<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by skybluee on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by skybluee on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*xCZrWthjCfukWq5hZuuIvg.jpeg</url>
            <title>Stories by skybluee on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 15 May 2026 08:39:20 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@mutiaracantika0528/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Menceritakan tentang anak kembar yang tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang dari kedua…]]></title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528/menceritakan-tentang-anak-kembar-yang-tak-pernah-merasakan-hangatnya-kasih-sayang-dari-kedua-717d72fbad0a?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/717d72fbad0a</guid>
            <dc:creator><![CDATA[skybluee]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 21 Feb 2026 06:26:11 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-21T06:26:11.056Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>Menceritakan tentang anak kembar yang tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang dari kedua orangtuanya.</blockquote><p>⚠️DISCLAIMER⚠️</p><p>Ini semua murni dari pemikiran penulis, kalau ada kesamaan alur cerita, latar, nama tokoh, dan visualisasi harap dimaafkan. Terima kasih.</p><p>Pengenalan tokoh:</p><p>Winwin NCT as Estana Sadewa</p><p>Est Supha as Evtana Sadama</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=717d72fbad0a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Sisa Rasa]]></title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528/sisa-rasa-422541b11fd6?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/422541b11fd6</guid>
            <dc:creator><![CDATA[skybluee]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 07 Jan 2026 07:11:11 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-03-17T17:10:17.743Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/735/1*j9CvGG5g983KRV9gxTi6Gw.jpeg" /></figure><blockquote>“Mampukah ku bertahan, tanpa hadirmu sayang?”</blockquote><blockquote>“Tuhan sampaikan rindu untuknya”</blockquote><blockquote>“Sampaikan rinduku…”</blockquote><blockquote>“Untuknya”.</blockquote><blockquote>Bali, 07 Januari 2023</blockquote><p>Suasana pagi hari yang cerah di kota tempat seorang pemuda bernama Drake Sebastian itu tinggal membuat langkahnya tidak pudar untuk menjalani hari dengan penuh semangat. Pemuda yang baru berusia 23 tahun itu tampak sangat menyukai aktivitas pagi ini dengan bermain bola basket bersama timnya yang tak kalah semangat untuk mencetak skor untuk menang. Disisi lain seorang pemuda berusia lebih muda dibawah Drake terlihat seperti biasa saja saat memulai harinya, ia tidak terlihat bahagia namun tidak terlihat murung juga, ya mungkin pemuda itu hanya ingin menjalankan harinya dengan baik, walaupun sebenarnya banyak sekali harapan dan doa-doa pemuda tersebut untuk hidupnya.</p><p>Seorang pemuda yang memiliki hobi bermain dengan air, berinteraksi dengan teman-teman sebayanya di tepi kolam, tidak pernah tertinggal ia juga akan membawa semua suka dan dukanya pada tempat di mana dirinya merasa hidup kembali setelah melewati banyaknya rintangan di dalam hidupnya selama seharian penuh. Pemuda tersebut tak lain dan tak bukan adalah Estana Sudewa, pemuda yang menjalani hari-harinya tanpa merasakan adanya hal baru, tanpa merasakan adanya kisah baru yang membuat ia ingin merasa terus menjalani hidup dengan berbagai perasaan yang berbeda dari biasanya. Seperti saat ini Est sedang berjalan di tepi kolam dengan langkah perlahan tapi pasti, kedua matanya melihat-lihat area sekitar kolam dengan wajah yang sendu. Area kolam yang sangat tenang, area kolam yang tak ada satupun orang berniat untuk menyapa air yang masih penuh itu. Biasanya setelah menyelesaikan kelas dan tugas kuliahnya, Est bersama beberapa temannya akan pergi kesana untuk sekedar melepas penat ataupun menghabiskan waktu bersama sebelum akhirnya kembali pada realita dunia yang mungkin tak pernah mereka harapkan. Setelah puas berjalan-jalan sebentar di sekitaran kolam, Est keluar dari sana dan berniat berjalan menuju parkiran untuk pulang. Namun saat ia masih berada di tengah lapangan sebuah bola basket melayang dari arah yang berlawanan dan hampir melukai dirinya, tetapi dari arah yang sama juga terlihat seorang laki-laki berlari menghampirinya dan mencegah bola tersebut agar tidak mengenai kepala Est. Laki-laki yang mengenakan kaus tanpa lengan khas seperti pemain basket pada umumnya, di bagian punggungnya juga terdapat nomor dan namanya yang tertera jelas disana. Nomor urut 01 dengan nama Drake S itu berhasil membuat beberapa orang yang berada disana penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Est yang melihat kejadian tersebut hanya memasang ekspresi sedikit kaget sekaligus merasa lega karena dirinya tidak jadi kena bola basket yang lumayan besar dan juga berat.</p><p>“Hey, you ok?” Suara serak Drake memecahkan keheningan diantara mereka berdua. Saat tatapan keduanya saling bertemu, entah mengapa hal itu membuat jantung Est terasa berdetak lebih cepat dari biasanya, namun ia segera menyadarinya dan menganggukkan kepala sebagai jawaban pertanyaan Drake. “Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih karena telah menyelamatkanku dari bola basket itu”. Ucap Est yang sesekali melirik takut kearah bola basket yang Drake pegang. Mendengar jawaban yang Est ucapkan entah mengapa membuat dirinya reflek tersenyum dan terus memperhatikan Est cukup lama, sampai akhirnya keduanya pun tersenyum canggung dan saling memperkenalkan diri satu sama lain.</p><p>Semenjak pertemuannya dengan “pemuda basket” hari itu membuat perjalanan hidup seorang Estana Sudewa menjadi sedikit lebih berarti daripada sebelumnya. Tidak terasa juga ia sudah hampir mengenal Drake selama tiga bulan belakangan ini, mereka sering terlihat berduaan saat Drake maupun Est sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka sering terlihat sangat dekat bahkan sampai sebagian dari teman-teman Drake dan Est pun menjadi bingung dengan mereka berdua. Sampai tiba lah waktu dimana Est menemukan arti cinta sesungguhnya dari pria bernama Drake Sebastian itu, perasaan yang terus tumbuh tanpa bisa ia kendalikan, perasaan yang entah bermula dari mana bisa sampai sejauh ini membuat Est sendiri pun bingung harus bertindak bagaimana saat dirinya sedang bersama dengan Drake. Hingga pada suatu hari ia kalah dari sebuah permainan konyol buatan pengurus kampus disana, berawal dari sebuah permainan bernama “Jujur atau Tantangan” itulah yang akan menjadi kutukan di dalam hidupnya kelak. Permainan yang terlihat sangat sederhana di mata banyak orang namun tidak dari segi penglihatan dirinya, saat botol plastik itu diputar dan berhenti tepat kearah Est membuat salah satu mahasiswa disana sigap menanyakan pertanyaan yang sama dengan peserta lainnya.</p><p>“Oke, sekarang giliran lo Est. Truth or dare?” Mendengar ucapan dari mahasiswa tersebut entah mengapa membuat dirinya takut setengah mati, tubuhnya berkeringat dan ketakutan itu semakin memuncak saat salah satu dari mereka berkata “Dare” agar mereka bisa melihat sampai sejauh mana ia bertahan. Dengan berat hati Est pun mengiyakan tantangan itu dan tanpa basa-basi lagi mereka semua yang ada disana menyerahkan buket bunga berukuran tidak terlalu besar dan satu amplop berwarna putih yang berisikan surat di dalamnya. Est terdiam sejenak, pikirannya melayang jauh seperti sedang mencerna dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata benar dugaannya selama permainan tersebut berlangsung, semua mahasiswa disana sudah tau tentang perasaan yang ia miliki terhadap Drake. Maka dari itu mereka sengaja mengajak Est untuk ikut memainkan permainan konyol itu agar bisa menarik atensinya lebih jauh. Tanpa menunggu lama lagi Est segera menghampiri Drake yang sedang sibuk di lapangan bermain basket bersama timnya, ia sudah lumayan hafal dengan kesibukan Drake di waktu-waktu tertentu. Drake yang melihat keberadaan Est itu langsung berlari menghampirinya. Ia tidak mempedulikan teman-temannya yang melihat dirinya menemui lelaki disebrang sana. Dengan nafas terengah-engah dihadapan Est, ia mengelap sisa-sisa keringat yang menempel di pelipisnya sembari tersenyum dengan senyuman yang tak pernah memudar. Lain halnya dengan seorang Estana Sudewa yang tampak sangat gugup dihadapan Drake, sudah beberapa kali ia mencoba untuk menstabilkan suasana hatinya namun ternyata dirinya tidak sepandai itu untuk bersandiwara dihadapan Drake. Kedua tangan yang sedari awal ia letakkan di balik punggungnya itu membuat Drake semakin penasaran, ia sempat beberapa kali melirik kebelakang punggung Est. Disaat yang sama Est pun segera berlutut di tengah lapangan membuat seisi kampus termasuk Daou — sahabatnya yang melihat momen itu dengan sangat terkejut. Daou berlari untuk bisa melihat lebih dekat ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu. Setelah sampai disana ia pun bisa mendengar sangat jelas suara lantang dari pemilik nama Estana Sudewa yang mengutarakan perasaannya dihadapan banyak orang.</p><p>“Drake Sebastian si pemain basket yang handal dari jurusan yang sama denganku, Drake Sebastian seseorang yang ku kagumi selama beberapa bulan setelah awal pertemuan kita dengan bola tersebut, Drake Sebastian seseorang yang membuat diriku sulit melupakan namamu untuk sehari saja. Maukah kau orang yang sangat aku cintai dari awal kita bertemu untuk menjadi kekasihku?”. Berbagai teriakan dan respon yang berbeda-beda dari setiap sudut kampus membuat pikiran keduanya sama-sama melayang jauh entah berada dimana. Namun karena Drake juga merasakan sesuatu dari dalam dirinya yang serupa dengan pria dihadapannya, membuat Drake tanpa pikir panjang lagi menerima buket bunga dan sebuah surat yang berada di genggaman tangan Est. Drake menuntun Est untuk berdiri dan segera memeluknya sebagai tanda penerimaan kalau ia bersedia untuk menjadi kekasih dari seorang Estana Sudewa tersebut. Yang dipeluk hanya bisa diam ditempat sambil sesekali melirik kearah kerumunan orang-orang yang penasaran dengan interaksi dua pasangan yang baru saja menyatakan perasaannya di depan umum.</p><p>Daou yang melihat sahabatnya melakukan hal sebodoh itu lantas segera pergi dari sana, membiarkan Est menerima konsekuensi untuk apa yang sudah ia lakukan di hari itu.</p><p>Tak terasa pertemanan antara Daou dan juga Est sudah berjalan hampir 7 tahun, tetapi ia masih belum bisa melupakan bagaimana dunia yang tak pernah bersikap baik pada seseorang yang sudah Daou anggap seperti adiknya sendiri. Jauh di dalam hatinya Daou hanya bisa berharap semoga saja ada harapan agar sahabatnya itu bisa bahagia atas hidupnya setelah banyaknya pengakuan demi pengakuan yang ia ucapkan sendiri bersamaan dengan hilangnya semua hal indah yang sudah mengubah seorang Estana Sudewa semenjak kejadian memalukan beberapa tahun yang lalu.</p><blockquote>“Kenapa harus Drake sih Est? Kenapa harus laki-laki brengsek itu yang lu jadiin kekasih di dalam hidup lu?”</blockquote><blockquote>“Andai gua bisa bertindak lebih cepat untuk ngasih tau lu seberapa brengseknya dia, seberapa gak pantesnya dia buat lu cintai sehebat itu Est…”</blockquote><blockquote>“Maafin gua untuk segala keterlambatan yang gua biarin gitu aja, walaupun gua tau ini gak akan bisa mengubah hal yang udah lu buat sendiri Est… selamat berbahagia dalam jangka waktu yang panjang ya sahabat terbaik gua”.</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=422541b11fd6" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pergi tak Meninggalkan]]></title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528/pergi-tak-meninggalkan-c3140bff094b?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c3140bff094b</guid>
