan di pinggangnya seolah pernyataan kekuasaan dalam tanpa suara.</p><p>Membawa Gege lebih dalam untuk mengenal dunianya.</p><p>Langkah mereka berakhir pada lingkaran teman-teman Amar, dengan Ale yang juga duduk santai di samping Samuel dan Ozi. Levi dan Danny menepuk tempat kosong di tengah-tengah, memberi ruang untuk Amar dan Gege.</p><p>Amar tersenyum lebar pada kamera yang dipegang oleh pada panitia yang tengah menghitung mundur.</p><p>Duduk di tengah, dengan piagam kemenangan di tangan kanannya — dan lelaki pujaannya dalam rangkulannya.</p><p>Amar menariknya lebih dekat. <em>His smile went wider, pleased when Gege showed no resistance and leans back to him. Letting Amar smell more of his sweet scent, high and drunk on it more than his basketball victory.</em></p><p>Putih di antara lautan merah, dengan piagam kemenangan di tengah-tengah mereka.</p><p>Putih di antara lautan merah dengan perayaan yang masih tumpah-ruah, Amar menarik Gege mendekat, berbisik pelan. “Pulang gue anter, ya?”</p><p>Gege melirik, mengangguk pelan. Lagi-lagi, lidahnya kelu; namun rona merah di telinga hingga tulang pipinya sudah menjadi jawaban mutlak bagi Amar.</p><p><em>Tonight, Amar felt like the biggest winner of all.</em></p><p><strong>“Kalau ditonton ayang, mau anterin pulang, jangan berani kalah di depan Ghatsa”?</strong><em> Amar wouldn’t even think of losing in front of his Gege Williams.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=324a6b9e379c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[You Say Jump, I’ll Say How High]]></title>
            <link>https://medium.com/@congaxtion/you-say-jump-ill-say-how-high-1c907af39170?source=rss-39788f313bba------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1c907af39170</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Allen]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 15 Apr 2026 18:52:07 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-15T20:25:17.329Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/680/1*_LX3nr_gOBjhPM49fIOXyQ.png" /></figure><iframe src="https://cdn.embedly.com/widgets/media.html?src=https%3A%2F%2Fopen.spotify.com%2Fembed%2Ftrack%2F0mL82sxCRjrs3br407IdJh%3Futm_source%3Doembed&amp;display_name=Spotify&amp;url=https%3A%2F%2Fopen.spotify.com%2Ftrack%2F0mL82sxCRjrs3br407IdJh&amp;image=https%3A%2F%2Fimage-cdn-fa.spotifycdn.com%2Fimage%2Fab67616d00001e024ab2520c2c77a1d66b9ee21d&amp;type=text%2Fhtml&amp;schema=spotify" width="456" height="152" frameborder="0" scrolling="no"><a href="https://medium.com/media/bd58b342bea222ce27ccee3a315c8662/href">https://medium.com/media/bd58b342bea222ce27ccee3a315c8662/href</a></iframe><p><em>cw // usage of feminine terms (princess)</em></p><p>Kontrakan fakultas hukum itu terlihat lengang. Lampu taman menyala dengan temaran, memantul di permukaan mobil dan motor yang terparkir rapi di halaman. Gege sebarkan pandangnya pada bangunan dua lantai itu.</p><p><em>For a home mostly used to arrange hangouts or parties, it’s quite the luxury. But it belongs to the law major, so it fits, in a way, he supposes.</em></p><p>Ia mengusap lengannya pelan, berjalan masuk. Banyak hal yang ia rutuki sembari langkahnya maju lebih dekat pada pintu masuk: Levi yang memburu-burui hingga ia tak sempat mengambil jaket, suhu rendah Jatinangor yang menusuk, dan laki-laki yang membuat kepalanya tak bisa tenang.</p><p>“Gege!”</p><p>Panggilan itu menarik Gege kembali sebelum pikirnya berdesir lebih jauh ke mata abu-abu, mengubur dalam-dalam perasaannya sebelum naik ke permukaan tanpa izin.