<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Purpleperiwinkle00 on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Purpleperiwinkle00 on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@daenaa0606?source=rss-ef393555ba38------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*ANXwUAoLlmYqfcjehopwew.jpeg</url>
            <title>Stories by Purpleperiwinkle00 on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@daenaa0606?source=rss-ef393555ba38------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sat, 30 May 2026 02:26:19 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@daenaa0606/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[ White Lies]]></title>
            <link>https://medium.com/@daenaa0606/white-lies-8f0912bdab2b?source=rss-ef393555ba38------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8f0912bdab2b</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Purpleperiwinkle00]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 11:12:43 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-12T11:12:43.543Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*1RR8KJISvMKGVeZxT3WE5w.jpeg" /></figure><p>Tangannya bergetar.</p><p>Ia bisa merasakan jantungnya yang berpacu tak karuan serta darahnya yang terasa terkuras seketika saat rentetan pesan yang tak dimaksudkannya untuk terbaca tetap pada akhirnya dipindai oleh matanya, huruf demi huruf. Salahkan saja rasa penasarannya yang terlalu sulit dikendalikan.</p><p>Gabriella berusaha menelan saliva yang kini terasa sepahit air jelaga. Ia benci mengakui bahwa kalimat-kalimat macam itu ternyata masih memiliki pengaruh besar di dalam dirinya - sebuah trauma yang mau tak mau harus diakuinya masih meninggalakan sebuah ceruk besar yang walau dikiranya sudah tertutup namun nyatanya masih berlubang dimana-mana.</p><p>Ia benci sekali menjadi sepengecut ini, namun keringat yang entah sejak kapan berkumpul di telapak tangannya sudah menjadi bukti bahwa Gabriella memang tak pernah sekuat apa yang ia inginkan.</p><p>Dengan gusar ia membalik layar ponselnya di atas meja, puluhan pesan berisian serupa membuat denting pada benda persegi itu tak juga berhenti. Gabriella merutuk, ia merebahkan diri dan menggelung tubuhnya di atas sofa, berharap benda mati itu bisa menelannya selama beberapa menit saja sampai bunyi sialan yang tak kunjung usai itu bisa berhenti.</p><p>&quot;Cemen banget lo, anjir.&quot;</p><p>Ia menggumam menyuarakan afirmasi isi hati pada dirinya sendiri. Gabriella bisa saja mengumbar keberanian di permukaan namun jauh di dalam, siapa yang tahu bahwa luka yang tertoreh bisa berdarah kembali secepat ini?</p><p>Ia memjamkan mata dan memeluk bantalan sofa seolah benda persegi empuk bisa menyangga seluruh keberaniannya yang masih tersisa namun terancam menyurut kapan saja.</p><p>Andai saja Aksara ada bersamanya di sini, maka akan seperti apa dirinya di hadapan lelaki itu?</p><p>Gabriella memejamkan mata dengan kuat, kali terakhir hal seperti ini terjadi padanya, bukankah ia menyakiti hati lelaki itu sebagai ganti dari gagalnya ia membalut lukanya sendiri?</p><p>Atas hal itu, hanya dirinya saja yang tau betapa besar sesal yang tertinggal dalam kurun waktu panjang absensi Aksara dalam hidupnya yang terasa tak bergerak kemana-mana sejak saat itu.</p><p>Klik, klik, klik...</p><p>Gabriella membuka mata dan melompat untuk duduk dengan siaga, bantalan sofa masih dipeluknya dengan erat. Ia memicing dan menunggu siapapun yang akan muncul di balik pintu rumahnya.</p><p>Satu detik...</p><p>Dua detik…</p><p>Tiga detik…</p><p>Suara klik panjang menandakan sandi rumahnya telah berhasil diterima dan pintu rumahnya mempersilahkan siapapun untuk masuk.