<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Khansa Adilla on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Khansa Adilla on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@revakhansaadilla?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*SjsaTK55bjjpcCURWmy05g.png</url>
            <title>Stories by Khansa Adilla on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Wed, 20 May 2026 12:53:36 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@revakhansaadilla/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Menjadi Perempuan Berdaya]]></title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla/menjadi-perempuan-berdaya-d0dc8eeac64e?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d0dc8eeac64e</guid>
            <category><![CDATA[islam]]></category>
            <category><![CDATA[woman-empowerment]]></category>
            <category><![CDATA[reflections]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Khansa Adilla]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 19 May 2026 06:51:37 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-19T23:01:50.678Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/940/1*miuNO0QypzPWUvCEx0oTHw.png" /></figure><p>Salah satu hal yang paling aku benci adalah simplifikasi peran perempuan sebatas sumur, dapur, dan kasur. Seolah-olah peran perempuan cuma untuk beres-beres rumah, cuma untuk jadi tukang masak, dan cuma untuk melayani suami.</p><p>Akibat stigma itu, akhirnya perempuan yang tidak memenuhi itu dianggap menyalahi aturan. “Kamu kan perempuan, kok ngga bisa beres-beres? Kamu kan perempuan, kok ngga bisa masak? Kamu kan perempuan, kok ngga bisa dandan? Siapa coba laki-laki yang mau sama kamu?”</p><p>Belum lagi, perempuan yang begitu bersemangat mengejar cita-citanya akan dipandang sebelah mata. “Jangan terlalu ambisiuslah, nanti ngga ada laki-laki yang mau sama kamu.”</p><p>Jadi, hidup seorang perempuan hanya boleh berkutat di beres-beres rumah, memasak di dapur, dan berdandan di depan cermin? <em>Really?</em></p><p>Kalau kita menelisik kisah-kisah perempuan hebat di dalam sejarah islam. Ada begitu banyak kisah heroik yang menunjukkan betapa luar biasanya peran perempuan.</p><p>Salah satu kisah yang sangat menginspirasi adalah kisah Khadijah.</p><p>Ketika Nabi Muhammad baru aja bertemu dengan Jibril. Beliau begitu menggigil dan ketakutan karena takut bahwa dirinya sudah gila.</p><p>Khadijah bukan hanya diam, tetapi meyakinkan Nabi Muhammad dengan perkataan yang sangat indah.</p><blockquote>“Tidak, sayangku. Demi Allah, Dia tidak akan pernah merendahkanmu. Engkaulah orang yang akan mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia, memikul beban penderitaan orang lain, bekerja untuk mereka yang papa, menjamu tamu dan menolong orang-orang yang menderita demi kebenaran”.</blockquote><p>Bukan hanya membantu lewat kata-kata, Khadijah pun mengajak Nabi Muhammad bertemu dengan Waraqah. Dari situlah diketahui bahwa itu pertanda kenabian.</p><p>Khadijah benar-benar menjadi penguat bagi Nabi Muhammad. Bahkan, Khadijah yang terkenal begitu kaya sebelum menikah dengan Rasulullah. Meninggal dalam keadaan begitu kekurangan.</p><p>Padahal, Khadijah sangat memiliki opsi untuk hidup nyaman. Tapi, Khadijah berdiri begitu kokohnya untuk mendukung dakwah Rasulullah yang bisa kita nikmati indahnya hingga hari ini.</p><p>Saking luar biasanya peran Khadijah, Nabi Muhammad masih seringkali mengenangnya meski Khadijah sudah tiada.</p><blockquote>“Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku. Ia membantuku dengan hartanya ketika manusia menghalangiku…”</blockquote><p>Belum lagi kisah Hajar ditinggal seorang diri di tengah padang pasir. Padahal, kalau makai standar orang jaman sekarang. Pasti Nabi Ibrahim udah dikatain ga bertanggung jawab. Tapi, ketika Hajar tau bahwa itu adalah perintah Allah. Beliau pun langsung ikhlas.</p><p>Saat air sudah habis, Hajar pun takut anaknya ngga bisa minum. Tanpa mengenal lelah, Hajar bolak-balik Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi anaknya. Begitu luar biasa kasih sayang seorang ibu, mau selelah apapun akan dilakukan demi anaknya tersayang.</p><p>Akhirnya, seperti yang kita tau. Air pun mengalir di bawah kaki Nabi Ismail. Allah ngga langsung menurunkan pertolongannya. Hajar ngga cuma berdoa tanpa berusaha. Justru, Hajar menunjukkan kepada kita semua bahwa tugas kita adalah berusaha semaksimalnya. Lalu, Allah akan menurunkan pertolongannya.</p><p>Kalau kita benar-benar menjadikan Khadijah sebagai pedoman. Harusnya timbul pertanyaan : “Sudahkah aku menjadi sosok setangguh Khadijah? Bisakah aku menjadi seorang istri yang menjadi penguat ketika suamiku sedang di masa terendahnya? Bisakah aku menjadi seorang istri yang ngga panik ketika suami tiba-tiba di-PHK?”</p><p>Aku jadi teringat obrolan bersama abi.</p><p>“Laki-laki itu jatuh cinta lewat pandangan,” kata abi.</p><p>Refleks aku langsung jawab, “Oh berarti harus jadi cantik, ya?”</p><p>Abi pun langsung menyangkal, “Cantik itu cuma untuk pandangan pertama. Pandangan kedua, ketiga, dan seterusnya itu adalah pandangan muka wanitanya menerima dia sepenuhnya.”</p><p>Makanya, seharusnya sebagai wanita tuh hal yang paling kita takutkan tuh bukan kurang cantik. Tapi, kurang bersyukur.</p><p>“<em>Dan saya melihat kebanyakan penghuninya (neraka) adalah para perempuan. Mereka bertanya, mengapa wahai Rasulallah? Beliau bersabda, dikarenakan kekufuran mereka. Lalu ada yang berkata, apakah mereka kufur kepada Allah? Beliau menjawab, kufur terhadap pasangannya dan kebaikan-kebaikan pasangannya itu. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang perempuan sepanjang tahun, kemudian dia melihatmu melakukan (sedikit) kejelekan, maka dia akan mengatakan, saya tidak melihat sedikit pun kebaikan darimu</em>” [HR. al-Bukhari dan Muslim].</p><p>Dunia tuh benar-benar cuma sementara… Kalau kita mencari seseorang yang bisa memenuhi kebutuhan dunia belaka. Makanya, wajar aja pas dia udah ngga bisa memenuhi itu, kita jadi ga bisa bersabar. Apalagi bersyukur.</p><p>Padahal, harusnya kita bisa melihat hal yang lebih penting dibanding itu, kan?</p><p>Kalau kita benar-benar menjadikan kisah Hajar sebagai pedoman. Seharusnya, timbul pertanyaan, “Sudahkah aku setangguh Hajar? Sudah bisakah aku berjuang sekeras itu demi anak-anakku nanti? Sudah bisakah aku menjadi <em>role model </em>yang baik bagi anak-anakku?”</p><p>Seiring perkembangan ilmu psikologi, semakin terlihat bahwa peran ibu begitu menakjubkan. Bukan cuma sekadar nutrisi yang masuk ketika kita sedang hamil, tetapi kondisi mental kita pun akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.</p><p>Makanya, benar-benar harus semenyiapkan diri itu. Masa masih makan seblak? Masa masih malas olahraga? Masa masih ga bisa <em>manage stress</em>? Kasian anak kita nanti pas di dalam kandungan.</p><p>Aku benar-benar selalu <em>amazed </em>dengan kehamilan. Seberapa besar cinta yang dimiliki sampai rela mengorbankan begitu banyak hal? Bahkan, hal sepenting nyawa pun rela dikorbankan demi seorang anak cuy.</p><p>Apalagi pas umi bilang, “Rasanya sakit umi hilang pas ngeliat anak umi lahir.”</p><p>Makanya, perempuan benar-benar seistimewa itu karena cuma perempuan yang dikasih rahim. Arti rahim kan penyayang ya.</p><p>Rasanya jadi amat <em>mind blowing. Di saat kasih sayang dianggap kelemahan. </em>Justru kekuatan terbesar seorang perempuan tuh ada di kasih sayangnya. Berkat rasa sayangnya yang begitu besar ia rela mengorbankan semuanya demi hal yang ia sayang.</p><blockquote>Emangnya harus ya nikah? Emangnya harus ya punya anak?</blockquote><blockquote>Kan hukumnya ga wajib. Bisa aja kan aku malah destruktif. Makanya, lebih baik ga usah nikah. Makanya, lebih baik ga punya anak.</blockquote><p>Mungkin, itu pertanyaan yang sering kali terlintas. Apalagi melihat begitu banyak berita pernikahan yang menyeramkan. Apalagi melihat begitu banyak berita orangtua yang salah membesarkan anak.</p><p>Tapi… Sampai kapan sih mau jadiin ketakutan sebagai landasan suatu keputusan? Sebenernya, kita tuh hidup buat siapa sih?</p><p>Hidup kita cuma untuk menyembah Allah, bukan untuk menyembah rasa takut.</p><p>Bukan berarti harus nikah dan punya anak sekarang juga. Justru, harus benar-benar diidentifikasi ketidaksiapan itu asalnya darimana. Jadikan betapa besar manfaat dari pernikahan dan punya anak sebagai motivasi untuk menyiapkan diri.</p><p>Bukan malah bilang, “Ah aku terlalu ga pantas, ga usah sekalian.” Masa mau langsung nyerah sih?</p><p>Sama aja kayak kalau kita ngerasa terlalu bodoh untuk masuk kampus impian. Pikiran yang benar, bukan langsung nyerah, kan? Tapi, jadiin impian itu sebagai dorongan untuk memperbaiki diri.</p><p>Justru, karena pernikahan itu sangat butuh kesiapan. Harusnya itu jadi dorongan yang begitu kuat untuk ngga jadi pribadi yang masih gini-gini aja.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/427/1*K0_3F2HUu-bZ0SJiCPVFlw.png" /></figure><p>Tapi, kalau udah semangat banget perbaiki diri. Terus ga ketemu jodoh. Sia-sia dong semua persiapannya?