<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Galang Setiadi on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Galang Setiadi on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@galangponsela7x?source=rss-288b7d53766b------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/0*YubMmuBaOoXqxHM3</url>
            <title>Stories by Galang Setiadi on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x?source=rss-288b7d53766b------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Tue, 19 May 2026 06:55:32 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@galangponsela7x/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Satu dari Seribu Satu Hal]]></title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x/satu-dari-seribu-satu-hal-c529a596d50d?source=rss-288b7d53766b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c529a596d50d</guid>
            <category><![CDATA[country]]></category>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Galang Setiadi]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 15 May 2026 05:56:37 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-15T05:56:37.692Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>“Sebuah pandangan spontan dan berulang. Sebuah harapan kecil dari visi nan majemuk. Sebuah ungkapan yang mengganggu. Sebuah penolakan kerdil akan takdir. Dan sebuah cerita dari makhluk nan lemah”</em></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*T5X8uYiqFnlCcIuhnBgOzQ.png" /></figure><p>Aku tidak terganggu, dimana bunga tidur bertamu hampir triwulan ini selalu membawa lokasi yang sama di kepala. Sungguh, aku tidak terganggu. Aku hanya menjadi lebih “pelihat &amp; perenung” dari biasanya. Mencari fragmen-fragmen kecil lampau demi memuaskan rasa nostalgia yang ia bawa. Dan berharap ia datang membawa cerita baru ketika batinku menunggu hari esok yang menyiksa dengan kebosanan.</p><p>Oh aku paham, semenjak itu ternyata. Semenjak rutinitasku sangat monoton dan membawa beban pikir yang riweh. Diriku yang tak bisa mencari gerakan lain, diprovokasi oleh diriku yang terpendam. Mencari kebaruan lewat bunga tidur. Syukurnya aku menikmatinya.</p><p><em>“Pondasi yang bertolak belakang untuk memulai hari”</em></p><p>Kita selalu bergerak melakukan hal yang sama setiap hari (kecuali minggu dan tanggal merah lainnya), demi tetap menikmati hidup dan memuaskan duniawi. Namun, ketika sudah menjalaninya diri kita memberontak seakan akan semuanya selalu kurang. Kembali ke pernyataan umum. Kita melakukan “hal” untuk hidup. Lalu hidup untuk apa? ya kita semua lupa akan hal kenapa kita ada, untuk apa kita ada kalau hanya melakukan remeh temeh demikian. Pastilah menjunjungnya.</p><p><em>“Pergilah ke tempat yang aman menurutmu”</em></p><p>Serba serbi ketidakpastian hukum tempat ini, aku rasa tidak ada lagi tempat untuk orang polos dan lugu. Sekali lagi, tidak ada lagi tempat untuk orang polos dan lugu. Sekarang tempat ini hanya untuk orang pintar yang licik, bukan orang jahat seperti yang kita kenal di film-film dan cerita modern. Adakah sebab akibat dari semua ini? aku rasa ada. Karena disini kita sudah pasti tidak mendapat keadilan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c529a596d50d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Aku Berhasil, Namun maaf…. dan Terimakasih]]></title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x/aku-berhasil-namun-maaf-dan-terimakasih-7fe297d11836?source=rss-288b7d53766b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7fe297d11836</guid>
            <category><![CDATA[manipulation]]></category>
            <category><![CDATA[survive]]></category>
