<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Meranyau on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Meranyau on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@kanalmeranyau?source=rss-f36408d702d7------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/0*VvAuRslrzWceQHpI</url>
            <title>Stories by Meranyau on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@kanalmeranyau?source=rss-f36408d702d7------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sun, 17 May 2026 19:36:33 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@kanalmeranyau/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Driver Ojol Samarinda Mulai Lelah: Potongan Besar, Order Sepi, Pelanggan Komplain, Pemerintah dan…]]></title>
            <link>https://medium.com/@kanalmeranyau/driver-ojol-samarinda-mulai-lelah-potongan-besar-order-sepi-pelanggan-komplain-pemerintah-dan-c2adad41ed57?source=rss-f36408d702d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c2adad41ed57</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Meranyau]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 17 May 2026 03:04:17 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-17T03:04:17.434Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Driver Ojol Samarinda Mulai Lelah: Potongan Besar, Order Sepi, Pelanggan Komplain, Pemerintah dan Aplikasi Sulit ditemui.</strong></h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*57hREfSG1c7gmIqoUYUeTw.png" /></figure><p>Dulu jadi ojek online sering dibayangkan sebagai pekerjaan yang “lumayan fleksibel”. Bisa atur waktu sendiri. Tinggal narik kalau mau uang. Bahkan sempat ada masa ketika profesi ini terlihat cukup menjanjikan, setidaknya buat bertahan hidup di kota seperti Samarinda.</p><p>Tapi sekarang, banyak driver ojol mulai merasa pekerjaan ini pelan-pelan berubah jadi simulasi kesabaran nasional.</p><p>Saya punya beberapa teman driver dari berbagai aplikasi. ya baik yang warna hijau, kuning, sampai orange.</p><p>Tapi isi keluhannya kurang lebih sama: potongan makin besar, order makin aneh, dan hidup makin susah diprediksi.</p><p>Salah satu yang paling sering dikeluhkan tentu soal potongan aplikasi.</p><p>Kadang driver merasa mereka yang mutar kota, kepanasan, kehujanan, nunggu pelanggan lama, tapi aplikasi tetap terlihat paling semangat mengambil bagian. Belum lagi sekarang ada sistem slot yang bikin sebagian driver harus berebut jam kerja.</p><p>Lucunya, mereka ini disebut “mitra”, tapi hidupnya kadang lebih mirip pegawai yang tidak benar-benar punya hak protes.</p><p>Kalau slot penuh? Ya tunggu.</p><p>Kalau order sepi? Ya sabar.</p><p>Kalau pelanggan marah? Ya minta maaf.</p><p>Semua ujungnya driver lagi yang disuruh mengerti keadaan.</p><p>Belum selesai sampai di situ, sekarang muncul lagi budaya double order.</p><p>Di atas kertas mungkin terlihat efisien. Driver bisa ambil dua pesanan sekaligus. Perusahaan senang, aplikasi terlihat cepat, pelanggan berharap semuanya datang tepat waktu.</p><p>Masalahnya hidup di jalan tidak sepraktis desain fitur aplikasi.</p><p>Kadang satu order jauh. Kadang restoran lama. Kadang jalan macet. Kadang hujan turun seperti sedang latihan kiamat kecil-kecilan. Tapi pelanggan tetap melihat satu hal sederhana: “kok lama?”</p><p>Dan yang kena marah tetap driver.</p><p>Lucunya lagi, banyak promo gratis ongkir sekarang justru terasa seperti ironi buat driver sendiri. Pelanggan memang senang. Order ramai sesaat. Tapi pendapatan driver tidak otomatis ikut sehat.</p><p>Karena di lapangan, yang sering terjadi justru driver harus bekerja lebih lama untuk hasil yang makin tipis. Narik dari pagi sampai malam, tapi pulangnya tetap menghitung apakah bensin besok masih aman atau tidak.</p><p>Belum lagi beberapa bulan terakhir order memang terasa makin sepi.</p><p>Inflasi bikin orang mulai lebih hati-hati keluar uang. Banyak yang sekarang memilih hemat. Nongkrong dikurangi. Pesan makanan mulai dipikir dua kali. Orang-orang mulai masuk mode: “masih bisa ambil sendiri, kenapa harus delivery?”</p><p>Dan dampaknya langsung terasa ke driver.</p><p>Sementara itu perusahaan aplikasi tetap santai membuka pendaftaran driver baru seperti Samarinda belum cukup padat oleh jaket warna-warni di pinggir jalan.</p><p>Yang lama belum tentu sejahtera, yang baru terus berdatangan.</p><p>Akhirnya persaingan makin keras. Driver makin banyak, order tidak bertambah sebanyak itu. Dan semua orang mulai saling berebut notifikasi.</p><p>Kadang kalau malam saya lihat driver-driver duduk di pinggir jalan sambil menatap HP, suasananya sudah bukan seperti orang menunggu order lagi. Lebih mirip orang yang sedang menunggu hidup sedikit lebih ramah.</p><p>Makanya sekarang banyak driver online di Samarinda mulai sama-sama bersuara. Mau jaket hijau, kuning, atau orange, keresahannya seragam: mereka cuma ingin sistem yang lebih manusiawi.</p><p>Tarif yang masuk akal.<br>Potongan yang tidak terlalu mencekik.<br>Dan kebijakan yang tidak selalu melihat driver cuma sebagai angka di aplikasi.</p><p>Karena di balik notifikasi “driver menuju lokasi”, ada orang-orang yang juga sedang berjuang bayar kontrakan, isi bensin, beli makan, dan mempertahankan hidup di kota yang makin hari makin mahal.