</p><p>“Nih buku lo,” Gege menggerutu. Kesalnya tidak bertahan lama — ia mengusap pelan rambut keriting Levi yang menggelitik dagunya dan tengah memeluknya erat.</p><p>Ia memanfaatkan sepersekian detik pelukan itu untuk menyapu sekelilingnya. Beberapa teman Levi menyapa, namun presensi dari satu orang yang ia cari tak kunjung ada.</p><p>Hingga ia melihatnya.</p><p>Amar Ansya turun dari lantai dua, santai dengan satu tangan yang memegang ponsel di telinga. Ia menggunakan <em>hoodie</em> Red Bull dan celana <em>jeans</em>-nya — yang di hari lain mungkin akan Gege hakimi setengah mati — namun, hari ini, ia mendadak kelu.</p><p>Saat mereka beradu tatap, langkah Amar berhenti sejenak.</p><p>Namun, secepat mata itu jatuh padanya, secepat itu pula ia mengalihkan perhatiannya. Ia berpaling tanpa menyapa, melangkah ke arah teras seolah Gege bukan orang yang harus ia sapa.</p><p><em>Amar walks away like Gege is not someone he recognizes</em> — <em>or deemed important enough to greet.</em></p><p><em>Look at me.</em></p><p><em>Keep your eyes on me.</em></p><p><em>Don’t look away from me.</em></p><p>“Ge?”</p><p>Apapun ekspresi yang tengah dikenakan Gege — terkejut, marah, kesal — sedih — buat senyum jahil Levi luntur. Ia mengikuti arah pandang Gege ke teras — mendapati punggung Amar yang melangkah ke sofa.</p><p><em>Gege doesn’t really understand why it hurts, but it stings. More than he’d like to admit.</em></p><p>“Gue — “ Gege menelan ludah. “Gue balik aja, Lev.”</p><p>“Gege?” Suara Ale hadir menyapa.</p><p><em>He took a deep breath, steeling himself. No, Gege is not affected with Amar‘s indifference. With Amar treating him like a total stranger.</em></p><p><em>With Amar getting pushed too much he finally walked away.</em></p><p>“Gue pamit balik duluan,” Gege akhirnya berkata. Memaksa seluruh raganya untuk tidak tunjukkan perasaannya.</p><p>“Gege,” Ale menahannya, menggenggam tangannya lembut. Selalu penuh cinta dan tidak pernah memaksa. “<em>Talk to him. Please.</em>”</p><p>Gege menengus. “<em>He walks past me like he saw a ghost. Why would he even welcome me there?</em>”</p><p>Levi tersenyum ringan. “<em>Believe me, Amar would never, ever send you away, Ge.</em>”</p><p>“<em>Please,</em>” Ale tidak melepaskan tatapannya pada Gege. Memohon. “<em>For both of you.</em>”</p><p>Gege menghela napas panjang. <em>Being confronted regarding feelings, especially face-to-face, is not really his thing. Gege hates being vulnerable more than anything. He loves to be in control. Loves to be on the upper hand.</em></p><p><em>He hates any circumstances where he had to show weakness.</em></p><p>Namun, ia akhirnya menurut. Menyeret langkahnya ke teras, menekan setengah mati rasa cemas yang mulai naik ke permukaan. Gege tidak menyukai perasaan buruk yang bertengger — terlebih karena ia tahu penyebabnya.</p><p><em>And the said reason is already waiting for him. Watching him like a hawk with that piercing gaze, face devoid of any expression. Just observing.</em></p><p>Amar melirik sekilas pada temannya yang masih duduk di sampingnya. Temannya menoleh — mengangguk paham. Menyapa Gege sebelum meninggalkan mereka berdua.</p><p><em>Gege felt like the world tilted to an axis. He took a deep breath before walking closer.</em></p><p>“Kenapa berdiri begitu? Sini duduk.” ucap Amar ringan, menepuk posisi kosong di sampingnya.</p><p>Ada tiga kursi lain selain tempat yang ditunjuk Amar. Gege melirik, menimbang. Namun, saat Amar menaikkan alisnya — menunggu, menantang — Gege mendengus.