<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Yohanna Aprilia Indrawan on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Yohanna Aprilia Indrawan on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@yohaprilia?source=rss-b45a1f89e035------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/0*L5wetpF9kQcQyDcz</url>
            <title>Stories by Yohanna Aprilia Indrawan on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@yohaprilia?source=rss-b45a1f89e035------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 15 May 2026 19:10:18 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@yohaprilia/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[di Tengah Ingatan Lama 1998, Generasi Muda Tionghoa Mulai Menemukan Suaranya]]></title>
            <link>https://medium.com/@yohaprilia/di-tengah-ingatan-lama-1998-generasi-muda-tionghoa-mulai-menemukan-suaranya-2f24b59dd3ee?source=rss-b45a1f89e035------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2f24b59dd3ee</guid>
            <category><![CDATA[tolerance]]></category>
            <category><![CDATA[mei-1998]]></category>
            <category><![CDATA[chinese-culture]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Yohanna Aprilia Indrawan]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 04:38:59 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-05-12T04:38:59.590Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*KPNaNXEknioBiW8xUCG5bw.jpeg" /><figcaption>Altar sembahyang di rumah Yoel yang terletak di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Jumat (8/52026). Tradisi dan simbol budaya Tionghoa masih menjadi bagian dari kehidupan keluarga Yoel di tengah perubahan generasi. (Yohanna Aprilia Indrawan)</figcaption></figure><p>Aroma dupa yang samar bercampur dengan hiruk-pikuk kendaraan di kawasan Glodok, Jakarta Barat yang menjadi bagian akrab dalam kehidupan Lie Yoel Zefanya (20), atau yang akrab disapa Yoel. Di antara deretan ruko tua, lampion merah, dan toko-toko yang masih mempertahankan nuansa khas Tionghoa, mahasiswa semester empat Universitas Bunda Mulia itu tumbuh sebagai bagian dari generasi muda keturunan Tionghoa yang hidup di tengah perubahan zaman.</p><p>Sehari-hari, Yoel menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa yang bekerja sambil kuliah. Kawasan Glodok yang ramai menjadi tempat ia tumbuh sekaligus melihat bagaimana budaya Tionghoa perlahan berubah dari generasi ke generasi. Di tengah kehidupan kota yang terus bergerak cepat, Yoel mengaku dirinya tetap membawa identitas keluarga yang diwariskan sejak kecil.</p><p>Namun, di balik kehidupannya sebagai anak muda perkotaan, ia mengaku kerap memiliki perasaan campur aduk terhadap identitasnya sebagai seorang Tionghoa di Indonesia. Baginya, identitas tersebut terkadang membawa kebanggaan, tetapi di saat yang sama juga masih disertai <em>stereotype</em> yang belum sepenuhnya hilang di lingkungan sosial.</p><blockquote><em>“Kadang rasanya </em>mixed feelings <em>banget dah. Ada saat orang ngeliat Tionghoa itu keren, tapi kadang juga masih ada </em>stereotype<em> yang bikin kurang nyaman,” ujarnya saat ditemui di rumahnya di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Jumat (8/5/2026).</em></blockquote><p>Menurut Yoel, pengalaman sebagai keturunan Tionghoa di Indonesia membuat dirinya sering merasa berada “di tengah-tengah”. Ia merasa identitas Tionghoa yang dimilikinya tetap melekat, tetapi di sisi lain kehidupannya sehari-hari juga tidak berbeda jauh dengan generasi muda perkotaan lainnya, khususnya di Jakarta.