<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Jasmine on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Jasmine on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@jasmineiniesta?source=rss-4a67dfa626aa------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*wCO_fF-GTBh9rsl-VWar5A.jpeg</url>
            <title>Stories by Jasmine on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@jasmineiniesta?source=rss-4a67dfa626aa------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Wed, 27 May 2026 00:38:04 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@jasmineiniesta/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Tell me about “Them”]]></title>
            <link>https://medium.com/@jasmineiniesta/tell-me-about-them-8f423ac85320?source=rss-4a67dfa626aa------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8f423ac85320</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Jasmine]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 22 May 2026 07:31:32 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-22T07:31:32.740Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Hiro dan Inggrid</p><p>Malam di Jakarta selalu punya cara sendiri untuk membuat semuanya terasa lebih lambat.</p><p>Lampu jalan memantul di kaca jendela kafe, suara kendaraan terdengar samar dari luar, sementara di dalam sana — suasana hangat bercampur aroma kopi dan suara keyboard laptop yang ditekan berulang kali.</p><p>Di sudut dekat jendela, Inggrid duduk fokus di depan laptopnya.</p><p>Rambutnya diikat asal membentuk messy bun, kacamata bertengger di hidungnya, dan hoodie abu-abu kebesaran yang membuat dirinya terlihat jauh lebih santai dibanding “Inggrid anak BEM” yang dikenal satu kampus.</p><p>Jarinya bergerak cepat di atas keyboard.</p><p>Sesekali menghela napas.</p><p>Sesekali mengernyit.</p><p>Dan sesekali memutar ulang lagu pelan dari playlist favoritnya.</p><p>Di sebelahnya — Hiro.</p><p>Duduk santai sambil menyandarkan tubuh ke sofa kafe.</p><p>Jaket kulit hitam andalannya masih melekat, satu tangannya memegang ponsel, sementara tangan lainnya melingkar santai di pinggang Inggrid sejak hampir tiga puluh menit yang lalu.</p><p>Tidak pindah.</p><p>Tidak lepas.</p><p>Dan anehnya — Inggrid membiarkan.</p><p>“Grid.”</p><p>“Iya?”</p><p>“Lo udah ngetik dari tadi.”</p><p>Inggrid tetap fokus pada layar laptopnya. “Karena gue lagi nugas.”</p><p>“Capek nggak?”</p><p>“Capek.”</p><p>“Yaudah jangan.”</p><p>Inggrid akhirnya menoleh sebentar. “Kalau nggak dikerjain, dosen gue mau nanggung hidu gue?”</p><p>Hiro terkekeh kecil.</p><p>Suara tawanya pelan.</p><p>Rendah.</p><p>Dan selalu berhasil bikin Ingggrid susah fokus.</p><p>Awalnya, hubungan mereka tidak pernah terlihat seperti sesuatu yang akan benar-benar terjadi.</p><p>Hiro terlalu cuek.</p><p>Terlalu malas peduli.</p><p>Dan terlalu sulit ditebak.</p><p>Sementara Inggrid — terlalu sibuk.</p><p>Terlalu ambisius.</p><p>Dan terlalu terbiasa mengurus semuanya sendiri.</p><p>Mereka bahkan sempat saling kesal.</p><p>Saling debat.</p><p>Saling menganggap satu sama lain menyebalkan.</p><p>Namun lucunya — semua itu berubah pelan-pelan.</p><p>Dimulai dari obrolan kecil.