<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Muhammad Alisejarah on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Muhammad Alisejarah on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah?source=rss-fc833f73c68------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/0*vJ7QmLx7SjevSvPm</url>
            <title>Stories by Muhammad Alisejarah on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah?source=rss-fc833f73c68------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sat, 23 May 2026 16:03:32 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@muhammad.alisejarah/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[APAKAH MEMBERI ITU BAIK?]]></title>
            <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah/apakah-memberi-itu-baik-1299be004805?source=rss-fc833f73c68------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1299be004805</guid>
            <category><![CDATA[kafeinbuku]]></category>
            <category><![CDATA[kompasiana]]></category>
            <category><![CDATA[bastorydolo]]></category>
            <category><![CDATA[pigurafilm]]></category>
            <category><![CDATA[kekerasan]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Muhammad Alisejarah]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 16 Oct 2021 15:02:49 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2021-10-16T15:03:06.248Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>APAKAH MEMBERI ITU BAIK?</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*eONE2RzLsbGm4fJhD9t5Cg.jpeg" /></figure><p>Buku The Power of Giving menunjukkan bahwa relasi seseorang akan sangat mengikat bila dia mengikatnya dengan memberi. Di lain sisi, timbul masalah baru, Karena &quot;pemberian&quot; kemudian jadi penyakit hati kepada si pemberi dan penyakit ketergantungan kepada si penerima. Pemberian ini kemudian lebih ditafsir kepada hal-hal berupa materi, padahal pangkal materi inilah yang kemudian jadi masalah baru.</p><p>Seseorang yang diberi uang tiap bulannya akan berasumsi bahwa dia akan terus mendapatkan uang tiap bulannya. Saat si pemberi menghentikan pemberian, maka si penerima akan menjauhi si pemberi. Dengan asumsi bahwa si pemberi sudah tak lagi sebaik yang dulu dengan memberikan uang.</p><p>Di lain sisi, keseringan memberi kepada seseorang bisa menimbulkan rasa &quot;tinggi&quot; di banding yang menerima. Rasa ini, mengasumsi si pemberi bahwa si penerima akan selalu datang kepada si pemberi saat mendapatkan masalah keuangan. Bahkan, saat wajah si penerima baru saja muncul di rumah si pemberi, si pemberi langsung berasumsi bahwa orang ini pasti minta uang. Padahal bisa saja, dia memang tulus datang untuk silahturahmi, bukan untuk meminta-minta.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*1UYDLx2m3nKg7NFJOE5y-g.jpeg" /></figure><p>Dua penyakit ini, juga bisa kita giring ke hal-hal lain yang bahkan lebih sensitif 🙈 Mmm, keluarga misalnya. Keluarga yang lebih banyak mengandalkan satu pendapat dari sang suami, cenderung punya pola otoriter kepada keluarga. Sikap ini, bisa tercermin dari bagaimana si pemberi merasa telah memberi kepada keluarga. Rantai ini akan putus manakala si penerima (anak dan istri) memiliki pendapatan sendiri secara mandiri.</p><p>Di Amerika, menunjukkan bahwa kekerasan rumah tangga sering kali terjadi kepada keluarga yang hanya memiliki satu sumber pendapatan yakni dari si suami. Kekerasan ini lebih sering terjadi lagi, kepada keluarga miskin dan tingkat pendidikan yang rendah. Sedangkan, data lain menunjukkan bahwa, perempuan yang punya pendapatan sendiri selain mengandalkan pendapatan suami, cenderung dapat membela diri ketimbang saat kekerasan terjadi dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan pendapatan suami.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*nWwOM_8AkjqSZAVi4kWD1w.jpeg" /></figure><p>Pada kasus-kasus yang menimpa keluarga menengah dan miskin di Amerika, membuktikan bahwa sikap otoriter atau dalam bahasa lebih halus, rasa &quot;tinggi&quot; (dibandingkan si penerima) akan menggiring opini si pemberi bahwa memberi bisa segaris lurus dengan dapat berlaku apa saja kepada yang menerima bahkan dalam hal ini adalah berlaku kekerasan kepada keluarga sendiri. Karena punya sikap otoriter, tangan besi dan bisa menebar teror kepada keluarga sendiri. Hal ini akan sangat kita temui di Amerika pada kelompok keluarga dengan tidak mengedepankan asa keterbukaan diskusi dalam keluarga atau merasa otoriter dan sempit rasa &quot;tinggi&quot;, dikarenakan telah merasa memberi lebih kepada keluarga.