<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by rry on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by rry on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@shooooooooyo?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*2y7rfp0b_g9C36OZgSqCJQ.jpeg</url>
            <title>Stories by rry on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 22 May 2026 00:17:07 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@shooooooooyo/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Tentang Dhira]]></title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo/tentang-dhira-687a413af6a4?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/687a413af6a4</guid>
            <dc:creator><![CDATA[rry]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 18 May 2026 06:53:29 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-18T07:05:44.810Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/735/1*iXcWCWmlxhwIMbIr0Lzr4g.jpeg" /><figcaption>; querencia series — 02</figcaption></figure><p>Soulmate adalah konsep ketika hubungan dua orang terasa sangat dalam secara spiritual dan label ini diberikan karena dunia rasanya menghubungkan kedua orang ini. Dari semua orang yang kutemui selama tujuh belas tahun hidup, kurasa Dhira adalah yang paling mendekati.</p><blockquote>At some point in my life, I truly think of Dhira as my soulmate.</blockquote><p>Pertama kali Dhira berbicara padaku adalah ketika masa MPLS, dia mengatakan padaku bahwa aku tak perlu menyentuh laki-laki di depanku ketika kami sedang bermain ular naga panjang. Aku ingat saat itu terkejut karena cara Dhira bicara begitu tegas.</p><p>Saat itu, aku sudah memiliki tekad untuk menyembunyikan kesukaanku pada hal-hal yang berbau jejepangan, namun satu-satunya cara komunikasi yang aku tahu adalah membicarakan hal-hal seperti itu. Ketika sedang shalat dzuhur, aku menyadari layar ponsel Dhira dan memutuskan untuk membicarakannya.</p><p>Diantara teman-teman yang lain, aku paling dekat dengan Dhira untuk tahun pertama SMK. Kami membicarakan hal-hal yang kami berdua suka, dan saat itu Dhira terasa seperti satu-satunya teman yang bisa memahami aku.</p><p>Awalnya, kukira Dhira dan aku merupakan dua orang yang sangat mirip. Walaupun dia pernah mengatakan dirinya tak suka disama-samakan dengan orang lain … tapi terkadang bersama dengannya terasa seperti sedang melihat kaca.</p><p>Perbedaan kami berdua mulai terlihat dari bagaimana kami menghadapi masalah. Awalnya, aku dan Dhira sama-sama bukan dua orang yang ingin berpihak pada satu pihak — namun aku cenderung menghindari masalah sepenuhnya, sedangkan dia menempatkan dirinya di dua sisi.</p><p>Berbeda denganku yang berisik Dhira adalah orang yang tenang. Dia tidak menunjukkan seluruh usaha dan kegiatannya pada dunia. Seringkali kudengar Dhira sudah lakukan ini dan itu — dia orang yang hebat seperti itu.</p><p>Singkatnya, dia adalah tipe orang yang tidak berisik namun terlihat hasilnya. Tiba-tiba saja dia sudah di finish line, padahal kukira dia masih di sampingku.</p><p>Dhira juga orang yang sangat perhatian. Matanya menangkap hal-hal kecil yang umumnya dilewati orang-orang lain, dia pendengar yang baik dan akan mengingat hal-hal yang diucapkan orang sekali dalam suatu percakapan.</p><p>Dhira orang dengan hati yang baik, dan orang yang tau jelas bagaimana menjadi manusia yang pantas. Dia orang yang sangat sopan dan menghargai orang lain. Ketika aku memboncengnya dengan sangat ceroboh, dia tetap diam dan tak sekalipun membuatku sadar bahwa aku bukanlah pengendara yang baik. Aku baru sadar ketika dia mengucapkannya berbulan-bulan kemudian.</p><p>Selain itu, Dhira memiliki energi yang membuat orang lain bisa bersandar dengannya. Dia adalah orang yang bisa orang lain dekati secara tenang.</p><p>Nama Dhira artinya sabar dan cerdas. Menurutku dirinya sangat cocok dengan kedua kata itu.</p><p>Aku sangat menghargai waktu kami bersama. Terkadang banyak penyesalan atas segala hal yang kurasa bisa kulakukan lebih baik untuknya — tapi kurasa kalaupun aku mengulang waktu, hasilnya akan sama saja.</p><p>Aku harap Dhira bisa terus bahagia dan menemui banyak orang yang sama baiknya dengan dirinya dan bisa lebih memahaminya.</p><blockquote>— Rry, May 18th 2026</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=687a413af6a4" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Tentang Tanisha]]></title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo/tentang-tanisha-e7285dcdaebc?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e7285dcdaebc</guid>
            <dc:creator><![CDATA[rry]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 18 May 2026 01:27:35 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-18T07:06:08.294Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*1HT-T7VT5_pHJGZAJfJFyA.jpeg" /><figcaption>; querencia series — 01</figcaption></figure><p>Tanisha adalah teman pertamaku. Minggu pertama kami memulai pendidikan di sekolah baru, aku cenderung mengisolasi diri setelah menyadari perbedaan yang mencolok antara aku dengan anak-anak yang lain. Dari awal, aku bukan orang yang pandai berkomunikasi dengan orang lain — maka setelah itu, aku berpikir, “Ah, ini mah gak akan punya teman. Yaudahlah.”</p><p><em>(Aku memang punya kebiasaan berpikir berlebihan).</em></p><p>Tanisha adalah gadis yang duduk di barisan sampingku pada masa MPLS, dan ketika aku sudah menyerah mempunyai teman, dia mengajakku untuk makan bersama. Mengingat momen itu lagi, mungkin saat itu Tanisha hanya mengasihani perempuan yang duduk dengan bahu bungkuk di sampingnya … dan walaupun itu tidak benar, kurasa dia adalah tipe orang yang baik seperti itu.</p><p>Diantara teman-teman kami yang lain, Tanisha adalah orang yang sangat terlihat perubahannya. Mungkin dalamnya tidak berubah dan dia hanya menjadi lebih berani menyuarakan isi hati — tapi bagaimanapun, di mataku: Tanisha yang mengajakku makan bersama di masa MPLS dan Tanisha yang memberikanku kerajinan tangannya dengan surat yang ditulis tangan adalah dua orang yang sama namun sangat berbeda.</p><p>Setelah merenung, aku jadi semakin menyadarinya.