<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Bunga. on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Bunga. on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@layurmala?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*k6DFxBC6c2SGo49O7JDFRQ.jpeg</url>
            <title>Stories by Bunga. on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@layurmala?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Thu, 28 May 2026 21:21:58 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@layurmala/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Saujana]]></title>
            <link>https://medium.com/@layurmala/saujana-2c9d1c1e2e7f?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2c9d1c1e2e7f</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Bunga.]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 22 May 2026 09:43:08 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-22T09:45:38.614Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Angka-angka di almanak mengelupaskan diri, sebagaimana dinding-dinding yang lama menopangnya jua mulai memutih. Barangkali begitulah cara mereka bersaksi karena mulut tak sempat dianugerahi.</p><p>Tahun pertemuan ditelan oleh zaman, di dalam kepala tak tersisa barang setitik abunya. Hangus terbakar, membalur wujudnya. Lidah ini terbata ketika hendak menjelaskannya.</p><p>Aku tak ingat. Dimana dan kapan menghantuiku bersama perasaan bersalah.</p><p>Maka yang bisa aku katakan hanyalah apa-apa saja yang tersimpan dengan rapat, yang aku percayai darimu ketika luput melumat dengan ganas.</p><p>Dimulai ketika sebuah masa, perapianku menjadi teduh karenamu. Bejana berisi basa basi yang basi itu mendapatkan anugerah kasihmu. Kau masih di situ, di tempat yang sama tanpa mengurung niat sedikit pun.</p><p>Pada heningku, tak pernah ada penghakiman. Tak ada busur-busur prasangka yang kau arahkan kepadaku. Riuh dan senyapnya aku, tak pernah membuatmu berpaling dariku.</p><p>Maka atas pemberianmu, aku telah memberimu jua. Mungkin dengan cara-cara yang tak tahu, mungkin dengan cara-cara yang tak menyentuhmu. Namun, kita memang selalu seperti ini dan akan selalu seperti ini.</p><p>Biar kuhidupkan doa-doa di antara kelamnya malam, biar kutumbuhkan harap bila asa mendadak patah. Tinggallah lebih lama lagi, tinggallah agar sejauh pandangku meradar aku tetap mampu menemukanmu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2c9d1c1e2e7f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Main Negara-negaraan]]></title>
            <link>https://medium.com/@layurmala/main-negara-negaraan-a0f64c6a92b1?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a0f64c6a92b1</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Bunga.]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 19 May 2026 12:14:18 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-19T12:14:18.657Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Anjing, anjing. Perut rakyat dijadikan mainan. Anjing, anjing. Pendidikan rakyat dijadikan mainan. Anjing, anjing. Nyawa rakyat dianggap mainan.</p><p>Dasar anjing. Bangsat.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a0f64c6a92b1" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mayat-mayat di Antara Pohon Pinus telah dilayatkan ke dalam kabut.]]></title>
            <link>https://medium.com/@layurmala/mayat-mayat-di-antara-pohon-pinus-976c59ec2314?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/976c59ec2314</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Bunga.]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 12 Feb 2026 11:17:42 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-12T11:25:38.516Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/981/1*g9BIb6cW8KmQdwJTB7zBjw.jpeg" /></figure><p>Mayat-mayat di Antara Pohon Pinus telah dilayatkan ke dalam kabut. Bersama metafora yang berparade dalam kekultusan iman dan ibadat.</p><p>Yang meruntuk sebagai ketulusan t’lah menjadi lacur, sementara titik nadi yang dikoyak terus bergemuruh hingga lantas runtuh; hangus atas sisa pertempuran di temaram yang lalu.