<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by moona on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by moona on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@naomipw075?source=rss-536ffad2d446------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*N4H6OOSHYBuUXLAKwdA0wg.jpeg</url>
            <title>Stories by moona on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@naomipw075?source=rss-536ffad2d446------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 15 May 2026 09:02:17 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@naomipw075/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[MINTA IZIN]]></title>
            <link>https://medium.com/@naomipw075/minta-izin-38137cd16260?source=rss-536ffad2d446------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/38137cd16260</guid>
            <dc:creator><![CDATA[moona]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 03 May 2026 11:24:45 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-03T11:24:45.733Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Dewa membuka pintu kamar Patrick sembari membawa nampan berisi semangkok bubur ayam dan segelas air. Digesernya pintu itu menggunakan bahu kanannya hingga terbuka lebar, tampak Tian baru saja selesai mengompres, handuk kecil masih ia pegang di tangannya. Dewa meletakkan nampan itu di meja kecil sebelah kasur, tangannya menepuk pelan pundak Patrick yang meringkuk di bawah selimut. “Makan dulu biar ada tenaga,” katanya.</p><p>Terlihat kepala Patrick menggeleng di balik selimut kecilnya. “Pahit, mas. Ndak nafsu aku,” balasnya.</p><p>Tian menepuk pantat Patrick cukup keras membuat pemuda itu meringis. “Makan sek! Masmu udah bela-belain habis pulang kerja capek buat beliin kamu bubur kok malah ndak dimakan. Bangun, makan sek. <em>Ben</em> (biar) cepet sembuh!”</p><p>Patrick mengerucutkan bibirnya kesal, terpaksa menuruti jika kakak iparnya sudah angkat bicara. Pemuda itu bersandar di kepala ranjang, menerima nampan yang diberikan Tian.</p><p>“<em>Meh</em> (mau) makan sendiri apa tak suapin?”</p><p>Patrick menggeleng cepat, merinding. “Makan sendiri! Mas Tian sama Mas Dewa keluar <em>ae</em> sana lho!” usirnya.</p><p>“Awas wae nggak habis, ndak tak kasih makan seminggu kamu!” ancam Tian.</p><p>Patrick hanya menggerutu pelan, sejak semalam laki-laki itu sudah mengomelinya panjang lebar bahkan hingga pagi ini. Tak terhitung berapa banyak Tian mengomelinya untuk tidak begadang setiap malam hingga ia berakhir sakit seperti ini. Namun, Patrick juga senang melihat Tian cerewet seperti ini. Sedang Dewa hanya tertawa kecil melihat interaksi suami dan adik laki-lakinya. Laki-laki itu menarik pundak Tian pelan mengajaknya pergi dari kamar supaya Patrick bisa beristirahat.</p><p>Dewa duduk di sofa ruang tengah, menikmati secangkir kopi hitam pahit yang disiapkan Tian untuknya, sedang Tian terlihat meletakkan singkong goreng yang digorengnya tadi ke atas piring dan menaruhnya di meja ruang tengah. Suara pembawa berita memenuhi rumah minimalis itu. Rintik-rintik hujan masih tersisa sejak hujan deras dari subuh tadi, menyisakan bau tanah yang terguyur air hujan.</p><p>“Mas jadine cuti kapan?” tanya Tian setelah duduk di samping suaminya.