</p><p>Tanisha adalah orang dengan begitu banyak ujian di hidupnya. Rasanya dunia seakan sedang memberinya bermacam-macam masalah untuk membuatnya jadi lebih kuat. Tidak semua orang bisa melewati semua itu dengan kulit yang lebih tebal, tapi Tanisha bisa.</p><p>Dia juga bukan orang yang mudah patah mimpinya. Sebagai orang tanpa ambisi, melihat dia membicarakan harapannya di masa depan benar-benar membuatku kagum. Bahkan setelah menghadapi berbagai macam tantangan, dia tetap mencoba dan tak kehilangan harapan.</p><p>Di pandanganku, Tanisha telah menjadi orang yang kuat dan berani dengan hati lembut. Rasanya tubuhnya terlalu kecil untuk menahan seluruh perasaan yang ada di hatinya. Tiap memeluk Tanisha, rasanya aku ingin melakukannya dengan sangat pelan.</p><p>Setiap melihat keberanian Tanisha, aku seakan diberi kesadaran tentang betapa kuat gadis itu sebenarnya. Dia menyimpan banyak emosi di hati, jadi kulihat dirinya sebagai orang yang sensitif dan pemalu, tapi Tanisha orang yang lebih berani dari aku.</p><p>Dia tidak takut konfrontasi, dan rela menyuarakan suaranya meski dapat berakhir pada pertengkaran. Dia juga orang yang memiliki sempati tinggi, dan akan mengingat kesalahannya dalam waktu lama.</p><p>Tanisha merupakan orang yang cerdas dan cekatan. Kami berdua sama-sama punya mimpi, tapi tiap mendengarnya berbincang tentang mimpinya — aku sadar selama ini aku hanya bisa melihat punggungnya. Dia bersedih secukupnya, lalu mengambil empat langkah ke depan ketika aku masih mencoba memproses segalanya.</p><p>Nama Tanisha memiliki makna yang berbeda di bahasa yang berbeda. Di bahasa Sansekerta, artinya ambisi dan keinginan; yang sangat cocok dengan sikapnya. Di bahasa Arab, artinya kebahagiaan; do’aku untuknya.</p><p>Terimakasih atas tiga tahun yang kita habiskan bersama. Aku tahu terkadang ucapanku membingungkan dan menyusahkan, namun dia tak pernah sekalipun menyepelekan kisahku.</p><p>Tanisha, aku bukan orang yang pandai mengucapkan perasaanku lewat mulut, tapi aku pandai menuliskannya dalam kata-kata. Terimakasih banyak. Aku benar-benar mengagumi kamu, lebih dari yang kamu kira. Aku harap mimpi kamu bisa tercapai, dan masa depan yang kamu harapkan bisa kamu jalani.</p><p><em>-Rry, 16 May 2026</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e7285dcdaebc" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Jangan Berhenti]]></title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo/jangan-berhenti-32296b4d7100?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/32296b4d7100</guid>
            <dc:creator><![CDATA[rry]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 24 Jan 2026 12:14:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-01-24T12:16:54.599Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*5Uz6sovhXP8ntm3ZsRaVyA.jpeg" /></figure><p>Ketika aku menceritakan kisahku tentang menyukai Mavendra, tanggapan yang selalu kuterima terdengar seragam dan datar: <strong>“Lu berani banget ya,”</strong> atau <strong>“Buru-buru amat? Nikmati aja dulu.”</strong></p><p>Tak ada yang benar-benar tahu bahwa keberanianku lahir dari ketakutan yang panjang dan sunyi.</p><p>Sejak lama aku percaya bahwa hidupku akan berakhir dalam kesendirian — tanpa pernikahan, tanpa seseorang yang menetap terlalu dekat di sisiku. Bayangan menghabiskan seumur hidup dengan satu orang tak pernah terasa hangat; justru seperti ruangan sempit tanpa jendela. <em>Menyesakkan.</em> Membuat napasku pendek bahkan sebelum aku masuk ke dalamnya.</p><p><em>Tinggal bersama seseorang yang mengetahui segalanya tentangmu… bukankah itu melelahkan?</em></p><p>Aku suka bercerita, benar. Namun membuka isi hati, menumpahkan hari-hariku, rasanya seperti mengangkat beban yang tak perlu. Ada begitu banyak hal yang ingin kusimpan rapat-rapat, dan gagasan tentang menjadi telanjang di mata orang lain terdengar seperti kerja paksa bagi jiwaku.</p><p>Lalu ada ketakutan lain yang lebih dingin: memiliki seseorang yang benar-benar memahamimu.</p><p>Seseorang yang bisa menebak isi kepalamu sebelum kau sempat menyusunnya menjadi kata. Jika orang seperti itu hadir dalam hidupmu — <strong>bukankah itu mengerikan? </strong>Tak ada lagi tempat bersembunyi. Tak ada sudut gelap untuk menaruh rahasia. Bahkan membayangkannya saja membuat bulu kudukku berdiri.</p><p>Mungkin terdengar aneh, tapi aku tidak butuh dipahami. Cukup percaya pada apa yang kukatakan. Tak perlu mengorek isi hatiku, tak perlu menyelami labirin pikiranku.</p><p>Maka menyukai seseorang — <strong>benar-benar menyukai </strong>— adalah pencapaian besar bagiku. Aku yang tak pernah akrab dengan cinta, yang bahkan memberi kasih sayang saja sering gagap. Jadi ketika aku menyadari perasaanku pada Mavendra, aku tak ingin menyia-nyiakannya. Seperti kata HIVI!,</p><blockquote>“Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara.”</blockquote><p>Aku takut cintaku bukanlah sumur yang dalam. Takut bahwa jumlahnya terbatas, dan sebelum aku sadar, tak ada lagi yang tersisa untuk kuberikan. Aku ingin menyukai Mavendra dengan jujur, setransparan mungkin, mengikuti setiap getar yang lahir dari dadaku. Walau aku tak berniat hidup dalam kisah roman seperti novel, aku menikmati jatuh cinta itu sendiri. Ketakutan bahwa aku mungkin tak akan mencintai lagi membuat perasaan ini terasa sakral — sebuah anugerah yang tak boleh kusia-siakan. Hanya Tuhan yang tahu apakah aku akan jatuh cinta lagi di masa depan.</p><p>Libur semester lima kuhabiskan dengan merindukannya.</p><p>Hari-hariku dipenuhi bayangnya hingga kepalaku terasa sesak. <em>Aku merindukannya. Aku ingin menemuinya. Aku ingin berbicara dengannya.</em> Meski memalukan, begitulah isi hatiku kala itu — polos, berisik, dan tak tahu malu.</p><p>Namun ketika libur berakhir dan aku akhirnya menemuinya, hatiku berkhianat dengan cara paling kejam.</p><p>Awalnya ia masih berdetak kencang, namun pikiranku tak lagi penuh olehnya meski ia berdiri tepat di hadapanku. Kami duduk begitu dekat, tapi namanya tak lagi bergema di kepalaku. Aku tak lagi mencuri pandang, tak lagi sibuk mencari celah perhatiannya.</p><p><em>Atau mungkin aku hanya terbiasa menyukainya?</em> Aku mencoba berdamai dengan pikiran itu. Aku mengajaknya berbicara, meminta bantuan, meminjam barang — namun hasilnya lebih menyedihkan dari dugaan. <strong>Tak ada kupu-kupu.</strong> Tak ada gemuruh.