</p><p>Susunan akar-akar pinus menjadi nisanmu sebab namamu diselimuti keheningan nan tak jua surut. Rahasia-rahasia kita tak kunjung pula mampu kubagikan, tidak seperti sajak-sajakmu itu, yang terjadi ketika kurangkai sebuah larik ialah ledakan. Sebab ia bertuan pada kematian, kematianmu. Dan akan terus begitu.</p><p>Kematianmu yang melucutiku, kematianmu ditelanjangkan oleh waktu, kematianmu yang menjadikanku sebagai malaikat maut, kematianmu yang menyajikan jantung dan lambung untuk perut laparku.</p><p><strong><em>Itu karma yang harus kau tanggung.</em></strong> Kesalahanmu karena telah memilih merawat setangkai dahlia hitam yang beracun. Kesalahanmu karena telah memilih untuk menjadi sama tercelanya seperti aku. Kesalahanmu karena telah membayangkan masa depan bersamaku.</p><p>Menyesalkah engkau? Bersumpahkah engkau? Kembang tulah ini menghadirkan kehidupan paling terkutuk di antara lintas awan-awan kelabu, menghardikmu penuh pilu, menyantap jasadmu dengan begitu anggun.</p><p>Kau adalah mayat yang terbenam di antara pohon pinus. Kelak aku pula, menggali perkuburanku dengan cangkul yang kucuri setelah memenggal kepala pemiliknya. Dan begitulah bagaimana menjadi Mayat-mayat di Antara Pohon Pinus. Jasadmu, jasadku.</p><p>Kuusahakan aku terbenam di samping tengkorakmu. Supaya dengan mudah kau dapat membalas kelacuranku, supaya dengan mudah kukumandangkan duka yang tak pernah dipercayai hamparan bintang malam bahwa kematianmu adalah kemungkaran yang mengental dengan pekatnya pada air mataku, supaya dengan mudah kau dapat menikam dan membunuhku, supaya aku dapat mati untuk kali keseribu dan menebus segala dosa itu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=976c59ec2314" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Penyair berdarah dingin pun mengigil akibat rindu yang mengigitnya, romansa payah yang mengukir…]]></title>
            <link>https://medium.com/@layurmala/penyair-berdarah-dingin-pun-mengigil-akibat-rindu-yang-mengigitnya-romansa-payah-yang-mengukir-555b484e7cea?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/555b484e7cea</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Bunga.]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 03 Sep 2025 12:45:58 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-03T12:52:57.616Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Penyair berdarah dingin pun mengigil akibat rindu yang mengigitnya, romansa payah yang mengukir hatinya.</p><p><em>Ah, dasar payah</em>. Lidah tak kunjung terbata. Kata dengan lima huruf yang menyusunnya itu serupa maklumat keruntuhan. Payah, payah.</p><p>Sayatan demi sayatan, Tuan dan Nona.</p><p>Namun bagaimana pun ia tetap penyair berdarah dingin (terkutuk atas cinta yang ganjil).</p><p><em>Ah, dasar penyakit</em>. Mengapa patah hati dan obat penawar tak dibuat silih mendampingi?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=555b484e7cea" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[#Catatan 8: Kepada Ibu, satu hari penuh sukmaku diperas tanpa henti.]]></title>
            <link>https://medium.com/@layurmala/catatan-8-kepada-ibu-satu-hari-penuh-sukmaku-diperas-tanpa-henti-744f33c20130?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/744f33c20130</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Bunga.]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 02 Sep 2025 22:51:32 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-02T22:57:24.253Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>#Catatan 8: Kepada Ibu, satu hari penuh sukmaku diperas tanpa henti. Rasa kecewa itu sampai pada pangkal tenggorokan, menggelitik isi perut; mual dan pusing, murka dan kegilaan berpusar di ulu hati. Nyeri. Tak ada yang membela kami, keberpihakan itu bagai dongeng di lipatan langit; seolah tak sudi menginjakan kaki di bumi.</p><p>Sial sekali.</p><p>Bahkan dalam lelap, mimpi buruk itu tak henti menghantui. Terbangun tengah malam dengan jantung serupa dikuliti, gelisah dan resah singgah lebih lama dari bulan yang mati.</p><p>Ibu, hari ini pun aku mengadu pada anakmu; anakmu yang menjadi Ibuku, seorang anak dari seorang Ibu. Mengadu dan meminta restu, kukatakan “Tapi barangkali mereka butuh aku…” Lalu ia menjawab, dengan getirnya ketabahan yang telah ia imani selama ini, “Memangnya Ibu nggak butuh kamu?”</p><p>Dan hening.</p><p>Bandung, 3 September 2025.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=744f33c20130" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[#Catatan 7: Kepada Ibu, kematian menjadi doa bagi kami. Ibu, mereka memang menginginkan kami mati.]]></title>
