<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Raihan Raditya on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Raihan Raditya on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@raihanrdtya?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*Bt9KiFbPs7Gg-L-NzUmijw.jpeg</url>
            <title>Stories by Raihan Raditya on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@raihanrdtya?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Tue, 19 May 2026 19:25:04 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@raihanrdtya/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Bertumbuh: Rasa Manis yang Berubah Menjadi Tidak Apa-Apa]]></title>
            <link>https://medium.com/ruang-kontemplasi/bertumbuh-rasa-manis-yang-berubah-jadi-tidak-apa-apa-12c12526852c?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/12c12526852c</guid>
            <category><![CDATA[makna-hidup]]></category>
            <category><![CDATA[ruang-kontemplasi]]></category>
            <category><![CDATA[menulis]]></category>
            <category><![CDATA[renungan]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raihan Raditya]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 16 May 2026 22:27:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-16T22:33:40.089Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*GtvBpDFe6SMp_m_HdnU4JQ@2x.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="https://akincakiner.com/">Akin Cakiner</a> on <a href="https://unsplash.com/?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><blockquote>“Lilin itu meredup, tak lagi benderang seperti mulanya. Tak ada yang perlu disalahkan… ada kalanya nyala bara mewarnai awal dengan penuh gairah, juga ada saatnya tiupan jadi jawaban yang menjadikannya padam, hingga berakhir kecewa… <strong>Semua sudah digariskan</strong>”</blockquote><p>Dulu, mungkin masa kecilmu penuh pengalaman manis nan ceria yang dibungkus dengan banyak pertanyaan, gairah penasaran untuk mengetahui banyak hal. Ketika beranjak dewasa, semua luruh yang pada akhimya menuntun mu merelakan beberapa enigma tak terjawab. <strong>Kecilmu seperti ingin menggali banyak hal sedalam kau kini mengerti bahwa jawabannya tidak selalu harus ada sekarang.</strong></p><p><strong><em>Namun tidak apa-apa, kan?</em></strong> Karena bukankah dengan segala kerumitan, ketidakramahan dalam proses bertumbuh yang merenggut penasaran justru menjadikannya jawaban yang dapat dimaknai?</p><p>Kita banyak diberi kesempatan untuk mengerti ketika istana pasir yang kita buat luluh lantah diterjang ombak dan kepiting yang mencoba masuk dengan malu-malu —<strong><em>untungnya tidak melukai kaki</em></strong>; Kita banyak belajar mengikhlaskan bahwa ternyata tidak apa-apa jika tidak menjadi ‘astronot’ —karena kenyataan, bahwa <strong><em>tak melulu orang yang bekerja di menara tinggi hidup dengan tenang.</em></strong></p><p>Bahwa pada akhirnya, kita perlu berterimakasih pada sosok anak kecil polos yang penuh dengan penasaran belasan tahun lalu itu. Karena berkatnya, kita diberi sudut pandang berharga; kau tetap dirimu dengan kadar paham yang lebih matang dan sesuai porsinya. Kurasa, anak kecil itu pun bangga kalau pada akhirnya ia berhasil…. bukan berhasil menemukan jawaban.</p><p>Tapi berhasil memaknai “<strong>rasa manis</strong>” yang dalam prosesnya menjadi “<strong>asam pahit</strong>”, namun pada akhirnya kau berhasil menyimpulkannya menjadi rasa baru bernama “<strong><em>tidak apa-apa</em></strong>”</p><p><strong>raihan•raditya —</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=12c12526852c" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/ruang-kontemplasi/bertumbuh-rasa-manis-yang-berubah-jadi-tidak-apa-apa-12c12526852c">Bertumbuh: Rasa Manis yang Berubah Menjadi Tidak Apa-Apa</a> was originally published in <a href="https://medium.com/ruang-kontemplasi">Ruang Kontemplasi</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Bom Waktu]]></title>
            <link>https://medium.com/meja-sajak/bom-waktu-fa059267c4d1?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/fa059267c4d1</guid>
            <category><![CDATA[thoughts]]></category>
            <category><![CDATA[mindfulness]]></category>