</p><p>Dulu, setiap percakapan dengannya adalah kembang api di otakku. Kini, bahkan keinginan untuk menemuinya pun memudar.</p><p><strong>Apakah cintaku benar-benar telah habis?</strong> Secepat itu?</p><p>Ketika aku mencoba berhenti menyukainya, jantungku membangkang dan tetap mencintai. Namun saat aku ingin bertahan, justru dia yang memilih pergi. Aku merasa seperti orang bodoh — terjebak di persimpangan perasaan yang tak bisa kuatur.</p><p>Dulu aku selalu menganggap kalimat <strong>“perasaan tidak bisa diatur,”</strong> sebagai alasan murahan bagi mereka yang lemah mengendalikan diri. Kini aku terpaksa menelan kata-kataku sendiri, tercekat, kebingungan, tak tahu harus melangkah ke mana.</p><p>Tak banyak hal yang membuatku betah di sekolah, terlebih setelah beberapa peristiwa yang meninggalkan luka. Mavendra adalah satu-satunya pelarian, alasan mengapa delapan setengah jam di gedung itu terasa layak dijalani.</p><p>Namun sekarang, ia tak lebih dari wajah-wajah lain di kelas — asing, datar, dan <strong>tak lagi istimewa.</strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=32296b4d7100" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[A Pessimistic Person]]></title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo/a-pessimistic-person-840b68d69892?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/840b68d69892</guid>
            <dc:creator><![CDATA[rry]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 28 Nov 2025 12:45:42 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-12-11T05:22:00.813Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*DRRe7QlQNzwdEazzxsogvA.jpeg" /></figure><p>Liking Mavendra had become such a habit the world felt a little colorless without the usual &quot;trying to look for him in the crowd&quot; or &quot;getting excited over the possibility of talking to him.&quot;</p><p><em>Cringe.</em></p><p>I don’t know if my feelings are already gone or is it just my brain playing its trick on me. That’s what happens when you always lie to yourself and never validate your feelings.</p><p>I’m a hypocrite if I said I wouldn’t jump at the opportunity to date him. I love seeing Mavendra smile and would be delighted to be the one who brings it to him. However, I’m not really one to chase after someone, not because I have enough ego not to act pathetic— but because <strong>I’m disgusted at the thought of being chased after by someone like me.</strong> The negative thoughts that he would immediately came to hate me the moment I troubled him makes me stop before I even try.</p><p>A pessimistic person like me who can’t even do friendship right because I’m always walking on eggshells, feeling like people would abandon and came to hate me the moment I do something wrong. And everything about me are always wrong. Terus malah involving herself with romance, <strong>what a joke.</strong></p><blockquote>You will die alone, Rry. That’s just how the world works, it always has been.</blockquote><p>I’m sorry I can’t chase after you. I’m sorry I can’t do better. I’m sorry I can’t be her.</p><p><em>Alright, now that’s not about Mavendra anymore, is it?</em></p><p>Liking Mavendra and being friends with her had always been a parallel. I can’t sleep at the thought that maybe — just maybe, If I tried a little harder, if I put in more effort , me and Mavendra could’ve been a thing. Or how if I was just a bit similar to her, maybe being friends with me wouldn’t make you so troubled.</p><p>I <strong>can’t</strong> chase after you.</p><p>I <strong>can’t</strong> give you what you want.</p><p>I’m trying, I really do. <em>I swear.</em> I’m trying to change myself, I’m trying to be better so you wouldn’t look at anyone else — but pieces of a puzzle that’s not supposed to go together will never work no matter how much you tried, <em>right?</em></p><p>I can’t help but think that you’re tired of me. That you want me to try harder, but what if — when I do, you leave? <strong>It happened once, why wouldn’t it happen again?</strong></p><p>You will leave me.</p><p>You will leave me.</p><p>You will leave me.</p><p><strong><em>I will leave me.</em></strong></p><p>And he will too if I tried —</p><p>My mind is such a mess, I don’t even know what or why I am writing this. I’ve always thought writing would make me understand myself better, but the more I found out about me, the more I came to hate the person I’ve grown to be.</p><p>Writing them out, speaking them out — is making them real. I should’ve just put them away in a little box before they even came out just like how I usually do. I should’ve never understood myself, I should’ve never felt things in the first place.</p><p><strong>I should’ve never been me.</strong></p><p>I should never have told her anything, told anyone anything. I should’ve never felt love. I should’ve never tried — I gave up on myself before, why did I try again?</p><p>A person like me doesn’t deserve to … know what it feels to love someone. I should’ve stayed inside my room, trapped with the four walls closing in on me. The world was simpler then, when everyone I know hates me and I don’t have to beg or try to be loved, when the only thing I felt was the need to die — when I don’t even know who I am.</p><p>— Rry : November 28, 2025</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=840b68d69892" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Terima Kasih]]></title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo/terimakasih-69afaf09c0e7?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/69afaf09c0e7</guid>
