<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by ceilovyy on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by ceilovyy on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@sasqiaesajahriani?source=rss-36a91ca5a3d5------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/0*JXwEBRwTS2GWK85L</url>
            <title>Stories by ceilovyy on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@sasqiaesajahriani?source=rss-36a91ca5a3d5------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Sat, 16 May 2026 18:29:44 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@sasqiaesajahriani/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Ame, as always.]]></title>
            <link>https://medium.com/@sasqiaesajahriani/ame-as-always-38ad4eae2ec9?source=rss-36a91ca5a3d5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/38ad4eae2ec9</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ceilovyy]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 13 May 2026 14:34:23 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-13T16:44:46.854Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu langit terlihat sangat tenang, dan cahaya dari matahari yang mulai turun menyelimuti pantai dengan warna keemasan lembut, sementara angin laut bergerak perlahan memainkan rambut Ame yang sedikit berantakan. Ombak terdengar samar di depan mereka, datang dan pergi seperti irama musik yang menenangkan.</p><p>Asaa duduk di samping Ame sembari memeluk lututnya sendiri, dan seperti biasanya, diam-diam ia kembali sibuk memperhatikan Ame.</p><p>Entah sejak kapan, memperhatikan Ame sudah menjadi hal 𝘧𝘢𝘷𝘰𝘳𝘪𝘵𝘦, baginya.. Ame terlalu indah untuk tidak dipandang, bahkan menurutnya langitpun akan iri karena kalah cantikk oleh kekasihnya itu.</p><p>Ame selalu terlihat menggemaskan dimatanya, saat Ame sedang bercerita tentang hal-hal random, tentang video sedih atau lucu yang dia lihat tadi pagi, tentang kucing yang mengikuti dia, tentang bagaimana dia salah bicara saat sedang membeli minuman, semuanya menggemaskan.</p><p>Cerita yang sebenarnya terdengar sederhana, namun menurut Asaa itu bukan hanya sekedar cerita sederhana, itu adalah hal yang istimewa.</p><p>Dan ia akan selalu mendengarkannya dengan penuh perhatian, seolah suara Ame adalah lagu 𝘧𝘢𝘷𝘰𝘳𝘪𝘵𝘦 yang tidak akan pernah membuatnya bosan.</p><p>“Terus mbaknya tuh langsung bengong liatin aku,” Ame tertawa kecil. “Kayaknya dia bingung aku ngomong apa.”</p><p>Asaa ikut tertawa mendengarnya, tapi matanya tidak benar-benar lepas dari gadis yang duduk di sampingnya ini.</p><p>Cara Ame berbicara, matanya yang mengecil saat tertawa, senyum kecil yang selalu muncul sebelum Ame sadar dirinya sedang diperhatikan. <br>Dan Asa sangat menyukai suara kekasihnya itu.</p><p>𝘓𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵.</p><p>Suara yang selalu berhasil membuat isi kepala Asaa yang ramai perlahan menjadi terasa jauh lebih tenang.</p><p>“Ame.”</p><p>“Huum, kenapa sayangg?”</p><p>”Aku suka denger kamu cerita.”</p><p>Ame menoleh sebentar sambil tersenyum kecil. “Padahal aku cuma ngomongin hal random.”</p><p>“Iya, tapi aku tetep suka.”</p><p>“Kenapa?”</p><p>Asaa diam beberapa detik, memandangi Ame cukup lama sebelum akhirnya menjawab pelan, “Soalnya aku suka suara kamu.”</p><p>Kalimat itu langsung membuat Ame tertawa malu sambil menundukkan kepala. “Kamu tuh ya…”</p><p>“Aku kenapaa? &quot; tanyanya kebingungan.