            <category><![CDATA[feelings]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raihan Raditya]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 11 May 2026 05:21:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-18T18:43:43.352Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>~seperti pasir yang luruh di sela-sela jari, kau juga demikian &quot;tak akan hilang, sekalipun hanya menyisakan setitik bekas&quot;</blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Y3IR73-Sibc_rfDlE5_rpQ.jpeg" /></figure><p>Maaf nona, aku lupa menyisakan ruang kosong untukmu melukis karena sudah terlampau banyak aku menoreh warna pada kanvas itu. <em>aku tak bermaksud</em>,</p><p>Aku punya alasan! Bukan &#39;ku tak izinkan kau hadir membersamai agar lukisan itu dilabeli &#39;ciptaan bersama’. Hanya saja aku tak mau kau bersusah payah mencari celah, karena pada akhirnya justru lukisan itu akan kujadikan kejutan suatu saat, <strong><em>kupersembahkan seluruhnya untukmu</em></strong>.</p><p>Cukup kau buat sendiri lukisanmu itu di sela-sela sambil meneguk teh hangat, akupun demikian. Hingga pada saatnya nanti, ketika lukisan versiku selesai dibuat. Maka saat itu juga kau kuizinkan untuk berkunjung… minimal sekedar melihat hasilnya, bahkan jika perlu… akan ku antar ke rumahmu jika kau mau — tenang, tak perlu nota pembayaran — ini resmi menjadi milikmu.</p><p>Sayangnya, mungkin ini butuh waktu, sekitar 24 hari 8 jam 27 menit — tunggulah jika kau bersedia nona. Namun untuk saat ini, seperti bumi yang berputar pada porosnya. Kau cukup berputar pada porosmu, aku berputar pada porosku. Hingga nanti pada momen yang tepat kita berpapasan di garis edar yang sama, maka saat itu juga aku siap untuk menyelinap menaruh <strong>bom waktu</strong>, lalu meledakkannya. Agar saat itu; detik itu juga aku, kamu, [<strong>kita</strong>] terhenti abadi dalam garis orbit yang sama.</p><p><strong>Semoga ya,</strong></p><p>-<strong><em>her</em></strong>,</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=fa059267c4d1" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/meja-sajak/bom-waktu-fa059267c4d1">Bom Waktu</a> was originally published in <a href="https://medium.com/meja-sajak">Meja Sajak</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Politik, Nyata Bukan Fatamorgana]]></title>
            <link>https://medium.com/@raihanrdtya/politik-nyata-bukan-fatamorgana-f82cfb4d38c9?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f82cfb4d38c9</guid>
            <category><![CDATA[politics]]></category>
            <category><![CDATA[culture]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raihan Raditya]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 13 Apr 2026 00:58:23 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-13T00:58:23.129Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mendengar kata &#39;politik’, seringkali kebanyakan dari kita mendefinisikan itu sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan, kotor, utopis, bahkan dianggap terlalu melangit oleh kita yang hidup di bumi. Namun jika ditelisik lebih dalam, nyatanya politik itu justru erat sekali kaitannya dalam kehidupan kita sehari-hari, tak berjarak sedikitpun. Misalnya, ketika kita membeli kebutuhan dapur dengan harga yang cukup mahal, mendapatkan gaji yang tak setimpal atas jerih payah kita, mendapatkan bantuan pemerintah, atau bahkan dewasa ini... Program Makan Bergizi Gratis, semua itu berkat &#39;politik&#39; dalam bentuk <strong>produk kebijakan.</strong></p><p>Meskipun selalu ada dua hal yang kita rasakan dampaknya, baik dan buruk. Namun, poinnya adalah bahwa ternyata politik itu memiliki peran penting dalam kelangsungan hidup masyarakat pada suatu bangsa dalam lini terkecil sekalipun. Untuk itu sebagai masyarakat secara sadar ataupun tidak yang terkungkung dalam keterpaksaan regulasi dari &#39;produk kebijakan&#39; tadi, penting sekali bagi kita semua untuk aware terhadap isu-isu politik yang terjadi, at least aktif dalam mengkritisi &#39;produk kebijakan&#39; yang tak memihak rakyat, <strong>kita</strong>.</p><p>Karena pada hakikatnya politik itu adalah mulia, suatu tuntunan untuk mencapai tujuan yang baik. Namun memang perlu diakui, dewasa ini definisi itu telah bergeser bahkan hilang akibat ulah para oknum yang memiliki kepentingan pribadi maupun kelompok yang rakus akan kekuasaan. Gampangnya jika kita gunakan metafor teologi, &quot;layaknya ajaran agama yang baik, namun banyak oknum yang justru melakukan hal yang negatif atas nama agama itu sendiri&quot; -politik-pun demikian, miris!