</p><p>di tengah semua keadaan itu, pemerintah biasanya baru terlihat benar-benar peduli pada driver ojol kalau ada acara besar atau momentum politik. Tiba-tiba mereka disebut “pahlawan ekonomi digital”, “penggerak UMKM”, sampai “mitra pembangunan daerah”.<br>Padahal di hari biasa, banyak driver justru merasa seperti dibiarkan bertarung sendirian dengan sistem aplikasi, potongan, dan keadaan ekonomi yang makin sempit.<br>Kadang rasanya Samarinda ini sangat bangga dengan perkembangan digital, tapi lupa kalau yang menjalankan roda digital itu manusia juga—bukan cuma titik kecil bergerak di peta aplikasi.<br>Pemerintah sibuk bicara soal ekonomi kreatif, UMKM naik kelas, dan transformasi digital. Tapi di lapangan, driver online masih sibuk menghitung: hari ini uangnya cukup buat bensin atau tidak.<br>Dan mungkin memang sudah waktunya pemerintah daerah mulai lebih serius melihat profesi ini, bukan cuma sebagai “kerjaan sampingan anak muda”, tapi sebagai pekerjaan utama ribuan orang di Samarinda.<br>Karena sekarang ojol bukan fenomena kecil lagi. Mereka sudah jadi bagian penting dari ritme kota. Antar makanan, antar barang, antar orang, bahkan kadang jadi tempat pelanggan melampiaskan emosi hidup.<br>Tapi ironisnya, orang yang membantu kota tetap bergerak ini justru sering hidup dalam ketidakpastian.<br>Minimal pemerintah bisa mulai membuka ruang dialog yang serius dengan perusahaan aplikasi dan komunitas driver. Membahas potongan yang terlalu besar, sistem slot yang bikin rebutan jam kerja, sampai perlindungan sosial yang jelas.<br>Karena kalau semuanya terus dilepas ke mekanisme aplikasi dan “aturan perusahaan”, lama-lama driver cuma disuruh bertahan dengan kalimat paling Indonesia: “ya disyukuri aja dulu.”<br>Padahal tidak semua hal harus disyukuri sambil diam.<br>Kadang orang cuma ingin bekerja dengan tenang tanpa merasa tiap hari sedang berlomba melawan sistem yang tidak pernah benar-benar memihak mereka.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c2adad41ed57" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Merantau ke Kalimantan demi Masa Depan, Disambut Harga Hidup Mahal dan Situasi Daerah yang Lagi…]]></title>
            <link>https://medium.com/@kanalmeranyau/merantau-ke-kalimantan-demi-masa-depan-disambut-harga-hidup-mahal-dan-situasi-daerah-yang-lagi-aa930662d27c?source=rss-f36408d702d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/aa930662d27c</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Meranyau]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 16 May 2026 02:19:08 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-16T02:19:08.918Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Merantau ke Kalimantan demi Masa Depan, Disambut Harga Hidup Mahal dan Situasi Daerah yang Lagi Panas”</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*r44ZrnTSUg7S8C5jD_R6MQ.png" /></figure><p>Sejak dulu, Kalimantan selalu punya citra yang besar di kepala banyak orang luar daerah. Pulau penuh hutan. Tanah kaya batu bara. Sungai luas. Kayu mahal. Dan sekarang ditambah satu kata yang membuat semuanya terdengar makin menjanjikan: IKN.</p><p>Dari jauh, Kalimantan sering terdengar seperti tempat yang hidupnya “<em>masih ada harapan</em>”. Seolah siapa pun yang datang ke sini tinggal bekerja sedikit lebih keras, lalu perlahan hidupnya akan ikut terangkat bersama proyek-proyek besar yang terus dibicarakan.</p><p>Mungkin karena itu juga banyak orang nekat merantau ke sini.</p><p>Salah satunya Ayu, teman saya dari Surabaya.</p><p>Suatu hari dia pernah cerita sambil ketawa kecil, walaupun sebenarnya terdengar capek.</p><blockquote>“Dulu aku mikir Kalimantan tuh duitnya banyak.”</blockquote><p>Kalimat itu terdengar sederhana, tapi jujur sekali.</p><p>Ayu datang ke Samarinda dengan modal yang kurang lebih sama seperti perantau lain: semangat hidup baru dan keyakinan bahwa hidup di Kalimantan mungkin akan sedikit lebih baik daripada bertahan di Jawa yang terasa makin sesak.</p><p>Dia pindah dibantu temannya yang sudah lebih dulu “<em>bertarung</em>” di Samarinda. Di kepalanya waktu itu, Kalimantan adalah tempat yang sedang berkembang. Ada tambang. Ada proyek besar. Ada IKN. Harusnya peluang kerja juga lebih banyak.</p><p>Ternyata kenyataan tidak semurah ongkos harapan.</p><p>Baru beberapa hari tinggal di Samarinda, Ayu mulai sadar kalau mencari kerja di sini ternyata sama pahitnya dengan di Surabaya. CV disebar ke mana-mana. Datang langsung ke beberapa tempat. Tanya lowongan sana-sini. Dan seperti tradisi nasional para pencari kerja Indonesia, sebagian besar cuma dibalas:<br><em>“Nanti kami hubungi lagi ya.”</em></p><p>Yang biasanya berarti: jangan terlalu berharap.</p><blockquote>“Aku kira di sini bakal lebih gampang dapat kerja,” katanya.<br>“Soalnya orang-orang ngomong Kalimantan lagi maju.”</blockquote><p>Padahal rupanya, pembangunan besar tidak otomatis membuat hidup orang biasa ikut terasa besar juga.</p><p>Setelah cukup lama mencoba, Ayu akhirnya diterima jadi admin di sebuah perusahaan. Dan di situ tamparan berikutnya datang.