<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Ghazy Fathy on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Ghazy Fathy on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@ghazyfthy_?source=rss-071843b76b4d------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*hUcdzheIxnrwJWBWaSk_IQ.jpeg</url>
            <title>Stories by Ghazy Fathy on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_?source=rss-071843b76b4d------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Tue, 26 May 2026 19:49:12 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@ghazyfthy_/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Orang yang Selalu Hampir]]></title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_/orang-yang-selalu-hampir-2f4249ce10de?source=rss-071843b76b4d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2f4249ce10de</guid>
            <category><![CDATA[poetry-on-medium]]></category>
            <category><![CDATA[puisi]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ghazy Fathy]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 26 May 2026 14:54:08 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-26T14:54:08.963Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/387/1*wE1cMm547jSvCDjFJRUUUQ.jpeg" /></figure><p>Aku belajar membaca cuaca dari caramu bercerita —<br>bagaimana kamu menyebut namanya <br>dengan nada yang kamu kira sudah kamu kubur, <br>tapi tanah di atasnya masih hangat.</p><p>Aku tahu. <br>Aku selalu tahu. <br>Tapi manusia memang pandai meyakinkan dirinya sendiri <br>bahwa api yang sudah padam <br>tidak mungkin menyala lagi hanya karena abunya sudah dingin.</p><p>Kamu pernah bilang kamu lelah, <br>bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki, <br>bahwa beberapa pintu memang lebih baik ditutup. <br>Aku dengarkan itu semua dengan cara yang terlalu serius —<br>mencatat setiap kata seperti seseorang yang belajar bahasa baru, <br>tidak sadar bahwa bahasa itu tidak pernah ditujukan untukku.</p><p>Lucu sebenarnya — <br>bagaimana aku bisa sangat yakin <br>pada sesuatu yang tidak pernah diucapkan, <br>bagaimana keheningan bisa terasa seperti jawaban, <br>bagaimana perhatian bisa terasa seperti janji, <br>bagaimana aku membangun atap <br>dari sesuatu yang bahkan belum jadi dinding.</p><p>Manusia memang makhluk yang aneh — <br>senang sekali menghuni ruang-ruang yang belum tentu miliknya.</p><p>Dan pada awal juni<br>datanglah hari itu.</p><p>Bukan dalam bentuk pertengkaran, <br>bukan dalam bentuk air mata, <br>bukan dalam bentuk apapun yang pernah kubayangkan sebagai akhir—</p><p>hanya sebuah teks,<br>dalam notes handphoneku yang ia pinjam,<br>ditulis di ketinggian, <br>di antara guncangan yang tidak bisa dia kendalikan, <br>tentang seseorang yang katanya sudah selesai <br>ternyata belum pernah benar-benar pergi.</p><p>Dan aku membacanya <br>dengan tenang yang mengejutkan, <br>karena jauh di suatu tempat yang tidak pernah berani aku akui —</p><p>aku sudah tahu.</p><p>Ini bagian yang paling menyakitkan, <br>bukan pengakuannya, <br>bukan namanya yang muncul lagi, <br>bukan tiga tahun yang ternyata masih berjalan <br>sementara aku pikir sudah berhenti —</p><p>tapi kenyataan bahwa aku sudah melihat semua tandanya<br>dan tetap memilih untuk percaya <br>pada versi cerita yang lebih aku sukai.</p><p>Kita semua punya dosa itu — <br>memilih narasi yang nyaman <br>sampai realita mengetuk terlalu keras untuk diabaikan.</p><p>Maka inilah akhirnya, <br>bukan dengan ledakan, <br>tapi dengan sebuah pesan sopan yang ditulis dengan hati-hati, <br>yang mengapresiasi, yang meminta maaf, <br>yang berharap kita tidak canggung —</p><p>dan entah kenapa justru itu yang paling menyayat, <br>ketika seseorang menghancurkan sesuatu dengan sangat rapi <br>sehingga kamu bahkan tidak punya alasan untuk marah.</p><p>Aku tidak menangis. <br>Aku hanya duduk sebentar <br>dengan perasaan seperti seseorang yang baru sadar <br>telah berdiri di depan pintu yang salah terlalu lama —</p><p>dan pintu itu tidak pernah terkunci,</p><p>aku saja yang tidak pernah benar-benar masuk.</p><p><em>— tentangku akan pesanmu, yang mendarat lebih dahulu daripada pesawatmu. sedikit lebih berat, tapi baik-baik saja.</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2f4249ce10de" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kuharap Aku Membencimu]]></title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_/kuharap-aku-membencimu-9ecbcb055d09?source=rss-071843b76b4d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9ecbcb055d09</guid>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[puisi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ghazy Fathy]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 23 May 2026 17:12:04 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-23T17:12:04.725Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/500/1*l4cBQwR6HQVnVIxXnxCryA.jpeg" /></figure><p>Andai kebencian adalah bahasa yang bisa kupelajari,<br>aku akan mengukir namamu pada granit — <br>bukan sebagai monumen, tapi sebagai kutukan<br>yang menunggu hujan untuk melupakannya.