</p><p>Rehearsal kampus.</p><p>Kwetiau goreng jam sebelas malam.</p><p>Dan kebiasaan Hiro yang selalu muncul di depan gedung FISIP tanpa diminta.</p><p>“Lo tuh aneh,” kata Inggrid suatu hari saat Hiro kembali menunggunya di parkiran setelah rapat BEM tiga jam.</p><p>Hiro hanya membuka helmnya lalu menyerahkannya ke Inggrid.</p><p>“Kenapa?”</p><p>“Lo bisa-bisanya nungguin gue hampir tiap hari.”</p><p>Hiro mengangkat bahu santai.</p><p>“Ya pengen.”</p><p>Sesederhana itu.</p><p>Dan justru itu yang membuat Inggrid perlahan tidak bisa menghindar.</p><p>Di kampu, semua orang mulai sadar.</p><p>Anak-anak Street Static sadar.</p><p>Anak BEM sadar.</p><p>Bahkan satu fakultas seolah ikut sadar.</p><p>Karena Hiro yang biasanya sulit dicari — sekarang justru hampir selalu ada di sekitar Inggrid.</p><p>Menunggu di parkiran.</p><p>Duduk di luar ruang rapat.</p><p>Atau sekedar datang membawa minuman sambil berkata, “Lo belum makan kan?”</p><p>Dan Inggrid — yang biasanya paling anti diganggu saat sibuk — tidak pernah benar-benar menyuruh Hiro pergi.</p><p>Kembali ke malam itu.</p><p>Inggrid masih mengetik serius.</p><p>Sementara Hiro justru terlihat lebih sibuk memperhatikan Inggrid dibanding memainkan ponselnya sendiri.</p><p>Tatapannya jatuh pada wajah perempuan itu.</p><p>Pada caranya menggigit ujung pulpen saat berpikir.</p><p>Pada alisnya yang menyerngit kecil saat membaca ulang tugas.</p><p>Dan pada wajah bare face-nya yang selalu dianggap Inggrid “jelek banget”, padahal menurut Hiro justu paling cantik.</p><p>“Grid.”</p><p>“Hm?”</p><p>“Lo cantik.”</p><p>Jari Inggrid berhenti.</p><p>Ia menoleh pelan dengan tatapan datar khasnya.</p><p>“…gue lagi nugas.”</p><p>“Dan gue lagi ngomong jujur.”</p><p>Inggrid menghela napas pelan sambil mengalihkan pandangan.</p><p>Namun sudut telinganya memerah.</p><p>Dan Hiro menyadarinya.</p><p>Tentu saja.</p><p>“Lo tuh ganggu banget tau nggak,” gumam Inggrid pelan.</p><p>Hiro mendekat sedikit.</p><p>“Terus kenapa nggak disuruh pergi?”</p><p>Sunyi.</p><p>Inggrid tidak langsung menjawab.</p><p>Karena ia tahu jawabannya.</p><p>Dan Hiro juga tahu.</p><p>Di luar sana, hujan mulai turun perlahan.</p><p>Orang-orang mulai berlari kecil mencari tempat berteduh.</p><p>Namun di sudut kafe itu — waktu terasa berjalan lebih lambat.</p><p>Lebih hangat.</p><p>Lebih tenang.</p><p>Seolah dunia sengaja memberi ruang untuk mereka berdua.</p><p>Inggrid akhirnya menutup laptopnya pelan.</p><p>Meregangkan tubuh sambil menghela napas panjang.</p><p>“Finally,” gumamnya.</p><p>Hiro tersenyum kecil. “Beres?”</p><p>Inggrid mengangguk.</p><p>Lalu tanpa sadar — menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu Hiro.</p><p>Refleks.</p><p>Natural.</p><p>Dan membuat Hiro diam beberapa detik.</p><p>“Capek?” tanya Hiro lebih pelan dari biasanya.</p><p>Inggrid mengangguk kecil.</p><p>“Banget.”</p><p>Hiro menatapnya sebentar.</p><p>Lalu mengecup pelan pundak kepala perempuan itu tanpa banyak bicara.</p><p>Sederhana.</p><p>Singkat.</p><p>Namun cukup untuk membuat Inggrid diam.</p><p>“Lo tau nggak sih,” kata Hiro pelan.</p><p>“Hm?”</p><p>“Gue dulu males banget sama lo.”</p><p>Inggrid langsung menjauh sedikit sambil menatap tajam. “Apaan?”