<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Nadiaa Jaemm on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Nadiaa Jaemm on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@nadiaajaeminn?source=rss-417bda50393b------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/0*2-72MLeTASZwUPt1</url>
            <title>Stories by Nadiaa Jaemm on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@nadiaajaeminn?source=rss-417bda50393b------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Tue, 26 May 2026 22:55:56 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@nadiaajaeminn/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Sebuah pertemuan tak terduga]]></title>
            <link>https://medium.com/@nadiaajaeminn/sebuah-pertemuan-tak-terduga-912e82844474?source=rss-417bda50393b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/912e82844474</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Nadiaa Jaemm]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 29 Dec 2025 22:57:48 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-12-29T22:59:25.152Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/368/1*C7hpATI3wIP0M7oBTqmvyA@2x.jpeg" /></figure><p>Arez melabuhkan daksanya di kursi depan piano. Ruangan itu diselimuti kegelapan pekat, tanpa celah cahaya sedikit pun. Namun, Arez tak butuh penerangan. Baginya, ada atau tidaknya cahaya tak akan pernah membuat perbedaan; netranya tetap tak mampu menangkap apa pun. Baru saja ia hendak menyentuh tuts piano, gema langkah kaki menginterupsi kesunyian.</p><p>Cklek.</p><p>Pintu berderit terbuka. Arez mengerutkan kening, menangkap aroma asing yang menyeruak masuk ke ruangannya. Ini bukan wangi yang ia kenali. Siapa yang berani mengusik teritorinya?</p><p>“Siapa?” tanyanya.</p><p>Hening. Tak ada jawaban verbal, hanya isak tangis yang tertahan di udara. Di ambang pintu, Valeria berdiri dengan napas tersedat, entah bagaimana ia bisa berakhir di sana. Ia menggigit telapak tangannya sendiri – sebuah pelarian kecil yang selalu ia lakukan setiap kali berusaha membendung tangis agar tidak pecah.</p><p>“Lo siapa? Kalau lo cari toilet, lo salah jalan,” ucap Arez, masih berusaha membalut suaranya dengan kesabaran.</p><p>“Tolong… jangan nyalain lampu,” pinta Valeria lirih. Suaranya bergetar. Ia tak sanggup jika harus ada pasang mata yang melihat kondisinya yang sehancur ini. Ia tak pernah tahu, bahwa sosok di hadapannya adalah seseorang yang dunianya memang telah lama kehilangan cahaya. “Izinin saya di sini sebentar.”</p><p>Arez sedikit memiringkan kepala, mempertajam pendengarannya untuk mengunci sumber suara. Perempuan ternyata, batinnya. Arez akhirnya memilih bungkam, membiarkan keheningan kembali mengendap sembari menunggu orang asing itu membuka suara lagi.</p><p>Valeria adalah seorang model papan atas, sosok yang wajahnya menghiasi papan reklame di seluruh penjuru kota. Namun, seusai syuting yang melelahkan hari ini, alih-alih menemukan pelipur lara, ia justru mendapati kekasihnya sedang sibuk bermesraan dengan aktris lain. Valeria hanya mampu bergeming. Mereka berdua adalah bintang besar; sudah setahun lamanya mereka menjalin hubungan rahasia, tertutup rapat dari jangkauan penggemar.</p><p>Citra yang mereka bangun di mata publik sangat bertolak belakang dengan kenyataan pahit yang terjadi saat kamera berhenti menyorot. Valeria mengakuinya dalam diam. Tanpa sepatah kata pun, ia memilih untuk membalikkan badan dan melangkah pergi. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa tidak akan pernah cukup untuk pria itu. Bahkan, ia merasa tak pernah cukup untuk dirinya sendiri.</p><p>She tried her best, but life never gave her enough space to breathe.