<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Ath on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Ath on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@zeeji?source=rss-0f572802df47------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*44Pt5ou1rgq1-DL27RY9Zw.jpeg</url>
            <title>Stories by Ath on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@zeeji?source=rss-0f572802df47------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Wed, 20 May 2026 13:47:07 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@zeeji/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[The Art of Sharing The Food]]></title>
            <link>https://medium.com/@zeeji/the-art-of-sharing-the-food-328cca96e54c?source=rss-0f572802df47------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/328cca96e54c</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Ath]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 12 Apr 2026 13:27:00 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-04-12T13:38:59.159Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h2>The Art of Sharing Food</h2><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*WVfX0yDp__uJplA7LSCj-g@2x.jpeg" /><figcaption>Photo by Baiq Daling on <a href="https://unsplash.com/?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Many people say the fastest way to reach someone heart it’s by their stomach. Food not just something that can fulfilling your stomach, but sometimes also your soul. Did you ever see someone who very attached with their mom cooking? Or someone who without doubt will queue so long just for a bowl of soup that they can make itself, but still doing that just because the taste so similar with what they eat at home?</p><p>Food is more than something that replenish your stamina. Sometime food is something that remind you with place, event or someone.</p><p>In my life, often i’m witnessing how food become the start of everything. When i moving to my neighborhood right now, the first task my mom give is go to neighbor house with a full bowl of warm soto. I remember, soto that day not feel so good as what she is cooking this day. But i remember, how that bowl became something that make our neighbours remembering us. A small family who sharing pale skin and look similar to each other.</p><p>Oh, if we talk about food we shouldn’t forget how sharing food somehow become small step for starting a relatioship. I still remember until this day, how i’m so nervous when starting my office life. A fact that say something as simple, “Hi, i’m new recruiter. Nice to meet you.” Feeling like that word stuck in my throat with a fistful of sand. But that day, the first thing my colleagues in same department do is offering me some vegetable fritter and said something like.</p><p>“Let’s eat breakfast first, before we meet others.”</p><p>Another story how sharing food become start of every relationship. I remember one story. My mother said, my father is a cassanova who never see relationship in serious traits. Until my father flirting with my mom and they eat together at a some street vendor. A street vendor which my father really like. But at that time, my mom said “I can make this, ten times more delicious.”</p><p>And when my father taste how incredible food my mom made, he falling in love for once again. He’s falling in love and realize it’s the end of his cassanova era.</p><p>Sharing food with someone, not just a simple concept. You eat something, feel it delicious, then remember someone who sharing same preferences with you. Sharing food is mean you showing how much you care for someone. How much you know about them, and how much you let them cross the boudaries.</p><p>Sharing food is start of everything.</p><p>You will never sharing a food, if you not sure about what other people likes or dislikes. You will never sharing a food, if you not care enough to make them taste amount of happiness you feeling when eat. You will never sharing a food, if you never care about them.</p><p>Sharing a food, not just as simple, “Hey, want to eat pecel lele in front of train station together?” But it’s something like.</p><p>“Hey, i remember you like your sambal on pecel lele had peanut in it. Want to try pecel lele in front of train station? I think you will like their sambal.”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=328cca96e54c" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pada Hari Pernikahanmu]]></title>
            <link>https://medium.com/@zeeji/pada-hari-pernikahanmu-82d5c3a50d14?source=rss-0f572802df47------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/82d5c3a50d14</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Ath]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 18 Feb 2026 08:55:24 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-18T08:55:24.229Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*08f9Ahvkc2yDsbn9" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@nate_dumlao?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Nathan Dumlao</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p><em>Bekasi, 2028</em></p><p>Hujan turun membasahi kota yang selalu sibuk ini sejak pagi. Tidak, justru sejak semalam. Sukses membuat para penghuni tetap kota ramai ini harap-harap cemas. Takut akan datang genangan air di jalanan yang merepotkan mereka untuk bepergian. Atau bahkan kalau tidak beruntung, masuk ke dalam rumah masing-masing. Menghancurkan mimpi ideal untuk bermalas-malasan dalam menghabiskan akhir pekan.