</p><p>Untuk itu sebagai masyarakat yang <strong><em>aware</em></strong>, suara kita amat diperlukan; kritik kita diperlukan; caci-makian kita diperlukan; bahkan aksi jalanan kita sangat diperlukan sebagai jalan terakhir jika jalan lain sudah buntu karena tak didengar -tenang, semua dijamin Undang-Undang karena <strong>KITA MEMILIKI KESEMPATAN ITU SEBAGAI HAK</strong>. Pertanyaannya, <strong>Untuk apa semua?</strong> Untuk kelangsungan hidup kita; untuk mengawasi mereka-mereka yang mencoba menyalahgunakan kekuasaannya; dsb. Maka jangan anggap lagi politik itu tak penting, bahkan tak nyata. Karena paradigma itu yang justru pada akhirnya menjadikan kita lalai dan tak sadar bahwa sebenarnya kita sedang &quot;<strong>diinjak</strong>&quot; &quot;<strong>dikhianati</strong>&quot; oleh penguasa yang tak memihak pada kepentingan rakyat.</p><p>-Karena nyatanya, politik itu <strong>nyata</strong> di depan mata, dapat dirasa, dan <strong><em>bukan fatamorgana</em></strong>~</p><p>-her,</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f82cfb4d38c9" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Saat-saat yang ‘Menentukan’]]></title>
            <link>https://medium.com/@raihanrdtya/saat-saat-yang-menentukan-2c7afe24baf3?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2c7afe24baf3</guid>
            <category><![CDATA[health]]></category>
            <category><![CDATA[life]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raihan Raditya]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 22 Feb 2026 13:34:28 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-22T13:34:28.851Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>saat itu, dimana tak pernah terpikir apalagi terbayang… benturan keras datang tanpa aba-aba yang menguji, meluruhkan segala keangkuhan, ketamakan — pria kepala batu ini.</blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*eo02LEYWE-cLWu2gVZsLsw@2x.jpeg" /></figure><p>ini waktu udah bisa ketawa, tadinya mah kejet” sekarat euy</p><p>— RS Pusat Otak Nasional</p><p>Andai semua telah tergambar atau diberi kisi-kisi yang jelas atas segala resiko dan implikasi buruk yang akan terjadi sebelum kenyataan itu tiba, maka tak akan pernah ada penyesalan yang menyisakan traumatik yang begitu mendalam seperti hari ini, esok bahkan mungkin seterusnya. Tapi agaknya aku percaya bahwa setiap hal yang terjadi pasti ada hikmah dan pelajaran yang dapat kuambil.</p><p>Syukur adalah kata yang tak henti-hentinya terucap, karena bagiku tuhan telah merencanakan semua ini dengan tujuan yang pasti akan berakhir indah pada waktunya, menegur; menguji; meluruskan kembali; memberi kesempatan untuk melanjutkan hidup yang jauh lebih baik, lagi dan lagi.</p><p>Juga tak akan pernah kulupa, para kawan karibku, tetangga bapak/ibu, dan semuanya orang baik yang tak bisa kusebut satu persatu atas semua dukungan, semangat, pengertian, saran, dan do’a yang tak henti-hentinya terucap untukku sehingga atas semua itu per hari ini, aku dapat melewati masa-masa menegangkan itu, pulih dan membaik dari masa-masa kritis [masa-masa yang kupikir tak akan lama lagi waktuku di dunia].</p><p>Terima kasih, terima kasih… aku tak dapat membalas kebaikan itu semua dengan hal yang setimpal, tak akan bisa membalasnya. Tapi semoga tuhan yang akan membalas dengan hal indah juga penuh makna, do’aku hanya “berkah dan sehat selalu ‘kalian semua’ dan keluarga, aamiin.</p><p>#<strong>aku sakit apa</strong>? Bukan sakit biasa, awalnya kupikir gejala tipes. Tapi ternyata penyakit yang horor sekali — <strong><em>pembuluh darah otak pecah</em></strong>, dan sudah banyak sekali kejadian seperti itu pada orang lain yang mayoritas berakhir di liang lahat, tapi sekali lagi… aku menyimpulkan ternyata semua ini terjadi atas rencana tuhan yang indah; secara tak langsung aku ditegur agar jadi pria yang lebih baik lagi; diluruskan dari segala yang melenceng; diingatkan agar konsisten menjaga pola hidup sehat; dan seterusnya</p><p>tapi bukan manusia namanya kalau baru akan menyesal setelah mengalami kenyataan pahit, karena kalau sadar diawal namanya pendaftaran, Ah Dasar manusia kepala batu!</p><blockquote>Do’akan Semoga jera ya kawan!🫰🏻</blockquote><p>-her</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2c7afe24baf3" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kemerdekaan Bangsa yang Terbelenggu 'Logika Mistika’]]></title>
            <link>https://medium.com/@raihanrdtya/kemerdekaan-bangsa-yang-terbelenggu-logika-mistika-694c2f29d57b?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/694c2f29d57b</guid>