</p><p>“Bisa aja.”</p><p>Asaa tersenyum kecil.. padahal ia serius. Asaa benar-benar menyukai semua hal tentang Ame, termasuk hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah dianggap penting oleh siapa pun.</p><p>Cara Ame bicara, tutur katanya yang manis dengan nada lembut setiap kali berbicara. Cara Ame otomatis mendekat dan bertanya saat Asaa terlihat diam terlalu lama. Cara Ame mendengarkan cerita-cerita tidak penting milik Asaa seolah semuanya terdengar menarik.</p><p>Dan entah kenapa, semua itu selalu membuat hati Asaa terasa penuh.</p><p>Angin kembali bertiup pelan.</p><p>Ame sedang membuka bungkus snack sambil masih bercerita tentang banyak hal, tetapi Asaa kembali kehilangan fokus karena terlalu sibuk memperhatikannya.</p><p>Di mata Asaa, Ame terlihat manis sekali sore itu.</p><p>Bulu matanya bergerak pelan saat berkedip, rambutnya berantakan terkena angin, dan ada senyum kecil yang terus muncul tanpa sadar di wajahnya.</p><p>Asaa sampai tersenyum sendiri.<br>“Ame”</p><p>“Hmm?” Ame menoleh, dan masih terus melanjutkan ceritanya.</p><p>“Kamu keliatan cantik banget.” celetuk Asaa tiba-tiba yang langsung membuat Ame berhenti bicara.</p><p>“Hah?”</p><p>“Cantik, kamu cantikk.”</p><p>Ame terkekeh malu sambil nyenggol bahu Asaa pelan. “Tiba-tiba banget sih.”</p><p>”Tapi bener tauuu, kamu cantikk banget.”</p><p>“Kamu dari tadi ngomong manis terus.”</p><p>“Karena kamu emang semanis itu, sayanggg.”</p><p>Ame akhirnya memalingkan wajah sambil tertawa kecil, jelas malu karena terus diperhatikan seperti itu.</p><p>Melihat reaksi Ame justru membuat Asaa semakin merasa gemass.</p><p>Asaa tidak benar-benar pandai dalam menjelaskan perasaannya dengan kata-kata besar. Namun jika ada satu hal yang paling ia yakini, itu adalah betapa besar rasa sayangnya kepada Ame.</p><p>Dan mungkin, cinta memang sesederhana itu.</p><p>Duduk di samping seseorang sambil mendengarkan cerita yang tidak ada habisnya, berbicara tentang banyak hal random, lalu tetap merasa bahwa tidak ada tempat lain yang lebih ingin ditinggali selain di sisi orang tersebut.</p><p>Asaa menyandarkan kepalanya perlahan ke bahu Ame.</p><p>Ame langsung diam sebentar sebelum membiarkan dirinya ikut bersandar kecil ke arah Asaa.</p><p>&quot;Oi, ngantuk ya?” tanya Ame sambil tangannya beralih menggenggam jemari Asaa.</p><p>“Engga kok.” Jawab Asaa sambil menggeleng pelan.</p><p>“Terus kenapa?” Asaa tersenyum kecil sambil memejamkan mata.</p><p>“Aku cuma suka aja deket-deket gini sama kamu, rasanya hati dan pikiran aku jadi makin tenang. ”</p><p>Ame menatap jemari mereka yang saling menggenggam cukup lama sebelum akhirnya tersenyum kecil, &quot;kamu tuh clingy banget ya,” celetuk Ame pelan sambil tertawa pelan.</p><p>Asaa langsung membuka mata sebentar, lalu ikut tersenyum kecil. “Iyaa.”</p><p>“Iyaa doang?”</p><p>”Iyaa, khusus buat kamu.”</p><p>Ame langsung salah tingkah sendiri sambil nyenggol lengan Asaa pelan. “Bahaya banget sih kamu.”</p><p>“Biarinn, suka-suka aku,” ucap Asaa pelan dengan nada jahil yang langsung membuat Ame menahan tawa.</p><p>Dan bukannya menjauh, Ame malah ikut menyandarkan kepalanya lebih dekat ke Asaa. Jemari mereka masih saling menggenggam hangat seolah tidak ada yang ingin melepaskan lebih dulu.