<br>Aku akan melukis wajahmu di lidah api,<br>bukan agar hangus, tapi agar api sendiri tahu<br>betapa sulitnya membakar sesuatu yang terus bernapas.</p><p>Aku ingin menyebutmu dusta yang sempurna — <br>satu kebohongan besar yang melegitimasi semua pelupaan.<br>Tapi filsafat mengajarkan kita bahwa:<br>kebenaran tidak hilang hanya karena kita berpaling.<br>Dan hatiku, hakim yang tidak pernah ku minta,<br>terus membacakan kesaksian:<br>“Dia adalah asal dari kebahagiaanmu yang asli.”</p><p>Sungguh — aku ingin benci.<br>Bukan karena benci itu nikmat,<br>tapi karena benci punya vektor, punya arah,<br>punya telos yang jelas: pergi dan jangan kembali.<br>Sementara cinta yang tersisa ini<br>hanyalah energi tanpa gerak,<br>potensial yang tidak pernah menemukan tanah untuk jatuh.</p><p>Kau adalah luka yang menolak ontologi kesembuhan — <br>ada, nyata, tapi tidak sepenuhnya hadir;<br>menghilang di permukaan, tapi berdenyut<br>di lapisan bawah yang tidak punya nama.<br>Setiap kali kukira ingatan itu telah menjadi sejarah,<br>ia bergerak kembali seperti bayangan di air — <br>bukan hantu, tapi cermin yang terlalu jujur.</p><p>I wish, I hate you — <br>bukan karena kau layak dibenci,<br>tapi karena aku butuh sebuah kata<br>yang cukup besar untuk menutup semua pintu sekaligus.<br>Tapi kebencian tidak datang.<br>Yang datang hanya diam — diam yang berat,<br>diam yang dihuni oleh segala sesuatu yang belum selesai.<br>Dan kenangan-kenangan itu duduk di sekelilingku<br>seperti cermin retak yang masih bisa memantulkan:<br>tidak hancur, hanya tidak utuh.</p><p>Andai aku bisa membencimu,<br>mungkin aku sudah tahu cara kerja amnesia yang sukarela.<br>Tapi di sinilah paradoksnya:<br>hanya yang pernah dicintai dengan sungguh<br>yang tidak bisa dilupakan dengan mudah.<br>Maka aku masih di sini — <br>mencintaimu dengan cara yang keliru,<br>dengan luka yang lembut seperti luka-luka filosofis:<br>tidak mematikan, tapi terus bertanya,<br>tidak sembuh, tapi terus mengajarkan sesuatu<br>tentang apa artinya pernah sungguh-sungguh ada<br>di dalam kehidupan orang lain.</p><p><em>— Kutulis di Yogyakarta 24 Mei 2026, dalam bahasa kehilangan yang tidak punya padanan. Ghazyfathyy</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9ecbcb055d09" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Apa Salahnya Berbeda?]]></title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_/apa-salahnya-berbeda-8a2dcfdcfb4a?source=rss-071843b76b4d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8a2dcfdcfb4a</guid>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ghazy Fathy]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 18 May 2026 15:25:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-18T15:25:45.811Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*UlsFdQq0UO2yPr6cgi-lzw.jpeg" /></figure><p>Ia tidak lagi bersamaku, <br>dan aku tidak lagi mencoba menipu diriku sendiri <br>dengan berbagai bentuk rasionalisasi yang tampak matang <br>tetapi sesungguhnya rapuh. <br>Rindu tetap hadir, <br>bukan sebagai permintaan agar ia kembali, <br>melainkan sebagai gema dari sesuatu yang pernah begitu nyata <br>hingga kini masih memengaruhi cara aku merasakan dunia.</p><p>Aku tidak lagi dapat menatapnya. <br>Dunia tetap berjalan sebagaimana mestinya, <br>tetapi ada koordinat makna yang diam-diam bergeser. <br>Dahulu aku mengira perpisahan bekerja seperti pemisahan dua benda: <br>ada jarak, ada batas, ada akhir yang jelas. <br>Namun ternyata perpisahan lebih menyerupai perubahan struktur ruang itu sendiri. <br>Sesuatu tetap hilang, <br>tetapi jejaknya tidak pernah sepenuhnya pergi.</p><p>Kopi menjadi bukti paling sederhana dari transformasi itu. <br>Dahulu aku tidak menyukainya; <br>rasanya terlalu pahit bagi lidah yang terbiasa mencari yang mudah disukai. <br>Kini setiap malam aku meminumnya, <br>bukan karena aku masih ingin dia kembali, <br>melainkan karena kebiasaan itu telah menjadi semacam warisan tak kasat mata. <br>Ada hal-hal yang tidak lagi memiliki pemilik, <br>tetapi tetap memiliki pengaruh. <br>Seperti sebuah kata yang terus digunakan <br>meskipun kita telah lupa <br>siapa yang pertama kali mengucapkannya.</p><p>Kami pernah mencoba berdiri di atas perbedaan <br>yang bagi banyak orang tampak seperti jurang. <br>Perbedaan keyakinan, <br>perbedaan cara menamai yang Ilahi. <br>Ia berkata bahwa kita tidak mungkin bersama selamanya <br>karena perbedaan itu. <br>Aku mengiyakan, <br>bukan karena aku sepenuhnya memahami, <br>melainkan karena aku percaya <br>bahwa mencintai juga berarti memberi ruang <br>bagi keputusan yang tidak selalu kita inginkan.</p><p>Tetapi waktu bergerak dengan cara yang kadang terlalu ironis untuk disebut kebetulan. <br>Setelah kami berpisah, <br>ia menjalin hubungan dengan seseorang yang juga berbeda keyakinan. <br>Di titik itu, luka tidak lagi hanya berasal dari kehilangan dirinya, <br>tetapi dari runtuhnya alasan <br>yang dulu dijadikan fondasi perpisahan. <br>Aku merasa bukan sekadar ditinggalkan, <br>melainkan digantikan oleh kemungkinan <br>yang dulu dianggap mustahil. <br>Seolah perbedaan yang dahulu diposisikan sebagai batas ontologis <br>ternyata hanyalah batas situasional.