</p><p>Entah bagaimana, ia bisa berakhir di ruangan ini. Gelap dan sunyi, hanya ditemani seorang pria yang wujudnya tak mampu ia tangkap dengan jelas. Valeria merasa sudah cukup tenang; ia tahu diri untuk tidak berlama-lama mengusik ketenangan di tempat asing ini. Dengan kasar, ia menghapus jejak air mata di pipinya, merapikan letak dress serta rambutnya yang sedikit berantakan, sebelum kemudian menyembunyikan kembali wajahnya di balik masker.</p><p>“Makasih, saya duluan,” pamit Valeria.</p><p>Ia mencoba mencari tahu sosok di hadapannya melalui celah ventilasi udara yang menyaring sedikit cahaya dari luar. Namun, sia-sia; Valeria hanya mampu menangkap siluet samar pemuda itu.</p><p>“Maaf sudah mengganggu privasi kamu.”</p><p>Suara pintu kembali terbuka dan tertutup. Perempuan itu telah pergi, namun ia meninggalkan jejak parfum yang masih tertinggal, aromanya seolah kaku mengendap di udara, memenuhi setiap sudut ruangan yang kembali sunyi.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=912e82844474" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kita]]></title>
            <link>https://medium.com/@nadiaajaeminn/kita-44f27a097bc2?source=rss-417bda50393b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/44f27a097bc2</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Nadiaa Jaemm]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 29 Dec 2025 16:01:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-12-29T16:01:26.419Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/368/1*hUOss1b66psAdzp7zTtysg@2x.jpeg" /></figure><p>Suara bising dari area utama kafe mendadak senyap begitu Arez menutup pintu kayu di ujung lorong. Ruangan itu tidak sepenuhnya sunyi; ada dengung pelan dari ventilasi udara dan detak jarum jam dinding yang hanya bisa dia tangkap kalau jika sedang sendiri. Di sini, udara terasa lebih diam, tidak bergejolak seperti di luar yang penuh hilir mudik orang.</p><p>Arez berjalan tanpa ragu. Dia sudah hafal jumlah langkah dari pintu menuju kursinya. Dia duduk, meraba sisi samping piano untuk memastikan letak barang-barangnya tidak bergeser, lalu menyandarkan punggung sejenak. Dia menikmati jeda itu sebelum jemarinya harus kembali bekerja di atas tuts.</p><p>Tiba-tiba, pintu di belakangnya terbuka.</p><p>Bunyi gesekan engselnya cukup nyaring untuk membuat Arez menoleh, meski dia tahu tidak akan ada apa pun selain kegelapan yang tertangkap matanya. Ada suara langkah kaki yang terseret, berat dan tidak beraturan, masuk ke dalam ruangan.</p><p>“Siapa?” tanya Arez datar.</p><p>Tidak ada jawaban. Sebaliknya, pintu itu ditutup kembali dengan bunyi klik yang pelan. Arez mendengar suara napas yang pendek-pendek, seperti seseorang yang sedang berusaha keras meredam sesak di dada.</p><p>“Cari siapa?” Arez mengulang pertanyaannya, kali ini sedikit lebih keras karena lawan bicaranya hanya diam.</p><p>Bukannya menjawab, suara yang terdengar justru gesekan kain saat orang itu merosot duduk di balik pintu. Arez terdiam. Dia bisa mendengar isakan yang tertahan sangat rapat. Perempuan itu sepertinya sedang membekap mulutnya sendiri, mencoba menyembunyikan tangis yang pecah, namun getaran tubuhnya yang menggigil pelan tetap mengirimkan resonansi kecil ke lantai kayu ruangan itu.</p><p>“Ini bukan toilet,” ucap Arez, tangannya masih diam di atas lutut. “Lo salah masuk ruangan.”</p><p>“Tolong…” Suara itu kecil sekali, gemetar. “Tolong jangan nyalain lampu. Sebentar aja.”</p><p>Valerie menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Matanya sembap, riasannya mungkin sudah berantakan, dan dia tidak ingin ada satu orang pun yang melihatnya dalam kondisi serendah ini – terutama dengan statusnya sebagai model yang harus selalu tampil tanpa cela. Dia tidak tahu bahwa pria yang duduk membelakanginya itu bahkan tidak bisa melihat bayangannya sendiri, apalagi wajah hancurnya.