<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by zaa0fa on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by zaa0fa on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@qanitaza08?source=rss-ea1a08aa1a89------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*FfzXsdvTGJQdN_cbH6CPow.jpeg</url>
            <title>Stories by zaa0fa on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@qanitaza08?source=rss-ea1a08aa1a89------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sat, 30 May 2026 02:26:26 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@qanitaza08/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Ananke —]]></title>
            <link>https://medium.com/@qanitaza08/ananke-d72fa33fc8f1?source=rss-ea1a08aa1a89------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d72fa33fc8f1</guid>
            <dc:creator><![CDATA[zaa0fa]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 15:32:39 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-12T15:33:36.023Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Untungnya, hari itu ditetapkan untukku. Pukul empat sore, seharusnya hari itu sama seperti biasanya, kembali ke lantai tiga dan melakukan rutinitas harian sebelum petang. Di sana, di tanah yang bahkan belum menghafal langkahku, aku terlalu percaya diri menyebut diriku khatam dengan segala banyak manusianya, terlalu jumawa dengan rasa <em>‘klik’</em> yang baru aku dapatkan beberapa hari terakhir. Padahal masih ada satu, yang ternyata membuat netraku berbinar dan membisu.</p><p>Bukan kepadaku, tapi tentunya itu tak merubah apapun.</p><figure><a href="https://pin.it/54vBWivXe"><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/735/1*cz1O8bbKt_KNfgZSrbcngA.jpeg" /></a></figure><p>Hanya sepersekian detik, tapi naasnya aku terjatuh. Apa ini terlalu mudah? bahkan diriku tak pernah mengira bisa tenggelam hanya karena sudut bibir terangkat, dengan cara yang sepertinya sama sekali tak ia rencanakan. Lalu, aku menyelami estetika baru itu dari kejauhan, tak peduli seberapa banyak aku ikut tersenyum, tapi yang jelas dari sana, aku menangkap banyak cahaya. Aku yakin, dia tak se bodoh itu untuk sadar, atau bahkan terlalu sadar betapa bahayanya itu.</p><blockquote>Mungkin berbahaya, untuk orang sepertiku (?)</blockquote><p>Tak berlangsung lama, mungkin esok harinya? aku memilih untuk menghapusnya saja. Sebab ternyata, separuh atau mungkin seluruh manusia di sini telah punya nama untuk di sandingkan, yang menyelinap dalam obrolan — obrolan ringan mereka.</p><p>Namun rupanya, semesta mempunyai humor yang halus</p><p>Seolah ada tangan tak kasat yang dengan sabar menggeser dua bidak di papan yang jauh lebih besar dari yang pernah ku sangka. Semesta, pada hakikatnya, tidak mengenal konsep kebetulan — ia hanya mengenal <em>konvergensi</em>: titik di mana dua lintasan yang selama ini berjalan dalam kesejajaran yang mustahil akhirnya, karena akumulasi gaya yang tak kasatmata, dipaksa bersilangan.</p><p>Mengakui, bahwa ada sesuatu di luar kehendak yang bekerja, sesuatu yang oleh para filsuf disebut <em>ananke</em> — keniscayaan yang bukan hukuman, bukan pula anugerah, melainkan semata-mata: kenyataan yang tidak bisa dinegosiasikan, bahkan oleh para dewa sekalipun.</p><p>Dan di sana aku mengenalnya, bukan sebagai imaji yang bercahaya dari kejauhan, melainkan sebagai entitas yang utuh dan retak sekaligus. Senyum itu kini terasa berbeda bobotnya. Ia bukan lagi fenomena optik yang mengganggu konsentrasi — ia telah berubah menjadi semacam <em>indeks</em>, tanda yang menunjuk ke sesuatu yang jauh lebih dalam dari permukaan wajah.</p><blockquote>Dan akan selalu begitu, untuknya, hingga beribu tahun selanjutnya.</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d72fa33fc8f1" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Untukmu, konstan dan utuh]]></title>
            <link>https://medium.com/@qanitaza08/untukmu-konstan-dan-utuh-aad40dec3471?source=rss-ea1a08aa1a89------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/aad40dec3471</guid>
            <dc:creator><![CDATA[zaa0fa]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 10 May 2026 11:54:55 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-10T11:54:55.074Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/715/1*lQcQl0OgTK_MeA4vpIDixw.jpeg" /></figure><p>Katanya, para pelaut zaman dulu menavigasi samudra bukan dengan peta, melainkan dengan bintang — bukan karena bintang selalu mudah ditemukan, tapi karena sekali kamu tahu di mana harus mencarinya, ia tidak pernah benar-benar menghilang. Bahkan ketika langit tertutup penuh, para pelaut itu tetap berlayar. Bukan karena mereka tidak takut. Tapi karena mereka sudah terlalu hafal di titik mana bintang itu akan kembali muncul.</p><p>Seperti konstanta dalam persamaan yang terus berubah; dicoret, diganti, disederhanakan — tapi ketika semua variabel lain luruh, ia masih di sana, utuh, tepat di tempat yang seharusnya. Dunia mengajarkan kita untuk mengagumi hal-hal yang bergerak cepat dan menyala terang. Tapi jauh sebelum semua kecepatan itu, selalu ada jenis keberadaan yang lebih tua — yang tidak bergerak, tidak padam, hanya bertahan dengan cara yang hampir terlihat seperti biasa saja.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=aad40dec3471" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Hidup,,]]></title>
            <link>https://medium.com/@qanitaza08/hidup-65d4d2fc20e8?source=rss-ea1a08aa1a89------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/65d4d2fc20e8</guid>