</p><p>Ngga sama sekali.</p><p>Justru, kalau kita ikutan kelas pranikah. Hampir semuanya tuh materi yang kita butuhkan sehari-hari. Mulai dari mengenal diri, manajemen konflik, manajemen keuangan, manajemen stres, dan masih banyak lagi.</p><p>Jadi, kalau pada akhirnya ngga Allah takdirkan nikah tuh ngga bakalan sia-sia. Justru, kita menjadi manusia yang lebih utuh karena kita punya alasan yang lebih besar dibanding diri sendiri.</p><p>Berkat <em>overthinking </em>hidup mau dibawa ke mana karena katanya harus nyari jodoh yang sevisi. Akhirnya, aku udah yakin dengan jalan hidup yang aku pilih. Kalau aja, aku ngga punya motivasi nyamain visi. Mungkin, aku masih <em>chill </em>aja dan berkata, “Masih muda nikmatin aja dulu.”</p><p>Berkat <em>overthinking </em>kalau ngga bisa <em>manage </em>emosi terus jadinya suka marah-marah sama suami. Aku jadi belajar gimana caranya meredakan emosi. Kalau aja, aku ngga punya motivasi itu. Mungkin, aku masih gampang kebawa emosi.</p><p>Meskipun, pada akhirnya aku ga nikah, <em>skillset </em>yang terbangun selama persiapan itu benar-benar berguna untuk menjalani kehidupan.</p><p>Kalau kata abiku, “Kalau sampai nanti pun kamu ga dapat jodoh. Ya udah, gapapa. Emang belum ketemu jodohnya, mau gimana lagi? Jangan memudah-mudahkan, jangan nurunin standar. Jangan tergantung sama suami. Ga mau abi anak abi nangis karena suaminya keras. Umi dan abi ngga ada yang keras, harus sama-sama saling mengerti. Kalau dia ngga mau dukung impian kamu, ya jangan. Kamu sampaikan <em>plan </em>kamu ke depan. Kalau dia ngga mau, ya udah. <em>Bye. </em>Hal yang paling penting dia mau dukung impian kamu.”</p><p>Emang pernikahan tuh manfaatnya ada banyak banget. Tapi, kalau pernikahan malah mematahkan sayap kita. Kenapa harus dipaksakan, kan?</p><p>Tapi… Tetep dong harus ngarep yang baik-baik hehe.</p><p>Semoga Allah menganugerahi kita pasangan yang tidak mematahkan sayap kita, tetapi berjalan bersama untuk saling menguatkan. Karena perempuan tidak diciptakan untuk mengecilkan dirinya, melainkan untuk memberi manfaat dan ikut membangun peradaban, baik lewat potensi dirinya maupun lewat perannya sebagai istri dan ibu.</p><p>Kalau mau menghancurkan sebuah negara, maka hancurkan perempuannya. Tapi semoga Allah menjaga kita tetap utuh dan menjadikan kita bagian dari mereka yang membangun, bukan yang dihancurkan.</p><blockquote>Peradaban tidak runtuh dalam sehari.<br>Dan ia juga tidak dibangun dalam sehari.<br>Tapi selalu dimulai dari mereka yang memilih untuk peduli.</blockquote><blockquote>Jangan biarkan dunia membuat kita sibuk memikirkan diri sendiri, sampai lupa bahwa kita sebenarnya diciptakan untuk membawa kebaikan yang lebih besar.</blockquote><blockquote>Bisa jadi kita bukan generasi yang langsung melihat kemenangan besar itu.<br>Tapi, semoga kita menjadi bagian dari generasi yang menanam pondasinya. Sebagai bentuk pertanggungjawabn di hadapan-Nya kelak.</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d0dc8eeac64e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pintu ke Pintu]]></title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla/pintu-ke-pintu-3b5ab396b486?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/3b5ab396b486</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Khansa Adilla]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 30 Apr 2026 07:48:03 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-30T08:01:26.296Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/940/1*SqTdwd9xB_782avBdn_ShQ.png" /></figure><p>Dulu, aku pikir hidup itu tentang menemukan satu pintu yang benar.</p><p>Satu pintu yang kalau aku pilih, semuanya akan jelas. Satu pintu yang akan jadi bukti kalau aku tidak salah jalan. Satu pintu yang akan membuatku akhirnya tenang.</p><p>Makanya setiap kali aku berdiri di depan sebuah pintu, aku selalu berusaha meyakinkan diriku:</p><p>“Ya Allah… ini ya? Ini jalan yang benar?”</p><p>Aku berusaha merencanakan. Berusaha memastikan. Berusaha jadi orang yang seharusnya tahu ke mana hidupnya akan dibawa.</p><p>Tapi anehnya…</p><p>Semakin aku berusaha memastikan, semakin aku merasa jauh dari tenang.</p><p>Aku tetap masuk ke pintu itu.</p><p>Dengan istikharah. Dengan harapan. Dengan keyakinan yang aku paksa-paksakan.</p><p>Dan di dalamnya, aku benar-benar berusaha.</p><p>Aku belajar. Aku mencoba. Aku memperbaiki diri.</p><p>Kadang aku merasa, “ini dia… mungkin ini jawabannya.”</p><p>Tapi kemudian… Aku harus keluar.</p><p>Dan setiap kali aku menutup pintu itu, rasanya bukan cuma sedih.</p><p>Rasanya seperti…</p><p>“Ya Allah… aku salah ya?”<br>“Aku kurang ikhtiar ya?”<br>“Aku mengecewakan-Mu ya?”</p><p>Aku malu.</p><p>Bukan cuma ke orang lain. Tapi ke diriku sendiri. Dan bahkan… ke Allah.</p><p>Seolah-olah aku sudah diberi jalan, tapi aku tidak cukup baik untuk menjalaninya sampai akhir.</p><p>Aku pernah sampai di titik di mana aku capek.</p><p>Capek karena merasa harus selalu benar. Capek karena setiap keputusan terasa seperti penentuan masa depan. Capek karena aku tidak pernah merasa yakin.</p><p>Dan diam-diam aku bertanya:</p><p>“Ya Allah… sebenarnya aku ini lagi dibawa ke mana?”</p><p>Sampai suatu hari, aku berhenti.</p><p>Bukan karena aku sudah menemukan jawabannya. Tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk terus memaksa.</p><p>Dan untuk pertama kalinya… Aku melihat ke belakang.</p><p>Aku melihat semua pintu yang pernah aku masuki.</p><p>Aku menyadari bahwa aku tidak pernah keluar dari satu pintu dengan tangan kosong.</p><p>Di setiap pintu itu, Allah menitipkan sesuatu kepadaku:</p><p>sebuah kunci.</p><p>Kunci untuk apa?</p><p>Awalnya aku tidak tahu.</p><p>Sampai aku mulai melihat hidupku seperti sebuah petualangan.</p><p>Setiap pintu yang aku masuki… seperti sebuah ruangan baru.<br>Di dalamnya, aku tidak hanya “menjalani”, tapi juga menemukan sesuatu.</p><p>Kadang berupa keberanian.<br>Kadang berupa cara berpikir baru.<br>Kadang berupa kesempatan yang bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.</p><p>Dan sering kali…</p><p>Yang aku kira adalah “tujuan akhir”,<br>ternyata hanya sebuah tempat singgah untuk mengambil bekal.</p><p>Seperti saat aku mengira satu pintu akan menentukan masa depanku.</p><p>Aku pikir itu adalah pintu terakhir.<br>Aku pikir dari situ aku akan tahu semuanya.</p><p>Tapi ternyata…</p><p>Pintu itu hanya memperkenalkanku pada sesuatu yang bahkan tidak pernah aku rencanakan sebelumnya. Sebuah jalan yang tidak pernah aku bayangkan.</p><p>Dan dari situ… pintu lain mulai terbuka.</p><p>Dan di situ aku akhirnya mengerti.</p><p>Bahwa selama ini aku salah memahami hidup.</p><p>Aku pikir setiap pintu adalah tujuan. Aku pikir kalau aku keluar, berarti aku gagal.</p><p>Padahal…</p><p>Beberapa pintu memang tidak diciptakan untuk aku tinggali. Beberapa pintu hanya Allah bukakan… Untuk memberiku kunci.</p><p>Dan mungkin…</p><p>Yang selama ini aku sebut “kebingungan” sebenarnya adalah cara Allah menuntunku.</p><p>Yang selama ini aku sebut “ketidakpastian” sebenarnya adalah cara Allah menjaga aku dari jalan yang bukan milikku.</p><p>Yang selama ini aku tangisi sebagai “kegagalan” sebenarnya adalah bentuk kasih sayang-Nya yang aku belum pahami.</p><p>Sekarang…</p><p>aku masih berjalan di lorong yang sama.</p><p>Aku masih membuka pintu.<br>Aku masih menutup pintu.</p><p>Aku masih takut.<br>Aku masih kadang ragu.</p><p>Tapi sekarang aku tidak lagi merasa sendirian.</p><p>Karena aku tahu…</p><p>Setiap kali aku melangkah, aku tidak sedang mencari jalan sendirian.</p><p>Aku sedang dituntun.</p><p>Sekarang, setiap kali aku berdiri di depan pintu baru, aku tidak lagi bertanya:</p><p>“Ya Allah, ini pasti jalan hidupku kan?”</p><p>Aku hanya berbisik pelan:</p><p>“Ya Allah… kalau ini bukan tempatku tinggal, setidaknya izinkan aku pulang dengan membawa sesuatu.”</p><p>Dan entah kenapa… Itu terasa jauh lebih menenangkan.</p><p>🌙</p><p>Dan mungkin… Tanpa aku sadari, selama ini aku bukan sekadar berpindah dari satu pintu ke pintu lain.</p><p>Aku sedang mengumpulkan sesuatu.</p><p>Pelan-pelan.</p><p>Karena mungkin… Di ujung lorong nanti, ada satu pintu besar yang tidak akan terbuka hanya dengan niat baik atau sekadar keinginan untuk sampai.</p><p>Pintu itu…</p><p>Hanya bisa dibuka oleh seseorang yang telah:</p><ul><li>Mengumpulkan semua kunci yang ia temukan di sepanjang perjalanannya,</li><li>Membawa semua bekal yang pernah ia anggap tidak berarti,</li><li>Dan… perlahan menjadi seseorang yang siap untuk masuk ke dalamnya.</li></ul><p>Dan mungkin… Alasan kenapa aku belum sampai bukan karena aku terlambat.</p><p>Bukan karena aku salah memilih jalan.</p><p>Tapi karena…</p><p>Aku masih sedang dibentuk menjadi orang yang mampu membuka pintu itu.</p><p>Jadi kalau hari ini aku masih berjalan dari satu pintu ke pintu lain…</p><p>Mungkin itu bukan tanda aku tersesat.</p><p>Tapi justru tanda bahwa aku sedang berada tepat di jalurku.</p><p>Dan untuk pertama kalinya… Aku tidak lagi terburu-buru untuk sampai.</p><p>Karena sekarang aku tahu, aku tidak sedang terlambat. Aku tidak sedang tersesat. Aku sedang dibentuk… pelan-pelan… oleh setiap pintu yang Allah bukakan.</p><p>Dan kalau suatu hari nanti aku benar-benar sampai…</p><p>Aku yakin, aku tidak sampai karena aku selalu benar.</p><p>Tapi karena:</p><p><strong>Aku terus berjalan, meskipun aku tidak selalu mengerti.</strong></p><p>*gpt generated karena Dilla lagi <em>chaos</em>, tapi merasa terlalu sayang <em>insight </em>ini tidak dibagikan :) Mungkin versi lebih personalnya akan dituliskan setelah menamatkan Range!</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=3b5ab396b486" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[When I Stopped Denying the Good Within Me]]></title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla/when-i-stopped-denying-the-good-within-me-c20b6ad22017?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c20b6ad22017</guid>