</p><p>Hiro tertawa kecil. “Serius.”</p><p>“Terus sekarang?”</p><p>Hening sebentar.</p><p>Tatapan Hiro jatuh tepat ke mata Inggrid.</p><p>Dan kali ini — tidak ada nada bercanda.</p><p>“Sekarang gue malah nggak bisa jauh dari lo.”</p><p>Sunyi.</p><p>Jantung Inggrid berdetak sedikit lebih cepat.</p><p>Namun seperti biasa — ia berusaha terlihat biasa saja.</p><p>“…lebay.”</p><p>Hiro tersenyum tipis.</p><p>“Dikit.”</p><p>Inggrid mendengus kecil.</p><p>Namun kali ini — ia tidak menyangkal lagi.</p><p>Karena jauh di dalam dirinya — Inggrid tahu satu hal.</p><p>Bahwa tanpa sadar — Hiro sudah menjadi rumah paling nyaman di tengah hidupnya yang selalu sibuk.</p><p>Dan Hiro — untuk pertama kalinya dalam hidupnya — akhirnya menemukan seseorang yang membuatnya ingin menetap.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8f423ac85320" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Inggrid = Fisip = BEM]]></title>
            <link>https://medium.com/@jasmineiniesta/inggrid-fisip-bem-7485d3acfdc1?source=rss-4a67dfa626aa------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7485d3acfdc1</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Jasmine]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 05 Apr 2026 13:18:59 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-05T13:18:59.632Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*Rhn3Dl9FaV7QWpa7ulzIUg.jpeg" /><figcaption>Inggrid = Fisip = BEM</figcaption></figure><p>Rapat itu akhirnya selesai.</p><p>Dan seperti biasa—tidak benar-benar selesai.</p><p>Inggrid menutup laptopnya pelan, sementara anggota BEM lain masih sibuk membereskan berkas dan saling berdiskusi kecil. Ruangan yang tadinya penuh suara kini perlahan berubah jadi riuh santai.</p><p>Namun di kepala Inggrid— masih berisik.</p><p><em>Pengisi acara utama belum ada.<br>Timeline udah mepet.<br>Kalau salah pilih, bisa kacau satu acara.</em></p><p>Ia menghela napas pelan.</p><p>Sebagai bagian dari divisi acara, tanggung jawab itu jelas tidak ringan. Festival kampus tahun ini bukan sekadar event biasa—ini wajah kampus. Dan untuk malam puncak, mereka butuh sesuatu yang… berkesan.</p><p>Bukan sekadar band.</p><p>Tapi band yang bisa bikin orang ingat.</p><p>“Grid, lo nggak ikut ke basecamp?” tanya salah satu temannya.</p><p>Inggrid menggeleng kecil. “Nanti aja.”</p><p>Ia berdiri, memasukkan map ke dalam tas.<br>“Gue ke kantin fisip dulu.”</p><p>Langit di luar mendung.</p><p>Udara terasa lebih lembap dari biasanya, meski hujan belum turun.</p><p>Langkah Inggrid tenang menyusuri jalan kampus. Tasnya tersampir rapi di bahu, sementara pikirannya masih berputar di hal yang sama.</p><p>Band siapa?</p><p>Ia sudah mencatat beberapa nama. Tapi semuanya terasa… kurang.</p><p>Kurang kuat.<br>Kurang “<em>wah</em>”.</p><p>“INGGRID!”</p><p>Suara itu datang tiba-tiba.</p><p>Cukup keras sampai membuat beberapa mahasiswa lain ikut menoleh.</p><p>Inggrid berhenti.</p><p>Alisnya sedikit berkerut sebelum akhirnya ia menoleh ke belakang.</p><p>Dan di sana—</p><p>seorang perempuan berlari kecil ke arahnya, masih setengah tergesa.</p><p>Keithara.</p><p>Jas dokter kampus tersampir di lengannya, rambutnya sedikit berantakan, tapi senyumnya tetap lebar seperti biasa.