</p><p>Gaji UMR Kalimantan Timur yang dulu terdengar lumayan dari jauh, ternyata cepat mengecil begitu bertemu harga hidup di Samarinda.</p><blockquote>“Aku kaget banget makan di sini rata-rata 20 ribu,” katanya.<br>“Belum sayur, belum kebutuhan lain. Di Surabaya masih banyak yang lebih murah.”</blockquote><p>Dan memang itu yang sering tidak ikut masuk dalam romantisasi Kalimantan. Orang sibuk membicarakan batu bara dan proyek triliunan, tapi lupa kalau harga hidup di kota tambang juga ikut mahal.</p><p>Akhirnya gaji 2,5 juta terasa seperti permainan bertahan hidup bulanan. Setelah bayar kontrakan, makan, transportasi, dan kebutuhan kecil lain, sisanya tinggal cukup buat menenangkan diri sendiri.</p><p>Belum lagi pekerjaannya yang ternyata jauh dari bayangan kerja kantoran normal.</p><p>Sebagai admin, Ayu bukan cuma duduk depan komputer sambil input data. Dia harus melayani pelanggan, memastikan operasional kantor jalan, mengurus cashflow, membalas chat bahkan di luar jam kerja.</p><p>“Admin di sini tuh kayak customer service, kasir, pengawas, sama tempat pelampiasan komplain dijadiin satu,” katanya sambil ketawa.</p><p>Dan semakin lama tinggal di Samarinda, Ayu mulai sadar kalau romantisasi Kalimantan sebagai “tanah kaya” memang kadang lebih enak diceritakan daripada dijalani.</p><p>Kalimantan memang kaya sumber daya. Tapi kekayaan itu tidak otomatis membuat semua orang yang datang ke sini ikut hidup nyaman.</p><p>Apalagi sekarang, ketika keadaan sosial daerah juga sedang tidak benar-benar tenang. Hubungan masyarakat dan pemimpinnya sering panas di media sosial. Orang-orang mudah lelah, harga kebutuhan terus naik, sementara pekerjaan tetap menuntut tenaga penuh.</p><p>Kadang Ayu mulai bertanya lagi ke dirinya sendiri:<br>apakah pindah ke Samarinda keputusan yang tepat?</p><p>Tapi seperti kebanyakan perantau lain, setelah sejauh ini melangkah, dia juga sadar tidak bisa terus hidup dengan menyesali pilihan.</p><p>Jadi sekarang yang bisa dia lakukan cuma satu:<br>bertahan, bekerja, dan mencoba memaksimalkan hidup di kota yang dulu terlihat begitu menjanjikan dari kejauhan.</p><p>Dan mungkin yang membuat semuanya terasa semakin berat, Ayu pindah ke Samarinda di waktu yang menurutnya “lagi tidak enak-enaknya.”</p><p>Belakangan, hubungan masyarakat Kalimantan Timur dan gubernurnya memang sedang sering panas. Media sosial penuh komentar kesal. Grup Facebook warga isinya debat terus. Orang-orang mulai gampang sinis setiap ada berita baru tentang anggaran dan fasilitas pejabat.</p><p>Apalagi setelah ramai kabar soal pembelian mobil dinas, kursi pijat, sampai renovasi yang nilainya membuat banyak orang spontan membuka kalkulator sambil menarik napas panjang.</p><p>Di tengah harga kebutuhan yang naik, kerja makin susah, dan hidup yang terasa makin mahal, berita beginian memang gampang bikin orang emosi.</p><p>Ayu yang baru beberapa bulan pindah ke Samarinda kadang cuma bisa bengong lihat timeline.</p><blockquote>“Aku baru datang, tapi kok suasananya kayak semua orang lagi capek ya?” katanya.</blockquote><p>Dan memang ada rasa lelah kolektif yang belakangan terasa di Kalimantan Timur. Orang-orang bicara soal pembangunan besar, IKN, masa depan daerah, tapi di saat yang sama juga bertanya-tanya: kenapa hidup sehari-hari rasanya tetap berat?</p><p>Karena dari sudut pandang perantau seperti Ayu, realita yang dia lihat cukup kontras.</p><p>Di satu sisi, Kalimantan dipromosikan sebagai daerah strategis masa depan Indonesia. Proyek besar dibicarakan terus. Investasi datang. Gedung-gedung baru mulai muncul. Tapi di sisi lain, rakyat biasa masih sibuk menghitung apakah uang bulan ini cukup sampai akhir bulan atau tidak.</p><p>Dan ketika berita soal fasilitas mewah pejabat muncul di tengah situasi begitu, wajar kalau banyak orang merasa semakin jauh dari cerita “kemajuan” itu sendiri.</p><p>Ayu sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang terlalu suka ngomong politik. Tapi bahkan dia yang baru datang saja bisa merasakan suasana itu.</p><p>“Kayak rakyat sama pemerintah lagi saling capek,” katanya pelan.</p><p>Kalimat itu mungkin sederhana, tapi cukup menggambarkan keadaan sekarang.</p><p>Karena pada akhirnya, yang membuat orang marah kadang bukan cuma soal mobil, kursi pijat, atau renovasi. Tapi soal timing. Soal bagaimana kemewahan terlihat sangat kontras dengan kenyataan hidup banyak orang yang lagi berusaha bertahan.</p><p>Dan Ayu, sebagai perantau yang datang dengan harapan besar tentang Kalimantan, sekarang cuma bisa duduk, geleng-geleng kepala, lalu pelan-pelan belajar bahwa hidup di tanah yang katanya kaya ini ternyata tetap penuh kompromi.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=aa930662d27c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Hidup Lagi Berat di Samarinda, Datang Saja ke Majelis. Hati Tenang, Perut juga Tenang.]]></title>
