<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Brewok Pekeiiiiiiiii on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Brewok Pekeiiiiiiiii on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@muelpekey?source=rss-cfc296b0114b------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*SD7rkNKxXF6gK3Kc75aKUg.jpeg</url>
            <title>Stories by Brewok Pekeiiiiiiiii on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@muelpekey?source=rss-cfc296b0114b------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 15 May 2026 19:22:51 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@muelpekey/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Pondasi Rumahku Yang Hilang]]></title>
            <link>https://medium.com/@muelpekey/pondasi-rumahku-yang-hilang-c29feef15a65?source=rss-cfc296b0114b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c29feef15a65</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Brewok Pekeiiiiiiiii]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 May 2026 23:18:40 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-15T00:21:43.331Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*8dF2XF1Rq5WYaLlCOTGwWw.png" /></figure><p>Pondasi rumahku yang hilang, bukan bangunan fisik tapi masa lalu yang dimana aku merasa aman dan tenteram, Dulu rumah ini surga kecil dan selalu bahagia, namun sekarang cuman tembok yang bisu tak bersuara. Rumahku hilang, rinduku dibuang kalau pulang aku tak lagi punya arah….</p><p>Rumah yang hilang, kubangun di jiwaku sendiri. Rumah yang hilang, lelah menjadi seorang dewasa, harus kelihatan kuat padahal didalam retak. Rumah disini diartikan tentang seseorang atau masa lalu yang bikin anda jujur tanpa pura-pura tangguh.</p><p>“Makna” pondasi rumahku yang hilang kalau diartikan sendiri: Pondasi sama dengan Dasar, suatu hal yang bikin aku merasa kuat dan aman. Jadi pondasi rumahku yang hilang sama dengan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku, yang menjadi dasar hidup penyemangat diriku.</p><p>Pondasi rumahku yang hilang. Dulu aku pikir rumah itu cuman tembok, atap, dan pintu yang bisa kukunci dari luar. Ternyata aku salah. Rumah yang sebenarnya adalah suara tawa yang menyambutku pulang, segelas kopi di meja, dan seseorang yang bilang “ko tidak apa-apa ka?” tanpa aku perlu menjelaskan apa-apa. Rumah itu adalah pondasi. Bukan batu dan semen, tapi rasa nyaman yang bikin aku berani jatuh karena tahu ada yang akan menyemangatkan. Selama berbulan-bulan, aku bersandar pada pondasi itu tanpa aku sadar. Aku kira dia akan selalu di sana. Sampai suatu hari pondasi itu retak dan runtuh. Orang yang jadi peluangku pergi, dan yang tersisa cuman tembok bisu.</p><p>Anehnya, rumahnya masih ada. Pintunya masih bisa kubuka. Tapi setiap kali masuk, yang menyambutku cuman gema langkaku sendiri. Dindingnya diam. Kursi tua disudut itu kosong. Meja makan tidak lagi berisik karena obrolan tawa. Aku bertanya kepada bayangan, “Aku harus pulang kemana sekarang!” Namun tidak ada jawaban. Kehilangan pondasi itu rasanya kayak kehilangan arah. Aku masih bisa jalan, masih bisa kerja, masih bisa ketawa depan orang lain. Tapi di dalam, ada bagian yang kosong. Malam jadih lebih panjang. Suara hujang jadi lebih nyaring. Dan aku sadar, ternyata aku tidak takut gelap. Aku hanya takut pulang ke rumah yang sudah bukan rumahku lagi.</p><p>Butuh waktu yang lama untuk mengerti satu hal: kalau rumah diluar sudah hilang, satu-satunya cara adalah membangunnya lagi dalam diri sendiri. Aku mulai belajar jadi orang yang menenangkan diriku sendiri. Jadilah orang yang bilang “tidak apa-apa” ke diri sendiri di malam hari. Bukan karena aku kuat, tapi karena tidak ada pilihan lain. Sekarang aku mengerti, pondasi yang hilang tidak akan kembali seperti yang lalu. Tapi aku bisa bikin pondasi baru. Bukan untuk menggantikan, tapi untuk melanjutkan. Karena mungkin, tugas kita sebagai manusia memang begitu: Kehilangan, berduka, lalu membangun lagi. Pelan-pelan, pakai puing-puing yang masih bisa dipakai.</p><p>Jadi pesan untuk kita semua bahwa: suatu hari ketika kita merasa rumah kita hilang, “ingat ini”, kita boleh runtu dulu. Tapi jangan Tinggaal di Reruntuhan itu selamanya. Bangun lagi. Kali ini, jadilah rumah untuk dirimu sendiri.</p><p>Di susun Oleh: Samuel-P</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c29feef15a65" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>