</p><p>Dengan percaya diri yang penuh paksa, ia duduk persis di samping Amar. Pura-pura tidak menyadari bagaimana lutut mereka bersentuhan.</p><p>Diam menyelimuti mereka, menyisakan suara percakapan samar dari dalam kontrakan. Entah pada menit ke berapa, Amar akhirnya menghela napas, menoleh.</p><p>“Kenapa ke sini? Kakak Loui-nya udah balik ke Cambridge?”</p><p>Gege mendelik. <em>Hating the way ‘Kakak Loui’ rolls on that tongue like venom. He hates the way those knowing eyes pierced right through him, like he knows where to stab and where it hurts.</em></p><p><em>Admittedly, he hates how this side of Amar makes him want to run — away or to his arms is an answer only God and Gege will ever know.</em></p><p>“Gak mau jawab, Ge?” Amar bertanya santai. Tidak terburu-buru. Ia bersandar pada punggung sofa, membentangkan tangannya di sandaran. “Kalau mau diem-dieman, gue bisa duduk di sini sampai pagi.”</p><p>Matanya naik, melirik Gege. Gege berusaha tepis ingatannya yang membawanya pada tatap sayu Amar di hari ulang tahunnya. “<em>Your call.</em>”</p><p>Gege menggigit bibirnya. Akhirnya membuka suara. “<em>You haven’t been in contact with me for awhile.</em>”</p><p><em>Wrong thing to say. </em>Gege mendecih saat senyuman jahil itu muncul. “Kepikiran, ya? Kangen? Bukannya ada Kak Loui?”</p><p>“<em>He wasn’t</em> — “ Gege menghela napas kasar. “<em>It wasn’t like that between me and him. He’s</em> —<em> he’s like a brother</em>.”</p><p>“Dan lo bilang ini ke gue karena…?” Amar menaikkan alisnya. <em>Gege hates himself for thinking that was hot.</em></p><p>“Karena,” Gege mengangkat dagunya dengan angkuh, mencoba merebut kembali kendali yang terasa semakin lepas. “<em>Clearly you’re affected from my interaction with him.”</em></p><p>“<em>Is it?</em>” Gege yang enggan menoleh mendengar Amar menggeser posisinya —membuat bahu mereka nyaris bersentuhan.</p><p>“<em>Judging by the way you’re sitting next to me, at my major’s house…</em>” tatapnya turun pada lutut mereka yang bersentuhan, lama dan penuh arti. “<em>I think I’m not the only one affected by our lack of contact.</em>”</p><p>Gege membuang mukanya. Lidahnya kelu. Tidak ingin mengiyakan, namun tidak mampu menyangkal.</p><p>“<em>Tell me this, then.” </em>Amar tegakkan tubuhnya — kemudian mendekat. Condong ke arah Gege, menghapus sisa jarak di antara mereka. “<em>Did he sit this close to you too, like me?</em>”</p><p><em>Gege trembles softly, all too aware of the skin-to-skin contact between them. With the ghost of Amar’s breath on his chin. He notes the way Amar licked his lips noticing the movement.</em></p><p>“Ghatsa, gue nanya sesuatu.”</p><p>“<em>No,</em>” Gege menjawab terlalu cepat. “<em>He doesn’t</em>.”</p><p>“<em>Did he ever make you feel like you should come to him when he doesn’t contact you at all?</em>” tanya Amar. “<em>Like how you did to me, for example.</em>”</p><p>Gege menggigit bibirnya kencang sebelum menggeleng.</p><p>Saat tangan kuat itu melingkar di pinggangnya — persis seperti bagaimana Gege menuntunnya dua bulan lalu — Gege membiarkan. Membiarkan Amar menariknya mendekat hingga sebagian tubuhnya bersandar di ujung bahu Amar.</p><p>“<em>Do you like him, Gege?</em>” tanya Amar dengan tenang. Kepalanya miring sempurna ke arah Gege, menguncinya; tidak membiarkan sedikitpun kebohongan yang lewat.</p><p>Deru napas Amar yang hangat sapa telinganya, buat Gege melemah. Fokusnya mulai kabur.</p><p>“…<em>or is it my attention on you and him that you like?</em>”</p><p>“<em>I — </em>“ Gege terbata, bibirnya mengerucut.