            <category><![CDATA[fight]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Galang Setiadi]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 21 Jan 2026 03:39:08 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-21T03:39:08.952Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*m6zF3x_y50GplxdzKoAFaQ.png" /></figure><p><em>“Setetes air hujan yang terbentuk dari kumulunimbus nan kacau, jatuh dengan bentuk sucinya, turun kebawah melewati rangkaian dosa-dosa penduduk terkutuk, jatuh di besi berduri, mengalir disambut telapak tangan lama nan hangat”</em></p><p>Hampir satu tahun setelah dimana aku mulai mencurigai semuanya dan tenggelam didalamnya dan aku berhasil. Aku berhasil mengubah semua itu bukan lagi curiga. Aku berhasil mengungkap kebohongan kasar yang rapi itu dengan babak belur. Semenjak itu aku berjalan beriringan dengan hal abstrak yang tidak konsisten itu, yang menyedot semua apa yang seharusnya aku lihat, apa yang seharusnya aku dengar, apa yang seharusnya aku rasakan, kebahagiaan asli yang seharusnya aku jangkau, dan kejujuran terbengkalai yang seharusnya aku utarakan.</p><p>Jika ku tarik garis waktu lalu, aku lebih sering berkelahi dengan pikiran dan badan yang terus menerus bergerak tanpa henti, bahkan saat mata menutup cakrawalanya. Aku sama sekali tak diizinkan untuk mencerna dengan baik bak kereta bergerak tenang di rel nya. Aku dibuat seolah adalah gerbong penembus badai dengan berbagai opsi rel yang terus menghimpitku, dan arah depan yang tak kasat mata. Semua kejanggalan itu terjadi ketika kebingunganku untuk melepas merpati nan indah, yang baru saja ku rajut sangkarnya. Melepas suatu pelukan hangat yang jujur, melepas genggaman asli yang menyayangi.</p><p>Yang abstrak itu punya sesuatu yang lain. Tapi entah ia adalah makhluk hidup atau bukan, bahkan sekarang aku tak menganggapnya manusia, dia sakit, dan harus musnah. Dia punya banyak nama, gelar, dan pencapaian. Si pembungkus itu benar-benar rapi, bahkan memasukkan elemen yang tak masuk akal. Kata kata dan lakon nya seolah mengikat apa yang kunamakan “kebebasan”. Sebuah kata yang jika tidak diikutsertakan, maka segala tindakan yang didasari oleh paksaan dan ancaman elegan akan nampak seperti sebuah kerelaan harfiah.</p><p>Namun sekarang aku berhasil, aku berhasil lepas dari kabut asap hitam itu, aku berhasil memuntahkan inti pengikatnya, dan aku berhasil mencarimu kembali, wahai merpatiku. Selepas tulisan “Lepas Sakit” itu, aku berjuang sendiri, dan doa mereka. Tulisan “Lepas Sakit”-September 2024- bukan sekedar curahan hati yang sedang kacau, tapi itu adalah ikrar janji yang harus dituntaskan kapanpun jika diri ini siap. Tulisan itu adalah prasasti pertanyaan yang merujuk pada strategi dan bertahan menopang badai. Dan tulisan itu adalah inti dan awal dari pemberontakan yang suci.</p><p>Aku memang kembali mencarimu, merpati. Namun aku juga tak menyangkal engkau mencariku. Genggaman hangat tanganmu yang tulus itu selalu ku rindukan. Tak kusangka “kebebasan” itu terpercik di tanganmu yang sempit dan hangat itu, menjadikannya tempat terhangat yang aku temui di usia matang ini.</p><p>Pada awalnya aku ragu dia akan hinggap di tanganku dan beristiharat. Diriku bak seperti prajurit yang pulang dari perang besar yang dipenuhi dentuman senjata dan bulir bulir peluru yang tanpa henti berbisik di telinga. Usai peperangan, aku takut menceritakan kondisiku yang penuh dengan coretan luka dan bising orang lain. Aku menutupinya dengan hoodie ku yang biasa, yang biasa dia kenal juga. Di saat aku membukanya, diriku sudah pasrah saat tidak dibutuhkan lagi menjadi tempat hinggapan. Namun tak disangka aku semakin didekapnya. Ia sudah tahu semuanya dan tetap mendekapku. Hoodie tebal biasa ku itu bisa dilihat tembus pandang olehnya. Dan kami melanjutkan membangun sarang.</p><p>Tulisan ini untuk semua orang, khusus untukmu “N”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7fe297d11836" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Representasi Kerinduan Murni]]></title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x/representasi-kerinduan-murni-b4823d705bbd?source=rss-288b7d53766b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b4823d705bbd</guid>