            <link>https://medium.com/@kanalmeranyau/hidup-lagi-berat-di-samarinda-datang-saja-ke-majelis-hati-tenang-perut-juga-tenang-e8ac86725693?source=rss-f36408d702d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e8ac86725693</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Meranyau]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 15 May 2026 09:52:24 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-15T09:52:24.011Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*6XzxlIZWYVZr9qnncECVoA.png" /></figure><h3>Di Samarinda, Orang yang Bilang Kelaparan Kadang Cuma Kurang Rajin Datang Majelis</h3><p>Hidup di Samarinda itu unik. Di satu sisi, biaya hidup mulai pelan-pelan bikin orang menarik napas panjang. Harga makan naik. Anak kos mulai hafal teknik minum air dulu sebelum memutuskan jadi beli makan atau tidak. Gaji datang numpang lewat, lalu menghilang dengan sopan sebelum pertengahan bulan.</p><p>Tapi di sisi lain, Samarinda juga punya satu sistem sosial yang kalau dipikir-pikir cukup ajaib:<br><strong>kota ini seperti tidak pernah kehabisan majelis.</strong></p><p>Serius.</p><p>Kadang saya merasa Samarinda ini lebih cocok disebut <em>kota 1001 pengajian</em>. Hampir tiap malam selalu ada saja kegiatan. Baru habis Maghrib, suara speaker mulai terdengar dari berbagai arah. Ada yang baca maulid. Ada yang sholawatan. Ada yang kajian. Ada yang <em>habsyi-an</em> sampai jalanan kecil terasa seperti punya soundtrack sendiri.</p><p>Dan menariknya, warga Samarinda seolah sudah paham satu aturan tidak tertulis:<br>kalau ada majelis, kemungkinan besar nanti ada<strong> konsumsi</strong>.</p><p>Makanya kalau dipikir-pikir agak susah membayangkan ada orang Samarinda benar-benar kelaparan. Karena peluang untuk mendapat makan di kota ini sebenarnya cukup banyak, asal mau sedikit bergerak dan tidak gengsi duduk di lantai masjid.</p><p>Kadang saya curiga, orang yang bilang lapar di Samarinda itu bukan karena tidak ada makanan, tapi karena terlalu malas datang pengajian.</p><p>Karena sistemnya benar-benar sederhana.</p><p>Tidak perlu daftar.<br>Tidak perlu <em>screening</em>.<br>Tidak perlu punya jabatan di organisasi masjid dulu.</p><p>Datang saja. Duduk. Dengarkan ceramah walaupun setengah mengantuk. Ikut sholawatan walaupun nadanya kadang terlambat masuk. Nanti biasanya pulang tidak tangan kosong.</p><p>Dan hebatnya lagi, ini berlaku hampir di mana-mana.</p><p>Majelis habsyi ada. Kajian salaf ada. Pengajian rutin warga ada. Bahkan kadang satu malam bisa ada beberapa pilihan sekaligus sampai orang tinggal memilih:<br><em>malam ini mau “menuntut ilmu” di gang sebelah atau di masjid ujung jalan.</em></p><p>Lucunya, budaya beginian justru jadi semacam penyangga sosial kecil yang jarang dibahas orang.</p><p>Di saat nongkrong sekarang makin mahal, pengajian tetap jadi ruang yang terbuka buat siapa saja. Mau pekerja, mahasiswa, ojol, anak kos, pengangguran yang lagi menenangkan hidup, semua bisa datang tanpa takut dilihat aneh.</p><p>Dan Samarinda memang punya kultur religius yang cukup kuat soal beginian. Orang-orang masih suka berkumpul malam hari untuk mendengar ceramah, baca sholawat, atau sekadar duduk bersama sampai larut. Bahkan kadang suara habsyi lebih konsisten terdengar daripada suara pemerintah menjelaskan keadaan ekonomi.</p><p>Makanya ada momen-momen lucu ketika teman saya mengeluh:<br>“Uang makan tinggal dikit.”</p><p>Lalu beberapa menit kemudian dia bilang:<br>“Untung malam ini ada majelis.”</p><p>Dan anehnya, kalimat itu terdengar sangat normal di Samarinda.</p><p>Mungkin bagi orang luar ini terdengar bercanda. Tapi buat warga sini, ini memang realita kecil yang benar-benar ada. Kota ini punya semacam “jalur bertahan hidup spiritual” di mana orang datang mencari pahala, nasihat hidup, ketenangan hati, dan kadang sekaligus solusi makan malam.</p><p>Tentu niat utamanya tetap ibadah. Tapi <em>ya</em> manusia juga punya perut. Dan Samarinda seolah memahami itu dengan cukup baik.</p><p>Karena di kota lain, untuk bisa nongkrong dan merasa tidak sendirian kadang orang harus keluar uang. Tapi di Samarinda, cukup datang ke majelis. Duduk ramai-ramai. Dengar ustaz bicara soal hidup dan akhirat. Lalu pulang dengan hati agak ringan dan keadaan perut yang setidaknya lebih aman daripada sebelum berangkat.</p><p>Jadi kalau masih ada yang bilang hidup di Samarinda terlalu keras, mungkin dia belum menemukan jadwal pengajian yang tepat saja.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e8ac86725693" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pesta Babi dan IKN: Dua Cerita, Satu Pola yang Sering Kita Anggap Wajar]]></title>
            <link>https://medium.com/@kanalmeranyau/pesta-babi-dan-ikn-dua-cerita-satu-pola-yang-sering-kita-anggap-wajar-915f4c051e7f?source=rss-f36408d702d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/915f4c051e7f</guid>