            <category><![CDATA[self-doubt]]></category>
            <category><![CDATA[reflections]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Khansa Adilla]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 20 Apr 2026 13:53:36 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-20T13:53:36.081Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>On self-doubt, the fear of arrogance, and learning to be fair to myself</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/940/1*MMNrs64wgPtD9T0-hz_x3Q.png" /></figure><p>Rasanya ngga peduli sebanyak apapun <em>achievements </em>yang udah aku capai, tetap aja itu ngga ngaruh ke kepercayaan diriku. Rasanya mau sebanyak apapun orang yang muji aku, tetap aja ngga buat aku merasa berharga. Rasanya ada yang begitu salah dalam diriku memandang diri sendiri.</p><p>Mungkin, di tulisan sebelumnya aku udah sempat <em>mention </em>tentang kesalahan penyimpanan memori di dalam hidupku. Aku cuma menyimpan memori buruk dan melupakan memori baik. Aku juga cuma mengingat kekuranganku dan melupakan kelebihanku.</p><p>Cuma mengingat memori buruk membuatku takut masa depan. Cuma mengingat kekurangan membuatku selalu merasa ngga mampu untuk menghadapi tantangan di masa depan.</p><p>Makanya, setiap kali aku dapat kesempatan yang terasa <em>out of my capability </em>tuh berat banget. Benar-benar aku dihadapkan dengan rasa rendah diriku. Benar-benar aku dihadapkan dengan pertanyaan, “Orang menilai kamu terlalu tinggi ngga sih Dil? Padahal, sebenarnya kamu biasa aja. Kenapa coba kamu yang dipilih? Kalau ternyata, nanti kamu mengecewakan gimana?”</p><p>Tapi… Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ya diriku ini suka banget ngerendahin diriku sendiri? Kenapa dia selalu bisa nemuin celah sekecil apapun itu untuk ngejatuhin aku? Kenapa dia ngga berusaha percaya juga sebagaimana orang lain percaya kepada dia?</p><p>Mungkin… Salah satu akar permasalahannya tuh ada di ketidakadilanku dalam menilai diri sendiri.</p><p>Aku hampir ngga pernah mengakui kelebihanku. Aku hampir ngga pernah mengakui pencapaianku.</p><p>Alasannya? Aku takut sombong.</p><p>Salah satu justifikasiku adalah “Ngga diakui aja aku masih sering terbersit rasa sombong, apalagi kalau diakui. Mending ngga usah.”</p><p>Tapi justru karena ngga pernah diakui, malah dia selalu mencari cara supaya keberadaannya diakui. Makanya, secara ngga sadar suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ntah itu berakibat dia jadi ngerasa, “Kamu ga seburuk itu,” atau malah jadi makin rendah diri.</p><p>Dan emang sih. Caraku dalam mengakui kelebihan diri benar-benar harus diperbaiki. Soalnya, kalau gini terus malah nyakitin diri sendiri. Bahkan, mungkin akan menyakiti orang lain juga karena rasa rendah diri ini.</p><p>Padahal, ngga ada yang salah dari mengakui kelebihan yang kita miliki. Justru dengan menyadari kelebihan kita, jadi tau kan di mana ladang amal yang paling bisa kita maksimalkan. Kalau selalu di-<em>deny </em>wajar dah akhirnya merasa rendah diri terus.</p><p><em>As long as </em>kelebihan ini diakui asalnya datang dari Allah, insha Allah ngga bakal buat sombong. Justru, ketika kita mengakui kelebihan yang Allah titipkan ke kita, jadinya bisa ngeliat kelebihan yang Allah titipkan ke orang lain. Benar-benar ngerasa setiap orang punya <em>trajectory</em>-nya masing-masing. Dan itu indah banget!</p><p>Dulu, aku pikir idealnya semua orang tuh ngerantau. Jangan mau <em>stuck </em>di situ-situ aja. Eh pas aku udah mengakui kelebihanku. Aku malah jadi bersyukur banget cuy saudara-saudaraku ini tinggalnya di Pekanbaru. Jadinya, aku bisa bebas ke mana-mana tanpa cemas ngga ada yang jagain orangtua hehe. Emang setiap orang tuh punya perannya masing-masing.</p><p>Mungkin, aku jadi lebih sedikit menemani umi abi. Mungkin aku cuma ngobrol sama abi umi sekali seminggu. Tapi, ada saudara-saudaraku yang menemani abi umi setiap hari. Itu juga ladang amal juga, kan?</p><p>Makanya, daripada terus-terusan <em>denial </em>tentang kelebihan diri sendiri karena takut sombong. Mulai sekarang, akuilah kelebihan itu. Ngga ada yang salah dari mengakui itu kok.</p><p>Bahkan, Nabi Yusuf menawarkan diri jadi bendahara karena mengakui kelebihannya :</p><p><em>“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah/hifizh) lagi berpengetahuan (kompeten/alim)”</em>.</p><p>Berkat beliau mengakui kelebihannya, beliau bisa menyelamatkan negerinya dari kekeringan.</p><p>Kalau kita masih makai <em>mindset </em>mengakui kelebihan diri = sombong. Bisa aja sebenernya Allah tuh nitipin potensi kebaikan. Tapi, malah kita abaikan karena kita yang ngga pernah mengakui keberadaan itu.</p><p>Mungkin, <em>insightful </em>banget baca ginian. Tapi, butuh langkah konkrit juga untuk benar-benar memperbaiki cara melihat diri. Nah, sebenernya aku udah nyadar ini dari lama. Udah sering denger juga <em>tips</em>nya. Tapi, ngga aku lakuin karena aku kira ngga bakal ngaruh. EH TERNYATA SENGARUH ITU CUY PAS DILAKUIN.</p><p>Ada dua hal menurutku yang SANGAT MEMPERBAIKI<em> SELF ESTEEM</em>KU.</p><p>Pertama, ngebuat memo khusus yang mengingatkanku tentang diriku.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/634/1*oFvECKm153K-oRpTVDT6Kg.png" /></figure><p>Setiap kali <em>self doubt </em>muncul, aku ingatkan diriku lagi tentang diriku dan perjuangan-perjuangan yang udah berhasil dia lalui. Mungkin, untuk membuat memo ini cukup membutuhkan <em>self awareness</em> yang tinggi. Butuh nge-<em>breakdown </em>akar dari <em>self doubt-</em>nya apa. Perlu tau diri sendiri tuh kayak gimana juga.</p><p>Aku sangat merekomendasikan nge-<em>breakdown </em>diri sendiri dengan GPT. Bukan buat curhat, tapi beneran untuk ngeanalisis diri sendiri.</p><p>Sesimpel bilang, “Aku setiap kali dihadapkan sama x ke-<em>trigger. </em>Tolong bantu aku analisis.” Sejujurnya, refleksi kayak gini beneran <em>take lots of energy. </em>Soalnya, emang ngebongkar trauma-trauma masa lalu juga. Tapi, plis <em>sit with yourself</em>. Rasanya pas udah nemu jawabannya tuh lega.</p><p>Kedua, nulis <em>wins </em>setiap hari. Sesimpel hari ini tuh ngapain aja.</p><p>Dulu, aku tuh sering banget evaluasi harian. Tapi, satu-satunya yang aku tulis tuh kesalahan. Soalnya, aku malah nulis yang berhasil dilakuin.</p><p>Malasnya karena dua, takut sombong dan kebanyakan yang harus ditulis (bukannya itu <em>bare minimum?</em>) Pala lu <em>bare minimum</em>. Orang gila mana yang <em>bare minimum-</em>nya rapat 5 kali sehari?!</p><p>Tapi, dulu emang separah itu sih pencatatan diriku enih. Cuma liat yang kurang-kurangnya doang. Jadinya suka <em>down </em>sendiri. Berasa diri ini cuma kesalahan doang.</p><p>Sekarang, sejak aku nulis hal-hal yang aku lakuin rasanya beneran selega itu. Bukannya sombong dan jadi ga pengen ngapa-ngapain. Ternyata, malah jadi makin pengen ngapa-ngapain karena <em>self esteem</em>-nya sehat huhu. Emang kita tuh harus <em>do justice to ourselves too</em>. Diri kita beneran <em>deserve </em>kebaikan dari kita juga!</p><p>Rasanya, sekarang tuh beneran momen pertama kalinya aku sesayang ini sama diriku sendiri. Padahal, sekarang tuh momen paling santai aku dalam (hampir) 4 tahun aku kuliah. Rasanya, benaran pulang ke diri sendiri yang selama ini selalu aku jahatin.</p><p>Bener-bener… Perjalanan yang panjang untuk akhirnya berhenti jadi musuh bagi diri sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku ngerasa aku ada di pihak yang sama dengan diriku sendiri.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/991/1*J3Jkg_gWzyx_pDpeGGoJZQ.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*2mTVIbnGiy-O4UmfWEgutQ.jpeg" /></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c20b6ad22017" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Love Alone is Never Enough]]></title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla/love-alone-is-never-enough-0ffbe4d80fc9?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/0ffbe4d80fc9</guid>
