<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Nabilla Ramadhani Mantang on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Nabilla Ramadhani Mantang on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@nabillasnote?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*JybceM_iwoAWMjiDbbHTpQ.jpeg</url>
            <title>Stories by Nabilla Ramadhani Mantang on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Thu, 28 May 2026 04:54:53 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@nabillasnote/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Self Improvement Gak Harus Mahal: ini 5 Cara Gratis yang Mengubah Hidupku]]></title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote/self-improvement-gak-harus-mahal-ini-5-cara-gratis-yang-mengubah-hidupku-606b8a23e06b?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/606b8a23e06b</guid>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <category><![CDATA[self-love]]></category>
            <category><![CDATA[self-awareness]]></category>
            <category><![CDATA[self-care]]></category>
            <category><![CDATA[self]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Nabilla Ramadhani Mantang]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 17 Jul 2025 07:35:01 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-07-17T07:35:01.278Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*MZTX8v7p-RZnIwu-B_Ldug.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@miquel_parera_mila?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Miquel Parera</a> on <a href="https://unsplash.com/photos/text-yB7ghV4dSa4?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Pas denger kata s<em>elf improvement</em> mungkin hal-hal yang terbesit dalam pikiran kamu kayak kita punya jadwal sibuk setiap hari, ikut berbagai kegiatan produktif, ikut les ini itu, bisa punya banyak skill, dll. Well gak salah juga sih. Tapi itu bakal bikin kamu merasa <em>overwhelmed </em>dan <em>burn out</em> gak sih?</p><p>Gimana kalo kita sederhanain arti <em>self improvement</em> itu kayak mengubah diriku yang dulu suka begadang, bangun siang, ngerasa waktu sempit banget, menjadi diriku yang gak diburu-buru tiap pagi, bisa ngelakuin beberapa aktivitas produktif dalam waktu yang singkat yang bahkan dulu kita berpikir wah aku ga ada waktu untuk ngelakuin A, B, C di pagi hari. Atau bisa juga kita sederhanakan seperti diriku yang dulu belum punya skill komputer, skill jualan, skill menulis, skill ngonten, menjadi sekarang diriku bisa semua skill itu meskipun belum sempurna dan masih terus mengasah.</p><p>Dan menurutku kalau <em>self improvement</em> masih diartikan hal-hal yang sifatnya <em>upgrade</em> skill dan punya <em>time management</em> yang baik, itu agak sempit ya, karena kita adalah manusia yang kompleks. Bagiku <em>self improvement</em> juga bisa tentang <em>upgrade style </em>yang dulunya ga modis, gak bisa <em>mix and match</em> pakaian, sekarang jadi bisa, yang dulu gak peduli penampilan, gak merawat diri, gak paham skincare, <em>treatment</em>, olahraga, makanan sehat, sekarang jadi lebih peduli dan paham. <em>Self improvement</em> juga termasuk kita <em>aware </em>dengan kualitas iman dan takwa kita lho, misal bagi yang muslim yang tadinya sholat masih bolong-bolong, sekarang bisa sholat tepat waktu dan gak terlewat satu pun, yang tadinya masih cuma sholat wajib, sekarang ditambah sama shalat sunnahnya, yang tadinya belum bisa baca Qur’an sama sekali, jadi bisa baca meskipun tajwidnya masih belepotan, yang tadinya males sedekah, sekarang suka sesekali sedekah subuh, yang tadinya kalo puasa cuma di bulan ramadhan, sekarang suka coba puasa-puasa sunnah.</p><p><em>Self improvement</em> juga bisa lho termasuk <em>upgrade </em>akhlak, yang tadinya suka marah, jadi lebih bisa mengendalikan emosi, yang tadinya julid di sosmed, jadi bisa memilih kata-kata yang lebih baik, yang tadinya sama adik galak, jadi lebih lembut, dan masih banyak lagi.</p><p>Jadi,<em> self improvement</em> menurutku artinya kita meng-<em>upgrade</em> diri kita secara keseluruhan mulai dari dalam diri hingga luar, penampilan atas sampai bawah, serta <em>upgrade </em>wawasan dan skill.</p><p>Wah, keliatannya ribet dan terlalu <em>too much</em> ya?</p><p>Tapi percaya deh kalo udah dilakukan gak akan berasa dan bikin kita semakin sayang sama diri sendiri. <em>Self improvement </em>bagiku, adalah bentuk rasa bersyukur kita kepada Sang Pencipta, karena udah ngasih kita organ tubuh yang sempurna dan sehat, udah ngasih kita otak untuk berpikir, hati untuk merasa, penampilan yang sempurna, yang semuanya itu tinggal dirawat dengan sebaik-baiknya.</p><p><strong>Terus harus mulai dari mana? Apakah akan membutuhkan biaya yang besar? Gimana cara aku <em>maintain</em>-nya?</strong></p><p>Aku ga akan bilang kalau diri aku udah selesai meng-<em>upgrade</em> diri aku sehingga aku bisa nulis tentang ini. Karena kita gak butuh jadi sempurna dulu untuk berbagi kan?</p><p>Tentu aku notis banget perubahan dalam diri aku yang dulu sampai sekarang. Dan mungkin, teman-teman yang lain juga. Kayak yang aku bilang sebelumnya kalau <em>self improvement </em>dibagi menjadi 2 bagian yaitu:</p><ol><li>Bagian dalam; termasuk:</li></ol><p>a. Kesehatan tubuh: apa yang kita konsumsi, makanan yang disukai organ tubuh, olahraga.</p><p>b. Spiritual/<em>inner peace</em>: Menjaga hati, akhlak, banyak dzikir, kurangin dengar musik, <em>upgrade </em>kualitas sholat, ngaji, <em>set boundaries</em> dll yang sifatnya dimulai dari dalam diri dulu.</p><p>c. Pikiran/hati: Konsumsi bacaan yang menambah wawasan positif, baca novel yang isinya positif, baca buku self improvement, denger podcast, diskusi, fokus les 1 skill, latihan <em>mindfulness </em>dan meditasi, latihan punya sikap husnuzan ke orang lain, latihan gak dendam ke orang lain, latihan gak iri dengki dll.</p><p>2. Bagian luar; termasuk:</p><p>a. Belajar tentang <em>skincare </em>yang cocok.</p><p>b. Belajar <em>make up </em>yang simpel.</p><p>c. Belajar <em>mixes </em>and <em>matches </em>pakaian.</p><p>d. Jaga kebersihan rambut, badan, mulut, kaki.</p><p>e. Belajar cara ngomong yang baik, tegas tapi gak galak, belajar lemah lembut dan berbicara yang elegan.</p><p>f. Belajar bergaul dan basa-basi sama orang baru.</p><p>g. Belajar finansial management.</p><p>h. Belajar masak dan bersih-bersih, dan lain-lain.</p><p>Terus harus kah kita langsung mengeksekusi semuanya dalam satu waktu?</p><p>Tentu tidak sahabat. Hal pertama kali yang harus kamu lakukan adalah ambil waktu sejenak 1 jam, cek ke diri kamu sendiri saat ini apa kekurangan yang kamu miliki, dan apa kelebihan yang kamu miliki? <em>Self improvement</em> dimulai dari mengenal diri kamu sendiri, seberapa tahu kamu dengan value diri kamu sendiri. Lalu kalau sudah apa lagi?</p><p>Ini adalah 5 hal yang aku lakukan dan gratis untuk mengubah diriku:</p><ol><li>Melatih disiplin lewat sholat. Sebagai seorang muslim, aku punya prinsip sholat adalah tiang agama. Agama adalah kehidupan, dan kehidupan adalah agama bagiku. Jadi kalau tiangnya gak kokoh, gak kuat, maka kehidupan bisa runtuh. Maka melatih disiplin lewat sholat adalah hal gratis yang aku lakukan sebagai langkah mengubah hidupku.</li><li>Tidur lebih awal-bangun lebih awal. Aku pernah ada di waktu sering bangun kesiangan, gedebag-gedebug memulai hari, buru-buru memulai hari, kalau ke luar rumah, mesti ada aja yang ketinggalan. Aku pun merasa hari aku berjalan sangat buruk dan begitu cepat. Ketika aku memperbaiki jam tidurku, aku bisa mempersiapkan segalanya dari malam, dan pagi-pagi aku gak harus buru-buru dalam memulai aktifitas.</li><li>Rajin <em>journaling</em>. Tiap aku <em>burn out</em>, ngerasa lagi banyak tanggung jawab dan gak tau harus gimana, aku pasti <em>journaling</em>. Aku tuangkan hal apa saja yang sedang aku pikul, apa yang aku rasakan, apa yang bisa aku kerjakan sekarang, nanti, bagaimana langkah-langkah penyelesaiannya, hal apa saja yang bisa didelegasikan ke orang lain. Sampai, <em>goals </em>apa aja yang mau aku raih di bulan ini, bulan depan, skill apa aja yang mau aku asah. Sekarang sudah ada teknologi chat GPT aku ngerasa kebantu karena bisa mendapat arahan atau jawaban dari sana.</li><li><em>Decluttering</em>. <em>Yes</em>, <em>Decluttering </em>atau rapih-rapih adalah aktivitas gratis yang bermanfaat karena dampaknya aku jadi bisa tau pakaian apa saja yang sudah tak terpakai, <em>skincare </em>apa aja yang gak cocok dan gak aku pakai, <em>make up </em>apa aja yang gak cocok di aku, tas apa aja yang gak cocok dan udah ga aku pakai, serta masih banyak lagi. <em>Decluttering </em>bikin aku jadi lebih <em>mindful </em>dan dampaknya aku lebih bijak mengelola keuangan.