            <dc:creator><![CDATA[skybluee]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 13 Dec 2025 02:15:42 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-06T00:55:20.125Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*NK3caSOWQQhWnWk0yi5jqA.jpeg" /></figure><blockquote>“Aku hanya pergi, bukan meninggalkan”</blockquote><blockquote>“Sebenarnya hati ini ingin ‘slalu bersamamu”</blockquote><blockquote>“Tapi benar cinta, tak meski ‘tuk dimiliki”</blockquote><blockquote>“Takdirku bukan untukmu dan kau bukan untukku”.</blockquote><p>Setelah sadar dari komanya, Est sempat mengalami beberapa faktor seperti tidak merespon ataupun terlihat seperti orang kebingungan karena akibat kecelakaan dan juga melewati masa komanya yang cukup lama. Namun itu semua tidak membuat William meninggalkan Est selama beberapa hari kedepan. “Kak Est makan dulu yuk, tadi Suster kesini buat bawain makanan kamu”. Est yang mendengar suara William hanya mengangguk dan segera bangun untuk duduk bersandar di ranjangnya. William yang melihat itu dengan sigap menangkap tubuh Est dan membantunya berhati-hati agar tidak membuatnya kesakitan. Setelahnya William mengambil mangkuk berisi bubur dan mulai menyuapi ‘kakak&#39; nya itu dengan perlahan sampai buburnya habis. Selesai dengan kegiatan menyuapi Est, kini William duduk disamping Est yang masih dalam posisi duduknya. William meraih tangan Est perlahan dan dengan hati-hati membawanya dalam genggaman tangannya. “Kak, terimakasih karena sudah bertahan sampai sejauh ini. Maaf kalau aku selalu terlambat disaat kamu membutuhkan seseorang untuk membantumu dalam masa-masa yang menurutmu sangat sulit untuk dilalui” William menatap mata Est yang masih terlihat jelas ada kesedihan disana. Est yang mendengar itu dengan cepat menarik tangan William dan memeluk dirinya setelah sekian lama merindukan raganya. Est menangis disana, ia tidak memperdulikan infusannya yang ketarik dan bisa saja membuatnya terluka yang ia butuhkan saat ini hanyalah William — seseorang yang bisa menjadi tempat dirinya bersandar, seseorang yang saat ini hanya Est percayai ketika dunia dan orang-orang disekelilingnya sudah membuat kepercayaan dalam dirinya hilang begitu saja. William yang merasakan Est menangis setelah memeluk dirinya segera mengusap kepala Est serta punggung Est dengan tulus, membiarkan pria yang sangat ia cintai itu meluapkan segala perasaannya itu. “It’s ok kak, aku selalu disini bersama denganmu. Semuanya akan baik-baik saja”. Ucap William yang masih mengusap bahu Est yang terlihat semakin bergetar akibat tangisnya. “Maaf karena kakak sudah membuat William menunggu lama, kakak gak bermaksud buat William sedih dan gak seharusnya kakak pergi gitu aja, kakak udah nyusahin kamu berkali-kali kan Will? Kalau kamu ingin menyerah kakak akan lepas kamu, tapi jangan merubah sikapmu sama kakak Willi…” Ucap Est sambil meremat bahu William dengan sangat erat seperti ada rasa takut untuk kehilangan lagi. William yang mendengar itu langsung membawa tubuh Est untuk bertatap mata, ia segera menghapus air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. “Kak, hey lihat aku. Aku gak akan pergi kemanapun, aku gak akan pernah ninggalin kamu, aku masih disini dan aku masih bersama dengan kakak. Kak walaupun kamu pergi, menghilang, atau mencoba menjaga jarak lagi sama aku, aku pasti akan selalu ada bersama kakak dari jarak jauh kak”. William pun lantas tersenyum sambil membawa kedua tanganmya untuk menangkup pipi Est, mencoba meyakinkannya agar tidak mencoba berpikiran terlalu jauh dan berpikiran tentang hal yang tidak akan pernah terjadi itu.</p><p>Kedatangan Nut dan Hong ke Rumah Sakit untuk membawakan beberapa keperluan William karena lelaki tersebut yang meminta tolong pada temannya itu. Nut juga sudah memberitahu pada teman-temannya di grup mereka tentang kondisi Est yang sudah sadar berharap mereka bisa datang untuk menjenguk seseorang yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya. Namun ternyata justru yang datang pertama kali untuk menjenguk Est adalah Drake. Seseorang yang beberapa tahun lalu membuat kebahagiaan Est hancur begitu saja, seseorang yang membuat dirinya terlihat seperti seorang bajingan, seseorang yang sudah dengan gampangnya merusak perasaan sekaligus harga diri Est, seseorang yang membuat kepercayaan dari perasaannya hilang begitu saja. Melihat kedatangan Drake membuat William menatapnya dengan tatapan tidak suka. Begitupun dengan Est yang langsung memeluk pinggang ramping William seperti merasa takut. William yang melihat itu langsung mengusap lengan Est perlahan mencoba untuk memberi isyarat kalau semua akan baik-baik saja. “Ada maksud apa lu dateng kesini?” Ucap William dengan nada sarkas. Drake yang melihat Est memeluk William hanya bisa tersenyum getir menyembunyikan perasaannya yang tidak karuan. “Gua cuma mau ngasih beberapa buah sama makanan ini buat Est”. Ucap Drake yang masih tersenyum melihat Est yang terus menyembunyikan wajahnya di balik punggung William seolah-olah tidak ingin melihat keberadaan Drake disana.</p><p>William yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum remeh. “Tanpa lu beliin juga kak Est pasti bakalan kenyang selama ada gua yang ngerawat dia. Dan gua bisa ngejamin semua kebutuhan yang dia perlu, jadi lu gak usah repot-repot lagi bawain begituan karena disini gua masih sangat mampu menjaga kak Est dengan sebaik mungkin”. Drake yang mendengar ucapan William hanya bisa terdiam, seolah dia paham dari maksud ucapannya tadi. Drake memang merasa benar-benar menyesal karena dulu ia tidak bisa menjaga mantan pacarnya itu seperti William menjaganya dengan setulus hati. Ia hanya bisa menyakiti, menyiksa, bahkan menorehkan luka yang tidak pernah Est harapkan tentunya. Drake tahu kalau sekarang Est pasti sudah lebih bahagia seperti yang ia lihat sekarang, melihat Est sudah lebih membaik karena selalu ada William yang menemani dan menjaga dimanapun dan kapanpun Est membutuhkan seseorang. Dari penglihatan Drake sudah jelas sangat berbeda antara cara William dan cara dirinya memperlakukan seorang Estana Sudewa. Tetapi tidak bisakah ia memperbaiki semuanya? Setidaknya ia diberi waktu untuk menebus segala dosa-dosa yang pernah ia lakukan dulu pada lelaki tersebut? Jika memang tidak bisa, maka biarkanlah Drake menjalani karma atas perbuatannya sendiri. Biarlah Est bahagia bersama seseorang yang bisa menjaga dirinya sebaik mungkin. Biarlah Est nantinya menjadi milik William seutuhnya meskipun Drake harus dengan berat hati menerima itu semua. Ia sudah tidak ingin melihat Est semakin tersiksa lagi nantinya, cukuplah ia saja yang membuat semua luka-luka di dalam hati Est. Jangan sampai ada lagi luka-luka lain yang membuat Est semakin tak utuh lagi secara fisik dan juga mentalnya.</p><p>Saat ini ketiga saudara laki-laki Est sedang berada di ruangan Est untuk bergantian berjaga dengan William. Mereka bertiga mengakui kalau William benar-benar pandai dalam merawat Est. Mereka bertiga saja tidak sanggup karena seharian ini Est benar-benar rewel ingin bertemu dengan William, membuat mereka yang berada disitu mau tidak mau memanggil William lagi untuk datang ke Rumah Sakit secepatnya sebelum Est semakin menjadi-jadi lagi nantinya. “Kamu ini ya, bisa gak sehari aja jangan cuma William terus yang dicariin. Kamu gak kangen apa sama abang, sama mas Jim, sama kak Juju?” Tanya Boun pada adiknya itu. Est hanya menggeleng sebagai jawaban, bibirnya melengkung sedih karena sudah sangat berharap William akan segera datang untuk menemuinya. Junian juga sudah beberapa kali menghubungi William, namun tidak ada satupun panggilannya yang diangkat. Akhirnya Junian mencoba untuk menenangkan adiknya itu dengan penuh perhatian. “Dek, mungkin William sekarang lagi sibuk dengan tugas kampusnya. Tenang dulu ok? William gak akan kemana-mana kok, kakak jamin itu sama kamu dek”. Ucap Junian sambil mengusap kepala Est mencoba untuk membuatnya mengerti, baru beberapa Junian mengatakan hal tersebut terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Est yang mendengar suara ketukan itu terlihat sangat senang karena ia mengira kalau itu adalah William. Namun ternyata dugaannya salah ketika melihat siapa yang datang sebenarnya, ia memalingkan wajahnya seperti tidak ingin bertemu dengan orang tersebut. Junian yang melihat kedatangan Drake langsung membuatnya naik darah dan segera menghampiri Est untuk memeluknya. Boun juga yang melihat itu langsung mencegah Drake saat ia mulai mendekati Est. “Mau apa lu dateng kesini lagi hah?!” Ucap Boun dengan nada emosi. Melihat Boun yang menghalangi dirinya untuk bertemu dengan Est, membuat Drake menatap sedih kearah Est yang sedang bersembunyi di balik dekapan Junian. Jimmy yang sedari tadi hanya menyimak lantas segera berdiri dan menatap Drake seperti ingin mengintimidasi. “Oh jadi ini orang yang udah ngehancurin kebahagiaan adek gua? Gua kira lu secakep apa sampe-sampe bisa dengan gampangnya ngehancurin adek gua. Gua kira lu bakalan lebih cakep dari William, tapi ternyata lebih jauh cakepan William dibanding diri lu”. Ucap Jimmy mencaci maki seolah-olah sedang meluapkan segala amarahnya pada Drake. Yang dicaci maki hanya bisa tersenyum tanpa menghiraukan kata-kata menyakitkan itu, tatapan matanya hanya tetap pada seseorang yang masih sangat ia cintai hingga sampai detik ini, seseorang yang masih ia harap bisa kembali lagi pada dirinya walaupun terkesan seperti tidak tahu diri untuk diterima.</p><p>Setelah merasa sedikit tenang, Drake pun pulang dengan keadaan hati yang benar-benar berantakan. Andai saja dulu ia bisa menahan amarah, menahan egonya untuk tidak menyakiti Est mungkin hingga sampai detik ini mereka berdua masih terus bersama menjadi sepasang kekasih yang paling bahagia di dunia.</p><blockquote>Kemarin, aku berusaha keras melepaskan yang pernah aku bayangkan akan berjalan bersamaku sampai akhir. Bukan karena aku berhenti mencintai, tapi karena aku mulai belajar bahwa mencintai juga berarti merelakan. Padahal, kamu adalah yang orang ingin aku ajak dalam segala hal, dalam tawa yang sederhana, dalam tangis yang tak bisa dijelaskan, dalam mimpi-mimpi kecil yang aku bangun diam-diam hanya untuk kita.</blockquote><blockquote>Aku masih menjadi orang yang sama. Tidak ada yang berubah dari caraku menunggu, dari caraku berharap, dari caraku memanggil namamu dalam hati yang tak pernah benar-benar tenang. Aku masih menyimpan tempat untukmu, meski dunia memaksaku untuk berpura-pura baik-baik saja. Aku masih menatap langit dengan pertanyaan yang sama: “apakah kamu juga merindukan aku seperti aku merindukanmu?”</blockquote><blockquote>Maaf, karena rasa ini belum selesai atau bahkan tak akan pernah selesai. Aku mencoba, sungguh mencoba, untuk menutup bab tentangmu. Tapi setiap kali aku ingin mengakhiri cerita, aku justru menemukan halaman-halaman baru yang penuh kenangan. Aku tidak tahu bagaimana cara berhenti mencintai seseorang yang pernah membuatku merasa utuh. Aku tidak tahu bagaimana cara berhenti menunggu seseorang yang pernah membuatku percaya bahwa aku layak dicintai. Kecewa yang aku beri kemarin, aku tidak tahu apakah sudah kamu maafkan atau malah tidak akan pernah kamu maafkan. Bukan karena aku lupa, tapi karena aku memilih untuk membuat dihatimu terlalu dalam lagi. Kamu tahu aku punya alasan, meski kamu tidak pernah benar-benar mengerti. Tapi aku tidak ingin ingin kamu menjadi orang yang menyimpan dendam. Aku ingin menjadi orang yang tetap mencintaimu meski dari jauh, meski dalam diam, meski kamu tidak lagi melihat ke arahku.</blockquote><blockquote>“Kau datang membawa cinta, kau hadir bawa bahagia untukku”</blockquote><blockquote>“Tapi ku harus menyadari kenyataan ini”.</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c3140bff094b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mencintaimu]]></title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528/mencintaimu-ace3c18ab0df?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ace3c18ab0df</guid>