</p><p>Arez hanya memiringkan kepala sedikit. Dia tidak menekan tuts piano dengan kasar untuk mengalihkan suasana. Dia justru diam, memberikan ruang bagi suara isakan halus yang masih bersembunyi di balik telapak tangan perempuan itu. Dia bisa menebak ada seseorang yang sedang hancur di depannya, dan dia memilih untuk menunggu perempuan itu bicara lebih dulu.</p><p>Valerie perlahan meredamkan tangisannya. Dadanya masih terasa sesak, namun dia mulai bisa mengatur napas yang tadi berkejaran. Di dalam kegelapan ruangan ini, dia menyadari satu hal pahit; ternyata meski sudah punya semuanya, dia tak pernah merasa cukup. She’s trying the best, but her life never.</p><p>Setidaknya itu yang dia tahu sekarang. Kenangan beberapa jam lalu kembali menghantamnya seperti godam. Sehabis syuting iklan yang melelahkan, Valerie mendapati pacar backstreet-nya sedang berciuman dengan artis lain. Padahal pria itu datang dengan alasan menemaninya syuting. Valerie tahu, jika hubungan mereka terungkap, fansnya akan mengirimkan ribuan komentar jahat, tapi melihat pengkhianatan di depan mata tanpa bisa berteriak jauh lebih menyakitkan.</p><p>Tanpa mengucapkan satu kata pun, Valerie melarikan diri hingga berakhir di tempat asing ini. Duduk bersandar di balik pintu kayu, berbagi kesunyian dengan seorang pria yang dia tidak tahu wujudnya.</p><p>“Udah lebih tenang?” suara Arez memecah lamunan Valerie.</p><p>Valerie tidak langsung menjawab. Dia mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan, lalu merapikan rambutnya yang berantakan, meski dia tahu tidak ada yang bisa melihatnya di sini.</p><p>“Iya,” sahut Valerie pendek. Suaranya serak, sisa-sisa tangis tadi masih tertinggal di tenggorokannya. “Makasih karena nggak nyalain lampu.”</p><p>Arez tidak menyahut. Dia hanya mengangguk pelan, sebuah gestur yang hampir tidak terlihat dalam remang. Baginya, kehadiran perempuan ini hanyalah sebuah interupsi singkat yang membawa aroma kesedihan yang pekat.</p><p>Valerie bangkit berdiri dengan tumpuan pada gagang pintu. Dia sempat menatap ke arah siluet pria di depan piano itu sekali lagi. Dia ingin tahu siapa pria yang memberinya perlindungan tanpa bertanya ini, namun ego dan ketakutannya lebih besar. Dia tidak ingin pria itu berbalik dan mengenalinya sebagai ‘Valerie si Model Sempurna’.</p><p>“Gue pergi dulu,” ucap Valerie pelan.</p><p>“Pintu di belakang lo nggak terkunci,” balas Arez tanpa menoleh.</p><p>Valerie menarik napas panjang, membuka pintu sedikit, dan cahaya dari lorong kafe langsung menusuk masuk. Dalam detik itu, dia hanya sempat melihat garis punggung pria itu yang tegak sebelum dia benar-benar melangkah keluar dan menutup pintu kembali.</p><p>Dia pergi tanpa tahu nama pria itu. Dan Arez tetap di sana, kembali tenggelam dalam hitam yang menurutnya jauh lebih jujur daripada cahaya di luar sana.</p><p>Valerie baru saja menutup pintu ketika Arez kembali menangkap suara langkah kaki yang mendekat. Dia sempat mengira perempuan itu kembali, atau mungkin tertinggal sesuatu di dalam ruangannya. Arez hampir membuka mulut untuk bertanya, namun dia segera mengurungkan niatnya.</p><p>Baunya sudah berbeda.</p><p>Bagi seseorang yang sejak lahir tidak pernah mengenal konsep cahaya, Arez tidak mengenali manusia dari bayangan wajahnya, melainkan dari sisa aroma yang tertinggal di udara. Jika perempuan tadi membawa bau parfum bunga yang tajam dan emosi yang berantakan, orang yang baru masuk ini membawa aroma menthol dan sabun cuci yang familiar.</p><p>“Mon maaf, izin nyalain lampu ya, Abang ganteng,” suara khas itu terdengar, memecah kesunyian.</p><p>Itu Gian, adiknya. Sebelum Arez sempat melarang, bunyi sakelar ditekan dan cahaya lampu langsung memenuhi ruangan.