            <dc:creator><![CDATA[rry]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 09 Nov 2025 15:36:18 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-09T22:21:44.656Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*GD9-EGHHDUlJWF82-ZF5DQ.jpeg" /><figcaption>; mavendra series — 06</figcaption></figure><blockquote>Mavendra, kutulis dia begitu. Tapi sebenarnya Mavendra bukanlah Mavendra.</blockquote><p>Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta. Dari kecil sampai menginjak SMK-pun tak pernah sekalipun kurasakan rasa “suka”, bahkan sekedar cinta monyet saja tidak tiba pada diriku yang kecil.</p><p>Aku selalu pikir cinta akan datang dengan sendirinya.</p><p>Ternyata masa SMK berjalan berbeda dari pikiran. Masa-masa remaja tidak seperti yang buku-buku tulis, tidak penuh dengan romansa dan kupu-kupu di perut. Ketika aku mulai putus asa dan percaya bahwa aku akan mati sendirian, aku menemukan cinta di sosok pria bernama Arjuna Arkananta.</p><p>Awalnya hanya perasaan kagum yang perlahan timbul ketika kulihat kemampuannya mengedit, hasil videonya menunjukkan bahwa dia telah mempersiapkan diri. Laki-laki yang awalnya hanya “teman sekelas” mulai mencolok di mataku, sinarnya jadi lebih terang, dan tanpa kusadari mataku akan mengikutinya ketika kulihat sosoknya di kejauhan.</p><p>Arjuna bukanlah pria yang sempurna. Dia bukan pemain basket yang bisa mencetak 20 poin sendirian, dia juga bukan pria baik hati yang akan menawarkan diri untuk membantumu membawakan barang berat, dia juga tidak cukup ramah untuk menyapamu dengan senyuman.</p><p>Namun, dimanapun dia berjalan, orang-orang pasti akan membentuk lingkaran di sekitarnya. Arjuna punya banyak teman, sampai kunaikkan alis ketika melihat dia bersama orang-orang yang berbeda dalam satu hari yang sama. Untukku yang pemalu, itu hal yang benar-benar mengagumkan.</p><p>Kukira yang kurasakan padanya hanya rasa kagum. Namun, tepatnya tanggal 19 Juni 2025 ketika aku ditugaskan di tim Dokumentasi sebagai anggota OSIS, tanpa kusadari lensa kamera terus terarah kepadanya.</p><p>Dia mengikuti lomba futsal hari itu, aku bahkan tidak menyadari betapa banyak foto yang kuambil tentangnya sampai acara selesai. Seperti biasa, aku dan temanku — Tanya — duduk di lab dengan laptop guru kami di hadapan, kupilih berbagai macam foto yang sekiranya dapat diterima siswa/i. Jantungku berhenti ketika berbaris-baris sosoknya muncul dari berbagai macam angle, aku masih ingat perasaanku hari itu — bingung dan takut bercampur aduk menjadi satu.</p><blockquote>“Ah, aku suka dengan orang ini.”</blockquote><p>Perasaan yang asing tumbuh di hati, bagai benih bunga yang perlahan-lahan keluar dari tanah, kutemukan tubuhku lebih dekat dengan hati daripada otakku sendiri. Saat itu, aku berharap Tanya tidak sadar sambil kuhapus beberapa fotonya, tak mau yang melihat bingung kenapa sosok yang sama terus menerus muncul.</p><p>Aku pulang dengan kepala yang penuh. Bingung dengan perasaanku sendiri karena terlalu asing. Hanya saja, untuk aku yang benar-benar ingin rasakan jatuh cinta, aku tidur dengan penuh rasa senang malam itu.</p><p>Kemudian dia beberapa kali berbincang denganku perihal ekskul. Aku adalah orang yang suka ketika dibutuhkan, jadi ketika dia meminta tolong ini dan itu, senyuman terus terpasang di bibir. Berkali-kali kuharap dia terus bergantung padaku agar percakapan kami menjadi lebih panjang, namun pada akhirnya obrolan kami berakhir ketika sudah tak diperlukan.</p><p>Kemudian kami naik kelas, libur panjang membuatku lupa dengan sosoknya — sampai Tanya tiba-tiba mengajakku untuk ikut lomba membuat film pendek bersamanya. Aku menerima dengan senang hati. Dan hal itu jadi memori terbaik di hidupku.</p><p>Walaupun tidak ada yang terjadi antara aku dan Arjuna, dapat berada di dekatnya membuatku senang. Aku bisa bersamanya dari pagi sampai matahari tenggelam, walau tak sepatah katapun terucap antara kami berdua, aku cukup bahagia dengan itu.</p><p>Ternyata, cinta pertama membuatku jadi orang tak sabaran. Aku ingin dia tahu kebenarannya, aku ingin dia tahu tentang perasaan yang kusimpan dalam-dalam. Kupikir, “Akan kuungkapkan begitu projek ini selesai.”</p><p>Projek tersebut mengambil lebih banyak waktu dari yang kukira — dan aku yang sudah muak menyimpan semuanya sendirian berakhir ucapkan kebenarannya pada teman dekatku. Arjuna memang tidak melakukan apa-apa, tapi untukku yang selalu coba pasang tembok tinggi dengan orang lain, dia adalah alasan kuhancurkan tembok itu.</p><p>Dari situ, kutemukan bahwa “terbuka” tidak semenakutkan yang kukira, kutemukan bahwa teman-temanku peduli dengan kisahku, walau seringkali aku merasa ragu karena takut hal yang pernah terjadi akan terulang lagi — takut jika duniaku lebih luas dari empat sisi tembok dingin itu, aku akan sakit lagi.</p><p>Aku jadi semangat bersekolah, bukan hanya karena Arjuna, namun juga teman-temanku — dan alasan semuanya terjadi adalah perasaan yang timbul untuknya. Arjuna tidak akan tahu, tapi dia telah berperan besar dalam hidupku.</p><p>Aku selalu menggunakan warna oranye di setiap chapter tentangnya, padahal warna kesukaanku adalah biru. Tapi menurutku warna biru terlalu dingin untuk orang yang hangat seperti Arjuna, dan kuning terlalu ramah, sedangkan merah terlalu agresif. Oranye menggambarkan hangatnya perasaan nyaman yang kurasakan padanya setiap shooting ketika matahari tenggelam. Momen singkat antara siang dan malam benar-benar menggambarkan kisah kami menurutku. Untuk Arjuna, aku hanyalah sosok yang akan timbul satu atau dua paragraf di buku kisahnya, tapi untukku dia mengambil puluhan chapter. Akhirnya sama saja. Aku tahu dari awal kalau kami tak akan pernah jadi apapun yang lebih dari sekedar teman, tapi kutemukan diriku merasa kecewa. Manusia memang makhluk yang rakus, walau sudah beginipun, aku tetap berharap dia bisa menatapku dengan tatapan yang berbeda dari orang lain.</p><p>Aku tidak pernah melihat Arjuna jatuh cinta, dan tampaknya akan terus begitu sampai kami berdua lupa dengan satu sama lain.</p><p>Kusebut dia Mavendra, yang berarti “sosok yang bisa melakukan segala hal secara sempurna” di bahasa Sansekerta. Karena Arjuna bukan tipe orang yang melakukan hal yang dia sukai secara setengah-setengah, dia juga memiliki banyak kemampuan di berbagai bidang yang berbeda. Setelah lebih mengenalnya, kusadari bahwa Arjuna bukan manusia yang sesempurna dugaanku, namun kutemukan diriku jatuh lebih dalam dengan segala hal tentangnya. Dan kurasa, akan lebih pantas kuakhiri kisahnya dengan nama aslinya, karena aku jatuh cinta dengan pria bernama Arjuna, bukan Mavendra — sebuah bayangan yang kuciptakan di kepala.</p><p>Akhirnya, setelah berbulan-bulan kusimpan rasa — sampai setengah tahun kuhabiskan menyukainya dalam diam, aku membuat rencana di hari ulang tahunnya. Aku ingin memberikannya sesuatu, tapi jika kulakukan , bukankah itu sama saja dengan menyatakan cinta?