</p><p>Jadi, &quot;memberi&quot; tak melulu punya dampak positif. Namun juga punya dampak negatif yang mengerikan. Di satu sisi memberi itu baik, namun di sisi lain bisa saja hal-hal buruk baru saja dimulai.</p><p>Memberi uang itu baik, namun memberi uang saja tidak cukup tanpa memberi pengertian yang baik (berakhlak yang baik) -</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*n5a99yyRAM-_Jb1dmITl1Q.jpeg" /></figure><p>— — — — —</p><p>Penulis merupakan pedagang buku. Tulisannya yang lain bisa kamu baca di Pigurafilm, Kompasiana dan Bastorydolo</p><p>— — — — —</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Vjew0vDBR1oSdwPHCg-_ew.jpeg" /></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1299be004805" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[ORANG BERUNTUNG DAN ORANG TIDAK BERUNTUNG DI DALAM LOTRE -]]></title>
            <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah/orang-beruntung-dan-orang-tidak-beruntung-di-dalam-lotre-c3ec0a4e09e?source=rss-fc833f73c68------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c3ec0a4e09e</guid>
            <category><![CDATA[kafeinbuku]]></category>
            <category><![CDATA[pigurafilm]]></category>
            <category><![CDATA[dr-richard-wiseman]]></category>
            <category><![CDATA[lotre]]></category>
            <category><![CDATA[bastorydolo]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Muhammad Alisejarah]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 08 Aug 2021 06:52:36 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2021-08-08T08:20:28.984Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>ORANG BERUNTUNG DAN ORANG TIDAK BERUNTUNG DI DALAM LOTRE -</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*qiFF2LYFB25hR7lwJyyorQ.jpeg" /></figure><p>Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Dr Richard Wiseman di Inggris, menunjukan hal menarik. Dr Wiseman, Meneliti 1000 orang Inggris dari berbagai latar belakang yang diseleksi secara ketat dan menemukan 600 orang yang kemudian ikut dalam penelitian bermain lotre.</p><p>Dr Richard Wiseman kemudian membagi mereka dalam dua kategori. 300 orang yang mengklaim dirinya selalu beruntung dalam hidupnya dan 300 lainnya adalah orang-orang yang suka mengklaim dirinya selalu bernasib buruk di dalam hidupnya.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*NzWiBjSZtVv71mWpx1vPkw.jpeg" /></figure><p>Wiseman lalu memberikan 300 orang tersebut modal 2,5 juta Poundsterling dan membiarkan mereka menghabiskan uang tersebut dalam permainan lotre. Hasilnya cukup menarik, dari 300 orang tersebut, yang benar-benar memenangkan permainan lotre hanya 36 orang. Dan jumlahnya seimbang 18 orang yang mengaku selalu beruntung dan 18 orang lainnya adalah yang selalu beranggapan mereka ditimpa kemalangan. Sisanya dari 36 orang lainnya mengalami kebangkrutan (564 orang) dari permainan lotre.</p><p>Setidaknya, penelitian Wiseman menunjukkan kepada kita bahwa anggapan bahwa keberuntung dan Kemalang tak benar-benar ada dalam permainan judi. 36 orang tersebut mewakilkan sebagian kecil dari kita yang bernasib agak baik, namun 564 orang lainnya, yakni sekitar 99% dalam skala yang lebih besar adalah orang-orang yang bernasib malang (meski mereka menyebut diri mereka orang beruntung atau pun malang). Dan dalam dunia yang kita lalui sekarang ini pun mangalami hal serupa, berjudi dengan waktu, berjudi dengan nasib adalah hal terkonyol yang dilakukan manusia kebanyakan, mencoba nasib pada satu hal yang dianggapnya dapat mengubah hidup mereka untuk sesuatu proyek kecil seleksi pekerjaan yang hanya membutuhkan 1 atau 5 orang di antara 1000 orang lainya, hanya ada satu orang dari 999 orang, hanya satu orang. Dan boleh jadi, 999 orang tersebut akan menyebut-nyebut diri mereka orang-orang beruntung. Wiseman hendak menunjukkan kepada kita akan nasib buruk akan jauh lebih diterima dalam perjudian dan hanya sebagian kecil 1% atau mungkin 0,9 persen yang hanya beruntung di dunia ini.</p><p>Kamu bagaimana, mau berjudi hari ini dengan nasib baik? 🙈🙈</p><p>---------------<br>Penulis: Muhammad Ali<br>Tulisan lainnya bisa kamu baca di Bastorydolo dan Pigurafilm. Kamu juga bisa memesan buku di Kafeinbuku -</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*nRnlAhpffK6IPVGekbI5zA.jpeg" /></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c3ec0a4e09e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[MERAMAL MASA DEPAN DARI KACAMATA DUA PENULIS PEREMPUAN: Elizabeth Kolbert dan Emma Marris -]]></title>