</p><p>Begitu lampu menyala, wajah Arez yang tadi hanya berupa siluet gelap kini terlihat sangat jelas. Dia memiliki pahatan wajah yang nyaris tidak masuk akal; rahang yang tegas, hidung mancung yang proporsional, serta alis hitam yang tumbuh tebal dan rapi. Dalam terang, ketampanannya seolah berlipat ganda, memberikan kesan dingin namun memikat di saat yang bersamaan – tipe wajah yang biasa hanya ditemukan di panel-panel komik manhwa.</p><p>“Gak sopan, masuk gak ngetok pintu,” tegur Arez. Matanya yang tidak memiliki fokus itu tetap lurus ke depan, namun keningnya sedikit berkerut karena merasa privasinya terganggu.</p><p>“Tadi udah, Bang. Lo gak denger soalnya gue soft spoken,” jawab Gian enteng, tidak merasa bersalah sedikit pun. Dia melangkah masuk lebih dalam, mendekat ke arah kakaknya yang masih duduk di bangku piano. “Eh iya, yang lain udah nungguin di luar. Abang mau ke sana atau masih mau di sini?”</p><p>“Di sini,” sahut Arez tanpa jeda. Singkat dan tidak butuh diskusi lebih lanjut.</p><p>Gian hanya mengedikkan bahu, dia sudah sangat hafal dengan perangkap kakaknya. Dia menghargai keputusan itu tanpa banyak tanya. Mungkin Arez memang masih betah berlama-lama dengan pianonya, atau mungkin sedang ada sisa-sisa nada yang ingin dia selesaikan sebelum benar-benar beranjak dari dunianya.</p><p>“Bang, mainin satu nada buat gue. Yang menggambarkan sesuatu deh dari gue,” pinta Gian tiba-tiba.</p><p>Arez tidak langsung menjawab. Sudah biasa dia mendapat permintaan aneh dari adiknya itu. Meski sikapnya sering kali sedingin es, Arez tetaplah seorang kakak yang sulit menolak permintaan orang-orang yang dia anggap berharga. Baginya, Gian bukan sekadar adik, tapi penghubung paling jujur antara dirinya dan dunia yang tidak bisa dia lihat.</p><p>“Lo suka selera lagu yang gimana?” tanya Arez, jemarinya mulai menari ringan di atas tuts tanpa suara, seolah sedang mencari titik awal.</p><p>“Suka semua. Lo aja deh, Bang, atur dah. Lo yang nentuin,” sahut Gian santai. Dia menarik kursi kayu di sudut ruangan dan duduk terbalik, menumpukan dagunya di sandaran kursi sambil memperhatikan kakaknya.</p><p>Arez terdiam sejenak. Dia mencoba mengingat-ingat “warna” Gian dalam kepalanya. Gian itu berisik, ceroboh, tapi punya kehangatan yang konstan – seperti matahari pagi yang tidak pernah absen.</p><p>Tangan Arez bergerak. Dia menekan tuts di area middle-high. Bukan nada rendah yang berat, melainkan serangkaian nada mayor yang melompat-lompat ringan. Iramanya cepat, sinkopasi yang tidak terduga, namun ditutup dengan akord yang stabil dan nyaman. Bunyinya seperti tawa yang lepas, namun memiliki dasar yang kuat.</p><p>“Itu lo,” ucap Arez pelan setelah nada terakhir memudar. “Berantakan, tapi nggak pernah salah tempat.”</p><p>Gian terkekeh, suara tawanya persis seperti nada yang baru saja dimainkan Arez. “Bisa aja lo, Bang. Padahal gue ngerasa gue ini lebih ke genre rok yang pecah gitu.”</p><p>“Itu kalau lo lagi minta duit,” sahut Arez datar, yang langsung disambut tawa lebih keras dari adiknya.</p><p>Gian bangkit, menepuk bahu Arez sekilas sebelum beranjak menuju pintu. “Ya udah, gue duluan ke depan. Jangan kelamaan di sini, ntar lo lumutan bareng piano lo.”</p><p>Begitu Gian keluar dan menutup pintu, Arez kembali ditarik ke dalam keheningan yang familiar. Namun, kali ini ada yang berbeda. Aroma parfum bunga dari perempuan tadi masih samar-samar tertinggal di udara, beradu dengan gema tawa Gian yang baru saja hilang.</p><p>Setelah pintu tertutup rapat dan langkah kaki Gian menghilang, Arez tidak langsung beranjak. Dia kembali menghadap piano, namun kali ini gerakannya jauh lebih pelan, hampir ragu.</p><p>Jemarinya mendarat di atas tuts, menekan rangkaian nada C-Major 7 yang mengalun tipis. Suaranya tidak megah, justru terdengar sunyi dan mengambang. Nada-nada itu seolah merambat lambat, menciptakan ilusi atmosfer yang dingin di dalam ruangan.