</p><p>&quot;Hai, Gab.&quot;</p><p>Sapaan singkat nan ringan itu sampai padanya bersamaan dengan sosok familiar dan cengiran jenakanya yang seketika meruntuhkan kelabu yang melingkupi Gabriella sesaat lalu.</p><p>Andai saja control dirinya tidak terlatih lebih baik, Gabriella mungkin akan menangis saking leganya saat matanya beradu tatap dengan mata Aksara.</p><p>Ia berdeham, &quot;Kok ke sini nggak bilang-bilang? kalau gue nggak ada gimana?&quot;</p><p>Gabriella bersumpah bahwa kalimatnya tidak dimaksudkan untuk terdengar semenyebalkan apa yang akhirnya terlontar dari mulutnya, ia nyaris merevisi ucapannya andai saja suara kekehan Aksara tak terdengar saat lelaki itu berjalan menghampirinya dari seberang ruangan dan langsung mengambil posisi tepat di sebelahya.</p><p>&quot;Kalau lo nggak ada, ya gue tungguin sampe lo pulang.&quot;</p><p>Ucapan itu singkat, diucap ranpa beban, dan Aksara tak tahu bahwa kalimat itu telah menyentuh hatinya sampai Gabriella tak bisa menahan senyum.</p><p><em>Aksara banget</em>, pikirnya.</p><p>&quot;Sa?&quot;</p><p>&quot;Yep?&quot; Aksara menyahut sambil menyamankan diri di sebelahnya, lelaki itu lalu menoleh ke arahnya sambil tersenyum, &quot;Kenapa sayang?&quot;</p><p>Gabriella terkekeh, ia menggeser tubuhnya mendekat pada lelaki itu dan merebahkan kepalanya di pundak Aksara yang jelas tak menunjukan gestur keberatan sama sekali, &quot;Kenapa lo nggak bilang dulu mau kesini? gue kan jadi bisa siap-siap.”</p><p>Aksara meliriknya dari ujung mata, &quot;Loh, emang ini belum siap?&quot; Mendapatkan gelengan kepala darinya, lelaki itu terkesiap dengan berlebihan, &quot;Padahal udah cantik banget begini, gue kira lo bahkan udah sempet mandi kembang tujuh rupa sebelum ketemu gue.&quot;</p><p>Ngok.</p><p>Lagi-lagi, <em>Aksara banget</em>, piker Gabriella.</p><p>Gabriella mendengkus geli dan memukul paha Aksara, &quot; Serius, anjir!”</p><p>Kini Aksara balas mendengkus padanya, &quot;Liat HP makannya, gue udah nge-<em>chat</em> belasan kali pas sebelum kesini.&quot;</p><p>Ia mengangkat kepala dan menatap Aksara yang juga balas menatapnya, mendapat padangan geli lelaki itu, Gabriella dengan cepat mengambil ponselnya. Ia menghela napas, bercampur dengan hal-hal yang tak ingin dibacanya, pesan dari Aksara terasa janggal karena tiba-tiba seperti sebuah oasis di tengah gurun tandus.</p><p>&quot;Oh...&quot; gumamnya.</p><p>Dari balik bahunya, Aksara melongok sambil meletakan dagu di atas bahunya, &quot;Banyak amat notif lo.&quot;</p><p>Gabriella mendelik dan mengendikkan bahu sampai kepala lelaki itu tersentak pelan, &quot;Namanya juga artis.&quot;</p><p>Aksara mencibir sebelum menariknya mendekat, membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja si sela sofa. Lelaki itu memeluknya dengan erat, mengecup kulit bahunya yang terbuka, &quot;Gue sebenernya nggak mau tiba-tiba begini, tapi gue khawatir kelakuan gue bikin lo kenapa-kenapa.”</p><p>&quot;Kenapa-kenapa tuh gimana?&quot; Gabriella membalas pelukan itu dengan melingkarkan lengan di sekeliling Aksara, membiarkan lelaki itu menghidunya dalam-dalam. Ia semerta-merta merasakan perasaan sesak, Gabriella beberapa detik yang lalu bahkan merasa seperti pengecut, namun saat ini Aksara telah merangkulnya seolah lelaki itu siap kapan saja memindahkan kegusaran Gabriella pada dirinya sendiri. “Emang lo ngapain?”</p><p>Aksara terdiam sesaat, “Itu..” lelaki itu berdeham, “gue upload-upload foto biar kayak couple-an sama lo. Nggak izin dulu, lagian gue geregetan anjir, lo udah mulai dijodoh-jodohin sama si Biru. Nggak terima gue, buat bikin gue dijodohin ke lo lagi aja, gue harus…” Aksara berhenti sesaat dan mendengkus.