</p><p>Ia mengaku masih cukup dekat dengan budaya Tionghoa yang diwariskan oleh keluarganya. Di rumah, ia terbiasa menggunakan panggilan keluarga khas Tionghoa seperti “cici”, “koko”, “encim”, dan “engku”. Selain itu, keluarganya juga masih menjalankan sejumlah tradisi seperti perayaan Imlek, Cap Go Meh, dan Sembahyang Ceng Beng.</p><p>Di rumah Yoel, ornamen-ornamen khas Tionghoa masih terlihat berdampingan dengan kehidupan <em>modern</em> yang dijalani keluarganya sehari-hari. Altar sembahyang, hiasan merah, dan perlengkapan tradisional masih menjadi bagian dari sudut rumah yang dipertahankan hingga kini.</p><p>Meski demikian, Yoel menyadari bahwa beberapa budaya perlahan mulai hilang di generasinya sekarang. Ia mengaku sudah tidak lagi menggunakan dialek keluarga seperti <em>Hokkien</em> maupun <em>Hakka</em> dalam kehidupan sehari-hari.</p><p>Menurutnya, perubahan itu terjadi karena kedua orang tuanya juga sudah lebih sering menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut membuat generasi muda Tionghoa saat ini mulai memiliki hubungan yang lebih jauh dengan budaya <em>original </em>leluhur mereka.</p><blockquote><em>“Kadang baru sadar kalau beberapa budaya memang mulai hilang pelan-pelan,” katanya.</em></blockquote><p>Bagi Yoel, perubahan tersebut menjadi gambaran bagaimana budaya Tionghoa di Indonesia mengalami perpaduan yang semakin besar dengan kehidupan masyarakat sehari-hari di Indonesia. Banyak tradisi masih dipertahankan, tetapi beberapa kebiasaan lama perlahan mulai ditinggalkan.</p><p>Ia juga mengaku tidak lagi bisa menggunakan bahasa Mandarin maupun dialek Tionghoa yang dulu digunakan generasi oma opanya. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa identitas budaya generasi sekarang tidak lagi sama seperti generasi sebelumnya.</p><p>Walaupun demikian, Yoel mengaku masih ingin mempertahankan sejumlah tradisi keluarga yang menurutnya memiliki nilai emosional tersendiri. Ia merasa rumah menjadi tempat paling nyaman untuk tetap mengenal budaya keluarganya.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*msFw3Hs4LlhKTyPHAIIKqg.jpeg" /><figcaption>Tempat sembahyang keluarga milik Yoel di rumahnya di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Jumat (8/5/2026). Sejumlah tradisi keluarga masih dipertahankan meski generasi muda mulai jarang menggunakan dialek Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari. (Yohanna Aprilia Indrawan)</figcaption></figure><p>Perasaan “di tengah-tengah” itu semakin terasa ketika Yoel mulai bersekolah di lingkungan yang lebih beragam saat SMA. Setelah sebelumnya berada di sekolah swasta dengan mayoritas siswa keturunan Tionghoa, ia mulai menyadari adanya <em>stereotype</em> tertentu terhadap dirinya ketika masuk ke sekolah negeri.</p><p>Menurut Yoel, salah satu <em>stereotype</em> yang paling sering ia dengar adalah anggapan bahwa seluruh masyarakat Tionghoa identik dengan mempunyai toko dan kondisi ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan masyarakat lain.</p><blockquote><em>“Yang paling gue </em>notice<em> tuh </em>stereotype<em> kalau kita selalu punya toko. Padahal nggak semuanya begitu,” katanya sambil tertawa kecil.</em></blockquote><p>Selain <em>stereotype</em> mengenai ekonomi, Yoel juga mengaku pernah merasa terkejut ketika ada orang yang secara langsung mempertanyakan latar belakang etnisnya. Pengalaman tersebut membuatnya mulai menyadari bahwa identitas Tionghoa masih dipandang berbeda oleh sebagian masyarakat.</p><p>Meski demikian, Yoel merasa hubungan sosial antar masyarakat saat ini jauh lebih terbuka dibanding generasi sebelumnya. Ia menilai anak muda sekarang lebih mudah berteman tanpa terlalu mempersoalkan latar belakang etnis.