            <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah/meramal-masa-depan-dari-kacamata-dua-penulis-perempuan-elizabeth-kolbert-dan-emma-marris-3230ebeda4a7?source=rss-fc833f73c68------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/3230ebeda4a7</guid>
            <category><![CDATA[masa-depan-bumi]]></category>
            <category><![CDATA[elizabeth-kolbert]]></category>
            <category><![CDATA[kafeinbuku]]></category>
            <category><![CDATA[perubahan-iklim]]></category>
            <category><![CDATA[emma-marris]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Muhammad Alisejarah]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 25 Jul 2021 21:46:45 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2021-07-26T02:20:25.090Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>MERAMAL MASA DEPAN DARI KACAMATA DUA PENULIS PEREMPUAN: Elizabeth Kolbert dan Emma Marris -</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*itSc1klKXL_rY1_ufiR9Fg.jpeg" /></figure><p>Bila kamu membaca tulisan-tulisan Elizabeth Kolbert, kamu akan menyadari bahwa wajah bumi mengalami banyak perubahan dan akan sangat suram di masa depan. Ketakutan-ketakutan Kolbert tentang masa depan bumi dan ancaman perubahan iklim yang ekstrim akan menghampiri manusia, kota-kota yang tenggelam, gelombang panas yang mematikan, badai yang tak berkesudahan dan kemarau di sepanjang waktu adalah beberapa gambaran umum Kolbert tentang masa depan.</p><p>Namun, dalam tulisan-tulisan lain, semacam Emma Marris, melihat hal yang lain. Bagi Marris, beberapa bagian dari bumi mungkin akan susah untuk diperbaiki, namun di lain sisi, kemajuan luar biasa di bidang teknologi dan pengetahuan tentang sains melampaui masa-masa sebelumnya. Diprediksi masa depan manusia dengan kemajuan tersebut membuat peluang bagi manusia untuk terlihat lebih baik.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*tksZFc5fZ93D-F0K3jerBw.jpeg" /></figure><p>Baik, Elizabeth Kolbert ataupun Emma Marris, adalah dua orang perempuan yang sedang meraba-raba masa depan akan seperti apa. Lebih jauh dari itu semua, kita hanya bisa mempersiapkan diri kita dari ketidak mungkin di masa depan. Kesadaran tentang ancaman dan pada waktu yang sama, manusia menemukan banyak penemuan untuk memperbaiki yang bisa diperbaiki, adalah harapan yang paling bisa kita percayai.</p><p>Elizabeth Kolbert dalam bukunya kepunahan ke enam, menunjukkan kepada kita akan sangat berbahaya hidup di masa depan dengan perubahan bumi yang terjadi begitu cepat dan akan memusnahkan makhluk-makhluk bertulang belakang (termasuk juga manusia sebagai rantai makanan paling tertinggi namun juga paling rentan dan lemah di muka bumi). Kesadaran akan bahaya di depan kita, setidaknya membuat kita mengkaji ulang kebijakan dan pola hidup kita yang sangat bar-bar sekarang ini.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*XRC4PaYdkitKXmB1Dme3Yw.jpeg" /></figure><p>Kolbert dan Marris, menyodorkan fakta akan hidup yang tak sedang baik-baik saja di masa depan. Namun, terlepas dari itu semua. Kita diberi pilihan untuk menentukan nasib hidup kita untuk hidup lebih baik atau jauh lebih buruk di masa depan -</p><p>— — — —</p><p>Tulisan ini dibuat oleh: Muhammad Ali<br>Penulis adalah Pedagang buku di Kafeinbuku. Tulisan-tulisan bisa kamu baca di Pigurafilm.wordpress.com dan Bastorydolo.blogspot.com</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ZUq-EK7ARt7Qgi1MIj2XGg.jpeg" /></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=3230ebeda4a7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[MANUSIA GO WITH THE FLOW ATAU MANUSIA WHERE GO TO FLOW -]]></title>
            <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah/manusia-go-to-flow-atau-manusia-where-go-to-flow-c2a10332d77c?source=rss-fc833f73c68------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c2a10332d77c</guid>
