<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Dumb Bunny on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Dumb Bunny on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@nenguswatunhasanah947?source=rss-078a5568b640------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*CCs8e8VvhlWVXpLe0kCwRw.jpeg</url>
            <title>Stories by Dumb Bunny on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@nenguswatunhasanah947?source=rss-078a5568b640------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Tue, 19 May 2026 19:08:34 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@nenguswatunhasanah947/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[i was a blank canvas, until you]]></title>
            <link>https://medium.com/@nenguswatunhasanah947/i-was-a-blank-canvas-until-you-14920d81f108?source=rss-078a5568b640------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/14920d81f108</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dumb Bunny]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 16 May 2026 16:17:33 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-16T16:17:33.036Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>kau datang membawa warna, menulis namaku di sudut jiwa.</p><p>aku menunggu ini lama, seorang pelukis mahir mewarna.</p><p>kau hidupkan kuas-kuas yang mati, kau berikan segenap hati, sampai nyawaku kembali.</p><p>ku beritahu, rona merah terbaik pada kanvasku kini berasalkanmu.</p><p>jemarimu dengan lihai mengoles, membaur, memercik, sampai lukisan maha indah menutupi sunyinya kanvas kosong ini.</p><p>berikan aku selusin rayuan dan bawa aku pulang dengan hati riang-riang tidak kepalang.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=14920d81f108" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mari Mengejar Bahagia Bersama]]></title>
            <link>https://medium.com/@nenguswatunhasanah947/mari-mengejar-bahagia-bersama-7acae23810b7?source=rss-078a5568b640------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7acae23810b7</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dumb Bunny]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 16 May 2026 15:50:54 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-16T15:50:54.760Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Di anganku, tersusun destinasi-destinasi kehidupan, kejadian-kejadian yang aku aminkan akan terjadi.</p><p>Meski dimata orang lain kita hanya remahan renginang, biarkan saja. Siapa mereka yang bisa menutup jalan nasib milik kita?</p><p>Jika kamu menunduk sebab berpikir tidak ada yang bisa kamu banggakan dihadapanku, lantas apa yang bisa aku banggakan? Bukankan semua ini fana? Kita sama-sama belum punya apa-apa yang bisa kita bicarakan didepan khalayak dengan kepala tegak. Namun kita selalu punya mimpi, kita punya keinginan, itu cukup untuk menyusun peta hidup kita.</p><p>— swa,</p><p>for my future doctor.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7acae23810b7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[JANGKAR]]></title>
            <link>https://medium.com/@nenguswatunhasanah947/jangkar-15b7a24b253d?source=rss-078a5568b640------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/15b7a24b253d</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dumb Bunny]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 26 Apr 2026 14:04:49 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-27T06:55:42.188Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Kalau kau tak ada, aku kapal karam sebelum badai.</p><p>Aku ini petualang luka.</p><p>Ombak pukul, angin tikam, langit rubuh. Siapa sudi pandang?</p><p>Lalu kau datang tanpa banyak bicara, kau terjun kesana. Kau cengkeram lumpur paling hitam, biar aku tak dibawa hanyut, tak menyatu dengan laut.</p><p>Kau jangkarku, yang pilih karatan asal aku tak karam, yang rela tenggelam asal aku masih berlayar. Yang tak minta puisi, tak minta balasan. Hanya “Jangan menyerah, karena aku tidak akan menyerah pada dirimu.”</p><p>Mampus aku, dikoyak sepi kalau kau tak tahan mati-matian dari dasar paling sunyi.</p><p>Ini aku; kapal ringkih, layar sobek, nahkoda gila. Tapi tak sudi hilang sebab di dasar sana ada kau sebagai jangkarku, jantung keduaku dan sisa nyawaku.</p><p>Kalau harus mati, biarlah. Tapi sebelum mati, biar dunia tau; kau yang tidak pernah menyerah pada lapuknya kapalku, menjahit layarku yang sobek, memandu ku supaya tak buta arah.</p><p>Itu kau, hanya kau.</p><p>— swa</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=15b7a24b253d" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Di tempat dimana semua terasa mungkin]]></title>