</p><p>Namun, untungnya sepanjang jalan yang kulalui untuk datang ke tempat ini tak ada satupun genangan air yang terlihat. Seolah memberi isyarat bahwa hujan yang turun hanya pemanis dari pagi penuh khidmat untukmu.</p><p>Ketika aku menapaki kaki, masuk semakin dalam ke bangunan yang akan menjadi saksi sebuah janji hidup semati terucap. Kudapati untuk sesaat aku termenung. Entah karena terlalu terpana akan seberapa banyak warna biru muda <em>-warna kesukaanmu- </em>yang menghiasi tempat ini, atau bagaimana rasa tercubit lagi-lagi terasa di ulu hati.</p><p>Ini kali pertama aku datang ke tempat ini. Namun, aku merasa sangat familiar dan hangat berada di dalamnya. Mungkin karena kehadiran teman-teman kita yang sudah memenuhi bangku-bangku depan? Mungkin juga karena kedua orang tuamu, yang tetap ramah menyambutku? Atau karena aku menyadari bahwa sekelilingku diisi oleh segala kesukaanmu yang tak pernah hilang dari dalam ingatan.</p><p>Warna biru muda, bunga-bunga berwarna putih, dan tak lupa lagu-lagu pop yang terputar silih berganti. Lagu-lagu yang kerap kamu senandungkan di sela-sela perjalanan pulang kita.</p><p><em>Temanku.</em></p><p>Ku kira, aku adalah manusia yang sudah ikhlas akan jalannya takdir. Namun, ketika kekasihmu itu berhasil mengucap <em>kalimat </em>tersebut dengan sangat lancar dalam satu tarikan nafas. Kudapati diriku terdiam. Seolah semuanya bergerak lambat, dan jantung di dalam dada ini ditarik paksa keluar.</p><p>Bahkan seberapa lama pun aku menyiapkan diri. Aku tidak akan pernah siap akan fakta bahwa bukan akulah yang di sana. Bukan aku yang duduk di depan ayahmu mengucapkan kalimat itu.</p><p>Pintu utama terbuka, dan aku bisa melihat kamu berdiri di sana. Tersenyum lebar sembari menggandeng tangan kakakmu. Senyummu berseri-seri, dan saat itu pula aku seolah kembali bisa menemukan cara untuk bernapas.</p><p><em>Temanku.</em></p><p>Kamu mungkin tak lagi milikku. <em>dan selamanya takkan menjadi milikku.</em></p><p>Namun kamu harus tau satu hal, bahwa meski rasanya aku ingin mati menghadapi fakta bahwa aku bukanlah pria yang akan mendampingimu hingga kamu berhenti bernafas. Aku tidak pernah menyesal, menjadi orang yang melepas tanganmu lebih dahulu.</p><p>Aku mengingatnya dengan samar, <em>temanku</em>. Hari terakhir di mana kita menjadi sepasang kekasih, aku melihat bagaimana matamu berbinar-binar. Rasanya sudah lama sejak aku melihat binaran itu ada dalam matamu, setelah selama ini apa yang kulihat hanyalah pantulan diriku yang tidak becus dan tak bisa kamu andalkan itu. Kamu berseri-seri, memegang sebuket bunga yang berhasil kamu tangkap dari lemparan pengantin <em>-yang notabene sahabat kita juga- </em>di atas pelaminan sana.</p><p>Orang bilang mereka yang berhasil mendapat lemparan bunga dari sang pengantin, maka mereka akan menyusul ke pelaminan bersama pasangannya saat itu. Mungkin ketika kamu menangkap buket bunga itu, kamu pikir ini adalah pertanda. Pertanda, bahwa semesta akhirnya bersisian pada kita dan tak lagi bersikap senantiasa kejam.</p><p>Tanpa tau bahwa itulah yang akan menjadi pemicu kita berpisah.</p><p><em>Temanku.</em></p><p>Kita kerap tertawa akan frasa ‘Orang yang tepat, di waktu yang salah’. Namun, siapa sangka bahwa kalimat itu akan cocok untuk kita saat ini. Kita tepat untuk sama lain. Bersamamu semua selalu terasa mudah. Aku bisa memahamimu tanpa harus menjelaskan panjang lebar, kamu pun begitu. Kamu dan cintamu sedemikian besar membuatku sadar bahwa ada ‘ruang’ kecil yang akan selalu menyambutku di tengah dunia yang kejam ini.</p><p>Namun, <em>temanku.</em></p><p>Kita bertemu di waktu yang salah, di tengah carut marut kehidupan yang memaksa kita memilih antara mempertahankan cinta atau berlari sekuat tenaga menaiki anak tangga menuju mimpi itu. Dan, kamu tau bahwa cinta bukanlah apa yang akan aku pilih di tengah kondisi ini.</p><p>Kita tidak berhenti bukan karena tidak lagi mencintai, <em>temanku</em>.</p><p>Namun, karena cinta tidaklah cukup untuk menghadapi dunia nyata.</p><p><em>Temanku.</em></p><p>Ketika kamu berjalan melewatiku, tanpa kamu menoleh ke arah manapun kecuali ke kekasihmu yang menanti di depan sana. Aku sadar bahwa melepasmu adalah keputusan paling benar dan berani yang pernah ku ambil dalam hidup. Bahwa melepasmu adalah pemicu yang membuat roda takdir berputar dan mempertemukanmu dengan<em>nya.</em></p><p><em>Sayangku.</em></p><p>Aku berdiri di ruangan ini, menyaksikan bahwa segala ingatan tentangmu. Tentang kita. Tak lagi memiliki tempat untuk singgah. Pada malam-malam kita memecah dinginnya malam, dan begitu mabuk akan cinta. Kita terbodohi oleh bagaimana mudahnya lidah mengucap janji yang pada akhirnya menguap di udara.</p><p>Kalau semesta lain benar adanya, dan kita hidup berdampingan dengan versi kehidupan berbeda-beda.</p><p><em>Mungkin.</em></p><p><em>Mungkin.</em></p><p><em>Mungkin.</em></p><p>Kita benar-benar menikah.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=82d5c3a50d14" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kembali bertemu untuk pertama kali atau tidak pernah bertemu sama sekali?]]></title>