</p><p><em>He hates how Amar is able to pin him with such strong, strong gaze.</em></p><p>“Dijawab, Gege cantik,” Amar tidak menaikkan suaranya — <em>he goes lower. Deep, soft baritone swimming on Gege’s thin line of sanity. </em>“<em>Simple question.</em>”</p><p>Gege menelan ludah. “Gue udah bilang,<em> he’s not</em> — “</p><p>“Lo suka sama Loui?” Amar memotong. Jemarinya di pinggang Gege bergerak pelan. Mengelus naik dan turun —</p><p><em>Coaxing the stubbornness out of him.</em></p><p>Gege akhirnya menggeleng lembut.</p><p>Amar mengamati. Satu, dua, entah berapa detik sehingga akhirnya — sudut bibirnya terangkat. <em>Replacing the nothingness of his expression.</em></p><p><em>God, Gege hates the fact that he felt relieved seeing that stupid, idiot grin of his. It felt wrong to see him so void of emotions.</em></p><p>“<em>That’s good,” </em>ia mengangguk mantap. “<em>See? Not that hard to admit, no?</em>”</p><p>“<em>Good? How so?</em>” <em>Gege couldn’t help but to ask.</em></p><p>“Karena,” balas Amar santai, jempolnya mengelus pinggang Gege dengan lembut. “<em>This game is just between us, Gege. I don’t value another factor. Not even a guy you see as a brother.</em>”</p><p>“<em>Are you always this possessive with your</em> — “ wajah Gege memucat. Lidahnya kelu. Di sampingnya, senyum Amar melebar. Licik, seolah Gege berhasil masuk di jebakannya.</p><p>“<em>With my what?</em>” tanya Amar. Kepalanya ia miringkan, menatap Gege yang menunduk dengan wajah merah padam. Ia merangkul Gege lebih dekat.</p><p>“<em>With my what, Gege? Come on, princess… use your words.</em>”</p><p>Gege masih menolak dengan seluruh raganya. Tangannya penuh keringat, detak jantungnya terlalu nyaring <em>he felt like puking, all too aware of Amar in all his senses. Too much, too close, too</em> —</p><p>“<em>Stubborn princess,</em>” Amar mendecih, mengelus pinggangnya pelan. <em>His gaze is sharp, one not unlike a lion. Gege shivers at the contact.</em></p><p>“Gue tanya baik-baik, Ghatsa,” ia mengucap lembut, penuh hati-hati. “<em>Is there someone else…? Loui, or other…?</em>”</p><p>Gege melirik. Bibirnya gemetar. Tatap Amar turun pada bibirnya — kemudian naik kembali. “<em>…Or do you just want me to think that way?”</em></p><p>Saat Gege masih diam dengan keras kepala, Amar mengelus rambut Gege perlahan.</p><p><em>Gege despises how it made his eyes flutter, like a pleased princess.</em></p><p>“<em>Because if this is a game you want to play… we play it right, Ghatsa.</em>” Mulut itu mengucap tegas tanpa penawaran. “<em>Just us. Not him, not anyone.</em>”</p><p>Ia kembali menarik Gege mendekat, membawanya untuk duduk setengah di pangkuannya. Gege — <em>with his body, dignity, and resolution already shutting down</em> — bersandar seluruhnya di dadanya, berserah diri dan biarkan kepalanya bertengger di antara leher dan bahu Amar.</p><p>“Lo dideketin banyak orang, gue udah biasa. Lo mau tarik-ulur gue sampe gue gila, mau judesin gue, galak sama gue, <em>you want me to beg and cry and be needy for you…</em>” <em>Amar prolongs, </em>“<em>I’ll play along. You say jump, I’ll say how high.</em>”</p><p>Tangan itu mengelus pinggang Gege pelan. “<em>But it’s different when you welcome people to your life like it mattered. </em>Jangan bawa orang lain <em>in this game of us, </em>Gege. <em>I don’t share.</em>”</p><p><em>Gege’s eyes were already so glassy, drunk with Amar’s hold, breath, dominance, every single thing. His sanity was already long gone, basically purring and curling on Amar’s hold like he had zero dignity left.