</p><p>Menurutnya, perubahan itu terlihat dari lingkungan pertemanan generasi muda yang semakin beragam. Ia juga merasa masyarakat saat ini mulai lebih terbiasa melihat keberagaman budaya di lingkungan sekitar.</p><p>Cerita tentang kerusuhan Mei 1998 juga bukan hal asing bagi Yoel. Ia mengaku sering mendengar kisah tersebut dari keluarganya, terutama dari sang ibu. Dari cerita itulah ia mengetahui bagaimana masyarakat keturunan Tionghoa pada masa itu hidup dalam rasa takut dan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan sehari-hari.</p><blockquote><em>“Nyokap sering cerita kalau dulu banyak orang Tionghoa takut keluar rumah dan harus lebih hati-hati,” ujarnya.</em></blockquote><p>Meski tidak mengalami langsung peristiwa tersebut, cerita yang diwariskan keluarganya membuat Yoel mulai memandang identitas dirinya dengan cara yang berbeda. Ia mengaku pernah bertanya-tanya mengapa masyarakat keturunan Tionghoa pada masa itu harus hidup dalam rasa takut.</p><p>Bagi Yoel, cerita-cerita tersebut menjadi pengingat bahwa generasi sekarang memiliki ruang yang jauh lebih terbuka dibanding masa lalu. Ia merasa generasi muda saat ini lebih bebas menyampaikan pendapat dan menunjukkan identitas diri dibanding generasi sebelumnya.</p><p>Ingatan mengenai tahun 1998 juga masih tersimpan jelas dalam benak Atmawijaya Saputra (73), warga Mangga Besar yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak tahun 1970-an. Sebelum menggunakan nama Indonesia, Atmawijaya memiliki nama Tionghoa “Tjoa Peng An”.</p><p>Menurutnya, pergantian nama menjadi nama Indonesia merupakan hal yang umum dilakukan masyarakat keturunan Tionghoa pada masa itu agar lebih mudah beradaptasi dalam kehidupan sosial.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*oGR82vPHHs15lvP4HNqvtw.jpeg" /><figcaption>Sambil menghirup balsem di tangannya, Atmawijaya Saputra (73) menceritakan kembali pengalamannya saat kerusuhan Mei 1998 di rumahnya di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat, Jumat (8/5/2026). Menurutnya, situasi saat itu membuat banyak masyarakat merasa takut untuk beraktivitas di luar rumah. (Yohanna Aprilia Indrawan)</figcaption></figure><blockquote><em>“Saya lahir di Indonesia, jadi ya menjalani hidup biasa saja seperti masyarakat lainnya,” katanya.</em></blockquote><p>Sebelum kerusuhan Mei 1998 terjadi, Atmawijaya menjalani kehidupan seperti biasa sambil bekerja di sebuah perusahaan katering di kawasan Tanah Abang. Saat itu, ia bekerja sebagai pelayan, kasir, sopir, hingga membantu berbagai kebutuhan pekerjaan lainnya.</p><p>Ia mengatakan kondisi kehidupan sebelum tahun 1998 sebenarnya berjalan cukup normal. Aktivitas masyarakat berlangsung seperti biasa dan kondisi ekonomi keluarga juga masih relatif stabil.</p><p>Namun, situasi berubah ketika kerusuhan terjadi di sejumlah wilayah Jakarta. Atmawijaya mengaku masih mengingat suasana kota yang berubah drastis dalam waktu singkat.</p><p>Saat itu, ia tidak dapat pulang ke rumah karena kondisi jalanan yang tidak aman. Kawasan tempatnya bekerja dipenuhi aparat keamanan dan kendaraan lapis baja, sementara aktivitas masyarakat lumpuh untuk sementara waktu.</p><blockquote><em>“Saya waktu itu tidur di kantor karena memang situasinya belum memungkinkan untuk pulang,” kenangnya.</em></blockquote><p>Atmawijaya masih mengingat suasana jalanan yang sepi, pertokoan yang tutup semua, serta kekhawatiran masyarakat yang akhirnya diakhiri dengan memilih bertahan di rumah demi keamanan keluarga mereka.</p><blockquote><em>“Anak-anak waktu itu masih kecil semua, jadi saya suruh keluarga tetap di rumah dan jangan keluar-keluar dulu,” katanya.