</p><blockquote>“Kalau begitu sekalian saja kunyatakan.”</blockquote><p>Di hari itu, tepatnya tanggal 8 November 2025, kukirim pesan di pagi hari untuk Arjuna, meminta waktunya setelah ekskul selesai. Saat itu aku baru sampai sekolah di jam satu siang, dan kukira aku punya satu jam untuk menyiapkan diri karena ekskul biasa berakhir di jam dua — tapi tiba-tiba ketika baru kupijakkan kaki di dalam ruangan dingin lab, Arjuna mengumumkan bahwa ekskul telah berakhir.</p><p>Berkali-kali aku berputar-putar seperti orang yang kehilangan akal dan tak tahu arah, bingung kapan dan bagaimana aku bisa memberikan kadonya. Lalu, akhirnya ketika kulihat bahwa aku punya waktu — langsung kuhampiri dan ajak dia ke lantai atas lab yang kosong dan berdebu.</p><p>Sebenarnya, aku berharap pernyataan cintaku terjadi di tempat yang lebih romantis — tapi aku takut akan merepotkannya jika mengajaknya pergi ke sebuah kafe atau tempat lain. Aku menatap ke jendela sambil memantapkan hati, sedangkan dia sibuk mengakhiri permainan yang sedang dia mainkan di ponselnya.</p><p>Ketika dia sudah selesai, kutarik keluar kotak kado itu lalu kuberikan padanya. Di dalamnya terdapat barang yang ingin kuberikan, tiga bunga yang kubuat paginya dengan pita, dua buah cokelat dengan rasa cookies &amp; cream, juga secarik surat.</p><p>Dia tampak terkejut menerimanya, menanyakan bagaimana bisa aku mengetahui hari lahirnya. Aku tertawa, karena aku tahu dari dirinya sendiri, ketika aku bertanya padanya lewat pesan — namun saat itu kusadari bahwa aku memang hanya sosok yang lewat di kehidupan Arjuna.</p><p>Arjuna tidak mengingat banyak hal yang kulakukan padanya, padahal hal-hal kecil itu merupakan segalanya untukku. Kurasa aku memang makhluk egois, karena tidak mau dilupakan dengan mudah olehnya, aku ingin dia mengingatku secara berbeda dari yang lain, aku ingin dia mengingat wajahku bahkan setelah kami lulus sebagai gadis yang pernah menyukainya.</p><p>Aku mengucapkannya.</p><p>Kunyatakan perasaanku — jantungku sangat berisik sampai aku tidak bisa mendengar diriku sendiri. Kemudian, Arjuna mengingatkanku alasan aku bisa menyukainya. Dia seakan-akan mencoba membuatnya semudah mungkin untukku, menanyakan ini dan itu, tertawa lugas, tersenyum — tanpa kusadari kuceritakan kisah kami dari sudut pandangku. Bagaimana aku bisa mulai menyukainya, apa alasannya, dan sebagainya yang berhubungan dengannya.</p><p>Kukira aku akan menangis setelah menyatakan isi hatiku, tapi yang kurasakan hanya rasa lega yang sangat amat, seakan beban menyembunyikan segalanya telah diangkat dari pundak. Kuucapkan terima kasih, satu frasa itu cukup untuk menjelaskan semuanya.</p><p>“Terima” yang berarti menerima, dan “kasih” yang berarti perasaan sayang.</p><p>Terima kasih telah menjadi Arjuna yang kucintai sepenuh hati.</p><p>Terima kasih telah mendengarkan segala ucapanku.</p><p>Terima kasih telah sabar ketika aku sendiri frustasi dengan diriku.</p><p>Terima kasih telah menjadi cinta pertamaku.</p><p>Untuk Arjuna, terima kasih.</p><p>— Salma, 9 November 2025</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=69afaf09c0e7" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Aku Menemukan Diari Lamaku]]></title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo/aku-menemukan-diari-lamaku-ccd5dda64185?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ccd5dda64185</guid>
            <dc:creator><![CDATA[rry]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 07 Nov 2025 11:52:12 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-07T11:52:12.114Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Aku menemukan diari lamaku, berpuluh-puluh lembar tertulis dengan penuh. Namun, dari jutaan kata di dalamnya, satu kalimat menempel di kepalaku;</p><blockquote>“Aku ingin mati sendirian.”</blockquote><p>Itu bukan kalimat yang begitu puitis ataupun indah, juga tidak setragis kedengarannya. Tapi untukku yang sedang bingung dengan diriku sendiri, kalimat itu seakan menyadarkanku.</p><p>Aku sendiri tidak tahu sejak kapan, mungkin sejak awal pandemi dimulai. Saat itu, bertahun-tahun kuhabiskan di dalam kamar, duniaku berhenti di empat sisi dinding yang dingin. Aku yakin menurut Ibuku pun, aku hanya orang asing yang tinggal di lantai kedua rumahnya, hubungan kami benar-benar tidak pantas disebut keluarga — belum lagi dengan Ayahku.</p><p>Dari situ, aku terbiasa sendiri. Ketika pandemi berakhir, aku masih terlalu nyaman dengan duniaku yang sempit, dan lupa bagaimana cara menjadi manusia. Diantara beberapa temanku, hanya satu yang benar-benar kuanggap rumah.</p><p>Sebelum pandemi, kami sudah dekat. Aku yakin sampai sekarang bahwa dia adalah soulmateku. Makannya, ketika pandemi berakhir, aku hanya bisa menjadi manusia bersamanya — karena dia satu-satunya sosok yang familier di dunia yang asing untukku. Setengah dekade kami habiskan sebagai sahabat, menempel dengan satu sama lain — sampai orang menanyakan ketika mereka melihat kami secara terpisah.</p><p>Sayangnya, saat SMP kami berakhir di kelas yang berbeda, dan akhirnya hanya bisa bertemu di jam istirahat. Setiap bel itu berbunyi, aku langsung berlari ke masjid dengan senyum yang lebar untuk menemuinya. Di sekolah yang terasa dingin, momen-momen singkat bersamanya terasa begitu hangat.</p><p>Kemudian, suatu masalah timbul. Kami tidak pernah bertengkar , karena kami berdua memang tidak memiliki ego yang tinggi, dan jika ada kesalahpahaman pasti langsung diluruskan — singkatnya, kami cukup dekat untuk menyuarakan setiap hal, jadi tak pernah timbul konflik.</p><p>Tapi saat itu, dia secara tiba-tiba mengabaikan aku sampai berminggu-minggu. Tatapannya yang hangat berubah dingin dan aku sibuk dikalut bingung dan takut.</p><p>Aku kira aku tidak apa-apa. Tapi manusia memang terbiasa bersikap kuat, padahal tanpa mereka sadari hati mereka sudah rapuh. Aku menangis kencang ketika akhirnya berbincang dengannya. Dari kecil aku bukan orang yang terbiasa menangis, malah — itu pertama kalinya aku menangis setelah bertahun-tahun. Kakakku yang panik melihatku menyuruhku mengambil wudhu untuk menenangkan diri, namun aku malah berakhir menangis di kamar mandi sampai lelah mengambil alih.</p><p>Mungkin sejak itu — aku jadi memasang tembok yang tinggi.