</p><p>Dewa menyesap kopi hitamnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Tian. Laki-laki itu menghela napasnya panjang. “Sebenernya ada yang mau mas omongin sama kamu.”</p><p>“Ngomongin apa? Kok kayak e serius banget?”</p><p>“Mas dikirim rumah sakit buat ikut pelatihan BTCLS, dua minggu di luar kota.”</p><p>“BTCLS? <em>Opo iku</em>? (Apa itu)?” tanyanya bingung.</p><p>“<em>Basic Trauma and Cardiac Life Support</em>. Itu pelatihan buat tenaga kesehatan buat penanganan pasien gawat darurat, terutama trauma atau kecelakaan sama jantung misal kayak henti jantung.”</p><p>“Terus mas ngapain di sana?”</p><p>“Ya belajar CPR, belajar cara pakai AED, belajar caranya buka jalan napas, belajar penanganan trauma kayak kecelakaan gitu, terus belajar cara evakuasi korban. Kurang lebih kayak gitu, dek.”</p><p>Tian mengernyit. “Mas belajar di orang langsung?”</p><p>Pertanyaan polos yang lolos dari mulut Tian membuat Dewa tertawa. Laki-laki itu mengelus rambut hitam legam Tian gemas. “<em>Yo ndak tho</em>, kalau pakai orang langsung terus nggak ada indikasi henti jantung terus dilakuin CPR ya kacau. Palingan remuk tulang rusuk e.”</p><p>Tian mengangguk-anggukkan kepalanya paham. “Berarti mas bakalan ke luar kota? Dua minggu?”</p><p>“Iya, kamu izinin mas ndak?”</p><p>Tian menghela napasnya kasar, raut wajahnya terlihat jengkel. “Itu kan pekerjaan e mas, mosok aku ndak ngizinin, sih? Tapi mas <em>wes (</em>udah<em>)</em> janji meh ajak aku sama adek main ke kebun binatang lho? Hih, dari sekian banyak pekerjaan di dunia <em>iki</em> (ini) kok mas <em>isoh</em> (bisa) kepikiran masuk keperawatan sih? Kan isoh dadi fotografer <em>ae</em>, opo masuk jurusan opo kek.”</p><p>Dewa mencubit pipi Tian yang terlihat lebih berisi semenjak hamil. “Maafin mas, dek. Mas janji wes setelah ini mas ajak kalian berdua main, oke?”</p><p>“Alah, mas wes janji dari jauh hari, terus akhir e yo sama ae kok! Nggak jadi terus. Udah gitu jadwal shift e mas kadang nggak ngotak, aku ditinggal ae. Berasa aku nggak punya suami kalo gini,” gerutu Tian.</p><p>Pipi putih Tian terlihat lebih merah saat ia sedang kesal begini membuat Dewa tak kuat menahan gemas. Ia menarik pelan laki-laki itu untuk duduk di pangkuannya, sedang yang ditarik tampak tak menolak, justru memposisikan dirinya lebih nyaman. Kapan lagi &#39;kan laki-laki dewasa ini ada waktu seluang ini untuknya?</p><p>“Duh, cantik e mas marah tenan ta ini? Mas janji setelah selesai pelatihan ini mas bakalan nemenin kamu terus wes, mas ndak bohong. Jangan cemberut ya? Mas ndak tega kalau ninggal kamu dua minggu kalau gini. Ikut mas <em>ae</em> kamu mau?”</p><p>“Ini <em>sing</em> (yang) cemberut adek, bukan aku! Mas pergi ae ndak apa, lagian ini kan emang pekerjaan e mas. Aku mah <em>wes</em> biasa ditinggal di rumah sendirian.”</p><p>Dewa terkekeh, ia mencuri kecupan dari suaminya yang manis ini. “Kamu lucu, dek, kalau ngambek.”</p><p>“Modus, stop tiba-tiba cium aku ya! Minggir sana, aku meh lihat Patrick <em>sek</em>. Kamu adik e sakit ndak <em>ono</em> (ada) khawatir e sama sekali ya?”</p><p>“Cuma masuk angin biasa itu, udah sini <em>ae</em> sama mas. Kan enak tho dipeluk sama mas?”