            <link>https://medium.com/@layurmala/catatan-7-kepada-ibu-kematian-menjadi-doa-bagi-kami-ibu-mereka-memang-menginginkan-kami-mati-cd21de0b6a08?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/cd21de0b6a08</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Bunga.]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 02 Sep 2025 22:48:40 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-02T22:48:40.661Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>#Catatan 7: Kepada Ibu, kematian menjadi doa bagi kami. Ibu, mereka memang menginginkan kami mati.</p><p>Kini sebagian kawan-kawan tengah terlelap, menjemput pagi. Tak ada jaringan, dijagal oleh mereka yang begitu khusyuk menginginkan mati.</p><p>Ibu, maafkan aku yang pada akhirnya tak sanggup lagi menahan tangis. Ibu, perjuangan ini terasa begitu melelahkan. Peperangan telah terjadi beberapa jam lalu, benar, peperangan. Kami tak punya senjata, kami hanya mempunyai tekad dan keyakinan tetapi dilempari gas air mata. Mati dan matilah, begitu kata mereka. Keparat gila.</p><p>Entah harus berapa naywa lagi, Ibu. Mengapa mengobati yang terluka serupa dosa besar yang pantas dihukum mati? Mereka tak henti-hentinya menyiksa dan menculik kami.</p><p>Ibu, mampukah kami bertahan hingga akhir?</p><p>Semoga usia masih bersukarela untuk menghidupiku.</p><p>Bandung dini hari, 2 September 2025 yang hitam dan mencekam.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=cd21de0b6a08" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[#Catatan 6: Kepada Ibu, rindu yang haram ini aku titipkan kepadamu.]]></title>
            <link>https://medium.com/@layurmala/catatan-6-kepada-ibu-rindu-yang-haram-ini-aku-titipkan-kepadamu-e28e989d13c6?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e28e989d13c6</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Bunga.]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 01 Sep 2025 22:13:32 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-02T22:41:37.329Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>#Catatan 6: Kepada Ibu, rindu yang haram ini aku titipkan kepadamu. Tolong jaga dia dari marabahaya dan patahnya asa. Tolong jaga segala hangat yang tersisa. Ibu, pada haramnya jantung ini kabulkanlah segala doa.</p><p>Bandung, 30 Agustus 2025.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e28e989d13c6" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[#Catatan 5: Kepada Ibu, kami turun ke jalan lagi.]]></title>
            <link>https://medium.com/@layurmala/catatan-5-kepada-ibu-kami-turun-ke-jalan-lagi-79b2f34c3400?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/79b2f34c3400</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Bunga.]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 01 Sep 2025 22:12:55 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-01T22:12:55.841Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>#Catatan 5: Kepada Ibu, kami turun ke jalan lagi. Menagih apa yang menjadi hak kami. Menanggalkan apa yang seharusnya tak dibelenggukan pada kami.</p><p>Hujan mengguyur kami, Ibu. Tangisan itu datang darimu atau orang-orang yang tak ingin memberi sepotong keadilan? Ibu, berdosakah kami?