            <category><![CDATA[kafeinbuku]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Muhammad Alisejarah]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 21 Jun 2021 11:45:46 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2021-06-22T00:17:07.304Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>MANUSIA GO WITH THE FLOW ATAU MANUSIA WHERE GO TO FLOW -</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*uvsIJpuAZcQ9gEyZ_OUlCw.jpeg" /></figure><p>Hanya dua jenis manusia di dunia ini. Yang pertama tipenya Go with the flow. Di mana, segala dari hidup mu ditentukan oleh ukuran keumuman banyak orang; kuliah harus cepat selesai, nikah sebelum umur 30-an, harus terlihat lagi kerja dengan pakai sepatu, punya motor dan hal-hal fuck you lainnya. atau tipe kedua where go to flow. Di mana kamu tahu kemana langkah kaki kamu diayunkan dan gak begitu ngikutin standar nilai orang kebanyakan.</p><p>Kedua tipe ini punya konsekuensi masing-masing yang sudah barang tentu punya plus dan minusnya. Masalah kemudian gak berhenti sampai disitu. Tapi, kepada circle kita, yang kecenderungan beranggapan bahwa perbedaan itu suatu bencana. Kita memang gak terlatih untuk menerima beragam perbedaan. Dalam benak kebanyakan kita, yah, hidup cuma soal &quot;loe menang atau loe kalah&quot;, &quot;kekuatan jahat vs kekuatan baik&quot;, &quot;Mandarin atau dimanfaatin&quot; dan dan dan hal-hal sejenis itu.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*DuCPNK4tEaSnERi7_KaYGw.jpeg" /></figure><p>Yang bisa kita lakukan guna, menyudahi hal ngehek tersebut adalah do something. Ngikutin jalur hidup kamu akan seperti apa. Jadi orang kantoran atau nggak. PNS atau nggak. Semua itu punya nilainya masing-masing. Punya suka, dukanya masing-masing. Setidaknya, pilihan-pilihan itu adalah cara pandang kita sendiri. Atau mengutip kata Sartre, freedom is what we do with what is done to us. Menjadi Go with the Flow atau Where go to flow, itu pilihan. Sekarang apa pilihan mu, Lur? -</p><p>— — — — —</p><p>Penulis merupakan pemilik Kafeinbuku. Tulisan-tulisannya bisa kamu baca di Pigurafilm, Bastorydolo dan Kompasiana<br> — — — — —</p><p>Konsep go with the flow dan where go to flow pertama dengar di podcast Pandji Pragiwaksono yang membahas hal tersebut.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*dScLHL0nrLAe5Ph3kmgyOQ.jpeg" /></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c2a10332d77c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[3 HIKMAH DARI KELAMAAN DI RUMAH: PELAJARAN DARI WORK FROM HOME]]></title>
            <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah/3-hikmah-dari-kelamaan-di-rumah-pelajaran-dari-work-from-home-1aad28791e8f?source=rss-fc833f73c68------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1aad28791e8f</guid>
            <category><![CDATA[memasak]]></category>
            <category><![CDATA[hikmah]]></category>
            <category><![CDATA[pigurafilm]]></category>
            <category><![CDATA[bastorydolo]]></category>
            <category><![CDATA[work-from-home]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Muhammad Alisejarah]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 25 May 2021 13:15:12 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2021-11-15T21:16:10.689Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*JHdheSB0TGGZJZPxxGNd1A.jpeg" /></figure><p>3 HIKMAH DARI KELAMAAN DI RUMAH: PELAJARAN DARI WORK FROM HOME</p><p>Setahun di rumah adalah hal yang menyenangkan. Setidaknya ada beberapa aktivitas yang berubah drastis dan hal itu tentu sangat menyenangkan dan harus disyukuri. Atas dasar itulah, kemudian saya membuat tulisan ini, ihwal hikmah dari keseringan di rumah atau kebanyakan tinggal di rumah.</p><p>Oke, untuk tidak membuang banyak waktu, berikut tiga hal yang harus disyukuri dari hikmah keseringan di rumah:</p><p>1) Bisa belajar masak.</p><p>Kita sepakat bahwa tidak banyak orang punya banyak waktu luang dan bisa menuangkan waktu luang buat masak, atau lebih tepatnya belajar masak. Mungkin dengan berada di rumah dan punya banyak waktu di rumah bisa menghantarkan kamu menemukan hal-hal baru, hobi baru dan mungkin masak, belajar masak adalah salah satunya.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*t1_xs6_eRGWeGF-b2EdnZA.jpeg" /></figure><p>Wait, wait, wait ... Bagaimana dengan cowok? Apakah cowok juga bisa belajar masak? Ok, gini lho. Masak itu bukan melulu kerja yang orientasinya melulu soal pekerjaan perempuan. Tidak! Percayalah, banyak lho koki-koki handal dan masakannya enak itu dikerjakan oleh seorang cowok. Kamu pikir yang kerja di hotel, di restoran, rumah makan, yang pegang panci, wajan, dan bumbu masak itu cewek? Hallo! Tidak selalu demikian, Ferguson. Jadi please, jangan berpikir memasak melulu soal kerja-kerja cewek. Tidak seperti itu!</p><p>2) Punya waktu buat Membaca, menonton.