</p><p>Ia berkata karena Tuhan. <br>Aku mencoba menerima kalimat itu, <br>tetapi pertanyaan diam-diam menetap: <br>mengapa Tuhan mengubah arah cintanya, <br>tetapi tidak mengubah arah cintaku? <br>Apakah cinta memiliki teologi yang berbeda bagi setiap orang? <br>Atau jangan-jangan kita hanya meminjam nama Tuhan <br>untuk menamai keputusan yang sebenarnya lahir dari ketakutan manusiawi?</p><p>Mungkin benar kata Rupi Kaur: <br>jangan keliru membedakan mana gula dan mana garam; <br>jika seseorang tidak ingin bersamamu, <br>ia tidak akan bersamamu — sesederhana itu. <br>Tetapi kesederhanaan itu justru menyisakan ruang sunyi yang luas. <br>Karena jika segala sesuatu sesederhana itu, <br>mengapa manusia begitu sering menyusun alasan yang tampak rumit?</p><p>Selama dua tahun terakhir, <br>aku berulang kali memikirkan satu pertanyaan <br>yang tidak kunjung selesai: <br>apa sebenarnya yang salah dari perbedaan? <br>Bukankah berbeda justru menandai keunikan keberadaan? <br>Tanpa perbedaan, segala sesuatu akan larut dalam keseragaman <br>yang tidak lagi membutuhkan perjumpaan. <br>Jika setiap manusia identik, <br>maka relasi kehilangan maknanya, <br>karena tidak ada lagi sesuatu yang sungguh-sungguh ditemui.</p><p>Mengapa kita lebih takut terhadap perbedaan <br>daripada terhadap perpisahan itu sendiri? <br>Mungkin karena perbedaan memaksa kita berdiri tanpa jaminan. <br>Perbedaan menuntut keberanian untuk mencintai <br>tanpa kepastian bahwa dunia akan menyetujuinya. <br>Perbedaan membuat cinta tidak hanya menjadi perasaan, <br>tetapi juga keputusan eksistensial <br>yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan banyak tatapan.</p><p>Namun aku sering membayangkan kemungkinan lain: <br>bahwa perbedaan sesungguhnya tidak selalu memisahkan, <br>kadang ia hanya memperkaya cara sesuatu saling hadir. <br>Siapa yang dapat memastikan bahwa gereja tidak diam-diam jatuh cinta <br>pada lantunan adzan yang setiap hari melintas di langitnya? <br>Atau siapa yang berani menjamin bahwa masjid tidak pernah tersentuh <br>oleh gema lonceng yang bergetar di udara? <br>Bahkan andaikan bangunan-bangunan itu diberi kesadaran, <br>siapa yang bisa menjamin bahwa Istiqlal dan Katedral tidak saling jatuh hati dalam diam, <br>setiap kali fajar membuka kemungkinan baru bagi perjumpaan?</p><p>Mungkin yang paling sulit bukan menerima bahwa perbedaan itu ada, <br>melainkan menerima bahwa cinta tidak selalu memilih arah yang kita anggap paling masuk akal. <br>Ada cinta yang bertahan, <br>ada cinta yang berubah, <br>dan ada cinta yang tetap tinggal <br>sebagai cara baru kita memahami diri sendiri.</p><p>Aku tidak lagi berharap ia kembali. <br>Tetapi aku juga tidak dapat menyangkal <br>bahwa melalui dirinya aku belajar satu hal yang terus bekerja dalam diam: <br>bahwa perbedaan tidak selalu berarti kesalahan. <br>Kadang ia hanyalah bentuk lain dari jarak <br>yang menunggu untuk dimaknai, <br>bukan untuk ditakuti.</p><p>Setiap malam, <br>ketika kopi itu kembali terasa pahit, <br>aku menyadari bahwa rasa pahit bukan lawan dari manis. <br>Ia hanya cara lain bagi pengalaman <br>untuk memastikan bahwa sesuatu pernah sungguh terjadi.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8a2dcfdcfb4a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kota yang Sama, Langkah yang Berbeda]]></title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_/kota-yang-sama-langkah-yang-berbeda-a18729780878?source=rss-071843b76b4d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a18729780878</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ghazy Fathy]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 11 May 2026 12:00:15 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-11T12:00:15.742Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*0-MJHXXNaSstMhulj3d3Ng.jpeg" /></figure><p>kita pernah memutari kota ini seperti dua orang yang tidak sedang mengejar apapun —<br> dan mungkin memang tidak. <br>mungkin itu yang membuatnya terasa begitu ringan.</p><p>kamu berbicara dengan suara yang tidak pernah terburu-buru. <br>setiap kalimatmu datang seperti air yang tahu jalurnya sendiri — <br>pelan, tepat, tidak pernah memenuhi ruang lebih dari yang dibutuhkan.<br>kamu tidak pernah berteriak untuk didengar. <br>kamu hanya bicara, <br>dan entah bagaimana semua orang di meja itu selalu berhenti untuk mendengarkan.</p><p>tawamu adalah hal lain lagi. <br>ia tidak dibuat-buat. <br>ia datang dari suatu tempat yang dalam <br>dan ketika ia tiba di permukaan ia membawa serta sesuatu yang hangat, <br>sesuatu yang membuat ruangan terasa lebih kecil dalam artian yang baik — <br>lebih dekat, lebih manusiawi, lebih seperti rumah.</p><p>dan senyummu — <br>senyummu adalah hal yang paling sulit kujelaskan <br>karena ia tidak pernah berlebihan. <br>ia hanya ada, <br>di sudut bibirmu, <br>seperti sesuatu yang tidak meminta apapun <br>tapi entah bagaimana selalu berhasil <br>membuat hari yang paling biasa sekalipun terasa seperti sesuatu yang layak diingat.</p><p>kita makan malam tanpa agenda. <br>duduk di kafe sampai malam hendak berubah pagi, <br>membicarakan hal-hal yang tidak penting <br>dengan cara yang terasa sangat penting — <br>karena bersamamu, <br>bahkan percakapan yang paling ringan <br>memiliki bobot yang tidak bisa kujelaskan.