</p><p>Aku membawa satu dus air minum, dua dus makanan dan 20 bungkus kue basah. Aku datang bersama seorang kawan, kuyup kami oleh rapatnya hujan. Kami tertawa sebentar sebelum akhirnya teriris sepenuhnya. Mereka kelaparan, Ibu, mereka haus dan dipasung letih. Semua berkumpul di depan gedung itu, gedung keramat yang tuli, yang tak pernah tahu dan tak pernah mau tahu. Di depan seseorang tengah berorasi, sekali lagi, kami hanya ingin keadilan dan hak yang terpenuhi. Sulitkah bagi mereka, Ibu? Kami telah dimiskinkan dan mereka telah menjadi kaya dengan menjadi pengemis; mengiris-iris perut rakyat.</p><p>Kemudian siang berganti gelap, beberapa botol kaca dilempar ke tengah-tengah kami. Mereka, penjahat bermuka dua, itu pikir kami akan peduli. Tidak, kami tidak peduli. Pecahan botol kaca itu dirapikan sebelum mencelakai. Para pengemudi ojol mengulurkan tangannya.</p><p>Hingga setelah gas air mata membuat mata kami perih sempurna, mereka memfitnah kami, kata mereka kami adalah rakyat anakris tak terdidik. Bersekutu dengan api dan membakar tanpa taktik. Tapi, Ibu, apakah korek api mampu membakar gedung nan telah berdiri bertahun-tahun lamanya itu?</p><p>Ibu, mereka memang memginginkan kami mati. Malam hari adalah yang terburuk bagi medis yang sibuk mengobati, tertatih kesana-kemari, atas nama kemanusiaan kami harus siap mati.</p><p>Bandung, 29 Agustus 2025.</p><p>Tuhan, masihkah ada nyawa untukku mengunggah tulisan ini?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=79b2f34c3400" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[#Catatan 4: Kepada Ibu, aku tahu kau tak pernah menginginkan ini.]]></title>
            <link>https://medium.com/@layurmala/catatan-4-kepada-ibu-aku-tahu-kau-tak-pernah-menginginkan-ini-e595e14f5854?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e595e14f5854</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Bunga.]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 01 Sep 2025 22:12:13 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-07T02:58:56.530Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>#Catatan 4: Kepada Ibu, aku tahu kau tak pernah menginginkan ini. Aku tahu tak seorang pun Ibu yang sudi mengunyah anaknya sendiri. Aku tahu tak pernah sekalipun kau akan berpikir untuk memasukan kami ke dalam kerak bumi.</p><p>Ibu, pada aspal yang dipoles menggunakan jeripayah kami. Mereka berupaya menanam kami. Pemuda itu dilindasnya sampai mati. Pemuda malang yang memilih mempunyai seribu mimpi, sama sepertiku, sama seperti mereka yang berkhayal menggapai langit. Pemuda itu, Ibu, lelah dan letih disiksa oleh para tikus berdasi. Sehari-hari, kebijakan mereka bagai orang sinting yang tak masuk rumah sakit. Menjerat dan mencelakai kami, ongkang-ongkang kaki demi penuhi perut sendiri. Ibu, pemuda itu dengan segala citanya telah melebur bersama aspal dan darah. Ibu… titip dia. Titip dia yang sudah terlalu lama disiksa oleh negaranya sendiri. Ibu… percayalah, di hatinya sebuah cinta amat besar ditanggung hingga harus mati.</p><p>Kepada Affan Kurniawan, semoga segala lelahmu kini menjadi sentosa.</p><p>Bandung, 28 Agustus 2025.</p><p>Tulisan ini akan diunggah bila usia masih dikandung badan.</p><p>Bertambah lagi anakmu, Ibu, jagalah mereka dan jangan dahulu putra-putrimu yang lain.</p><p>Affan Kurniawan<br>Andika Lutfi Falah<br>Septinus Sesa<br>Saiful Akbar<br>Muhammad Akbar Basri<br>Sarinawati<br>Rusmadiansyah<br>Rheza Sendy Pratama<br>Sumari<br>Iko Juliant Junior</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e595e14f5854" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Sebab kekasihku, pada ragaku yang membiru telah melebur kamu.]]></title>
            <link>https://medium.com/@layurmala/sebab-kekasihku-pada-ragaku-yang-membiru-telah-melebur-kamu-1d9829c6e4c3?source=rss-235fb1c74e8c------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1d9829c6e4c3</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Bunga.]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 25 Jun 2025 15:32:13 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-06-25T15:32:13.931Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Sebab kekasihku, pada ragaku yang membiru telah melebur kamu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1d9829c6e4c3" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>