            <link>https://medium.com/@zeeji/kembali-bertemu-untuk-pertama-kali-atau-tidak-pernah-bertemu-sama-sekali-d8e330dd455e?source=rss-0f572802df47------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/d8e330dd455e</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Ath]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 31 Oct 2025 08:04:04 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-10-31T08:04:04.501Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*RbqCU_pNejj6qUQC" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@anniespratt?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Annie Spratt</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Semesta selalu senang bercanda dengan manusia. Itulah mengapa ketika kamu berusaha untuk mengabaikan sesuatu, pasti ada saja hal yang dilakukan semesta untuk mengingatkanmu akan hal itu.</p><p>Berlaku pula pada diriku.</p><p>Belakangan ini, entah bagaimana semua hal di sekitarku selalu mengingatkan perihal diriu. Mulai dari lagu di radio, curhatan anonim di quora, hingga <em>quotes </em>yang kerap muncul di beranda sosial media. Kali ini semesta kembali mengingatkanku perihal dirimu melalui sebuah pertanyaan yang muncul di salah satu sosial media yang ku miliki.</p><p>Katanya, jika kamu diberi kesempatan memutar waktu. Lebih baik memutar ulang pertemuan pertama atau tidak bertemu dengannya sama sekali? Sebuah pertanyaan yang sukses membuatku melihat langit-langit kamar dengan pikiran melayang jauh.</p><p>Tidak pernah satu haripun aku menyesal pernah mengenalmu. Hari-hariku saat itu bersinar lebih cerah karena ada kamu di dalamnya. Banyak hal baru yang kujalani karena dirimu, kamu yang membentuk diriku si penakut ini menjadi orang dengan keberanian tinggi.</p><p>Aku tidak pernah suka keramaian, namun kamu berhasil membuatku menikmati festival sekolah. Aku tidak pernah suka berdiri di hadapan orang banyak, namun kamu berhasil membuatku menyadari bahwa aku sesungguhnya nyaman di dalam dekapan keramaian. Aku selalu suka keramaian, namun aku selalu takut tidak pernah ada yang menemukanku di dalam keramaian ini. Lalu kamu membuatku merasakan bagaimana rasanya ditemukan di antara keramaian yang ada.</p><blockquote>Aku tidak pernah menyukai seseorang, namun kamu membuatku jatuh cinta.</blockquote><p>Sayangnya manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Seharusnya aku sudah cukup puas akan apa yang kita jalani. Seharusnya aku nyaman akan label teman di antara kita. Seharusnya aku tidak mengatakannya dan membuat kita menjadi berbeda.</p><blockquote>Orang-orang datang dan pergi dalam hidup, tapi kenapa pergimu terasa lebih menyakitkan?</blockquote><p>Segala sesuatu yang dimulai, pasti akan menemukan kata usai. Begitupun kita. Pergimu seharusnya menjadi hal yang sudah kuantisipasi sejak awal. Aku terbiasa memikirkan segala hal buruk yang bisa terjadi akan suatu hal. Dengan begitu, kemungkinanku untuk kecewa menjadi teramat kecil.</p><p>Tanpa menyadari jika perihal dikau, akan ada sejumput harap yang selalu berada di hati.</p><p>Dari salah satu buku yang ku baca, tokohnya pernah berkata. Melepaskan juga bentuk dari cinta. Mungkin segala hal yang mengingatkanmu padamu belakangan ini adalah tanda. Sudah sepatutnya perasaan ini pada kala wajah bersahabatmu berubah menjadi canggung hari itu.</p><p>Sudah sepatutnya hati ini diberi kesempatan untuk merasakan kembali cinta dari orang lain selain kamu.</p><p>Kembali ke pertanyaan yang menjadi asal dari renunganku malam ini. Jika diberi kesempatan untuk kembali ke pertemuan pertama atau tidak bertemu sama sekali? Apa yang akan kupilih?</p><p>Maka, aku akan memilih kembali ke pertemuan pertama kita. Selalu begitu.</p><blockquote>Sebab mengenal dan menghabiskan hari bersamamu, tak pernah menjadi sebuah kesalahan untukku.</blockquote><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=d8e330dd455e" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Aku selalu mengingatmu di hari yang cerah]]></title>
            <link>https://medium.com/@zeeji/aku-selalu-mengingatmu-di-hari-yang-cerah-4f20c6d0e81b?source=rss-0f572802df47------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4f20c6d0e81b</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Ath]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 30 Oct 2025 08:37:08 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-10-30T08:37:08.745Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*cEoeAcisOBzaLxIY" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@emilyirenephotoco?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Emily Irene Photo Co.</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Orang bilang cuaca yang sendu di mana awan hitam menggantung di langit berpadu dengan semilir angin dingin, selalu terasa magis. Untuk sesaat mungkin kamu akan memikirkan seberapa repotnya menerjang jalan di tengah hujan, bagaimana sepatumu akan kotor karena dipaksa menginjak jalan yang tergenang, atau bahkan bagaimana jalanan terasa lebih padat dari hari-hari biasanya. Namun, ketika tetesan air itu jatuh dan kamu mendengar rintiknya yang turun ke bumi.</p><p>Keresahanmu hilang untuk sesaat. Tergantikan kenangan dan hal-hal indah yang terputar di dalam kepala. Kamu merasa sendu, sedih dan pada akhirnya kembali mengingat sosok yang mungkin kamu bahkan tak ingat kapan dia terakhir kali muncul di dalam kepalamu.