</p><p>“Lo kemana aja sih? Susah banget dicari!” kata Keithara begitu sampai di depan Inggrid.</p><p>Inggrid menghela napas pendek. “Rapat.”</p><p>“Lagi-lagi rapat. Hidup lo rapat mulu.”</p><p>“Kerjaan,” jawab Inggrid singkat.</p><p>Keithara hanya mendengus pelan, lalu menyikut bahu Inggrid. “Sibuk banget sih anak BEM.”</p><p>“Lo sendiri?” tanya Inggrid balik.</p><p>“Habis dari klinik kampus. Tadi ada shift.”</p><p>Inggrid mengangguk kecil.</p><p>Beberapa detik hening, sebelum akhirnya Keithara menyipitkan mata.<br>“Eh, bentar… muka lo kenapa?”</p><p>Inggrid menatapnya datar. “Kenapa?”</p><p>“Kayak lagi mikir berat.”</p><p>Inggrid diam sejenak.</p><p>Lalu akhirnya—</p><p>“Gue lagi nyari band.”</p><p>Keithara langsung tertarik. “Buat acara kampus?”</p><p>“Iya. Yang buat malam puncak.”</p><p>Keithara mengangguk pelan, lalu bersedekap, berpikir. “Harus yang rame, ya?”</p><p>“Harus yang bisa narik massa,” jawab Inggrid cepat. “Dan bukan yang biasa-biasa aja.”</p><p>“Hmm…”<br>Keithara menatap langit sebentar, seolah sedang mengacak daftar nama di kepalanya.</p><p>Lalu—</p><p>“Street Static.”</p><p>Inggrid sedikit mengernyit.<br>“Band kampus itu?”</p><p>Keithara langsung mengangguk. “Iya. Yang sering tampil di event-event gede. Yang vokalisnya—”</p><p>“I know,” potong Inggrid.</p><p>Ia tahu.</p><p>Hampir semua orang di kampus tahu.</p><p>“Mereka bagus,” lanjut Keithara santai. “Dan punya crowd sendiri. Kalau lo bisa dapet mereka, acara lo aman sih.”</p><p>Inggrid terdiam.</p><p>Memproses.</p><p>Nama itu… sebenarnya sudah sempat terlintas di kepalanya.</p><p>Tapi entah kenapa, ia belum benar-benar mempertimbangkannya serius.</p><p>“Mereka susah dihubungin nggak?” tanya Inggrid akhirnya.</p><p>Keithara mengangkat bahu. “Tergantung. Tapi setau gue, salah satu dari mereka anak BEM juga kan?”</p><p>Inggrid langsung paham.<br>“Zidane.”</p><p>“Nah itu. Lo punya akses, Grid.”</p><p>Hening sejenak.</p><p>Angin berhembus pelan.</p><p>Untuk pertama kalinya sejak rapat tadi— pikiran Inggrid terasa sedikit… lebih jelas.</p><p>“Worth to try,” gumamnya pelan.</p><p>Keithara tersenyum. “Nah, gitu dong.”</p><p>Inggrid mengangguk kecil. “Thanks, Keit.”</p><p>“Sama-sama. Nanti kabarin ya kalau jadi.”</p><p>Inggrid hanya mengangkat tangan sedikit sebagai tanda pamit.</p><p>Kantin FISIP siang itu penuh.</p><p>Suara tawa, obrolan, dan bunyi sendok beradu jadi satu. Di salah satu meja panjang dekat jendela, delapan perempuan sudah lebih dulu berkumpul.</p><p>Alyssa, Giandra, Tatiana, Rachel, Erica, Helen, Shafira, dan Danilla.</p><p>Dan sekarang— Inggrid ikut duduk di antara mereka.</p><p>“Finally,” kata Alyssa sambil menyilangkan tangan. “Anak BEM turun gunung juga.”</p><p>“Rapat,” jawab Inggrid singkat, sambil membuka botol minumnya.</p><p>“Ya iya, hidup lo rapat mulu,” sahut Giandra.</p><p>Tawa kecil langsung terdengar.</p><p>Makanan mulai datang satu per satu.</p><p>Obrolan awalnya ringan—tentang dosen, tugas, sampai gosip kecil yang entah kenapa selalu ada.</p><p>Sampai akhirnya—</p><p>Inggrid bersandar sedikit di kursinya. “Ada yang tau Street Static?”</p><p>Seketika—.meja itu hening.