            <category><![CDATA[self-reflection]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Galang Setiadi]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 27 Sep 2025 19:03:53 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-27T19:03:53.460Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*WbgYLz8WOxlFAO_yx1DCzw.png" /></figure><p>Seperti kebanyakan keluarga harmonis, kami suka memelihara kucing, dan pelbagai hewan lain. Khusus kucing, kami percaya hewan itu dapat menyerap energi negatif dari tubuh kita. Semenjak aku keluar dari rahim ibuku dan menghirup dinamika udara dunia hingga sekarang, pelbagai keluarga kucing telah kami pelihara, silih berganti. Ya, silih berganti, datang dan pergi, alami namun kadang mereka mati konyol. Tapi, terimakasih…</p><p><em>Latar Belakang</em></p><p>Sudah lama aku tidak menuangkan tulisan konyol disini, se-tidak sempat itu, menghadapi hiruk pikuk kebangsatan duniawi. Dalam masa pelarianku ke kampung halaman dan kondisi kedua orangtuaku dirumah tidak ditemani anaknya lagi. Ya, kami semua tidak dirumah, sedang merantau. Kucing dirumahku semakin banyak saat itu, kehadiran mereka hanya untuk membuat rumah serasa ramai dengan tingkah konyol mereka. Kemudian, “Aku pulang wahai rumahku” ucapku dalam hati dengan ditutupi wajah datarku. Menyapa mereka, orangtuaku dan anak-anak barunya, kucing. Aku bermain, menenangkan pikiran, seperti aku terlahir kembali dengan ruh dan kondisi yang sama. Ada lagi lima ekor anak kucing baru lahir. Seperti biasa, anak-anak yang baru lahir hanya untuk menggantikan mereka yang sudah dewasa untuk melanjutkan kekacauan dirumah, sungguh ironi namun berkesan. Kadang Tuhan melalui alam punya seleksi sendiri agar jumlah mereka tidak membludak dan tidak menyulitkan Ibu dan Ayahku merawatnya. Tetangga juga bagian dari alam juga, bukan? yaa karena kadang tetanggaku meminta kucing untuk di pelihara.</p><p><em>Representasi Kerinduan Murni</em></p><p>Pagi itu, kucing hitamku, ucup mereka memberinya nama sehingga aku memanggilnya demikian. Salah satu kucing hitam dari dua kucing hitam dan dari lima kucing lainnya, warnanya oranye. Ia masih sempat menyenggol kakiku dengan manja. Ketika aku kembali masuk kerumah, ayahku berteriak memanggilku dan menyuruhku mengambil karung. Ayahku bilang ucup tertabrak dijalan. Aku tidak terkejut dan berjalan santai melihat ia tergeletak di jalan dengan usus merah muda dan berbagai organ tubuhnya ikut menemani dirinya tidur di tepi jalan yang cerah. Hanya satu kuucapkan ketika melihat kejadian itu, “Terimakasih”.</p><p>Aku, setiap langkahku menuju jasadnya sambil tersenyum. Otakku menyimpulkan sesuatu nan baru, sesuatu yang sekarang membuatnya masuk akal. Orangtuaku sedang merindukannku karena lama pulang, Tuhan mengirimkan kucing untuk menemani kesendirian mereka, Kucing (Ucup) telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, yaitu <strong>Menggantikanku Ketika Aku Tidak Ada Dirumah. </strong>Ucup juga telah menyerap banyak energi negatifku, dan ucup juga telah memusnahkan energi itu sembari mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Aku tidak menyalahkan siapapun, itu termasuk takdir yang hanya Tuhan memegang kendalinya. Sempat aku usap kepala ucup walau yang tersisa hanya kepala dan kaki depannnya, ia masih memiliki mata yang lucu, seperti siap menerkam jariku ketika aku bermain dengannya. Saudaranya yang oren sepertinya tahu ucup sudah tidak bisa membersamainya. Jadi, aku dan si oren memandang jasadnya sejenak.