</p><p>Namun, bagiku berbeda. Aku tidak pernah mengingat tentang dirimu di hari yang muram. Tidak di saat langit sedang mengamuk, memuntahkan muatannya yang menerjang dengan membabi buta para makhluk bumi di bawah sana.</p><p>Aku selalu mengingatmu di hari yang cerah. Hari dimana langit berwarna kebiruan, awan berwarna seputih kapas, dan suhu udara sejuk. Tidak begitu panas sampai membuatmu kepayahan, namun tidak juga dingin hingga kamu mengigil. Aku selalu mengingatmu di hari-hari cerah itu.</p><p>Mungkin, karena sejak awal keberadaanmu selalu mengingatkanku pada matahari. Hangat dan menenangkan.</p><p>Ya, matahari.</p><p>Kamu mungkin lebih banyak dengar kalau dirimu lebih seperti bulan, bintang, atau bahkan gerhana. Mereka yang menjadi simbolis dari ketenangan dan ribuan rahasia tersembunyi di balik kegelapannya. Namun bagiku, kamu selalu seperti matahari.</p><p>Kehangatanmu, menyentuh sisi yang ku pikir tidak pernah ada di dalam hati. Memperhatikan ruang yang tanpa sadar ku abaikan karena terlalu sibuk memberi perhatian ke orang lain. Kamu menyadarkanku bahwa aku juga punya seseorang yang mengamatiku dalam diam. Mempercayai segala mimpi dan mendengarkan segala cerita yang ku sampaikan. Meski kamu teramat asing akan dunia yang ku bicarakan.</p><p>Dibutuhkan waktu hampir dua tahun sebelum kita mulai berbicara hal-hal di luar tugas yang memusingkan dan teror ujian di tiap hari senin. Namun hanya dibutuhkan sepuluh menit untuk aku jatuh cinta padamu.</p><p>Sepuluh menit dan satu ucapan ulang tahun.</p><p>Ucapan yang membuatku merasa ada.</p><p>Lucu bagaimana aku menghabiskan waktu mencintaimu lebih lama dari waktu kita bersua. Kamu bukan pertama yang berhasil menarik hati ini, namun kamu adalah orang yang meninggalkan kesan paling dalam pada diriku.</p><p>Mungkin alasan kenapa aku selalu mengingatmu di hari yang cerah, tak lain karena aku ingin selalu memperlihatkanmu sisi terbaikku. Sisi yang dulu bahkan aku tidak berani bayangkan, namun kamulah orang pertama yang percaya bahwa aku bisa menjadi seperti ini.</p><p>Untukmu yang selalu ku ingat di hari yang cerah. Apa kabar? Ku harap kamu selalu bahagia seperti bagaimana aku selalu tersenyum di hari yang cerah karena mengingatmu.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4f20c6d0e81b" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Di antara banyaknya hal yang pergi dari genggaman, ku pikir kamu bukan salah satunya]]></title>
            <link>https://medium.com/@zeeji/di-antara-banyaknya-hal-yang-pergi-dari-genggaman-ku-pikir-kamu-bukan-salah-satunya-6ca6084ea372?source=rss-0f572802df47------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6ca6084ea372</guid>
            <category><![CDATA[melepaskan]]></category>
            <category><![CDATA[narasi]]></category>
            <category><![CDATA[penyesalan]]></category>
            <category><![CDATA[indonesia]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ath]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 29 Apr 2025 09:17:55 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-04-29T09:17:55.007Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*cozabyXaj0uWOCvQ" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@sagarp7?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Sagar Patil</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Selama ini kupikir, dunia tidak akan pernah mengecewakanku. Nyatanya tepat di hari aku menginjakkan kaki keluar dari zona remaja, dunia menunjukkan kepadaku seberapa kejam dia bisa untuk seseorang.</p><p>Untukku yang dianugerahi cinta teramat melimpah dari kedua orang tua, para sahabat yang tak pernah pergi meski hari kami bersua semakin berkurang. Membuatku merasa hidup akan selalu beramah tamah kepadaku, sehingga diri ini menjadi congkak. Bahwa dunia akan selalu memberikan apa yang kuimpikan tanpa terkecuali.</p><p>Sampai satu mimpi lepas dari genggaman, disusul oleh banyaknya impian yang mengikuti. Rasanya seperti aku memegang beberapa balon, lantas tanpa sengaja genggaman itu melonggar. Mengira bahwa sepersekian detik itu hanya akan membuatku kehilangan satu balon dari genggaman, namun yang terjadi balon-balon itu lepas seluruhnya. Menyisakan aku terpaku membisu, menatap warna-warni balon itu menghiasi langit.</p><p>Sampai kusadari bahwa masih ada satu balon yang kugenggam erat-erat, dan itu adalah keberadaanmu. Kamu tetap di sana, menemani dalam diam seperti apa yang kamu lakukan selama ini.</p><p>Hingga aku tak sadar, bahwasanya kamu hanya menunggu waktu sampai genggamanku melonggar. Melepasmu untuk ikut terbang ke angkasa sana, tanpa ada kesempatan untuk kembali padaku.</p><p>Keberadaanmu hanyalah satu hal yang tetap membuatku merasa utuh. Lantas, ketika kamu pergi aku hancur berkeping-keping. Kehilangan diri sendiri, menjadi buta, menjadi layu dan mati. Dunia terasa berhenti sejenak ketika kamu pergi, mataku hanya menangkap spektrum warna hitam dan putih, dan lidah berhenti merasakan apa itu pahit dam manis.</p><p>Semua hilang. Semua pergi.</p><p>Termasuk kamu. <em>Terutama kamu</em>.</p><p>Bertahun-tahun berlalu, dan aku kembali memiliki segenggam balon. Warnanya lebih cerah dan hangat daripada balon-balon yang terlepas. Balon yang terlepas pun sudah terbang teramat tinggi, hingga aku tak bisa melihat jejaknya lagi di langit.</p><p>Namun, seberapa lamapun waktu berlalu dan bagaimana dunia perlahan bersikap baik kepadaku lagi. Aku akan tetap mendongak ke langit, menatap satu balon yang bahkan sudah menjadi titik kecil di langit sana. Balon yang bahkan sudah tak bisa ku ingat seperti apa warnanya.</p><p>Presensimu memang sudah hilang dari ingatan, namun jauh di dasar lubuk hatiku terdalam. Kamu masih di sana. Menetap entah sampai kapan.</p><p>Dan akan selalu menjadi titik kecil yang kupandangi di langit, sebagai sesuatu yang kusesali perginya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6ca6084ea372" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[A Red String Theory (Short Story)]]></title>