</p><p>Lalu—</p><p>“HAH?” Rachel langsung bereaksi.</p><p>Tatiana mengernyit. “Band kampus itu?”</p><p>Erica langsung mendengus pelan. “Overrated banget.”</p><p>Inggrid mengangkat alis. “Overrated?”</p><p>“Banget,” jawab Helen tanpa ragu,</p><p>“Semua orang ngomongin mereka, padahal ya… biasa aja.”</p><p>“Biasa aja apaan, ribet iya,” timpal Shafira.</p><p>Danilla menambahkan, “Iya, gue pernah satu event sama mereka. Susah diatur. Maunya sendiri.”</p><p>Alyssa ikut nimbrung. “Apalagi yang satu itu…”</p><p>“Yang mana?” tanya Giandra.</p><p>“Hiro.”</p><p>Beberapa langsung mengangguk.</p><p>“Oh, yang itu…” Rachel menyipitkan mata.</p><p>“Vibenya ‘<em>gue paling nggak peduli sedunia</em>’.”</p><p>“Padahal ya… <em>annoying</em>,” tambah Erica.</p><p>“Setuju,” sahut Tatiana. “Kayak semuanya harus ngikutin dia.”</p><p>Inggrid diam. Mendengarkan.</p><p>Menyimpan semua opini itu di kepalanya.</p><p>“Kenapa emang?” tanya Shafira akhirnya. “Lo nanya gitu.”</p><p>Inggrid mengambil napas sebentar.<br>“Gue lagi nyari pengisi acara buat malam puncak.”</p><p>Danilla langsung menatapnya tajam.<br>“Jangan bilang lo mau pake mereka.”</p><p>Inggrid tidak langsung menjawab.<br>Dan itu sudah cukup.</p><p>“Grid, serius?” Helen menggeleng.<br>“Banyak pilihan lain.”</p><p>“Iya, kenapa harus mereka?” tambah Giandra.</p><p>“Ribet,” ulang Erica.</p><p>“Overhyped,” sambung Rachel.</p><p>Alyssa mencondongkan tubuhnya.<br>“Lo butuh band bagus atau band terkenal doang?”</p><p>Pertanyaan itu menggantung.</p><p>Inggrid menatap meja sebentar.<br>Lalu menjawab pelan—<br>“Gue butuh yang bisa narik massa.”</p><p>Hening. Tidak ada yang langsung menyanggah.</p><p>Karena mereka semua tahu—</p><p>Street Static memang punya itu.</p><p>“Ya… kalau itu sih mereka menang,” gumam Tatiana.</p><p>“Tapi tetap aja,” kata Shafira, “gue nggak suka sama orang-orangnya.”</p><p>“Same,” sahut Erica.</p><p>Inggrid mengangguk kecil.<br>“Noted.”</p><p>Namun di dalam kepalanya—<br>keputusan itu justru semakin jelas.</p><p><em>Susah diatur.<br>Ribet.<br>Overrated.</em></p><p>Ia menghela napas pelan.</p><p><em>Berarti… harus gue yang handle.</em></p><p>Makan siang itu selesai lebih cepat dari biasanya.</p><p>Begitu yang lain masih santai, Inggrid sudah berdiri.</p><p>“Gue duluan ya.”</p><p>“Cepet banget?” tanya Rachel.</p><p>“Kerjaan,” jawab Inggrid singkat.</p><p>Ia melangkah keluar kantin.</p><p>Langsung. Tanpa ragu.</p><p>Langit masih mendung.</p><p>Udara terasa semakin berat.</p><p>Dan kali ini— tujuannya jelas.</p><p><em>Street Static.</em></p><p>Beberapa menit berjalan, Inggrid mulai menyusuri area parkiran dan gedung sekitar.</p><p>Matanya mencari.</p><p>Satu per satu wajah dilewati.</p><p>Bukan.</p><p>Bukan.</p><p>Bukan.</p><p>Sampai akhirnya— ia melihatnya.</p><p>Seorang laki-laki berdiri santai di dekat tembok.</p><p>Jaket kulit hitam menggantung di lengannya.</p><p>Satu tangan di saku.</p><p>Satu lagi memegang pod yang sesekali ia hisap.</p><p>Hiraya Demiro.</p><p>Inggrid berhenti sebentar.</p><p>Menarik napas.</p><p>Lalu melangkah mendekat.</p><p>“Permisi.”</p><p>Hiro melirik sekilas.</p><p>Tanpa benar-benar menoleh sepenuhnya.</p><p>Inggrid berdiri di depannya.</p><p>“Aku Inggrid, dari BEM.”