            <dc:creator><![CDATA[zaa0fa]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 21 Mar 2026 13:59:56 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-10T12:20:59.770Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Hidup, bahkan menyala</h3><p>Kapan terakhir kali kita beradu argumen? meski menyebalkan, sialnya hal itu yang selalu mengejarku, menjelma menjadi rasa rindu, katanya</p><figure><a href="https://pin.it/UaiA9DfgD"><img alt="https://pin.it/UaiA9DfgD" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/981/1*cn1MMDNE281ksM9gxZ0UUA.png" /></a></figure><p>Aku memang bukan penyair hebat seperti tokoh tokoh panutanku di luar sana</p><p>Tapi mungkin, ketika suatu hari dengan spontan aku mulai melepaskan satu persatu sel memori,</p><blockquote>Dan kemudian, dirimu ditemukan lagi, disini</blockquote><p>Bagaimanapun, memori manusia perlahan lahan akan tertelan, apalagi batasku yang tak bisa meramal masa depan</p><blockquote>Apakah bersamaku, ada engkau disana? Jika iya, tentunya syukur akan terucap seribu kali, mungkin lebih</blockquote><p>Karena meski tak berhak, aku melibatkan dirimu dalam setiap senangku, selalu</p><p>Dan dalam banyaknya sumber kesenangan di semesta, tentu mata bulan sabit dan senyum memabukkan yang kau bawa, salah satunya</p><p>Barangkali, bukan engkau yang terlalu indah</p><p>Tapi aku, yang selalu merasa paling hidup saat bersamamu</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=65d4d2fc20e8" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mungkin, di lain waktu.]]></title>
            <link>https://medium.com/@qanitaza08/mungkin-di-lain-waktu-11dddc767256?source=rss-ea1a08aa1a89------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/11dddc767256</guid>
            <dc:creator><![CDATA[zaa0fa]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 22 Feb 2026 08:49:05 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-10T12:28:27.443Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Kata mereka ‘semua orang pasti punya fase yang sama dalam hidupnya’</p><p>Fase menyebalkan yang sekarang menjadi pabrik yang paling rajin memproduksi tanda tanya terbesar setiap harinya. Bukan satu dua pertanyaan, bahkan pertanyaan yang dulunya tidak pernah menyelinap masuk dalam pikiran, kini mengaung — ngaung keras, berebutan mencari jawaban.</p><p>Bersahabat dengan sepi tidak semenyedihkan kelihatannya, bukan juga seram seperti kedengarannya. Dalam gelap sepi, barangkali masuk seberkas cahaya yang sebetulnya dinanti hadirnya, barangkali peluk hangat dari mereka akan terasa, meski tenangnya terganggu dengan riuh berisik di kepala.</p><figure><a href="https://pin.it/1HSzg1ZRu"><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/564/1*qykMDfAT9LmZCMFCvsVIFQ.jpeg" /></a></figure><p>Ini juga pertama kali bagi mereka, bisa jadi di kehidupan yang lalu, dunia lebih keras daripada ini.</p><p>Bulan ikut meredup semalam, memberi isyarat jika bukan hanya aku seorang yang kehilangan cahaya. Ia tidak membuangnya, lukisan langit itu berusaha menyalurkan terangnya di tengah sepi, yang naasnya tidak berhasil juga.</p><p>Mungkin, di lain waktu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=11dddc767256" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Penuh,]]></title>
            <link>https://medium.com/@qanitaza08/penuh-0afed415141a?source=rss-ea1a08aa1a89------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0afed415141a</guid>
            <dc:creator><![CDATA[zaa0fa]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 01 Feb 2026 09:37:33 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-10T12:28:51.043Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><a href="https://pin.it/178jib147"><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/563/1*6Bpg6ILBa_4L_iCBM7k2dQ.jpeg" /></a></figure><p>Hari itu, satu hari di Januari, satu hari yang telah di nanti manusianya. Rasa rasanya, udara di sekitar berpindah sedikit, menipis, tereliminasi beberapa untuk dihirup.</p><p>Bukan, bukan karena sesuatu yang menyesakkan, tapi karena udara hari itu, bercampur dengan aroma dan harmoni pertemuan pertama, setelah sekian lama.</p><p>Tak seperti ucapku sebelumnya, yang akan banyak mengadu dan menangis didepan manusia yang sering ku sebut <em>‘pulang’</em> itu. Sebaliknya, semua anggota tubuh ikut tersenyum hari itu, tak ada celah sesenti pun, untuk merasa kosong.</p><p>Mulutku tak banyak berbicara, semua yang dulu ku angan terjadi di hari itu, semua keluh kesah yang kukira akan meluncur bebas, seketika terbang lepas dan jauh.</p><p>Sepasang mataku sibuk merekam seluruhnya, memastikan hari itu terekam penuh, dan tersimpan bersama euforia dan sisa harap di dalam sini, di dalam ruangan yang lama tak kujamah.</p><blockquote>Senyum itu, senyum yang pernah kugores habis, kini tepat berada dihadapanku.</blockquote><p>Apa aku bahagia? tanpa kuutarakan pun semua tau jawabannya. Tapi tak semua tau, itu sudut bahagia yang terbingkai oleh perasaan bersalah.</p><p>Layaknya <em>‘senjata makan tuan’ </em>goresan yang telah lalu, beranjak melukai tuannya lebih dalam. Tak apa, itu konsekuensi.</p><blockquote>Matanya masih sama, hanya saja tak lagi ada aku disana.</blockquote><p>Tetap saja, <strong>hari</strong> <strong>itu menjadi wujud doa yang selalu ku lantangkan</strong> setiap harinya. Kembali bercengkrama sederhana, kembali merasa penuh dan hangat.</p><p>Meski mungkin, hanya aku yang menganggap beda hari itu dengan sangat.</p><p>Terimakasih, terimakasih banyak — Dariku, untuk manusia yang selalu kuabadikan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0afed415141a" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>