</p><p>Jika nada untuk Gian adalah tawa yang meloncat, maka nada kali ini adalah tentang kesendirian yang terjaga.</p><p>Dalam kepalanya, Arez seolah sedang duduk di sudut sebuah bus yang melaju membelah malam. Dia bisa merasakan hawa dingin yang merambat dari kaca jendela, mendengar rintik hujan yang menghantam logam atap dengan ritme yang menenangkan.</p><p>Nada itu terasa “abu-abu”, jika saja Arez tahu seperti apa warna abu-abu itu. Ada rasa tenang yang sedikit menyesakkan, persis seperti sisa aroma parfum bunga milik perempuan tadi yang masih mengendap di udara.</p><p>Arez memejamkan mata, membiarkan satu nada terakhir berdengung panjang hingga benar-benar lenyap. Dia tidak tahu kenapa, tapi perempuan asing yang menangis di balik pintunya tadi telah meninggalkan sebuah melodi baru yang belum pernah dia temukan sebelumnya. Melodi tentang seseorang yang mencoba untuk tetap berdiri di bawah guyuran hujan yang tidak kunjung reda.</p><p>Arez menurunkan penutup tuts piano dengan gerakan perlahan, seolah takut merusak sisa nada yang masih menggantung di udara. Suara klik kecil saat kayu itu bertemu menjadi tanda bahwa sesi menyendirinya sudah berakhir.</p><p>Dia merogoh saku, mengeluarkan white cane yang terlipat rapi, lalu membukanya hingga tongkat itu memanjang dengan bunyi logam yang solid. Arez bangkit berdiri. Tangannya bergerak menyisir udara sejenak sebelum jemarinya menyentuh dinding beludru yang dingin. Dia berjalan perlahan, membiarkan ujung tongkatnya mengetuk lantai dengan ritme yang teratur – sebuah navigasi yang sudah dia hapal di luar kepala.</p><p>Meski begitu, dia tidak terburu-buru. Dia tetap membutuhkan sentuhan dinding sebagai pemandu utama untuk memastikan posisinya benar-benar tepat di depan pintu menuju keramaian luar. Baginya, setiap jengkal dinding kafe ini adalah peta yang dia baca lewat telapak tangan.</p><p>Begitu tangannya menemukan gagang pintu kayu yang berat itu, Arez berhenti sejenak. Dia menarik napas panjang, menyiapkan diri untuk kembali berhadapan dengan kebisingan dunia yang sering kali tidak beraturan. Dengan satu dorongan kuat, pintu terbuka, dan suara riuh rendah pengunjung kafe langsung menyambutnya seperti gelombang pasang.</p><p>Arez melangkah keluar, kembali menjadi bagian dari keramaian, tanpa tahu bahwa di luar sana, dunia yang baru saja dia bagi dengan seorang asing akan segera menyeretnya ke dalam pusaran yang jauh lebih rumit.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=44f27a097bc2" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Home]]></title>
            <link>https://medium.com/@nadiaajaeminn/home-75b155d61cb5?source=rss-417bda50393b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/75b155d61cb5</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Nadiaa Jaemm]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 15 Sep 2024 23:31:40 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-09-15T23:49:48.623Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*l56vxHzjYHbdX-z4ocpcJw@2x.jpeg" /></figure><p>Rumah selalu diartikan sebagai tempat untuk pulang. Tempat yang akan menghadirkan suasana hangat dan nyaman bagi mereka yang hendak melepas lelah. Tempat terbaik untuk beristirahat bagi setiap orang yang telah melalui hari-harinya yang panjang.</p><p>Tapi hal itu tidak berlaku bagi seorang Gama Alfarez, pemuda yang kehilangan arti bahagia yang sesungguhnya. Baginya, rumah itu hanyalah tempat untuk menumbuhkan rasa kecewa. Tempat yang penuh oleh pengabaian dan tekanan yang memaksanya untuk tetap tegap.</p><p>Ia menatap pintu coklat yang ada di depannya dengan tatapan sayu. Entah perlakuan apalagi yang akan diterimanya nanti, ia terlalu lelah walaupun hanya untuk sekadar berpikir.