            <category><![CDATA[indonesia]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Meranyau]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 May 2026 21:16:39 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-14T21:16:39.433Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*nR6mLWDtrHLFGVmxRtSlqQ.png" /></figure><p>Beberapa minggu ini film dokumenter <em>Pesta Babi</em> ramai sekali dibahas. Awalnya saya kira ini cuma film dokumenter biasa tentang Papua. Ternyata setelah melihat potongan diskusi dan ulasannya, saya mulai paham kenapa film ini memicu banyak perdebatan.</p><p>Film ini bercerita tentang masyarakat adat Papua yang pelan-pelan kehilangan ruang hidup mereka: hutan, tanah adat, dan sumber penghidupan akibat proyek pembangunan besar, pembukaan lahan, hingga program seperti food estate. Jadi sebenarnya bukan soal “pesta” dalam arti harfiah seperti yang sebagian orang bayangkan. Judulnya justru merujuk pada konteks budaya masyarakat Papua sendiri, di mana babi memiliki nilai adat, sosial, bahkan simbol penting dalam kehidupan mereka.</p><p>Yang membuat film ini semakin ramai bukan hanya isinya, tetapi juga respons terhadap pemutarannya. Di beberapa tempat, agenda nonton bareng sempat ditolak bahkan dibubarkan. Ada juga ruang diskusi di kampus dan komunitas yang ikut terkena dampak pembatasan. Dari situ, muncul pernyataan-pernyataan dari berbagai pihak, termasuk aparat dan lembaga negara, yang menganggap film ini sensitif dan berpotensi menimbulkan keresahan.</p><p>Lucunya, seperti yang sering terjadi, semakin dilarang, semakin banyak orang yang ingin tahu.</p><p>Dan di tengah semua perdebatan itu, film ini juga ternyata diputar di beberapa ruang diskusi kampus, termasuk di UMKT Samarinda. Di sana, pemutaran film ini tidak hanya jadi acara menonton, tapi juga membuka ruang diskusi kecil tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di wilayah timur Indonesia, dan bagaimana kita sebagai masyarakat di luar Papua memahaminya.</p><p>Sebagai orang Kalimantan, saya merasa ada bagian dari film ini yang terasa dekat sekali dengan keadaan kita sendiri.</p><p>Ketika film itu bicara soal hutan, tanah adat, dan pembangunan skala besar, pikiran saya langsung melompat ke Kalimantan dan IKN. Bukan dalam arti menyamakan secara persis, tapi ada pola yang terasa familiar: tentang bagaimana pembangunan besar datang dengan kecepatan tinggi, sementara masyarakat lokal sering kali baru mulai beradaptasi di tengah jalan.</p><p>Di Kalimantan, sudah lama juga ada suara-suara dari masyarakat adat Dayak maupun Kutai yang menyampaikan kekhawatiran mereka. Bukan karena menolak perubahan atau anti pembangunan. Tapi lebih kepada kegelisahan sederhana: jangan sampai pembangunan membuat mereka hanya menjadi penonton di tanah yang sejak lama mereka tinggali, rawat, dan hidup darinya.</p><p>Karena bagi masyarakat adat, hutan itu bukan sekadar lanskap hijau yang bisa dipindah atau diganti fungsi. Di dalamnya ada sejarah keluarga, ada sumber pangan, ada ruang hidup, bahkan ada identitas yang tidak bisa dipisahkan begitu saja dari tanahnya.</p><p>Dan di titik ini, <em>Pesta Babi</em> terasa bukan lagi sekadar film tentang Papua. Ia seperti cermin kecil yang memantulkan pertanyaan yang lebih besar tentang arah pembangunan kita hari ini.</p><p>Kita memang sering terlalu cepat menyimpulkan bahwa pembangunan selalu berarti kemajuan. Gedung tinggi, jalan baru, kota baru semuanya terdengar seperti progres yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Tapi kadang kita lupa, ada orang-orang yang hidupnya tidak ikut pindah ke definisi “maju” itu.</p><p>Yang sering terjadi, mereka justru harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang datang tiba-tiba, tanpa sempat benar-benar diajak bicara sejak awal.</p><p>Makanya, menurut saya, film seperti ini seharusnya tidak langsung ditaruh dalam kotak “sensitif” lalu dihindari. Kritik tidak selalu berarti penolakan. Kadang ia hanya cara lain untuk meminta didengar lebih pelan.</p><p>Karena kalau pembangunan hanya berjalan satu arah, cepat, besar, dan yakin pada dirinya sendiri, yang dikhawatirkan bukan hanya soal perubahan fisik, tapi juga soal jarak antara proyek besar dan manusia yang hidup di dalamnya.</p><p>Pada akhirnya, percuma kita membangun kota yang futuristik, kalau orang-orang yang sejak awal tinggal di tanah itu pelan-pelan merasa asing di rumahnya sendiri<strong>.</strong></p><p>Pada akhirnya, percuma kita membangun kota yang futuristik, kalau orang-orang yang sejak awal tinggal di tanah itu pelan-pelan merasa asing di rumahnya sendiri.</p><p>Tapi ya begitulah kita.<br>Kita ini ahli sekali membangun hal-hal besar. <br>gedung tinggi, proyek raksasa, rencana ambisius.</p><p>tapi kadang lupa satu hal kecil: <br>bertanya ke orang yang sudah duluan tinggal di situ.</p><p>Seperti lagi renovasi rumah orang tua,<br> tiba-tiba ruang tamu digusur jadi jalan tol,<br> terus kita bilang,<br> “Tenang, ini demi kemajuan keluarga besar.”</p><p>Lalu ketika mereka bingung mau duduk di mana, kita jawab dengan optimis:<br> “Bisa adaptasi kok, nanti juga terbiasa.”</p><p>Dan kalau masih belum terbiasa?<br> Mungkin belum cukup sering diajak sosialisasi.</p><p>Akhirnya semua jadi serba lancar… di PowerPoint.<br>Di lapangan? ya itu urusan “dinamika”.</p><p>Tapi tidak apa-apa.<br>Selama peresmian bisa potong pita,<br>kita selalu percaya semua baik-baik saja.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=915f4c051e7f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kota Ini Mungkin Tidak Punya Banyak Hal Pasti, Tapi Kopling Selalu Ada di Dekat Kita]]></title>