</p><p>Hiro mengangguk tipis.</p><p>Singkat.</p><p>Datar.</p><p>“Aku mau ngomong soal—”</p><p>“Gue lagi nggak mood,” potong Hiro.<br>Langsung.</p><p>Tanpa basa-basi.</p><p>Inggrid terdiam.</p><p>Satu detik.</p><p>Dua detik.</p><p>“Ini penting,” lanjutnya, mencoba tetap tenang.</p><p>“Soal acara kampus bulan depan. Gue mau ngajak—”</p><p>Hiro menghembuskan napas pelan.</p><p>Menoleh sekilas.</p><p>Menatap Inggrid.</p><p>Dingin.</p><p>“Nanti aja.”</p><p>Dua kata.</p><p>Pendek.</p><p>Dan jelas tidak peduli.</p><p>Belum sempat Inggrid membalas—</p><p>Hiro sudah berbalik.</p><p>Dan berjalan pergi.</p><p>Langkahnya santai.</p><p>Seolah tidak terjadi apa-apa.</p><p>Seolah Inggrid… bukan siapa-siapa.</p><p>Inggrid berdiri diam.</p><p>Rahangnya mengeras.</p><p>Tangannya mengepal tanpa sadar.</p><p><em>Serius?</em></p><p>Ia menghembuskan napas kasar.</p><p>Menatap punggung Hiro yang semakin menjauh.</p><p><em>Gue lagi ngomong.</em></p><p><em>Gue sopan.</em></p><p><em>Dan dia—</em></p><p>Inggrid memalingkan wajah.</p><p>Berbalik arah.</p><p>Langkahnya cepat.</p><p>Lebih cepat dari biasanya.</p><p>Menuju parkiran.</p><p>Begitu sampai di mobilnya, ia langsung membuka pintu dengan sedikit kasar.</p><p>Masuk. Membanting pintu. Sunyi.</p><p>Hanya suara napasnya yang terdengar.</p><p>Tangannya mencengkeram setir.</p><p>Kuat.</p><p>Lalu—</p><p><strong>BUK</strong>.</p><p>Ia memukulnya.</p><p>“Apasih tuh orang,” gumamnya kesal.</p><p>Napasnya masih tidak teratur.<br>“Sok oke banget.”</p><p>Ia bersandar ke kursi. Menatap lurus ke depan.<br>“Gue kan sopan,” lanjutnya, suara lebih pelan tapi penuh emosi.</p><p>“Pengen ngajak band-nya buat ikut partisipasi acara kampus bulan depan.”</p><p>Ia menggeleng pelan.</p><p>Kesal.</p><p>Marah.</p><p>Dan… tersinggung.</p><p>“Belum aja gue tonjok tuh orang.”</p><p>Hening. Di luar, langit akhirnya tidak lagi menahan.</p><p>Hujan turun.</p><p>Pelan.</p><p>Lalu semakin deras.</p><p>Dan di dalam mobil itu—</p><p>Inggrid menatap kosong ke depan.</p><p>Dengan satu hal yang pasti di kepalanya—</p><p><strong>Ini belum selesai.</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7485d3acfdc1" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Street Static = Pemuja Lagu]]></title>
            <link>https://medium.com/@jasmineiniesta/street-static-pemuja-lagu-f33dbebfc77c?source=rss-4a67dfa626aa------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f33dbebfc77c</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Jasmine]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 05 Apr 2026 11:23:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-05T11:35:17.114Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*YqPSHhf71XjDane_CbsnEw.jpeg" /><figcaption>(fuck street static)</figcaption></figure><p>Sore itu, hujan turun tanpa aba-aba.<br>Rintiknya menghantam kaca jendela ruang studio kampus, menciptakan suara berirama yang entah kenapa terasa cocok dengan suasana santai di dalam. Di ruangan itu, lima orang anggota band kampus paling terkenal sedang berkumpul—Gevi, Gio, Hiro, Zidane, dan Naufal.</p><p>Alat musik berserakan, kopi di tangan, dan obrolan yang awalnya serius… perlahan mulai kehilangan arah.