</em></p><p><em>“Are we clear, </em>Gege cantik?” bisik Amar lembut. <em>No more territorial or dangerous. Just sweet and genuine.</em></p><p><em>Gege felt his eyes brimming with tears</em>. Ia mengangguk perlahan. “<em>I’m sorry.</em>”</p><p><em>Amar caresses his arms softly, caging him from the coldness. Up, down, repeating the motions as Gege whines softly.</em></p><p>“<em>Apology accepted. Aw, don’t cry,</em>” ujar Amar. “<em>Baby. Darling. Are you overwhelmed? Oh no. Can I kiss your forehead, Gege?</em>”</p><p>Gege mengangguk — <em>he felt like his response was reduced to that and only that.</em></p><p>“<em>Beautiful Gege,</em>” bisik Amar, merengkuhnya lembut. Tubuh Gege gemetar sempurna saat ciuman lembut itu mendarat di keningnya — <em>so soft, making him turn to a total mush.</em></p><p>“<em>Ghatsa Abyan Williams. Darling. Baby. Now that I’ve seen you this pliant, this beautiful… you’ve just signed a contract with the devil. I will never let you go</em>.” Amar kembali mencium keningnya yang penuh peluh.</p><p>“<em>You’re my fucking religion.</em>”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1c907af39170" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[We can move fast, then rewind]]></title>
            <link>https://medium.com/@congaxtion/we-can-move-fast-then-rewind-4b6f8c52d2b8?source=rss-39788f313bba------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4b6f8c52d2b8</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Allen]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 11 Apr 2026 22:15:00 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-12T16:03:48.440Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/762/1*H0l7APLnb7HFLM6esogqag.png" /></figure><iframe src="https://cdn.embedly.com/widgets/media.html?src=https%3A%2F%2Fopen.spotify.com%2Fembed%2Ftrack%2F22I3h5AOENlH4CqXJsEbFR%3Futm_source%3Doembed&amp;display_name=Spotify&amp;url=https%3A%2F%2Fopen.spotify.com%2Ftrack%2F22I3h5AOENlH4CqXJsEbFR&amp;image=https%3A%2F%2Fimage-cdn-fa.spotifycdn.com%2Fimage%2Fab67616d00001e02adadb86bf3555eb27a383c76&amp;type=text%2Fhtml&amp;schema=spotify" width="456" height="152" frameborder="0" scrolling="no"><a href="https://medium.com/media/c4740e66de96f3a9b344b1a83cfd311a/href">https://medium.com/media/c4740e66de96f3a9b344b1a83cfd311a/href</a></iframe><p><em>cw // usage of alcohol &amp; e-cigarettes, submissive!Amar (no nsfw scenes he’s just a good obedient boy like that!!!) (pls denger lagunya sambil baca for maximum experience #anjay)</em></p><p>“<em>Enjoy today, Mar, this one’s for you!</em>”</p><p>Ucap teman-temannya terus menggema. Bercampur dengan tawa, denting gelas, sentuhan, dan suara <em>bass </em>yang bergemuruh hingga ke dada.</p><p>Amar mendengus. Ia mencoba, sungguh. Membalas sapa, ikut tertawa, berbagi cerita. Membiarkan tubuhnya dibawa kesana-kemari, ditarik lebih dekat.</p><p>Tradisi sederhana bersama teman-temannya seharusnya sudah cukup untuk membuat hari ulang tahunnya menyenangkan. Sayangnya, malam ini, gemerlap itu terasa hambar.</p><p><em>He downed himself in the Negroni he regretted buying</em> — <em>burning, bitter, sharp, but not enough to make him feel better.</em></p><p>Amar merutuki dirinya sendiri — benarkah absensi dari ucapan ulang tahun maupun raga seorang Gege Williams mampu membuatnya begitu tidak karuan?</p><p><em>He thinks of sharp, cold eyes with long eyelashes he’d love counting all night long.</em></p><p><em>And God, he wants.