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*MqALgRW50AUZ_zojth7vyg.jpeg" /></figure><p>Dengan lebih banyak waktu luang di rumah, itu artinya kamu bisa punya waktu buat membaca buku kesukaan kamu, ataupun menonton film-film kesukaan kamu yang mungkin saat kamu kerja gak sempat kamu nonton dan baca. Ini mungkin saatnya kamu bisa lebih menikmati dunia baca dengan lebih santai di kala pagi setalah masak, setelah mandi, setelah sarapan. Bayangkan kamu dengan buku di beranda rumah, ada sirup di samping kamu sebagai penghilang dahaga, dan matahari pagi yang tampak di pekarangan, kamu asik membaca buku, novel yang menggugah hari-hari mu. It’s beautiful moments<br><br><br>3) Punya banyak waktu istirahat.</p><p>Yups, sudah menjadi kodratnya bahwa waktu paling berharga adalah saat-saat punya banyak waktu untuk beristirahat yang lebih panjang. Kamu, bisa memaksimalkan istirahat tersebut dengan sebaik-baiknya. Coba bayangkan, banyak orang diluar sana yang berkeinginan tidur siang, tapi sama sekali tidak bisa. Lah, kamu, diberikan kesempatan tersebut, kok tidak memanfaatkannya sih?</p><p>Bonus:</p><p>Selain ketiga hal di tersebut, saya beri masukan nih. Dengan punya banyak waktu luang di rumah. Kamu bisa menggeluti hobi baru selain memasak. Mungkin juga bikin kebun kecil di pekarangan rumah. Atau berbisnis kecil-kecilan yang semua orientasi pekerjaannya tidak mengharuskan kamu keluar rumah. Coba deh, kamu lakukan.</p><p>Semoga 3 hikmah dari keseringan di rumah bisa bikin kamu makin memaksimalkan waktu, yah!</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*aeKs0qyvlbcmFHQ612DcoQ.jpeg" /></figure><h4>(catatan)</h4><p>Tulisan ini bisa kamu baca juga di bastorydolo.blogspot.com<br><br>Penulis adalah CEO dari toko buku online, Kafeinbuku.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*IWneY95nMopS0wPEwunDww.jpeg" /></figure><p>Tulisan-tulisan lainnya, bisa kamu baca di Pigurafilm, Kompasiana/MuhammadAli dan Bastorydolo</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1aad28791e8f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[APA SIH, BACAAN KESUKAAN ORANG KAYA DI DUNIA?]]></title>
            <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah/apa-sih-bacaan-kesukaan-orang-kaya-di-dunia-fd0828f8bd1b?source=rss-fc833f73c68------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/fd0828f8bd1b</guid>
            <category><![CDATA[budaya-membaca]]></category>
            <category><![CDATA[orang-kaya]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Muhammad Alisejarah]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 12 Feb 2021 22:49:38 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2021-02-12T22:49:38.739Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/480/1*nImO24oPc7Gtbif8n-m8iw.jpeg" /></figure><p>APA SIH, BACAAN KESUKAAN ORANG KAYA DI DUNIA? -<br> Penulis: Muhammad Ali<br><br>Orang kaya dan sukses memiliki pola yang sama -- yang bisa kita dapatkan dari mereka, salah satunya adalah budaya membaca yang baik. Misal, Warren Buffett di usianya yang ke-19tahun dia membeli buku The Intelligent Investor-nya Benjamin Graham. Buffett kemudian terinspirasi dengan gagasan Graham tentang bagaimana memiliki menginvestasikan uang ke hal-hal bernilai. Ada juga tokoh semacam, Mark Zuckerberg, si pendiri Facebook, dia menyukai buku World Order-nya Henry Kissinger, buku tersebut jadi panduan Zuckerberg untuk mengurus bisnis dan keluarga. Dalam wawancaranya dengan sebuah majalah, dia menyebutkan buku tersebut berulang-ulang. Selain pendiri Facebook, ada juga Bill Gates, dia menyukai Factfulness-nya Hans Rosling, di dalam buku itu dia kemudian melihat celah untuk mengubah sesuatu menjadi lebih faktual. Lalu ada juga, Jeff Bezos, dia malah berkali-kali menghabiskan banyak waktu untuk membaca novel dan cerita-cerita non-fiksi. Namun, ada satu buku kegemarannya, The Remains of the Day karya Kazuo Ishiguro.<br><br>Orang-orang sukses tersebut membiasakan diri mereka untuk membaca buku. Membiasakan diri mereka untuk melebur dengan bacaan yang sedang mereka baca. Nilai-nilai positif inilah yang dirangsang Kediri mereka untuk terus berpikiran waras, untuk terus bergerak dan melihat gerak zaman. Dalam banyak konteks, mereka tentu bukan hanya membaca bacaan fiksi dan fiksi ilmiah--- dalam konteks yang berbeda di perusahaan dan pekerjaan mereka, mereka pun dituntut untuk membaca laporan dan semacamnya. Bayangkan, bila mereka tidak membiasakan diri mereka untuk membaca, memiliki budaya membaca, apakah kesusksesan bisa mereka raih? Bukankah seorang buta sama sekali tidak bisa melihat indahnya alam dihadapannya? Tentu bukan bermaksud mendiskriminasi orang buta, tidak sama sekali.