            <category><![CDATA[book-review]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Khansa Adilla]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 17 Apr 2026 11:09:35 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-17T11:09:35.678Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/512/0*Q_urgImcfoDIoNhU.jpg" /></figure><p>Kalau disuruh milih apa hal yang paling menyelamatkan <em>love life</em>-ku, aku bakal menjawab Aberasi! Soalnya, benar-benar Aberasi tuh menggebrak pemikiran Dilla naif yang sangat mengagungkan cinta.</p><p>Saat itu, aku pikir disukai oleh orang yang aku sukai adalah hal yang luar biasa. Tapi… Membaca Aberasi benar-benar nge-<em>shift </em>pikiranku. Dari, “Dia suka aku juga ngga ya?” jadi “Kalau dia suka juga pun, buat apa Dil? Mau nanti malah kayak Nolan Kartini?”</p><p>Menurutku, kisah Nolan dan Kartini tuh indah banget. Nolan di fase pencarian kebenaran dan Kartini dengan kekritisan dan empatinya menjadi jalan pembuka bagi Nolan. Nolan yang selama ini menjauhi komunitas agama karena memiliki <em>religious </em>trauma, bertemu Kartini yang bisa mengajarkannya pemahaman-pemahaman agama yang selama ini ia cari.</p><p>Mungkin, kebanyakan kita bakal mikir, Nolan bakal nikah sama Kartini. Akhirnya, mereka berdua hidup bahagia. Engga. Mereka ngga langsung nikah.</p><p>Justru, aku menyaksikan <em>scene </em>perpisahan terindah.</p><blockquote>“I’m a huge fucking mess inside my mind and soul. Yet, I can’t help but to feel love towards you. I know you’re more than that. It’s just… I love you, but I know we just can’t be together that easily. And you know it too, right? That my feelings for you are not enough. You need more than that.”</blockquote><blockquote>“Nolan, I also love you, but we both know that it is not enough. Hanya karena perasaan kita saling berbalas, bukan berarti kamu akan mengubah prinsipmu demi saya dan bukan berarti saya akan mengubah prinsip saya demi kamu, iya, kan? You must change yourself because you want it, not because the others demand that.”</blockquote><p>BEUH! Mungkin, normalnya cerita-cerita kita pasti ngerasa harusnya Nolan berubah. Dia kan udah tau. Dia kan emang pengen belajar agama. Kenapa dia ngga ngejar Kartini aja? Kenapa dia ngga langsung ngubah prinsipnya?</p><p>Soalnya, Nolan tau. Dia emang harus berubah demi dirinya sendiri. Bukan demi dapatin Kartini. Kalau niatnya cuma dapatin Kartini, kalau Kartininya ngga ada, prinsipnya pun jadi goyah.</p><p>Makanya… Mereka pun berpisah.</p><p>Lama cuy pisahnya. Sampai 7 tahun kalau ngga salah. Soalnya, emang untuk berubah tuh ngga segampang itu. Bayangkan aja dari begitu skeptis sama agama, ya kali langsung bisa setaat itu. Apalagi Kartini tuh digambarin sebagai orang yang sangat taat. Pasti butuh suami yang ngimbangin dia juga.</p><p>Salah satu yang memperkuat pesan tentang kita ngga bisa ngubah orang lain dan kita harus berubah demi sendiri tuh pas baca kisah ayah-ibu Kartini sih.</p><p>Ayah-ibunya Kartini tuh dijodohin. Ibunya tipikal cewe yang hidupnya lurus. Beneran definisi cewe baik-baik. Pas ketemu ayahnya, langsung ngerasa klik. Sesaat belum nikah ketauan kalau ayahnya ni ternyata suka main cewe, mabok-mabokan, pokoknya ngga benerlah.</p><p>Banyak pro kontra dari teman-teman ibunya Kartini ini. Tapi, ibunya lebih dengerin nasehat yang bilang bahwa ayahnya ini pasti mau berubah. Makanya, dari sekian banyak cewe yang dia mainin. Dia milih Ibu Kartini untuk diseriusin. Orangtuanya juga ga mungkin jodohin dia sama orang ngga bener. Akhirnya, mereka pun nikah.</p><p>Awalnya sih, baik-baik aja. Tapi, namanya juga udah kebiasaan. Pelan-pelan balik lagi ke kebiasaan buruknya. Selingkuh. Dimaafin. Selingkuh lagi. Akhirnya, ibunya sadar bahwa selama ini dia salah. Dia ngga akan bisa mengubah seseorang jika pada dasarnya orang tersebut ngga mau berubah.</p><p>Akhirnya, jadi kejawablah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul : “Katanya perempuan baik tuh jodohnya laki-laki baik, tapi kenapa malah sama laki-laki buruk?”</p><p>Bisa aja, sebenernya udah ditunjukin buruknya. Bukannya lari, malah ngerasa “Aku bisa kok mengubah dia.” Percayalah, mau sebaik apapun kita, kalau dianya ngga mau berubah pun ngga akan berubah. Kalaupun mau berubah, tetap aja kalau posisinya masih ga stabil dan berpotensi destruktif mah belum layak untuk dijadikan pasangan.</p><p>Makanya, suka banget pas mereka pisah tuh. Mereka ngga naif. Mereka emang butuh jarak dan waktu untuk cukup selesai dengan diri sendiri. Soalnya, kita ngga boleh ngarep orang berubah demi kita dan kita ngga boleh ngarep kita berubah demi orang lain. Perubahan tuh benar-benar harus untuk diri sendiri, lebih tepatnya lagi, berubah tuh harus untuk Allah.</p><p>Cinta ke manusia tuh memang bisa mengubah kita. Tapi itu bukan berarti ia layak dijadikan pondasi. Karena cinta bisa datang dan pergi. Kalau kita berubah demi manusia, kita akan goyah saat manusia itu hilang. Tapi kalau kita berubah demi Allah, kita akan tetap berdiri bahkan saat tidak ada siapa-siapa.</p><p>Lalu… ketika arah kita sudah cukup kokoh, ketika kita benar-benar berusaha menjadikan Allah sebagai tujuan, barulah kita bisa berjalan bersama seseorang yang memiliki arah yang sama.</p><p>Bukan untuk memperbaiki satu sama lain. Tapi untuk berjalan ke arah yang sama dengan kaki yang sudah sama-sama belajar berdiri.</p><p>Bisa baca di sini yh guys</p><p><a href="https://www.wattpad.com/313716582-aberasi-%E2%9C%93-p-r-a-k-a-t-a">https://www.wattpad.com/313716582-aberasi-%E2%9C%93-p-r-a-k-a-t-a</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=0ffbe4d80fc9" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[The Day I Saw My Mother as a Human]]></title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla/the-day-i-saw-my-mother-as-a-human-2438b6cafccc?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2438b6cafccc</guid>
            <category><![CDATA[parents]]></category>
            <category><![CDATA[childhood-trauma]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Khansa Adilla]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 14 Apr 2026 03:48:26 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-14T03:48:26.620Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>After Asar prayer, I sat with my mom.<br>We talked about small things at first, the kind of conversation that doesn’t carry any weight.</p><p>But somehow, in the middle of it, I found myself opening something I’ve been holding for quite a while.</p><p>“Mi, I heard a podcast today,” I said.<br>“They said… no matter how perfect parents are, they will still wound their children. But hopefully, not too deeply. So their children can still heal.”</p><p>I paused.</p><p>“Do you know what my wound is?”</p><p>The words didn’t come out all at once.<br>I had to feel them first.</p><p>“It’s… being minimized.<br>Because you were afraid I would get hurt.”</p><p>I looked at her, softer now.</p><p>“I know you did that because you love me. I’ve always known that.<br>But I need to take the hard road to grow. Everywhere I go, there will always be risk. And growth has never existed without it.”</p><p>A small silence sat between us.</p><p>“Don’t you believe in me?”<br>“Why does it feel like every time I want something, you hold me back?”<br>“I want you to support me too.”</p><p>For the longest time, I thought it was about trust.<br>I thought maybe she just didn’t believe in me enough.</p><p>But that day, I saw something deeper.</p><p>It was never just about doubt.<br>It was about love the kind of love that trembles when it has to let go.</p><p>Because letting me go means she has to stand there, watching me face things she cannot protect me from.</p><p>And that kind of love… hurts.</p><p>Not just for me.<br>But for her too.</p><p>And suddenly, I didn’t just see my mother.</p><p>I saw a human being.<br>Someone who, despite her age, still carries a younger version of herself.<br>One that is still afraid, still hurting, still learning how to love.</p><p>So I said something I didn’t plan to say.</p><p>“Mi… don’t focus on what you couldn’t give me.<br>You’ve already done so much. You’ve been a good mother.”</p><p>“You should be proud of yourself too.”<br>“You deserve your own love.”</p><p>And as the words left my mouth,<br>something in me went quiet.</p><p>Because I realized maybe those words were never just meant for her.</p><p>Maybe… I’ve been needing to hear them too.</p><p>For so long, I thought love meant giving.<br>Giving endlessly, without pause, without asking.<br>Because that’s what I saw.<br>Because that’s what I learned.</p><p>My mom gave everything and never once stopped to ask what she needed for herself.</p><p>So I thought… If I love someone, I should be like that too.</p><p>But then I remembered something someone once told me:</p><p>“The people you love… they want you to be happy too.<br>They wouldn’t want to see you constantly in pain.<br>You have to care about yourself, Dil.”</p><p>And it stayed with me.</p><p>Maybe love isn’t about disappearing.</p><p>Maybe love is about staying with others, but also with yourself.</p><p>I think… I’m starting to understand.</p><p>I can love, without losing who I am.</p><p>I can give, without abandoning myself.</p><p>And maybe, as I slowly learn how to heal my own wounds,<br>I can also become someone who gently helps my mother heal hers.</p><p>Not by fixing her<br>but by loving her,<br>in a way that finally includes me too.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2438b6cafccc" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Understanding Is a Language We Learn Together]]></title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla/understanding-is-a-language-we-learn-together-b62ba045aa20?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b62ba045aa20</guid>