</p><p>“Seharusnya aku tidak pernah keluar,” pikirku.</p><p>Hidupku sudah nyaman di ruangan sempit itu, seharusnya aku tidak keluar — atau membawanya masuk, pikirku. Tentu saja, setelah itu kami berbaikan.</p><p>Namun, aku sebenarnya adalah seorang pengecut. Aku tidak mau bertengkar dengan siapapun, aku tidak mau siapapun membenciku, makannya hal kecil itu berbekas di ingatan bagai noda yang mengganggu. Mau sampai kapanpun, aku tidak akan bisa lupa perasaanku hari itu.</p><p>Ketika akhirnya aku masuk SMK, dindingku kupasang tinggi. Aku bersikap tidak peduli dengan orang lain, karena dengan begitu mereka tak akan peduli denganku.</p><blockquote>Jangan ada yang masuk.</blockquote><p>Biar saja hidupku kembali sempit, lebih nyaman seperti itu. Jika tidak ada yang kubiarkan masuk, maka tidak akan ada lagi yang hancur. Aku menjadi lebih pengecut, terlalu takut disakiti dan berakhir menjauh. Bahkan, dengan teman dekatku saja tak pernah ku ceritakan kehidupanku, hanya hal yang kami nikmati bersama-sama.</p><blockquote>Aku nyaman seperti ini.</blockquote><p>Kemudian, Mavendra tiba. Perasaan asing yang tidak pernah kurasakan sebelumnya mekar di hati, dan aku yang kebingungan berakhir menceritakan segalanya pada temanku. Itu pertama kalinya aku membuka hati lagi untuk seseorang, pertama kalinya aku percaya — hal kecil itu merupakan langkah yang besar untukku.</p><p>Namun, pikiranku tak pernah berhenti berisik.</p><blockquote>“Tidak ada yang peduli.”</blockquote><p>Aku mencoba menahan diri dari terlalu banyak bercerita, namun aku akhirnya bisa percaya — rasanya seperti menemukan rumah lagi. Hangat yang familier kembali lagi, dan sekolah yang biasa kubenci setengah mati mulai terasa menyenangkan.</p><p>Aku rasa, pindah rumah juga merupakan salah satu faktornya. Terlalu banyak kenangan buruk di kamar sempit itu, dan sekarang ketika kamarku berada di lantai yang sama dengan keluargaku, aku mulai merasa bahwa hidupku tidak sendiri. Hubunganku dengan keluargaku mulai membaik, walaupun Ibu dan Ayahku masih merasa canggung dengan anaknya yang selama ini adalah orang asing — tapi kami sedang mencoba memperbaikinya.</p><p>Aku masih butuh waktu untuk sepenuhnya terbuka. Takut jika seluruh kehidupanku terlihat, luka-luka yang tertinggal tidak bisa diterima . Takut jika aku menelanjangi diri, perasaan yang dulu pernah kurasakan akan hadir lagi.</p><p>Kemarin, temanku bertanya denganku, “Kalau lu ketemu orang baru, apa lu bakal butuh waktu lagi buat terbuka atau nggak?”</p><p>Saat itu, kujawab bahwa aku tak akan butuh waktu sepanjang ini lagi. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya pengecut sepertiku akan memasang tembok tinggi dengan orang yang tidak familier untukku.</p><p>Dari kecil, aku selalu berpikir, “Aku ingin mati sendirian.” Namun semenjak menemukan rumah di sekolah, pikiran itu kulupakan sepenuhnya.</p><p>“Aku tidak ingin merepotkan orang lain. Aku ingin kedua orang tuaku tidak sedih ketika aku mati, aku tidak ingin ada yang sedih ketika aku mati. Maka, lebih baik aku mati sendirian.” Seluruh kehidupanku selalu tentang orang lain. Aku takut menyakiti, karena aku sendiri sangat takut rasa sakit.</p><p>Ketika sudah membuka tembok, aku adalah orang yang benar-benar manja. Walaupun kucoba menahan diri, sebenarnya aku mudah cemburu, aku ingin terus berbincang, aku ingin dicintai, aku ingin mencintai. Aku akan merasa tidak tenang ketika pesanku tidak dibalas atau orang itu bersikap sedikit dingin. Aku merasa perlu tahu segalanya.</p><p>Aku benar-benar tidak mau menjadi seperti itu lagi, karena aku menjadi orang yang merepotkan.</p><blockquote>Dia akan membenciku jika aku bersikap kekanak-kanakan.</blockquote><p>Aku sangat takut dibenci.</p><p>Kukira rumah yang ini berbeda — kukira tidak akan apa-apa.</p><p>Tapi untuk memulai harus berani untuk berhenti, ‘kan?</p><p>Untuk membuka hati, harus siap sakit.</p><p>Seharusnya tembok itu kubiarkan menjulang tinggi.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ccd5dda64185" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Boring]]></title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo/boring-b1cebfd564d9?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/b1cebfd564d9</guid>
            <dc:creator><![CDATA[rry]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 04 Nov 2025 13:04:14 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-04T13:04:14.589Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Did I bore you?</p><p>Do you hate me?</p><p>Since when did you start hating me?</p><p>I stare at the ceiling with those thoughts that drive me insane. I know that there’s something wrong with me — I’ve always known from the first time I got jealous when I saw you talking with someone else. We’re friends, best friends, even, why did I get so possessive?</p><p>I’ve never spoken about those feelings, because I know that it’s my problem, and it’s wrong to feel this way. There are many moments where I can’t stop thinking, “Do you hate me?”</p><p>And then I realized that we’d never worked out.</p><p>The only reason that we’ve been friends for so long is the idiot pushover me that keeps wagging my tail around you. Even if you spat at me like crap, I would still smile and think that we’re the bestest of friends. That you love me just like I love you. That we’re going to be inseparable.</p><p>But we’re not.</p><p>You hate me.</p><p>Maybe from the start. Maybe I’m just too much of an idiot to realize. Maybe I got a few screws loose.</p><p>There’s nothing wrong with you not liking me. I’ve also felt hatred for another human being before, it’s called being human and these feelings are valid. However, I can’t help but wonder, “Since when did you start hating me?”</p><p>From the start? Are the two years we spent together just a fairytale I made in my own little mind?</p><p>I don’t know what to do. I wanna keep being friends, but how can I do that to someone that hates me? I know that I’m asking for too much, but I can’t help it. I wanna let go of you, but at the end of the day I ended up crying staring at the same ceiling for the same reason over and over again until my eyes were sore.</p><p>I want you to love me.</p><p>I want you to tell me that my thoughts were wrong.