</em></p><p>Ia mendecih. Memijat kepalanya perlahan, seolah itu bisa membantunya dalam mengusir bayangan yang terlalu nyaman mengganggu. Ia mencoba fokus pada sorot lampu, suara Mary J. Blige, hingga Samuel yang bernyanyi dengan <em>microphone </em>di area DJ.</p><p><em>Still, that persistent figure haunts him. Not replying his messages, vanishing like thin air on the day Amar wanted to see him the most.</em></p><p><em>Driving him insane.</em></p><p>Hingga kemudian, mata Amar menangkapnya.</p><p>Beberapa meja di depan. Bersandar malas di dinding gelap dengan kemeja Tommy Hilfiger dan celana putihnya. <em>Looking strikingly royal as ever in this dimly lit bar full of people.</em></p><p><em>Sharp, cold eyes with long eyelashes he’d love counting all night long.</em></p><p>…<em>Is currently locking stares with him. In a flesh.</em></p><p><em>Knowing. Waiting.</em></p><p><em>Gege is here.</em></p><p>Amar mengerjap pelan, menggelengkan kepalanya. Menolak ilusi yang bermanifestasi menjadi raga Gege seutuhnya, seolah kedipnya bisa membuat bayangan itu pergi.</p><p>Namun, ia buka matanya, dan laki-laki itu masih santai berdiri.</p><p>Seketika, dunia sekaligus dada Amar menyempit. Tidak lagi ada musik yang kencang, tangan yang menariknya, atau parfum yang membuatnya sakit kepala. Hanya Gege Williams dengan tatapannya yang tenang, penuh kalkulasi, tak goyah.</p><p><em>Gods, he’s so filthily handsome. Or pretty. Or both, and it was so unfair. Hair perfectly brushed as usual, carrying himself with immense confidence like he owns the place and everything underneath.</em></p><p><em>Like he knows Amar was waiting.</em></p><p><em>Wanting</em>.</p><p>Alis tebal itu naik perlahan, buat tenggorokan Amar terasa kering. Tubuhnya menegang saat tatap bibir tipis Gege sedikit dibuka, keluarkan asap tipis dari rokok elektriknya.</p><p>Tanpa ia sadari, Amar menjilat bagian bawah bibirnya.</p><p>Kemudian, Gege bangkit dari dinding tempatnya bersandar. Ia menatap Amar — satu, dua, tiga detik, sebelum melangkah. <em>Right to the middle of the dance floor.</em></p><p><em>He threw a glance back at Amar, like a siren inviting its prey with that piercing eyes.</em></p><p><em>And God does Amar feel like a prey. He’s just so, so weak.</em></p><p>Tanpa melepas tatapnya pada Gege yang mulai tenggelam dalam lautan manusia, Amar meletakkan gelasnya secara acak. Mengabaikan seruan protes orang-orang di sekitarnya.</p><p>Persetan dengan segalanya. Fokus Amar hanya ke satu orang saja.</p><blockquote><strong>I left all the doors unlocked and you said you’re on your way.</strong></blockquote><p>Amar rasakan tubuhnya menghangat saat hadirnya disambut dengan senyum miring penuh kemenangan dari Gege yang menunggu.</p><p><em>Like he expected that Amar would follow; like a good boy he is.</em></p><p>“<em>Birthday boy,</em>” <em>that sharp tongue lulled</em>. <em>Calm, venom wrapped in dizzying sweetness.</em></p><p>Dalam sadarnya yang sudah setengah kabur, Amar kembali mengerjap tanpa jawaban yang koheren. Matanya sayu, naik menatap Gege. <em>Glassy and cloudy under the lights. </em>Pipinya bersemu merah karena pengaruh alkohol.</p><p>Ia menunggu — apapun — dari mata dingin yang kini fokus padanya itu.</p><p><em>Gege’s attention. On him. All over him.</em></p><p><em>God, Amar felt ecstatic. Addicted. Stupid.</em></p><p>“<em>Gege.</em>” suaranya serak menyapa, mengetes nama manis itu di lidahnya. Tenggorokannya terasa terbakar. Tangannya bergerak dengan refleks, hendak menarik tubuh Gege agar menjauh dari kerumunan manusia mabuk yang menari. “<em>You’re here.