            <dc:creator><![CDATA[skybluee]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 08 Dec 2025 09:35:07 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-06T01:56:09.829Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*0vLFQH8qcs3f4YuDhE4WOQ.jpeg" /></figure><blockquote>“Mencintaimu seumur hidupku”</blockquote><blockquote>“Selamanya setia menanti”</blockquote><blockquote>“Walau dihati saja”</blockquote><blockquote>“Seluruh hidupku”</blockquote><blockquote>“Selamanya kau tetap milikku”.</blockquote><p>Kita semua pasti tahu, di dunia ini tidak ada yang abadi namun tidak ada salahnya juga jika kita berharap pada semesta untuk menjaga selalu dimanapun orang yang kita sayangi agar senantiasa dalam perlindungan Yang Maha Kuasa. Seperti halnya ketika kalian berharap untuk bisa terus hidup dalam waktu yang lama hanya untuk menemani atau sekedar membiarkan orang-orang disekitar kita merasakan ‘sesuatu&#39; yang mungkin kecil untuk sebagian orang tapi tidak pada orang-orang yang mengerti tentang artinya ketulusan hati yang kita beri pada mereka. Itulah yang setiap kali William rasakan jauh di relung hatinya yang paling dalam, ia bisa memberikan apapun yang ia miliki pada banyak orang namun ia sendiri justru meragukan usahanya itu untuk sebagian orang. Ia ragu bukan karena ia tak mampu atau merasa tidak pantas atas perbuatannya. Namun memang ia perlu beberapa waktu untuk memahami semua ini, ia perlu waktu untuk mengikuti alur cerita yang sedang semesta berikan padanya. Alur cerita yang mungkin bagi kebanyakan orang pun tidak mengerti sebenarnya semesta sedang merencanakan apa untuk kita kedepannya? Yang bisa menjawab pertanyaan itu hanyalah Tuhan, waktu, dan takdir yang akan menjawabnya.</p><p>Hari ini ‘The Error Gank&#39; akan berencana untuk pergi menemui temannya di Rumah Sakit, tidak lupa mereka juga membawakan beberapa buah dan makanan untuk pasien yang sedang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh semua orang. Pasien yang selama ini telah membuat banyak ‘perubahan&#39; yang terjadi dalam hati dan hidupnya William. Sekarang mereka semua sedang menunggu di dalam ruangan Est dengan sebuah harapan besar agar pria tersebut bisa kembali hadir di tengah-tengah mereka.</p><p>“Kalian kesini mau ngapain?” Tanya William dengan ekspresinya yang terlihat bingung dan tidak senang itu. Nut beserta teman-temannya yang lain hanya bisa saling pandang mendengar ucapan William yang terkesan sangat protektif untuk mengizinkan mereka bertemu dengan ‘kakaknya’ itu. “Santai aje sih Will gua sama yang lain cuma mau nemenin lu aja disini biar lu gak kayak orang linglung sendirian nungguin Est sadar kan?” Jawab Nut dengan alisnya yang terangkat. William yang mendengar ucapan Nut hanya bisa menghela nafas dan membiarkan mereka disana untuk beberapa waktu. Jangan ajarkan William untuk memahami arti dari kata sabar, karena selama ini dia telah berkali-kali memperjuangkan hati orang yang kini baru sadar akan betapa besar pengorbanan cintanya pada sang pemilik nama Estana Sudewa itu. Kalau kita tarik mundur kebelakang banyak sekali hal-hal yang bisa menjadi alasan untuk membuat William menyerah begitu saja untuk mendapatkan hati pria tersebut. Namun sayangnya William tidak ingin melakukan hal tersebut karena tujuan ia dari awal hanya ingin membuat Est bahagia, ingin membuat Est merasa dilindungi oleh seseorang yang mungkin hanyalah orang asing akan tetapi seiring berjalannya waktu akan terasa seperti tempat dirinya bersandar, menjadikan seorang Est yang pada akhirnya kembali dalam pengorbanan besar cinta William setelah beberapa tahun dipisahkan oleh semesta dan takdir.</p><h4>Flashback on~</h4><blockquote>Bali, 17 April 2019.</blockquote><p>Suasana riuh dari tepuk tangan seluruh siswa di Sekolah Purna Satya terdengar sampai keseluruh penjuru. Dari luar gedung saja sekolah tersebut benar-benar tampak ramai karena dipenuhi oleh lalu lalang mobil yang terus berdatangan untuk menyaksikan pertandingan lomba sepak bola dan juga lomba karate dari beberapa sekolah yang lain. Namun hal itu tidak membuat atensi sosok laki-laki remaja yang sedang berada di perpustakaan, ia justru lebih tertarik dengan dunia komiknya serta beberapa buku bertema kartun lainnya. Seorang anak laki-laki yang memiliki wajah manis, lugu, tenang, dan juga kadang suka ceria itu sedang terduduk di sudut ruang membaca dengan santainya, seperti menandakan kalau dia sama sekali tidak terganggu dengan keadaan di luar sana. Anak tersebut bernama William Jakrapatra Kanaven. Anak laki-laki yang sama sekali tidak terlalu suka dengan keramaian, tidak terlalu tertarik saat melihat beberapa acara di sekolahnya karena menurut anak itu acaranya hanya bisa membuat dirinya mengantuk atau membuat dirinya cepat bosan, makanya ia memilih untuk berada di perpustakaan. Selain suasananya yang tenang, William pun tidak perlu kepanasan disana karena ada beberapa AC yang setiap hari menyala kecuali hari libur.</p><p>Ketika ia sudah merasa bosan berada di perpustakaan, anak itu memilih berjalan keluar dan memilih hanya ingin memperhatikan sekelilingnya dengan malas. “Huh, mengapa orang-orang begitu tertarik menonton acara itu setiap tahunnya?” Ucap bocah itu dengan tampang polosnya. Ia pun kembali berjalan lagi menyusuri setiap halaman sekolah dengan tidak ada tujuan yang jelas ia akan pergi kemana. Sampai akhirnya ia melihat beberapa sekelompok anak-anak remaja yang terlihat lebih tua diatas William sedang menyudutkan salah satu siswa laki-laki yang terlihat tak berdaya saat di caci maki disana. Mata anak itu terlihat sangat ketakutan membuat William menjadi tidak tega dan memutuskan untuk membantu laki-laki tersebut. Ia kemudian berlari kearah mereka dan dengan lompatan tinggi ia menendang salah satu diantara mereka dengan berani. “Apa yang kalian lakukan dengan anak itu?” Ucap William dengan nafas terengah-engah karena menahan amarah. Anak laki-laki yang baru saja ditendang oleh William pun segera bangkit dan tersenyum sarkas kearah William. “Heh bocah! Siapa kau berani-beraninya mengganggu kegiatan bermain kami dengan anak ini?!!”. Saat mengatakan itu beberapa dari mereka juga mulai terlihat seperti sedang aba-aba untuk menyerang balik William. Namun dengan sigap William menipu mereka dengan mengatakan kalau sedang ada guru BK yang berpatroli disana. “Lihat disana ada beberapa guru konseling yang sedang berjaga”. Dengan cepat William pun menarik tangan si anak laki-laki yang masih terduduk di pojokan dan mengajaknya untuk berlari menjauh dari mereka. William yang melihat si anak laki-laki tersebut sudah tidak sanggup untuk berlari lagi akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di salah satu ruang kelas yang ada disana secara diam-diam. Saat jarak mereka semakin dekat dan mereka mulai memasuki ruang kelas dan membuat William terpaksa mengajak anak laki-laki tersebut untuk bersembunyi di salah satu lemari besar yang ada disana, ia pun segera membekap mulutnya perlahan. “Ssttt, diamlah”. Ucap William sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya saat si anak tersebut masih dengan nafas yang terengah-engah akibat aktivitas lari-larian tadi. Si anak tersebut pun mau tidak mau mulai berhenti membuat suara dan ikut mengintip dari celah pintu lemari tersebut. Setelah dirasa aman mereka berdua pun akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya yang membuat anak laki-laki tersebut kembali terengah-engah akibat merasa ketakutan saat tadi berada di dalam lemari. “Terimakasih”. Ucap anak itu sambil memalingkan wajahnya dari hadapan William. William yang merasa kalau anak tersebut bukan berasal dari angkatannya langsung menarik tangannya dan membuat mereka berdua menjadi saling berhadapan. “Lu kakak kelas gua ya?”. Ucap William dengan panggilan gaul agar tidak terlalu terlihat seperti bocah dihadapan anak itu. Anak itu hanya mengangguk dan terdiam cukup lama sambil terus memperhatikan William. “Kenalin nama gua William kak”. Ucapnya sambil menjulurkan tangannya untuk bisa berjabatan dengan kakak kelasnya itu. “Nama gua Est” Ucap si anak tersebut yang mulai berjalan menjauh berniat untuk segera keluar dari ruangan tersebut agar tidak dicurigai banyak orang nantinya. Melihat perilaku anak laki-laki yang bernama Est yang terlihat kurang ajar itu membuat William sedikit kesal dan langsung keluar dari kelas itu dengan ekspresi wajahnya yang datar. Setelah pertemuan itu William jadi semakin sering bertemu Est di penjuru sekolah. Dari mulai area Kantin, UKS, di depan Ruang Guru, atau sampai di kebun belakang sekolah pun ia dapati. Hingga akhirnya dari awal pertemuan itulah membuat seorang bocah laki-laki yang jelas usianya memiliki jarak yang sangat jauh itupun seketika merasa seperti sedang jatuh cinta. Entah mengapa ada hal yang tidak bisa ia ungkapkan setelah pertemuan itu. Melihat Est dengan ketidakberdayaan nya membiarkan dirinya diperlakukan secara kasar membuat William merasa seperti sangat ingin melindungi orang itu walaupun mereka baru beberapa bulan bertemu. Hingga sampai akhirnya mereka berdua pun menjadi sahabat baik meskipun tidak hanya diantara mereka saja. William dan Est juga berteman baik dengan seorang anak perempuan bernama I Gusti Sri Rahayu Tunnirmala, ia adalah teman masa kecil William yang baru beberapa bulan lalu bersekolah di tempat yang sama dengan mereka berdua. Awalnya Tun adalah teman baik kakaknya — Emi, namun ada beberapa hal yang membuat Emi dan Tun harus berpisah. Kehadiran Tun ditengah-tengah mereka berdua membuat William berasumsi kalau Tun sedang mencoba mendekati Est. Karena mereka sering menghabiskan waktu hanya berdua saja tanpa memperdulikan ada atau tidaknya kehadiran William. Sampai Tun dan Est sudah mendekati kelulusannya William masih sering melihat kedekatan mereka, hal itulah yang membuat William dengan berani maju selangkah lebih dulu untuk bisa menyatakan perasaannya pada Est. Ternyata ekspektasi dan realita itu memang ada yang beberapa tidak sejalan, ekspektasi William yang dari awal sudah sangat yakin kalau Est pasti akan menerima cintanya itu tetapi tidak dengan realitanya. Realitanya justru Est malah menghiraukan dirinya sampai Est benar-benar sudah menamati pendidikannya dan sudah tidak lagi berada di tempat yang sama dengan William. Membuat William mau tidak mau harus menunggu untuk berusaha memperjuangkan cintanya yang sudah hampir ia pendam selama tiga tahun ingin ia ungkapkan pada Est tetapi ia terlalu malu kalau harus mengakui bahwa dirinya adalah seorang laki-laki yang tidak tertarik dengan wanita manapun selain hanya pada Estana Sudewa. Dan ternyata semesta kembali mempertemukan mereka entah dengan maksud dan tujuan seperti apa, namun bagi William mungkin saja ini adalah awal dari perjalanan cintanya bersama Est itupun dimulai. Semesta sengaja mempertemukan William dan Est kembali untuk menyelesaikan ‘sesuatu’ yang belum selesai diantara keduanya.</p><h4>Flashback Off.</h4><p>Suara mesin monitor yang memberikan informasi tentang denyut jantung Est itu terus berbunyi, bunyinya pun dengan ritme yang teratur menandakan kalau Est sedang dalam kondisi baik-baik saja setelah mendapatkan donor darah dari Drake. Hingga saat ini masih belum ada tanda-tanda Est akan sadar setelah hampir seharian William dan teman-temannya itu menunggu. Sampai pada akhirnya semesta pun menunjukkan sisi keajaiban untuk Est, perlahan tapi pasti jari-jarinya terlihat bergerak disusul dengan matanya yang perlahan terbuka. Membuat semua orang yang berada disana termasuk William mulai mendekat menuju ranjang Est. William dengan sigap segera duduk di kursi yang berada di samping Est dan menatapnya penuh rasa bahagia. Saat Est benar-benar sudah sadar, William pun tak henti-hentinya mengusap kepala yang lebih tua dengan lembut dan rasa yang penuh kasih sayang tentunya. Rasa kasih dan cinta yang murni tulus datang mengalir sendiri, memenuhi ruang tersendiri juga pada hati Est walaupun ia sempat menolaknya namun hal itu tidak membuat William mengurangi rasa cintanya untuk Estana Sudewa seorang.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ace3c18ab0df" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Diari Kanaven]]></title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528/diari-kanaven-48f040c40e56?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/48f040c40e56</guid>
            <dc:creator><![CDATA[skybluee]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 08 Dec 2025 03:35:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-12-08T03:35:30.721Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*cI_8ZTHScqG0XQd3yjPG8w.jpeg" /></figure><blockquote>In Indonesian said;</blockquote><blockquote>“Aku bisa menerima semuanya, tapi aku hancur”</blockquote><blockquote>But in Sastra Indonesia said;</blockquote><blockquote>“Aku telah mengangguk pada segala titah takdir, tak ada lagi perlawanan dalam jiwaku. Namun, inilah ironisnya. Penyerahan ini datang dari puing-puing hati yang tak lagi utuh. Aku menerima, tapi aku hancur di dalamnya”.</blockquote><h4>— TULISAN KANAVEN —</h4><blockquote>“Kadang kita lupa, orang yang paling sering memaafkan justru yang paling banyak terluka. Orang yang terus mengusahakan, diam-diam sedang menyembunyikan rasa kalah yang nggak terkata. Orang yang berkali-kali mengalah, sebenarnya sedang menabung tenaga untuk sebuah langkah yang entah kemana”.</blockquote><h4>— TULISAN KANAVEN —</h4><blockquote>|Sedang menyukai 2 nasehat ini:</blockquote><blockquote>“Jadilah orang baik dengan memaafkan orang baik dengan mempercayai nya lagi”.</blockquote><blockquote>“Berprasangka baiklah pada semua orang, tapi jangan sangka semua orang itu baik kepada kita”.</blockquote><h4>— TULISAN KANAVEN —</h4><blockquote>Cuma sama kamu aku berani cerita, berani nangis, berani ngasih tau semua masalahku. Kalau kamu pergi, aku gimana?</blockquote><h4>— TULISAN KANAVEN —</h4><blockquote>Takut Bahagia</blockquote><blockquote>Aku sering merasa aneh pada diri sendiri, mengapa setiap hal baik selalu tampak mencurigakan seolah kedamaian adalah jebakan yang menunggu saat tepat untuk menghancurkan. Mungkin aku terlalu lama hidup dalam kewaspadaan, hingga tenang terasa seperti ancaman, dan kebahagiaan pun tampak seperti sesuatu yang harus aku bayar mahal nantinya. Tapi kalau begitu, sampai kapan aku harus begini? Sampai kapan aku menolak bahagia hanya karena takut kecewa? Dan jika suatu hari aku benar-benar belajar untuk menerima tenang, apakah diriku yang sekarang masih ada — atau perlahan hilang bersama rasa takut yang dulu aku peluk erat-erat.</blockquote><h4>— TULISAN KANAVEN —</h4><blockquote>Semua orang pasti punya satu nama yang diam-diam mereka simpan dalam hati, satu nama yang selalu berhasil membuat hati senang, satu nama yang disemogakan dalam do’a. Satu nama yang diharapkan menjadi teman hidup. Dan mewujudkan semua rencana masa depan.</blockquote><blockquote>Dalam hidupku, satu nama itu adalah kamu.</blockquote><h4>— TULISAN KANAVEN —</h4><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=48f040c40e56" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Merelakanmu]]></title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528/merelakanmu-d1087da8e9a6?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d1087da8e9a6</guid>