</p><p>Helaan napas lelah terdengar darinya, bibirnya melengkung ke atas guna menampakkan senyuman yang selalu ia paksakan di setiap waktu.</p><p>“Kak Gama!”</p><p>Suara nyaring nan melengking yang terdengar olehnya cukup untuk menjadi penyejuk hati. Diraihnya tangan kecil sang adik yang selalu siap menyambutnya setiap pulang sekolah. Gundah yang dirasakan semula mendadak hilang sejenak tatkala melihat wajah mungil dari adiknya itu.</p><p>“Kamu sudah makan?”</p><p>Pertanyaan Gama dijawab cepat oleh si bungsu dengan anggukan kepala. Lesung pipi yang timbul di kedua pipi menambah kesan manisnya saat tersenyum. Gama mengusap kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang.</p><p>“Tadi kami semua makan bersama. Terus aku bilang kalau Kakak belum pulang sekolah. Tapi mama nggak mau nungguin. Mama bilang, Kak Gama bisa makan sendiri tanpa harus ditemani.”</p><p>Gama terdiam sejenak. Hatinya sedikit sakit mendengar itu. Harusnya ia memaklumi hal ini karena sudah sangat terbiasa, tapi semua itu bukanlah hal yang mudah.</p><p>“Aku temani Kakak makan, ya? Biar nggak sendiri.”</p><p>“Kakak nanti aja makannya, deh. Kakak mau mandi dulu, biar segar,” celutuk Gama hingga menghadirkan lengkungan manis dibibir sang adik serta anggukan di kepalanya.</p><p>Menjadi anak tengah dari tiga bersaudara bukanlah hal yang mudah. Sebagai anak tengah, Gama turut merasakan hal yang cukup sulit, harus selalu mengalah dari adik dan juga kakaknya. Pundaknya harus sekuat baja. Bahkan tak jarang dia merasa bahwa dirinya hanyalah pemeran figuran yang tak penting dalam keluarganya.</p><p>Ada kalanya ketika muncul rasa ingin menyerah pada semesta yang selalu mempermainkan takdir. Tetapi, masih ada satu orang yang ingin Gama bahagiakan.</p><p>Arsena Sangkara, si bungsu. Hanya Sena yang selalu menggangap dirinya ada. Lelaki manis itu salah satu orang yang membuat Gama bisa bertahan hingga saat ini.</p><p><em>Tulisan ini dibuat untuk. memenuhi tugas diskusi di Grup Sharing Ufuk Literasi, tempat para penulis saling berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar kepenulisan</em></p><p><em>Ufuk Literasi telah hadir sejak Januari 2020 dengan tujuan membantu penulis yang ingin meningkatkan skill menulisnya. Hingga kini, lebih dari 18 proyek antologi terselesaikan, 10+ event terlaksana, dan 800+ penulis tergabung dalam grup WhatsApp nya</em></p><p><em>Komunitas Ufuk Literasi didirikan oleh Moch Abdul Aziz di Kabupaten Kelahirannya yaitu Bojonegoro, Jawa Timur. Dirinya merupakan penulis lulusan S1 Matematika UNNES yang aktif berbagi tips dan motivasi menulis melalui Instagram @abdulaziz.writer</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=75b155d61cb5" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mencari]]></title>
            <link>https://medium.com/@nadiaajaeminn/mobil-sedan-itu-berhenti-di-hamparan-pasir-putih-dengan-pantai-begitu-luas-6aae4a8b1a84?source=rss-417bda50393b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6aae4a8b1a84</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Nadiaa Jaemm]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 18 Mar 2024 04:03:13 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-03-23T00:28:01.352Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*efxzOgUler0jtESwh_A_uA@2x.jpeg" /></figure><p>Mobil sedan itu berhenti di pantai dengan hamparan pasir putih membentang luas. Maven membalikkan badannya menatap Sangkara dan Hara yang duduk di kursi belakang. Dari raut wajah Maven tampak sedikit keraguan.</p><p>“Kamu yakin Ven di sini ada bang Arsen?” Sangkara bertanya, sebab sejujurnya dia juga ragu.</p><p>“Gue juga gak yakin tapi kita coba dulu. Gue beneran gak mau bang Arsen kenapa-napa,” jawab Maven seadanya.