</li><li>Menjaga kebersihan diri dan puasa. Kelihatannya sepele, tapi ini punya dampak yang besar lho ke diri sendiri. Berapa banyak orang yang gak peduli sama kebersihan luar dan dalam dirinya, jadi bikin penampilan gak maksimal dan cenderung kumuh. Puasa dalam hal ini kaitannya menjaga asupan makanan dan pilah-pilih jenis makanan apa yang boleh masuk ke dalam tubuh. Karena ternyata salah satu penyebab bau badan juga dari apa yang kita konsumsi. Orang yang rajin makan buah dan sayur, bau keringetnya pasti beda sama orang yang suka makan gorengan dan kering-keringan, banyak gula, dan merokok.</li></ol><p>Gimana? Simpel dan sederhana banget kan. Kalo kamu udah konsisten ngelakuin itu semua, percaya sama aku hidup kamu akan berubah jadi lebih baik. Kamu jadi lebih percaya diri dalam <em>personal branding</em>, dan yang pasti orang lain akan lebih menghargai kamu. Mulai sekarang dan rasakan dampaknya segera!</p><blockquote>Hai kenalin, aku Nabilla! Selain suka jalan-jalan, aku juga suka berbagi cerita dan pengalaman self-development-selama aku kuliah, kerja, dan berorganisasi.</blockquote><blockquote>Kalo kamu suka tulisan self development kayak gini, follow instagram (nbillarmdhn) dan medium aku supaya dapet notifikasinya yah! ^^</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=606b8a23e06b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[HOW TO BUILD AND MAINTAIN ZERO WASTE IN URBAN PLACES WITH SMALL LANDSCAPE WE HAVE?]]></title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote/how-to-build-and-maintain-zero-waste-in-urban-places-with-small-landscape-we-have-79b620723f8e?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/79b620723f8e</guid>
            <category><![CDATA[krisis-iklim]]></category>
            <category><![CDATA[sampah-plastik]]></category>
            <category><![CDATA[indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[sampah]]></category>
            <category><![CDATA[pengelolaan-sampah]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Nabilla Ramadhani Mantang]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 16 Mar 2025 08:04:59 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-03-16T08:04:59.787Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/663/0*tChtNVAvxWwKprhA.jpg" /><figcaption><a href="https://haluan.co/jerhemy-owen-taklukkan-gunung-sampah-bantar-gebang-anda-harus-lihat-ini/">https://haluan.co/jerhemy-owen-taklukkan-gunung-sampah-bantar-gebang-anda-harus-lihat-ini/</a></figcaption></figure><p>Pertanyaan ini muncul sebab gua mulai jengah sama pengelolaan sampah rumah tangga di Indonesia. Kalau kalian cari tahu, sampah rumah tangga menyumbang 40%-50% sampah di tempat pembuangan akhir (TPA), yang mana pihak TPA untuk mengelola sampah tersebut juga menghabiskan anggaran, yang bila kita lakukan pengelolaan sampah dengan baik dari rumah sendiri, maka kita bisa memotong anggaran negara untuk pengelolaan sampah, yang mana anggaran itu dapat dialokasikan ke sektor lainnya. Sorry kepanjangan.</p><p>Pertanyaannya, kenapa masyarakat kita belum mampu atau belum mau mengelola sampah limbah rumah tangga, seperti nasi bekas 2 hari yang lalu, sayur basi, buah-buahan busuk, lauk basi, sampah sayuran, kulit buah, kulit telur, sisa tulang ayam dll yang biasa kita sebut sampah organik yang kemudian dicampur dengan sampah anorganik seperti bungkus plastik permen, snack, teh kotak, susu kotak, kemasan pencuci piring, botol minum gelas dll?</p><p>Apakah karena malas?</p><p>Tidak ada waktu?</p><p>Kekurangan tempat?</p><p>Tidak tahu mau dibuang kemana?</p><p>Kita memang udah sering liat tempat sampah terpisah di tempat-tempat umum, tempat sampah organik terpisah dengan tempat sampah anorganik, tapi kita juga masih sering melihat tempat sampah hanya 1 untuk mencampur segala macam jenis sampah baik organik maupun anorganik.</p><p>Masalah pengelolaan ini akan gua ambil dari tempat tinggal gua sendiri. Sedikit cerita, gua setiap pagi di RT gua tinggal ada 2 orang yang bertugas mengangkut sampah yang ada di depan rumah warga. Setelah itu mereka membuangnya di pinggir jalan raya yang mana memang tempat itu sudah dilegalkan oleh RW setempat untuk membuang seluruh sampah rumah tangga di RW tersebut. Dan ini ga cuma gua liat di RW gua aja, tapi di gang lain pun di daerah lain, di kota lain di pulau jawa masih sering gue temuin.</p><p>Beda hal nya dengan di kampung gua di desa sana, ga pernah gua temuin tukang angkut sampah rumah tangga, karena seluruh sampah ‘diselesaikan’ masing-masing. Seperti contoh di rumah nenek gua, sampah organik seperti nasi basi mereka kasih ke ayam peliharaan untuk dimakan, sisa-sisa makanan lain dibuang ke kebun belakang untuk pupuk, toh akan hancur dengan sendirinya. Bahkan sering gua dapati tumbuh pohon cabe-mungkin nenek gue buang sambal ulekan yang udah basi waktu itu. Sedangkan sampah-sampah anorganik cuma dibakar dan dibiarkan gitu aja ampasnya. Gua tau ini masih salah karena asapnya mengeluarkan polusi baru, atau tanah jadi ikutan terkena polusi. Tapi gua belum akan bahas tentang itu karena gua mau bahas masalah yang ada di <em>urban places</em> atau area perkotaan.</p><p>Masalah pengelolaan sampah di area perkotaan yang coba gua cari tau akarnya dan gua asumsikan adalah mungkin karena kurangnya <em>landscape</em> untuk para individu atau keluarga mengelola sampah mereka. Dengan kapasitas rumah yang tidak terlalu besar, bagaimana mau memiliki tanaman atau tempat untuk kompos, kalau tidak ada tempatnya. Bagaimana mau memilah-memilih dan menyimpan sementara sampah anorganik kalau tidak ada tempatnya.</p><p>Lalu bagaimana solusi untuk masalah ini?</p><p>Gua berpikir di setiap kampung pasti lah punya setidaknya satu area yang cukup luas yang mana area tersebut seharusnya bisa dijadikan sebagai tempat pengelolaan dan tempat memilah-milah sampah warga setempat. Sehingga bagi warga yang memang tidak ada waktu dan tempat lebih, bisa menyimpan sampahnya di sana baik untuk sampah organik maupun anorganik. Sampe sini mungkin kalian sebagai pembaca mulai kebayang dong gimana ide ini bisa dikembangkan dan bisa dieksekusi.</p><p>Sampah-sampah organik yang dikumpulkan tersebut bisa diolah menjadi kompos, kompos bisa menjadi pupuk yang bermanfaat untuk kesuburan tanaman. Kita bisa jual atau pakai sendiri. Sedangkan sampah-sampah anorganik saat dipilah-pilih bisa dengan bebas kita kasih ke tukang rongsokan free, atau untuk pemulung free, atau bahkan bisa dijadikan ladang bisnis yang menghasilkan juga. Karena fakta mirisnya Indonesia <strong>IMPOR</strong> sampah anorganik berton-ton dari Belanda, yang mana harusnya bisa loh kalo kita mengandalkan sampah negeri ini. Coba bayangin dulu potensi cuannya di sini.</p><p>Masalah lainnya adalah <em>awareness</em> atau kesadaran individu yang masih belum mau tergerak untuk melakukan tindakan mulia ini. Bagaimana mau tergerak melakukan ide mulia ini kalau sekedar buang sampah pada tempatnya saja masih susah. Belum loh. Belum sampe gua kasih ide yuk pilah pilih sampah kita, yuk kita kelola jadi kompos, yuk kita bisa loh dapet cuan dari sampah. Belum.</p><p>Untuk mewujudkan ide ini gua ga mungkin sendirian. Gua butuh bantuan dari kalian semua yang baca, untuk tingkatkan kesadaran diri sendiri dulu, bangun kesadaran diri, miliki purpose kenapa gua harus melakukan ini, apa manfaat besarnya buat diri gua sendiri? Dll. Pemerintah dengan regulasinya juga sangat mempengaruhi terciptanya sistem <em>zero waste</em> yang berkelanjutan untuk Indonesia yang lebih baik. Jadi coba deh potensi cuan untuk negara tuh gak cuma cut off biaya operasional pemerintah loh. Tapi bisa juga cut off biaya pengelolaan sampah dengan cara bikin regulasi aturan pasal yang ketat dan ajarin warganya untuk mau praktekin ide gua.</p><p>Terima kasih udah baca. Saran dan masukan kalo mau silakan ya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=79b620723f8e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Back to Qur’an!]]></title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote/back-to-quran-5d5c2108b005?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/5d5c2108b005</guid>
            <category><![CDATA[quran]]></category>
            <category><![CDATA[moslem]]></category>
            <category><![CDATA[life-lessons]]></category>