</p><p>“Jadi fix ya, malam ini rekaman jam delapan?” tanya Gevi sambil memetik gitar pelan, sekadar mengisi suasana.</p><p>“Fix. Jangan ada yang telat lagi,” jawab Gio cepat.</p><p>Naufal menyender di kursi, menguap. “Gue sih aman. Yang suka ngilang kan—” Ia melirik Hiro.</p><p>Hiro hanya mengangkat alis. “Gue selalu datang. Telat doang.”</p><p>“Beda tipis, bro,” sahut Gevi, langsung disambut tawa kecil.</p><p>Zidane yang dari tadi sibuk mengecek catatan di ponselnya akhirnya ikut bicara. “Eh serius, konsep lagu udah final belum? Jangan sampai pas rekaman masih debat.”</p><p>“Udah lah, tinggal take vocal sama layering dikit,” kata Gio santai.</p><p>Suasana sempat hening beberapa detik. Hanya suara hujan yang terdengar jelas.</p><p><strong>Sampai akhirnya—</strong></p><p>“Eh, ngomong-ngomong…” Naufal tiba-tiba menyeringai, “Ro, kemarin lu dipanggil siapa sih? Yang anak BEM itu?”</p><p>Gevi langsung menoleh cepat. “Yang jutek itu bukan sih?”</p><p>Naufal ikut nyengir. “Yang mukanya kayak lagi kesel terus tapi katanya lucu?”</p><p>Zidane menghela napas pelan, sudah bisa menebak arah obrolan ini.</p><p>Hiro mengusap rambutnya malas. “Inggrid.”</p><p>“NAHH ITU!” serempak Gevi, Gio, dan Naufal bersuara.</p><p>“Terus? Ngapain dia nyamperin lu?” tanya Gevi penasaran.</p><p>Hiro bersandar ke sofa, wajahnya datar. “Ngajak kita ngisi acara kampus bulan depan.”</p><p>“Wah bagus dong?” sahut Zidane.</p><p>“Harusnya lu iya-in lah, itu exposure,” tambah Gio.</p><p>Hiro menggeleng pelan. “Gue tinggal pergi.”</p><p>Detik itu juga—</p><p>“Hah?!” Tiga suara langsung meledak bersamaan.</p><p>Naufal sampai hampir jatuh dari kursinya. “LU TINGGAL PERGI?!”</p><p>Gevi ngakak tanpa ampun. “Anjir Hiro goblok banget!”</p><p>Gio menepuk pahanya sendiri, ketawa keras. “Kasian banget anjir, udah dateng-dateng malah di-ghosting langsung!”</p><p>Hiro tetap santai. “Ya gimana. Gue lagi males.”</p><p>Zidane mengangkat kepala, mencoba tetap rasional di tengah kekacauan itu. “Ya kenapa, Ro? At least dengerin dulu kan?”</p><p>Hiro menghela napas, lalu menjawab singkat, “Wajahnya.”</p><p>“Apaaa?” Naufal masih setengah ketawa.</p><p>“Wajahnya jutek banget. Kayak nggak niat ngundang. Kayak lagi maksa diri,” lanjut Hiro datar.</p><p>Seketika, ruangan kembali pecah oleh tawa. “Ya emang mukanya gitu, bego!” kata Gio di sela-sela tawa.</p><p>Gevi sampai mengusap air mata. “Itu default face dia, bukan berarti dia kesel!”</p><p>Naufal menambahkan, “Lu kebayang gak sih dia udah nyiapin kata-kata, terus lu malah jalan gitu aja? Jahat banget sih.”</p><p>Hiro hanya mengangkat bahu. “Ya salah dia, mukanya nggak ramah.”</p><p>Zidane memijat pelipisnya pelan. “Gue serius nanya, Hiro. Lu nggak kepikiran buat klarifikasi atau apa?”</p><p>Hiro terdiam sebentar.<br>Hujan di luar semakin deras, suaranya mengisi jeda di antara mereka. “…Enggak,” jawab Hiro akhirnya. “Kalau dia butuh banget, pasti nyamperin lagi.”</p><p>Gio langsung nyeletuk, “Atau malah blacklist kita dari semua acara kampus.”</p><p>“Wah, bisa jadi,” timpal Gevi.</p><p>Naufal menatap Hiro sambil geleng-geleng. “Lu tuh ya… bukan badboy lagi, tapi udah level nyebelin.”</p><p>Hiro tersenyum tipis. “Santai aja. Kita tetap terkenal kok.”