</p><p>“Harus apa?” Gabriella terkekeh lalu menepuk punggung lelaki itu untuk meneruskan ucapannya.</p><p>“Harus caper sama lo berbulan-bulan pakek cara plenger.”</p><p>Pecahlah tawa Gabriella, ia memberi jarak di antara mereka dan makin tergelak saat melihat wajah mengerut milik Aksara.</p><p>“Jadi lo ngaku, kalau lo caper dan lo plenger?” tanyanya.</p><p>Aksara menggerling denga ekspresi getir, “Iya, ngaku. Walau emang pesonanya di situ hehehe.”</p><p>Gabriella mendelik sebelum memegang kedua pipi lawan bicaranya, “Gue udah curiga lo nyamain update gue buat bikin gonjang-ganjing, makannya gue update pakek baju warna beda-beda, dan lo ikutin semua ya, tapi herannya gue masih kaget pas lo ngaku.”</p><p>Lelaki itu memberinya cengiran, “Gue cemburu banget, Gab!” serunya kemudian.</p><p>“Padahal lo tau kan mau dijodohin sama siapa juga, kenyataannya gue pacar lo. Kenapa harus cemburu?” Gabriella menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, ia memberikan kecupan ringan di ujung hidung Aksara sebelum melepaskan diri dan menggeser posisi duduknya hingga bersandar di lengan sofa, memberi jarak pada mereka agar ia bisa menatap sosok menawan Aksara dengan lebih baik, “Kayaknya orang-orang juga udah tau kita balikan.”</p><p>“Kayaknya, kan? Gue maunya orang-orang beneran tau. Biar lo nggak dijodohin ke setiap lawan main lo, Gab.” Aksara mengikutinya, mengambil sudut terjauh untuk menyadarkan punggung di lengan sofa dan duduk bersila sambil menatapnya, “Gue takut penggemar lo dukung yang lain sama lo, daripada gue.”</p><p>Perkataan itu, serta ekpresi menyedihkan pada sang empu suara membuatnya terdiam. Gabriella menghela napas, “Lo sepengen itu kita jadian di depan publik, Sa?”</p><p>“Gue pengen orang-orang tau, Gabriella Pramesta tuh punya cowok, cowoknya gue, Aksara Priadi, jadi jangan dijodohin ke yang lain.” Aksara merengut tepat setelah menyelesaikan perkataannya yang berapi-api. Lelaki itu namun dengan cepat tampak kebingungan sendiri, “Ah, tapi kalau lo nggak mau sih nggak apa-apa, Gab. Gue cuma menyampaikan aspirasi rakyat.”</p><p>“Rakyat mana yang lo maksud?” sahut Gabriella.</p><p>“Gabyara Nation,” balas lelaki itu sambil meringis.</p><p>Ia membalas lelaki itu dengan senyum kecil, rasanya terlalu bingung untuk menyampaikan isi otaknya yang terlalu runyam. Jika saja mereka bisa sebebas apa yang diinginkan Aksara, Gabriella jelas juga ingin memamerkan pujaan hatinya itu pada seluruh dunia. Tak perlu muluk-muluk menggandeng lelaki itu, ia hanya ingin menyebut Aksara sebagai kekasihnya tanpa beban. Tapi memangnya mereka bisa seperti itu? bahkan kalaupun bisa, memangnya Gabriella seberani itu? bahkan beberapa pesan dari penggemar Aksara mampu membuat tangannya gemetaran. Entah sumpah serapah di depan muka, paket berisikan sampah, atau fitnah di media sosial mana lagi yang bisa ditahannya sebelum ia kembali menyerah.</p><p>Ia membenci dirinya dan tekatnya yang ternyata tak melampaui rasa takutnya yang ia kira sudah lama hilang.</p><p>“Gab?”</p><p>“Hmm?” Ia mengalihkan atensi dari lamunannya pada Aksara yang menatapnya bingung.</p><p>“Lain kali gue nggak gitu lagi deh, muka lo jangan lesu begitu.” Aksara mengerucutkan bibirnya dan beringsut mendekat hingga di antara mereka hanya terpisah kakinya yang ia peluk erat di dada. Lelaki itu mengangkat tangan dan membelai puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang, “Gue ikutin lo aja, kalau lo lagi mode pemberani, gue ikutan. Gue nggak akan inisiatif sendiri, kalau lo jadi nggak seneng.”