            <category><![CDATA[reflections]]></category>
            <category><![CDATA[relationships]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Khansa Adilla]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 12 Apr 2026 21:45:41 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-12T21:52:32.715Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/940/1*UV5anIZ39OeT8Gs8DdvVWA.png" /></figure><blockquote>“Tuh kan. Umi ngga ngerti.”</blockquote><blockquote>“Makanya jelasin supaya umi bisa ngerti.”</blockquote><p>Kadang, aku merasa aku tuh terlalu pemikir untuk ukuran orang yang sangat perasa. Aku benar-benar bisa merasakan emosi dengan begitu intens. Aku kalau bahagia, beneran bahagia banget. Rasanya, kebahagiaan terpancar dari diriku. Tapi, kalau aku lagi sedih. Itu beneran sedih banget.</p><p>Kalau kebanyakan orang <em>range </em>emosinya dari 1–10, aku tuh 1–100. Benar-benar seintens itu.</p><p>Bahkan, setiap kali aku menjelaskan betapa dalam perasaanku. Umi ngga paham. Bagi umi itu terlalu abstrak untuknya yang sangat logis.</p><p>Tapi… Mungkin itu juga alasan aku sangat pemikir. Bahkan, aku sangat bisa mentranslasikan perasaan menjadi sesuatu yang bisa dipahami dengan logika. Soalnya, aku terbiasa menjelaskan perasaanku agar umi bisa mengerti.</p><p>Salah satu kunci hubungan yang sehat menurutku tuh keyakinan bahwa ketika merasa disakiti oleh pihak lain, itu bukan berarti mereka kurang sayang. Itu sesimpel keterbatasan sebagai manusia aja. Sesimpel emang kita tuh <em>wired differently</em>. Emang ada orang yang tercipta <em>emotionally intense </em>kayak aku, tapi ada juga orang yang emosinya ngga seintens itu.</p><p>Satu-satunya yang menjadi pertanyaan, apakah kita mau berusaha untuk memahami satu sama lain di tengah begitu banyaknya perbedaan?</p><p>Kalau aja setiap perbedaan dijadikan bukti bahwa kita ngga cocok. Kalau aja setiap perbedaan dijadikan bukti bahwa kita ngga disayang. Ya gimana mungkin bisa membangun hubungan yang sehat?</p><p>Ngga bakal ada orang yang bisa memenuhi kita sepenuhnya. Bahkan, diri kita sendiri pun ngga akan pernah bisa memahami diri kita sepenuhnya.</p><p>Aku jadi keingat drama <em>Can This Love Be Translated. </em>Setiap manusia tuh punya bahasanya masing-masing.</p><blockquote>“It must be frustrating not being able to understand her. But are you really going to give up just because you don’t? I see… you’re an interpreter. When the language is unfamiliar, the right thing to do isn’t to walk away, but to learn it. Pay attention to the order of her words, the exclamation points, the question marks — all the things that differ from the way you speak. Look for the deeper meaning, and translate it.” (salah satu nasehat terbaik dari dramanya)</blockquote><p>Selama ini, aku merasa begitu <em>articulate</em>. Aku bisa menerjemahkan diriku dengan begitu baiknya. Aku juga bisa menerjemahkan orang lain dengan begitu baiknya.</p><p>Tapi… Mungkin itu juga alasannya kadang di antara sekian banyak orang yang aku kenal. <em>I felt disconnected.</em></p><p><em>It feels like I’m always learning other people’s languages, yet somehow, I’m too complicated to be understood.</em></p><p>Makanya, setiap kali ada orang yang bisa memahami diriku. Bahkan, memahami hal yang aku ngga pahami. Rasanya benar-benar luar biasa.</p><p><strong><em>I felt seen.</em></strong></p><p>Seolah-olah setelah sekian lama mempelajari sekian banyak bahasa manusia lain, ada orang yang berusaha memahami bahasaku.</p><p>Selama ini, aku menggenggam keyakinan harus mengenal diri sendiri agar bisa dipahami orang lain begitu erat. Tapi, ternyata merupakan salah satu <em>emotional needs </em>juga untuk dipahami saat kita ngga ngerti apa yang terjadi dengan diri kita.</p><p>Mau bagaimana pun hubungan itu dua arah. Kita berusaha memahami orang lain sebaik-baiknya, dia pun berusaha memahami kita dengan sebaik-baiknya. Kita berusaha mengkomunikasikan sesuatu dengan sebaik-baiknya, dia juga berusaha mengkomunikasikan sesuatu dengan sebaik-baiknya.</p><p>Tapi… Kalau kondisi ideal ngga terjadi. Ketika kita belum bisa memahami satu sama lain. Setidaknya keyakinan bahwa kita saling menyayangi satu sama lain dan selalu mengusahakan untuk memahami bahasa satu sama lain, udah cukup menjadi alasan untuk terus bertahan.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/597/1*2H50VnsjXhQmHJBPvhJfpA.png" /></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b62ba045aa20" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Cara Orangtuaku Mencintai Membentuk Cara Aku Hidup]]></title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla/cara-orangtuaku-mencintai-membentuk-cara-aku-hidup-6c3557c65a5f?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6c3557c65a5f</guid>
            <category><![CDATA[family]]></category>
            <category><![CDATA[self-reflection]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Khansa Adilla]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 11 Apr 2026 01:25:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-11T02:05:39.557Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Tentang kebenaran, kelembutan, dan hubungan yang menumbuhkan</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/940/1*JwjkRE1Q5o2fGFSDHI755Q.png" /></figure><blockquote>“Tapi kak, kalau kayak gitu, apa kata orang?”<br>“BODO AMAT KATA ORANG. KITA HIDUP CUMA BUAT ALLAH MI!!”</blockquote><p>Ya begitulah cuplikan singkat diskusi panjang dengan umi kemarin. Kalau dipikir-pikir orang kalau denger obrolan keluargaku tuh kek berasa anaknya kurang ajar semua. Udahlah ngegas, ditambah suka ngebantah pula.</p><p>Jangankan orang lain cuy. Aku pas baru balik setelah setahun merantau pun kaget setiap kali dengar umi dan abangku debat. Padahal, aku udah hidup di rumah ini selama 18 tahun. Baru juga ngerantau 3 tahun.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/310/1*HCpEPEOXa5H30JiLTKOvdQ.png" /></figure><p>Quotes ini benar-benar menggambarkan dinamika keluargaku. Itu tercermin dari kisah awal pernikahan umi dan abi. Umi cerita, umi tuh ekspektasinya bakal jadi istri yang manut aja sama apa kata suami. Kalau tersakiti, tinggal nangis aja supaya dibujuk dan disayang. Soalnya, itu yang umi lihat dari orangtuanya.</p><p>Eh pas nikah sama abi, umi nangis, bukannya dibujuk malah abi bilang, “Kalau ga suka, langsung bilang aja supaya bisa berubah.” Akhirnya, umi yang awalnya penurut banget. Jadi punya kebebasan berpendapat.</p><p>Itu juga yang mereka terapkan ke kami. Kalau ga suka? Bilang ga suka. Debat? Debat! Tapi, itu semua bukan serangan personal. Itu beneran ajang untuk memahami satu sama lain. Ditambah lagi, abi dan umi tuh beneran orangtua yang sangat menghargai pendapat anaknya masing-masing.</p><p>Makanya, pas aku merantau ke Bandung tuh ada sisi diriku yang teredam. Diriku yang sangat suka mencari kebenaran dengan diskusi panas. Harus di-<em>tone down </em>karena bagi sebagian orang itu terlalu <em>harsh</em>.</p><p>Pas pulang tuh… Beneran kayak… <em>Omg, finally i found myself again.</em></p><p>Aku tuh selalu percaya hubungan yang sehat tuh bukan hubungan yang membuat kita kehilangan diri sendiri. Justru hubungan yang sehat tuh adalah hubungan yang memiliki kesamaan, tapi tetap saling menghargai perbedaan.</p><p>Umi dan abi tuh sama banget dan beda banget di saat yang sama. Mungkin itulah gambaran nyata dari hubungan interdependen.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/706/1*T21YIJdnr62b9GzMficOsw.png" /></figure><p>Ada <em>personal growth</em>, tapi juga ada <em>shared growth</em>. Kalau digambarkan sebagai diagram, mungkin inilah gambaran abi dan umiku.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/492/1*wn2SzQdVMSQ6f5iNzkvMRw.png" /></figure><p>Umiku tuh bagaikan gas dan abiku tuh bagaikan rem. Kalau aku takut ngambil suatu kesempatan baik, pasti umi bakal bilang, “Kenapa takut terus? Ambil aja!” Tapi, kalau aku takut kurang baik, ada abi yang bilang, “Kamu takut ngga lulus ya? Kalau ga lulus gapapa. Kan jalan ada banyak. Mau gimana pun kamu kan tetap anak abi.”</p><p>Nah, kalau misalnya ada risiko pun mereka beda banget cara menghadapinya.</p><p>Umi bakal bilang, “ASTAGHFIRULLAH SHALAT KOK DITUNDA-TUNDA?!?!” dan ada abi yang bilang, “Biarin aja, kita udah ngingetin. Dia udah besar kok. Dia yang nanggung akibatnya sendiri.”</p><p>Mereka tuh benar-benar saling menyeimbangkan satu sama lain.</p><p>Makanya, kalau orang suka nanya kenapa aku suka <em>overthinking</em>. Alasan utamanya tuh karena sering banget ada konflik internal di dalam diriku.</p><p>Ada jiwa umi dan jiwa abi di dalam diriku sendiri. Aku seringkali menyimplifikasi sebagai jiwa Umar dan Abu Bakr.