            <category><![CDATA[pressure]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Nabilla Ramadhani Mantang]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 03 Dec 2024 14:38:42 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-12-03T14:39:31.031Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Back to Qur’an! | 2 Hal yang Allah Ajarkan Kepada Nabi Muhammad dan Kita (Umatnya) Saat <em>Under Pressure</em></h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Vn2efEAiHLBHFUdRtv2ZxA.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@tompumford?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Tom Pumford</a> on <a href="https://unsplash.com/photos/man-wiping-his-tears-T5lmpSYxnSU?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Tulisan ini adalah resume dari salah satu speech ustadz Nouman Ali Khan yang ku tonton di kanal Youtubenya saat beliau mendapat kesempatan speech di Jakarta.</p><p>Pas denger aku langsung merasa relate, dan ternyata ini yang aku cari-cari selama ini. Ustadz Nouman Ali Khan saat menyampaikan khutbahnya begitu detail dan diambil dari sumber yang sudah pasti kredibelnya, yaitu Qur’an dan Hadits. Ditambah, beliau juga sangat mahir berbahasa arab. Gak cuma mahir ngomong aja, tapi beliau paham detail grammarnya (nahwu shorof), asal muasal kata-kata dalam bahasa arab, terutama di Qur’an.</p><p>Dalam khutbah ini beliau menyampaikan tentang bagaimana Allah memotivasi Nabi kita Muhammad SAW, yang disampaikan dalam 2 surat Al-Muzzammil dan Al-Muddatsir. Dua surat tersebut turun saat awal-awal Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk berdakwah. Kalau kita merasa hidup kita saat ini sangat berat, mari kita sama-sama mengingat kembali dan merenungi bagaimana perjuangan Nabi kita dalam berdakwah pada masa itu. Masa di mana beliau dikatain orang gila dan ga ada yang mau percaya sama beliau. Kalau kita merasa hidup kita saat ini sangat berat, Nabi Muhammad mendapat tugas berat dari Allah untuk berdakwah, menjalankan misi penurunan Al-Qur’an beribu ayat, padahal beliau juga sama-sama manusia biasa seperti kita.</p><p>Iya, mungkin kamu berpikir, Nabi walaupun manusia biasa tapi kan backingannya juga Allah, ada malaikat Jibril yang bantuin selalu, tapi kan udah dijamin suci dari dosa. Well, pemikiran itu salah. Nabi adalah manusia biasa seperti kita yang juga punya nafsu. Kamu inget gak kisahnya Nabi Yunus yang sebel sama kaumnya dan meninggalkan kaumnya? Ya, karena itu tugas kenabian tidaklah mudah untuk dipikul oleh manusia yang memiliki keterbatasan. Apalagi tugas yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para Nabi. Sangat sangat sangat berat. Karena itu Allah dalam surat Al-Muzzammil menyampaikan kalau, Allah tau loh Nabi Muhammad sedang merasa ketakutan, under pressure, di bawah tekanan. Tapi apa yang Allah suruh? Kata Allah bangunlah hai Nabi Muhammad dan dirikanlah sholat Tahajud dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.</p><p>Kalau kamu berpikir Allah hanya membacking Nabi dan membiarkan kita yang bukan Nabi jalan sendiri begitu saja, gak dibantu, gak ditolong, atau pertolongannya lama. Pemikiran kita yang seperti ini harus segera dihapus, dan perbanyak istighfar. Justru diutusnya seorang Nabi dari kalangan manusia itu untuk memberikan contoh, untuk dijadikan role model, bahwa ini loh, yang bebannya seberat ini pasti Allah bantu. Apalagi kita yang manusia biasa aja ini, yang dilahirkan ke dunia tugasnya hanya untuk beribadah, yang gak dibebani tugas kenabian atau tugas berat dari Allah.</p><p>Maha baiknya Allah, Allah gak cuma ngasih tugas kenabian saja kepada Nabi kita, tapi juga ngasih tau begini lho cara menghadapinya. Allah ngasih arahan atas segala kegundahan, kebingungan yang kita hadapi. Gak seperti atasan kamu, yang cuma ngasih tugas tapi arahannya gak jelas (haha), mana kalo salah diomelin lagi, mau marah balik, takut dipecat. Haduh.</p><p>Begitu juga kepada kita manusia, Al-Qur’an Allah turunkan itu full berisi pedoman hidup. Full lengkap, selengkap-lengkapnya. Dari kamu bangun tidur, sampai tidur lagi, dari kamu lahir sampai meninggal, dari kamu mau cari jodoh sampe cari ilmu, ilmu politik, ekonomi, hukum, sains, semuanya ada di Qur’an. Ditambah dari hadist-hadist semakin mempermudah kita memahami Al-Qur’an.</p><p>Dalam surat yang kedua Al-Muddatsir, ustadz Nouman menjelaskan kalau AL-Muzzammil ini latar belakang turunnya karena Nabi kita berada di bawah tekanan secara internal, sedangkan Al-Muddatsir latar belakang turunnya karena Nabi kita terkena tekanan dari eksternal.</p><p>Pada saat itu, para petinggi Quraisy, orang-orang kaya raya di mekkah mengadakan meeting untuk menemukan ide campaign bagaimana mereka harus menyebut Nabi Muhammad dengan sebutan yang buruk agar semua orang tidak percaya dengan apa yang diucapkan Nabi Muhammad. Para petinggi itu membangun propaganda secara luas untuk menggagalkan dakwah Nabi. Kita tahu propaganda, kampanye yang diulang-ulang yang disebarkan secara luas apalagi sama influencer-influencer papan atas bisa membekas di benak setiap orang, dan setiap orang akan meng-iyakan, menjalankan, mengikuti. Begitu yang terjadi pada saat Nabi kita tinggal di Mekkah, para petinggi papan atas itu memutuskan untuk menyebut Nabi dengan sebutan gila. Kemudian propaganda itu tersebar luas. Bagaimana Nabi kita bisa menjalankan dakwah, bagaimana orang-orang bersedia setidaknya mendengarkan? Jika sudah tertanam kata-kata bahwa kita orang Gila, siapa yang mau mendengarkan? Mendekati saja sudah takut, justru kita dijauhi, dilempar, diusir sejauh-jauhnya.</p><p>Karena itu apa yang Allah suruh kepada Nabi saat menghadapi tekanan dari luar? Jalankan.</p><p>Allah tidak menyuruh Nabi kita mundur. Tapi teruslah berjalan, teruslah berdakwah dengan cara lemah lembut. Kita tahu kan bagaimana akhlak Nabi Muhammad SAW yang luar biasa mulianya. Itu juga yang ingin Allah ajarkan kepada kita, tetaplah hadapi dunia, mulailah. Jangan menunggu motivasi, jangan menunggu ini, itu, tapi mulai saja dulu. Hadapi dengan keyakinan, jangan mundur. Hadapi dunia, hadapi tekanan tersebut, hadapi tantangan tersebut. Allah tidak tidur, Allah selalu ada untuk mem-backing kita, sebagaimana Allah membacking Nabi Nabi Nya. Allah ada di dekat kita, Allah melihat kita, Allah tidak membiarkan kita sendirian menghadapi dunia dan segala permasalahannya.</p><p>Dan ingat, Allah memberi pesan, saat segalanya berat, datanglah kepada Ku di sepertiga malam. Saat hamba-hamba-Nya ada yang masih terlelap, bangunlah, sholatlah, dan mintalah segala yang kamu butuhkan, curahkan segala beban, dan mintalah segala bantuan dari Nya. Allah malu, saat hamba-Nya meminta, jika Dia abaikan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=5d5c2108b005" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Personal Branding Vs Pamer (Flexing), Apa Bedanya?]]></title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote/personal-branding-vs-pamer-flexing-apa-bedanya-953fc9773f92?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/953fc9773f92</guid>
            <category><![CDATA[flexing]]></category>
            <category><![CDATA[personal-growth]]></category>
            <category><![CDATA[marketing-branding-tips]]></category>
            <category><![CDATA[sosial]]></category>
            <category><![CDATA[personal-branding]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Nabilla Ramadhani Mantang]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 31 May 2024 21:26:47 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-05-31T21:26:47.080Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>perPersonal Branding Vs Pamer (Flexing), Apa Bedanya?</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*3FuhwbNupkyioy3d1zLuCA.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@austindistel?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Austin Distel</a> on <a href="https://unsplash.com/photos/three-men-sitting-while-using-laptops-and-watching-man-beside-whiteboard-wD1LRb9OeEo?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Sejak kehadiran covid-19 di Indonesia, orang mulai beramai-ramai produktif dirumah. Dari peristiwa tersebut saya, kita semua belajar banyak hal, termasuk personal branding. Saat saya kuliah pun di tahun 2018 -2019, saya belum mengenal apa itu personal branding, pun saya bahkan tidak pernah mendengar istilah itu sama sekali. Ketika semua aktivitas dilakukan dirumah saja, semua institusi berlomba-lomba mengadakan pelatihan, kursus, webinar, dan tema personal branding, menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan.</p><p>Personal branding sendiri adalah suatu hal yang positif. Manusia, barang, atau apapun pasti memiliki pandangan berbeda-beda di mata manusia lainnya, tergantung bagaimana kita dikemas. Karena kebanyakan orang lain akan melihat kita dari cover, serta isi, yaitu bagaimana kita bertindak, pengetahuan apa yang kita miliki, skill apa yang kita kuasai, itu menjadi suatu istilah yang disebut mem-<em>branding </em>diri. Sama halnya dengan barang, produsen akan membuat barang yang nantinya akan digunakan oleh target pasarnya. Semua disusun mulai dari bagaimana fungsi barang itu bekerja, kualitasnya, bungkusnya, cara dijualnya, sehingga akan memberikan persepsi di masyarakat entah barang itu berkualitas baik atau jelek, maka itulah juga yang disebut branding.</p><p>Lalu, kita masuk ke pertanyaan pembuka, memang sepenting apa personal branding? Kenapa kita harus membranding diri kita? Apa dampaknya dalam kehidupan?