            <dc:creator><![CDATA[skybluee]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 26 Nov 2025 05:22:43 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-06T01:47:26.990Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/735/1*RcduQ-NX_hxHeyYmmR093Q.jpeg" /></figure><blockquote>“Meski sejuta senja, aku menangis merindukan bayanganmu”</blockquote><blockquote>“Namun hidupku harus terus berjalan dengan hati….”</blockquote><blockquote>“Rela.”</blockquote><p>Hari ini William sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter Sean, kini ia bersama Emi mulai berjalan menyusuri lorong sebelum akhirnya keluar dari gedung Rumah Sakit tersebut dan menuju ke arah parkiran tempat mobil mereka berada. Sesampainya mereka di rumah Emi mulai menurunkan beberapa barang William yang berada di bagasi, sementara William mulai memasuki rumah dengan langkah terburu-buru, sang kakak yang melihat itu hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum melihat tingkah adik kesayangannya itu. Setelah selesai menurunkan semua barang-barang William kini Emi berjalan menuju ke dalam rumah dengan tangan yang penuh barang William. “Willi ini barang-barang nya mau kakak taruh di mana?”. Ucap Emi sambil sedikit kesulitan membawanya. William yang melihat kakaknya kesulitan dengan cepat menghampiri sang kakak dan membawa semua barang-barang itu. “Kak, kan udah Willi bilang tadi biarin dulu aja barang-barang Willi di bagasi nanti Willi yang angkat sendiri. Makasih ya kak karena kakak udah mau effort bawain barang-barang sebanyak ini sendirian”. Ucap William sambil mencondongkan badannya ingin memeluk Emi. Emi yang melihat itu langsung menolaknya dan mendorong pelan tubuh William. “Ih mau ngapain kamu?” Tanya Emi sambil sedikit menatap William dengan geli. “Hehehe Willi kira kakak masih suka kalau Willi nyosor nyosor kayak tadi ke kakak”. Emi yang mendengar itu hanya bisa berkacak pinggang melihat tingkah adiknya yang benar-benar membuat kepalanya pening. “Kamu kalau kakak masih suka ngejar kayak dulu kamu bakalan ngapain?”. Tanya Emi seolah ia ingin menjahili adiknya saat itu juga. William yang sedang berpura-pura berfikir itu lantas tersenyum memasang wajah yang mencurigakan. “Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” Ucap Emi dengan penasaran melihat gelagat adiknya yang lebih mencurigakan. “Kak Emi kan udah tua, gimana kalau kali ini gantian Willi aja yang ngejar-ngejar kakak?”. Setelah mengatakan itu William segera memberi ancang-ancang untuk mengejar sang Kakak. Emi yang melihat itu mau tidak mau berlari duluan menjauh dari William. “AAAA WILLI KAMU JANGAN NGADI-NGADI YAA”. Teriakan Emi memenuhi seisi rumah. Emi berlari ke arah sofa dan segera mengambil bantal sofa yang ada di sana dan melemparkannya ke arah William. William yang tahu kakaknya akan melakukan itu dengan sigap ia menghindari bantal sofa yang kakaknya lempar agar tidak mengenai dirinya. “Wleee gak kenaaaa”. William membuat gerakan mengangkat kedua tangannya di samping telinga sambil menjulurkan lidahnya. “WILLIAAAAMMM!!!”.</p><p>William sudah meninggalkan rumah beberapa saat yang lalu, ia juga sudah meminta izin pada Emi untuk pergi ke Rumah Sakit untuk menemui Drake — pendonor darah Est.</p><h4>Flashback On~</h4><p>Setelah William mendengarkan tentang kondisi Est dari Jimmy, sebenarnya ada perasaan yang tidak bisa William sampaikan saat ia mendengar nama bagian masalalunya orang yang sangat ia cintai itu. William hanya bisa berharap Est tidak akan pernah meninggalkannya demi membalas apa yang masalalunya lakukan padanya. Akhirnya mau tidak mau William pun hanya bisa menyetujui untuk melakukan transfusi darah untuk Est secepatnya.</p><h4>Flashback Off.</h4><p>Kini William memasuki gedung Rumah Sakit dengan langkah tergesa-gesa. Sesampainya di depan pintu ruangan tempat di mana Est berada, di sana ia sudah melihat punggung seseorang yang sedang duduk di salah satu kursi yang tampak asing di kedua netra William.</p><p>William pun segera menghampiri Drake yang sedang termenung di sana. Drake yang merasa sedang berdiam diri merasa ada seseorang di sana segera memalingkan wajahnya dan di sana ia tak sengaja saling bertatap mata dengan William. “Kamu William ya?”. Tanya Drake dengan ramah. William hanya menganggukan kepalanya saat mendengar pertanyaan Drake. Ia pun kini mulai berjalan mendekat ke arah Drake dan menduduki dirinya pada kursi kosong di sebelah Drake. “Apakah kamu orang yang selalu dekat dengan Est?”. Drake mulai kembali menanyai seputar kedekatan dirinya dengan Est. William mengangguk lagi sebagai jawabannya. Melihat William yang tampak susah untuk Drake ajak ngobrol akhirnya Drake mau tidak mau harus berusaha tetap sabar pada laki-laki yang ada di hadapannya itu. “Kau tidak keberatan kan kalau akulah yang menjadi pendonor darah yang tepat untuk Est?”. Sesaat kemudian Drake terkejut setelah mendengar suara helaan nafas panjang William dan kali ini William tampak akan membicarakan sesuatu padanya. “Gua jelas keberatan, apalagi ini menyangkut nyawa orang yang paling gua sayang. Gak peduli kalau orang-orang nantinya memandang gua seperti mereka memandang remeh kak Est. Dan satu yang gua minta, jangan pernah ngebahas tentang ‘balas budi&#39; sama kak Est. Bahas aja hal itu sama gua karena sekarang semua masalah yang ada di hidup kak Est menjadi bagian dari kehidupan gua juga”. Setelah mengatakan itu William lantas beranjak dari kursinya dan berjalan masuk ke dalam ruangan Est untuk menemui seseorang, belahan jiwa, bahkan separuh nyawanya itu di sana. William membuka pintu dengan sangat hati-hati dan berjalan perlahan mendekati Est yang masih terbaring lemah tidak berdaya. Drake yang sudah mendengar semua ucapannya William hanya bisa menunduk menyembunyikan air matanya yang semakin lama semakin tidak bisa ia pendam. Ia merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan dulu pada mantan kekasihnya itu. Jujur saja dari lubuk hati Drake yang paling dalam, ia masih sangat mencintai Est. Ia tidak mau mengakhiri hubungan yang selama ini ia impikan bersama dengan Est hancur begitu saja. Jika bisa Drake mengadu pada semesta tentang rasa sakit yang juga ia alami saat ini mungkin Drake tidak tahu harus memulai darimana ketika Tuhan mempertanyakan itu semua kelak. Kenapa hal yang menurut orang lain itu adalah sepele tapi justru tidak bagi Drake, baginya hal itu benar-benar sangat menyakitkan, hal itu benar-benar sangat berat untuk dia ungkapkan setiap kata demi kata walaupun ia sudah merangkai kalimat tiap kalimat sebelum akhirnya ia memilih menyerah. Tidak, Drake menyerah bukan karena ia adalah seorang bajingan. Tetapi karena ia sudah terlanjur jatuh hati pada seseorang pemilik nama Estana Sudewa itu. Bertahun-tahun ia meyakinkan dirinya bahwa Est adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhir dari Drake namun ternyata perasaan egonya yang benar-benar tinggi juga tidak kalah membuat Drake kehilangan segalanya, termasuk kehilangan seseorang yang menjadi sebagian dari perjalanan hidupnya itu.</p><p>Saat ini hari sudah mulai siang, dan disinilah keberadaan William sekarang ia sedang berada di dalam ruangan yang bernuansa putih, dengan di penuhi alat-alat medis, serta terlihat sangat menyeramkan. Sedari awal dirinya hanya menatap nanar ke arah seseorang yang sangat terlihat jelas sedang memperjuangkan hidup dan matinya di sana. Ia juga terus menggenggam erat tangan Est yang tidak terkena infusan dengan lembut. William terus mengusap tangan Est yang terlihat benar-benar lemah itu perlahan dan menuntunnya mendekat ke pipinya tak lupa ia juga mengecup singkat punggung tangannya. “Kak bertahanlah sebentar lagi, tunggu aku sedikit lagi ya kak? Setelah ini aku janji akan membawa kamu menuju ke dalam hal-hal yang bisa membuatmu lebih bahagia lagi nantinya”. Tetes demi tetes air yang keluar dari pelupuk matanya, sesaat kemudian William mulai mendekati tubuh Est untuk memeluk dirinya erat tidak lupa ia juga di ciumnya kening Est dengan lembut.</p><p>Hari yang sudah terus berganti menjadi gelap dan kini proses transfusi darah yang mengatasnamakan pasien Estana Sudewa dan pendonor darahnya Drake Sebastian itupun dimulai. Drake yang sudah berbaring di atas ranjang ia juga terlihat tidak takut sama sekali. Terlihat jelas dari penglihatan Drake yang terus memandangi wajah tenang milik Est dengan setulus hati. Ia tidak tahu bagaimana bisa perasaan yang dulu ia miliki adalah perasaan yang paling bahagia lantas kini entah bagaimana bisa menjadi perasaan bersalah atas semua perlakuan buruk yang dulu pernah ia berikan pada sosok laki-laki yang ada tepat di sebelahnya. “Apakah masnya sudah siap jika melakukan transfusi darah sekarang?”. Tanya Dokter Sean pada Drake. Yang ditanya kini hanya menjawab dengan sebuah anggukan singkat. Dokter pun mulai mengambil beberapa jenis suntikan dan selang yang akan ia gunakan untuk mengalirkan darah Drake ke dalam tubuh Est di sana. Pertama-tama Dokter memeriksa letak urat nadi Drake di bagian punggung tangannya untuk di pasangkan infusan agar bisa menjaga kesadarannya, sementara itu Suster yang sedang mempersiapkan beberapa suntikan dan juga selang panjang yang akan ia gunakan untuk menerima darah Drake. Suster itu segera menyuntikkan beberapa cairan obat ke dalam tubuh Est dan di tahap terakhir barulah ia memasangkan sebuah selang yang akan tetap terhubung dengan selang milik Drake selama beberapa jam. Saat Drake mulai terbiasa dengan rasa lemas, pusing, dan mengantuk itu lantas segera kembali tersadar agar ia bisa melihat perjuangan Est yang mulai menerima tiap tetes darah yang datang berkat darahnya.</p><p>Proses transfusi darah sudah berlangsung selama 3 jam lamanya dan tinggal sekitar 15 menit lagi sampai akhirnya Drake bisa merasakan Dokter sedang menarik perlahan selang selang itu di lepas dari tangannya.</p><p>Ketiga saudaranya pun juga sudah menunggu lumayan lama di luar, menunggu kedatangan Est kembali di tengah-tengah mereka semua. Termasuk sahabat masa kecil Est yang bernama Punika Aleyra, disana terlihat Paley yang sedang duduk termenung dan matanya terus menatap ke arah pintu ruang rawat inap Est dengan penuh harap untuk kesembuhan sahabatnya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d1087da8e9a6" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Seribu Pelukan]]></title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528/seribu-pelukan-81d878ef498f?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/81d878ef498f</guid>