            <category><![CDATA[culture]]></category>
            <category><![CDATA[social-media]]></category>
            <category><![CDATA[history]]></category>
            <category><![CDATA[teologia]]></category>
            <category><![CDATA[logic]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raihan Raditya]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 27 Jan 2026 09:46:31 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-30T08:07:47.265Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>80 tahun yang lalu kiranya Indonesia lepas dari jerat penderitaan akibat penjajahan. Kemerdekaan saat itu jadi barang mahal yang pantas dibayar dengan kucuran keringat bahkan darah perjuangan. Meskipun merdeka secara teritori merupakan harga mati yang tak terbantahkan, namun sudi kiranya kita tak hanya memandang arti kemerdekaan yang terejawantahkan lewat keabsahan wilayah teritori secara de facto dan de jure saja — Kemerdekaan lebih dari itu.</p><p>Merdeka bukan hanya sebatas bebas dari intervensi pihak luar, merdeka dalam perspektif yang lebih luas juga diartikan bebas dari belenggu bangsa sendiri. Merdeka berpikir merupakan salah satu manifestasi kemerdekaan atas pengaruh bangsa sendiri, coba kita bayangkan berapa banyak manusia yang masih memiliki basis pemikiran dengan mengaitkan hal-hal gaib dalam setiap permasalahan yang datang pada dirinya. Begitu banyak manusia yang pada akhirnya berhenti menyimpulkan sesuatu pada titik kepercayaan mistik sehingga tak memliki rasa ingin tahu untuk melakukan pencarian secara logis, rasional, dan pengetahuan empiris atas apa yang dialami.</p><p>Dalam konteks kehidupan bangsa, begitu banyak fenomena semacam ini terjadi dan pada akhirnya menghambat perkembangan suatu bangsa ke arah yang lebih baik, bangsa yang mampu bersaing. Konkretnya coba kita lihat, ketika bangsa lain sudah mengembangkan proyek luar angkasa jauh sejak puluhan tahun kebelakang, kita masih sibuk mengandalkan dan menaruh kepercayaan pada jasa pawang hujan. Ketika bangsa lain sudah mulai mengembangkan senjata nuklir termutakhir, kita masih percaya dengan kesaktian dukun santet. Bahkan ketika masyarakat dunia berusaha keras dengan belajar banyak teori untuk mencapai level intelektual, kita masih percaya dengan kekuatan jimat untuk mencapai suatu posisi dan jabatan.</p><p>Ringkasnya, eksistensi logika mistika masih terus berkembang hingga saat ini. Meskipun kita merupakan bangsa yang merdeka sejak 80 tahun lalu, tapi pada esensinya kita masih terbelenggu oleh bangsa sendiri. Indonesia belum siap untuk beralih dari pemikiran yang tak berdasar menuju pemikiran logis. Ketika bangsa lain telah melewati fase logika mistika - pencarian filosofi - hingga saat ini masa ilmu pengetahuan. Indonesia masih dipengaruhi secara kuat dengan budaya dan kepercayaan mistik yang sebenarnya sangat mudah dipatahkan dengan logika dan rasionalitas.</p><p>Untuk itu, sudah sepatutnya kita sebagai tunas bangsa memasifkan cara berpikir yang terstruktur dan berdasar pada akal sehat secara kolektif. Cara berpikir yang mampu membedakan logika mistika dengan kepercayaan agama yang sudah semestinya kita percayai — karena bagiku ini koridor yang berbeda — agar percakapan bangsa Indonesia beralih dari mitos layaknya zaman pra-yunani kuno menuju percakapan dialektis yang berdasar pada logika akal sehat. Demi terwujudnya Indonesia yang mampu bersaing, Indonesia yang memiliki kedewasaan, dan tak lupa...</p><h3>Indonesia yang benar-benar &#39;Merdeka&#39;</h3><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=694c2f29d57b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Dandelion]]></title>
            <link>https://medium.com/@raihanrdtya/dandelion-8610170b8497?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/8610170b8497</guid>
            <category><![CDATA[love-letters]]></category>