</p><p>Menariknya, dalam berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita bersikap, kita sedang membentuk branding diri kita di mata orang lain. Orang lain yang mengetahui kita baik skill yang kita kuasai, pengetahuan yang kita miliki, bagaimana cara kita berpakaian dan berbicara, serta bertindak, dari sana kita akan dinilai orang lain. Bagi saya pribadi ini penting, karena bukan tidak mungkin akan membuka jalan rezeki bagi saya kedepannya. Orang-orang mengenal saya lebih baik dan akan merekomendasikan saya dalam suatu pekerjaan atau proyek, sehingga saya bisa menjadi orang yang bermanfaat lagi berpenghasilan.</p><p>Selanjutnya tinggal Anda pikirkan sendiri, apakah personal branding penting untuk diri Anda? Apakah Anda mau dikenal banyak orang karena kemampuan, dedikasi dan integritas yang baik? Apakah Anda mau mendapat pekerjaan, proyek yang dibayar mahal? Tentukan dari sekarang!</p><p>Lalu, apakah personal branding itu sama dengan <em>flexing</em>?</p><p>Istilah flexing juga kebetulan ramai dibicarakan semenjak peristiwa covid-19. Semua orang banyak menghabiskan waktu dengan sosial medianya. Aplikasi tiktok menjadi paling banyak digunakan untuk menghibur diri ditengah peraturan yang memaksa kita dirumah saja. Dari peristiwa itu kemudian sampai sekarang, munculah para content creator dengan masing-masing niche nya. Berbagai cara mereka lakukan untuk menghibur diri atau orang lain, dan salah satunya dengan flexing.</p><p>Melansir dari salah satu Thesis Jurnal penelitian Universitas Negeri Jakarta, yang berjudul <em>Lifestyle: Flexing Behavior in Social Media, </em>pada tahun 2022, di berbagai sosial media terutama Tiktok, orang-orang banyak memperlihatkan kepada publik besaran penghasilan mereka, dan bagaimana mereka menghabiskan jutaan rupiah untuk biaya hidup. Tindakan ini tidak hanya dilakukan oleh <em>upper class </em>(kelas atas) tetapi juga oleh <em>middle class </em>(kelas menengah) dan <em>lower class </em>(kelas bawah). Sedangkan masih banyak juga penghasilan orang indonesia yang berada di bawah standar minimum pendapatan daerah. Tentunya ini dapat menimbulkan kecemburuan sosial ditengah masyarakat, karena tingginya gap perekonomian di sekitar kita.</p><p><strong><em>On the conclusion, flexing is often considered as deception because the doer usually doesn’t show his/her reality On the conclusion, flexing is often considered as deception because the doer usually doesn’t show his/her reality </em>(Alton, dkk)</strong>. Yup Flexing seringkali dikategorikan dengan kepalsuan, karena pelakunya seringkali tidak memperlihatkan kehidupan mereka yang sebenarnya.</p><p><strong>Flexing lebih mengedepankan memperlihatkan kemampuan, barang mewah, jalan-jalan ke tempat wisata/luar negeri, makan makanan mahal di restoran mewah, tanpa memberikan manfaat untuk sekitarnya</strong>. Flexing banyak digunakan pelakunya sebagai bentuk panjat sosial, agar mereka mendapat perhatian dan semakin dikenal banyak orang, tidak peduli jika rumah yang tinggali hanyalah rumah sewaan, mobil sewaan, perhiasan sewa, pakaian sewa dll.</p><p>Berbeda dengan personal branding yang lebih memperlihatkan secara aktual kemampuan, prestasi, dan kebermanfaatan yang bisa dibuktikan dengan bagaimana mereka memberikan kontribusi dalam pekerjaan, dalam usahanya di masyarakat, tentunya dikemas dengan tanpa kemewahan yang berlebih-lebihan. Saat flexing kita tidak peduli dikenal sebagai pribadi yang seperti apa, kita tidak memperhatikan perbuatan kita, sikap kita kepada orang lain, kita bisa saja bertindak seenaknya, karena yang akan dituju hanya memperlihatkan kemewahan. Sedangkan personal branding, kita akan sangat memperhatikan adab dan akhlak kita dimata orang lain, karena akan mempengaruhi persepsi orang lain. Bukankah sudah fitrahnya kita ingin dikenal jadi orang yang baik?</p><p>Bagaimana menyikapi pandangan orang lain jika niat kita sebenarnya ingin Personal Branding, namun “takut” terlihat sedang flexing?</p><p>Saya sendiri, tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Yang penting bagi saya adalah meluruskan niat, karena niat yang lurus, akan membawa kita pada perbuatan yang lurus. Kita tidak perlu pusing dengan prasangka orang lain, apakah mereka menilai diri kita sedang pamer dll, namun tetaplah terus berprestasi sambil bermanfaat untuk orang lain.</p><p>Sekarang kita lihat, kita tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ulama terdahulu yang memiliki ratusan karya, sebut saja Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Nawawi, Ibnu Sina, dll. Bukankah mereka juga mengukir prestasi? Bukankah mereka juga dikenal sebagai ulama hebat dengan pencapaian mereka dan bisa dikenal hingga hari ini karena karya mereka. Itulah bagaimana personal branding bekerja. Jika tidak ada personal branding, tidak ada karya, bagaimana mungkin mereka bisa dikenal hingga hari ini sebagai ulama besar yang bisa kita teladani. Wallahualam. Semua tetap kembali kepada Allah SWT yang menghendaki apapun yang terjadi. Pun dengan para ulama, personal branding mereka juga terjadi atas kehendak Allah SWT.</p><p>Personal branding dan flexing adalah dua fenomena yang berbeda meskipun keduanya sering terlihat di media sosial, terutama sejak pandemi COVID-19. Personal branding adalah proses membangun citra diri yang positif berdasarkan keterampilan, pengetahuan, dan tindakan seseorang, dengan tujuan untuk dikenal dan dihargai oleh orang lain. Ini dianggap penting karena dapat membuka peluang karir dan proyek yang menguntungkan.</p><p>Di sisi lain, flexing adalah tindakan memamerkan kekayaan atau kemewahan tanpa memperlihatkan realitas yang sebenarnya, yang sering kali dilakukan untuk menarik perhatian dan mendapatkan pengakuan sosial. Flexing cenderung menimbulkan kecemburuan sosial dan tidak memberikan manfaat nyata bagi orang lain.</p><p>Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa personal branding berfokus pada kemampuan dan kontribusi nyata seseorang, sementara flexing lebih pada tampilan kemewahan yang mungkin tidak mencerminkan kenyataan. Dalam menyikapi keduanya, penting untuk meluruskan niat dan fokus pada prestasi dan manfaat yang diberikan kepada orang lain, tanpa terpengaruh oleh penilaian orang lain tentang apakah itu dianggap pamer atau tidak. Personal branding yang baik dilakukan dengan niat yang tulus dan sikap yang baik, sebagaimana dicontohkan oleh ulama besar yang dikenal karena karya dan prestasi mereka.</p><p>Apakah tulisan ini bermanfaat? Bagikan ke teman-teman kamu ya!</p><p>Feel free dikusi di kolom komentar tentang pandangan kamu dari tulisan tersebut. Kritik dan saran akan sangat penulis terima untuk kemajuan penulis kedepannya :)</p><p>Follow me on Insta: nabillamantang</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=953fc9773f92" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Learn How to Have Blessed Time ala Scholars | Eng Ver | For People Who Always Don’t Have Enough…]]></title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote/learn-how-to-have-blessed-time-ala-scholars-eng-ver-for-people-who-always-dont-have-enough-f9a27c80a861?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f9a27c80a861</guid>
            <category><![CDATA[students]]></category>
            <category><![CDATA[time-thieves]]></category>
            <category><![CDATA[time-tracking]]></category>
            <category><![CDATA[time]]></category>
            <category><![CDATA[time-management]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Nabilla Ramadhani Mantang]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 03 Apr 2024 14:54:41 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-04-03T14:54:41.453Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Learn How to Have Blessed Time ala Scholars | Eng Ver | For People Who Always Don’t Have Enough Time in 24/7</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*qE0dKeHKZw-Ai7XoZ8v2gA.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@ikukevk?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Kevin Ku</a> on <a href="https://unsplash.com/photos/brown-analog-clock-aiyBwbrWWlo?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Unsplash</a></figcaption></figure><p>What comes to your mind when you read the word Scholars? When you hear it, you must immediately think of their physical appearance, wearing turbans like the habaibs, dressed in long robes, knowledgeable in religious sciences, righteous, dignified. It’s not wrong. But more precisely, the word Scholars comes from Arabic, which means knowledgeable people, both in religious and general sciences.</p><p>The Scholars of the past and contemporary are indeed great people whose goodness we should emulate. Their journey to becoming scholars as we know them today, their beneficial works for our lives today, are certainly worthy of being our role models and idols.