</p><p>Tian mendengus sebal, namun tak ayal ia tetap memposisikan dirinya di pangkuan Dewa yang menghangatkan tubuhnya di pagi yang dingin ini. Ia menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Dewa, mencari kenyamanannya di sana.</p><p>“Jadi, boleh tho mas ikut pelatihan ini?”</p><p>“Iya, masku. Wes ah jangan tanya lagi, kalau mas tanya terus malah ndak tak bolehin pergi.”</p><p>Dewa hanya terkekeh. Begitulah, Dewa dan Tian menikmati pagi mereka. Sedang Patrick yang melihat kemesraan keduanya hanya bergidik geli. Ia mendadak jadi bugar kembali. “Hi, merinding aku,” gumamnya pelan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=38137cd16260" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[KEJUTAN UNTUK MAS DEWA]]></title>
            <link>https://medium.com/@naomipw075/kejutan-untuk-mas-dewa-35bca41b82fc?source=rss-536ffad2d446------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/35bca41b82fc</guid>
            <dc:creator><![CDATA[moona]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 18 Apr 2026 06:28:48 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-18T06:53:13.349Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>🎵Now playing:<br>Wahyu F Giri — Lamunan<br>Ardia Diwang Probowati — Rembulan</p><p><em>Happy reading!</em></p><p>Laki-laki bernama lengkap Dewangga Lesmana itu baru pulang sedikit lebih larut daripada biasanya. Ia baru saja menemui teman-teman semasa kuliahnya dalam acara reuni. Dewa tersenyum tipis saat tetangga depan rumahnya menyapa. Setelah mendapati pesan singkat dari Tian bahwa akan ada banyak orang di rumahnya, Dewa akhirnya membeli sedikit camilan untuk menemani mereka bercengkrama. Langkah lebarnya membawa ia masuk ke dalam rumah minimalis yang ia tinggali bersama Tian.</p><p>Derap langkah Dewa mengalihkan atensi orang-orang yang ada di dalam ruangan. Dewa memberikan camilan yang dibawanya kepada Tian untuk dipindahkan ke dalam piring sebelum ia menyalami orang tua dan mertuanya. Rumah yang biasanya bising olehnya dan Tian kini sedikit lebih ramai dengan celetukan Patrick dan Owen yang asyik bermain <em>game online</em>, sedang yang lain sibuk membicarakan tentang pekerjaan. Walaupun seperti biasanya, Dewa bisa merasakan ada aura cerah dari mereka yang berada di rumah ini.</p><p>Dewa mengikuti Tian ke dapur, ia mencuri kecupan dari suaminya. “Mana <em>surprise</em>-nya?” tanya Dewa, menagih surprise yang dijanjikan Tian di kolom chat.</p><p>Tian mendorong dada bidang Dewa agar menjauh. “Mas mandi dulu gak, mas loh yang biasanya ngajarin aku kalau habis dari luar itu mandi dulu. Tian udah siapin bajunya di kamar.”</p><p>“Iya ini mas mandi, emang surprise apa toh yang mau kamu kasih ke mas?”</p><p>“Adalah pokoknya, mandi dulu baru tak kasih tau!”</p><p>Tian mendorong Dewa menjauh, sedang Dewa hanya menghela napas. Ia izin kepada yang lain dulu sebelum bergabung untuk bercengkrama bersama. Tian mengikuti Dewa dari belakang, mengedipkan matanya tanda bahwa ia akan memberi tahu Dewa mengenai surprise yang sudah ia janjikan di kamar.</p><p>“Dek, kamu lihat scrub yang sering mas pake itu?”</p><p>Tian memutar matanya malas. “<em>Uwes</em> toh, mas <em>iku</em> mandi dulu. Scrub nya nanti tak cariin.”