</p><p>teman? <br>aku sungguh tidak pernah mengerti kata itu <br>untuk menggambarkan apa yang kita punya.</p><p>karena yang kurasakan bukan sesuatu yang rumit — <br>justru sebaliknya. <br>ia terlalu sederhana untuk diberi nama yang besar, <br>tapi terlalu dalam untuk disebut biasa.</p><p>cinta, <br>aku kemudian mengerti, <br>tidak pernah serumit yang orang katakan. <br>yang rumit adalah manusia. <br>adalah kamu. <br>cinta itu sendiri sederhana — <br>sesederhana memesan dua cangkir kopi di pagi hari, bukan satu. <br>sesederhana <em>“hubungi kalau kau butuh ya”</em> <br>yang diucapkan tanpa syarat. <br>sesederhana <em>“i’m all ears”</em> — <br>dan benar-benar mendengarkan, <br>bukan menunggu giliran untuk bicara.</p><p>cinta adalah mendengarkan tanpa merasa perlu menjawab. <br>adalah <em>“lagu ini mengingatkanku padamu”</em> <br>yang dikirim tanpa alasan di tengah hari yang tidak istimewa. <br>adalah mencari ribuan alasan kecil <br>untuk memperpanjang obrolan <br>meski mata sudah berat <br>dan malam sudah terlalu jauh berjalan.</p><p>cinta adalah mengganti selamat tinggal dengan sampai jumpa — <br>karena selamat tinggal terasa terlalu final <br>untuk sesuatu yang tidak ingin kamu akhiri.</p><p>dan semua itu ada di antara kita — <br>dalam bentuk yang paling tidak mencolok, <br>dalam gestur-gestur kecil <br>yang tidak pernah meminta untuk diakui.</p><p>itulah mengapa aku bingung menyebutnya pertemanan. <br>karena yang aku rasakan bukan sekadar kehadiran — <br>ia adalah <em>being-with</em> dalam artian yang paling penuh: <br>hadir bukan karena kebetulan, <br>bukan karena tidak ada tempat lain untuk pergi, <br>tapi karena di sinilah kesadaran memilih untuk tinggal.</p><p>yang rumit bukan cintanya. <br>yang rumit adalah kamu — <br>yang merasakannya dengan cara yang berbeda, <br>atau mungkin tidak merasakannya sama sekali, <br>atau mungkin merasakannya tapi memilih untuk tidak.</p><p>aku tidak pernah tahu mana yang benar. <br>dan ketidaktahuan itu, <br>ternyata, <br>adalah bentuk penderitaan yang paling sunyi.</p><p>lalu kamu pergi, jauh. <br>dan yang tersisa adalah kekosongan <br>yang tidak bisa kuisi dengan apapun yang sudah kucoba.</p><p>kota ini tiba-tiba terasa terlalu besar <br>untuk satu orang yang terbiasa memutarinya berdua. <br>kafe itu tiba-tiba terasa terlalu terang <br>untuk seseorang yang duduk sendirian <br>di meja yang dulu selalu terasa pas untuk dua.</p><p>lalu kamu kembali — <br>dan bersama kepulanganmu, <br>sebuah surat.</p><p>bahwa ia tak ingin.</p><p>aku membacanya sekali. <br>lalu sekali lagi. <br>seolah pengulangan akan mengubah artinya.</p><p>ia tidak mengubah apapun.</p><p>habis sudah rasaku —<br>bukan dengan cara yang dramatis, <br>bukan dengan cara yang bisa diceritakan kepada orang lain <br>sebagai sesuatu yang layak dikasihani. <br>tapi habis dengan cara yang paling sunyi: <br>seperti lilin yang tidak ditiup, <br>hanya dibiarkan menyala <br>sampai ia tidak bisa lagi.</p><p>aku tidak tahu lagi harus apa. <br>tidak terpikir untuk mencinta orang lain. <br>nama lain terasa seperti bahasa asing <br>yang tidak ingin kupelajari — <br>karena kesadaranku sudah terlanjur menemukan objek intensionalitasnya,<br>dan ia tidak tahu cara berpindah <br>hanya karena objek itu memilih untuk tidak menerima.</p><p>maka aku keluar.</p><p>Murdoch menyebutnya <em>unselfing</em> — <br>momen ketika ego berhenti menjadi pusat gravitasi, <br>ketika kita keluar dari diri kita sendiri <br>dan melihat dunia apa adanya: <br>indah, besar, tidak peduli pada luka kita <br>dengan cara yang justru membebaskan.</p><p>aku mencobanya.</p><p>aku lihat langit yang terlalu biru untuk diabaikan. <br>aku lihat orang-orang di jalanan <br>yang masing-masing membawa hidupnya sendiri <br>tanpa tahu bahwa aku sedang berdiri di sini <br>dengan dada yang separuhnya kosong. <br>aku lihat pohon, angin, <br>cahaya sore yang jatuh miring ke permukaan kota <br>yang tidak pernah berhenti bergerak.</p><p>dan untuk sesaat — <br>hanya sesaat — <br>aku berhasil keluar dari narasiku sendiri. <br>dunia terasa luas, <br>impersonal, <br>bebas dari beban subjektivitas <br>yang selama ini membuatku tidak bisa melihat apapun <br>tanpa melihat bayanganmu di dalamnya.</p><p>dunia memang indah. <br>Murdoch tidak berbohong.</p><p>tapi sesaat adalah sesaat.</p><p>dan ketika aku kembali ke dalam tubuhku sendiri, <br>semuanya masih ada di tempat yang sama — <br>kekosongan itu, <br>namamu itu, <br>surat itu.</p><p>mungkin <em>unselfing</em> berhasil <br>untuk mereka yang lukanya belum terlalu dalam menancap. <br>tapi aku — <br>aku sudah terlalu lama membawa namamu <br>sampai ia bukan lagi sesuatu yang bisa kulepas <br>hanya dengan memandang langit yang indah.</p><p>ia sudah menjadi bagian dari caraku melihat langit itu.</p><p>dan mungkin itulah kondisi manusia yang paling tragis: <br>bahwa kita bisa mengerti keindahan dunia secara intelektual, <br>bisa berdiri di hadapannya dengan penuh kekaguman, <br>tapi tetap tidak bisa mencegah pikiran untuk kembali <br>ke satu nama di tengah semua keindahan itu.