</p><p>Matahari perlahan tenggelam di ujung laut, meninggalkan warna oranye lembut yang memantul di permukaan ombak. Angin pantai yang terus berhembus pelan yang terasa semakin dingin, memainkan rambut mereka sembari suara ombak terdengar samar di sekitar.</p><p>Ame kemudian tertawa kecil lagi entah karena malu atau gemas sendiri.Dan Asaa hanya diam dengan senyum kecil yang tidak bisa hilang sejak tadi.</p><p>Karena ternyata benar..</p><p>tempat paling tenang untuk Asaa, 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑨𝒎𝒆.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=38ad4eae2ec9" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[A Night Spent Loving You. ]]></title>
            <link>https://medium.com/@sasqiaesajahriani/malam-itu-pantai-terasa-sangat-sunyi-95c8a9c9aa4f?source=rss-36a91ca5a3d5------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/95c8a9c9aa4f</guid>
            <dc:creator><![CDATA[ceilovyy]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 13:03:03 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-13T14:36:32.807Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>A Night Spent Loving You.</h4><p>Malam itu pantai terasa sangat sunyi.. angin laut berembus pelan membawa hawa dingin dan aroma asin yang samar dan ombak yang datang silih berganti. sementara itu, langit malam membentang luas di atas mereka dengan cahaya bulan yang pucat.</p><p>Di tengah suasana yang tenang itu, Asaa dan Ame berjalan berdampingan tanpa banyak bicara. Langkah mereka pelan, seolah benar-benar menikmati kebersamaan mereka, dan meninggalkan jejak samar di atas pasir yang dingin. Tangan mereka saling menggenggam diam-diam di balik lengan hoodie yang terasa hangat, seakan dunia bahkan tidak boleh melihat hal sesederhana itu.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*XQ2cTi_E-AxiOUH4XVkaWQ.jpeg" /></figure><p>Asaa menatap laut di hadapannya cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.</p><p>“Ame…”</p><p>“Hmm?”</p><p>“Menurut kamu… dunia bakal bisa nerima kita ga yaa?” Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara ombak yang berderu kencang.</p><p>Ame menoleh sebentar, lalu kembali melihat laut di depan mereka. Pertanyaan itu terasa terlalu dekat dengan kenyataan yang selama ini mereka hindari.</p><p>“Aku ga tau,” jawab Ame lirih. “Dan itu juga hal yang bikin aku takut.”</p><p>Asaa tersenyum kecil, tetapi sorot matanya tampak rapuh. “Iya… aku paham.”</p><p>Angin malam kembali bertiup, membuat rambut mereka berantakan. Namun genggaman tangan mereka tetap erat, seolah keduanya sedang berusaha saling meyakinkan bahwa mereka masih memiliki satu sama lain.</p><p>“Aku kadang takut, pas aku berpikir tentang semua ini” lanjut Asaa pelan. “Norma dunia, omongan orang… seolah-olah dunia tuh selalu punya alasan buat bilang kalau cinta kita salah.”</p><p>Ame menunduk sejenak sebelum menggenggam tangan Asaa lebih erat.</p><p>“Asal kamu tau, qku ga takut kalau orang-orang benci atau nyakitin aku,” katanya perlahan. “Tapi aku takut mereka nyakitin kamu.” Kalimat yang ia lontarkan itu membuat dada Asaa terasa sesak.</p><p>Karena itulah yang paling sering ia pikirkan diam-diam. Ia tidak terlalu peduli jika dunia memandangnya aneh atau salah. Namun takut untuk membayangkan jika Ame harus terluka karena hubungan mereka yang terlihat salah dimata mereka semua.