</p><p>Dewa hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Tian dalam keheningan. Tian yang melihat suaminya masuk ke dalam kamar mandi, mengambil testpack dan foto USG tadi dan menaruhnya di atas kaos oblong hitam milik Dewa. Laki-laki itu duduk di tepi kasur, menunggu Dewa selesai mandi dengan gelisah. Setiap bunyi air dari dalam kamar mandi justru menambah kegugupan Tian. Sial, ia tidak pernah segugup ini sebelumnya.</p><p>Lama Tian menunggu, Dewa akhirnya keluar dari kamar mandi. Terlihat laki-laki itu hanya menggunakan celana pendek dengan rambut yang basah hingga tetes air terlihat jatuh ke membasahi lantai.</p><p>“Mas <em>iku</em> loh kebiasaan <em>ndak</em> dikeringin dulu, basah semua ini loh lantai <em>ne</em>,” omel Tian.</p><p>Dewa menyerahkan handuk di tangannya lalu memberikannya pada Tian. “Kamu aja sing keringin rambutnya mas,” pintanya.</p><p>Tian menerimanya dengan senang hati, menyuruh pria yang lebih dewasa darinya itu untuk duduk di tepi kasur. Saat hendak mengambil kaos, ada yang janggal saat Dewa melihatnya. “Punya siapa ini, dek?”</p><p>“Punyaku,” jawab Tian dengan santai.</p><p>Dewa terkekeh. “<em>Ngapusi</em>,” balas Dewa tidak yakin. (Bohong)</p><p>Tian mendengkus kesal. “Ngapain Tian bohong? Mas tanya toh apa surprise yang mau aku kasih, nah ini surprise-nya,” jelasnya sembari mengeringkan rambut Dewa.</p><p>Dewa memakai kaosnya dengan cepat. “Kamu tau lho kalau mas itu kepengen banget punya anak sama kamu. Jangan bercanda, mas ndak suka kalau bercandanya kayak gini.”</p><p>Tian berhenti dari aktivitasnya. Ia menghela napas panjang, mengelus perutnya yang masih rata. “Duh dek, kasian ya kamu masa ndak diakuin sama papamu?”</p><p>“Kamu serius?” Tangan Dewa bergerak mengelus perut Tian. “<em>Mosok</em> sih?”</p><p>“Ih mas kok gitu sih ekspresinya? Mas <em>ndak</em> seneng ya?”</p><p>Dewa hanya diam, lama ia mengelus perut Tian. “Kamu beneran, ndak lagi bohongin Mas?”</p><p>“Ndak, ini loh testpack e positif, itu ada foto USG ne juga. Itu lho mas bentuk e anakmu kayak gitu, kok bohongin <em>pie</em>, sih?!”</p><p>“Mas beneran jadi papa? Sing bener?”</p><p>Tian bisa merasakan tangan besar Dewa yang dingin menangkup wajahnya. Tian hanya mengangguk singkat sebelum Dewa memeluknya dengan erat. Tian hanya diam mematung, bingung harus bereaksi apa saat mendengar suara isakan kecil dari Dewa. “Mas bakalan jadi papa ya, dek? Ini di perut e kamu beneran ada bayi, anak e mas? Kita udah sejauh ini tho? Saking seneng e mas, mas bingung meh bilang apa lagi.”</p><p>Dewa menelungkupkan wajahnya ke leher Tian, sedang Tian hanya menghela napas. “Tarik napas dulu mas pelan-pelan, sini duduk dulu.”</p><p>Tian membawa Dewa untuk duduk. “Mas, awal e aku pikir aku cuma maag biasa. Terus temen-temenku nyeletuk katane aku hamil, aku juga ragu sih awal e. Ndak yakin, masa iya sih? Tapi aku coba beraniin buat cek, walaupun mas bilang bagus e cek itu pas pagi tapi apa salahe coba dulu tho? Nah, hasilnya positif mas. Karena aku nggak mau terlalu seneng, jadi biar pasti aku pergi ke dokter. Kata dokternya adek masih 4 minggu mas, masih kecil. Kondisiku stabil kok kata dokternya. Tapi tetep nggak boleh kecapekan, nggak boleh stres terus harus jaga pola makan. Harus rutin kontrol juga.”</p><p>Tarikan tangan Dewa membawa Tian dalam pelukan laki-laki yang lebih dewasa darinya itu. “Kenapa ndak nunggu mas? Mas juga pengen tau langsung kondisinya kamu sama adek bayi. Seneng tho kamu kalau lihat mas kayak gini? Mas kan papane dek, masa mas orang sing terakhir tau soal ini?” protesnya.