</p><p>Scholars are human beings. We are also human beings. Every human is endowed by Allah with the same brain capacity, but with different strengths and weaknesses. Similarly, with Scholars, not all of them are normal human beings, in the sense that there are Scholars who have physical disabilities, yet they can still continue to produce works. If they can build works despite their disabilities, then we need to question ourselves how much we have learned to maximize the potential that Allah has entrusted to us? How many beneficial works have we produced at our current age?</p><p>Don’t worry, friend! It’s never too late to learn and create. We are commanded to learn from the moment we are born into this world until we enter the grave. As long as we are still breathing, there is available time that continues to pass, giving us the opportunity to learn.</p><p>Time is a Sword.</p><p>This proverb is not just any proverb. Time is a sword that, if used properly, will make its user feel extraordinary benefits, coolness, sophistication due to its sharpness. But if the user cannot use it properly, then they will be severely wounded by their own sword. Every minute, every second passes in vain. Do you realize that your age does not increase with the increase of years, but with the passing of seconds? Every second you pass, you cannot return to it.</p><p>A little story, as the writer of this article, I have experienced the consequences of wasting time. When something bad happened to me, the feeling of regret was incredibly painful. I had to graduate late from my university diploma studies, wasting millions of rupiah just because I was late in submitting one course’s assignment. Yes, you read that right. Just because I was late in submitting ONE course’s assignment, I had to spend an extra year to graduate and pay additional tuition fees from my own pocket at that time. I deeply regretted that. But at that time, I still tried to ensure that the year was not wasted in vain. I added to my activities by participating in internships and part-time jobs. I thought that only regretting, sitting in contemplation, and crying wouldn’t give me extra money, wouldn’t increase my value. But regret must be accompanied by improvement because Allah, the Most Gracious, still gives opportunities in every moment.</p><p>The issue of time is something very serious for me. Even as you read this article, I am still learning to value my time, to make the best use of my time. I really dislike unnecessary meetings, unnecessary outings, meetings that could have been conducted effectively, and other things that, in my opinion, waste time. On the other hand, I am also that kind of person who often feels uncomfortable rejecting invitations from friends.</p><p>This issue then made me learn to find out what I should do to make my time every day useful and blessed, like the Scholars. For example, buying the book “Hello Habits” by Fumio Sasaki to learn to form good habits, reading the book by Stephen R. Covey, “The 7 Habits of Highly Effective People,” following the Muslim influencer Zhafira Aqyla who exemplifies a productive life with her weekly-daily planner, and watching lectures by scholars on YouTube about time management.</p><p>Some good habits that I have started to do include making daily to-do lists, weekly plans, getting used to not spending too much time on social media, and detoxing from social media.</p><p>Social Media is the Killer.</p><p>I dare say that social media is one of the killers of our daily time. Of course, I do not deny the benefits of social media, but again, everything used excessively will have a negative impact. One by one, I deleted the social media that I owned, such as Facebook, TikTok, and Twitter. Currently, I still often uninstall Instagram. I install it when I need to upload something, then shortly after, I uninstall it again. I still need those social media platforms in a certain dosage to voice my preaching, especially to young people.</p><p>How to achieve blessed time ala Scholars?</p><p>Blessed time is the blessing of our age. It’s not about how long we live, but what we have done and produced during our lives; that is the blessing. And to obtain that blessing is actually not difficult. This is what I learned from the books I read and the lectures I watched:</p><p>Pray on time. Read the Qur’an at least 1 page a day. Make daily and weekly to-do lists. Prioritize important things that align with our life principles and hearts. It is important to underline that every person has different life interests, life principles, and hearts. So, follow and believe in your principles as taught by Allah and His Messenger. Be consistent and disciplined. Because winners are not those who are the fastest, not those who are ahead, but those who dare to start and do not stop until they achieve their goals, in other words, focus! I hope what I have conveyed can provide additional insights for readers. Let’s advise each other in piety and patience in the comments section so that my writing becomes even better and of higher quality.</p><p>Thank you!</p><p>21:38 PM April 3, 2024, Tangerang City, Banten.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f9a27c80a861" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pelajari Cara Punya Waktu yang Berkah Ala Ulama | 24/7 Selalu Cukup Bagi Siapapun yang Cerdas…]]></title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote/pelajari-cara-punya-waktu-yang-berkah-ala-ulama-24-7-selalu-cukup-bagi-siapapun-yang-cerdas-bc8978854ec5?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/bc8978854ec5</guid>
            <category><![CDATA[students]]></category>
            <category><![CDATA[time-management-tips]]></category>
            <category><![CDATA[time]]></category>
            <category><![CDATA[time-thieves]]></category>
            <category><![CDATA[tips]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Nabilla Ramadhani Mantang]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 03 Apr 2024 14:51:46 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-04-03T14:52:01.621Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Pelajari Cara Punya Waktu yang Berkah Ala Ulama | 24/7 Selalu Cukup Bagi Siapapun yang Cerdas Memanfaatkannya.</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*qE0dKeHKZw-Ai7XoZ8v2gA.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@ikukevk?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Kevin Ku</a> on <a href="https://unsplash.com/photos/brown-analog-clock-aiyBwbrWWlo?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Apa yang terbesit dalam pikiranmu ketika membaca kata Ulama? Ketika kamu mendengarnya pasti kamu langsung berpikir fisiknya yang memakai sorban layaknya para habaib, berpakaian dengan gamis panjang, cerdas ilmu agamanya, sholeh, berwibawa. Memang tidak salah. Namun lebih tepatnya kata Ulama itu berasal dari bahasa arab yang artinya orang-orang berilmu, baik dalam bidang ilmu agama, maupun ilmu umum.</p><p>Ulama yang terdahulu maupun kontemporer tentu mereka adalah orang-orang hebat yang patut kita teladani kebaikannya. Perjalanan mereka hingga bisa menjadi ulama yang kita kenal akan keilmuannya hari ini, karya mereka yang bermanfaat bagi kehidupan kita saat ini tentu patut kita jadikan role model dan idola.</p><p>Ulama itu manusia. Kita juga manusia. Setiap manusia diberikan Allah kapasitas otak yang sama, namun dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Begitu juga dengan Ulama, tidak semua dari mereka adalah manusia yang normal, dalam artian ada loh ulama yang punya kekurangan fisik, namun mereka masih bisa terus berkarya. Jika mereka dengan kekurangannya mampu membangun karya, tentulah kita perlu pertanyakan diri kita sudah sejauh apa kita belajar memaksimalkan potensi yang sudah Allah titipkan? Sudah berapa banyak karya yang bermanfaat yang kita hasilkan di usia kita sekarang?</p><p>Tenang kawan! Untuk belajar dan menghasilkan karya masih belum terlambat. Kita diperintahkan untuk belajar dari mulai lahir ke dunia sampai masuk ke liang lahat. Selama kita masih bernafas disana ada waktu yang tersedia yang terus berjalan memberikan kita kesempatan untuk belajar.</p><p>Waktu adalah Pedang.</p><p>Pepatah tersebut bukan sembarang pepatah. Waktu adalah pedang yang jika digunakan dengan baik, akan membuat penggunanya merasakan manfaat luar biasa, keren, canggih akan ketajamannya. Namun bila penggunanya tidak bisa menggunakan ia dengan baik, maka dia akan terluka parah dengan pedangnya sendiri. 1 menit, 1 detik berlalu dengan percuma. Sadarkah kalian bahwa umur kalian bertambah bukan seiring bertambahnya tahun, namun seiring detik berjalan. 