            <link>https://medium.com/@zeeji/a-red-string-theory-short-story-f723b17a5cff?source=rss-0f572802df47------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f723b17a5cff</guid>
            <category><![CDATA[cerita-pendek]]></category>
            <category><![CDATA[red-string-theory]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <category><![CDATA[narasi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ath]]></dc:creator>
            <pubDate>Tue, 20 Aug 2024 08:23:30 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-08-20T08:23:30.785Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/736/1*PPU6ClMvDgWHNrwnjtrXPA.jpeg" /><figcaption>Source: Pinterest</figcaption></figure><p>Dari banyaknya teori melibatkan cinta, ada satu teori yang sangat aku gemari. Sebuah teori yang kalau dipikir baik-baik ada benarnya.</p><p>Pernahkah kamu mendengar teori benang merah? Sebuah teori yang menyatakan bahwa setiap manusia terhubung oleh satu tali berwarna merah tak kasat mata. Sehingga, sejauh dan seasing apapun kalian jika tali tersebut terhubung maka kalian ditakdirkan untuk bersama.</p><p>Teori tentang benang merah bukan hanya perihal pertemuan namun juga tentang perpisahan. Salah satu rekan kerjaku pernah menjelaskan padaku bentuk lain dari teori benang merah. Katanya, jika seseorang memang ditakdirkan untuk berpisah dengan kita. Mau kita sekota, satu tempat kerja, bahkan tetangga. Semesta akan ikut andil untuk tidak mempertemukan kalian.</p><p>Mengapa bisa begitu? Sebab, tanpa kamu sadari mungkin kisah kalian sebenarnya sudah usai. Walau mungkin perpisahan kalian menimbulkan banyak pertanyaan yang tersisa, jika semesta sudah berbuat seperti itu kamu tidak bisa berbuat apa-apa.</p><p>Teman masa kecil yang tak lagi terdengar kabarnya sejak kita masuk ke sekolah berbeda, teman sebangku di masa sekolah yang tak pernah lagi kamu temui sejak kelulusan, hingga bagaimana orang yang pernah kamu suka kini hanya bisa diketahui kabarnya lewat sosial media. Tiga hal itu adalah bentuk paling umum dari teori benang merah yang kita semua pernah alami.</p><p>Suara pengumuman kereta bandara yang akan segera tiba di peron, membuatku lekas melepas earphone. Menutup novel pemberian salah satu penulis, karya terakhir darinya yang ku editori. Penutup dari perjalanan karirku di tanah air.</p><p>Setelah bertahun-tahun berkutat dengan tumpukan pekerjaan dan lompat sana-sini untuk memanjat tangga karir. Ku putuskan untuk kali ini melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Mumpung kedua orang tuaku belum terlalu gencar merongrong putri bungsu mereka untuk segera menikah.</p><p>Penumpang lain ikut bangkit dari kursi, menyeret koper-koper besar mereka untuk mendekat ke peron. Untuk terakhir kali, aku membuka tas memastikan tak ada surat-surat atau barang tertinggal. Sebab, ketika aku masuk ke dalam kereta ini maka tak ada alasan untuk kembali. Setidaknya selama 3 tahun ke depan.</p><p>Dulu, sebelum aku menginjak usia dewasa. Kerap kali aku membayangkan adegan-adegan di film. Hal-hal klasik seperti pertemuan tidak terduga dengan seseorang, menjadi adegan yang amat sangat ku sukai. Itulah kenapa setiap pergi ke tempat umum, kerap kali pandangan ku mengedar kemana-mana. Sedikit berharap bahwa mungkin di tempat ini aku bisa dipertemukan dengan teman masa kecil, sahabat sekolah menengah, atau mantan rekan kerja.</p><p>Mataku mengerjap, baru sadar bahwa di peron seberang sudah ada kereta bandara lain yang baru saja tiba. Terlihat, beberapa orang mulai turun dan menaiki eskalator untuk bergegas menuju pintu keluar atau bahkan berpindah peron ke kereta lokal kota. Adapula yang berbaris rapi di depan lift dengan, koper-koper besar yang jelas takkan muat jika mereka menggunakan eskalator.</p><p>Sampai pandanganku entah bagaimana tertuju pada satu titik. Tidak, bukan pada barisan orang-orang menuju lift. Melainkan eskalator di seberang sana yang dipenuhi penumpang lain. Ada seorang pemuda yang terasa familiar. Sangat familiar hingga aku bisa merasakan detak jantungku mulai berpacu lebih cepat. Tanpa sadar aku mulai mengambil langkah mundur, siap berlari sekencang mungkin menuju eskalator. Mengejar dirinya, meski aku tak yakin apa yang kulihat itu nyata.</p><p>Suara nyaring kereta, menyadarkanku sepenuhnya. Membuatku seolah ditampar kuat-kuat untuk kembali pada kenyataan. Aku mengigit bibir, lantas menghela napas. “Nggak mungkin dia,” gumamku lantas menyeret dua koperku masuk ke dalam kereta yang sudah berhenti di peron.</p><p>Ketika aku sudah duduk manis di dalam kereta, ponselku bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dari sahabat karibku. Memang aku sengaja tidak mengizinkan keluarga hingga sahabat mengantarku pergi. Jadi panggilannya kali ini mungkin ingin menanyakan apakah aku sudah berada di kereta.