</p><p><em>Konklusi</em></p><p>Ucup, mungkin juga kepada kucing yang lain. Aku yakini sekarang kalian bukan sekedar hewan peliharaan, tapi kalian adalah percikan air bantuan Tuhan yang secara tepat mengenai wajah kami. Maaf jika usia kalian tidak sepanjang kami. Namun, terimakasih telah singgah, dan aku juga akan menemuimu di alam sana, sekedar berbincang tipis.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b4823d705bbd" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Lepas Sakit]]></title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x/lepas-sakit-eb8857f39374?source=rss-288b7d53766b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/eb8857f39374</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Galang Setiadi]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 08 Sep 2024 04:59:18 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-09-08T04:59:18.983Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Uanai8utnykKazM6HgM82g.jpeg" /></figure><p>Memang ketika itu terjadi, mau seberapa siap pun kita membayangkannya, itu tetap sakit. Rasanya sakit sekali, ketidakrelaan hati memang membuat kacamata dunia menghitam, buram dan kelam. Dunia yang cerah menjadi mendung nan dingin. Sakit ini beda rasanya, kau tak akan tahu. Sekali lagi kukatakan mau seberapa siap kau membayangkannya, nanti bertemu momen yang sakit.</p><p>Aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana, bagaimana aku ingin menjadi seorang manusia yang berhasil kalau aku terus terjebak ke dalam semua ini.</p><p>Satu pengikat, aku, akhir ini, tetap mencarimu. Tak perduli kau bagaimana, dan dengan siapa, pada intinya aku tidak akan ingkar terhadap kau.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=eb8857f39374" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Rekaman Bunga Malam 2 (Dan Tiga)]]></title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x/rekaman-bunga-malam-2-dan-tiga-461334317297?source=rss-288b7d53766b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/461334317297</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Galang Setiadi]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 03 Sep 2024 16:21:03 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-09-03T16:21:03.282Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><em>Seperti biasa otak sialan ini….<br>Seperti biasa ia ingin membunuh tuannya dengan kebingungan yang dihasilkan olehnya…</em></p><p>Hasil dari tulisan sebelumnya (terserah kalian tulisan sebelum judul ini ataupun judul bunga malam 1) maka ia akan memformulasikan kegiatan siang ke dalam malam.</p><p><em>cih… mimpi itu hilang 80% ketika kita bangun, ya….</em></p><p>Komplek rumah yang mewah, yaa seperti perumahan para pejabat dan pengusaha pokoknya, tidak asing memang. Orangtuaku ada disana, sedang menyambut tamu. Mewah rumahnya… seolah-olah rumahku. Sudah sampai situ saja. Scene berpindah ke suatu tempat familiar, di dekat pantai Samudera Indah, Singkawang. Kondisi pasca pasar malam, agak sore, dan hujan deras sekali, namun langit tidak gelap, mobil dan motor senantiasa lewat di jalan kecil dan menanjak itu. Aku dan teman-teman se-HmI ku bermain bersama, bermain seluncuran menggunakan jalan itu dan dibantu oleh derasnya air hujan. Lalu hujan reda, aku ingin pipis. Lalu aku mendapatkan Wc, bayar pula. Sepertinya aku sudah kencing, dan buumm… aku terbangun dengan kondisi sakit maag.