<br><br>Sekarang kita balik bertanya, apa buku kegemaranmu? Bila tidak ada, kemungkinan kamu buka bagian dari masa depan! Kemungkinan demikian 🙈🙈🙈 kamu hanya jadi bulan-bulanan masa depan yang maunya begini kamu ikutin, maunya begitu kamu juga ikutin. Hidup mu didikte oleh orang lain. Bukan dirimu sendiri <br><br>Well, jangan lupa baca buku. Jangan lupa belanja buku.</p><p>— — — — — — — —</p><p>Tulisan ini bisa kamu baca juga di Bastorydolo.blogspot.com</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=fd0828f8bd1b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[LUCIFER, UANG, BANK DAN HUTANG -
writer: Muhammad Ali
.]]></title>
            <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah/lucifer-uang-bank-dan-hutang-writer-muhammad-ali-db744ef465b7?source=rss-fc833f73c68------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/db744ef465b7</guid>
            <category><![CDATA[lucifer]]></category>
            <category><![CDATA[ekonomi]]></category>
            <category><![CDATA[masa-depan]]></category>
            <category><![CDATA[kafeinbuku]]></category>
            <category><![CDATA[krisis-ekonomi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Muhammad Alisejarah]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 03 Feb 2021 03:43:29 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2021-02-03T03:43:29.103Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*KhG-dmhBfVNQ0u_jBBqycQ.jpeg" /></figure><p>LUCIFER, UANG, BANK DAN HUTANG -<br>writer: Muhammad Ali<br>.<br>Buku karya Lucifer, &quot;Di ambang Kehancuran terbesar ekonomi: Masa lalu Uang dan Masa depan Dunia&quot; terbitan Pustaka Pohon Bodhi, 2007. Menjelaskan bahwa dongeng 5% bunga yang telah digadang-gadang pada tahun 1024 di Inggris dengan digantikannya uang emas oleh uang kertas dan koin pada akhirnya mengubah banyak hal utamanya prespektif manusia akan alat tukar tersebut dan masa depan yang diyakini akan sedikit berbeda. Lucifer, memberitahu bahwa, saat uang kertas dan koin sudah begitu berharga. Manusia sudah begitu terbuai dan bergantung pada uang kertas dan koin, pada akhirnya, uang tersebut akan digantikan dengan bentuk uang digital. Di mana manusia, tidak lagi menggunakan uang kertas dan koin sebagai bentuk transaksi. Bagi Beta, buku yang diterjemahkan oleh Alwie pada 2007 ini cukup menarik. Setidaknya, Lucifer sedang memberitahukan sebuah informasi penting tentang masa depan akan seperti apa. Singkat kata, uang kertas dan koin akan diubah sistemnya, di mana semua itu telah direncanakan bahkan pada tahun 1024 di Inggris oleh para &quot;tukang emas&quot; Yahudi.</p><p>Ramalan tentang uang non tunai telah pula dihembuskan Robert Kiyosaki (penulis buku rich dad and poor dad) yang melihat bahwa uang non tunai alias uang digital akan merusak sistem keuangan banyak orang. Orang akan sangat dengan mudah membelanjakan uang digital yang dimilikinya untuk membelanjakan ini dan itu hanya dalam satu genggaman. Dan itu, bagi Robert adalah cara terbaik merusak mental kaya. Sistem uang non tunai, setidaknya mendorong banyak orang untuk lebih boros lagi dan tak bisa disangka-sangka akan muncul pinjaman digital yang akan menambah pelik rantai ekonomi yang semakin susah lepas dari lilitan hutang dan ancaman ekonomi yang buruk di masa depan.<br><br>Meski pandangan Robert masih hanya soal mental atau kebiasaan kita yang akan mengalami perubahan yang signifikan dengan kehadiran uang digital. Pandangan ihwal uang digital, lebih kepada pandangan Lucifer yang menyodorkan kisah-kisah apa dan bagaimana perjalanan uang yang bentuk terakhir dari bentuk uang adalah munculnya uang dalam bentuk digital. Lucifer, menyebutkan bahwa bentuk evolusi uang dari semula berupa transaksi barter, batu, kerang, manik-manik, kayu dan logam utamanya Emas dan Perak, logam perunggu dan kertas, hingga nanti uang digital.<br><br>Lucifer menyebutkan bahwa bentuk uang digital, telah direncanakan oleh para Yahudi saat membuat sebuah sistem keuangan yang akan digunakan dunia dengan sangat sistematis pada 1024 di Inggris.<br><br>Untuk apa uang digital hadir?