</p><p>Umar tuh cinta banget sama kebenaran. Bagiku kisah Umar ketika masuk islam tuh beneran SEHEROIK ITU.</p><blockquote>“Barang siapa yang ingin ibunya meratapinya, anaknya menjadi yatim, dan istrinya menjadi janda, maka hadapilah aku di balik lembah ini.”</blockquote><p>CUYYY! GOKILLLL. IYA KAN. KALAU BENAR, KENAPA HARUS TAKUT?! PERJUANGKAN DENGAN KEBERANIAN DONG.</p><p>Abu bakr tuh hatinya lembut banget. Pas hijrah dengan Rasulullah, Abu Bakr tuh bukan takut dengan keselamatannya. Beliau cuma memikirkan keselamatan Rasulullah.</p><blockquote>“Wahai Rasulullah, kalau aku yang mati, aku hanya satu orang.<br> Tapi kalau engkau yang terkena, maka umat ini akan kehilanganmu.”</blockquote><p>Asli… Rasanya pas denger ini tuh aku merasa sangat tersentuh. Aku juga pengen mencapai tingkat <em>selfless </em>itu. Aku juga pengen cuma mikirin keselamatan orang yang aku sayang.</p><p>Ketika dikaitkan dengan syarat hidayah, ini tuh kerasa <em>mind blowing </em>banget cuy.</p><p>Ada dua syarat hidayah : ga sombong dan ga bodo amat. Lawan dari sombong apa? Empati. Kita ga merasa lebih tinggi dari orang lain karena kita percaya <em>starting point </em>setiap orang itu beda. Lawan dari bodo amat apa? Mencari kebenaran. Kita selalu merasa bahwa selalu ada hal yang salah dari diri kita sehingga kita menerima masukan.</p><p>Pas SMA, aku tuh sering banget dibilang tukang <em>roasting</em>. Tapi… Pas ke Bandung <em>culture shock </em>terbesarku tuh kenapa ada cowo ngomong selembut itu… Soalnya, di Pekanbaru hampir semua orang tuh ngomongnya ngegas. Katanya sih biar kerasa lebih semangat ya. Tapi, emang beda aja <em>culture</em>-nya tuh.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*16eiXOhUmqyB76-NXJ415A.jpeg" /></figure><p>Seiring penyesuaian diri, aku pun berubah menjadi Dilla yang lebih lembut. Kalau orang bilang aku masih keras, percayalah ini tuh udah jauh lebih lembut dibanding aku yang dulu.</p><p>Sayangnya, aku harus sedikit meninggalkan Dilla yang suka dengan kebenaran dan menebarkan kebenaran dengan frontal sebagaimana Umar. Jiwa Abu Bakr ku jauh lebih teraktivasi selama berkuliah di ITB. Aku benar-benar jadi jauh lebih lembut. Aku benar-benar belajar setiap orang tuh beda, perlakuannya juga harus beda. Ada orang yang cocok dikerasin, tapi ada juga orang yang cocoknya dilembutin.</p><p>Konflik yang sangat-sangat sering aku hadapi tuh ketika melihat kemaksiatan. Ada jiwa Umarku yang bilang, “Amar ma’ruf nahi mungkar dil! Kamu punya loh kapasitas buat ngasih tau.” Tapi, di saat yang sama jiwa Abu Bakr ku bilang, “Gimana kalau dia sakit hati? Gimana kalau kamu nasehatin dia malah makin hancur dan benci islam? Kayanya biarin aja.”</p><p>MEREKA BENAR-BENAR SELALU PERANG.</p><p>Pas aku milih untuk berani mengutarakan kebenaran, ada bagian dari diriku yang mengatakan, “Gimana kalau salah? Gimana kalau dia sakit?” Tapi, pas aku milih untuk berempati dan ngga mengatakan kebenaran, ada bagian diriku yang mengatakan, “Gimana kalau sebenernya kamu mampu? Gimana kalau sebenernya kamu aja yang ga memperjuangkan kebenaran?”</p><p>Makanya, aku tuh sering banget tenggalam di rasa bersalah. Apapun keputusan yang aku ambil tuh selalu ada sisi diriku yang menyalahkan.</p><p>Pada akhirnya, seluruh fase hidupku ini menyadarkanku ke satu kesimpulan.</p><p>Gimana caranya jadi benar, tanpa kehilangan kelembutan.</p><p>dan</p><p>Gimana caranya jadi lembut, tanpa kehilangan kebenaran.</p><p>Itulah yang Rasulullah lakukan. Ketika ada orang salah, beliau bisa membedakan mana orang yang harus ditegaskan kebenaran dan mana orang yang harus diberi kelembutan.</p><p>Sebagaimana seorang sahabat yang baru masuk islam, tapi salah dalam shalat. Beliau bukan langsung bilang, “Kamu salah! Jangan lakukan lagi.” Tapi, beliau mengatakan, “Aku sangat menyukai betapa antusias kamu, tapi jangan lakukan itu lagi.”</p><p>Manusia tuh benar-benar semacam-macam itu. Kalau kita salah <em>treatment, </em>kita bukannya membantu orang, malah menghancurkan orang. Makanya, perjalanan panjang ini benar-benar cara Allah mengajarkanku untuk mencapai titik <em>balance </em>itu.</p><p>Cita-citaku dari dulu tuh pengen menjadi perwujudan dari hadits ini:</p><blockquote>Seseorang yang menjadi perantara hidayah bagi orang lain (mengajak pada kebaikan) pahalanya lebih baik daripada mendapatkan unta merah.</blockquote><p>Mungkin, pas aku SMA, aku bisa menghadapi orang yang cocoknya dikerasin. Pas kuliah, aku belajar bagaimana menghadapi orang yang cocoknya dilembutin. Kedua <em>skillset </em>inilah yang benar-benar aku butuhkan untuk bisa merangkul beragam jenis manusia dan segala kompleksitasnya.</p><p>Dan… Kalau ada yang nanya, “Dil, ternyata banyak loh orang yang terinspirasi dari kamu. Gimana caranya?” Aku cuma jawab, “Aku ngga gimana-gimana sih. Cuma berusaha menjadi versi terbaik dari diriku. Aku cuma fokus sama perkembangan diriku sendiri.”</p><p>Mungkin, itu emang berkat umi dan abi sih. Orangtua yang selalu percaya anaknya bisa menjadi terbaik di jalannya. Orangtua yang punya tujuan yang sama, tapi memiliki identitasnya masing-masing. Dengan begitu, anaknya pun bisa mengkombinasikan kedua identitas itu sesuai kondisinya sendiri.</p><p>Makanya, aku sensitif banget sama bahasan tentang istri harus patuh sama suami. Cewe harus iya-iya aja. BEUH AKU HIDUPNYA BUKAN CUMA BUAT JADI ISTRI DOANG YA?!?! AKU JUGA PUNYA IDENTITAS LAIN. AKU JUGA PUNYA IMPIAN LAIN. Tapi, punya yang lain itu bukan berarti aku ngga akan taat sama suamiku. Sebagaimana umi ke abi.</p><p>Dan… Kalau dipikirkan lebih dalam kunci dari hubungan interdependen tuh benar-benar menjadikan Allah sebagai tempat bergantung. Jadi, kalau pasangan sedang tidak baik-baik saja, kitanya ga <em>collapse. </em>Soalnya, pasangan tuh “cuma” katalis. Bukan tempat bergantung.</p><p>Terlalu berat cuy kalau ada orang yang bergantung ke kita dan terlalu memberatkan orang kalau kita bergantung sepenuhnya ke dia. Dengan keyakinan bahwa Allah selalu ada dan mencintai, di situlah hubungan yang saling mendukung pertumbuhan tanpa menggantungkan diri itu terwujud.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/640/0*gXyDWcKQ95EjhZTl" /></figure><blockquote>Akhirnya aku pun menyadari, hubungan yang sehat bukan tentang saling bergantung… Tapi tentang saling bertumbuh, tanpa kehilangan diri, dan tetap menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung. Dari sanalah, akan lahir jiwa-jiwa yang juga belajar untuk tumbuh dengan cara yang sama.</blockquote><p>TMI!</p><p>Ini tuh sesuai banget sama arti namaku tau WKWKKW.</p><p>Khansa -&gt; Mengorbankan seluruh yang dia miliki untuk Allah (<em>Selfless)</em>.</p><p>Adilla -&gt; Cinta keadilan dan kebenaran.</p><p>Reva -&gt; Seperti sungai yang mengalir. Kebebasan. Adaptif.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/881/1*bw95W1aywvkjIrrnEaCc4g.jpeg" /><figcaption>Info jodoh kek Fisha yang tiap ketemu 2 jam deep talk baru 1 jam lagi belajar awokwok</figcaption></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6c3557c65a5f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pelajaran dari Still Shining]]></title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla/pelajaran-dari-still-shining-9a0317c20904?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9a0317c20904</guid>
            <category><![CDATA[reflections]]></category>
            <category><![CDATA[korean-dramas]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Khansa Adilla]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 16:32:28 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-07T17:05:44.981Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Gimana rasanya ketemu mantan setelah 10 tahun?</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/900/1*DFcHMub1PtxsIFQ_OKFvBA.jpeg" /></figure><p>Menurutku kisah Eunah dan Taeseo tuh indah banget sih. Mereka ketemu pas masih SMA, ketemu pas sama-sama masih <em>finding out </em>apa yang harus mereka lakukan dengan hidup mereka. Kehadiran mereka di titik krusial itulah yang menjadi cahaya dalam menavigasi kehidupan.</p><p>Taeseo pindah ke Yeonwoo setelah ayah, ibu, dan adiknya kecelakaan. Ayah dan ibunya meninggal. Adiknya harus mengorbankan impiannya menjadi pemain bola karena kakinya yang jadi pincang.</p><p>Meskipun nilai Taeseo bagus. Bahkan, dia bisa masuk kedokteran dengan nilainya yang sebagus itu. Dia ngga bisa menjadikan itu sebagai pilihan. Soalnya, bagi Taeseo hidup berbasis pilihan tuh terlalu mewah. Soalnya, satu-satunya yang terpenting bagi Taeseo adalah gimana caranya supaya bisa cepat menghasilkan uang untuk keluarganya.</p><p>Berbeda dengan Eunah. Dia pindah ke Yeonwoo setelah perceraian ayah dan ibunya. Dia menyaksikan ayahnya yang mau bunuh diri setelah perceraian itu. Akhirnya, dia memfokuskan kehidupannya untuk memperhatikan ayahnya. Makanya, ketika keadaan ayahnya perlahan membaik dia bisa lebih memikirkan dirinya.</p><p>Terlebih lagi ayahnya juga membebaskan pilihan hidup Eunah.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*MtW70wQAUezQLxKB1xAu0g.