</p><p>Malam berlanjut, lokasinya mirip dengan lokasi 1. Namun, sungai itu terdapat banyak ikan lele atau ikan gabus. Kemudian berubah saja menjadi ular kobra. Aku tidak takut, dan malah memegangnya. Memperhatikan segala detail ular itu. dan sekali lagi, buumm… aku terbangun dan langsung mencari artinya…</p><p>Pertanda apa ini, lama-lama tempat singgah familiar itu semakin terekspose oleh jiwa eksplorasiku. Aku hanya ingin, butuh ketenangan. Satu kesimpulan tempat itu saling berhubungan. Sekolah dasar, kebun belakang rumah, kebun darat, sungai kerokan ekskavator, rumah lama, jalan kecil. Anjing sekali! sebenarnya apa ini.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=461334317297" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Berperang Melawan Pikiran Sendiri]]></title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x/berperang-melawan-pikiran-sendiri-50f2315c2052?source=rss-288b7d53766b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/50f2315c2052</guid>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <category><![CDATA[thinking]]></category>
            <category><![CDATA[pounders]]></category>
            <category><![CDATA[confusion]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Galang Setiadi]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 03 Sep 2024 16:00:28 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-09-03T16:00:46.090Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*5PChhL0EHF7mUFHJhwiwVg.jpeg" /></figure><p>Hidup, secara normal kita mengenalnya dengan keselarasan pikiran yang ditentukan oleh kesadaran diri. Meramu kata untuk penyampaian informasi mesti melalui kerja sama pikiran, jiwa, dan jasad. Dalam berkehidupan di tengah kompleksnya kerja dunia ini, hal seperti itu merupakan keharusan. Kita menghadapi berbagai gejolak yang mana kita sendiri tidak tahu akan akar gejolak itu berasal dari mana dan masuk kategori yang mana. Kita juga tidak sadar apa peran kita yang kita ambil sekarang ini, hasil dari proses hidup.</p><p>Aku sendiri percaya semakin bingung kita, berarti level kita sudah jauh di atas yang lain. Jauh di atas teman-teman yang berada di lingkungan kita, jauh di atas senior-senior kita kebanyakan. Pikiran itu adalah setir utama dalam menjalani kehidupan, yang termasuk di dalamnya pengambilan keputusan, berkomunikasi, meyakinkan sesuatu, dan bertindak. Namun jiwa, jiwa itu adalah landasan utama manusia untuk hidup. Jiwa adalah sumber obat apa pun, karena di dalamnya terdapat ketenangan yang murni, di dalamnya terdapat teropong masa depan. Hal ini memang sudah di takdirkan oleh agamaku. Bahwa sebenarnya kita sendiri sudah tahu apa yang akan terjadi, jauh sebelum kita masuk ke dalam jasad janin kita sendiri (di dalam Islam, kita sebelum berikrar mampu menjadi manusia dengan takdirnya, dengan hukum kesialan dan keberuntungan yang sudah di perlihatkan Tuhan, kita ditanya lebih dari tujuh puluh kali, maksudku, tidak berhak kita mengeluh terhadap secuil kesialan yang terjadi pada diri kita ketika sudah hidup). Hal itu ditandai salah satunya De Javu.</p><p>Aku sudah dua puluh dua tahun hidup, berbagai pengalaman sudah aku alami, berbagai ketidakjelasan dan keanehan yang sudah pernah aku rasakan. Semuanya adalah bagian dari hidup. Ya Allah, jika benar ini adalah hidupku yang memang engkau siapkan untuk hambamu ini, mudahkanlah. Mudahkanlah segala kesadaranku untuk menghadapinya. Permintaanku pada-Mu adalah golongkan aku kedalam kaum yang benar. Aku tahu hidup ini ada mati, maka setelah mati itu masukkanlah aku ke Jannah-Mu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=50f2315c2052" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Misterinya Masih Berlanjut]]></title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x/misterinya-masih-berlanjut-0f9f2ff20d93?source=rss-288b7d53766b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0f9f2ff20d93</guid>