<br><br>Lucifer menyebutkan bahwa kehadiran uang digital menandai satu era baru dari perjalanan manusia. Fungsi dari hadirnya uang digital adalah mengantikan uang kertas yang dianggap mulai kuno dan ribet dalam pembelanjaan. Selain itu kata, Lucifer bahwa munculnya uang digital merupakan bentuk reset keuangan dunia yang dianggap uang kertas yang hari ini beredar bisa ditanggulangi oleh segelintir orang di luar serikat. Lucifer menyebutkan bahwa uang digital adalah bentuk restart dari pengendalian keuangan dunia baru. Saat hari ini seseorang memiliki banyak kerang-kerangan yang berabad-abad lalu menggunakan sebagai satuan nilai untuk membeli sesuatu, pada hari ini, kerang-kerangan itu sama sekali tak berarti apa-apa. Begitu pula dengan nasib uang kertas di masa depan. Sama sekali tak punya arti apa-apa saat uang digital telah menjadi satuan nilai tukar yang digunakan masyarakat dunia.<br><br>Dalam bukunya, Lucifer sendiri menyebutkan bahwa manifestasi dari uang adalah hutang. Dan bank, bagi Lucifer adalah alat yang mendistribusikan hal tersebut. Lantas, bagaimana dengan bentuk hidup dengan uang digital? Jawabannya adalah pola hutang tidaklah mengalami perubahan. Begitu pula dengan bank. Secara esensi tak berubah namun secara fisik mungkin berubah dengan lebih sesuai dengan zamannya, yakni digital -</p><p>— — — — — —</p><p>Catatan: tulisan ini bisa kamu baca di Bastorydolo.blogspot.com</p><p>Si penulisnya merupakan seorang blogger yang tulisan-tulisannya bisa kamu baca di Bastorydolo (untuk isu ekonomi), Kompasiana/MuhammadAli (untuk isu tentang masa lalu dan sosial).</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=db744ef465b7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[MILLENIAL DIPREDIKSI BARU AKAN MATI DI USIA 100 TAHUN -]]></title>
            <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah/menakar-masa-depan-generasi-milenial-100-tahun-lagi-umur-generasi-y-diperkirakan-akan-jauh-lebih-4b0e9472905a?source=rss-fc833f73c68------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4b0e9472905a</guid>
            <category><![CDATA[milenial]]></category>
            <category><![CDATA[indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[gaya-hidup]]></category>
            <category><![CDATA[penelitian]]></category>
            <category><![CDATA[masa-depan]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Muhammad Alisejarah]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 06 Jan 2021 16:07:32 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2021-01-27T10:56:29.262Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/680/1*h5YYTrEJhZK51pl7N6jnIQ.jpeg" /></figure><p>MILLENIAL DIPREDIKSI BARU AKAN MATI DI USIA 100 TAHUN -</p><p>Umur generasi Y diperkirakan akan jauh lebih panjang ketimbang generasi di atasnya yakni generasi X. Bila harapan hidup generasi X diperkirakan akan mendekati 80 tahun, maka, generasi Y diprediksi akan sampai 90 hingga 100 tahun, dengan catatan 10-20 tahun kedepan pola dan gaya hidup sehat mulai lebih digembar-gemborkan oleh para aktivis kesehatan. Artinya bahwa kita dituntut untuk bekerja jauh lebih lama dan panjang. Di sisi lain, usia pensiun yang ditetapkan di Indonesia berkisar antara 60-65 tahun, itu artinya ada sekitar 25 - 35 tahun lagi sebelum generasi Y (Milenial) wafat. Dalam rentan garis hidup yang panjang itu dan data-data tentang hal itu terwujud, kira-kira apa yang bisa kita perbuat?<br><br>Rasa-rasanya, gak ada orang di dunia ini yang kepengen kerja sampai dia mati. Kecuali orang yang beneran gak tereduksi dengan baik. Untuk hal ini, kita bisa menganalogikannya dengan, batu baterai misalnya, punya masa daya dia untuk kembali di isi ulang, dicas, di tambah dayanya, butuh istirahat, off dan semisalnya. Lampu misalnya, gak 24 jam bisa terus menyala selama 5tahun tanpa sekalipun berhenti. Gak ada yang bisa. Begitu pula dengan kita, manusia. Daya kita dalam bekerja menurut hitungan-hitungan normal yah, 60 tahun sampai 65 tahun. Setelah itu, di perusahaan yang kita bekerja di dalamnya, akan mulai memasukkan kita ke draf orang-orang yang siap pensiun. Artinya bahwa kita pun dalam dunia kerja sekalipun punya time limit. Masa kadaluarsa. Pertanyaan kita balik, apa yang kita lakukan saat masa itu tiba?