</p><p>Gabriella tak tahu apa yang harus dikatakannya sebagai balasan dari ucapan Aksara. Ia tak mau melukai Aksara, tak mau pula membiarkan rasa takutnya kembali menguasainya. Sisa-sisa kenangan yang kadang masih terasa mencubit hatinya jelas harus ia singkirkan, namun jika berulang kembali, apakah ia bisa bertahan?</p><p>“Gab?” Aksara melarikan jemari di pipinya sebelum menggenggam dagunya dengan lembut, membuatnya menatap hanya pada mata lelaki itu, “Bengong mulu, kesambet nanti.”</p><p>Gabriella merengut namun ia membiarkan Aksara melakukan apa yang lelaki itu inginkan, “Bisa nggak ngomongnya jangan mode plenger sama asbun?”</p><p>Alih-alih menjawabnya, Aksara justru mendekat dan memangkas jarak di antara mereka dengan mengecup bibirnya dengan kecupan amat ringan hingga Gabriella nyaris tak merasakannya. “Itu bawaan lahir, nggak bisa dirubah.”</p><p>“Kenapa cium-cium?” tanyanya. Matanya mengerjap-ngerjap sebelum merengut, “Udah plenger, tukang nyosor juga.”</p><p>Aksara di hadapannya tertawa, “Kangen. Lo sibuk banget sampe kita udah balikan tapi nggak bisa ketemu. Kalau emang nggak bisa pacaran di luar, gue rela deh nyamperin lo ke sini, asal bisa berduaan.”</p><p>Kini giliran Gabriella yang tertawa, ia balas menandaskan jarak di antara mereka untuk mengecup bibir Aksara dengan sama ringannya, “Secinta itu ya, sama gue?”</p><p>Alih-alih menjawabnya, Aksara justru mengecup keningnya, lalu turun untuk mengecup matanya, pangkal hidungnya, pipinya, namun tak sampai ke bibirnya. Lelaki itu terkekeh, “Kalau nggak cinta, mana mungkin kayak gini?”</p><p>Gabriella hanya menatapnya sampai lelaki itu meneruskan.</p><p>“Sekarang gue harap lo juga bisa mencintai gue semau lo, sebebas yang lo inginkan. Kalau kedepannya hubungan kita buat lo susah, lo harus jujur sama gue ya?”</p><p>Ia kehilangan kata-kata, jujur pada Aksara hanya akan menyulitkan lelaki itu. Gabriella tak pernah mau berdiri di antara lelaki itu dan para pemujanya yang menentukan karirnya.</p><p>“Gab?”</p><p>Gabriella mengembalikan atensinya pada lelaki itu, “Oke.”</p><p>“Oke aja?”</p><p>“Iya gue akan bilang sama lo, kalau ada yang jahat. Sekarang aman aja,” Ia menggigit bibirnya dengan resah walau selanjutnya ia tersenyum, “ nggak usah khawatir, Sa.”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8f0912bdab2b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[158. Happy]]></title>
            <link>https://medium.com/@daenaa0606/158-happy-05598b1074f7?source=rss-ef393555ba38------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/05598b1074f7</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Purpleperiwinkle00]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 03 Dec 2025 12:14:46 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-12-03T12:14:46.870Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*BlXFdFjaIktM8NBKIwoVjQ.jpeg" /></figure><p>“Lo tau nggak sih, sejak pindah ke Surabaya, gue jadi kebiasaan makan pagi pakek bakwan goreng. Soalnya depan kantor ada mbok-mbok yang dagang gorengan enak banget.”</p><p>Damar mengangkat wajahnya dari layar ponsel dan bertemu pandang dengan Yumna yang menatapnya acuh tak acuh sembari mengambil tempat duduk di hadapannya setelah menghilang beberapa saat sambil membawa nampan berisikan dua piring nasi dengan ayam dan kentang goreng. Perempuan itu tampak santai dan tak terganggu sama sekali dengan fakta bahwa sudah beberapa minggu terakhir sejak mereka bertatap muka satu sama lain, seolah-olah pada pertemuan terakhir mereka tak ada urusan hati yang digantungkan pada udara malam. Ekspresi di wajah Yumna tampak setenang biasanya, tak ada sedikitpun sendu pada wajah cantik temannya itu seperti yang diingat Damar di kali terakhir mereka bicara berdua.