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Cz_C0VUcTDdDbWOb9ewyzA.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*GrHn2odVn_nhcZfOQqKeYA.jpeg" /></figure><p>Justru perbedaan mereka itulah yang membuat mereka saling mengisi satu sama lain. Kerja keras Taeseo demi keluarganya menjadi motivasi Eunah untuk bekerja keras juga. Eunah yang selalu menanyakan apa hal yang cocok baginya pun menjadi inspirasi Taeseo untuk menanyakan dirinya sendiri.</p><p>Rasanya indah banget pelan-pelan bisa ngeliat Eunah bekerja keras untuk dirinya sendiri dan melihat Taeseo lebih memedulikan dirinya sendiri. Tapi, konflik pun terjadi.</p><p>Mereka putus tuh bukan sesimpel Eunah akhirnya nemu apa yang dia mau. Bukan sekadar Eunah ngga nganggep Taeseo penting lagi. Justru, karena dia tau betapa pentingnya setiap detik dalam memperjuangkan impian, dia jadi bisa membayangkan betapa beratnya jadi Taeseo.</p><p>Mungkin, banyak orang yang nganggep cowo kayak Taeseo tuh <em>too good to be true</em>. Tapi, orang yang baik banget ke orang lain dan ngga bisa memedulikan diri sendiri cuma bakal jadi bom waktu.</p><p>Mungkin, karena kebanyakan orang di dunia ini <em>selfish. </em>Makanya, orang jahat seringkali diidentifikasi sebagai orang itu. Padahal, orang yang terlalu <em>selfless </em>sampai ngga mikirin diri sendiri tuh juga bahaya. Saking <em>selfless</em>-nya tuh bisa ngebuat pihak lain merasa terbebani karena ngga bisa membalas <em>effort-</em>nya.</p><p>Nah, bukan cuma itu. Mereka juga diperparah dengan cara mereka memandang cinta. Taeseo yang melihat keluarganya utuh. Dia ngeliat ayah-ibunya bersama hingga maut memisahkan. Dia ngeliat kakek-neneknya bersama hingga tua. Bahkan, harapan Huiseo aja pengen Taeseo punya 3 anak supaya dia punya banyak orang yang disayang. Makanya, bagi Taeseo tuh cinta adalah sumber kekuatan.</p><p>Berbanding terbalik Eunah. Dia ngeliat betapa hancurnya ayah setelah perceraian. Dia ngeliat ibunya ninggalin dia dan ngga pernah mempedulikan dia. Akhirnya, dia memandang cinta tuh sebagai sesuatu yang bahaya.</p><p>Bayangkan, orang yang takut sama cinta ketemu sama orang yang cintanya sebesar itu. Justru, cinta yang terlalu intens tuh malah makin men-<em>trigger </em>trauma Eunah. Makanya, dia akhirnya mutusin Taeseo.</p><p>Nah, <em>scene </em>habis Taeseo diputusin tuh cukup menjawab kenapa Eunah bisa setakut itu dicintai sama Taeseo.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*GptccF499PbC29bJeVx4Ew.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*A9CApTW96CNqUwlr0RYu_A.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*wn9QuA4O0WgSDCn4Sj2PSA.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*xGB_7yuy4CzzuuIkcmGa7A.jpeg" /></figure><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*bE8EJSZ206WG-3VAWpVRzA.jpeg" /></figure><p>Bayangkan… Ada orang yang sebergantung itu. Dia baru nganggep dirinya berharga pas sama kita. Jangankan Eunah cuy, aku pun takut. Apalagi Eunah tuh punya tendensi <em>avoidant</em>. Makanya, dapat dipahami kenapa dia kayak gitu.</p><p><em>Coping </em>mereka habis putus tuh sangat sesuai dengan diri mereka. Taeseo langsung lupain semuanya karena dia ga punya <em>privilege </em>untuk hancur. Dia benar-benar selalu ada di <em>survival mode</em>. Makanya, dia tuh yang kalau sakit, lupain, terus lanjutin hidup.</p><p>Eunah tuh kebalikannya. Pas masih punya hubungan dia nahan perasaannya karena takut sama cinta. Pas udah berakhir, baru dia nyadar seberapa dalam perasaannya. Makanya, dia yang mutusin dia juga yang <em>denial </em>kalau mereka beneran udah putus.</p><p>Selama 10 tahun mereka berpisah, perlahan-lahan mereka menjadi sosok yang mereka impikan. Taeseo yang berharap menjadi <em>self-reliance </em>dan Eunah yang berharap menjadi <em>independence.</em></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/721/1*deSRACTe2mgzkzoi8lHKKQ.png" /></figure><p>Taeseo yang awalnya kerja di perusahaan besar, akhirnya menjadi masinis karena itu cita-citanya. Eunah yang awalnya selalu di rumah menjaga ayahnya, kerja di hotel dan <em>homestay</em>.</p><p>Walaupun mereka berpisah, mereka benar-benar saling mempengaruhi kehidupan satu sama lain. Kalau Taeseo ngga ketemu Eunah, mungkin Taeseo akan tetap bertahan di perusahaan besar tanpa mempertanyakan keinginannya. Kalau Eunah ngga ketemu Taeseo, mungkin Eunah ngga akan tau arti kerja keras dan berani mencintai ayahnya dari kejauhan.</p><p>Makanya, cinta mereka sedalam itu. Soalnya, bukan cuma jatuh cinta karena gombal-gombal doang. Tapi, emang kehadiran mereka tuh setransformatif itu bagi satu sama lain.</p><p>Akhirnya, setelah 10 tahun mereka ketemu lagi. Aku pikir mereka bakal berakhir bersama. Soalnya, harusnya 10 tahun waktu yang cukup bagi mereka untuk menyembuhkan luka.</p><p>Justru, cita-cita mereka yang terwujudlah yang membuat mereka ngga bisa bersatu. Taeseo kan cita-citanya self-reliance. Jadinya susah banget bagi dia untuk memberitau apa yang dia butuhkan. Eunah cita-citanya independent. Jadinya susah banget dia membiarkan orang lain membutuhkannya.</p><p>Makanya, komunikasi mereka tuh ngga jalan banget. Rasanya pengen banget ngurung mereka berdua. TERUS NGOBROL!!! Tapi, sebenernya <em>make sense </em>kenapa mereka kerjanya salah paham mulu.</p><p>Eunah tuh butuh waktu untuk bisa terbuka, sedangkan Taeseo tuh butuh merasa dilibatkan. Pas Eunah mau beresin sendiri dulu, Taeseo malah tau duluan. Taeseonya keburu kecewa. Pas Eunah udah siap mau jelasin, Taeseonya udah ngga mau denger karena udah keburu sakit.</p><p>Taeseo pun jadi takut untuk berharap lagi, Eunah pun jadi takut ngebiarin Taeseo berharap ke dia karena berujung menyakiti. Makanya, setiap putus tuh pasti kita ngeliat betapa terlukanya Taeseo dan ngeliat betapa nyeselnya Eunah. Soalnya, ketakutan terbesar Taeseo tuh ditinggalkan oleh orang yang dia sayang, sedangkan ketakutan terbesar Eunah tuh menyakiti orang yang dia sayang.</p><p>Cara Taeseo memperjuangkan cinta tuh bertahan hingga akhir, sedangkan Eunah tuh melepaskan. Makanya, pas yang kedua kali pun kita bisa ngeliat <em>growth</em>.</p><p>Taeseo udah bisa bilang ke Eunah untuk putus. Dia udah tau gimana cara melepaskan orang yang dia sayang. Tapi, Eunahnya kayak <em>stuck </em>di tempat. Masih jadi Eunah yang mencintai dengan cara melepaskan, bukan bertahan.</p><p>Aku sebenarnya, bertanya-tanya juga sih pas <em>scene </em>Taeseo bilang, “Ini tempatku,” ketika liat kakek-neneknya. Kemudian mengingat Eunah yang bilang Taeseo sebagai tempatnya. Dan ia bertanya, kenapa malah berakhir ga bersama?</p><p>Aku baru sadar. Taeseo tuh mandang cinta bukan terbatas di orang aja. Tapi, dia tau <em>value </em>cinta. Dia tau cinta tuh bertahan sampai akhir. Soalnya, dia emang belajar itu dari ngeliat keluarganya. Beda dengan Eunah. Bagi Eunah, cinta tuh tergantung orangnya. Makanya, sekalinya Taeseo hancur karena dia. Eunah merasa lebih baik pergi aja.</p><p>Makanya, <em>make sense </em>kenapa Eunah harus berangkat ke Hawaii dulu. Soalnya, dia emang belum sepenuhnya <em>healed</em>. Dia butuh merasa dicintai dan diapresiasi dulu supaya dia menyadari bahwa cinta tuh bisa stabil. Dan supaya dia siap memperjuangkan cinta sampai akhir.</p><p>Setelah Eunah setahun di Hawaii, akhirnya kan dia ngirim foto tersenyum ke Taeseo. Nah, itu sebenarnya sebagai pertanda bahwa dia udah ngerasa cukup dengan diri sendiri. Dia udah siap untuk mempertahankan cinta bersama Taeseo.</p><blockquote>So yeah… maybe that’s why not every love story is meant to last. Because when we’re not fully okay with ourselves, even the purest kind of love can start to feel heavy. Not because the person is wrong, but because we’re still carrying parts of ourselves we haven’t healed.</blockquote><blockquote>So before looking for someone to stay, maybe what we really need is to stay with ourselves first. To understand, to heal, and to finally feel whole not because someone completes us, but because we already are.</blockquote><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/594/1*_09kA-2R8cBxg-mbiCXSmw.png" /><figcaption>Assalamualaikum hubungan interpendent</figcaption></figure><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9a0317c20904" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Holding the World Without Letting It Hold Me]]></title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla/holding-the-world-without-letting-it-hold-me-b2dce09f6555?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b2dce09f6555</guid>
