<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Naurah ayu iftitah lasabuda on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Naurah ayu iftitah lasabuda on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@naurahayu77?source=rss-2749f5250f50------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*Z_rRHfjAYq80IhoQDlROsQ@2x.jpeg</url>
            <title>Stories by Naurah ayu iftitah lasabuda on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@naurahayu77?source=rss-2749f5250f50------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sun, 17 May 2026 19:20:19 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@naurahayu77/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Meragukan Cinta yang Katanya Nyata]]></title>
            <link>https://medium.com/@naurahayu77/meragukan-cinta-yang-katanya-nyata-ddc6f5da7361?source=rss-2749f5250f50------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ddc6f5da7361</guid>
            <category><![CDATA[anthropology]]></category>
            <category><![CDATA[philosophy]]></category>
            <category><![CDATA[psychology]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[sociology]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Naurah ayu iftitah lasabuda]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 14 May 2026 14:20:04 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-14T14:20:04.352Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri,apakah kita benar benar mencintai dengan setulus hati ? apakah kata yang kita ucapkan benar benar selaras dengan hati dan perilaku kita sehingga tercipta sebuah realitas yang jujur ? atau justru sebuah esensi yang kita klaim bernama “cinta” itu hanyalah ilusi ?</p><p>Para ahli mendefinisikan cinta dalam perspektif yang beragam, dalam psikologi cinta sering dipahami sebagai kebutuhan emosional dan juga erat kaitannya dengan perkembangan diri pribadi. Dalam sosiologi, cinta dipandang sebagai fenomena sosial, dinamika kekuasaan serta hubungan interpersonal, studi antropologi menggambarkan cinta sebagai bagian dari struktur budaya dan sosial, sedangkan dalam perspektif filsafat pemahaman tentang cinta menyoroti moral dan juga eksistensial cinta itu sendiri.</p><p>Sejak ribuan tahun lalu,abad demi abad, nenek moyang umat manusia telah mengenal esensi ini, instrumen ini telah dikenal karena membawa warna baru yang tak abu abu. Pada mula nya saat pertama kali penciptaan adam dan hawa sebagai hal yang identik dengan eksistensi penciptaan umat manusia. Manusia selalu berkata bahwa mereka mencintai sesamanya, mencintai kekasihnya, mencintai alam nya, mencintai tuhannya. Namun, apakah pengungkapan ini benar benar bersifat realitas atau hanya pengungkapan semu ?</p><p>Kutipan dari John donne dalam literatur nya yaitu “No man is an island” kutipan tersebut tak asing lagi bagi Masyarakat luas, ungkapan tersebut menggambarkan hakekat bahwa manusia Adalah makhluk sosial dan bergantung pada individu lain. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup tanpa makhluk hidup lain sebagai keseimbangan ekosistem di bumi ini. Hal ini dibuktikan Kingsley davis dalam laporannya yang dimuat dalam <em>American journal sociology</em>, bahwa manusia harus hidup dalam pergaulan dengan sesamanya agar dapat menjadi manusia yang normal. namun, apakah ini berarti umat manusia selama ini hanya saling memanfaatkan satu sama lain saja ? apakah sebenarnya manusia dapat berkembang tanpa harus mengais “validasi” dan “bergantung” pada individu lain ?