1 detik kalian lewati, makan kalian tidak dapat kembali padanya.</p><p>Sedikit cerita, saya sebagai penulis tulisan ini pernah merasakan akibat dari menyia nyiakan waktu. Yang ketika hal buruk itu terjadi pada diri saya, rasa sesal itu luar biasa sakitnya menimpa hidup saya. Saya harus terlambat lulus dari universitas studi diploma saya, membuang uang jutaan rupiah hanya karena saya terlambat mengumpulkan satu mata kuliah ujian. Ya, kalian tidak salah baca. Hanya karena SATU mata kuliah ujian yang terlambat saya kumpulkan, saya harus melewati satu tahun untuk lulus dan membayar SPP tambahan dari kantong pribadi saya sendiri waktu itu. Saya sangat menyesal akan hal tersebut. Namun saya saat itu tetap berusaha agar waktu satu tahun itu tidak terlewat sia-sia, saya tambah kegiatan saya dengan ikut magang dan kerja sampingan. Saya berpikir jika hanya menyesal, duduk termenung, menangis itu tidak akan memberi saya uang tambahan, tidak akan menambah value saya. Namun penyesalan itu harus dibarengi dengan perbaikan karena Allah yang Maha Baik, masih memberikan kesempatan di setiap detiknya.</p><p>Masalah waktu adalah hal yang bagi saya sangat serius. Hingga saat kalian membaca tulisan ini pun saya masih belajar menghargai waktu, memanfaatkan waktu saya dengan sebaik-baiknya. Saya sangat membenci pertemuan yang tidak perlu, jalan-jalan yang tidak perlu, rapat yang seharusnya bisa dilakukan secara efektif dan hal-hal lain yang bagi saya membuang waktu. Di sisi lain, saya juga adalah si manusia GAK ENAKAN, yang sering merasa sungkan menolak ajakan teman.</p><p>Masalah ini kemudian membuat saya belajar mencari tahu apa yang seharusnya saya lakukan agar waktu saya setiap harinya bermanfaat, dan berkah seperti para ulama. Membeli buku Hello Habits karya Fumio Sasaki misalnya untuk belajar membentuk kebiasaan baik, membaca buku Stephen R. Covey yang terkenal The 7 Habits of Highly Effective People, memfollow influencer muslimah Zhafira Aqyla yang mencontohkan hidup produktif dengan weekly-daily plannernya, hingga menonton kajian para ustadz di youtube tentang waktu.</p><p>Beberapa kebiasaan baik itu mulai saya lakukan contohnya membuat to do list harian, weekly plan, membiasakan tidak berlama-lama di sosial media hingga detox socmed.</p><p>Socmed is the Killer.</p><p>Saya berani mengatakan sosial media adalah salah satu pembunuh waktu kita sehari-hari. Tentu saya tidak menafikan manfaat sosial media juga sih, tapi kembali lagi segala sesuatu yang digunakan secara berlebihan akan berdampak buruk. Satu persatu sosial media yang saya miliki, saya hapus. Seperti Facebook, Tiktok dan Twitter (X). Saat ini instagram pun masih sering saya lepas pakai. Saya install ketika saya perlu mengunggah sesuatu, kemudian tak lama saya <em>uninstall</em> kembali. Saya masih membutuhkan sosial media tersebut dalam dosis tertentu untuk menyuarakan dakwah saya terkhusus anak muda.</p><p>Bagaimana cara meraih keberkahan waktu ala Ulama?</p><p>Keberkahan waktu, adalah keberkahan umur kita. Bukan seberapa lama kita hidup, tapi apa yang sudah kita lakukan dan hasilkan selama hidup itulah keberkahan. Dan untuk mendapat keberkahan itu sebenarnya tidak sulit, inilah yang saya pelajari dari buku-buku yang saya baca dan kajian yang saya tonton:</p><ol><li>Sholat tepat waktu.</li><li>Membaca Al-Qur’an minimal 1 hari 1 lembar.</li><li>Membuat To Do List harian dan mingguan</li><li>Prioritaskan hal yang penting yang sesuai dengan prinsip hidup kita dan hati kita. Penting untuk kalian garis bawahi setiap manusia punya kepentingan hidup, prinsip hidup dan hati yang berbeda. <em>So, </em>ikutilah dan percayalah dengan prinsip dirimu yang sudah Allah &amp; Rasulnya ajarkan.</li><li>Konsisten dan Disiplin. Karena pemenang bukanlah mereka yang tercepat, bukan mereka yang mendahului, tetapi mereka yang berani memulai dan tidak berhenti sebelum tercapai alias fokus!</li></ol><p>Semoga apa yang saya sampaikan dapat memberikan <em>insight</em> tambahan bagi teman-teman pembaca. Mari saling menasehati dalam ketaqwaan dan kesabaran di kolom komentar agar tulisan saya semakin baik dan berkualitas.</p><p>Terima kasih!</p><p>21.38 PM</p><p>3 April 2024, Kota Tangerang, Banten.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=bc8978854ec5" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pernikahan: Sandwich Gen Webinar by Ustadz Amar Ar Risalah Key Takeaways]]></title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote/pernikahan-sandwich-gen-webinar-by-ustadz-amar-ar-risalah-key-takeaways-646dcce03135?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/646dcce03135</guid>
            <category><![CDATA[financial-freedom]]></category>
            <category><![CDATA[marriage]]></category>
            <category><![CDATA[financial-planning]]></category>
            <category><![CDATA[sandwich-generation]]></category>
            <category><![CDATA[education]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Nabilla Ramadhani Mantang]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 Mar 2024 07:47:11 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-03-14T08:33:02.776Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/640/0*Owi-vlrT6xa3nVc-" /></figure><p>Rabu, 13 maret 2024 jam 4 sore aku berkesempatan mengikuti kajian online dari Ciremai Level Up dengan pembicara ustadz Amar Ar Risalah. Dalam kajian tersebut kami membahas sebuah tema pernikahan bagi generasi sandwich. Tentunya ini dilatar belakangi banyaknya netizen yang mengadu keberatan dengan biaya hidup setelah menikah karena ada keluarga yang masih harus dibiayai, sedangkan menikah adalah memulai kehidupan keluarga baru yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga.</p><p>Lalu bagaimana cara menyikapinya? Bagaimana cara menyelesaikan masalah ini sebagai orang yang mau menikah atau sudah menikah? Simak penjelasannya sampai akhir ya!</p><p>Akar masalah sandwich generation dimulai dari adanya perbedaan latar belakang generasi terdahulu dalam berbagai aspek, seperti pendidikan, cara bekerja/mencari kerja, cara hidup dan literasi keuangannya. Perbedaan tersebut menyebabkan beban generasi terdahulu menua tanpa tabungan, aset yang tersisa hanya tubuh dan tanah, tidak ada passive income, dan memiliki ilmu agama yang minim. Sedangkan beban generasi sandwich harus mengurus anak istri, ada kewajiban setor pada orang tua, sulit punya aset karena dana yang terbagi-bagi.</p><p>Jalan keluar dari permasalahan ini semua adalah:</p><ol><li>Memotong lingkaran setan sandwich generation:</li></ol><p>-Memiliki ilmu agama yang kuat untuk menjauhi riba.</p><p>-Memperbesar sumber pemasukan keuangan.</p><ol><li>Bersabar.</li></ol><p>-Pahami bahwa Allah telah menetapkan rezeki tiap hambanya. Tidak akan berkurang andaipun kita beri seluruh harta pada orang lain. Pahami konsep rezeki.</p><p>-Tidak akan bertambah andaipun kita lebih rajin bekerja. Karena itu hanya ikhtiar.</p><p>Dalam konteks ini saya merasa bahwa mungkin masih ada yang kurang memahami. Kita tidak tahu bagaimana Allah menuliskan atau menetapkan rezeki kita. Rezeki itu bermacam-macam bentuknya. Mendapat jodoh yang kaya misalnya, dijauhi dari bahaya, mendapat lingkungan yang baik, tinggal di daerah yang banyak airnya, lahir di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, mendapat beasiswa, menang give away dll. Sadari bahwa rezeki itu banyak bentuknya. Bekerja kita dari jam 7 sampai 5 sore itu hanya ikhtiar. Kita bisa membuka pintu-pintu rezeki lain dengan mencari kerja sampingan, usaha sampingan, menjadi content creator dll. Betul Allah telah menetapkan rezeki kita, betul jika memang sudah rezekinya tidak akan kemana, namun sudahkan kita memaksimalkan bergerak untuk mengambilnya?</p><p>Jalan keluar lain yang ditawarkan oleh ustadz Amar adalah memiliki aset.</p><p>Dalam kondisi Non Material Aset, aset terbaik adalah diri kita. Belajar, miliki minimal 3 skill untuk survive selama hidup.</p><p>Pertanyakan pada diri kita, kemudian tulis:</p><ol><li>Skill apa saja yang saat ini kita miliki?</li><li>Mana saja skill profitable yang saya miliki saat ini?</li><li>Skill apa yang profitable dan mau saya pelajari kedepan?</li><li>Berapa bahasa yang saya kuasai?</li><li>Berapa pintu rezeki yang saya buka hingga ke titik maksimal?</li></ol><p>Miliki juga aset non material berupa koneksi. Berjejaring, membuka silaturahmi dengan orang lain tidak dapat kita pungkiri merupakan jalan terbukanya rezeki. Berapa banyak orang sukses karena banyaknya koneksi yang mereka miliki? Buka pintu koneksi positif dengan siapapun melalui komunitas, mengaji, berorganisasi dll.