</p><p>“Halo?”</p><p>“Sumpah ya, lo berdua tuh bener-bener nggak ditakdirin ketemu kayaknya.” Di ujung sana terdengar temanku menghela napas lelah. “Lo tau, minggu depan ada karyawan baru di kantor gue. Coba tebak siapa?”</p><p>Jelas aneh jika teman yang bekerja di bidang berbeda denganku mendadak bertanya demikian. Jadi seharusnya aku sudah dapat menerka-nerka alasan dia bertanya seperti itu. Aku meneguk ludah, membasahi tenggorokan yang entah kenapa terasa kering. “Jangan bilang-”</p><p>“Iya, dia.”</p><p>“Yola?!”</p><p>Perhatianku teralih, menemukan seorang laki-laki dengan satu koper besar memandangku tak percaya. Butuh waktu lama untuk aku mengenali siapa dirinya, sebelum sebuah nama akhirnya muncul di dalam kepala. “Dena, nanti gue telpon lagi ya.”</p><p>Cepat-cepat aku mematikan sambungan telpon, lantas menatap laki-laki itu dengan tatapan tak percaya. “Hafi? Lo kok bisa disini?”</p><p>“Gue juga mau ke bandara, eh gue duduk sebelah lo ya.” Setelah kuizinkan Hafi mendudukkan dirinya tepat di kursi sebelahku. Barang bawaannya bisa dibilang sama banyaknya dengan punyaku. “Lanjut sekolah nih gue, lo mau liburan ya?”</p><p>Mataku mengerjap, “Gue juga lanjut sekolah. Lo kemana?”</p><p>“Beijing?” Tatapan Hafi lantas mengarah ke koperku, menyadari salah satunya dibungkus oleh sebuah kain berlogo sebuah lembaga pendidikan. Ia tertawa kecil, lantas ikut menunjukkan kopernya. “Wah, kayaknya tujuan kita sama.”</p><p>Aku tertawa atas kebetulan itu. Siapa sangka bahwa di saat seperti ini aku justru dipertemukan dengan Hafi. Teman semasa SMA ku, yang tak pernah ku ketahui kabarnya semenjak kami lulus. Siapa sangka pertemuan itu, membuatku dan dia jadi bicara cukup lama. Mungkin lebih lama dari akumulasi pembicaraan kami saat sekolah dulu.</p><p>Tanpa tau bahwa ketika aku masuk ke kereta tadi. Seorang pria yang kurasa familiar itu, sempat berbalik sesaat. Tersenyum kecil, sebelum akhirnya menuju pintu keluar. Pria itu melambaikan tangan pada sang kakak perempuan yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.</p><p>“Tadi kayaknya gue sempat liat Yola di dalam deh, ketemu nggak lo?” tanya sang puan sembari membantu sang adik memasukkan barang bawaannya ke bagasi.</p><p>Adiknya itu tak lekas menjawab, hanya tersenyum kecil sebelum menutup pintu bagasi kencang-kencang.</p><p>“Liat kok, tapi nggak bisa gue sapa. Soalnya tujuan kita udah beda.”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f723b17a5cff" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[If you asked me about the guy i had crush on before.]]></title>
            <link>https://medium.com/@zeeji/if-you-asked-me-about-the-guy-i-had-crush-on-before-7db9665fcf78?source=rss-0f572802df47------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/7db9665fcf78</guid>
            <category><![CDATA[love-letters]]></category>
            <category><![CDATA[writing]]></category>
            <category><![CDATA[heartbreak]]></category>
            <category><![CDATA[friendship]]></category>
            <category><![CDATA[love]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ath]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 24 Jul 2024 13:21:59 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-07-24T13:21:59.679Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*MVMdP8x3_AUrSGOBRfHoPg@2x.jpeg" /><figcaption>Photo by <a href="http://www.unseen.co">Unseen Studio</a> on <a href="https://unsplash.com/?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>If u asked me about that guy i had crush on before.</p><p>He’s only the old friend that i never met after graduation. Never met altough we live in the same city. I’m respect him, and happy to see how much he’s growing right now.</p><p>But if you asked me about him on deeper level.</p><p>He’s the one that make me fall in love again and again. The one who make me believe about my dreams. The one who appreciated all my work. We have different world and interest. But finding him, trying to understand what’s my interest when i think he’s never care about it. Make my feeling be deeper and deeper.</p><p>I respect him. I’m always respect him. After many years passed, my wish still the same. I hope he always gets a lot of happiness that world can give to him. Cause he deserved to be happy, and i will cherish his happiness for a long time.</p><p>If these words, somehow reach you. I hope you know, for me you’re not just a man whose i loved before. For me you’re one of my precious friend that i ever had, even if you don’t feel the same way.</p><p>-Ath, 24.07.24</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=7db9665fcf78" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Meet Again]]></title>