</em>”</p><p>Gege terkekeh. Melirik sekilas ke belakang Amar. “Kok nyamperin gue? Kasian tuh semua kakak dan adek-adekan lo ditinggal. Gue dipelototin nih, <em>for taking their beloved Amar from them.</em>”</p><p>“<em>Don’t care,</em>” Amar menjawab yakin; tanpa jeda, tanpa menoleh, tanpa peduli. Pada teman-temannya, pada siapapun yang melihat.</p><p>Bahkan jika Gege menyuruhnya bersujud, di tengah tubuh-tubuh manusia di bawah pengaruh alkohol ini, <em>Amar would gladly do it in a heartbeat.</em></p><p><em>He’s here. Like how Amar begged him to be.</em></p><p><em>The best, devastatingly alluring present he’d gotten.</em></p><blockquote><strong>When you get here, don’t you say a word, got no time to play.</strong></blockquote><p>“<em>Dance with me,</em>” lirih Amar dengan penuh getar. Matanya menatap Gege dengan begitu ingin, penuh harapan di balik kesadarannya yang sudah kacau. “<em>Please.</em>”</p><p>“<em>Look at that. Resident playboy, pleading me for a dance. Well, since you asked so nicely…</em>” Gege tersenyum penuh arti.</p><p><em>Just a second after, Gege did the unthinkable.</em></p><p>Ia meraih pergelangan tangan Amar — jemari lentik itu melingkar di tangannya, sentuhan pertama setelah mengenalnya sekian lama.</p><p>Membimbingnya untuk menyentuh pinggangnya.</p><p>Amar rasakan napasnya tercekat. <em>God, he must have sounded so pathetic and needy, but he doesn’t care</em>. <em>He’s too lightheaded, too under the influence, all because of this guy. Not even that fucking Negroni could make him feel this light.</em></p><p><em>This alive.</em></p><p><em>Their bodies pressing against each other, so warm, a perfect fit.</em></p><p>Netranya jatuh pada jemarinya yang melingkar sempurna di pinggang Gege. <em>Slim, pretty waist just like the rest of his body.</em></p><p><em>He tries to surpress a soft moan when Gege’s hands are placed right on his arms. Holding onto each other. So close. So near. So dangerously kissable… God, Amar can just</em> —</p><p><em>“Dance, and nothing else, Amar,</em>” desis Gege seolah peringatan, memecah lamunannya. Amar buru-buru mengangguk, takut jika Gege berubah pikiran. Tangannya mengencang di pinggang Gege — membawa keduanya untuk bergerak pelan.</p><p>Kanan, kiri. Mengikuti ayunan lagu yang hadir sebagai alibi bagi Amar untuk tenggelam dalam wajah Gege yang tersenyum simpul seolah mempelajarinya.</p><blockquote><strong>I know you think that you know me, but you ain’t even seen my dark side.</strong></blockquote><p>Lidah Amar benar-benar kelu. Tubuhnya seolah kehilangan fungsinya secara sempurna, hanya fokus pada tubuh Gege yang berada di genggamannya, dalam sentuhnya, hangat dan bergerak pelan ikuti irama.</p><p>Menyiksa Amar dengan manisnya jarak yang dilarang untuk dilewati.</p><p>“<em>You wanna do things to me,</em>” Gege tertawa lembut. Kilat matanya licik, menyeringai. “<em>Don’t you, hmm?</em>”</p><p>Amar dengan bodohnya mengangguk. Bibirnya masih setengah terbuka, namun tidak mampu merangkai kata.</p><p>Gege tersenyum puas. “<em>So cute when you’re incoherent.</em>”</p><blockquote><strong>It’s reserved for you only, so, baby, do it right, do me right.</strong></blockquote><p>Tangan kurus yang semula bertengger di lengan atasnya itu meraba rahang hingga tulang pipi Amar, menyusuri wajah Amar dengan ujung kukunya. Mengulur Amar lebih dalam di jebaknya. Menyapa sisi yang tidak pernah Amar sangka bisa membuatnya begitu gila.