            <link>https://medium.com/@kanalmeranyau/kota-ini-mungkin-tidak-punya-banyak-hal-pasti-tapi-kopling-selalu-ada-di-dekat-kita-280302148c14?source=rss-f36408d702d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/280302148c14</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Meranyau]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 May 2026 05:14:09 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-14T05:14:09.162Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Zmsu0dgUHICsPjP8-gqJKg.png" /></figure><p>Di Samarinda sekarang, ada satu hal yang tumbuh lebih cepat daripada pembangunan: <em>kopling sepeda listrik.</em></p><p>Bukan kopling motor, bukan juga istilah teknik otomotif, tapi warung kopi yang seolah ikut arus “mobilitas listrik” karena letaknya muncul di mana-mana. Baru belok gang sedikit, ketemu.<br> Baru lewat beberapa meter, muncul lagi.</p><p>Dan anehnya, ini justru menarik.</p><p>Di saat coffee shop lain sibuk jual suasana industrial, lampu kuning remang-remang, dan harga kopi yang perlahan mendekati biaya hidup, kopi sepeda listrik datang dengan energi yang jauh lebih sederhana: <em>“yang penting ngopi dulu.”</em></p><p>Tidak perlu AC.<br> Tidak perlu sofa empuk.<br> Tidak perlu playlist jazz yang membuat orang pura-pura produktif.</p><p>Cukup meja kecil, kursi plastik, lampu seadanya, lalu tempel tulisan paling sakral sedunia:<br> <strong>“Es Kopi Gula Aren 12K.”</strong></p><p>Dan manusia Samarinda langsung datang.</p><p>Jujur saja, konsep ini sebenarnya cerdas. Di kota yang panasnya kadang terasa seperti demo kecil matahari terhadap umat manusia, minuman dingin murah memang selalu punya pasar.</p><p>Makanya tidak heran kalau tempat beginian cepat ramai. Orang habis kerja mampir. Anak muda nongkrong bentar. Ada juga yang sebenarnya cuma mau duduk sambil scroll HP biar tidak langsung pulang.</p><p>Tapi ya namanya juga harga menyesuaikan keadaan, pasti ada trik-trik kecil yang diam-diam dipahami bersama.</p><p>Kopinya ada. Gulanya juga ada.<br> Cuma kadang es batunya terasa lebih niat daripada isi lainnya.</p><p>Baru beberapa kali disedot, rasanya sudah mulai berubah jadi air dingin dengan kenangan kopi.</p><p>Tapi anehnya tetap diminum sampai habis.</p><p>Karena sebenarnya orang datang bukan untuk mencari rasa kopi paling serius. Mereka cuma butuh tempat singgah yang murah, dekat, dan tidak bikin dompet ikut stres.</p><p>Dan mungkin itu kenapa kopi sepeda listrik cepat diterima di Samarinda. Ia tidak mencoba terlihat mewah. Tidak sok eksklusif. Tidak memaksa orang harus “ngopi sambil produktif”.</p><p>Cukup datang, pesan, duduk sebentar, ngobrol, lalu lanjut hidup lagi.</p><p>Walaupun ya… lain kali es batunya mungkin bisa diajak kompromi sedikit.</p><p>Salah seorang Kawan yang kerja jadi kurir bercerita, hampir tiap antar paket dia selalu menyisihkan uang buat beli kopling. Bukan karena dia penikmat kopi serius yang bisa membedakan arabika dan robusta hanya dari aroma. Tapi karena di tengah panasnya Samarinda dan capek mutar seharian, es kopi 12 ribu itu sudah cukup buat bikin hidup terasa agak mendingan.</p><p>Dan ternyata bukan cuma satu dua merek saja. Sekarang kopling di Samarinda sudah mulai punya “brand” masing-masing. Ada yang terkenal lebih creamy, ada yang gulanya lebih terasa, ada yang kopinya lumayan kuat, ada juga yang terkenal karena es batunya paling semangat.</p><p>Lucunya lagi, masing-masing sudah punya pelanggan setia sendiri. Orang-orang mulai punya kalimat andalan:<br> “Kalau aku biasanya beli yang ini.”<br> “Yang itu kemanisan.”<br> “Yang sana kopinya encer.”</p><p>Padahal sama-sama diminum di pinggir jalan juga.</p><p>Tapi justru itu menariknya. Industri kecil ini ternyata mulai tumbuh jadi kultur baru. Tidak cuma jual minuman, tapi juga jual kebiasaan nongkrong sederhana.</p><p>Makanya sekarang mulai banyak yang berinovasi. Ada yang nyediain kursi lipat, meja portable, bahkan bikin spot duduk kecil seadanya supaya pelanggan betah nongkrong. Dan anehnya, konsep beginian malah terasa lebih hidup daripada beberapa kafe mahal yang terlalu sibuk terlihat estetik.</p><p>Coba saja lewat kawasan folder Jalan Jalan Kadrie Oening dekat danau waktu sore. Hampir selalu ada kopling dengan kursi kecil berjajar, orang duduk santai, motor parkir sembarangan tipis-tipis, dan obrolan yang ngalir begitu saja. Tidak mewah, tapi ramai. Tidak estetik-estetik amat, tapi hidup.</p><p>Dan mungkin tanpa banyak disadari, ini sudah jadi industri baru di Samarinda.</p><p>Kecil-kecil begini ternyata ikut mutar ekonomi. Ada yang jual kopi, ada yang jual camilan, ada yang kerja jaga booth, ada supplier bahan, ada anak muda yang akhirnya punya usaha sendiri tanpa harus sewa ruko mahal.</p><p>Memang, kadang rasa kopinya masih kalah niat dibanding es batunya. Tapi di luar itu, kopling sepeda listrik ini setidaknya berhasil membuktikan satu hal: di Samarinda, orang-orang selalu punya cara sederhana untuk bikin kota tetap hidup.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=280302148c14" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Taman Cerdas Samarinda: Tempat Belajar Bahwa Nama Bagus Tidak Menjamin Isi]]></title>