            <dc:creator><![CDATA[skybluee]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 20 Nov 2025 04:09:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-20T04:09:30.700Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*8KUwO7LDHMPSv95x_g5BSQ.jpeg" /></figure><blockquote>“Setiap detik bersama mu, semua berharga untukku”.</blockquote><blockquote>“Yang ku mau hanya dirimu…”</blockquote><p>Hari ini William sedang masa pemulihan, tinggal beberapa hari lagi ia berada di Rumah Sakit sebelum akhirnya di perbolehkan untuk pulang oleh Dokternya. Kini William bersama dengan kakaknya — Emi sedang bersiap untuk sarapan sebelum akhirnya mereka berdua di datangi oleh Dokter Sean Tiandra — Dokter pengganti setelah tugas Dokter Mark — Dokter sebelum nya selesai. “Selamat pagi William maaf jika saya mengganggu waktunya”. Ucap Dokter Sean dengan ramah. William dan Emi dengan serempak tersenyum saat melihat keberadaan Dokter Sean di sana. “Pagi juga Dok, gapapa Dok saya juga lagi mau makan kok”. Ucap William yang sesekali melirik ke arah kakaknya. Emi yang sadar kalau William sedang meliriknya dengan cepat mengiyakan ucapan William. “Benar Dok, saya juga baru ingin menyuapi William”.</p><p>Dokter Sean hanya mengangguk ketika mendengarnya. “Kalau gitu saya periksa dulu ya kondisi kamu William”. Dokter Sean segera mendekat ke arah William yang sedang duduk di atas ranjang dan mulai memeriksa detak jantungnya menggunakan stetoskop yang selalu ia bawa kemana-mana. Dokter Sean juga memeriksa kedua retina William menggunakan senter khusus yang selalu ia bawa juga. “Baiklah kondisi William sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, hanya tinggal beberapa persen lagi untuk tahap pemulihannya”. Ucap Dokter Sean menjelaskan. William dan Emi yang mendengar hal itu tentunya merasa sangat senang. Jika Emi senang karena adiknya sebentar lagi akan pulang, lain halnya dengan William ia berpikir kalau dirinya sudah benar-benar sembuh, ia akan sesekali akan menjenguk ataupun bermalam di ruangan Est. Dirinya memang sudah benar-benar merindukan Est dan ingin selalu berada di dekatnya.</p><p>Jika William sudah tinggal masa pemulihan saja, berbeda dengan Est yang masih menunggu ketiga kakaknya untuk melakukan transfusi darah secepatnya. Sebenarnya alasan ketiga kakaknya terus menunda pelaksanaan transfusi darah untuk Est karena mereka ingin menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada William.</p><h4>Flashback On~</h4><p>Setelah melihat kepergian Junian, Jimmy sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengejar Junian yang belum jauh di sana. “Ju tunggu”. Panggil Jimmy setengah berteriak sambil menangkap tangan Junian. “Apa lagi mas?” Ucap Junian dengan ekspresinya yang datar. “Memang nya kenapa kalau darah itu adalah darah Drake? Bukankah mereka sudah lama tidak punya hubungan lagi? Apa kamu suka melihat Est yang belum juga sadarkan diri itu?”. Junian yang mendengar itu segera menepis tangan Jimmy dengan kasar. “Mas selama ini kemana saja sampai tidak tahu kondisi adiknya sendiri? Bukankah selama ini mas sudah tau kalau Est itu sudah di rusak oleh Drake beberapa tahun lalu? Mas sendiri kan yang bilang kalau Est adalah laki-laki kotor, laki-laki menjijikkan yang tidak mau mas lihat? Mas sadar gak kalau selama ini hidup Est itu benar-benar sudah hancur dari awal mas mengucapkan kalimat tidak pantas itu pada Est. Dan ada satu fakta yang belum mas tau sampai saat ini…” Junian berhenti sejenak sebelum akhirnya air matanya jatuh begitu saja. “APA JU? KATAKAN FAKTA APA ITU YANG BELUM MAS TAU SAMPAI SEKARANG?!!” Jimmy berteriak sambil mengguncang-guncang bahu Junian yang masih terdiam. Junian menghempaskan tangan Jimmy dengan kasar sebelum akhirnya melanjutkan kalimat nya. “Fakta yang belum mas Jimmy ketahui selama ini adalah kalau Est itu sebenarnya hanya menjadi korban fitnah dari Mike abangnya Drake, waktu itu Mike gak suka melihat kedekatan antara Est dengan adiknya karena Mike sendiri juga suka sama Est. Mungkin Mike cemburu karena Est selalu menghindar dari Mike, sampai akhirnya Mike bilang kalau Est ini sering menggoda Mike dan terlihat seperti laki-laki murahan setiap kali Drake gak ada di apartemen mereka”. Rasa sesak terus-menerus terasa di dalam hati Junian, ia kembali menceritakan hal yang menimpa adiknya dulu ingin sekali cepat-cepat ia lupakan. Sementara Jimmy yang mendengar semua itu tubuhnya langsung lemas dan merosot begitu saja ke lantai, mukanya pucat, dan bibirnya bergetar saat mendengar semua kebenaran yang sebenarnya dari Junian. Suara tangisan Jimmy mulai terdengar dan berujung pada suara isakan yang memilukan.</p><p>Di sela-sela Jimmy yang sedang menangis itu Junian kembali bersuara, kali ini ia ingin menjelaskan alasan mengapa ia dan Boun terus menunda proses transfusi darah untuk Est. Junian sendiri pun bingung ingin memulai ceritanya dari mana. “Mas sebenarnya bukan tanpa alasan juga Juju sama bang Boun itu gak langsung bertindak dalam transfusi darah Est. Juju mau ngasih tau hal ini juga sama William”.</p><p>“W-william? Siapa dia?”. Dengan cepat Jimmy mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk akibat menangis. “William adalah sosok laki-laki yang tulus hatinya mas, William adalah seseorang yang Juju kenal dari Daou karena berkat dia Est kembali ceria lagi, Est kembali menemukan arti warna di hidupnya, membuat Est kembali percaya pada dirinya sendiri. Itu semua berkat William mas”. Ucap Junian sambil tersenyum tulus mengingat kebaikan seorang William. “Makanya kita juga harus ngasih tau William tentang orang yang mau memberikan darahnya secara cuma-cuma untuk Est. Walaupun niat William awalnya hanya ingin menyembuhkan tetapi bisa saja jauh di lubuk hatinya dia juga ingin memiliki Est seutuhnya mas”. Jimmy yang mendengar hal itu kembali terisak, ia merasa benar-benar gagal menjadi seorang kakak yang seharusnya bisa membimbing, menjaga, dan melindungi adik-adik nya. Namun justru malah yang ia lakukan adalah hal sebaliknya.</p><h4>Flashback Off.</h4><p>Setelah selesai sarapan dan di periksa oleh Dokter kini Emi sedang membawa William untuk berjalan-jalan sebentar di taman Rumah Sakit agar adiknya bisa merasa lebih baik lagi. Saat sudah merasa bosan Emi dan William memutuskan untuk kembali masuk, baru saja mereka sampai di lorong Rumah Sakit mereka melihat dua orang di sana, dengan satu orang yang berdiri dan satu orang lainnya sedang berlutut di lantai sambil menangis sampai suara tangisannya terdengar oleh William dan Emi. “Kak berhenti sebentar, bisa kita kesana?” Ucap William dengan penasaran. Emi yang melihat dua orang yang sedang berada di sana hanya menggeleng, “Jangan ya dek, kita gak kenal mereka siapa dan kita juga gak punya hak untuk ikut campur urusan mereka dek”. Ucap Emi. Namun William tetap kukuh ingin melihat dua orang yang sedang berada di depan sana. Akhirnya mau tidak mau Emi pun menuruti keinginan adiknya itu.</p><p>Saat jarak William dengan keduanya semakin dekat, ia baru menyadari siapa orang itu. “Kak Juju?” Panggil William padanya. Yang di panggil pun menengok dan melihat keberadaan William sedang memakai kursi roda bersama dengan Emi di belakangnya. Jimmy yang sedang menangis itu pun ikut menengok ke arah William. “William?” Junian tentu terkejut saat melihat keberadaan William, Jimmy pun tak kalah terkejut nya saat melihat keberadaan Emi di sana. “E-emi?” Emi yang mengetahui seseorang yang sedang menangis itu adalah Jimmy membuatnya membulatkan matanya, tentu saja ia sangat terkejut dengan keberadaan Jimmy.</p><p>Junian dan Emi kini sedang menunggu Jimmy dan William yang sedang berbicara empat mata di sana. Sebenarnya alasan Jimmy untuk mengajak William berbicara berdua dengannya karena ia ingin memberitahu tentang siapa orang yang akan menjadi pendonor darah untuk Est. Awalnya Junian yang akan berniat untuk mengatakan hal tersebut, tetapi untuk menebus semua kejahatan, semua ucapan Jimmy yang sudah keterlaluan pada Est akhirnya Jimmy memohon pada Junian agar mengizinkannya untuk bisa bertemu dengan William.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=81d878ef498f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Diary Sudewa]]></title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528/diary-sudewa-ab478530ef6b?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ab478530ef6b</guid>
            <dc:creator><![CDATA[skybluee]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 18 Nov 2025 09:56:10 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-12T05:04:32.225Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*SfQgAt2J6a2Hl_y6IyyXuQ.jpeg" /></figure><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote>Kalau kita nanam luka, cepat atau lambat akan berhadapan dengan sesal yang sama. Luka itu nggak akan pernah benar-benar hilang, dia cuma pindah tempat tempat — kadang ke hati orang lain, kadang balik lagi ke hati kita sendiri. Tapi kalau kita merawat ikhlas, hasilnya beda cerita. Ada damai yang datang tanpa di paksa, ada tenang yang datang tanpa di minta. <strong>Rasanya kayak di peluk sesuatu yang nggak kelihatan, tapi terasa begitu nyata.</strong></blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote><strong>“Semengerikan apa manusia yang pernah kamu temui?”</strong></blockquote><blockquote>“Seseorang yang menikam orang lain dan setelahnya dia berteriak bahwa dialah yang disakiti”.</blockquote><blockquote>“Ada lagi?”</blockquote><blockquote><strong>“Mereka yang memaksa orang lain untuk menormalisasikan sifat buruknya”.</strong></blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote><strong>Aku pernah membaca hal yang terkesan klise</strong> “Kemungkinan besar setiap dari kamu punya pengagum dalam hidupmu. Orang-orang yang sungguh ingin melihatmu sukses. Mereka mengamati mu tumbuh berkembang dengan senyum di bibir mereka. Mereka melihat senyumanmu, karirmu, kebaikan mu, dan langkah-langkah mu, lalu diam-diam menyemangati mu. Mereka juga memikirkan mu saat membuat keputusan atau terinsipirasi oleh keberanian mu. Beberapa mungkin akan malu untuk memberitahu mu, beberapa lainnya mungkin akan mengatakannya. Tapi ketahuilah bahwa ketika kamu merasa sendirian, sebenarnya selalu ada orang yang mendukung mu”. <strong>And, I think that’s beautiful.</strong></blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote>“Maka, bertumbuh lah dengan sangat cantik, biarkan luka-luka itu menjadi “perjalanan” yang perlahan membentuk mu menjadi akar yang kuat”.</blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote>Beberapa luka yang memilih untuk tidak bersuara, mulanya berasal dari keluh kesah yang tidak disambut ramah. “Kamu kurang bersyukur”. “Kamu mah masih mending”. Serta deretan kalimat lain yang membuat kita terpaksa memilih opsi untuk bungkam dan berlagak baik-baik saja.</blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote>Titik tertinggi kemarahan bukanlah membentak, tapi menjauhi. Mereka sadar, merubah orang lain itu menguras energi. Daripada merusak diri, lebih baik berhenti berinteraksi.</blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote><strong>Aku udah ikhlas, tapi kenapa masih terasa sakit?</strong></blockquote><blockquote>Kita sering dibilang;</blockquote><p><strong>“Udah ikhlasin aja”.</strong></p><p><strong>“Yang udah, ya udah”.</strong></p><p><strong>“Jangan dipaksain lagi”.</strong></p><blockquote><strong>Tapi gak ada yang kasih tahu</strong>, gimana caranya ikhlas, kalau hati masih berdarah. Kadang kamu udah gak marah, gak dendam, gak nyalahin siapa-siapa.</blockquote><blockquote><strong><em>Tapi setiap kali ingat…</em></strong></blockquote><blockquote>Sakitnya muncul lagi, diam-diam, tapi nyata. Aku tahu rasanya…</blockquote><blockquote>Pernah bilang “Aku udah maafin”. Tapi hati masih getir. Pernah yakin “Aku udah ikhlas”. Tapi air mata masih jatuh setiap kali mengenang.</blockquote><blockquote><strong>Dan disitu aku sadar…</strong> Ikhlas itu bukan tombol yang ditekan sekali, tapi perjalanan yang dilewati berkali-kali.</blockquote><blockquote><strong>Ikhlas bukan berarti gak sakit.</strong></blockquote><blockquote>Ikhlas artinya;</blockquote><blockquote>Kamu tetap sabar, meski masih terasa perih. Karena Sang Pencipta gak minta hati yang gak luka, tapi hati yang tetap berusaha untuk sembuh.</blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote>Besok kamu jangan mau di <strong>perlakukan seenaknya</strong> lagi ya, jangan lagi <strong>diam ketika mereka melemparkan kata-kata kasar,</strong> seolah kamu pantas mendapatkannya, jangan lagi <strong>menelan bulat-bulat perlakuan tidak adil,</strong> hanya karena kamu takut <strong>dianggap merepotkan</strong>, jangan lagi <strong>ngalah dengan mulut-mulut jahat yang hanya bisa merendahkan mu,</strong> kamu berhak untuk di dengar dan diperlakukan dengan layak. Kamu berhak untuk berada di ruang aman tanpa merasa kecil. Tanpa merasa harus terus merasakan rasa sakit sendirian. Besok <strong>jangan lupa kamu punya hak untuk masih memilih dirimu sendiri.</strong></blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote><strong>MANUSIA</strong> tulus itu berkata,</blockquote><blockquote>“Happy ending atau tidak, senang pernah mencintaimu dengan cara yang paling baik”.</blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote>Entah kenapa, <strong>semakin gue ngerti hidup,</strong> semakin sedikit hal yang pengen gue jelasin ke orang lain. <strong>Dulu gue ngerasa semua hal harus di jelasin biar orang lain gak salah paham. Tapi semakin kesini, gue sadar…</strong> orang bakal ngerti sebatas level mereka sendiri. Lo bisa ngomong sejujur-jujurnya, sebaik-baiknya, tapi kalau mereka pengen salah paham, ya tetap aja lo yang disalahin. Akhirnya gue belajar buat gak semua hal perlu di bela dan gak semua perasaan perlu di jelasin. Karena pada akhirnya, yang penting bukan siapa yang ngerti lo, tapi gimana lo bisa tetap tenang walau gak semua orang ngerti.</blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><blockquote>Dear, Sudewa</blockquote><blockquote><strong>Cobalah sesekali bercermin dan tatap sepasang mata disana. Barang kali,</strong></blockquote><blockquote>“Kan kau temukan retakan yang selama ini selalu ku coba sembunyikan. <strong>Kau pandai mengirim tenang pada risau milik orang lain, namun memeluk lukamu sendiri kau tak pernah lihai.</strong> Sekarang, jangan dulu membasuh selain air mata mu sendiri dan mulailah beri dirimu lebih banyak atensi”.</blockquote><blockquote>— Coretan Sudewa —</blockquote><p>Jimmy tidak sengaja menemukan buku diari milik seseorang di sana, setelah ia amati dari mulai tulisan tangannya yang benar-benar rapih ia mulai sadar kalau buku itu adalah milik adik kesayangannya — Est. Ia mulai memperhatikan setiap kalimat demi kalimat yang Est tulis di sana, setiap kalimat demi kalimat yang ia yakini itu adalah curahan isi hati Est selama ini. Tepat ketika ia selesai membaca di halaman terakhir air matanya perlahan mulai jatuh membasahi buku diari Est, Jimmy meremat dadanya yang mulai terasa sakit seperti sedang di hantam oleh batu besar. Hatinya benar-benar hancur setelah membaca buku harian milik adiknya sendiri. Ia tidak menyangka kalau dirinya sudah sejauh ini menyakiti, menghancurkan, dan merusak apapun yang telah menjadi milik Est selama ini. Dan dengan hebatnya Est masih mampu untuk memaafkan perbuatannya walaupun Jimmy tahu kalau tidaklah mudah untuk memaafkan seseorang yang telah menyakiti kita berkali-kali. Jimmy benar-benar merutuki, mengutuk, serta mencaci maki perbuatan yang telah ia lakukan pada Est selama ini. Bahkan jika sang adik tidak berniat untuk memaafkannya Jimmy berani bersumpah ia akan pergi untuk selama-lamanya dari kehidupan Est agar ia bisa menebus semua kesalahannya pada sang adik di masa lampau. Jimmy kembali menutup buku diari milik Est dan kembali meletakkannya dengan benar di atas meja belajarnya.</p><p>Jimmy segera keluar dengan langkah cepat untuk mencari keberadaan Boun. Boun yang sedang berada di Toilet itu mau tidak mau harus keluar untuk menanggapi panggilan kakaknya. “Kenapa sih mas? Ganggu orang lagi buang hajat aja deh”. Ucap Boun dengan nada kesalnya. “Sekarang kasih tau mas di mana rumah sakit tempat Est di rawat itu Boun?”. Boun yang mendengar ucapan Jimmy barusan tentu saja sangat terkejut, di dalam hatinya juga terdapat banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa ia tanyakan untuk saat ini. “Y-yaudah lu bareng gua aja mas, gua juga abis ini mau kesana”.</p><p>Boun yang tampak seperti orang linglung itu hanya bisa mengikuti Jimmy sesuai dengan perintahnya tadi.</p><p>Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil dan lantas menuju ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi Est saat ini. Setelah sampai Junian yang sudah melihat keberadaan Boun tentu merasa sangat senang, namun lain halnya saat ia melihat keberadaan Jimmy yang ikut bersama dengan Boun. “Loh mas Jim? Mas mau ngapain dateng kesini?”. Saat mendengar ucapan Junian tentu membuat hati Jimmy semakin sakit, memangnya tidak boleh jika ia ini mengetahui kondisi adiknya saat ini? Memangnya adik-adik nya itu benar-benar sudah tidak ingin menerima Jimmy sebagai keluarganya lagi? Ataukah mereka lupa dengan posisi Jimmy yang masih berkewajiban sebagai anggota keluarga yang paling tua diantara mereka? Sebenci itu kah adik-adik nya sekarang pada dirinya? Haruskah Jimmy memulai semuanya dari awal saat Est masih menginjak usia yang masih sangat belia? Entah lah semua pertanyaan terus-terusan berkeliaran di dalam kepala Jimmy yang membuatnya lelah untuk berdebat dengan adiknya itu. “Kalau Juju lupa, mas masih jadi bagian dari keluarga Est kan?”. Ucap Jimmy pada Junian.</p><p>Namun tak disangka justru Junian malah seperti sedang menertawai Jimmy karena tingkahnya yang lumayan lucu menurutnya. “Keluarga? Bukannya mas Jim sendiri yang bilang kalau gak mau mengakui Est sebagai keluarga mas lagi? Mas ini beneran gak inget atau emang bodoh sih?”. Boun yang mulai merasakan adanya perdebatan di antara keduanya hanya bisa menarik lengan Junian untuk menjauh dari sana sebelum akhirnya Jimmy memukulinya. “Ju udah ya, nanti lu kena masalah kalo sampe beneran terus-terusan ribut sama mas Jim”.</p><p>“Biarin ajalah bang, toh juga cuma pukulan biasa ini bukan pukulan serta cacian yang pernah dia luapin ke Est dulu”. Ucap Junian dengan santainya.</p><p>“Iya gua tau lu kecewa sama mas Jim, cuma jangan sampe cara lu kecewa juga sama halnya kayak mas Jim kecewa sama Est. Dia memilih jalan yang salah dan berujung membuat semuanya jadi berantakan kayak gini Ju”. Junian terdiam sebentar mencoba mencerna maksud dari ucapan laki-laki di depannya itu.</p><p>Sore harinya Jimmy segera melakukan tanda tangan untuk transfusi darah Est, tanpa bertanya siapa yang mendonorkan darah itu Jimmy langsung bertindak semaunya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Junian yang melihat kakaknya ingin menandatangani surat tersebut dengan cepat langsung mencegah Jimmy. “Kamu gila ya Ju? Kamu gak mau ngeliat adek kamu sembuh hah!!”. “Justru mas Jim yang gila! Mas mau bikin Est makin menderita lagi apa nantinya?”. “Maksud kamu apa Ju? Mas gak paham”. “Mas orang yang mau donorin darahnya buat Est itu Drake mas, mantan Est, lelaki bejat yang udah menghancurkan semua yang ada di dalam hidup Est dengan mudahnya mas”. “Tolong mas pikirin baik-baik kalau semisal mas menerima Drake untuk menjadi orang yang mendonorkan darahnya untuk Est, apa nantinya dia gak semakin terluka saat tahu kebenarannya? Pikirin itu dulu mas sebelum bertindak”. “Est juga pernah bilang kalau dia gak mau punya urusan lagi menyangkut dengan cowok itu, jadi tolong mas pikirkan lagi tentang hal ini”. Dengan nafas yang tercekat karena terlalu terbawa emosi akhirnya Junian memilih untuk pergi dari hadapan Jimmy karena ia sudah tidak sanggup menahan air matanya lagi.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ab478530ef6b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Haruskah terluka atau justru bahagia?]]></title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528/haruskah-terluka-atau-justru-bahagia-bfd460e6c573?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/bfd460e6c573</guid>
            <dc:creator><![CDATA[skybluee]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 18 Nov 2025 03:47:51 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-19T06:34:12.667Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*XKaVCX0NgyY3TNH4UijtwA.jpeg" /></figure><h3>Haruskah Terluka atau Justru Bahagia?</h3><p>Setelah beberapa lama William tak sadar diri tepat malam ini dia kembali membuka matanya perlahan dan menangkap cahaya putih beserta ruangan yang serba putih itu, disana ia melihat ada teman-temannya yang sudah dari kemarin menunggu William untuk sadar. Melihat William yang sudah sadar teman-temannya segera mendekat ke nakas William untuk memeriksa keadaannya.</p><p>“William?”. Panggil mereka serempak.</p><p>Yang dipanggil hanya bisa menatap mereka semua dengan linglung seperti sedang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. “Bang Nut ini gua dimana?” Tanya William dengan suara sedikit serak. Nut yang ditanya hanya tersenyum sambil memegang pundak William yang masih berbaring. “Lu lagi di rumah sakit Will”. “Rumah sakit?”. Mereka semua dengan sabar mengiyakan ucapan William, maklum saat kecelakaan kemarin William langsung tak sadarkan diri ditempat makanya ia nampak seperti orang bingung. “Kemarin lu abis kecelakaan gara-gara ngindarin truk”</p><p>Ucap Hong dengan sabar pada sahabatnya itu. “Tapi kak Est gimana? Gimana kabarnya Hong?”. Tanya William dengan khawatir sampai membuat infusan di tangannya ikut ketarik. “Will tenangin diri lu dulu, biar nanti gua jelasin tentang kondisi kak Est sama lu”. William yang mendengar ucapan Nut hanya bisa terdiam pasrah sambil terus menunggu Nut bercerita padanya.</p><h4>-Disisi lain-</h4><p>Junian berjalan menuju lift untuk mengunjungi ruangan William yang berada di lantai tiga. Setelah sampai ia langsung masuk kedalam dan mendapati William yang sedang menatap kosong kearah langit-langit kamarnya. Junian tak lupa mengetuk pintu sebelum diizinkan untuk masuk oleh sang pemilik kamar. “William? Boleh kak Juju masuk?”. William yang melihat keberadaan Junian hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelahnya Junian pun masuk dan duduk di kursi sebelah nakas William berada. Junian menatap William dengan perasaan yang campur aduk, disatu sisi ia sangat senang melihat William yang sudah sadar namun disisi yang lain ia juga takut ingin menyampaikan hal ini padanya karena takut akan perasaan William terluka. “Ada apa kak?” William menyadari Junian sedari awal masuk ia hanya diam saja. Seketika ia tersadar dari lamunan nya dan kembali menatap William yang tengah melihatnya itu segera membetulkan posisi duduknya agar bisa lebih nyaman untuk berbicara dengannya. “Ada yang ingin kakak sampaikan sama kamu Will”. William yang mendengar hal itu langsung terbangun mengubah posisinya menjadi sejajar dengan Junian. Junian yang melihat itu langsung sigap membantu William untuk duduk sambil ia menaruh bantal di punggung William agar ia lebih nyaman nantinya. Setelah memastikan William sudah merasa nyaman Junian lantas kembali duduk untuk menyampaikan maksudnya datang ke ruangannya adalah untuk berbicara beberapa hal pada sang pemilik kamar. “Jadi Will kondisi Est saat ini sedang kritis dan saat ini ia harus mendapatkan pendonor darah dari seseorang, maksud kakak itu apakah kamu bersedia agar Est secepatnya melakukan transfusi darah. Gimana Will kamu setuju atau gak?” Mendengar hal itu William buru-buru turun dari ranjangnya, Junian yang lihat itu dengan cepat mencegah William agar tidak berbuat nekat. “Will kamu mau kemana? Jangan aneh-aneh kamu baru aja sadar Will?!” Ucap Junian dengan nada khawatir. “Gua mau ketemu kak Est kak, gua takut sesuatu yang buruk terjadi sama dia disaat gua gak ada waktu dia lagi butuh seseorang buat berkeluh kesah kak”. Mendengar ucapan William membuat Junian tersentuh namun disatu sisi ia tak mau melihat William terluka lebih jauh lagi nantinya setelah mengetahui siapa sang pendonor untuk Est. “Iya Will kak Juju paham kalau kamu mengkhawatirkan kondisi Est, tapi saat ini kondisi kamu juga gak memungkinkan untuk melihat Est”. “Gua gapapa kak, jangan khawatirin gua justru dengan kakak nahan gua kayak gini sama aja dengan lu lebih bikin kondisi gua makin gak sehat lagi”. Akhirnya setelah berdebat panjang dengan William mau tidak mau Junian harus memanggil Dokter yang merawat William agar di perbolehkan untuk turun dari ranjangnya. Dokter Mark pun mengizinkan Junian untuk membawa pasiennya itu untuk bertemu dengan seseorang yang ingin sekali ia jaga seumur hidupnya. Disepanjang lorong Junian yang sedang mendorong kursi roda, sementara William hanya terdiam sambil menatap lurus dengan tatapan kosong membuat keduanya menciptakan keheningan. Sesampainya di depan pintu ruangan Est entah mengapa membuat jantung William berdetak lebih cepat bukan karena ia merasa senang tetapi sebaliknya ia justru malah merasa takut, sedih, dan juga khawatir. William merasa dirinya gagal untuk mengobati orang yang paling ingin ia lindungi di dunia ini, orang yang ingin ia lindungi dari kerasnya dunia, dari jahatnya dunia, dan dari kejamnya dunia memperlakukannya secara tidak adil. Sebelum benar-benar masuk untuk melihat kondisi Est, William sempat meminta Junian untuk berhenti sebentar agar dia bisa menyiapkan dirinya, agar dia bisa menyiapkan hatinya untuk tidak menangis di hadapan Est nantinya. Setelah ia sudah benar-benar siap Junian lantas membantu William membuka pintu kamar Est dan masuk kedalam nya. Langkah demi langkah yang Junian berikan entah mengapa justru membuat hatinya berdenyut nyeri, rasa yang teramat sakit bisa sangat jelas William rasakan jauh di dalam hatinya. Saat William berhasil menangkap sosok Est yang sedang terbaring lemah disana entah mengapa membuat air matanya berhasil menetes begitu saja. Saat jarak diantara keduanya semakin dekat William dengan cepat meraih tangan Est yang terlihat sangat pucat dari sebelumnya, William sangat yakin kalau ini adalah bukan Est yang ia kenal, kalau ini adalah jiwa Est yang sebenarnya. Jiwanya yang rapuh, hancur, berantakan, dan tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan kebanyakan orang. William terus menangis di hadapan Est, hancur sudah pertahanan dirinya untuk berjanji tidak menangis di hadapan Est. Sesak di dadanya semakin menusuk-nusuk perih hatinya, membuat tangisan itu berubah menjadi isakan yang membuat siapapun yang mendengarnya juga akan merasakan sakit yang William rasakan saat ini.