</p><p>“Ayo keluar.” Maven melepas <em>seat belt</em> lalu keluar dari mobil miliknya disusul Sangkara dan juga Hara. Angin malam ini begitu dingin bahkan jaket yang mereka kenakan tidak cukup untuk menghalau dinginnya angin malam. Suara gemuruh ombak menyambut mereka.</p><p>Tangan Hara dengan lihai membentuk sebuah isyarat membuat Sangkara mengganguk paham sedangkan Maven tidak terlalu tahu menahu tentang bahasa isyarat.</p><p>“Ven, katanya bang Hara gimana kita mencar aja? Pantai ini luas banget, kan gak mungkin kita cari Bang Arsen di satu tempat aja.” Sangkara menerjemahkan maksud isyarat dari Hara.</p><p>Sangkara mengetahui bahasa isyarat karena di panti tempat dia tinggal ada anak yang sama spesialnya dengan Hara yaitu ‘Tuli’. Pemuda itu belajar bahasa isyarat sewaktu ia masuk sekolah dasar.</p><p>“Bener kata bang Hara. Gue setuju. Tapi lo ikut siapa Kar? Gak mungkin lo sendirian, lo kan, penakut.”</p><p>“Aku berani! Aku ikut bang Hara ajalah malas aku sama kamu.” Sangkara bergeser mendekat ke arah Hara lalu membuang muka pada Maven.</p><p>“Heleh dasar penakut. Yaudin sekarang kita mencar. Gue ke arah kiri lo sama bang Hara ke arah kanan, oke? Nanti kita ketemu lagi di sini. Waktu kita cuma setengah jam gak boleh lebih. Paham?” Maven berharap semoga mereka menemukan Arsen.</p><p>“Sip paham. Katanya bang Hara kabarin kalau ada sesuatu.”</p><p>“Kalian juga. Hati-hati gue duluan.”</p><p>Mereka mulai membelah arah di tengah luasnya hamparan pasir serta lampu remang-remang sebagai penuntun jalan mereka. Hampir setengah mencari namun hasilnya nihil, Arsen tidak ada di pantai ini. tiga pemuda itu kembali bertemu di tempat semula.</p><p>Sangkara berlari ke arah mobil dan dan menggambil dua botol air lalu menyodorkan sebotol air itu pada Maven dan Hara.</p><p>“Kita pulang aja, ya? Siapa tau Bang Arsen udah di rumahnya,” ucap Sangkara, pasti Maven kecewa.</p><p>“Gue gak mau pulang sebelum ketemu Bang Arsen. Kalau pun udah di rumahnya kenapa gak ada yang imes kita?” Maven menggigit kukunya dan tindakannya langsung dihentikan oleh Hara.</p><p>“Coba check hp kamu, Ven.”</p><p>“Ga ad — ANJING? WOY AYO KITA PULANG.” Maven berteriak dan langsung berdiri saat sebuah notif muncul dari layar hpnya: Sangkara menutup telinganya karena suara pemuda itu mengema melebih toa. Untung tadi Hara melepas hearing aidnya, katanya lebih suka sunyi.</p><p>“Hushh Maven. Ingat kita lagi di mana. Gak lucu kalau tiba-tiba ada sesuatu,” tegur Sangkara, bulu kuduknya seketika berdiri membayangkan itu.</p><p>“Iya maaf, gue kaget banget tadi soalnya gue dapat imes dari bang harsa. Ayo pulang merinding juga gue lama-lama disini.”</p><p>“Yok bang kita pulang,” ucap Sangkara pada Hara menggunakan bahasa isyarat.</p><p>“<em>Kita langsung pulang ke rumah masing-masing atau ke rumah Arsen dulu?”</em> Sedikit kebingung, Hara bertanya dengan ‘suara’ indah miliknya. Bahasa isyarat Hara memang indah.</p><p>“Gak tau bang, kita ngikut ajalah.”</p><p>“Woy! Cepat kalian mau ikut atau di sini aja?” Maven meneriaki Sangkara untuk bergegas kembali ke mobil.</p><p>“Ayo bang.” Sangkara dan Hara pun menyusul Maven yang dari tadi misuh-misuh tidak jelas.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/368/1*HYgrJYFg0YRSXzCOdipYAA@2x.jpeg" /></figure><p>Buat yang mau belajar bahasa isyarat.</p><p>Maaf kalau narasinya jelekk 🙏</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6aae4a8b1a84" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Runtuh]]></title>