            <category><![CDATA[poem]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raihan Raditya]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 21 Nov 2025 16:55:24 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-12-22T17:19:34.044Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>~if the hour was withered past, then I am done~</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*RQGufCAmrhbInu9F2Pc9pQ.jpeg" /></figure><p>at times it feels impossible<br>to find a gap, a place to spill everything<br>while time keeps moving<br>unyielding —I thought it would never fade<br>yet perhaps it might<br>disappearing on its own</p><p>the dandelion… it withered,<br>devoured by time, devoured by pride<br>I had prepared it with a pulse<br>with breath itself,<br>yet still it wilted<br>beneath the blunt weight of fact</p><p>perhaps I was wrong in my reading<br>perhaps it was true<br>and now… all of it is only a matter of time,<br>until the day comes<br>when a whole garden of dandelions<br>vanishes without trace</p><p>gone —because I plucked too many,<br>kept them locked within my house,<br>while time refused<br>to let them meet<br>the waiting sun as “<strong>arunika</strong>”</p><p>and so, if that is how it must be,<br>then when that hour arrives<br>all ends</p><h3>I stop, I am done…</h3><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=8610170b8497" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Romantisasi Reformasi VS Gaungan Revolusi]]></title>
            <link>https://medium.com/@raihanrdtya/romantisasi-reformasi-vs-gaungan-revolusi-129b33ec90ff?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/129b33ec90ff</guid>
            <category><![CDATA[culture]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[politics]]></category>
            <category><![CDATA[history]]></category>
            <category><![CDATA[philosophy]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raihan Raditya]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 25 May 2025 13:31:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-25T13:31:22.630Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>98 .Sepasang angka yang membeku dalam sejarah. Ia tak lagi sekadar penanda waktu — melainkan memori kolektif yang terus disembah, dikenang, dan diromantisasi. ‘Katanya’, itu adalah tonggak demokrasi atas kungkungan hegemoni rezim otoritarian orde baru. ‘Katanya’, itu adalah momen klimaks perlawanan terhadap tirani. Tapi, apakah hanya sampai di situ?</blockquote><p>Kita pernah gegap-gempita; jumawa. Jalan-jalan penuh teriakan. Mahasiswa jadi martir yang meletup-letup. Rakyat jadi saksi. Lalu Soeharto lengser dan semua seolah selesai. Tepuk tangan pecah, semua bersorak, dan panggung ditutup. Tapi, bukankah itu justru tragedi? Sebab panggung sesungguhnya justru baru dibuka.</p><p>Setelah membaca sedikit banyak buku, literatur, berita sejarah kredibel, bahkan cerita/podcast para tokoh yang berkelindan dengan sejarah reformasi 98, <strong>Catatanku</strong> <strong>sederhana</strong>: mengapa kita <strong>berhenti</strong> pada saat <em>klimaks</em>? Mengapa kita <strong>puas</strong> hanya dengan <em>menurunkan</em> seseorang; merubah secara <strong>kuantitas</strong>, padahal sistem yang membesarkan tirani itu masih tetap berdiri kokoh, hanya mengganti topeng? Apakah kita sedang memperjuangkan perubahan, atau sekadar menagih pergantian?</p><p>Reformasi seharusnya <strong>bukan</strong> <strong>tujuan</strong>, <em>tapi</em> <em>jalan</em>. Namun yang terjadi justru sebaliknya — reformasi berubah jadi tujuan akhir, ini masalahnya. Para reformis layaknya pelari yang berhenti di garis start, lalu berfoto dan bersorak sorai karena merasa sudah menang.</p><p>Lalu hasilnya? Korupsi tetap merajalela. Kolusi hanya berganti baju. Nepotisme tumbuh subur bahkan di lingkungan yang katanya “progresif.” KKN bukan diberantas, tapi diwariskan. Jika ini yang disebut keberhasilan reformasi, maka logika kita sedang dirampok. Begitupun permasalahan lain yang dewasa ini sudah sedang terjadi dan tak henti-hentinya membuat kita tak habis pikir, ironis bukan?!</p><p>Tiap tahun, tiap <strong>Mei</strong>, kita mengenang. Begitupun beberapa hari lalu kita lihat panggung-panggung akademik maupun aksi jalanan dipenuhi puisi dan orasi. Dosen; pembicara berdiri, mahasiswa mendengar, dan semua merasa heroik — begitupun di kampus-kampus— tapi siapa yang berani bertanya: apa yang sebenarnya kita rayakan? <strong>Kemenangan</strong>, atau <strong>kegagalan</strong> yang dibungkus <em>nostalgia</em>?</p><p>Sudah waktunya, bagiku kita cukupkan; berhenti meromantisasi reformasi. Bukan karena tak penting atau bahkan menyayangkan aksi itu terjadi 27 tahun silam, melainkan menyadarkan bahwasanya kita terlalu nyaman menjadikannya dongeng ‘<em>langitan</em>’. Padahal jika kita menimbang konteks kehidupan sosial-politik dewasa ini dan melihat dampaknya, bagiku reformasi tak lagi relevan atau setidaknya jika ingin dipertahankan, <strong>pengawalan</strong> terhadap cita-cita reformasi itulah yang justru seharusnya lebih penting dan menjadi poin utama untuk digaungkan. Atau saranku lebih baik kita menggunakan pendekatan lain, yakni <strong>Revolusi</strong> — dalam pikiran, dalam struktur, dalam cara kita bernegara.