</p><p>Dihantam kenyataan yang satu itu membuat Damar merasa lega walau perasaan bersalah masih menggelayuti pundaknya — ia setengah mati berharap jika apa yang ditampilkan perempuan itu tak hanya fasad semata. Ia mengamati Yumna yang kini balas memandangnya sesaat sebelum memutuskan bahwa nasi dan ayam di piringnya lebih menarik untuk diberi atensi.</p><p>“Mar, lo denger nggak gue ngomong apa?” tanya Yumna setelah beberapa saat tanpa jawaban.</p><p>“Denger,” Damar mengangguk dan mengambil jatah kentang goreng dari piringnya yang baru saja diletakan oleh yumna di depannya, ia mengunyah perlahan masih sambil mengamati lawan bicaranya yang kini balas menatapnya dengan kening berkerut hingga Damar melenguh kecil sebelum bicara kembali, “bagus deh kalau lo betah di Surabaya.”</p><p>“Selain panasnnya yang kayak punya matahari dua, enakan di sana dibanding di Jakarta.” Yumna mengangguk setuju sambil membagi senyum yang rasanya sudah lama sekali tidak Damar lihat, sampai-sampai ia merasa semakin bersalah pada perempuan itu — yang senyumnya selalu tulus padanya bahkan jika Damar bertingkah imbesil dan tak pernah menaruh atensi sama sekali pada jenis perasaan apa yang dirasakan Yumna padanya selama ini, “Lo ada yang mau diomongin, Mar? muka lo kayak nahan muntah.”</p><p>Ucapan itu membuat Damar mendecak kecil, lalu tangannya yang semula bergerak untuk mencomot lagi kentang goreng, kini berhenti di udara dan berhenti di atas pangkuannya sendiri saat ia merasa tak punya napsu sama sekali untuk mengisi perutnya di saat seperti ini dan mungkin saja memang benar tampangnya sekacau yang Yumna katakan. Lantas ia menarik napas dan menghitung beberapa detik sebelum mengumpulkan keberanian yang susah payah dikumpulkannya entah sejak kapan untuk entah untuk membebaskan hatinya atau menimpakan luka pada Yumna.</p><p>Di hadapannya Yumna tampak mengerti perihal apa yang ingin ia sampaikan karena perempuan itu menghentikan kegiatan mengunyah dan membersihan kedua tangannya sebelum bersedekap dan menatapnya terang-terangan seolah menantangnya untuk bicara di detik itu juga, “Silahkan,” ucapnnya.</p><p>“Yum, gue minta maaf sama lo soal banyak hal yang belakangan terjadi di antara kita. Hubungan gue dan Airinia, betapa nggak pekanya gue sama perasaan lo, dan bahkan untuk jadi sebab kepindahan lo dari Jakarta,” Damar merasa tenggorokannya tercekat ketika menyadari sekali lagi hal-hal yang belakangan terasa memutar balikan dunianya. Ia menghela napas dan menyugar rambut dengan gestur frustrasi yang pastilah terlihat jelas karena di seberangnya Yumna mengulurkan lengan dan menepuk ringan sikunya sambil tersenyum — jelas memintanya melanjutkan apapun yang ingin diucapkannya seolah perempuan itu sudah menyiapkan diri untuk mendengar rancauannya sejak awal. “gue nggak pernah berpikir di antara lo dan gue akan ada di posisi begini, lo tau kan bagi gue lo selalu jadi sahabat yang baik?”</p><p>Pertanyaan itu retoris namun Yumna menganggukan kepala setelah menghela napas perlahan, “lo juga sahabat yang baik, Mar,” bisiknya.</p><p>“Gue nggak ada niatan sama sekali untuk nyakitin lo, Yum. Tapi dibanding orang lain, lo juga tau kalau gue masih terjebak sama masa lalu gue, sama Airinia.” Kalimat itu meluncur ternyata lebih cepat dibandingkan yang dikiranya, dan saat itu ia bisa melihat sekilat layu yang melintasi wajah Yumna. Damar bisa saja memilih berhenti di sana, namun rasanya perihal memusingkan yang melibatkannya dan Airinia pada Yumna tak akan pernah selesai jika tak ditarik garis akhinya malam ini. “Gue nggak bisa ngelepas Airinia lagi Yum, gue-” ia berhenti saat Yumna mengatupkan bibirnya seolah setiap kata yang diucapkannya menoreh luka pada setiap sendi dan tulang perempuan itu. Namun ia memilih meneruskan, “gue <em>nggak mau</em> ngelepas Airinia lagi.”