</p><p>Cinta membawa banyak tuntutan dan kewajiban di Pundak manusia,cinta tidak memberikan hal yang spesial apapun dari satu sama lain, cinta hanya membawa penerimaan ekstra dan beban kewajiban (Salome,2003)</p><p>Ada situasi Dimana seseorang merasakan perasaan senang dengan reaksi fisiologis seperti jantungnya yang berdegup kencang,terlihat lebih ramah,lebih bersemangat serta menjadi lebih toleran, individu memahami hal ini sebagai cinta. namun di situasi sebaliknya,seorang individu juga mengalami penurunan semangat,frustasi,ketidakpedulian,rasa bosan serta menutup diri,hal ini juga ditimbulkan oleh emosi cinta itu sendiri.</p><p>Dalam perspektif evolusioner,cinta romantis dipahami sebagai sekumpulan aktivitas yang terkait dengan perolehan dan retensi emosi untuk bertahan hidup serta ber reproduksi, perilaku evolusioner ini adalah bagian dari reaksi biologis semata dan proses aktivasi area otak tertentu.</p><p>Dalam sudut pandang neuroendoktrin dan biopsikologi, pada fase awal cinta terdapat keadaan neurobiologis yang ekstrim dan agak kontradiktif secara fisiologis, stress pada suatu individu diyakini menjadi sebuah pemicu untuk mencari kesenangan semata,kedekatan dan keakraban. Secara umum,stress dapat mendorong keinginan untuk berinteraksi secara sosial.</p><p>proses fisiologis terkait dengan rasa stress berkorelasi dengan hormon dari otak bagian Hippotalamus-hipofisis-adrenal dapat mempengaruhi dalam peningkatan ikatan sosial. Individu yang sedang dalam fase jatuh cinta menunjukkan kadar kortisol yang tinggi,hiperkortisol yang dipicu oleh cinta ini merupakan respon stress nonspesifik terhadap perubahan yang menjadi ciri fase awal hubungan.</p><p>Nilai “cinta” terhadap lawan jenis hanyalah proses biologis dari mekanisme otak serta erat berkaitan dengan evolusi manusia berabad abad tahun lamanya.</p><p>Sedangkan pada konteks lingkungan dan alam,Penelitian klasik oleh LaPiere (1934) hingga banyak penelitian modern mengungkapkan bahwa individu dengan sikap pro ekologi,religious,atau moral yang tinggi tetap saja tak luput dari sifat destruktif. Hal ini karena nilai itu bersifat abstrak,perilaku atau sikap itu konkret dan realitas dalam sehari hari sangat dipengaruhi oleh kebiasaan,kebutuhan,kenyamanan dan pressure sosial.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/348/1*ezrvTprmyohGbEbCkQB3Fw@2x.jpeg" /></figure><pre>Hungerford, H. R., &amp; Volk, T. L. (1990). Changing Learner Behavior Through Environmental Education. The Journal of Environmental Education, 21(3),8-21</pre><p>Model pro lingkungan diatas mengasumsikan bahwa mendidik Masyarakat tentang isu isu lingkungan maka secara otomatis Masyarakat juga akan berperilaku <em>pro</em> lingkungan, namun model ini telah terbukti salah. Penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya kesadaran dan pengetahuan terhadap kondisi environment tidak selalu mengarah pada perilaku yang suportif terhadap lingkungan. Banyak individu yang cenderung menyalahkan pihak pihak atau individu lainnya terkait dengan penebangan pohon,banjir,dan bencana lainnya tanpa mereka sadari mereka juga menjadi bagian yang destruktif dengan masih menggunakan bahan plastik yang tak ramah lingkungan,membuang sampah sembarangan dan penggunaan kendaraan berpolusi.</p><p>Umat manusia tampaknya mengalami disonansi kognitif, namun kita semua cenderung merasionalisasi nya. Kita tampaknya juga telah mengalami Self serving bias yang melihat diri kita lebih bermoral dan superior daripada kenyataannya, maka dari itu kita sering merasa bahwa kita mencintai tuhan namun tetap dengan sadar melanggar larangannya dengan perilaku perilaku tak bermoral yang jelas jelas tuhan pun tak suka.</p><p>pertanyaan refleksi bagi kita umat manusia, Pantaskah kita menyandang gelar sebagai makhluk dengan derajad tinggi ? Apakah sebenarnya kita memang sudah destruktif sejak awal ? Apakah kita terlalu meromantisasi hal hal yang seharusnya tidak perlu di romantisasi ?</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ddc6f5da7361" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>