</p><p>Ya, kalian tak salah dengar — <strong>Revolusi</strong>. Kata yang tak dapat dinafikan dapat membuat penguasa merinding. Namun justru karena itulah revolusi dibutuhkan. Karena sistem yang busuk tak bisa diperbaiki dengan <em>tambalan</em> reformasi. Ia perlu dibongkar, dibedah, disusun ulang — bukan sekadar diganti namanya.</p><p><strong><em>Disonansi</em></strong> memang perlu, tapi sampai kapan kita hanya jadi gema tanpa nada? Sampai kapan teriakan itu hanya dianggap sebelah mata? Oposisi boleh gaduh, tapi jika hanya menjadi pengganggu tanpa strategi, maka itu hanya akan jadi latar. Keberanian harus ada untuk menyatu dalam kekuasaan, <strong>bukan untuk tunduk </strong>— sekali lagi <strong>bukan untuk tunduk! </strong>— tapi untuk mengguncang dari dalam, karena pendekatan tak hanya tunggal. Itulah ruh revolusi yang sejati — bukan sekadar memberontak, tapi membentuk ulang. <strong>DENGAN SYARAT</strong> — Semangat, komitmen atas cita-cita revolusi itu harus secara konsisten dilakukan — agar “<em>antitesis yang mencoba merekonstruksi tesis dengan memasuki ruhnya dapat tetap menghasilkan solusi atas permasalahan yang selama ini kita rasakan sebagai sintesis yang solutif</em>” — (ini hanya metafor semoga kalian pembaca mengerti).</p><p>Inilah saatnya kita bertanya: <strong>masih pantaskah reformasi dijadikan altar suci penghambaan yang diromantisasi? <em>Atau justru harus kita gugat sebagai kegagalan yang harus diperbaiki dengan jalan lain?</em></strong></p><p>Renungkanlah…</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/512/1*iGnqi1T0C--L_jBCWTU7eA@2x.jpeg" /></figure><blockquote>Manifestasi tokoh revolusi yang kritis dan keras terhadap pemerintah sebelumnya. namun pada akhirnya mereka menggunakan pendekatan dari ‘dalam’ sistem untuk memperbaiki, apakah salah? Justru pada akhirnya mereka dikenal sebagai tokoh-tokoh intelektual; pemikir brilian yang paling berjasa dalam perkembangan sejarah bangsa Indonesia.</blockquote><h4>~Semoga tulisan ini dapat menggugah; merekontsruksi kembali akar permasalahan sesungguhnya atas stagnasi penyelesaian permasalahan bangsa dewasa ini — bahkan bukan hanya stagnan, melainan drop terjun ke dasar lingkaran setan yang semakin menjadi tantangan bahkan ancaman nyata bagi kita, generasi muda, renungkanlah~</h4><h3>-her</h3><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=129b33ec90ff" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[INDONESIA DI UJUNG TANDUK: TERJERAT PRAGMATISME NIRETIKA ATAU BERANI KEMBALI KE JATI DIRI?]]></title>
            <link>https://medium.com/@raihanrdtya/indonesia-di-ujung-tanduk-terjerat-pragmatisme-atau-berani-kembali-ke-jati-diri-1ef7db926487?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/1ef7db926487</guid>
            <category><![CDATA[social-media]]></category>
            <category><![CDATA[culture]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[history]]></category>
            <category><![CDATA[politics]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raihan Raditya]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 01 May 2025 22:16:33 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-02T04:19:42.633Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>“Politics without principle is a danger, but pragmatism without conscience is a betrayal.” – Burke.</blockquote><p>Indonesia sejak era pasca kemerdekaan hingga saat ini seringkali dihadapkan dengan situasi <strong>dilema</strong> dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial-politik bangsa yang fluktuatif. Antara memegang <strong>prinsip</strong> dasar yang telah menjadi konsensus nasional atau justru mengambil jalan pintas <strong>pragmatisme</strong> sebagai harga yang harus dibayar untuk bertahan dengan label ‘<strong>stabilitas</strong>’.</p><p>Namun kondisi dilematis ini kiranya sudah bergeser. Jikalau dilema dapat diinterpretasikan sebagai kondisi ketika dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit, nyatanya jika kita menelisik lebih dalam kebijakan politik yang diambil pemerintah dari era orde lama hingga era reformasi saat ini, seringkali didominasi dengan kebijakan yang hanya bersifat transaksional demi solusi praktis yang miskin akan moralitas. Dengan kata lain pada akhirnya hanya ada satu pilihan, tak lagi mendua —<strong>pragmatisme politik.