</p><p>“Pernah nggak sih lo sekali aja ngeliat gue lebih dari temen?”</p><p>Damar mengerjap satu dua kali sebelum terbatuk-batuk sesaat setelah mendengar pertanyaan itu, ia menatap Yumna untuk beberapa saat sebelum buka suara, “Lo bagi gue selain temen?” Ia menggelengkan kepala dan tersenyum kecil, “bagi gue selalu jadi temen yang baik, bahkan banyak saat gue ngerasa lo kayak saudara.”</p><p>Yumna mengedip-ngedipkan mata sebelum untuk kali pertama setelah beberapa saat perempuan itu terkekeh ringan, “Sama, bagi gue juga lo kayak gitu bahkan walau gue suka sama lo, lo selalu terasa lebih sebagai temen, kadang terasa kayak sepupu.”</p><p>“Bahkan pas lo suka sama gue?” Damar mengulang ucapan Yumna, dan perempuan itu menganguk tanpa ragu.</p><p>“Iya, gue nggak pernah berpikiran buat melangkahi batas itu. Gue lebih takut kehilangan pertemanan kita dibanding kehilangan lo untuk perempuan lain, Mar. Lo mungkin nggak paham soalnya lo cuma suka satu cewek dari bertahun-tahun lalu dan kebetulan cewek itu bukan temen lo. <em>You’re a lucky jerk.”</em> Yumna memberinya cengiran dan perempuan menggerdikan bahu, “Gue sayang lo sebagai temen sebelum gue sayang lo sebagai apapun yang lebih dari itu.”</p><p>Yumna ternyata lebih dewasa dari apa yang dikenalnya selama ini.</p><p>“Gue juga sayang sama lo, sebagai temen.” Damar menatap Yumna tepat di mata dan membagi senyum pada perempuan itu. Pada saat yang sama ia mengetahui dengan jelas bahwa perasaan yang ia miliki pada Yumna memiliki sisi lain selain yang ia ungkapkan, namun Damar berniat menyimpannya sendiri — ia tak memiliki tendensi bahkan seujung kukupun untuk meneruskan perasaan itu. Di penghujung hari, Damar tahu bahwa ia hanya ingin memberikan hatinya pada satu perempuan dan sosok itu bukanlah Yumna. “Maafin gue, Yum.”</p><p>“Permintaan maaf diterima, dan <em>stop</em> bikin gue berkesan ngenes begitu.” Lawan bicaranya itu menggelengkan kepala dengan dramatis dan mulai meneruskan kembali kegiatan makannya yang tertunda, “Jadi karena gue udh ikhlasin perasaan gue ke lo, udah terima permintaan maaf lo juga soal lo boongin gue soal balikan sama Airinia kemarin-kemarin, lo sama dia harus balikan dan nggak boleh putus lagi.”</p><p>Damar merengut, “Kalau bisa juga maunya begitu.”</p><p>Yumna mendecak dan berhenti mengunyah lagi, seberkas kesedihan yang mungkin luput untuk berusaha ditutupinya sedetik lalu kini hilang tak bersisa, berganti dengan sorot jengkel yang beratus-ratus kali telah perempuan itu berikan padanya, “Lo tuh harus berenti dah kebanyakan mikir dan mulai bertindak beneran. Kalau lo emang mau balikan, yaudah usahain. Kalau nggak mau putus lagi, yaudah jangan ulangin apapun yang pernah buat lo putus sama dia.”</p><p>Damar terhenyak sesaat kembali memandang Yumna, lagi-lagi tersadar jika di antara mereka bertiga, ialah yang paling pengecut dan lamban.</p><p>Kini Yumna menatapnya lamat-lamat, “Mar, cinta yang sekiranya bisa lo perjuangin, ya perjuangin. Jangan nunggu sampai nyesel. Lo cinta sama Airinia, kan? lo mau sama dia dan akan selalu pilih dia, kan? yaudah bilang.” Yumna tersenyum padanya, kelewat tulus sampai Damar berdoa jika ketulusan itu akan berbalas seratus kali lipat walau bukan darinya, “<em>Be brave to fight for what you want, for what you love, Mar. I want you and Airinia to be happy. “</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=05598b1074f7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>