</p><p>“Kan <em>surprise</em> mas. Tian suka nek lihat mas nangis ngene, sisi lembut e mas jadi kelihatan. Mas seneng ya mau jadi papa? Mas sesayang iku sama Tian?”</p><p>“Mas <em>uwes</em> bilang kalau mas sing minta ke papamu supaya mas bisa jadi suami kamu. Mas sayang sama kamu Tian. Mas seneng sekali kamu hamil. Setelah ini dijaga baik-baik ya, ndak usah minum kopi sek, makan sing teratur, jangan stres. Di tubuhmu ini ada sebagian raga <em>ne</em> mas juga,” ucap Dewa panjang lebar, tangannya sibuk mengelus perut Tian.</p><p>“Itulah guna <em>ne</em> mas di samping e Tian, mas ingetin ya kalau Tian lupa? Tian juga sayang banget sama mas, kok bisa ya dulu aku nakal banget kalau dibilangin sama mas?”</p><p>Dewa terkekeh, ia mengecup pipi Tian bertubi-tubi. Ia suka melihat <em>mole</em> milik Tian yang berada di pipi, leher, dekat telinga dan dada. Dewa selalu senang meninggalkan kecupannya di sana yang terkadang membuat Tian tertawa geli. Dewa sangat mencintai Tian, ia senang melihat bagaimana Tian tertawa, berbagi kebahagian dengannya. Lalu begitulah malam yang manis mereka berlalu, mereka hanya berbagi kasih sepanjang malam di kamar, menyisakan tanda tanya bagi orang-orang yang ada di lantai bawah, apa yang sebenarnya terjadi setelah Tian memberitahukan Dewa mengenai kehamilannya?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=35bca41b82fc" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Segala Hal Menyebalkan Tentang Kavi]]></title>
            <link>https://medium.com/@naomipw075/segala-hal-menyebalkan-tentang-kavi-f743b1366f56?source=rss-536ffad2d446------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f743b1366f56</guid>
            <dc:creator><![CDATA[moona]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 27 Jul 2025 13:42:05 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-07-27T13:42:05.102Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Kavi yang Menyebalkan</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*PN1Gv8ZDZJdmttKUWatDbA.jpeg" /></figure><p>Hari itu adalah hari Sabtu, hari yang seharusnya digunakan Piero untuk berleha-leha. Sayangnya pemilik motor yang ditabraknya kemarin terus mengusiknya jika ia tidak segera bertanggung jawab. Sekarang, berdirilah Piero di sebuah garasi rumah. Piero mengernyit, merasa aneh melihat banyaknya motor yang berjejer di depannya. Jika dibandingkan dengan motor yang ditabraknya kemarin, jelas motor-motor di depannya ini lebih keren.</p><p><em>Fiks, selera nih cowok jelek</em>, batinnya.</p><p>Piero melangkah mendekati motor Ducati berwarna merah, ia berdecak kagum sembari membayangkan andai saja ia bisa membawa motor sekeren ini. Saat tangannya hendak memegang motor itu, suara deheman terdengar dari arah belakang. Sontak, Piero segera berbalik badan. Berdiri Kavi dengan satu tangan yang dimasukkan ke saku celana, sedang mulutnya melahap sandwich hingga habis tak bersisa. Laki-laki dengan potongan rambut <em>two block haircut</em> itu mengenakan kaos <em>oversized</em> berwarna putih dipadukan celana hitam pendek beserta <em>sneakers chunky</em> berwarna abu-abu dan putih. Piero sempat terpesona sejenak, sebelum mulut Kavi mengeluarkan kata-kata yang membuat Piero naik darah.