            <link>https://medium.com/@nenguswatunhasanah947/di-tempat-dimana-semua-terasa-mungkin-d8afecfa5eae?source=rss-078a5568b640------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d8afecfa5eae</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dumb Bunny]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 21 Feb 2026 10:16:20 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-21T10:16:20.064Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Aku terperanjat dari tidur yang tidak disengaja, tergesa sebab jam menunjukkan tepat tengah hari, matahari sudah sangat matang. Tidak langsung mandi, justru aku terdiam. Dia hadir, lagi, di tempat dimana semua terasa mungkin, mimpi. Mimpi kesekian yang menghadirkan sosok yang sebelum tidur memang setia dibenakku. Mendengarkan lagu dari sebuah grup band Indonesia yang liriknya menggambarkan dalamnya perasaan yang aku persembahkan untuknya. Mungkin itu juga penyebab bunga tidurku pagi ini.</p><p>Sosoknya hadir memecah segala yang terasa asing di mimpiku. Semesta seolah mengizinkan ia untuk membawa atma yang penuh koyak ini untuk setidaknya dapat mengejar bahagia, meski dalam buaian mimpi, meski hanya ilusi.</p><p>Ditatapnya kedua manik mata sayu ini, bibir miliknya ia bentuk sampai senyum yang sekian lama aku rindukan kian hadir diantara harap tak ingin semua ini usai.</p><p>Harus ia ketahui bahwa kedua hal itu mencicil rinduku, meredam segala lebam yang membiru, merobek sunyi yang dijahit tanpa inginku. Terima kasih semesta karena kau jua mengundangnya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d8afecfa5eae" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[12 Feb]]></title>
            <link>https://medium.com/@nenguswatunhasanah947/12-feb-fd5710c9cdf4?source=rss-078a5568b640------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/fd5710c9cdf4</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dumb Bunny]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 18 Feb 2026 16:47:52 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-18T16:47:52.504Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Hi, S.</p><p>It’s been a long time.<br>Long enough for the days to blur into each other.<br>Long enough for silence to feel normal.<br>Long enough for me to learn how to carry your absence without breaking.</p><p>Honestly, letting go of you—of us—is the hardest thing I’ve ever had to do. Not because it was dramatic. Not because it ended in chaos. But because it ended in quiet understanding. And sometimes, quiet endings hurt the most.</p><p>I chose to let go.<br>But choosing doesn’t always mean wanting.</p><p>I didn’t wake up one day suddenly stronger. I didn’t just decide you no longer mattered. I chose to let go because staying felt heavier than leaving. Because loving you from a distance was slowly teaching me how to lose myself. Because peace, no matter how lonely, felt kinder than holding onto something that couldn’t fully stay.</p><p>Still, that doesn’t erase what we had.</p><p>I’ll never forget the moments we shared the late night talks when the world felt smaller and it was just our thoughts meeting in the dark. The deep conversations about life, about fears we barely told anyone else. The way time moved differently when we spoke, as if minutes stretched into something softer, something almost sacred.</p><p>And then there were the little things.<br>The pauses.<br>The laughter that came too easily.<br>The comfort of knowing someone was there.</p><p>You made me feel like what we had was real. Not loud. Not public. But real in the quietest way. And sometimes, that kind of real is the hardest to walk away from.</p><p>There are days I still think about you. Not with anger. Not with regret. Just with a gentle ache that reminds me I once cared deeply. I wonder if you ever think about me too, if a random song, a late hour, or a passing memory ever brings my name back into your mind.</p><p>Maybe we were never meant to last.<br>Maybe we were only meant to meet.</p><p>To teach each other something.<br>To grow each other in ways we didn’t fully understand at the time.<br>To show that even temporary connections can leave permanent marks.</p><p>Letting go doesn’t mean I erased you. It means I’m choosing myself now. Choosing healing. Choosing a future where my heart feels safe, even if it no longer feels yours.</p><p>I don’t know where life has taken you. I don’t know who you are becoming now. But I hope you are well. I hope you are growing. I hope you are loved in ways that feel steady and certain.</p><p>As for me, I’m learning. Slowly.<br>Learning that love can be beautiful even if it doesn’t stay.<br>Learning that closure sometimes comes from within, not from a final conversation.<br>Learning that peace is not the absence of memories, but the ability to hold them without pain.</p><p>So this is not a plea.<br>Not a door left half-open.</p><p>It’s simply an acknowledgment.</p><p>You were once a chapter in my life that mattered.<br>And even though I closed the book,<br>I’ll always remember how it felt to read it.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=fd5710c9cdf4" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Apakah Sudah Luruh? | Februari Hari Ketiga belas]]></title>