            <category><![CDATA[heart]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Galang Setiadi]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 05 Aug 2024 15:31:24 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-08-05T15:31:24.002Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*VUdKR30Aq-uqgc_6eB3eCg.jpeg" /></figure><p>Aku pulang lebih awal dari biasanya, mendengar lagu klasik yang menenangkan di laptopku. Mulai menulis segala isi hati yang belum sempat tertuang di sini. Kadang aku ini naif, membuat keputusan yang tidak matang. Namun ini berbeda.</p><p>Dapat diingat bahwa jalan setapak yang telah lama usang karena tidak diizinkan seorang pun melintasinya. Tetiba suatu saat aku marah dan kesal terhadap diriku sendiri, mengapa jalan itu ada yang melewatinya? kurangnya penjagaan? atau memang ia berusaha mendobrak pagar pembatasnya?</p><p><strong>Tiga puluh Juli, dan itu adalah seperti menemukan permata di sekitaran tumpukan emas</strong></p><p>Dalam hal ditengah kekesalanku ternyata ada kebingungan yang besar. Ia yang menyusup tidak merusak jalan setapak, tetapi sembari menanam bunga dan menyiramnya, menanam tanaman dan membuatnya berbuah, hewan-hewan seperti burung, ulat, dan tupai kemari. Suatu fenomena yang telah lama dan atau bahkan baru kali ini terjadi di jalan setapak itu.</p><p>Usut berlalu, refleksikan diri, renungan asli, dan konsistensi yang menggunakan hati. Aku sendiri yang membukakan pagar itu, bagaimana mungkin? Ia mempunyai ilmu sihir yang manjur? Tidak, aku rasa. Aku telah takluk padanya. Orang itu menanam berbagai macam yang ia punya. Begitu indah karyanya, dengan segala cerita gelap disisinya, aku menerimanya.</p><p>Aku kadang takut dia dalam hawa abu-abu, aku juga takut karena jalan itu menuju entah kemana yang aku sedikitpun tidak tahu. Bisakah kita bersama-sama menjalaninya. Kita juga bisa membuat jalan baru sekiranya jalan setapak itu menuju lembah nan gelap, atau kita juga bisa meneranginya dengan cahaya kunang-kunang sambil menujunya bersama.</p><p>Pada akhirnya aku telah masuk kedalam, lebih dalam bersamanya. Aku ingin aku dan dia selalu bersama, kepada Tuhan-lah aku berdoa untuk kami selalu bersama.</p><p>Teruslah menyirami tanaman itu, aku turut membantu dengan senyum nan tak seberapa. Ayo kita berjalan sama-sama….</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0f9f2ff20d93" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Semrawut Kata-Kata-ku]]></title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x/semrawut-kata-kata-ku-a9a469077037?source=rss-288b7d53766b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a9a469077037</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Galang Setiadi]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 05 Jul 2024 20:20:11 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-07-05T20:20:11.393Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Baru selesai aku mengunyah keripik rasa sapi panggang dan pulang dari tempat favoritku untuk mengisi energi sosial ini. Ya, ini pukul 03.00 pagi, hari sabtu. Setelah berkelana sepertiga malam, aku tidak dapat apa-apa.<br>Tulisan ini mungkin membingungkan, campur aduk antara formal dan asal-asalan, tapi tujuanku ini agar aku bisa menyembuhkan diri.<br>Tarian itu semakin menggila, di kepala, meronta-ronta dan membuat terpana, mempertanyakan segala hal yang sifatnya fana, terus begitu dan entah kapan ini purna.</p><ol><li>Diujung organisasi yang satu ini, aku sangat mencemaskan pintunya, bisa kututup rapat atau bagaimana</li><li>Di pertengahan organisasi satunya sangat berbeda, entah aku bisa berjalan di telapak mati atau tidak.</li><li>Dia, apakah mengerti denganku, kalau mengerti, kenapa, apa, bagaimana, rumit sekali.