</p><p>seperti seseorang yang pergi jauh untuk melupakan <br>dan justru menemukan bahwa jarak tidak mengubah arah — <br>ia hanya memperpanjang perjalanan pulang ke tempat yang sama.</p><p><em>Condongcatur, Sleman<br>11 Mei 2026<br>ghazyfathyy</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a18729780878" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pura-Pura]]></title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_/pura-pura-fcba02a39935?source=rss-071843b76b4d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/fcba02a39935</guid>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ghazy Fathy]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 04 May 2026 04:39:50 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-04T04:39:50.127Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/735/1*7h5QV97ASaP3env6zeXgMw.jpeg" /></figure><p>pada akhirnya, inilah yang tersisa dari semua yang pernah kita bangun bersama — bukan kenangan yang dirawat, bukan luka yang diakui, melainkan kesepakatan diam-diam yang tidak pernah kita tanda tangani tapi keduanya kita pahami.</p><p>bahwa kita akan berpura-pura.</p><p>seperti buku yang dikembalikan ke rak dengan punggung menghadap ke dalam — masih ada, tapi judulnya tidak bisa dibaca. seperti nomor telepon yang tidak dihapus tapi juga tidak pernah dihubungi. seperti foto yang dipindahkan ke folder paling dalam, di dalam folder lain, yang tidak diberi nama.</p><p>kita tidak membuang. kita hanya menyembunyikan.</p><p>kamu akan berpura-pura lupa warna favoritku. tanggal lahirku. cara aku selalu memesan kopi tanpa es meski hawanya panas. hal-hal kecil yang dulu kamu tahu tanpa harus mencatatnya — karena kamu memang tidak pernah perlu mencatat. kamu tahu karena kamu hadir. dan kehadiran itu sekarang harus berpura-pura tidak pernah ada.</p><p>aku juga akan melakukan hal yang sama.</p><p>akan aku pura-pura tidak tahu tentang keinginan terbesar dalam hidupmu. tentang bagaimana kamu memilih menu ikan pindang pedas pada makan malammu, tentang kamu dan lalampa, tentang jokes-jokes bodohmu yang selalu berhasil membuatku tertawa lebih keras dari yang seharusnya. aku akan scroll melewati kontenmu di media sosial tanpa berhenti — atau berhenti sebentar, lalu pura-pura tidak sengaja.</p><p>dan ketika kita berpapasan di jalan — karena kita akan berpapasan, dunia tidak pernah cukup luas untuk dua orang yang pernah saling mengenal— kamu akan tiba-tiba menjadi sangat sibuk dengan ponselmu. aku akan menemukan sesuatu yang sangat menarik di arah yang berlawanan. kita akan berjalan melewati satu sama lain seperti dua orang asing yang kebetulan mengenakan wajah yang familiar.</p><p>seperti lagu yang diganti sebelum selesai karena tiba-tiba terasa terlalu dekat. seperti jalan pulang yang sengaja diubah rutenya hanya untuk menghindari satu belokan. seperti nama yang diketik lalu dihapus lagi sebelum sempat dikirim.</p><p>saat temanmu menanyakan kabarku, kamu akan berpura-pura tidak mendengar. akan kamu yakinkan dirimu bahwa aku bukan orang yang ingin kamu miliki. dan mungkin jika kamu mengulangnya cukup sering — seperti alarm yang terus ditekan snooze sampai akhirnya lupa bahwa ia pernah berbunyi — kamu akan mulai mempercayainya.</p><p>tapi ada satu hal yang tidak bisa dibohongi oleh pura-pura manapun:</p><p>tubuh selalu ingat.</p><p>tangan yang pernah terbiasa menggenggam akan terasa aneh dalam kekosongannya. telinga yang pernah hafal suara tawa seseorang akan menolak untuk tidak mengenalinya di keramaian. dan malam-malam tertentu — bukan malam yang dramatis, justru malam yang paling biasa — sesuatu yang kecil akan mengingatkan pada sesuatu yang lain, dan seluruh bangunan pura-pura itu akan retak sebentar sebelum kita tergesa-gesa menambalnya kembali.</p><p>karena itulah harga dari kesepakatan yang tidak pernah kita ucapkan itu.</p><p>cinta yang habis tidak benar-benar menghilang. <br>ia hanya berganti nama — <br>menjadi kebiasaan yang ditinggalkan, <br>menjadi lagu yang dilewati, <br>menjadi jalan yang dihindari, <br>menjadi nama yang tidak jadi dikirim.</p><p>menjadi pura-pura <br>yang kita rawat setiap hari <br>agar tidak runtuh <br>sebelum kita benar-benar siap <br>untuk mengakui bahwa <br>ia pernah nyata.</p><p><em>condongcatur, Sleman<br>4 mei 2026<br>ghazyfathyy</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=fcba02a39935" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Sujud yang Tak Bisa Dibagi]]></title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_/sujud-yang-tak-bisa-dibagi-743fd77ab6f5?source=rss-071843b76b4d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/743fd77ab6f5</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ghazy Fathy]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 03 May 2026 08:41:11 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-03T08:41:11.328Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*2TkfMgSNrxiLELcMTsc-jw.jpeg" /></figure><p>ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar dijawab oleh teologi manapun: apakah Iblis memberontak, atau apakah ia hanya terlalu setia?