            <link>https://medium.com/@nenguswatunhasanah947/apakah-sudah-luruh-februari-hari-ketiga-belas-436fafb1ae85?source=rss-078a5568b640------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/436fafb1ae85</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dumb Bunny]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 18 Feb 2026 16:33:47 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-18T16:33:47.656Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>, Februari Hari Ketiga belas</p><p>Aku kembali menatap botol sabun itu. Isinya menyusut lebih banyak dari yang kuingat. Hal kecil semacam itu rupanya cukup untuk membangunkan memori yang sempat terlelap. Benak yang tadinya lengang mendadak riuh oleh gemericik air dan wangi sabun yang hari itu terasa begitu nyata. Seolah waktu belum benar-benar beranjak.</p><p>Di hadapanku, dunia berjalan seperti biasa. Kina duduk di sebelahku, sibuk memilih filter bergaya kamera analog di layar ponselnya. Tanpa aba-aba, kami merekam video, berpura-pura hidup di tahun 90-an, dengan gaya ibu-ibu yang sengaja dilebih-lebihkan. Tawa kami ringan, nyaris tanpa beban.</p><p>Lalu aku melihat Kina melirik ke belakang. Kukira pandangannya jatuh pada seseorang yang biasa ia sebut dalam banyak waktu. Ternyata bukan. Ia melirik Faishal.</p><p>Baiklah.</p><p>Ia memintaku mengarahkan kamera ke arahnya. Aku menurut. Tak kusangka, Faishal bersedia masuk ke dalam frame. Detik itu terasa ganjil, terlalu singkat, namun cukup untuk menggeser sesuatu di dalam dada. Seharusnya momen itu bisa bertahan sedikit lebih lama.</p><p>Namun pintu terbuka. Seorang guru masuk, dan waktu kembali berjalan sebagaimana mestinya. Video berhenti. Tawa mereda. Suasana berubah menjadi tertib.</p><p>Beberapa kalimat terlontar dari depan kelas. Aku mendengarnya, tetapi tak benar-benar menangkap maknanya. Pikiranku masih tertinggal pada frame yang terlalu cepat berlalu, pada tatapan yang tak sempat kupahami.</p><p>Andai saja aku berani menoleh.<br>Bertanya dengan lugas tentang banyak hal yang menggantung di udara.<br>Tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apakah aku hanya sedang menafsirkan sendiri.</p><p>Waktu makan siang tiba. Seperti biasa, hari Jumat menyelipkan camilan kecil di antara menu yang tersaji. Kelas menjadi lebih hidup—suara bungkus plastik berdesir, kursi bergeser pelan, dan tawa-tawa ringan mengisi sela siang.</p><p>Dari arah belakang, tepat di bangkuku, samar aku mendengar namaku disebut. Suara itu tidak asing. Aku mengenalinya tanpa perlu menoleh. Namun aku memilih diam. Di kelas ini ada satu nama lain yang serupa denganku, mungkin bukan aku yang ia maksud.</p><p>Panggilan itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas. Lebih dekat.</p><p>Aku menoleh.</p><p>Faishal.</p><p>Ia tidak banyak bicara. Hanya menawarkan susu di tangannya, sederhana dan tanpa alasan panjang. Gestur kecil yang mungkin tak berarti apa-apa bagi orang lain. Namun bagiku, entah mengapa, terasa seperti sesuatu yang jatuh tepat di permukaan air yang tenang, menciptakan riak yang tak kasatmata.</p><p>Aku menolak dengan santai. Alasannya ringan: punyaku saja tak kuminum, kuberikan pada orang lain. Maka kutepis tawaran itu seperti menepis hal remeh.</p><p>Percakapan kami berhenti di sana. Sesingkat itu. Sesederhana itu.</p><p>Namun justru karena singkatnya, ia tak pernah benar-benar selesai. Sepanjang hari, adegan itu terus mengulang di kepalaku. Tentang bagaimana aku sempat berpura-pura tak mendengar. Tentang bagaimana ternyata ia memang memanggilku.</p><p>Bukan kalimat panjang yang menetap, melainkan detik kecil yang tak sempat dipahami. Dan hari itu, satu panggilan nama terasa cukup untuk membuat siangku berubah pelan-pelan, tanpa siapa pun menyadarinya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=436fafb1ae85" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[The February We Once Had]]></title>
            <link>https://medium.com/@nenguswatunhasanah947/the-february-we-once-had-47b2a9e56cc9?source=rss-078a5568b640------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/47b2a9e56cc9</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Dumb Bunny]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 16 Feb 2026 16:39:34 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-16T16:39:34.569Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>&gt; Tentang apa yang belum usai, dan rasa rindu yang mengendap di ribuan rintik hujan.</p><p>Mungkin kamu berpikir Februari hanya tentang hujan, mungkin ada sepenggal diriku disetiap rintik yang membasahi apa-apa milikmu. Bagiku Februari adalah sepenggal ingatan yang rasanya ingin terus aku ulang, ingin aku aku ulang.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=47b2a9e56cc9" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>