            <link>https://medium.com/@zeeji/meet-again-95a6782097a1?source=rss-0f572802df47------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/95a6782097a1</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Ath]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 13 Jan 2024 12:39:07 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2024-01-13T12:39:07.967Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*NYMbt330I9ykH8HESleLug@2x.jpeg" /><figcaption>Photo by Ronan Kruithof</figcaption></figure><p>Terakhir Wisnu bertemu dengan teman SMA nya adalah saat hari kelulusan mereka.</p><p>Itulah mengapa, memunculkan batang hidung setelah 10 tahun berlalu jelas mendapatkan banyak reaksi dari teman-temannya. Pelukan, usakan di rambut, bahkan sapaan terus menghujani Wisnu sejak kedatangannya. Pandji yang datang bersamanya hanya tertawa kecil melihat sahabatnya itu kewalahan akan banyaknya atensi yang diberi padanya dalam waktu singkat.</p><p>Wisnu satu-satunya orang yang tak menyadari betapa berkesan presensi dirinya di masa sekolah. Itulah mengapa ia kira ketidakhadirannya selama 10 tahun belakangan tidak akan dirindukan oleh siapapun. Wisnu memang tipikal murid berprestasi yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku atau soal-soal yang tak pernah habis untuk dikerjakan.</p><p>Namun, Wisnu juga sosok menyenangkan untuk diajak bicara. Ketenangan dan pola pikirnya selalu menjadi tempat terbaik untuk berkeluh kesah oleh teman sekelasnya saat itu. Bahkan di tahun terakhir, Wisnu menjelma menjadi seorang guru yang dengan senang hati menjelaskan materi yang tidak dimengerti teman-temannya.</p><p>Kehebohan semakin menjadi-jadi, ketika salah seorang teman sekelasnya menyadari ada orang lain yang mendekat. Nama itu diucapkan teramat lantang, bersamaan dengan beberapa temannya berlari menghampiri sang puan yang sudah tersenyum lebar. Nama yang dulu selalu membuatnya berbunga-bunga, namun kini membuat hatinya serasa diremas setiap kali Wisnu mendengarnya.</p><p>Kehadiran Rana disambut jauh lebih meriah. Bagaimanapun, Wisnu masih sempat mengabarkan kepada dunia bagaimana 10 tahunnya berjalan. Pencapaian apa saja yang telah ia raih, tempat mana saja yang telah ia kunjungi, dan sejauh apa fisiknya berubah. Namun, Rana berbeda.</p><p>Mantan kekasihnya itu bak hilang ditelan bumi setelah hari kelulusan. Tak ada yang tau pencapaian apa yang telah diraih, kemana saja ia berkelana, atau bagaimana parasnya berubah. Itulah mengapa kehadirannya jelas suatu hal besar.</p><p>Wisnu menyadari kalau Pandji sempat meliriknya. Mencoba melihat reaksi yang ia tunjukkan akan kehadiran Rana, dan jelas sekali diam-diam menganalisa apa ia harus membawa Wisnu menjauh sekarang juga atau tidak. Bagaimanapun pertengkaran mereka 10 tahun lalu terlalu besar, untuk bisa dikatakan sebagai putus baik-baik.</p><p>Satu hal yang Wisnu sadari dari pertemuan pertamanya dengan Rana. Rambut panjangnya kini telah dipotong sebahu. Pakaiannya yang selalu berwarna terang kini lebih didominasi warna-warna lembut. Mungkin efek dari usianya yang jelas tak lagi muda.</p><p>Namun, yang menjadi fokus Wisnu adalah. Cara Rana tersenyum. Senyum Rana masih selebar dulu, namun tak ada kebahagiaan yang terpancar disana. Rasanya Wisnu seperti berhadapan dengan seseorang yang menggunakan topeng untuk terlihat baik-baik saja.</p><p>Dan Wisnu benci akan fakta dia menyadari hal tersebut.</p><p>Sebab dia tau betul, alasan dari senyum penuh kepalsuan Rana adalah karena dirinya.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=95a6782097a1" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Welcome to MenuRehat]]></title>
            <link>https://medium.com/@zeeji/welcome-to-menurehat-738bb9b815b3?source=rss-0f572802df47------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/738bb9b815b3</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Ath]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 29 Dec 2023 14:10:37 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-12-29T14:10:47.671Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*9dKfORFotZ1ftVlkGKmZ1w@2x.jpeg" /><figcaption>Photo by shawnanggg on Unsplash</figcaption></figure><p>Tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah rekomendasi dari Rana. Dia bilang, restoran yang akan mereka datangi milik rekannya di masa kuliah dulu. Memang masih baru, itulah mengapa nama restorannya terasa asing di telinga.</p><p>MenuRehat.</p><p>Tulisan tersebut tertera besar-besar di bagian depan gedung. Waktu makan siang sudah lewat cukup lama, namun restoran di depannya nampak ramai sekali. Ada dua orang berpakaian koki yang menunggu di depan pintu masuk. Keduanya tersenyum lebar, seraya berlari menuju Rana dan memberikan sang puan pelukan hangat. Cukup untuk membuktikan seberapa erat hubungan pertemanannya.</p><p>“Kenalin ini teman gue, namanya Sintya sama Sean. Mereka suami istri.”</p><p>“Halo, gue Sean. Teman sekampus Rana dulu, cuman beda jurusan.” Pemuda yang berpipi sedikit chubby tersebut, memperkenalkan diri dengan menjabat satu persatu orang di depannya.</p><p>“Kalau gue Sintya, nah gue teman seperjuangan Rana soalnya dulu kita satu jurusan.” Perempuan bernama Sintya memperkenalkan dirinya dengan senyuman lebar, masih dengan posisi merangkul Rana penuh kehangatan. Sadar bahwa berikutnya hanya hening yang datang, pasangan suami istri itu segera melirik Rana. Menyadarkan sang puan, bahwa dia belum memperkenalkan siapa yang dibawanya kali ini.</p><p>“Ah iya, ini Digo.”</p><p>“Oh ini bestie lo jaman SMA itu? Anak depok yang suka lo sama Reva banggain dulu?” Celotehan Sintya barusan, nampaknya cukup menghibur untuk Digo. Pemuda yang sedaritadi hanya diam tersebut, mulai tersenyum. Nampak senang akan fakta bahwa Rana banyak bercerita soal dirinya.</p><p>“Let me guess, kalau lo Digo. Berarti ini Selena benar?” Sean melirik Rana, menunggu sang puan memvalidasi tebakannya barusan. Ia lantas bertos ria dengan Sintya ketika Rana membenarkan tebakannya itu. “Jadi ini couple fenomenal yang lo banggain, karena lo cupidnya itu ya? Berbakat ya lo jadi cupid.”