</p><p>ia berdiri di hadapan perintah untuk menunduk pada Adam — dan menolak. bukan karena ia membenci tanah, bukan karena ia meremehkan bentuk baru itu. tapi karena ia hanya mengenal satu kiblat. dan kiblat itu bukan Adam. dalam logika Iblis, menyembah selain Tuhan — bahkan ketika Tuhan sendiri yang memerintahkannya — adalah pengkhianatan terhadap prinsip yang paling fundamental: bahwa sujud adalah sesuatu yang tidak bisa dibagi.</p><p>dunia menyebutnya pembangkang. <br>tapi bukankah itu, dalam cara yang paling tragis, sebuah bentuk kesetiaan?</p><p>Kierkegaard pernah berbicara tentang <em>teleological suspension of the ethical</em> — bahwa ada momen di mana kesetiaan pada satu hal yang absolut mengharuskan seseorang untuk tampak salah di mata semua orang lain (Kierkegaard, Fear and Trembling, 1843). Abraham tampak seperti pembunuh. Iblis tampak seperti pemberontak. dan aku —</p><p>aku tampak seperti seseorang yang tidak bisa berpaling darimu.</p><p>tapi tentangmu, aku seperti Iblis itu.</p><p>bukan dalam artian yang gelap. bukan dalam artian perlawanan. melainkan dalam artian yang paling sederhana dan paling menyakitkan: bahwa hatiku telah menandai satu nama sebagai satu-satunya yang layak menerima apa yang paling jujur di dalam dadaku — dan ia menolak untuk belajar menukar nama itu hanya karena dunia tidak sabar.</p><p>cinta, dalam pengertian yang paling jujur, tidak bekerja dengan logika efisiensi. Fromm pernah menulis bahwa <em>“love is not primarily a relationship to a specific person; it is an attitude, an orientation of character”</em> (Fromm, The Art of Loving, 1956) — dan orientasi itu, sekali terbentuk dan menemukan objeknya yang paling konkret, tidak punya mekanisme untuk sekadar dialihkan. seperti laut yang tidak bisa memilih untuk tidak setia pada gravitasinya. seperti poros bumi yang tidak bisa diperintah untuk berhenti pada satu musim dan segera pindah ke musim berikutnya.</p><p>menunggu, aku tahu, terlihat seperti kegilaan. <br>menunggu berarti sepi. <br>menunggu berarti dianggap tidak waras. <br>menunggu berarti menerima kemungkinan bahwa pintu itu tidak pernah dibuka kembali.</p><p>tapi aku lebih takut pada satu hal: menjadi orang yang mudah berpindah arah hanya karena dunia tidak sabar. karena berpaling, bagiku, bukan penyembuhan — ia hanyalah cara lain untuk lupa bahwa aku pernah sungguh-sungguh. dan aku tidak ingin menjadi orang yang pernah sungguh-sungguh lalu melupakannya seolah itu bukan sesuatu yang layak dipertahankan.</p><p>Heidegger pernah menulis bahwa manusia adalah makhluk yang selalu sudah <em>“geworfen”</em> — terlempar ke dalam dunia tanpa meminta, tanpa memilih dari mana ia datang (Heidegger, Being and Time, 1927). tapi di dalam keterlemparan itu, manusia tetap memiliki satu hal: cara ia merespons. cara ia berdiri di hadapan apa yang ditemuinya. dan aku merespons dengan tinggal. dengan tidak berpindah. bukan karena tidak mampu, tapi karena memilih untuk tidak mengkhianati apa yang paling jujur di dalam dadaku.</p><p>jika harus ada yang tersisa di altar kesetiaan yang tidak terbalas ini, biarlah itu aku.</p><p>biarlah aku yang disebut keras kepala. yang tidak pandai menukar nama secepat orang mengganti musim. yang tampak seperti Iblis di mata mereka yang tidak mengerti bahwa ada bentuk kesetiaan yang harganya adalah pengusiran — dari surga, dari kenyamanan, dari kemungkinan untuk tidak terluka.</p><p>aku tidak sedang menantang takdir. aku tidak sedang melawan Tuhan. aku hanya memilih untuk tidak mengkhianati apa yang paling jujur di dalam dadaku.</p><p>dan bila suatu hari engkau tetap tidak kembali, biarlah penantianku menjadi saksi — bahwa pernah ada kesadaran yang bergerak ke arahmu tanpa cadangan, tanpa rencana pelarian, tanpa altar lain yang disiapkan sebagai cadangan.</p><p>sebab sujud, seperti yang Iblis tahu jauh sebelum aku, <br>adalah sesuatu yang tidak bisa dibagi.</p><p>dan aku hanya punya satu.<br>kamu.</p><p><em>Yogyakarta<br>3 Mei 2026</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=743fd77ab6f5" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Gerakan yang Tak Pernah Selesai]]></title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_/gerakan-yang-tak-pernah-selesai-7b62e96b7e04?source=rss-071843b76b4d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7b62e96b7e04</guid>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ghazy Fathy]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 02 May 2026 04:31:33 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-02T09:05:44.238Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/640/1*hAzJZAwNKAuo5TTaw-Usig.jpeg" /></figure><p><em>“love is the movement in which every concrete individual object that possesses value achieves the highest value compatible with its nature”</em> (Scheler, 1913/1973:261) — dan aku menghabiskan waktu yang tidak sebentar untuk berpura-pura bahwa gerakan itu sudah berhenti.</p><p>bahwa ia sudah sampai di ujungnya. <br>bahwa kesadaranku sudah belajar diam.</p><p>ternyata belum.</p><p>karena hampir setahun bukanlah waktu yang sebentar untuk belajar mengenal seseorang — cukup lama untuk mengetahui di mana ia meletakkan kehalusan dalam kalimatnya, cukup lama untuk hafal bagaimana senyumnya datang tanpa meminta perhatian siapapun, cukup lama untuk merasa bahwa kedekatan itu bukan kebetulan yang perlu dipertanyakan. dan di sinilah masalahnya: kesadaran yang sudah terlanjur bergerak ke arah seseorang tidak punya mekanisme untuk mundur hanya karena orang itu memilih kembali ke masa lalunya.