</p><p>Junian hanya bisa mengusap punggung rapuh William perlahan mencoba membuatnya tenang walapun ia tau hal itu pasti mustahil untuk hatinya yang sudah hancur sedari awal masuk. “Will udahan ya? Jangan nangis terus kamu gak mau kan kalau nanti Est ikut sedih waktu dia sadar nanti karena ngeliat kamu nangis kayak gini?”. Ucap Junian memberi pengertian pada William. “Kak bisa tinggalin gua sendiri dulu disini? Gua cuma mau meluapkan perasaan gua dengan berbicara sama kak Est, gua tau dia gak bakalan ngedenger ataupun ngejawab ucapan gua. Tapi seengaknya itu bisa ngebuat gua tenang untuk sejenak kak”. Ucap William dengan suara pelan. Sebenarnya Junian tidak tega bila harus meninggalkan William sendirian diruangan yang gelap dan sunyi itu namun karena Junian tau William perlu di beri ruang sejenak untuk bisa melepas rindunya dengan Est setelah beberapa hari tidak bertemu dan berujung pada pertemuan yang tak pernah keduanya harapkan itu. “Oke kakak kasih kamu waktu 10 menit untuk kamu berbicara dengan Est ya Will”. William yang mendengar itu hanya mengangguk saja sebelum akhirnya ia sudah tidak melihat keberadaan Junian disana, William lantas dengan hati-hati berdiri dan duduk di tepi ranjang Est. Pandangannya terus tertuju pada wajah Est yang sedang berbaring dengan tenang walaupun sebenarnya wajah itu sangat penuh dengan luka disana. Luka yang tidak bisa benar-benar sembuh, luka yang hanya dapat mengering seiring berjalannya waktu. William lantas memperbaiki posisi rambut Est yang menutupi mata indahnya itu dan perlahan kembali menangis karena rasa sesak yang terus melanda hatinya. “Kak… ini aku kak, i’m still here with you, tolong buka mata kamu untuk aku kak. Tolong bertahan sekali lagi agar aku bisa memperbaiki semuanya yang ada di hidup kamu seperti sebelumnya walaupun aku tahu usaha aku itu cuma akan membuat kakak utuh semula”. Bahu William bergetar hebat saat mengucapkan kalimat demi kalimat untuk seseorang di hadapannya itu. Dan tanpa William sadari sebenarnya dari ujung mata Est ia juga mengeluarkan setetes air mata menandakan kalau Est juga ikut merasakan sakit yang sama dengan yang William rasakan saat ini.</p><p>Saat ini William sudah kembali ke kamarnya setelah ia merasa lega karena sudah bertemu dengan Est walaupun dengan kondisi yang tidak pernah ingin William lihat sebelumnya. Terlihat dari tatapan William yang menjadi sendu saat kembali dari kamar Est tadi. Nut yang melihat sahabatnya tidak bersemangat itu berinisiatif untuk mengupas beberapa mangga manis kesukaan William dan segera memberikan padanya. “Nih”. Nut mengulurkan piring itu ke pangkuan William dan dengan cepat ia bisa melihat wajah sumringah William. “WAH MANGGA”. Teriak William dengan kegirangan. Teman-teman nya hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu William saat bertemu dengan buah kesukaannya itu. “Di habisin ya makannya nak”. Ucap Hong berlagak seperti seorang ayah yang sedang menasehati anaknya. William yang sedang asik dengan mangganya itu tidak menghiraukan ucapan Hong dan tanpa sadar ia sudah melahap banyak sekali mangga dari piring tersebut.</p><p>Saat sedang asik memakan buah yang ada di tangannya itu tiba-tiba ada seseorang yang berlari masuk dengan wajah panik dan segera langsung memeluk erat tubuh William, yang membuat piring yang berada di genggamannya hampir saja terjatuh.</p><p>“Astaga kak Emi! Bikin kaget aja deh”. Ucap William dengan kesal. Emi — selaku kakak perempuan William segera menepuk jidat William dengan gemas. “Harusnya kakak yang kaget pas denger kalau kamu masuk rumah sakit karena kecelakaan”. William hanya mengaduh sambil mengusap pelan jidatnya. “Ya maaf kak, namanya juga musibah gak ada yang tau kan”. Emi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum saat melihat sudut bibir William yang sedikit belepotan. “Udah mau umur 20 tahun tapi kelakuan kamu tetep masih kayak anak kecil dek”. Dengan cepat Emi mengambil selembar tisu yang berada di dekat ranjang William dan mengusap nya dengan hati-hati, namun tangan William lebih dulu menghentikan pergerakan sang kakak dan segera merebut tisu tersebut. “Gak usah Willi bisa sendiri”. Ucap William dengan nada ketus. Emi hanya menggelengkan kepalanya karena terlalu gemas melihat tingkah laku adik kesayangannya itu. “Gimana kondisi kamu dek? Ada yang sakit gak badan kamu?” Mendengar ucapan kakaknya membuat William terdiam dan tersenyum pahit. “Ada kak, hati Willi”. Mereka semua termasuk Emi yang mendengar itu hanya bisa terdiam ikut merasakan apa sedang William rasakan saat ini.</p><p>Saat ini Boun sedang berada di rumah untuk menemani kakak tertuanya yang sedang libur itu. Sebenarnya Boun sudah memberitahu tentang kondisi Est ke Jimmy namun entah kenapa reaksi Jimmy seperti orang yang tidak peduli pada keadaan adiknya walaupun ia sendiri juga seorang Dokter. “Lu gak ada niatan buat jenguk Est gitu mas?”. Ucap Boun di sela-sela waktu menonton TV nya itu. Jimmy yang sedang fokus mengerjakan beberapa pekerjaan di laptopnya seketika terhenti dan melepaskan kacamata yang ia kenakan dengan kasar. “Bisa gak kamu gak usah bahas anak itu lagi? Itu salah dia sendiri karena udah pergi tanpa ngabarin siapapun, kerjaannya itu emang cuma bisa nyusahin kita bertiga aja kan Boun?”. Ucap Jimmy dengan emosinya yang sedang tidak stabil itu. Boun yang melihat sikap Jimmy yang sudah berubah semenjak Est menjalin hubungan dengan Drake membuat Boun benar-benar tidak menyangka. “Mas? Est itu masih adik lu loh mas, Est itu masih bagian dari keluarga kita, Est itu masih satu-satunya adik kandung kita dia juga termasuk bagian dari darah daging mamah sama papah kan mas? Bukannya mas sendiri yang bilang kalau Est itu beneran mirip sama mendiang mamah kan mas? Bukannya dulu mas bilang kalau mas mau melindungi Est supaya dia gak kenapa-napa kalau sampe beneran hal itu terjadi sama aja kayak mas gagal untuk melindungi mamah kan mas? Kenapa sekarang orang yang dulunya siap menjadi garda terdepan untuk orang yang mirip dengan mamah menjadi seperti ini mas? Kalau mas merasa Est itu orang yang paling menjijikkan di dunia ini kenapa mas masih mau tinggal di tempat yang ada orang kotor seperti Est mas?”. Semua perasaan yang selama ini Est tahan akhirnya diwakilkan oleh suara sang abang terkait sikap Jimmy yang benar-benar berubah sampai membuat ketiga adiknya itu merasa bahwa Jimmy bukan seperti Jimmy yang dulu yang mereka kenal. Jimmy yang mendengar ucapan Boun dengan cepat langsung segera pergi begitu saja meninggalkan laptop dan pekerjaannya sejenak untuk memenangkan dirinya di dalam kamar. Jimmy menangis di dalam kamarnya merutuki sikapnya yang sangat keterlaluan pada Est. Andai saja kalau dari awal Jimmy melihat Est dari sudut pandang yang berbeda, andai saja Jimmy tidak cepat menangkap berita yang kebenarannya tidak benar tentang adiknya itu secara mentah-mentah, andai saja Jimmy langsung menanyakan hal itu pada Est dan mau untuk mendengarkan semua penjelasannya langsung dari mulut adiknya itu. Mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi, mungkin sekarang Est masih tetap menjadi dirinya yang dulu dirinya yang ceria, dirinya yang selalu terbuka padanya, dirinya yang selalu bisa membuat hari-hari Jimmy menjadi berharga walaupun tanpa adanya kehadiran sang mamah di dalam perjalanan hidup anak-anaknya itu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=bfd460e6c573" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Dukungan terbaik]]></title>
            <link>https://medium.com/@mutiaracantika0528/dukungan-terbaik-284e4ee623fc?source=rss-e7b2eb05b321------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/284e4ee623fc</guid>
            <dc:creator><![CDATA[skybluee]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 17 Nov 2025 11:59:31 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-28T16:56:48.870Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*z7JcS_1zLuZvQwj0oSbx6w.jpeg" /></figure><h3>Dialah Orang yang Dicari</h3><p>Keesokannya setelah Daou memberitahu kabar mengenai William dan Est di grup pertemanan mereka kini Prim, Fourth, dan yang lain berencana untuk menjenguk mereka di Rumah Sakit. Prim bersama dengan yang lain memutuskan untuk pergi kesana setelah selesai kuliah agar waktunya bisa lebih leluasa untuk mengobrol bersama dengan Daou, Offroad, dan juga Nut tentunya. “Guys jangan lupa nanti sehabis pulang kuliah yang ada waktu senggang kita jenguk William sama kak Est juga ya”. Ucap Prim memberitahu anak-anak jurusannya. “Akhirnya ada jadwal jenguk mereka juga”. Ucap Santa yang masih sibuk menulis materi di papan tulis. “Sebenernya sih gua mau bahas ini dari kemaren tapi ngeliat banyaknya tugas dan kalian semua pada sibuk jadi baru sekarang gua bilangnya”. Prim kembali bersuara dan menjelaskan alasannya. “Kira-kira sekarang mereka lagi apa ya? Duhh takut deh gua kalo udah soal ngejenguk orang sakit gini”. Itu suara Pakin yang sedari tadi hanya menyimak saja. “Apa yang perlu ditakutin dah bang? Kalo ngomong yang bener aja napa”. Ucap Perth dengan nada kesal. “Gua takut ngeliat kondisi Est kayak beberapa tahun yang lalu Perth. Cukup di tahun kemaren aja gua liat Est kayak orang yang bener-bener sekarat dan bikin gua nangis, semoga aja pas di rumah sakit nanti keadaannya masih baik-baik aja”. Mendengar ucapan Pakin membuat Prim, Santa, dan yang lain terdiam dan terlintas pula di bayangan mereka gambaran waktu Est masuk Rumah Sakit dengan kondisi yang benar-benar tersiksa. “Udah bang jangan membuka luka lama yang udah berusaha buat dilupain”. Ucap Prim memperingati Pakin.</p><h4>~Sementara itu di Gedung Fakultas Musik~</h4><p>Mereka semua sedang mempersiapkan beberapa lagu baru untuk acara, gerakan dance baru, dan beberapa alat-alat lainnya yang masih kurang disana. Kurang lebih dua bulan lagi kampus mereka akan mengadakan acara untuk memperingati hari berdirinya kampus mereka tercinta itu, banyak sekali acara yang ingin beberapa jurusan tampilkan salah satunya adalah dari jurusan musik sendiri. Mereka hanya ingin menampilkan beberapa lagu, dance, dan juga solo album dari para mahasiswa musik yang sangat populer di kalangan kampusnya yaitu ada Fourth, Mabelz, William dan keempat sahabatnya yang dikenal dengan sebutan “The Error Gank” karena tingkah absurd mereka yang bikin orang-orang sakit kepala jika melihat ataupun mendengar kehebohan mereka setiap saat, namun dibalik kelakuan ajaib mereka saat perform di beberapa acara penting kampus lainnya juga tak kalah chaos. Bukan karena jelek atau memalukan tetapi karena benar-benar memukau banyak sekali penonton yang melihatnya dipadukan dengan suara mereka yang benar-benar membuat siapapun jatuh cinta ketika sudah mendengarnya. William sendiri juga tak kalah populernya dengan beberapa teman-temannya yang lain, beberapa tahun yang lalu hingga detik ini ia masih dikenal sebagai “The Face of University”. Beberapa orang mungkin mengenal kampus Tuna Bangsa adalah kampus yang bagus dengan segudang prestasinya namun siapa sangka justru mereka lebih mengenal Mahasiswanya atas banyak sekali prestasi yang ia raih pada setiap tahunnya. Siapa lagi Mahasiswa itu kalau bukan seorang laki-laki yang bernama William Jakrapatra Kanaven, yang juga sempat dijuluki “Anak Emas” di kampusnya dan di jurusannya, sebenarnya jauh di dalam hatinya William tidak suka dengan cara kampus memperlakukannya karena menurutnya hal itu terlalu berlebihan untuk manusia biasa seperti dirinya itu. Sudah beberapa kali pula William meminta untuk tidak memberikan julukan-julukan aneh untuk dirinya yang dapat menimbulkan rasa iri sesama Mahasiswa lainnya karena ia takut hal itu dapat membuat teman-teman satu jurusannya juga ikut berpikir bahwa hanya dialah yang diperhatikan dan di berikan perlakuan khusus dari kampusnya sementara masih banyak sekali tentunya teman-temannya yang jauh lebih berbakat dibanding dengan dirinya.