</strong></p><p>Keputusan tersebut biasanya dibuat untuk memuluskan kepentingan terselubung suatu rezim. Tak jarang dalam membuat kebijakan, seringkali pemerintah mengemasnya dengan embel-embel ‘tujuan yang mulia’ dengan landasan filosofis yang terlihat sangat memihak kepada rakyat di tingkat ‘<em>akar rumput</em>’. Sayangnya, hal tersebut hanyalah formalitas yang terlihat di permukaan, jika ditelisik lebih dalam nyatanya kebijakan tersebut dalam realisasinya telah terdegradasi oleh praktik pragmatisme politik yang mengesampingkan etika dan moralitas. Kondisi semacam ini biasanya secara spesifik dilakukan oleh suatu rezim dengan berbagai motif, misalnya untuk memperkuat dan mempertahankan kekuasaan, praktik cawe-cawe dengan oligarki demi kelancaran bisnis, mempertahankan stabilitas semu, bahkan sekedar untuk meninggalkan ‘<strong><em>legacy</em></strong><em>’ </em>agar namanya — tokoh inti penguasa — selalu dielu-elukan, dan sebagainya.</p><p>Konkretnya, sebut saja dimulai sejak <strong>era orde lama </strong>ketika Soekarno dengan konsep demokrasi terpimpinnya yang ditujukan sebagai konsep untuk mempersatukan bangsa namun berakhir pada otoritarianisme yang syarat akan represifitas; <strong>Era orde baru</strong> ketika Soeharto dengan pembangunanisme-nya yang digarap untuk menunjang pertumbuhan ekonomi namun berujung pada eksploitasi SDA bahkan masifnya praktik KKN; <strong>Era reformasi </strong>misalnya dengan kebijakan otonomi khusus pada beberapa daerah yang seringkali ditetapkan hanya sebagai jalan keluar yang praktis untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan namun di sisi lain mengorbankan prinsip-prinsip dasar Pancasila dan konstitusi sebagai konsensus nasional, UU Ciptaker yang diklaim untuk mempermudah investasi dan lapangan kerja namun realitanya justru untuk melindungi kepentingan oligarki, Revisi UU KPK, Pembangunan IKN Nusantara, dan sebagainya.</p><p>Rentetan kejadian tersebut semakin mempertegas bahwasanya Indonesia sudah sedang terjerat pragmatisme politik niretika yang telah mengakar dan menancap kuat dalam mentalitas bangsa, terkhusus para <strong>elite politik</strong> dan <strong>penguasa</strong>. Jika kita kembali menelisik dari sejarah, praktik pragmatisme politik di Indonesia memang layak disebut seperti <strong>lingkaran setan</strong>; dimana para elite yang minim akan moralitas mengorbankan prinsip dasar demi kekuasaan, rakyat yang dihadapkan dengan bayang-bayang stabilitas, dan demokrasi yang hanya menjadi alat transaksional belaka.</p><p>Namun demikian, dibalik narasi pesimistis yang saya garap ini, rasa-rasanya masih terendus suatu harapan. <strong>Harapan</strong> untuk <strong>berubah</strong>, <strong>kembali</strong> kepada <em>jati diri </em>sesungguhnya. Harapan itu ditandai dengan muncul dan meningkatnya kesadaran rakyat terkhusus <strong>generasi muda</strong> yang dewasa ini semakin aktif dan masif melancarkan aksi perlawanan untuk memberontak terhadap warisan busuk ini. Digitalisasi dengan adanya media sosial —<em>terbukanya keran arus informasi—</em>juga menjadi keuntungan sekaligus rahmat bagi kita generasi muda dalam membentuk suatu kesadaran kolektif juga mendorong, mendongkrak, dan membangkitkan <strong>kritisisme</strong> menuju <strong>aksi nyata</strong> sebagai modal utama <strong>perlawanan</strong>, tepatnya sebagai ‘<strong><em>senjata revolusi</em></strong>’.</p><p>Akhir kata, kesimpulannya dalam konteks permasalahan ini yakni bahwa praktik pragmatisme politik dengan tujuan negatif dan proses yang ‘<em>cacat</em>’ kian hari semakin menggerus jiwa dan identitas bangsa. Untuk itu, warisan busuk yang sudah mendarah daging ini harus kita kubur dan hilangkan dari memori kolektif kita bersama. Bagiku Indonesia perlu generasi yang berani untuk mengambil alih serta menciptakan lembaran sejarah baru agar tak lagi terjebak di ujung tanduk pragmatisme —melainkan melompat ke masa depan yang kembali memegang teguh prinsip-prinsip dasar sesuai dengan jati diri bangsa yang sesungguhnya.</p><h4><strong>Republik ini</strong>, <strong>belum mati</strong>!</h4><h4><strong>Lawan</strong>! <strong>lawan</strong>! <strong>lawan</strong>!