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*yJeKzETem85oVNg3h46lbg.jpeg" /><figcaption>bayangin aja ada bulan-Asaa</figcaption></figure><p>Mereka berhenti berjalan di dekat batu besar di pinggir pantai. Ombak sesekali menyentuh ujung sepatu mereka sebelum kembali surut.</p><p>Asaa menatap Ame lamaaa sekali. Di bawah cahaya bulan yang samar, Ame terlihat begitu tenang dan hangat. Dan sekali lagi, ahh bahkan berkali-kali, Asaa merasa jatuh cinta dengan cara yang terlalu dalam untuk dijelaskan.</p><p>“aku cinta kamu,&quot; lirihnya.</p><p>Ame tersenyum kecil. “Aku tau kok.”</p><p>“Engga, maksud aku…” suara Asaa mulai bergetar. “Aku tuh beneran cinta banget sama kamu, sampai kadang aku takut sendiri.”</p><p>Ame hanya diam mendengarkan.</p><p>“Aku biasanya gampang takut sama omongan orang, kamu juga pasti tau hal itu. Aku overthinking terus,” lanjut Asaa sambil tertawa kecil pahit. “Tapi kalau soal kamu… aku kya rela lawan semuanya.”</p><p>Matanya mulai dipenuhi air mata. “Kalau dunia nyuruh aku ninggalin kamu cuma karena hubungan kita dianggap salah…” suaranya mengecil, “aku rasa aku tetep bakal pilih kamu.”</p><p>Ame langsung menatapnya dengan mata yang perlahan memerah.</p><p>“Asaa…”</p><p>“Aku serius,” potong Asaa cepat. “Karena kehilangan kamu bakal jauhhh lebih nyakitin dibanding harus ngadepin semua orang.”</p><p>Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hanya ada suara ombak dan angin malam yang terus berembus pelan di sekitar pantai yang sepi itu.</p><p>Ame akhirnya menarik Asaa ke dalam pelukannya. Pelukan yang terasa sangat hangat di tengah dinginnya malam.</p><p>“Aku juga takut,” bisik Ame pelan di dekat telinganya. “Takut dunia bikin kita capek… takut semuanya jadi terlalu berat buat kita.”</p><p>Asaa langsung memeluk Ame lebih erat. “Kalau capek, kita istirahat(tidur dek),” katanya lirih. “Tapi jangan lepas aku, yaa.” Suara Asaa pecah di akhir kalimatnya.</p><p>Ame mengusap pelan rambutnya sambil memejamkan mata. “Iya sayangg,” jawabnya lembut. “Aku ga akan lepasin kamu.”</p><p>Dan malam itu, di tengah pantai yang sunyi dan gelap, mereka menyadari satu hal... mungkin dunia tidak akan selalu memahami mereka, dan mungkin akan ada banyak ketakutan yang harus mereka hadapi.</p><p>Mungkin juga akan ada tatapan yang membuat mereka ragu, kata-kata yang melukai diam-diam, dan malam-malam panjang saat mereka bertanya apakah cinta mereka mampu bertahan sejauh itu. Namun pada kenyataanya, cinta yang mereka miliki terlalu besar untuk dikalahkan hanya oleh rasa takut terhadap dunia.</p><p>Karena di antara luasnya laut malam, dinginnya angin pantai, dan cahaya terang dari bulan yang tak tertutup oleh awan, serta gemerlap kembang api yang perlahan menghilang dari langit... di saat itu mereka menemukan rumah pada satu sama lain.</p><p>Terkadang, dicintai oleh seseorang dengan begitu tulus adalah satu-satunya keberanian yang memang dibutuhkan untuk tetap bertahan di dunia yang tidak selalu ramah.</p><p>Dan aku menemukan seseorang itu, kamu.. Ame, orang yang aku cintai sepenuh hatiku, yang akan menjadi rumah dan menjadi bagian dalam hidupku. Aku akan selalu mencintaimu, dan akan selalu memilihmu. I LOVE YOU PACARKU SAYANGG😫😫😫💗💗</p><p>“upcii hepi ending”</p><p>-Asaa</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=95c8a9c9aa4f" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>