</p><p>That you’ve never hated me.</p><p>That these memories are real.</p><p>That at some point in the time we spent together, you enjoyed yourself.</p><p>I’m a greedy human being.</p><p>I just wanna die. Why can’t I just let go of you? why can’t I stop feeling this way? why does it HAVE TO BE YOU?</p><p>Why can’t you just treat me like anybody else?</p><p>Why do you always treat me differently?</p><p>Am I not enough?</p><p>Tell me what I need to fix.</p><p>Tell me how I can make myself better so you can love me.</p><p>Why do you always reject me? Even if I make the world’s most delicious brownies that you love so much, you would straight out reject it because I MADE IT?</p><p>I don’t know what to do.</p><p>I can’t stop thinking about you.</p><p>I wanna give up on us.</p><p>But maybe there was never us to begin with? Maybe from the start it has always been you and the annoying friend who always tails you around?</p><p>I don’t know what to do.</p><p>I wanna stop feeling this way.</p><p>These thoughts are driving me insane.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=b1cebfd564d9" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Rehat]]></title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo/rehat-9d466a1f3e82?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/9d466a1f3e82</guid>
            <dc:creator><![CDATA[rry]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 03 Nov 2025 07:14:34 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-11-03T07:15:11.795Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Bisakah kududuk di teras rumah? Dengan secangkir kopi dan teh diantara kita, biar kamu pilih cemilan yang menemani sambil di naungan gemericik hujan, berbincang ngalor-ngidul sampai matahari bertukar dengan sinar redup bulan dan kamu masuk ke dalam.</p><p>Pintu rumah itu selalu terbuka. “Biar kamu bisa masuk kapanpun yang kamu mau,” jelasmu. Tapi kamu tahu? aku tidak pernah masuk ke dalam. Aku ingin terus duduk di teras meski angin malam menusuk tiap pori-poriku.</p><p>Aku ingin terdiam di atas lantai yang dingin sampai bulu kudukku berdiri. Aku tidak ingin masuk, aku tidak ingin pulang.</p><p>Biar saja rumahku jadi di teras rumah. Biarkan aku tunggu kamu datang dan cintai dirimu ketika kamu akhirnya keluar dari rumah. Aku ingin mencintaimu seperti itu saja, sebutlah dangkal — aku hanya tak ingin sakit.</p><p>Bagaimana jika ketika aku masuk, ternyata warna dindingnya merah pekat dan bukan ungu muda? Lantainya terpoles bersih, namun kamu menatapku tanpa memalingkan wajah dan menungguku keluar?</p><p>Jatuh cinta tidak seindah kisah romansa yang kubaca sejak kecil. Aku jatuh dari langit ke bumi dengan kamu yang ada di bayanganku, aku takut — benar-benar takut, bahwa ketika aku langkahkan satu kaki ke dalam rumah, aku tak bisa cintai cat merah pekat itu, atau lantai yang bersih, atau kamu di dalamnya?</p><p>Aku benar-benar tidak ingin cintaku sedangkal itu, tapi jika aku memilih untuk tidak pernah tahu — apakah perasaan itu bukan dangkal juga?</p><p>Ah, biarlah. Biarlah aku menunggu di teras dengan secangkir kopi milikku sampai kamu terbangun dari tidurmu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=9d466a1f3e82" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kenapa Aku Marah?]]></title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo/kenapa-aku-marah-cf63930bbb43?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/cf63930bbb43</guid>
            <dc:creator><![CDATA[rry]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 11 Oct 2025 16:00:22 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-10-11T16:00:22.503Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kenapa aku marah?</strong> Gumpalan tercipta di tenggorokan. Semua rasa terasa seperti benang yang ruwet dan aku tidak tahu di mana ujungnya. <em>Aku ingin berhenti merasakan.</em> Aku ingin menjadi benda yang dingin, atau ubur-ubur yang menari-nari dan terlihat cantik di dalamnya lautan.</p><p>Perasaan itu membingungkan. Kenapa aku bisa terlahir sebagai manusia ketika jiwaku pun mengaku tak mampu? Anugerah yang diberikan Tuhan untukku terus ku keluhi bagai hamba yang tak tahu syukur. <em>Bagaimana bisa bersujud ketika monyet sendiri tak tahu kenapa dia sujud?</em></p><p>Otakku berisik dan aku ingin itu berhenti. Langit-langit kamar seakan menatapku balik dan membalas tiap pikiranku, <strong>“Kamu berlebihan.”</strong> Aku tahu semua yang kurasakan terlalu membingungkan, aku sendiri tak paham diriku sendiri, lantas bagaimana bisa aku berharap orang lain bisa mengerti?</p><p>Aku ingin mati rasa. Aku ingin berhenti menjadi manusia. Aku ingin tutup pintu kamarku sampai tak secercah cahayapun masuk. Aku ingin menghilang. <strong>Aku ingin berhenti merasakan.</strong></p><blockquote>Apa yang sebenarnya aku rasakan?</blockquote><p>Amarah? Kecewa? Atau jenis emosi negatif lain yang akan buktikan bahwa ada yang salah dengan pikiranku? Tak ada gunanya kubuka mulut dan cerita pada sosok yang bisa mengerti, aku takut kupingku akan berubah tuli begitu kumengerti semua gumpalan di dada ini meminta apa.</p><p>Mungkin aku butuh waktu sendiri. Mungkin aku butuh berpikir. Mungkin aku butuh segelas air putih dan tidur nyenyak tanpa mimpi buruk yang akan buatku terbangun di tengah malam.</p><p>Banyak yang aku mau, tapi takkan kududuk bersamamu dan coba buatmu mengerti. Aku ingin berhenti <em>ingin</em>, aku ingin berhenti <em>meminta</em>, aku ingin membawa semua hal baik di dunia dan memberikannya padamu, tapi saat ini aku sedang jadi yang bertentangan dari semua itu.</p><p>Aku ingin didengar, tapi aku menolak untuk dimengerti. Aku ingin ada sesuatu yang salah dengan otakku, dengan begitu akan ada alasan aku memikirkan semua ini.</p><p>Aku ingin tidur.</p><p><strong><em>Aku ingin berhenti merasakan.</em></strong></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=cf63930bbb43" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Satu Cookie]]></title>
            <link>https://medium.com/@shooooooooyo/satu-cookie-e2ffe49aa783?source=rss-f6058b4d3c0b------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/e2ffe49aa783</guid>