            <link>https://medium.com/@nadiaajaeminn/runtuh-de110a90c2b2?source=rss-417bda50393b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/de110a90c2b2</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Nadiaa Jaemm]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 Mar 2024 03:54:12 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-03-15T10:40:28.744Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/368/1*cnDnW7K1sgRh5uP2xKxfVw@2x.jpeg" /><figcaption>TENGGELAM DI LAUTAN NESTAPA PALING DALAM</figcaption></figure><p><em>Ceklek</em>!</p><p>Pintu terbuka itu membuat fokus Dokter Oliv terahlikan. Arsen – pelaku yang membuka pintu tanpa mengetuk hanya menyengir hingga membuat mata juga ikut membentuk bulan sabit.</p><p>“Sore dokter, maaf saya bikin kaget.”</p><p>“Sore juga, Arsen. Tapi kamu lupa lagi untuk mengetuk pintu sebelum masuk.” Dokter Oliv menghela napas. “Baiklah silakan duduk, Arsen.”</p><p>Arsen menarik kursi yang ada di ruangan tersebut lalu duduk berhadapan dokter Oliv dengan meja yang membatasi mereka.</p><p>“Kamu datang sendiri, ya?” Dokter Oliv membuka percakapan sekadar basa-basi.</p><p>“Iya dokter.”</p><p>“Arsen, ini bukan perkara masalah sepele. Kamu seharusnya didampingin oleh wali kamu, Arsen.” Selalu seperti ini, pemuda yang di hadapannya tidak pernah mengindahkan ucapan dokter tersebut.</p><p>“Maaf buk dokter, mereka lagi sibuk. Bisa gak kita langsung <em>to the point</em> aja buk dokter?” Arsen mengalihkan topik.</p><p>“Kamu masih muda sekali, Arsen. Tidak seharusnya kamu mengalami ini,” ucap Dokter oliv pelan karena dia merasa iba. Sejak dua tahun terakhir dia telah menangani dan menjadi dokter untuk remaja di hadapannya ini. “Baiklah, Arsen. Apa kamu merasa gejala lain selain melupakan hal-hal yang telah kamu lakukan?”</p><p>“Akhir-akhir ini saya merasa mood saya berubah-rubah buk dokter. Kadang saya tiba-tiba marah terus tiba-tiba sedih. Saya bingung, buk dokter.”</p><p>“Arsen, maaf saya harus mengatakan ini. Penyakit Alzheimer itu tidak bisa di sembuhkan tapi kamu bisa mencegahnya agar tidak semakin buruk dengan meminum obat dan perawatan extra.</p><p>“Umumnya Alzheimer memiliki tiga fase. Fase pertama yaitu tahap ringan. Lupa nama, lupa tempat, lupa orang di sekitar kamu.</p><p>“Fase kedua, tahap tengah. Maaf, Arsen, sepertinya kamu telah masuk di fase ini. Kamu akhir akhir ini selalu merasa murung, dan menarik diri dari lingkunganmu, benar?” Arsen mengganguk kaku.</p><p>“Kamu juga selalu kebingungan di mana kamu berada dan hari ini hari apa, benar?” Arsen sekali lagi hanya mengganguk.</p><p>“Dan terakhir, “ Dokter oliv memperbaiki kacamatanya sebelum melanjutkan kalimatnya, “fase tahap akhir, fase ini bisa mengakibatkan kematian pada penderita, sulit berkomunikasi dan kehilangan kesadarannya.”</p><p>“J-jadi saya ada di fase tahap dua buk dokter?” Arsen memberanikan bertanya meski jantungnya berdebar kencang.</p><p>“Benar, Arsen. Nyatanya 7 dari 10 penderita Alzheimer mengalami kematian dan saya yakin kamu adalah 3 dari orang itu yang selamat. Untuk saat ini saya harus menambah dosis obat untuk kamu, dan obat kamu juga bertambah, lebih banyak dari sebelumnya.”</p><p>“Berapa lama saya akan bertahan, dokter?”</p><p>“8 atau 20 tahun ke depan. Tapi, saya bukan Tuhan yang tahu sampai kapan kamu bisa bertahan. Tetapi saya yakin kamu bisa bertahan lebih dari itu.”</p><p>Arsen membeku mendengar penjelasan dokter oliv. Kenapa hidupnya harus seperti ini? Tidak cukup kah semesta mempermainkan takdirnya? Bertahan? Bahkan saat ini dunia Arsen telah runtuh.</p><p>“Kalau gitu saya keluar dulu dokter, makasih atas obat dan segalanya. Dan … semoga saya —“ Kalimat terakhir Arsen mengudara, mulutnya keluh tuk untuk sekadar mengeluarkan kalimat itu.</p><p>Arsen keluar dari ruangan dokter Oliv dengan tatapan kosong.</p><p>Sumber informasi from google :</p><p>Halodoc</p><p>Alzheimer’s association</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=de110a90c2b2" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>