</p><p>ia kembali. kepada yang lebih dulu hadir sebelum aku. dan aku — yang datang di antara keduanya, yang mengisi ruang yang mungkin tidak pernah benar-benar kosong — ditinggalkan dengan pertanyaan yang tidak punya tempat untuk diajukan kepada siapapun.</p><p>lalu bagaimana denganku?</p><p>Sartre bilang bahwa kesadaran adalah <em>“a directedness towards things”</em> (Sartre, 1970: 4–5) — bukan pilihan, bukan keputusan, melainkan arah yang sudah menjadi sifat dasarnya. dan arah itu tidak berhenti hanya karena objeknya telah memilih arah yang berbeda. kesadaranku tetap mengarah. tetap bergerak. tetap menemukan nilainya di tempat yang sama — pada senyum yang sama, pada kalimat-kalimat yang mengalir dengan kehalusan yang tidak dibuat-buat, pada seseorang yang bahkan ketika memilih pergi tetap terasa seperti sesuatu yang konkret dan nyata di dalam kesadaranku.</p><p>dan inilah yang tidak diajarkan oleh filsafat manapun dengan cukup jujur: bahwa gerakan cinta tidak selalu menemukan tempat berlabuh yang setara. bahwa nilai bisa dikenali oleh satu kesadaran dan diabaikan oleh yang lain. bahwa kamu bisa menjadi seseorang yang di dalam dirinya sebuah kesadaran menemukan nilai tertingginya — sementara di dalam dirimu sendiri, kesadaranmu sedang mengarah ke tempat lain. ke nama lain. ke masa lalu yang rupanya belum selesai.</p><p><em>“of these millions, I may desire some hundreds; but of these hundreds, I love only one”</em> (Barthes, A Lover’s Discourse: Fragments, 1977) — dan yang satu itu, bagiku, adalah kamu. tapi aku tidak tahu apakah aku bahkan masuk ke dalam hitunganmu. apakah aku bagian dari jutaan yang lewat begitu saja, atau ratusan yang sempat diinginkan, atau — dan ini yang paling menyakitkan untuk dipikirkan — apakah aku hanya ruang tunggu antara dirimu dan masa lalumu yang selalu akan lebih besar dariku.</p><p>maka lalu bagaimana denganku?</p><p>mungkin itulah pertanyaan yang paling jujur dan paling tidak bisa dijawab oleh filsafat manapun. karena filsafat bisa menjelaskan mengapa kesadaran bergerak, ke mana ia mengarah, dan apa yang membuatnya tidak bisa berhenti — tapi ia tidak bisa menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang gerakannya tidak disambut. yang kesadarannya sudah terlanjur menemukan nilai tertingginya pada seseorang yang sedang sibuk kembali kepada nilai yang lebih lama.</p><p>mungkin aku hanya belajar untuk tinggal di dalam gerakan itu — <br>tanpa tujuan yang pasti, <br>tanpa jaminan akan sampai, <br>hanya bergerak, <br>karena rupanya itulah satu-satunya hal yang kesadaranku tahu cara melakukannya</p><p>ketika berbicara tentangmu.</p><p><em>yogyakarta,<br>2 Mei 2026<br>ghazyfathyy</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7b62e96b7e04" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Seni Melukai Hati]]></title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_/seni-melukai-hati-c722bc0aaf34?source=rss-071843b76b4d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c722bc0aaf34</guid>
            <category><![CDATA[heartache]]></category>
            <category><![CDATA[puisi]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <category><![CDATA[puisi-indonesia]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ghazy Fathy]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 28 Feb 2026 12:47:17 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-28T12:47:17.945Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/660/1*FAE_-tNZiKqcpQ0lq9gbDg.jpeg" /></figure><p>Kau mengajarkan seni itu dengan tenang<br>Bukan pukulan keras, melainkan goresan halus<br>Senyum yang menebar retak<br>Kata yang menempel seperti embun malam.</p><p>Aku bodoh,<br>Mencintaimu seperti pengrajin yang terus memahat.<br>Mengira setiap serpihan adalah bentuk yang mesti disempurnakan.<br>Kau pecahkan satu, aku kumpulkan lagi,<br>Kau pecahkan dua, aku jahit lagi — <br>Menggunakan benang bernama setia.</p><p>Di saku bajuku ada dinding-dinding kecil dari pecahan hatiku.<br>Kubawa mereka setiap kali kau lewat.<br>Seolah memamerkan betapa hebatnya aku merawatmu.<br>Kau tahu aku takkan pergi,<br>Itu fakta najis yang selalu menenangkanmu.<br>Senjata yang paling halus, yang selalu kau bawa pulang.</p><p>Seni melukai itu bukan kebetulan.<br>Ia adalah karya yang kau latih setiap kali kau ragu.<br>Menyentuh lalu mundur, memberi hangat lalu membiarkan dingin.<br>Membiarkanku memikul puing-puing cinta sebagai ritual.</p><p>Aku tetap disini, mengumpulkan, menempel, merapikan — <br>Sebagai kurator luka yang tak pernah diminta.<br>Mungkin ini cinta, atau kebodohan?</p><p>Tapi lihatlah: setiap kali kau mematahkan lagi,<br>Aku bangun kembali, lebih rapuh, lebih paham cara menyimpan abrasi.<br>Hingga suatu hari aku bertanya pada cermin:<br>Apakah ini cinta yang kudamba,<br>Atau hanya seni yang mesti kutelan hingga mati?