            <link>https://medium.com/@kanalmeranyau/taman-cerdas-samarinda-tempat-belajar-bahwa-nama-bagus-tidak-menjamin-isi-64779a224d1c?source=rss-f36408d702d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/64779a224d1c</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Meranyau]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 13 May 2026 12:24:13 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-13T12:24:13.968Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*N_BtCDsoSNW64DyAdKTlKA.png" /></figure><p>Namanya saja sudah menjanjikan: <strong>Taman Cerdas</strong>. Kedengarannya seperti tempat di mana orang-orang datang untuk membaca buku, berdiskusi, atau mungkin sekadar terlihat lebih intelektual dari biasanya.</p><p>Tapi begitu sampai di lokasi, yang terasa justru… agak berbeda.</p><p>Ada bangunan kecil bernama <em>Micro Library</em>. Dari luar, tampilannya masih estetik — cukup untuk bikin orang berpikir, <em>“wah ini pasti tempat anak-anak rajin membaca dan berdiskusi.”</em> Tapi begitu masuk ke dalam, suasananya malah lebih mirip tempat yang sedang menunggu patch update dari pemerintah.</p><p>Buku-bukunya ada, tapi auranya seperti sudah lama tidak disentuh selain oleh debu dan angin sore. Fasilitasnya hidup segan, mati pun belum resmi. Dan kesan “<em>cerdas</em>” dari tempat ini akhirnya terasa cuma kuat di bagian papan nama, sisanya lebih cocok jadi latar orang galau sambil digigit nyamuk.</p><p>Yang lebih jujur lagi, tempat ini sekarang punya fungsi baru yang tidak tertulis dari desain awalnya yaitu:<br> tempat orang pacaran, tempat joging santai, dan tempat nyamuk berkembang biak dengan bahagia.</p><p>Di satu sisi, terlihat beberapa orang masih menggunakan fasilitas setempat. Ada komunitas yang sesekali datang, ada kampus yang memakai untuk kegiatan tertentu, dan ada pedagang kecil yang ikut hidup dari <em>lalu-lalang</em> orang. Tapi kalau bicara fungsi utama fasilitasnya, rasanya banyak yang sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya.</p><p>Bangku-bangku ada, tapi tidak selalu nyaman. Area hijau ada, tapi tidak selalu terawat. Perpustakaan mini ada, tapi tidak benar-benar terasa seperti perpustakaan. Semuanya seperti “ada secara fisik”, tapi tidak sepenuhnya “hidup secara fungsi”.</p><p>Dan seperti ruang publik lain yang setengah aktif, selalu ada satu hal yang sulit dihindari: <strong>jukir liar</strong>. Mereka hadir dengan ketenangan yang sudah sangat berpengalaman, seolah bagian dari ekosistem resmi yang tidak pernah benar-benar diresmikan.</p><p>Di tengah itu semua, tetap ada kehidupan kecil yang berjalan. Orang joging pagi, anak muda nongkrong sore, pedagang jajan mengisi celah-celah kosong. Taman ini tidak mati — hanya seperti hidup dalam mode hemat energi.</p><p>Mungkin masalahnya bukan di “tidak ada aktivitas”, tapi di konsep “cerdas”-nya sendiri yang tidak pernah benar-benar dirawat sampai level itu.</p><p>Karena pada akhirnya, fasilitas publik itu bukan hanya soal dibangun. Tapi juga soal dirawat, dihidupkan, dan dijaga agar tidak pelan-pelan berubah jadi ruang yang “ada tapi tidak berfungsi”.</p><p>Dan Taman Cerdas Samarinda hari ini mungkin sedang berada di titik itu:<br> bukan tidak ada kehidupan, tapi juga belum benar-benar jadi seperti yang dijanjikan namanya.</p><p>Tapi mungkin memang sudah saatnya Taman Cerdas tidak cuma dibiarkan hidup “sekadar ada”. Karena sayang juga kalau fasilitas yang dibangun pakai uang publik akhirnya cuma jadi tempat lewat, bukan tempat tumbuh.</p><p>Pemerintah sebenarnya punya peluang besar untuk menghidupkan kembali tempat ini. Bukan cuma dengan mengecat ulang bangku atau membersihkan taman seminggu sekali demi dokumentasi media sosial, tapi benar-benar membuat ruang ini punya aktivitas yang rutin dan terasa berguna.</p><p>Misalnya dengan membuka event antarkampus, diskusi komunitas, pameran karya mahasiswa, pertunjukan seni kecil, sampai pasar kreatif anak muda Samarinda. Biar tempat ini terasa hidup, bukan sekadar ruang publik yang “<em>menunggu ramai kalau sore</em>”.</p><p>Karena anak muda Samarinda sebenarnya tidak kekurangan ide. Yang sering kurang itu cuma ruang yang benar-benar dirawat dan diberi alasan untuk terus hidup.</p><p>Dan pemerintah juga perlu sadar: fasilitas publik itu tidak selalu harus menghasilkan uang dulu baru dianggap penting. Tidak semua proyek harus balik modal lewat tiket, parkir, atau bangunan komersial supaya layak diperhatikan.</p><p>Sebab kalau logikanya semua yang tidak menghasilkan boleh ditinggal setengah mati, lama-lama ruang publik cuma akan jadi formalitas pembangunan. Dibangun waktu awal supaya terlihat bagus, lalu perlahan dilupakan setelah pita peresmian selesai dipotong.</p><p>Padahal tempat seperti Taman Cerdas seharusnya bisa jadi “<em>ruang napas</em>” kota. Tempat orang bertemu ide, komunitas, kreativitas, dan aktivitas anak muda yang selama ini sering bingung mau berkembang di mana.</p><p>Sayangnya hari ini, Taman Cerdas masih terasa seperti proyek yang selesai dibangun, tapi belum selesai dipikirkan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=64779a224d1c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[“Samarinda: Kota Panas yang Tiba-Tiba Jadi Lautan dalam Satu Jam”]]></title>