</p><blockquote>Why? Karena hidup ala YOLO Masih dipegang kuat oleh kita. Masa depan nanti baru dipikirin, masa sekarang gak akan kembali</blockquote><p>Berkaca dari paparan yang sudah dijelaskan panjang kali lebar di atas, kita tentu langsung berpikir atau diajak untuk berpikir sejenak, andai harapan hidup kita sampai 100 tahun dan pada saat itu kita sudah gak lagi bekerja dan berpenghasilan dari kerja-kerja kita, kira-kira dari mana sumber pendapatan kita di masa depan? Mmm... Nampaknya, untuk urusan ini, banyak banget yang belum melek, belum banyak banget yang sadar, banyak banget orang yang belum move on. Why? Karena hidup ala YOLO Masih dipegang kuat oleh kita. Masa depan nanti baru dipikirin, masa sekarang gak akan kembali.</p><p>Dengan bertambahnya harapan hidup manusia, utamanya Milenial, hal itu bisa arti bahwa tenaga kita harus lebih banyak, nafas kita harus lebih panjang dan tulang-tulang kita untuk bertahan hidup pun, semestinya harus cukup kuat. Bisakah kita siap untuk melakukannya? Rasa-rasanya meragukan.</p><p>Mengutip kata Seno Gumira Ajidarma “<em>Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa</em>.”</p><p>Catatan: Penulis merupakan blogger yang tulisan bisa kamu baca di <em>Pigurafilm.wordpress.com</em> (untuk review film), tulisan sederhana tentang Finansial dan kehidupan sehari-hari di Bastorydolo.blogspot.com dan tulisannya yang cukup renyah di <em>www.kompasiana.com/MuhammadAli</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4b0e9472905a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[INDONESIA, NEGARA PALING BAHAGIA BERDASARKAN SURVEI INTERNASIONAL -]]></title>
            <link>https://medium.com/@muhammad.alisejarah/indonesia-negara-paling-bahagia-berdasarkan-survei-internasional-25f37e8e3f09?source=rss-fc833f73c68------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/25f37e8e3f09</guid>
            <category><![CDATA[bahagia]]></category>
            <category><![CDATA[penelitian]]></category>
            <category><![CDATA[generasi-z]]></category>
            <category><![CDATA[generasi-milenial]]></category>
            <category><![CDATA[indonesia]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Muhammad Alisejarah]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 05 Jan 2021 16:44:35 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2021-01-05T16:44:35.812Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>INDONESIA, NEGARA PALING BAHAGIA BERDASARKAN SURVEI INTERNASIONAL -</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*AxgsZUeHSVvwCM8V1Y44hQ.jpeg" /></figure><p>Dalam survei yang dilakukan Verkey Foundation (periode September - Oktober 2016) yang berbasis di Inggris, menunjukkan bahwa Anak muda Indonesia adalah anak muda dengan presentasi kebahagiaan mencapai 90 persen, yang meliputi optimisme, kepercayaan diri dan perasaan dicintai. Survei tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia di banding 19 negara lain yang diikutsertakan seperti Argentina, Brazil, Jerman, Italia, Amerika Serikat, Rusia, Prancis dan lain-lain. Dalam survei tersebut pula terungkap bahwa dua negara yang tidak mencapai 50% kebahagiaan adalah anak muda Jepang dan Korea Selatan. Responden anak muda yang terlibat dalam survei Verkey Foundation tersebut melibatkan para anak muda dengan rentan kelahiran antara 1995 - 2001 sebanyak 20Ribu responden pada 20 negara.</p><p>Menarik untuk dilihat bahwa, survei yang dilakukan oleh lembaga yang berbasis di Inggris tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan tak selalu selaras dengan kepemilikan uang. Meski bukan negara dengan pendapatan tinggi dan negara Indonesia masuk dalam 6 besar negara dengan jumlah hutang terbanyak di dunia berdasarkan data World Bank. Indonesia dalam sisi lain, yang terwakilkan oleh anak mudanya, dianggap paling bahagia di dunia diantara negeri-negeri yang anak mudanya sangat inovatif, kreatif dan inspiratif. Tiga indikator untuk melihat dasar-dasar kebahagiaan yang jadi fokus Verkey Foundation Saat melakukan survei tersebut adalah optimisme, kepercayaan diri dan perasaan dicintai.</p><p>Anak-anak muda kelahiran antara 1995 - 2001 sebanyak 20Ribu responden pada 20 negara yang terlibat dalam survei tersebut, setidaknya sekarang adalah anak-anak muda yang sedang dalam masa emas di dunia kerja sekarang. Survei Verkey Foundation tentu punya banyak hal menarik, salah satunya adalah bagaimana kondisi anak muda yang sekarang beranjak usia 25 tahun sekarang ini dan bagaimana kira-kira kondisi kebahagiaan yang pada 2016 dilakukan survei mencapai yang tertinggi, apakah bisa sama hingga mereka berusia 45 tahun? Ini kemudian yang menjadi menarik.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=25f37e8e3f09" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>