            <category><![CDATA[reflections]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Khansa Adilla]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 01 Apr 2026 11:23:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-02T15:47:30.547Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/940/1*zmB9xXN6bckFNUuY9X07kg.png" /></figure><p>Kenapa manusia begitu mengejar validasi? Itu pertanyaan yang seringkali muncul di kepalaku. Capek ngga sih ngejar validasi tuh? Kenapa harus sehaus validasi itu?</p><p>Sampailah aku menonton Tunggu Aku Sukses Nanti, mengisahkan Arga dari keluarga yang “paling ngga sukses” di keluarga besarnya. Keluarganya seringkali mengalah ketika mereka direndahkan karena mereka seringkali dibantu oleh keluarga lain. “Kalau ngga bisa bantu uang, seengganya kita bantu pakai tenaga. Mama ngga papa kok kayak gini.”</p><p>Ternyata… Bagi seseorang tuh sepenting itu untuk “meninggikan harga dirinya” karena pernah memiliki pengalaman semenyakitkan itu.</p><p>Tapi, aku beneran suka sih dengan pesan yang disampaikan oleh filmnya. Mau udah makin sukses pun, tetap aja ngga pernah cukup bagi keluarga besarnya. Tetap aja dibanding-bandingkan. Dan… Emang cuma diri kita sendiri yang menentukan apakah kita mau merasa cukup atau engga.</p><p>Apalagi sesaat sebelum menonton film tersebut, aku ngikutin perdebatan tentang gaya hidup yang ngga pernah cukup.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/565/1*1DYtyL8S_NcRJHZf38rnSw.png" /></figure><p>Ditambah lagi, udah terhitung 3 bulan aku tinggal di Pekanbaru dan melihat kehidupan ternyata bisa dijalani “sesantai” itu ya? Terlebih lagi, pas ngeliat abang yang selalu memakan sabana setiap hari.</p><p>“Ga bosan bang makan itu terus?”</p><p>“Ngga. Bagi abang yang penting enak dan murah. Dah senang abang makannya.”</p><p>Ternyata… Bahagia tuh bener-bener sesederhana itu, ya? Ternyata… Bahagia tuh bener-bener tergantung hati kita gimana, ya?</p><p>Tapi… Aku seringkali mencampuradukkan antara rasa cukup dan keinginan bertumbuh. Aku takut kalau aku gampang merasa cukup, aku jadi ngga punya dorongan untuk bertumbuh.</p><p>Untungnya, seiring pendewasaan diri, aku jadi menyadari bahwa rasa cukup dan keinginan bertumbuh bukanlah hal yang harus dipilih. Keduanya bisa berjalan beriringan.</p><p>Rasa cukup itu adalah kondisi hati. Kita meyakini bahwa apapun yang terjadi Allah akan mencukupkan kebutuhan kita. Sedangkan bertumbuh itu perihal tanggung jawab. Kita bertumbuh bukan untuk merasa cukup, tapi kita ingin memaksimalkan potensi diri untuk menebar kebermanfaatan.</p><p>Salah satu bentuk pertumbuhan yang dapat diusahakan adalah memiliki uang yang banyak. Dengan memiliki uang yang banyak akan ada begitu banyak potensi kebaikan yang dapat diusahakan.</p><p>Tapi, pas ngeliat kondisi diri. Ketika uang udah lebih banyak dibanding sebelumnya. Bukannya kebaikannya yang makin banyak, tapi jajannya yang makin banyak…</p><p>Makanya, salah satu pertanyaan terbesar dalam hidupku tuh, “Gimana caranya bisa jadi orang yang uang banyak, tapi gaya hidupnya tetap sederhana?”</p><p>Sebagaimana cerita paman temanku, beliau menyekolahkan banyak saudara dan ponakannya. Tapi, kalau datang ke rumahnya, kita ngga bakal menyangka bahwa beliau sekaya itu.</p><p>Gimana caranya bisa punya banyak uang, tapi uangnya benar-benar digunakan seminimal mungkin untuk kebutuhan dan semaksimal mungkin untuk kebermanfaatan?</p><p>Aku benar-benar salut dengan orang yang bisa menaruh dunia di tangan, bukan di hati. Aku benar-benar salut dengan orang yang menjadikan dunia sebagai alat, bukan sebagai tujuan.</p><p>Mungkin… Kisah Umar ini benar-benar harus aku ulang berulang kali setiap kali merasa ngga cukup dengan dunia.</p><blockquote>Diceritakan bahwa suatu hari, Umar bin Khattab melihat seseorang yang terlalu sering membeli dan memakan daging.</blockquote><blockquote>Padahal di masa itu, daging termasuk makanan yang <em>mewah, </em>bukan sesuatu yang dimakan setiap hari.</blockquote><blockquote>Lalu Umar menegurnya dengan kalimat yang sederhana tapi dalam:</blockquote><blockquote>“Apakah setiap kali kamu menginginkan sesuatu, kamu akan memakannya?”</blockquote><p>Kita seringkali fokus gimana caranya menahan diri dari sesuatu yang haram sampai lupa bahwa sesuatu yang mubah terkadang juga bisa menjadi jebakan setan. Nafsu yang terus-menerus dituruti akan membuat kita lalai.</p><p>Makanya, Umar mengajarkan ngga semua hal yang kita pengen harus dimiliki dan ngga semua yang enak harus dinikmati sekarang.</p><p>Jadi, gimana caranya bisa mewujudkan impian untuk menjadikan dunia sebagai alat?</p><p>Mulai dari sekarang latihlah diri untuk ngga menuruti seluruh keinginan meski sebenarnya kita mampu untuk memenuhinya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b2dce09f6555" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Forgetting the Good to Avoid the Pain]]></title>
            <link>https://medium.com/@revakhansaadilla/forgetting-the-good-to-avoid-the-pain-daa573762a07?source=rss-ec278ccd3367------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/daa573762a07</guid>
            <category><![CDATA[self-reflection]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Khansa Adilla]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 01 Apr 2026 10:33:06 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-01T10:33:06.473Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/940/1*KrEuiaOUjmHVAi9_6NIh0g.png" /></figure><p>“Orang yang paling sering tertawa adalah orang yang paling banyak memiliki luka,” “Meski di luar aku tersenyum, tetapi ada hati hancur yang aku sembunyikan,” dan ada begitu banyak <em>quotes </em>yang sering kali kita dengar.</p><p>Kalau orang-orang ngeliat tulisanku, apalagi di masa aku merasa sangat <em>depressed</em>. Mungkin bingung. Masa itu terjadinya kapan? Rasanya kalau ketemu aku kayaknya <em>happy happy </em>aja. Apa jangan-jangan aku pura-pura tersenyum, padahal aku terluka?</p><p>Tapi… Aku ngerasa ga pernah pura-pura tersenyum. Kalau aku bahagia, aku beneran bahagia.</p><p>Sampailah, aku denger <em>podcast </em>yang mengatakan bahwa kita bisa merasakan dua perasaan berbeda di satu waktu. Kita bisa aja sedih karena dapat nilai jelek, tapi di saat yang sama senang karena main sama teman.</p><p>Makanya, jadi kerasa <em>make sense </em>aku pernah merasa se-<em>depresssed </em>itu, tapi pas ngumpul sama teman tetap senang-senang aja.</p><p>Tapi, tetap aja sih. Kalau aku menelusuri masa lalu, entah kenapa rasanya gelap banget… Kenapa ya? Padahal, kalau dipikir-pikir lagi ada begitu banyak kebahagiaan di dalam hidupku.</p><p>Setelah aku renungkan berulang kali, akhirnya aku menemukan kecacatan sistem dalam menyimpan data kehidupanku.</p><p>Masa-masa yang menyenangkan seringkali aku anggap lalu. Kenapa?</p><p><em>I love too deeply. </em>Melupakan masa lalu adalah bentuk proteksi bagiku. Melupakan hal yang pernah berharga bagiku adalah caraku untuk ngga membiarkan diriku merindukan masa lalu.</p><p>Makanya, kalau ditanya, “Pernah <em>homesick </em>ngga?” Aku bakal jawab, “Hampir ngga pernah, kecuali sakit.” Kalau ditanya, “Pernah kangen teman lama ngga?” Aku bakal jawab, “Jarang sih, kecuali ada yang nge-<em>trigger</em>.”</p><p>Aku kira selama ini aku jarang mengenang masa lalu karena aku jago <em>move on </em>aja. Ternyata, aku bukan jago. Aku terlalu ngga sanggup menerima kenyataan bahwa hal-hal yang pernah berharga bagiku sudah mencapai waktu terakhirnya. Jadi, aku memilih untuk fokus berjalan ke depan dan meninggalkan seluruh kenangan yang pernah ada.</p><p>Melupakan hal yang sebenarnya penting tuh <em>one thing</em>. Tapi, ada dampak fatal dari mekanisme diriku ini.</p><p>Akibatnya, satu-satunya yang aku ingat dari hidupku adalah masa-masa yang menyakitkan. Soalnya, masa-masa yang menyenangkannya “sengaja” dilupakan supaya ngga kangen, kan?</p><p>Makanya, kalau bayangin masa depan tuh rasanya takut banget. Soalnya, data yang dimiliki tuh cuma data-data yang menyakitkan aja. Jadinya, proyeksi masa depannya pun sesuai data yang ada, “Masa depan pasti sama menyakitkannya.”</p><p>Padahal, kalau aja aku menyimpan data dengan lebih objektif. Mungkin, membayangkan masa depan tuh ngga akan semenyeramkan itu.</p><p>Masuk ITB sakit? Sakit. Banyak nangisnya. Banyak <em>down</em>-nya.</p><p>Masuk ITB seneng? Seneng! Banyak temennya. Banyak belajarnya. Banyak temannya.</p><p>Satu pengalaman tuh punya berbagai macam perasaan sebenernya. Ga mungkin semuanya pengalaman yang menyenangkan dan ngga mungkin juga semuanya menyedihkan. Emang bener-bener tergantung gimana cara kita menyimpan seluruh kenangannya.</p><p>Selama ini, aku terlalu terpaku dengan, “Semuanya tergantung cara kita memandang sesuatu. Kalau kita fokus kepada kebaikannya, maka akan terasa menyenangkan. Kalau kita fokus kepada keburukannya, maka akan terasa menyebalkan.”</p><p>Sampai aku lupa bahwa hidup bukan cuma tentang bagaimana kita menjalani momen. Tapi juga tentang bagaimana kita menyimpan momen itu.</p><p>Akhirnya, aku pun menyadari bukan hidup yang menyakitkan. Tapi, caraku menyimpan narasi kehidupanku yang terlalu terdistorsi. Aku memang ngga pernah kekurangan kebahagiaan. Aku hanya ngga pernah mengizinkan diriku untuk mengingatnya dan membiarkan rasa sakit sebagai satu-satunya ingatan.</p><p>Lucu ya, padahal sengaja ngga diingat supaya ngga sakit. Eh ternyata malah jadi sakit. Memang segala sesuatu yang berlebihan itu ngga baik. Perjalanan untuk mencapai titik keseimbangan emang perjalanan seumur hidup :”)</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=daa573762a07" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>