</p><p><strong>Mengenal jebakan keuangan</strong></p><p>Masalah yang diderita oleh generasi sebelumnya dan berpotensi menurun ke generasi kita salah satunya adalah jebakan keuangan. Ustadz Amar membagikan bentuk-bentuk jebakan keuangan menjadi:</p><ol><li>Tidak dicatat. Catat pengeluaran harian yang kita sekecil mengeluarkan uang untuk bayar parkir, hingga sedekah. Dari sini kita akan mengetahui dimana letak pengeluaran terbesar dan terkecil, apa pengeluaran yang sebenarnya bukan prioritas, sampai tanggal berapa gaji kita sudah habis? Kebiasaan mencatat ini tentu akan memberikan dampak besar bagi generasi sandwich.</li><li>Mudah berutang. Ini adalah kebiasaan buruk yang tentu sebisa mungkin harus dijauhi. Pendahulu kita mudah sekali mencicil barang-barang yang bukan merupakan aset produktif. Mudah mengambil utang riba dll. Ini adalah masalah yang harus kita putus di generasi kita saat ini.</li><li>Gagal prioritas. Memahami apa yang menjadi prioritas bagi kehidupan kita sebelum memutuskan membelanjakan uang.</li><li>Pertemanan mahal. Ini banyak dialami generasi saat ini. Kita tidak seharusnya mengikuti gaya hidup orang lain yang pemasukannya berbeda dengan kita. Jangan menyiksa diri sendiri demi bisa membeli apa yang sebenarnya bukan jadi kebutuhan kita.</li><li>Terjebak dalam pekerjaan 7–17. Waktu adalah uang. Ini bukan sembarang pepatah, dan saya pribadi sering mengalami hal-hal dimana saya merasa terbuangnya waktu saya juga berarti terbuangnya uang saya secara cuma-cuma. Jika kita merasa pekerjaan kita yang berangkat jam 7 pagi pulang jam 5 sore itu gajinya tidak sesuai, jangan ragu untuk keluar dan mencari pekerjaan lain yang lebih layak. Bahkan kita bisa menghasilkan lebih dari gaji kita. Carilah pekerjaan yang masih memberikan kita waktu untuk berkembang.</li></ol><p><strong>Uang Diminta Orang Tua Tidak Akan Membuat Miskin.</strong></p><p>Dalam kajian tersebut ustadz Amar juga membagikan masukkannya pada kita bahwa perlunya kita mengaji, memiliki tauhid yang kuat sebagai akar yang menguatkan kehidupan kita. Pelajari bagaimana Allah Ar-Razzaq menetapkan rezeki hambanya dan teruslah berprasangka baik. Sedekah paling utama adalah sedekah pada orang tua, keluarga, kerabat, tetangga, orang susah terdekat baru jika masih ada sisa kita bisa sedekah pada orang lain yang jauh.</p><p>Kesimpulan yang saya dapatkan dari kajian tersebut selama kurang lebih 1 setengah jam adalah perlunya kita memiliki ilmu dalam agama dengan tauhid yang kuat sebagai landasan dalam menjalani hidup. Memperbesar corong pemasukan, dan memperhatikan kemana kita membelanjakan uang kita. Tidak berpuas diri, terus belajar mengasah skill yang profitable agar kita bisa survive dengan skill lain yang kita miliki ketika sudah tidak bekerja dengan gaji bulanan.</p><p>Saya ingin menambahkan, yang disampaikan oleh ustadz Amar adalah saran paling realistis. Mungkin kita masih merasa sedikit denial, yah sama aja dong? Intinya kita tetap harus menjadi tulang punggung namun bedanya ya harus bekerja lebih keras lagi? No, stop berpikir demikian. Hilangkan pikiran bahwa keluarga kita tidak akan bisa hidup tanpa kita. Karena Allah telah menjamin hidup dan rezeki setiap hambanya. Mungkin rezeki orang tua kita, saudara kita, adik kita, telah dititipkan kepada kita. Keluarga kita adalah tanggung jawab sekaligus anugerah yang harus kita syukuri. Dan pahami, bahwa setiap perbuatan ada balasannya, jangan pernah terbesit pikiran untuk menelantarkan keluarga kita. Tenang, dunia ini memang tempatnya kita sengsara, dunia ini bukan tempat senang-senang. Nikmati keadaannya, tetaplah hidup dan mencukupi diri demi dapat terus beribadah sebelum Dia menjemput kita.</p><p>Ada yang mau disampaikan? Yuk diskusi di kolom komentar!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=646dcce03135" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Maaf, aku masih banyak khilafnya..]]></title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote/maaf-aku-masih-banyak-khilafnya-bf55f4467edd?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/bf55f4467edd</guid>
            <category><![CDATA[spirituality]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Nabilla Ramadhani Mantang]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 25 Jan 2024 09:23:12 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-01-25T09:28:23.409Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*7RRPCa2isKVFt89wreYHqg.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@hcphotos?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Hrushikesh Chavan</a> on <a href="https://unsplash.com/photos/a-cup-of-coffee-and-a-book-on-a-table-R_z0epttP-E?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Halo, kenalin nama gue Nabilla, gue terlahir sebagai seorang muslimah. Orang tua dua-duanya muslim dari lahir dan gue sering terpapar hal-hal yang berbau agama sejak gue kecil. Oke segitu dulu intronya, buat yang mau tau gue siapa langsung aja cek bio gue yah!</p><p>Sore itu gue memutuskan untuk membuka sosial media dan mendengarkan ceramah ustadz Felix Siauw, dia bilang buat teman-teman non-muslim yang mau login, sebaiknya jangan lihat bagaimana orang-orang muslim, tapi lihatlah islamnya. Deg! Gue setuju.</p><p>Menjadi seorang muslim dari lahir dan hidup di lingkungan muslim bersama orang tua yang muslim adalah rezeki yang harus disyukuri. Mempertahankan keimanan dan syariat sebagai seorang muslim adalah perjuangan dan doa yang semestinya dilangitkan. Karena tidak ada akhir hidup yang indah melainkan kembali ke sisi-Nya sebagai seorang muslim. Gue gak merasa tinggi hati dengan orang-orang diluar sana yang mungkin hari ini masih belum mendapat hidayah-Nya. Karena itu semua adalah rahasia-Nya. Mereka tetap berpotensi menjadi hamba yang Allah cintai di akhir hidupnya, sedangkan kita? Akankah akhir hidup kita tetap menjadi hamba yang Dia cintai?</p><p>Islam adalah satu-satunya agama yang Allah akui di sisinya. Dan sejatinya kita semua manusia fitrahnya terlahir menjadi orang islam, namun lingkungan dan orang tuanyalah yang membentuk setiap individu menjadi siapa dan apa agamanya. Islam bukan sekedar agama. Islam adalah praktik kehidupan, hukum berkehidupan yang sesuai dengan apa yang diridhoi-Nya. Agama tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh apapun. Karena itu gue termasuk orang yang sangat keras dan tegas menyatakan bahwa agama adalah pondasi, tiang-tiang, atap yang didalamnya kita berlindung, kita merawat, kita bersikap, kita membuat keputusan, kita berkehidupan.</p><p>Sampai hari ini, gue masih terus berusaha hidup normal, menerapkan hukum-hukum syariat, menerapkan apa yang diajarkan mulai dari tidur hingga tidur lagi, mulai dari menyendiri hingga bersosialisasi semua gue usahakan berpedoman pada apa yang diajarkan Rasulullah SAW (Nabi penyempurna di akhir Zaman).</p><p>Gak semata-mata gue muslim terus ya udah gitu menikmati keislaman gue. Gue tetep ada effort dan kewajiban menjemput islam yang sesungguhnya. Karena itu, stop berekspektasi berlebihan ke gue. Gue masih belum jadi orang yang sholehah, belum pantas disebut alim, belum pantas dikagumi apalagi dijadikan contoh. Tapi gue sedang berusaha berjalan kesana. Gue gak mentingin hasil apa yang akan gue dapet ketika gue menjemput islam di mata manusia. Yang mau gue dapet dari hidup ini adalah keridhoan Allah SWT. dan ketika ridho Nya sudah kita dapat maka setelah itu terserah Allah. Tentunya kita berharap Allah memberikan kebaikan dalam hidup kita.</p><p>Iman ini masih naik turun. Kadang gue semangat ibadah, kadang gue loyo males-malesan. Kadang gue semangat berdakwah, kadang gue capek dan muak dengan apa yang gua sampaikan. Kadang gue bilang ke orang-orang A, tapi gue masih belum bisa mencontohkan A. Haha, lucu ya, kita pengen orang lain baik, masuk surga, tapi masih biarin diri kita dikobangan keburukan. Tapi gapapa, denger-denger, teman kita yang masuk surga juga bisa jemput kita yang masuk neraka.</p><p>Gue masih terus sangat bersyukur sama Allah, karena Dia menutup aib gue dengan sangat rapihnya. Ga ada yang tau kejahatan apa yang gue lakukan saat sendirian, prasangka buruk apa yang ada di dalam hati gue, kata-kata buruk apa yang ada di hati gue, atau bahkan niat buruk apa yang ada di dalam hati gue. Karena itu gue sejujurnya memang masih jauh dari bagaimana seorang islam yang seharusnya.</p><p>Karena itu gue setuju, jangan lihat bagaimana orang islam, tapi lihatkan islamnya. Lihatlah bagaimana islam telah mengatur segalanya dengan indah. Maka sejatinya peluklah islam tanpa melihat bagaimana orang-orangnya.</p><p>Kalian yang baca tulisan ini, gue minta doanya ya. Doakan semoga akhir hidup gue husnul khotimah.</p><p>Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga bisa menjadi pengingat untuk kita dan penyemangat! Feel free komen apapun untuk kebaikan tulisan gue dimasa depan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=bf55f4467edd" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Do You Reallly Love Yourself?]]></title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote/do-you-reallly-love-yourself-0dc13fe8c98e?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0dc13fe8c98e</guid>