</p><p><em>He felt all of his body tingle. His soul saying goodbye. His sanity taking a day-off.</em></p><p>“Mm,” <em>he hums softly, leaning to Gege’s touch.</em></p><p>Matanya tetap terkunci pada Gege — menatapnya penuh arti. Menariknya lebih dalam pada pusaran hitam penuh janji.</p><p><em>Just enough to drive him crazy.</em></p><blockquote><strong>We can go overtime. We can move fast, then rewind. When you put your body on mine and collide, collide.</strong></blockquote><p>Jemari lentik itu berlabuh pada bagian bawah bibir Amar, menggoda dengan sentuhan keji yang panjang dari ujung kanan hingga kiri bibirnya. Buatnya gemetar hebat.</p><p>“<em>Who’s a good boy,</em>”</p><p>Tanpa ragu, Amar menegakkan tubuhnya, menjawab. “<em>Me.</em>”</p><p>Gege tertawa puas, senyum nakalnya masih terpatri. Amar meringis saat ujung kuku Gege beradu pelan dengan dagunya. “<em>So putty. Like a cat, aren’t you?”</em></p><p>Amar melirik pada bibir Gege yang bertemu dengan ujung rokok elektriknya. Kemudian, Gege mendekat.</p><p>Memiringkan kepalanya.</p><p>Mengundang Amar untuk mengikis sisa jarak.</p><blockquote><strong>It could be one of those nights where we don’t turn off the light. Wanna see your body on mine and collide, collide.</strong></blockquote><p>Namun, ciuman itu tidak pernah datang. Yang hadir justru manis wangi <em>berry, </em>bersamaan dengan asap yang tanpa sadar Amar hirup bersamaan dengan tarikan napasnya.</p><p><em>What the fuck.</em></p><p>Amar mengerjap setengah sadar. <em>Or maybe he’s too sober after what had happened. He glanced at Gege who’s already straightened back to his position, smiling wickedly with that devastating smile.</em></p><p><em>Like he knows.</em></p><p>“Gege…” Amar menggeram. <em>Desperate. Needy. Embarassing.</em></p><p><em>And Gege, wicked, wicked Gege, just hums softly.</em></p><p>“<em>Greedy boy,</em>” godanya pelan. Jari telunjuknya ia gunakan untuk mengangkat wajah Amar, memaksa Amar untuk kembali menatap mata tajam itu.</p><p>Amar kembali menutup matanya. Amar kembali jatuh ke permainan lelaki di depannya. Amar kembali dibohongi olehnya.</p><p>Bibir itu tidak pernah menyambutnya.</p><p>Asap <em>berry </em>itu kembali menyapa — dingin, meluruh di pipi hangatnya. Sapaan jahil dari Gege yang terus dan terus menggodanya.</p><p>Kemudian — astaga, kemudian — ada hangat napas yang menempel tepat di telinga kirinya. Buatnya merinding sempurna, tercekat, terbelenggu dalam jebakan manis dengan mata indah yang tengah memiringkan kepala.</p><p>Tangannya mengelus rahang Amar perlahan. Amar dapat mencium wangi rokok elektrik itu di napas Gege — berdoa agar ia masih mengingatnya hingga pagi dan sadar menjemputnya.</p><p>“<em>Happy birthday, big boy.</em>”</p><p><em>He whispered. Wicked, wicked Gege. Like it’s a dirty little secret.</em></p><p>Suara itu mendayu sempurna, rendah dan penuh goda. Bisikan lembut yang membuat lututnya melemah, pikirnya meracau.</p><p><em>Amar swore he could feel Gege’s ghosting lips grazing his ears.</em></p><p><em>Fuck, fuck, fuck.</em></p><p><em>Sadly, when Amar could finally process everything and craft a coherent response, the siren had already long gone, eaten away by the blinding lights and too many bodies pressing against each other.</em></p><p><em>Vanished, like thin air, like a beautiful nightmare.</em></p><p><em>Gege had left Amar all alone in the dance floor. Lightheaded. Breathless. Wanting.</em></p><p><em>Too far gone.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4b6f8c52d2b8" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>