</em></blockquote><p>Menurut Atmawijaya, situasi saat itu membuat banyak masyarakat memilih membatasi aktivitas di luar rumah. Banyak sekolah dan tempat kerja yang juga tutup total untuk sementara waktu.</p><p>Ia juga mengingat bagaimana sejumlah pertokoan mulai memasang pintu besi dan pengamanan tambahan setelah kerusuhan terjadi. Menurutnya, perubahan tersebut menjadi salah satu dampak yang masih terlihat hingga sekarang.</p><p>Peristiwa tersebut juga berdampak pada kondisi ekonomi keluarganya. Menurut Atmawijaya, perusahaan tempatnya bekerja mengalami kemunduran sehingga ia dan anggota keluarganya harus kembali berhemat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.</p><p>Meski demikian, ia merasa kondisi masyarakat saat ini jauh lebih baik dibanding masa lalu. Menurutnya, generasi muda sekarang memiliki ruang yang lebih terbuka untuk menyampaikan pendapat dan menunjukkan identitas mereka.</p><p>Ia juga melihat budaya Tionghoa saat ini sudah lebih diterima di ruang publik dibandingkan dengan sebelumnya. Perayaan Imlek yang dulu cenderung dilakukan secara terbatas kini menjadi lebih terbuka dan dapat dirayakan bersama masyarakat luas.</p><p>Pandangan serupa juga disampaikan Acep Saripudin (53), seorang petugas keamanan di apartemen tempat saya tinggal, di kawasan Sunter, Jakarta Utara yang turut menyaksikan situasi mencekam pada tahun 1998 silam. Menurutnya, hubungan antar masyarakat saat ini sudah jauh lebih terbuka dibandingkan masa lalu.</p><p>Ia menilai generasi muda sekarang cenderung lebih mudah berteman tanpa terlalu mempersoalkan latar belakang etnis maupun budaya.</p><blockquote><em>“Sekarang orang-orang lebih terbuka dan lebih bisa menerima perbedaan,” ujarnya dengan ekspresi bangga.</em></blockquote><p>Menurut Acep, situasi masyarakat saat ini menunjukkan adanya perubahan dalam hubungan sosial antar warga. Ia merasa generasi sekarang lebih terbiasa hidup di tengah lingkungan yang beragam.</p><p>Acep berharap hubungan antar masyarakat di Indonesia dapat terus berjalan dengan baik agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di masa kini maupun mendatang.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*5jBcuFH4XJwCJRfW2QHnCA.jpeg" /><figcaption>Acep Saripudin (53), petugas keamanan di sebuah apartemen di Jakarta Utara, memberikan pandangannya mengenai hubungan antar masyarakat setelah peristiwa Mei 1998, Minggu (10/5/2026). Ia menilai generasi muda saat ini lebih terbuka terhadap keberagaman dibandingkan masa lalu. (Yohanna Aprilia Indrawan)</figcaption></figure><p>Bagi Yoel, perubahan zaman membuat identitas Tionghoa di Indonesia juga ikut berubah. Ia merasa generasi Tionghoa sekarang sudah mulai lebih diterima jika dibandingkan pada generasi sebelum-sebelumnya.</p><p>Dengan demikian, ia akan tetap mempertahankan sejumlah budaya keluarga yang menurutnya memiliki arti penting dalam kehidupannya.</p><p>Baginya, rumah dan keluarga menjadi ruang paling nyaman untuk tetap mengenal identitas dirinya sebagai keturunan Tionghoa di Indonesia.</p><blockquote><em>“Budaya keluarga itu akan terus tumbuh di rumah gue, dan menurut gue </em>that’s a safe place for me,<em>” ujar Yoel dengan tersenyum hangat.</em></blockquote><p>Di tengah kota yang terus berubah, cerita mengenai identitas, budaya, dan ingatan masa lalu masih hidup dalam kehidupan banyak keluarga Tionghoa di Jakarta. Bagi generasi muda seperti Yoel, warisan tersebut bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga tentang memahami perjalanan panjang yang membentuk identitas mereka hari ini.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2f24b59dd3ee" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>