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c722bc0aaf34" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Hanya Satu Nama]]></title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_/hanya-satu-nama-9348c3651cf0?source=rss-071843b76b4d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9348c3651cf0</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <category><![CDATA[puisi-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[puisi]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ghazy Fathy]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 18 Feb 2026 14:19:00 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-18T14:23:03.913Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/478/1*sHVq64ymWGR_kPJN3d__PA.jpeg" /></figure><p>Aku tidak tahu sejak kapan<br>menunggu menjadi bentuk ibadah.<br>Sejak kapan diam<br>menjadi nazar yang tak pernah kuucapkan keras-keras.</p><p>Tentangmu,<br>aku enggan berpaling.</p><p>Bukan karena dunia tak menyediakan pilihan,<br>bukan karena tak ada tangan lain yang terulur,<br>melainkan karena hatiku telah memilih<br>satu arah<br>dan menolak belajar arah yang lain.</p><p>Ada kisah lama tentang makhluk cahaya<br>yang pernah berdiri di hadapan perintah.<br>Ia diminta menunduk pada ciptaan,<br>namun ia hanya mengenal satu kiblat.<br>Ia tidak membenci tanah,<br>tidak meremehkan bentuk baru itu — <br>ia hanya tak sanggup membagi sujudnya.</p><p>Dan dunia menyebutnya pembangkang.</p><p>Sejak itu aku mengerti,<br>kesetiaan kadang tampak seperti kesalahan.<br>Ketaatan kadang terlihat seperti kesombongan.<br>Padahal mungkin,<br>ia hanya terlalu lurus<br>untuk berbelok.</p><p>Tentangmu,<br>aku seperti itu.</p><p>Aku tidak memujamu.<br>Aku tidak menyembahmu.<br>Namun hatiku telah menandaimu<br>sebagai satu-satunya nama<br>yang ingin kusebut dalam doa-doa panjangku.</p><p>Orang-orang berkata:<br>hidup harus bergerak.<br>Cinta harus realistis.<br>Waktu tidak menunggu siapa pun.</p><p>Namun siapa yang bisa memaksa poros bumi<br>berhenti pada satu musim<br>dan segera pindah ke musim lain?<br>Siapa yang bisa memerintah laut<br>untuk tidak lagi setia pada gravitasinya?</p><p>Aku tahu konsekuensinya.<br>Menunggu berarti sepi.<br>Menunggu berarti dianggap tak waras.<br>Menunggu berarti menerima kemungkinan<br>bahwa pintu itu tak pernah dibuka kembali.</p><p>Tetapi aku lebih takut pada satu hal:<br>menjadi orang yang mudah berpindah arah<br>hanya karena dunia tak sabar.</p><p>Jika harus ada yang tersisa<br>di altar kesetiaan yang tak terbalas ini,<br>biarlah itu aku.<br>Biarlah aku yang disebut keras kepala,<br>yang tak pandai menukar nama<br>secepat orang mengganti musim.</p><p>Aku tidak sedang menantang takdir.<br>Aku tidak sedang melawan Tuhan.<br>Aku hanya memilih untuk tidak mengkhianati<br>apa yang paling jujur di dalam dadaku.</p><p>Dan bila suatu hari<br>engkau tetap tak kembali,<br>biarlah penantianku menjadi saksi<br>bahwa aku pernah mencintai<br>dengan satu arah,<br>tanpa cadangan,<br>tanpa rencana pelarian.</p><p>Sebab bagiku,<br>berpaling bukanlah penyembuhan — <br>ia hanyalah cara lain untuk lupa<br>bahwa aku pernah sungguh-sungguh.</p><p>Maka aku tinggal.<br>Di sini.<br>Dalam diam yang panjang,<br>dalam doa yang tak selalu dijawab,<br>dalam kesetiaan yang mungkin<br>tak pernah dimengerti siapa pun.</p><p>Jika dunia menyebutnya keliru,<br>biarlah.</p><p>Aku hanya sedang setia<br>pada satu nama.</p><p><em>Kontrakan Bu Rini, Yogyakarta<br>18 Februari 2026<br>Ghazyfathyy</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9348c3651cf0" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Tak Perlu Kau Tahu]]></title>
            <link>https://medium.com/@ghazyfthy_/tak-perlu-kau-tahu-3c380717a20c?source=rss-071843b76b4d------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/3c380717a20c</guid>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[puisi-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[poetry]]></category>
            <category><![CDATA[puisi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ghazy Fathy]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 17 Feb 2026 11:53:09 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-17T11:53:09.282Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*GxKrfs8sWGdLRHoIbutx9A.jpeg" /></figure><p>Tak perlu kau tahu lelahku<br>Yang kutaruh rapi di laci paling dalam<br>Biarlah ia tetap sunyi<br>Sebuah barang yang hanya aku yang mengangkatnya.</p><p>Yang perlu kau tahu hanyalah senyumku<br>Ketika wajahmu terang — <br>Biarlah itu menjadi cermin<br>Yang memantulkan cahaya untuk kita</p><p>Jangan tanyakan dengan rinci retak-retakku<br>Jangan sibukkan hatimu pada luka-lukaku<br>Karena apa yang paling kusediakan untukmu<br>Adalah sisa kebahagiaan yang kugengam — <br>Agar saat kau bahagia,<br>Aku pun tampak utuh.</p><p>Jika suatu hari nanti aku runtuh perlahan<br>Jangan jadi saksi yang menghakimi — <br>Jadilah saksi yang pernah merasakan<br>Bahwa aku pernah memilih melebur demi senyummu.</p><p>Yang perlu kau lihat hanyalah itu:<br>Aku bahagia ketika kau bahagia<br>Itulah alasanku menahan letih<br>Itu juga alasanku tetap bertahan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=3c380717a20c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>