</p><p>Kembali lagi ke teman-teman William, disana terlihat Fourth sedang tampak kesusahan untuk menghafal koreo nya yang semakin hari semakin banyak. “Hahh susah banget sih”. Ucap Fourth ketika sudah mencapai gerakan dance yang terakhir. “Oh iya tadi Prim ngechat gua katanya hari ini anak-anak jurusannya mau ke rumah sakit buat ngeliat kondisi William sama kak Est”. Sambung Fourth. “Ayolah kita juga harus jengukin mereka berdua, ya sekurang-kurangnya ngejengukin si Willi juga gapapa banget”. Ucap Tui selaku sahabatnya menimpali. “Mau pada ke rumah sakit jam berapa?” Tanya Jane yang sedang membetulkan properti disana. “Abis pulang ngampus kayaknya udah kangen banget juga gua sama William”. Ucap Hong dengan nada sedihnya. “Yeuu alasan aja itu, aslinya lebih kangen ke bang Nut dia daripada ke bang William”. Mendengar ucapan Lego seketika membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. “Ada aja emang yapping nya nih bocah”. Ucap Acare yang sedang memperbaiki mikrofon di tangannya. Sementara yang dari tadi diledek hanya menatap tajam ke arah Lego. “Hehehe ampun bang”. Saat ditatap seperti hewan yang kelaparan membuat Lego menciut ketakutan dan segera menjauh dari Hong. “Yaudah nanti kabarin aja jadi atau gak nya biar gua bisa sesuaiin juga sama jadwal latihan kita nanti malem”. Ucap Mabelz selaku ketua pelaksana dari jurusan musik itu.</p><p>Sesuai dengan perjanjian dan kesepakatan anak-anak dua jurusan itu mereka akan berangkat dengan menggunakan dua mobil, satu mobil milik Perth dengan diisi oleh anak jurusannya satu lagi adalah mobil Mabelz yang diisi oleh anak jurusannya juga. Mobil Mabelz dikendarai oleh Fourth sementara mobil Perth tetap dikendarainya karena tidak ada satupun dari temannya yang berniat untuk membawa mobilnya itu. Saat ini mereka hanya datang dengan beranggotakan delapan orang, sisanya ada yang nanti akan segera menyusul dan ada juga yang tidak bisa hadir seperti Ciize dan Pahn karena mendadak mereka ada urusan yang tidak bisa ditinggal. Saat mereka sudah berada di lampu merah melihat seisi mobil yang hanya diam saja Jane berinisiatif untuk membuka suaranya, terlihat juga kalau Fourth sudah mulai menguap karena rasa kantuk yang terus mengganggunya.</p><p>“Mau tanya dong guys, itu mantannya kakak Est tau ga ya kalo dia lagi di rawat di rumah sakit?” Ucap Jane sembari mengelap tangannya yang kotor karena ia sedang memakan sebuah camilan di tangannya.</p><p>Mendengar pertanyaan Jane, Hong dan Lego hanya saling beradu tatap sementara yang lain hanya terdiam, Fourth yang mendengar pertanyaan Jane hanya bisa tersenyum pahit karena harus mengingat laki-laki bejat itu. “Gak usah bahas orang itu lagi ya Jane, kalaupun dia datang ngejenguk kak Est pasti dia bakalan di hajar part 2 sama bang Daou”. Jane terdiam merasa tak enak karena sudah salah bertanya dan membuat suasana menjadi canggung. “Sorry guys, gak seharusnya gua nanya kayak gitu”. Ucap Jane merasa bersalah. Mabelz yang berada di sebelah Jane hanya bisa menepuk bahunya pelan, “Gapapa Jane tapi lain kali jangan bahas tentang masa lalunya Est lagi ya”. Jane yang mendengar ucapan Mabelz hanya mengangguk pelan merutuki pertanyaan bodoh nya itu.</p><p>Saat di perjalanan menuju ke Rumah Sakit mereka melihat ada toko buah yang menampilkan berbagai macam buah segar di depan etalase tokonya.</p><p>“Itu di depan ada tukang buah mau mampir dulu gak beli buah buat William sama kak Est?”. Ucap Fourth bertanya pada teman-temannya. “Boleh deh gua juga mau sekalian nyari mangga manis buat William soalnya setiap sakit dia suka makan mangga yang manis”. Ucap Hong setuju dengan usulan Fourth. Sementara mobil yang di depan menyebrang, Perth selaku pembawa mobil menunggu rombongan anak musik yang sedang berbelanja buah di tepi jalan. Sadar karena mobil yang mereka tumpangi berhenti membuat Santa yang tertidur pulas di samping Perth terbangun. “Udah nyampe bang?” Tanya Santa dengan suara serak khas orang bangun tidur. “Belum ta itu rombongan depan lagi beli buah dulu”. Santa yang mendengar ucapan Perth ia hanya mengangguk dan berniat kembali melanjutkan tidurnya. Perth yang melihat Santa kembali tidur hanya bisa menggeleng dan tersenyum. Alasan Santa memilih untuk tidur di dalam mobil Perth karena ia sudah beberapa hari ini susah tidur, penyakit vertigo nya kambuh lagi jadi mau tidak mau ia harus begadang setiap malam. Selesai berbelanja buah anak-anak musik itupun kembali melajukan mobilnya diikuti dengan mobil anak-anak ilmu komunikasi di belakangnya.</p><p>Sesampainya di Rumah Sakit mereka semua berbondong-bondong menuju ruang rawat inap Est yang berada di lantai dasar sebelum akhirnya menjenguk William di ruang rawat inap nya yang berada di lantai tiga.</p><p>Dari kejauhan mereka semua melihat kedua abangnya Est yang sedang duduk termenung satu sama lain. Mereka segera menghampiri dan menyapa keduanya. “Selamat sore kak Juju, selamat sore bang Boun”. Ucap mereka secara serentak. Boun dan Junian lantas menoleh kearah sumber suara secara berbarengan dan saling tersenyum melihat kedatangan teman-teman dari jurusan adik kesayangannya itu. “Eh kalian, wah aku gak nyangka kalau temannya Est sebanyak ini”. Ucap Junian sambil agak sedikit terkejut melihat jumlah mereka yang cukup banyak. Pakin yang selaku sahabat baiknya Est langsung memberikan satu kantong plastik besar yang berisi buah itu kepada Junian. “Ini kak buat Est”. Melihat bingkisan yang mereka bawa membuat Boun maupun Junian mau tak mau menerimanya. “Kenapa harus repot-repot bawa buah kayak gini sih, lain kali kalau mau datang kesini datang aja ya”. Titah Boun selaku yang paling tua memberitahu mereka. “Santai aja bang, gak repot kok orang cuma bawa buah aja”. Fourth ikut menimpali sambil tersenyum. “Kak Est belum sadar ya bang?”. Tanya Hong mewakili mereka semua. Boun yang sedang di tanya itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan wajah yang sedih. “Belum Hong, kata Dokter dia baru bisa sadar kalau udah nemuin pendonor darah yang tepat buat Est”.</p><p>Mereka semua terdiam saat mendengar ucapan Junian tentang Est yang harus secepatnya mendapatkan pendonor darah. “Emang golongan darah kak Est apa kak Ju?”. Tanya Prim dengan penasaran. “Golongan darah Est itu langka jadi susah buat nemuin orang yang punya golongan darah yang sama kayak Est”. Ucap Junian menjelaskan pada Prim. “Langka? AB negatif kah kak?”. Ucap Santa hanya asal menebak. Junian yang mendengar ucapan Santa hanya bisa mengangguk pasrah mengingat susahnya mencari orang yang punya golongan darah AB negatif. Melihat Junian yang hanya mengangguk sebagai jawaban membuat mereka semua tidak menyangka kalau kondisi Est bisa separah itu.</p><h4>Flashback on~</h4><p>Hari ini kota yang Drake tempati sedang diguyur hujan yang sangat deras, ia berencana untuk pergi menjenguk Est di Rumah Sakit. Sebenarnya Drake agak sedikit takut dengan kedua kakak laki-laki Est jika ia beneran berkunjung kesana. Ia takut akan terkena pukulan lagi dari kakak-kakaknya Est itu. Namun Drake tidak peduli ia tetap akan berkunjung kesana karena ingin meminta maaf atas nama abangnya Mike. Penyebab Est kecelakaan adalah karena ditabrak oleh Mike yang waktu itu sedang dalam kondisi mabuk berat dan mengantuk, akibatnya ia jadi tidak sengaja menabrak seseorang dan karena takut sekaligus panik ia langsung melarikan diri begitu saja. Kembali ke Drake, kini ia sudah sampai di depan Rumah Sakit dan dengan ragu-ragu melangkah masuk. Dari kejauhan ia melihat keberadaan Boun dan Junian selaku kakak-kakak Est, mereka tampak kebingungan seperti ada sesuatu yang sedang mereka cari. Dengan hati-hati Drake melangkah dan membuat Junian maupun Boun menyadari keberadaannya. Saat melihat kedatangan Drake, Boun langsung maju dan menarik kerah baju Drake dengan penuh emosi. “Mau ngapain lu dateng lagi hah?!”. Bentak Boun</p><p>Drake yang sedang di caci maki oleh Boun hanya bisa terdiam sampai tidak berani menatapnya. “Bang, gua kesini mau minta maaf atas nama abang gua dan sekalian mau ngejenguk Est”. Ucap Drake dengan nada gemetar yang terdengar jelas dari suaranya. “Tunggu Drake maksud kamu apa?” Tanya Junian yang tidak mengerti dengan ucapan Drake barusan. “Maaf kak, s-sebenernya…”. Drake menghentikan kalimatnya sejenak sebelum akhirnya menarik nafas panjang untuk bisa melanjutkan ucapannya lagi. “Sebenernya abang gua Mike yang udah nabrak Est dan kabur gitu aja tanpa tanggung jawab sama sekali”. Beberapa detik kemudian setelah Drake menyelesaikan kalimat terakhirnya ia merasakan satu pukulan yang sangat kuat dari Boun, menyebabkan sudut bibirnya berdarah namun Drake hanya bisa menerima itu karena menurutnya ia pantas mendapatkan itu lagi setelah ia dan saudara kandung nya itu sudah berkali-kali menyakiti Est. “SEBENERNYA ADEK GUE PUNYA SALAH APA SIH SAMA KALIAN BERDUA!! KALAU ADEK GUE PUNYA SALAH TOLONG KASIH TAU SAMA GUE BILANG KE GUE DAN JANGAN TERUS-TERUSAN NGELIBATIN ADEK GUE KAYAK GINI”. Runtuh sudah pertahanan Boun untuk tidak mencaci-maki laki-laki di hadapannya ini, tubuh Boun merosot ke lantai sambil terus menangis mengingat betapa mengenaskan, hancur, dan, sakitnya menjadi seorang Estana Sudewa yang harus rela di salahkan oleh takdir setiap saat walaupun itu benar-benar bukan salahnya. Junian yang melihat sang kakak meraung dalam tangisnya hanya bisa ikut terduduk lemas sambil menenangkan kakaknya itu. Drake yang mendengar dan menyaksikan mereka hanya bisa terdiam, merasa sangat menyesal karena ia tahu dirinya tidak pantas untuk di maafkan setelah kejadian beberapa tahun yang lalu saat dirinya perlahan mengubah hidup Est menjadi bangunan tanpa cahaya, menjadi bangunan tanpa pondasi, dan menjadikan hidup Est benar-benar seperti dikutuk oleh waktu dan takdirnya yang terus-menerus berjalan. Setelah keadaan mulai membaik Junian mengajak Drake untuk berbicara empat mata dengannya. Kini mereka berdua sedang berada di rooftop Rumah Sakit, pikiran mereka entah melayang jauh kemana sampai menciptakan keheningan dua laki-laki tersebut. “Sebenarnya kak Juju sama bang Boun lagi nyari pendonor darah yang tepat buat Est Drake. Namun sayangnya golongan darah Est terlalu langka di dunia ini, bahkan di Indonesia sendiri jarang sekali ada orang dengan golongan darah seperti Est”. Mendengar ucapan Junian membuat Drake sedikit terkejut setelah mengetahui kebenaran yang sebenarnya. “Jadi maksud kak Juju golongan darah Est itu AB negatif?” Tanya Drake dengan rasa penasarannya. Junian hanya mengangguk sambil tersenyum simpul di wajahnya. Tanpa menunggu waktu lagi Drake segera menarik tangan Junian untuk melangkah keluar dan memintanya untuk mencari keberadaan Dokter yang menangani kondisi Est. Melihat perlakuan Drake yang secara tiba-tiba membuatnya sedikit menepis tangan Drake dan menatapnya dengan tatapan bingung. “Kenapa tiba-tiba kamu narik tangan kakak Drake?”. Ucap Junian sedikit tak nyaman dengan perbuatan Drake. “Kak Juju golongan darah gua sama Est sama kak, gua juga punya golongan darah AB negatif sama kayak Est. Tolong ambil darah gua aja biar bisa bikin Est sadar dan sembuh kayak semula kak”. Ucap Drake dengan penuh penyesalan. Junian yang mendengar itu sangat terkejut dan sedikit tidak percaya dengan ucapan Drake tadi. “A-apa? kamu jangan bercanda ya Drake”. Namun Drake dengan yakin menggelengkan kepalanya dan kembali menarik tangan Junian. “Kalau kakak gak percaya kita boleh langsung ketemu sama Dokter buat meriksa apa golongan darah gua sebenarnya”. Singkatnya hasil tes lab golongan darah Drake keluar dan menyatakan bahwa ia memang benar-benar memiliki golongan darah yang cocok dengan Est. Boun dan Junian benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini orang yang sudah menyakiti dan membuat hancur hidup sang adik adalah orang yang akan membantunya disaat keadaan seperti ini. “Saya tidak menyangka bahwa saya telah bertemu dengan pendonor darah yang cocok untuk Est”. Ucap Dokter Joss dengan penuh rasa lega. “Sekarang keputusannya ada pada kalian berdua selaku kakak dan keluarga pasien, transfusi darahnya ingin dilakukan kapan saja dan kalian bisa beri tahu saya nantinya”. Mereka berdua hanya mengangguk sambil menatap ke arah Drake dengan tatapan penuh harap tapi juga dengan tatapan yang tidak menyangka karena orang yang selama ini mereka cari adalah seseorang yang telah memberi luka paling dalam di hidupnya Est, dia adalah luka sekaligus obat untuk Est yang sedang dalam masa hancur sehancur-hancurnya, dia adalah orang yang telah memberikan banyak kepedihan di dalam hidup Est selama ini.</p><h4>Flashback off.</h4><p>Kembali kepada teman-teman dari William dan juga Est setelah mereka selesai berkunjung dan melihat kondisi Est yang masih berjuang dengan beberapa selang dan kabel-kabel panjang yang menempel pada tubuhnya, mereka hanya bisa mendoakan dan berharap Est dapat melewati masa kritisnya dengan cepat dan tanpa ada halangan apapun lagi pastinya. Dari mereka juga sudah ada beberapa yang meninggalkan gedung Rumah Sakit itu namun beberapa juga ada yang tetap menunggu sampai malam bahkan mereka berniat untuk bermalam di Rumah Sakit. Tidak lama, mungkin hanya sekitar semalam atau dua malam saja sebagai bentuk solidaritas terhadap teman mereka yang sedang sakit itu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=284e4ee623fc" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>