</p><p>“Pede banget,” kata Gio.</p><p>Zidane akhirnya menutup pembicaraan, mencoba mengembalikan fokus.<br>“Udah-udah. Daripada bahas Inggrid terus, mending kita fokus ke rekaman malam ini.”</p><p>Gevi mengangguk. “Setuju. Lagu dulu, drama belakangan.”</p><p>“Tapi jujur ya,” Naufal masih nyengir, “ini belum selesai. Gue penasaran Inggrid bakal ngapain setelah ini.”</p><p>Gio ikut mengangguk setuju. “Kayaknya seru.”</p><p><strong>Semua mata, tanpa sadar, kembali mengarah ke Hiro.</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f33dbebfc77c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[“Toronto, God, and Him."]]></title>
            <link>https://medium.com/@jasmineiniesta/toronto-god-and-him-78ce78b669b8?source=rss-4a67dfa626aa------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/78ce78b669b8</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Jasmine]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 10 Apr 2025 14:59:18 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-04-10T15:00:22.112Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/688/1*9oCllb0g-wS1HA1R-8B7Mw.jpeg" /><figcaption>I always support you, Mark Lee.</figcaption></figure><p>Hi… I guess….</p><p>Kelihatannya kayak aneh gak sih gue nulis letter buat dia padahal gak akan di baca juga, anyways…</p><p>Kalian pasti udah banyak yang kenal sama siapa orang di narasi ini. Mark Lee, cowo yang penuh dengan rasa cintanya terhadap Tuhannya, bahkan kayaknya gak akan pernah berkurang ya Mark. Gak tau kenapa, setiap ngeliat dia itu rasanya teduh, nyaman, hidup. Apa mungkin karena dia tuh anak Tuhan, aku jadi ngerasa feel so much better kalo ngeliat dia, bahasa alaynya “semua masalah bisa ilang sekejap, cuma liat Mark” yaaa gitu, persis banget.</p><p>Naksir? Pasti.</p><p>Suka? Gimana nggak.</p><p>Cinta? Duh, susah kalo yang ini.</p><p>Pernah gak sih kalian bertanya-tanya, kenapa di dunia ini, orang kayak Mark tuh cuma Mark aja, gak ada yang lain? Tuhan tuh, sepelit itu ya sampe orang kayak Mark aja cuma 1 di dunia ini? Mark kenapa aku harus kenal sama kamu? Kalo gak ketemu kamu, aku kayaknya gak akan begini deh…?</p><p>Pertanyaan yang selalu ada di pikiran aku kalo ngeliat Mark. Entah kenapa ya, Mark gak bisa di jelasin cuma pake kata-kata, I can’t even describe him just with the words, his more than words. Sempurna? Banget!!</p><p>Aku selalu bersyukur bisa kenal dia, kenal dirinya di masa dia berjuang sampe sukses kayak sekarang, terhitung cepat ya Mark. One day, aku pernah kepikiran mau nerbitin buku tapi tentang kamu, salah gak ya aku?</p><p>“He talked to his God daily &amp; that is what made him lovely.” Itu beneerr!</p><p>Cowo yang rajin ibadahnya, dekat sama Tuhannya, selalu bisa buat hati tenang. Tapi kok, aku tenang nya sama yang berbeda Tuhan ya…</p><p>ya Allah, maafkan hamba-Mu ini.</p><p>Duh, udah kali ya… air mataku udah mulai perlahan mengalir keluar</p><p>Mark, janji sama aku, kamu harus istirahat setelah solo comeback kamu ini, don’t take it too much, dear.</p><p>I always prayed you, Dear.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=78ce78b669b8" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>