</p><p>“Motor mahal nih, jangan lo sentuh. ”</p><p>Piero tidak membalas, tetapi tatapan matanya yang sinis cukup untuk menggambarkan perasaanya saat ini. Laki-laki itu hanya memutar matanya malas, ia bersedekap dada menunggu Kavi mengeluarkan motor yang menurutnya jelek itu. Ia menatap Kavi bertanya saat tangannya terulur untuk memberikannya helm. “Buat apa?” tanya Piero jutek.</p><p>“Gue rasa bocah SD juga tau fungsi helm buat apa.”</p><p>“Lo tuh nggak bisa ya nggak nyebelin sedikit aja?”</p><p>“Nggak.”</p><p>Piero menghentakkan kakinya kesal. Ia menatap motor milik Kavi yang cukup tinggi untuk ia naiki. “Ini gue naiknya gimana?” tanya Piero, kepalang kesal.</p><p>“Naik tinggal naik, jir. Perlu gue pinjem tangga ke tetangga kah?”</p><p>Mata Piero sudah membulat kesal. Ia naik ke motor Kavi dengan grasak-grusuk berujung motor itu hampir oleng jika Kavi tak menahan keseimbangannya. Kavi menoleh ke belakang, menatap Piero dengan tatapan tajam yang dibalas oleh Piero tak kalah tajam. “Apa?” tanya Piero galak.</p><p>Kavi berdecak pelan, ia menjalankan motornya keluar dari garasi rumahnya. Seperti orang kesetanan, laki-laki itu menjalankannya cukup cepat membuat Piero menahan diri untuk tidak mengumpat, tanpa sadar tangannya melingkar ke perut Kavi dengan mata terpejam, berharap tak terjadi apa-apa di jalan.</p><p>Sedang Kavi hanya tersenyum tipis. <em>Takut juga lo</em>, batinnya.</p><p>Siang hari itu begitu terik, matahari seolah gila membakar bumi tanpa ampun. Piero terlihat menegak es tehnya hingga habis tak bersisa membuat Kavi yang melihatnya merasa heran. Sudah hampir dua jam mereka berkeliling kota mencari bengkel yang Kavi mau, padahal Piero sudah merekomendasikan beberapa bengkel yang ia tanyakan pada Abang Jericko kemarin, tapi tak satupun bengkel yang Kavi mau.</p><p>“Habis ini masih mau cari bengkel lagi?” tanya Piero lemas, kehabisan tenaga.</p><p>“Hm.”</p><p>“Bengkel mana lagi si kocak yang lo mau, semua bengkel sama aja, njir.”</p><p>Kavi menatap ke depan, alun-alun kota tampak ramai siang ini. Ia lalu menoleh menatap Piero. “Sama apanya? Beda, lah. Bengkel langganan gue lagi tutup terpaksa cari yang lain. Luca tuh pacar gue, harus lah gue cari bengkel yang terbaik. Bocah kemaren sore kayak lo tau apa? Bawa motor matic aja nabrak, njir.”</p><p>Piero ternganga. Pertama, karena mulut pedas Kavi. Kedua, karena ia baru melihat ada orang aneh yang menganggap motor adalah pacarnya. Piero menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Ya udah, cari aja sekarang.”</p><p>“Setelah gue pikir-pikir, cari besok atau kapan aja deh. Gue ada urusan.”</p><p>Piero ternganga, lagi. “Terus kita muter-muter tadi nggak ada gunanya, dong? <em>Akh</em>, rese lo!”</p><p>Kavi mengangkat bahu lalu bangkit berdiri. “Mau balik kaga? Gue anterin.”</p><p>Piero menatap Kavi sinis. Ia tidak mengatakan apa-apa tapi langsung berjalan mendahului Kavi. Kavi berjalan mengikuti Piero, ia tersenyum tipis, senang karena berhasil menjahili Piero.</p><p><em>Lucu juga nih biji kedelai</em>, batinnya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f743b1366f56" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>