            <dc:creator><![CDATA[rry]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 12 Sep 2025 01:47:21 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-09-12T04:06:55.690Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/564/1*7dgFeGISyaufTqejrPHJ_A.jpeg" /><figcaption>; mavendra series — 05</figcaption></figure><blockquote>Kamu mau tahu sesuatu? Salah satu alasanku mulai menyukai baking adalah untuk memberikan hasilnya padamu.</blockquote><p>Semuanya dimulai dari <strong>kue Soes</strong>. Dari awal, aku memang ingin sekali belajar membuat kue itu. Saat sedang membuatnya, timbul pikiran bahwa aku ingin kamu bisa merasakan makanan yang kubuat, namun saat itu, ide itu hanya bagai angin lewat, sebuah imajinasi yang tidak akan pernah kulakukan.</p><p>Saat aku akhirnya membawa kue soes ke sekolah, aku benar-benar ingin memberikannya padamu. Namun, rasa kue itu biasa saja, tidak akan cukup untuk memenangkan hati orang yang begitu keren sepertimu. Selain itu, kue-kue itu juga terlanjur habis sebelum aku sempat memberikannya padamu.</p><p>Kemudian, aku mencoba membuat cookies. Ucapan orang-orang tentang betapa lezatnya kue itu terlihat di depan kamera membuatku lebih percaya diri, bahwa mungkin, kamu akan suka kue yang ini. Kedua kalinya aku membuat kue itu dan membawanya ke sekolah, tepatnya tanggal 4 September 2025, temanmu, Meraki, malah meminta cookie yang seharusnya aku berikan padamu.</p><p>Saat itu, di pikiranku, aku tidak akan berani memberikan kue itu padamu, jadi kuberikan saja pada Meraki. Namun ternyata, satu cookie yang seharusnya kuberikan ke temanku tidak jadi kuberikan padanya, karena kebetulan dia sedang sakit hari itu.</p><p>Aku menatap satu cookie itu dengan pandangan penuh kebingungan. Haruskah aku berikan padamu? Tapi aku tak berikan ke yang lain, bukankah aneh jika aku hanya memberikannya padamu?</p><p>Setelah berbincang dengan Meraki, dan berbagai kata nasihat darinya bahwa aku harus berani, aku memutuskan untuk mengambil satu langkah besar yang biasanya tidak akan mampu kuambil.</p><p>Kamu sedang mengambil MBG bagianmu di depan, dan aku sedang membuka ikatan-ikatan tali tempat makan itu. Jantungku berisik sekali, aku sampai khawatir kamu bisa mendengarnya. Lidahku kelu, dan kamu sudah memutar tubuhmu, aku pikir aku tidak akan bisa memberikannya—</p><p>Lalu kamu kembali lagi, karena ternyata kamu lupa mengambil bagian <em>snack </em>milikmu, seakan aku sedang diberi kesempatan kedua. Kata-kata Meraki terulang di kepala, “berani.”</p><p>Oke, berani.<em> Fine.</em></p><p>Aku memanggil namamu, dan kamu menengok ke arahku. Mata kita bertemu, dan aku hampir meledak di tempat, wajahku kutahan agar sedatar mungkin, lalu kuucapkan kalimat yang terus-menerus kulatih di kepala, “Mau cookies gak?”</p><p>Kamu tampak terkejut, lalu aku keluarkan kue kering itu dari dalam kantong, dan ‘ku letakkan di telapak tanganmu. “Seharusnya buat A, tapi dia gak masuk,” ujarku, sebuah alasan yang kubuat-buat di tempat. Walaupun sebenarnya itu juga kebenarannya.</p><p>Kamu tersenyum lebar, lalu bertanya jika aku akan meminta uangmu— yang benar saja, <strong>jelas-jelas aku memberikannya padamu!</strong> Akhirnya aku menggelengkan kepala.</p><p>Kamu tahu, suaraku sangat kecil saat itu. Aku memberikan kue kering itu juga setenang mungkin, karena aku takut kamu akan membencinya jika ada orang yang menyadari perasaanku lalu mencocok-cocokan kita. Namun, di luar dugaan kamu malah mengangkat cookie itu dengan bangga sambil berjalan ke tempat dudukmu, dan teman-temanmu bertanya dengan tatapan heran mereka.</p><p>Untungnya, Ardhiona bertanya saat itu, “Kenapa Mavendra dikasih?” Dan aku bisa menjelaskan di depan semuanya, bahwa aku sebenarnya tidak berniat memberikannya padamu.</p><p>Kemarin, di tanggal 10 September 2025, aku membawa cookies lagi. Tidak ada teman-temanku yang tahu, hanya Meraki yang kebetulan malamnya sedang kutanyakan perihal quiz bahasa Jepang. Dia meminta cookie untuk dirinya, namun hari itu aku tidak membawa banyak.</p><p>Pagi itu masih dingin, tapi cookie di tanganku masih terasa hangat, <em>fresh out of the oven</em>. Aku ingin kamu memakannya di kondisi paling enaknya, jadi aku berniat memberikannya padamu pagi itu. Namun, di luar rencana, kamu tidak ke kelas dulu, malah langsung pergi ke lab tempatmu akan ujian hari itu.</p><p>Saat itu, Ardhiona sudah tahu tentang perasaanku padamu, dan dengan senang hati dia membantuku, menawarkanku menemaninya ke lab bahasa, tempat kalian ujian, berbeda denganku yang ditempatkan di lab Multimedia atas.</p><p>Aku ingin memberikannya padamu tanpa pandangan orang lain di sekitar kita, kalau bisa, aku ingin memberikannya ketika kita berdua saja. Aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman karena orang lain jadi tahu bahwa aku suka kamu, tapi aku benar-benar ingin memberikannya saat itu juga.</p><p>Aku panggil namamu, dan lagi-lagi kamu menengok ke belakang. Temanmu menatap ke arahku, dan aku hampir menciut dan bilang, “Gak jadi deh.”</p><p>Namun, kukuatkan tekad, lalu kukeluarkan cookie itu dari kantong. Tak kuucapkan apapun, dan kamu tersenyum sambil menjulurkan tanganmu, lalu kamu bertanya,</p><blockquote>“Dalam rangka apanih?”</blockquote><p>Aku membeku, dalam rangka apa, <em>ya?</em> Kamu pernah bilang ingin cookie buatanku lagi, hanya itu alasannya. <strong>Aku hanya ingin memberikannya padamu, tak ada alasan lain.</strong> Lalu aku ucapkan, “Buat makasih yang kemarin.”</p><p>Dan kamu mendengus tawa, mungkin kamu langsung tahu apa yang kubahas, atau mungkin kamu sedang memikirkan apa itu “kemarin”.</p><p>Aku ingin tampak biasa saja, <strong>jujur! </strong>Aku tidak mencoba menulis di wajahku bahwa aku suka kamu, tapi jantungku benar-benar berisik dan aku ingin menggali lubang lalu sembunyi di sana selama-lamanya. Seharusnya aku bersikap biasa saja, seharusnya aku bisa lebih mengendalikan diriku dan tidak menampilkan perasaanku sejelas itu, tapi aku benar-benar ingin pergi dari sana segera sebelum meledak di tempat.</p><p>Jadi aku berlari pergi dengan jantung yang tak kunjung berhenti mentulikan telinga.</p><p>Aku benar-benar berharap aku tidak menyusahkanmu dengan perasaanku.</p><p>— Rry, 11 September 2025</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=e2ffe49aa783" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>