</p><p>“Jadi cupid sih berbakat, sayang buat diri sendiri masih terbayang-”</p><p>Omongan Sean langsung terhenti, kala Sintya tanpa aba-aba mencubit pinggangnya membuat sang pria meringis. Menatap sang istri tajam, menuntut penjelasan dari tindakan sadisnya barusan.</p><p>“Kalau ini siapa Ran?” Sintya menatap pria berkacamata di depannya dengan senyuman. Tak memperdulikan tatapan tajam dari Sean yang tertuju jelas padanya.</p><p>“Kalau ini Wisnu, teman sekelas gue.”</p><p>Wisnu bukan orang bodoh. Dia sangat bisa mengenali perubahan ekspresi seseorang. Termasuk bagaimana tatapan tajam Sean, kini tergantikan dengan tatapan penuh keterkejutan. Tidak terarah pada Sintya lagi, melainkan tertuju lurus pada Rana yang hanya tersenyum kecil. Jelas sekali kalau keduanya tau apa yang terjadi antara ia dan Rana.</p><p>“Selamat datang di MenuRehat semua. Ayo, gue sama Sintya bakal bantu kalian survey tempat.”</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=738bb9b815b3" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Padamnya Amarah]]></title>
            <link>https://medium.com/@zeeji/padamnya-amarah-925a29b16c36?source=rss-0f572802df47------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/925a29b16c36</guid>
            <dc:creator><![CDATA[Ath]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 29 Dec 2023 14:00:56 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2023-12-29T14:01:13.341Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*OzHYxwYGGT3CWWX4_BE35w@2x.jpeg" /><figcaption>Photo by Fadhlurrohman Ammar on Unsplash</figcaption></figure><p>“Kamu habis nangis?”</p><p>Ketika kembali ke titik temu, Wisnu dapati dua teman sekelasnya itu sama-sama terdiam. Seingatnya baik Digo maupun Rana, gemar sekali menukar ejekan satu sama lain sebagai bentuk keakraban. Pertengkaran yang diselipi canda dan tawa selalu mengiringi konversasi mereka. Namun, tidak kali ini.</p><p>Keduanya sama-sama terdiam, dengan berbagai makanan untuk tester tersaji di meja. Tak ada yang tercicip sedikitpun, padahal mereka membagi tugas agar efisien waktu. Dia dan Selena memeriksa venue, sementara Digo dan Rana mencicipi menu yang ada sebagai referensi hidangan reuni nanti.</p><p>“Mataku kelilipan debu.”</p><p>Siapapun tau, itu hanyalah alasan. Wisnu melihat bagaimana Digo menepis pelan tangan Selena yang menyentuh kedua pipi. Memalingkan wajah, seraya mengucek kedua mata. Walau Wisnu tau betul itu hanyalah kamuflase sang pemuda untuk menghapus airmata yang siap menganak sungai dari sana. Ia lantas melirik Rana yang hanya menyeruput tehnya, seolah menghindar dari atensi agar tidak ditanya apa yang sedang terjadi saat ini.</p><p>“Bagus nggak? Kita belum nyicip makanan, soalnya kata Digo nunggu kalian aja.” Rana akhirnya buka suara, menepuk pelan kursi kosong di sebelahnya sembari menatap Selena dengan penuh senyuman. Memberi tanda agar gadis itu duduk disana. Namun, sinyal itu tampaknya tak sampai karena Selena justru mendudukkan diri di sebelah Digo seraya membombardir sang kekasih dengan berbagai pertanyaan.</p><p>Rana dan Wisnu berpandangan sekilas, sebelum akhirnya Rana mengalihkan pandang ke arah lain. Wisnu menarik napas, lantas mendudukkan diri di samping Rana. Berhadapan dengan dua sejoli yang masih berdebat tersebut.</p><p>Ada beberapa hal yang Wisnu sadari dari pertemuan mereka. Pertama, Rana selalu menarik napas dalam dan meremas jemari setiap mereka berdekatan. Kedua, ia tidak akan mengajak bicara Wisnu namun beberapa kali terlihat kalau Rana hendak menanyakan sesuatu namun selalu tertahan. Ketiga, bagaimana Rana masih bisa memberinya senyuman hangat setelah apa yang terjadi 10 tahun lalu.</p><p>“Selat solo mereka enak.”</p><p>Wisnu menyadari bagaimana Rana sempat berjengit sesaat ketika dia berbicara. Sang puan meliriknya sesaat, sembari tersenyum canggung. Gerakan badannya terlihat semakin kaku, ketika Wisnu menyodorkan selat solo yang ia maksud ke hadapannya. “Cobain.”</p><p>“Ah iya, makasih.”</p><p>Canggung.</p><p>Apa yang Wisnu harapkan memang dari pertemuan mereka setelah 10 tahun berlalu. Memang kejadian di masa lalu, menyisakan kepingan-kepingan amarah dalam diri Wisnu. Jumlahnya cukup banyak hingga dia selalu bisa membayangkan bagaimana pertemuan mereka lagi akan diwarnai teriakan dan amarah yang meletup-letup.</p><p>Sayang, semua itu hanyalah angan. Wisnu selalu berpikir, Rana merasakan hal yang sama dengannya. Ada kepingan amarah yang tertinggal pula dalam dirinya. Namun, Wisnu justru mendapati dari netra sang puan tak ada sedikitpun amarah yang tersisa atas apa yang terjadi di masa lalu. Justru tatapannya kini terasa lebih dalam, terasa penuh perasaan yang tak tersampaikan. Membuat kepingan amarah dalam diri Wisnu lenyap entah kemana.</p><p>Selama 10 tahun, Wisnu menghabiskan waktu berpikir bahwa Rana masih diliputi amarah sebanyak yang ia punya. Itulah mengapa ia biarkan amarah itu bertahan dan mengendap dalam hati dan alam bawah sadarnya.</p><p>Lantas, kala mendapati Rana tak merasakan hal yang sama dengannya. Wisnu merasa beban penyesalan kini menumpuk di pundaknya semakin banyak. Menambah beban yang telah ia bawa selama ini.</p><p>Beban bernama penyesalan.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=925a29b16c36" width="1" height="1" alt="">]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>