</li><li>Aku sendiri, apakah benar ini jalan yang aku tempuh? semua rekaman yang ditangkap mata ini aku tidak bisa menyusunnya.</li></ol><p>Puitis, sekarang aku ingin memecahkannya dengan kalimat yang penuh dengan multitafsir dan membawa kesalahpahman.</p><p>Kabut di sekelilingku bewarna putih, seram dan cantik sekali. <br>Suasana gelap nan sejuk, panas di bawah dan menusuk dada.<br>Berjalan menyasarnya dan mata berkedut-kedut tiada henti.<br>Leherku tak berhenti bergerak dan kucoba untuk diam, ingin sekali.<br>Tiba, aku telah di kursi berlian yang bisa bicara ini.<br>Tak aku duduki dan terus berjalan meniti.<br>Tanpamu mungkin aku sudah terjatuh berulang kali.<br>Tapi denganmu setidaknya, setidaknya terbayang indah wajahmu di gelap gulita.<br>Kayu panjang menuju ujung, terpingkal ketakutan dalam diri.<br>Tak satu orangpun mengerti dan memang seperti ini.<br>Suara angin yang bernada.<br>Sejuk sekali, aku ingin mengakhiri ini.</p><p>Sesegera mungkin ingin ku akhiri, tiada habis rasanya, apa aku tulis adalah semrawut isi hati, tak jelas sekali. Bodohnya aku menjalaninya, menghabiskan banyak waktu, energi dan sumpah serapah bertaburan. Bisikan jahat kadang menemaniku, ingin kuakhiri, hidup ini, tersenyum. Tersenyum didepan banyak orang, sakit sekali. Aku ingin mengakhiri ini.</p><p>Sialan, aku menangis saja tak bisa, aku, ingin dipeluk, aku ingin dihelus dengan lembut olehmu, kemana kau sekarang, mari kita berjumpa dan bermesra, aku ingin didekapmu, aku ingin rasanya menumpahkan air mata dan dielus olehmu. Sungguh. Ayo menangis sama-sama. Maaf.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a9a469077037" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Berapa Banyak Sudah Dosa-Ku?]]></title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x/berapa-banyak-sudah-dosa-ku-8c3d260dbf66?source=rss-288b7d53766b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8c3d260dbf66</guid>
            <category><![CDATA[guilty-pleasure]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Galang Setiadi]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 27 Jun 2024 09:10:54 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-06-27T09:10:54.872Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53).</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Vr1itPOZtByKJA6jgdUOaw.jpeg" /></figure><p>Dulu waktu kecil, kita dididik oleh pengasuh kita untuk beretika, hidup sebagai manusia yang sesuai dengan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Untuk menuju ke sana, kita diajarkan oleh mereka bagaimana kita menghargai diri sendiri dan berlakon di masyarakat. Kita diajarkan dan di doktrin untuk mengamalkan sebuah aturan yang pada saat itu kita masih tidak paham dengan maksud dan tujuannya (walaupun sampai sekarang aku masih mempelajarinya). Buat apa kita dituntut untuk mengamalkan itu? Tanyaku di dalam diri sendiri. <br>Seperti yang kita tahu, bentuk pengamalan itu sendiri adalah suatu pembuktian bahwa kita berbeda dengan makhluk lainnya, bahwa kita adalah ciptaan yang dijadikan wakilnya Tuhan di bumi ini. Sebegitu sempurnanya posisi kita pada taraf yang tidak dapat diketahui. Namun, untuk apa? Lagi-lagi aku bertanya.</p><p><em>Sebuah penolakan atas dasar perjalanan hidup nan semu dan penuh kemunafikan.</em></p><p>Aku sudah hidup lebih dari dua puluh tahun, dan mengalami sedikit hal. Ya, sedikit, karena sekarang aku bukan apa-apa dan siapa-siapa dan belum cocok memberikan wejangan kepada siapa pun.</p><p>Sekarang aku merasa sudah sangat jauh dari Tuhan, dzat yang memandangku sebagai wakilnya di muka bumi, dzat yang menciptakanku dengan sangat sempurna, dan dzat yang memberikanku kebebasan untuk ingkar dan taat kepada-Nya.