            <category><![CDATA[definition]]></category>
            <category><![CDATA[lgbtq]]></category>
            <category><![CDATA[love-self-improvement]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Nabilla Ramadhani Mantang]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 29 Dec 2023 03:52:33 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-12-29T03:52:33.873Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*f3lNJkYMcDljqzHn7ODdAw.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@norbuw?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Norbu GYACHUNG</a> on <a href="https://unsplash.com/photos/people-gathering-on-street-during-daytime-HcAU5A-e3YI?utm_content=creditCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=unsplash">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Gue pernah baca suatu kutipan, ada yang lebih penting dari menjadi diri sendiri, yaitu jadi seperti apa yang Allah mau. Well gue sangat setuju dengan kutipan tersebut.</p><p>Halo semua!</p><p>Sekian lama Medium gue biarkan berdebu, sekarang gue baru muncul ghirah lagi buat nulis dan publish tulisan. Nulis tentang Love Yourself ini sebenernya udah cukup lama ada di pikiran gue dan sekarang gue baru ada niat untuk bikin tulisan ini.</p><p>Sosial media yang liar hari ini, berbagai macam hal dipublikasikan, mulai dari tips produktivitas, milestone orang-orang yang berusaha melangsingkan tubuh, milestone orang-orang yang berusaha menghilangkan jerawat, orang-orang yang bangga mempublikasikan hasil operasi plastiknya, hingga tips membuat bekal suami ada disana. Banyak sekali orang-orang yang kemudian berdalih bahwa bebas melakukan apa yang mereka mau kepada diri mereka adalah bentuk mencintai diri sendiri. Ya, tentu ini gak salah. Namun, bila apa yang dilakukan merupakan bentuk mendzolimi diri sendiri kemudian berlindung dibalik kalimat mencintai diri sendiri adalah bentuk kesalahan. Kita tidak sedang mencintai diri sendiri.</p><p>Gue tahu dan amat sadar bahwa tindakan manusia di sekitar gue, yang gue lihat di sosial media adalah diluar kendali gue. Tugas gue terhadap sesama manusia bukan menghalang-halangi, marah-marah, dan bersuara keras terhadap apa yang mereka lakukan jika itu bentuknya kesalahan. Dari mana gue tahu itu kesalahan, padahal kan segala yang ada di dunia ini netral? Well, sebagai manusia normal, beragama dan berprinsip, Agama gue sudah mengajarkan aturan hidup dan jalan yang baik menuju kebahagiaan yang kekal. Sehingga ketika menurut gue itu gak sejalan dengan apa yang diajarkan di agama gue, maka tentu itu adalah bentuk kesalahan.</p><p>Mungkin ini terdengar aneh. Tapi ayolah, enggak sekonservatif itu kok. Islam, sudah mengajarkan segalanya. Al-Qur’an, hadits, ijma’ para ulama sudah mengajarkan segalanya yang haq dan yang bathil. Yang benar dan yang salah. Yang gelap dan yang terang. Islam bukan sekedar agama ritual. Tapi islam adalah agama yang mengajarkan bentuk prinsip hidup yang ideal sebagai manusia secara keseluruhan yang hukum-hukumnya gak cuma baik untuk pemeluknya namun juga baik bagi non-pemeluk islam.</p><p>Dalam hal mencintai diri sendiri, kita tahu bahwa cinta adalah bentuk sayang terhadap diri sendiri. Kita tidak mau ada yang menyakiti diri kita. Apapun yang bentuknya menjurus pada dzolim terhadap diri sendiri itu artinya kita tidak mencintai diri sendiri.</p><p>Kita berpikir menyukai sesama jenis (LGBT) adalah bentuk mencintai diri sendiri? Tidak, itu dzolim terhadap diri sendiri.</p><p>Kita berpikir bebas menentukan hidup mau seperti apa hingga melampaui batas itu bentuk mencintai diri sendiri? Tidak, itu dzolim terhadap diri sendiri.</p><p>Kita berpikir membiarkan tubuh berisi hingga <em>overweight</em> karena makan sembarang, tidak teratur, pola hidup berantakan, tidak olahraga itu bentuk mencintai diri sendiri? Tidak, itu dzolim terhadap diri sendiri.</p><p>Mencintai diri sendiri adalah memikirkan bagaimana caranya hidup dibawah ridho Allah, menjaga diri agar tetap sehat dan bugar demi dapat beribadah kepada-Nya, melindungi diri sendiri dari api neraka-Nya kelak di kehidupan selanjutnya. Maka itulah sebaik-baik mencintai diri sendiri.</p><p>Terus kita gak bebas dong dalam hidup ini?</p><p>Bukan. Bukan kita tidak bebas menentukan hidup mau seperti apa. kita bebas menentukan hidup selama itu masih dalam prinsip dan aturan yang Allah berikan. Allah tidak mengatur dan menurunkan hukum-hukumnya untuk membatasi kehidupan, tapi justru untuk melindungi.</p><p>Jangan terlalu jauh berpikir tentang apa yang akan kita dapat kelak di akhirat, coba pikirkan dampak yang kita dapat bila kita melakukan perbuatan bebas tersebut di dunia.</p><p>kita akan terkena penyakit menular, harta habis sia-sia, kita akan dikucilkan, kesehatan terganggu dll. Itulah yang harus kita pikirkan.</p><p>Seringkali gue berpikir mengapa masih ada orang yang mengatasnamakan cinta diri sendiri untuk perbuatannya yang melampaui batas. Kita manusia diberikan akal untuk berpikir dan hati untuk merenungi. Jauh dilubuk hati yang paling dalam, fitrah manusia berontak, tubuh kita berontak tidak mau melakukan perbuatan yang terlarang atau sia-sia. Namun kita secara tidak sadar mengikuti nafsu sebagai pengkhianat terbesar diri kita.</p><p>Tulisan ini tentu adalah pengingat bagi gue dan gue berharap dapat membuka pikiran dan hati kita semua agar semakin berhati-hati dalam berkehidupan di bumi.</p><p>Terima kasih sudah membaca tulisan ini.</p><p>Jangan ragu untuk berikan komentar, kritik apapun demi kebaikan dalam tulisan gue kedepannya ya!</p><p>Salam.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0dc13fe8c98e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Procrastination is a time thief, robbing us of valuable moments, opportunities, and even causing…]]></title>
            <link>https://medium.com/@nabillasnote/procrastination-is-a-time-thief-robbing-us-of-valuable-moments-opportunities-and-even-causing-afaf8038ab6e?source=rss-e8ea560b6b84------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/afaf8038ab6e</guid>
            <category><![CDATA[productivity]]></category>
            <category><![CDATA[planning]]></category>
            <category><![CDATA[procrastination]]></category>
            <category><![CDATA[self]]></category>
            <category><![CDATA[neuroscience]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Nabilla Ramadhani Mantang]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 17 Jul 2023 16:05:45 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-12-29T04:03:26.903Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Don’t Let Procastionation Eat Your Money</h3><p>Procrastination is a time thief, robbing us of valuable moments, opportunities, and even causing catastrophes in our lives. I&#39;ve personally experienced the repercussions of this habit, facing numerous setbacks due to missed deadlines. One such instance led to an additional year of tuition fees, forcing me to work harder during my final year to clear the dues.</p><p>These experiences have taught me to be more cautious in my daily activities. I&#39;ve come to realize that time is money, a potent weapon that can either empower or defeat us; it&#39;s the most valuable resource we possess.</p><h3>Staying focused and avoiding distractions has been an ongoing challenge. Social media, in particular, has been my Achilles&#39; heel, luring me away from important tasks. What may start as a one-minute break often stretches into an hour, causing regret and a cycle of repetition.</h3><p>To combat this, I&#39;ve delved into various strategies, watching videos on time management, setting priorities, and creating study and work plans. Additionally, I&#39;ve downloaded productivity apps, hoping they&#39;d help. However, I found most of these attempts futile.</p><p>Eventually, I realized that only two simple things were needed to curb my procrastination tendencies. Firstly, taking specific notes about daily, weekly, or monthly goals, and secondly, cultivating a fear of missed opportunities or guilt. By visualizing the consequences of not meeting deadlines or disappointing others, I feel motivated to complete my tasks promptly.</p><p>I encourage you to try this method as well and share your progress with me!</p><p>Incorporating these changes should make your article more effective in conveying your message about productivity and procrastination while maintaining readability. Remember to proofread the revised version to ensure accuracy and consistency.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=afaf8038ab6e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>