</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/358/1*yLXeJgSYw2FcpOF2K2CKyQ@2x.jpeg" /></figure><blockquote>-Djakarta, DPR [May Day, May Day]</blockquote><p>Note:</p><p><strong>RoGer </strong>pernah berkata, “<em>lebih baik </em><strong><em>pesimis</em></strong><em> </em><strong><em>rasional</em></strong><em>, ketimbang </em><strong><em>optimis</em></strong><em> </em><strong><em>irasional</em></strong><em>”.</em></p><blockquote><strong><em>Bagiku</em></strong>, “Renungan ini boleh saja kugarap <strong>80%</strong> dengan narasi pesimistis, tapi sengaja —sengaja supaya ketika kita mengetahui kondisi <strong>rill</strong>-nya, hal tersebut akan membangkitkan <strong>semangat</strong> kita – agar setidaknya dapat menciptakan suatu <strong>harapan</strong> dan <strong>keinginan</strong> untuk merubah semua menjadi lebih baik”.</blockquote><blockquote>-her, 🙃</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=1ef7db926487" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Ranting yang Patah, Ditengah Bunga yang Bermekaran]]></title>
            <link>https://medium.com/@raihanrdtya/ranting-yang-patah-ditengah-bunga-yang-bermekaran-fd401a930044?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/fd401a930044</guid>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raihan Raditya]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 25 Apr 2025 16:30:48 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-04-25T16:30:48.261Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>hari yang cerah untuk menulis, tentangmu</blockquote><p>Menjadi versi terbaik dirimu tanpa Sang penginterupsi bagiku lebih baik</p><p>Lebih baik ketimbang berusaha mempertahankan kata “<strong><em>kita</em></strong>” dalam bingkai tua di sudut ruang hampa</p><p>Tenang, tak perlu pikirkan aku</p><p>Sepertinya aku tak apa, jikalau tak demikian…</p><p>Do’akan saja aku akan baik-baik saja,</p><p>Semoga kamu tumbuh ya, tumbuh bermekaran layaknya <strong>bunga matahari </strong>yang dulu kita semai bersama di taman harsa —<em>tempat favorit kita</em></p><p>Namun <strong>kau</strong> juga <strong>tak harus jadi</strong> <strong><em>bunga matahari</em></strong>, yang hanya ceria ketika dibawah bayang-bayang sang arunika</p><p>Kau perlu hidup tanpa bayang-bayang yang terus menghantui, aku mengerti</p><p>Meskipun tempo lalu akulah orang yang selalu menuntunmu</p><p>Menopangmu untuk terus kuat, bertumbuh</p><p>Namun sekarang, mungkin sudah habis tenggatnya</p><p>Sepertinya kau sudah terlalu jauh berkembang melebihi apa yang kupikirkan</p><p>Kau dapat menopang dirimu sendiri</p><p>Untuk itu, aku pamit ya</p><p><em>~Layaknya ranting tua yang patah, di tengah bunga yang sedang bermekaran —aku~</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=fd401a930044" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Senja, Tak Pernah  Pilih Kasih]]></title>
            <link>https://medium.com/ruang-kontemplasi/senja-tak-kenal-pilih-kasih-81a468ee04dd?source=rss-c87429fa87a3------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/81a468ee04dd</guid>
            <category><![CDATA[mindfulness]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Raihan Raditya]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 18 Apr 2025 13:11:39 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-18T19:01:57.844Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h2>Senja, Tak Pernah Pilih Kasih</h2><blockquote>~ tentang senja yang melahirkan ketenangan, tentang hamba yang merindukan ketenteraman ~</blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*h_l5RhR1Xmw3zFs9BcfL1A@2x.jpeg" /></figure><p><strong><em>Senja</em></strong>, tengoklah layaknya insan kecil itu yang sedang menengokmu…</p><p>Tengoklah, ada yang sedang <em>berbunga</em> dimabuk cinta</p><p>Ada yang sedang <em>bercengkrama</em> dan bertegur sapa</p><p>Ada pula yang sedang <em>bertengkar</em> dengan isi kepala</p><p>Namun berkatmu, senja —‘kau mampu menyatukan semua…</p><p>Tanpa terkecuali, <em>tak pernah pilih kasih</em></p><p><strong><em>Karena mungkin bagimu, senja</em></strong></p><p><em>“setiap insan, berhak bahagia”</em></p><p><strong>Tenang</strong>, <em>itulah bahagia</em> —bagiku</p><p>Laut Kidul, Selatan Jawa</p><p>-<em>her</em>,</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=81a468ee04dd" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/ruang-kontemplasi/senja-tak-kenal-pilih-kasih-81a468ee04dd">Senja, Tak Pernah  Pilih Kasih</a> was originally published in <a href="https://medium.com/ruang-kontemplasi">Ruang Kontemplasi</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>