</p><p>Semakin dewasa, aku yang sangat jauh ini merasakan bahwa rasa resah cemas dan gelisah ini mendominasi berasal dari kejauhan kita terhadap pencipta kita. Aku memiliki seorang teman dekat dulunya, aku percaya kami memiliki kesamaan. Aku mendengarkan kisah dia yang memiliki masalah terhadap pikirannya dan segala sesuatu masalah serupa yang keluar dari mulutnya. Waktu itu aku cuma memahami bagian permukaannya saja. Namun sekarang, aku mulai paham mengapa ia dahulu demikian. Dewasa ini segala masalah sialan itu (rasa tak layak, tak dihargai, curigaan, takut dikhianati, tak percaya diri, ketakutan masa depan, pandangan mata lain) menari-nari dikepala, dan memang itu sangat menyakitkan. Setiap melihat notif di gawai kita, perasaan cemas mulai datang, dan itu menyakitkan, membuat habbit tidur itu adalah surga sementara, yang ketika kita bangun, kecemasan itu mulai datang, dan itu sangat menyakitkan. Rasanya seperti berjalan sendiri di lorong gelap yang dindingnya terbuat dari mayat hidup teman-teman kita sembari menyoraki kita dan melempar telur busuk.</p><p>Jauh sekali, jauh sekali sekarang rasanya aku kepada Tuhanku. Otak ini serasa tidak mampu mengatur tarian masalah itu, dan memilih tidur, dan melupakan kewajibanku. Aku takut ini akan menjadi jurang tak ber ujung. Sekelompok teman untuk seusia ini rasanya tidak terlalu penting, lagi-lagi diri sendiri inilah yang memang menjadi tanggungjawab kita sendiri.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8c3d260dbf66" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Sebatang Kara Di Tepi Rel K]]></title>
            <link>https://medium.com/@galangponsela7x/sebatang-kara-di-tepi-rel-k-5b9b32aac500?source=rss-288b7d53766b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5b9b32aac500</guid>
            <category><![CDATA[individuality]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Galang Setiadi]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 13 Jun 2024 17:17:44 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-06-13T17:17:44.562Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Sebatang Kara Di Tepi Rel Kereta</h3><p>Dalam hal perjalanan hidup, semakin kau memasuki dalamnya lautan dinamika, semakin kau merasa hanya sebagai butiran debu di tengah megahnya semesta.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*DtojZCSrEmWoT-gl5H14LA.jpeg" /></figure><p>Aku dengan segala kepolosanku terkadang merasa hidup ini sangat kejam, merasa tertindas, apa yang dilakukan selalu salah. Pandanganku soal kehidupan ini menjadi abu-abu, tak dapat membedakan yang mana gerakan yang benar maupun salah, yang mana intervensi maupun arahan. Gerak ideologiku sekarang kacau balau, berpegang teguh dengan satu hal rasanya tidak mungkin lagi. Semua rekan hidupku meninggalkanku, tak ada yang namanya loyalitas, karena memang manusia diciptakan secara individu, lalu kembali ke individu. Sebagaimana kita merdeka secara personal (memiliki kesadaran dan kendali penuh atas diri kita sendiri, memiliki keinginan dan memimpin diri sendiri) namun kita harus menerima fakta bahwa kita tidak bisa hidup sendiri, kita hidup bersosialisasi, dan kita hidup dalam benturan keinginan manusia lain, kondisi manusia lain serta kepentingan manusia lain. <br>Penulisan ini sebagai bentuk ketidakkuatanku terhadap dinamika hidupku sendiri. Merasa sendiri, itu yang aku rasakan sekarang. Di manakah teman-temanku yang aku harapkan menjadi teman sekarang, ya mereka punya masalah sendiri. Namun di ujung rentang periode ini yang aku butuh kan hanyalah penyelesaian tanggung jawab bersama mereka, setelah itu aku tidak ambil pusing apa yang mereka lakukan terhadapku.</p><p>Ayolah kawan, ini sebentar lagi…..</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5b9b32aac500" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>