            <link>https://medium.com/@kanalmeranyau/samarinda-kota-panas-yang-tiba-tiba-jadi-lautan-dalam-satu-jam-c20381e3671a?source=rss-f36408d702d7------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c20381e3671a</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Meranyau]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 13 May 2026 01:56:01 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-13T01:56:01.633Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*86CgCk3WpQzMOpUpz_HJtw.png" /></figure><p>Di Samarinda, kita hidup dalam sistem cuaca yang sepertinya tidak pernah diajak rapat oleh akal sehat.</p><p>Pagi sampai siang, kota ini terasa seperti versi mini dari matahari. Panasnya bukan sekadar panas, tapi panas yang membuat orang mulai mempertanyakan keputusan hidup: kenapa tadi tetap keluar rumah, kenapa tidak jadi rebahan saja, dan kenapa hidup harus sejauh ini.</p><p>Lalu entah dari mana, sore datang dengan mood yang berbeda total. Langit yang tadi biru tiba-tiba berubah seperti sedang menyimpan dendam lama. Hujan turun bukan sekadar deras, tapi seperti ada yang menumpahkan satu ember langit ke bumi.</p><p>Dan di sinilah keanehannya dimulai.</p><p>Belum sempat tubuh beradaptasi dari panas yang menyiksa, air sudah mulai naik di jalan. Dalam hitungan jam, Samarinda berubah dari kota “kering kerontang penuh keringat” menjadi “aku kayaknya butuh perahu kecil”.</p><p>Rasanya seperti pindah dimensi tanpa diberi loading screen. Barusan masih berkeringat sambil marah-marah karena panas, sekarang sudah sibuk melipat celana dan mencari jalur aman biar tidak nyemplung ke genangan air.</p><p>Yang paling unik, tubuh kita juga ikut jadi korban eksperimen alam ini. Panas ekstrem lalu hujan ekstrem dalam satu hari membuat badan seperti tidak punya kesempatan untuk stabil. Masuk angin jadi teman dekat, kepala berat jadi rutinitas, dan demam ringan seperti bonus langganan.</p><p>Aneh memang, tapi lama-lama jadi “biasa”. Seperti kita sudah diam-diam menerima bahwa Samarinda bukan hanya kota, tapi juga simulator daya tahan tubuh.</p><p>Orang-orang di sini jadi terbiasa dengan dua mode kehidupan: siang bertahan di panas, sore belajar berenang di jalanan. Dan semuanya dilakukan sambil tetap bilang, “ya sudah biasa ini.”</p><p>Padahal kalau dipikir lagi, ini bukan “biasa”. Ini lebih mirip hidup di dalam eksperimen cuaca yang tidak pernah diumumkan hasil akhirnya.</p><p>Tapi mungkin di situlah uniknya Samarinda. Kota yang memaksa warganya fleksibel, meskipun kadang yang fleksibel itu bukan mentalnya dulu, tapi badan yang harus tahan panas lalu tahan banjir dalam satu paket harian.</p><p>Dan kita tetap di sini. Mengeluh sebentar, lalu lanjut hidup lagi. Karena di Samarinda, cuaca boleh berubah ekstrem, tapi hidup tetap harus jalan, walaupun jalannya kadang berupa genangan air.</p><p>Di tengah siklus cuaca yang seperti tidak punya SOP itu, aku sempat ngobrol dengan Nayla, teman kerja yang tiap hari harus naik ke lantai 3.</p><p>Katanya, lantai 3 itu bukan sekadar “lebih tinggi”. Itu versi lain dari Samarinda yang lebih dekat ke matahari.</p><p>“Siang di atas itu beda,” kata Nayla.</p><p>Bukan beda yang keren, tapi beda yang bikin orang mulai meragukan fungsi AC.</p><p>Katanya lagi, matahari seperti berdiri tepat di atas kepala. Bukan cuma terasa panas dari luar, tapi juga seperti masuk pelan-pelan ke dalam ruangan. AC sudah nyala, tapi rasanya cuma jadi pajangan yang lagi usaha terlihat berguna.</p><p>Di jam-jam siang, mereka di lantai 3 itu seperti lagi ikut program “bertahan hidup versi ringan”. Fokus kerja tetap jalan, tapi di sela-sela itu selalu ada jeda kecil untuk mengeluh dalam hati.</p><p>“Kadang aku mikir, ini AC-nya yang lemah atau mataharinya yang terlalu niat,” begitu kira-kira kesimpulan Nayla.</p><p>Tapi cerita sebenarnya bukan di siang hari.</p><p>Cerita yang paling “Samarinda banget” justru terjadi saat pulang kerja.</p><p>Sore itu, langit seperti langsung lompat ke mode hujan deras tanpa transisi. Baru saja orang-orang siap beres-beres kerja, air sudah turun seperti tidak sabar menutup hari.</p><p>Nayla yang rumahnya di Lempake jadi ikut kena skenario paling khas Samarinda: antara pulang normal atau pulang dengan risiko “terdampar versi jalanan”.</p><p>Kalau dia tidak nekat nerobos hujan itu, kemungkinan besar dia akan terjebak. Bukan cuma kehujanan, tapi juga kemungkinan banjir yang sudah mulai naik di beberapa titik jalan.</p><p>Akhirnya, seperti banyak orang lain di kota ini, keputusan diambil bukan dengan pertimbangan nyaman atau tidak.</p><p>Tapi dengan satu pertanyaan sederhana:<br> “Kalau tidak jalan sekarang, nanti pulangnya bagaimana?”</p><p>Dan Nayla pun pulang di tengah hujan deras itu.</p><p>Bukan karena situasinya aman.</p><p>Tapi karena di Samarinda, kadang pilihan paling realistis adalah tetap jalan meskipun cuaca sedang tidak setuju.</p><p>Dan dari cerita kecil di lantai 3 itu, aku jadi sadar lagi.</p><p>Di kota ini, kita tidak hanya belajar bekerja di bawah panas, atau pulang di tengah hujan.</p><p>Kita juga belajar bahwa cuaca tidak pernah benar-benar menunggu kesiapan siapa pun.</p><p>Kita yang menyesuaikan.</p><p>Selalu begitu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c20381e3671a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>