<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Historypedia ID - Medium]]></title>
        <description><![CDATA[akun Medium dari Historypedia by PT Nalar Esa Ventura | ikuti kami di @historypedia_id (LINE, Instagram, Twitter) atau historypedia.id atau nalaresaventura.com - Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/historypedia?source=rss----390c82eaa03b---4</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/proxy/1*TGH72Nnw24QL3iV9IOm4VA.png</url>
            <title>Historypedia ID - Medium</title>
            <link>https://medium.com/historypedia?source=rss----390c82eaa03b---4</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Mon, 18 May 2026 06:31:30 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/feed/historypedia" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Pertempuran Magelang]]></title>
            <link>https://medium.com/historypedia/pertempuran-magelang-41162795ff97?source=rss----390c82eaa03b---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/41162795ff97</guid>
            <category><![CDATA[sejarah]]></category>
            <category><![CDATA[kemerdekaan-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[history]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah-kemerdekaan]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Historypedia]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 14 Nov 2022 01:12:28 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-02T08:36:40.352Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Sebab, Akibat, dan Alur Pertempuran Magelang</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*2skN4m7P9btwfeY5z_ISUg.png" /></figure><p>Pertempuran Magelang adalah salah satu dari sederet pertempuran-pertempuran antara pihak Indonesia dan pasukan Inggris di Jawa pada bulan-bulan penutup 1945. Berlangsung sejak 31 Oktober hingga gencatan senjata yang dimediasi langsung oleh Presiden Sukarno pada 2 November 1945, Pertempuran Magelang secara tidak langsung menentukan sepak terjang kemerdekaan Indonesia di Jawa Tengah.</p><h4>Pendahuluan</h4><p>Penyerahan Jepang kepada Sekutu berdampak besar bagi Hindia Belanda. Di satu sisi, kekalahan Jepang berarti wilayah Hindia Belanda kini dikembalikan kepada pemerintahan Belanda. Sebaliknya, penyerahan Jepang yang mendadak itu digunakan oleh Sukarno, Hatta, dan tokoh-tokoh nasionalis Indonesia lainnya untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Sementara itu, terjebak di antara kedua belah pihak ini, ada Inggris dan Jepang.</p><p>Inggris memiliki tiga tujuan utama datang ke Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatra: mengamankan bekas tahanan perang Sekutu, melucuti lalu memulangkan pasukan Jepang, dan menjaga ketertiban umum[<strong>1</strong>]. Untuk melaksanakan tiga tujuan tersebut, Inggris hanya dapat mengerahkan sekitar 45.000 prajurit Inggris-India ke Jawa dan Sumatra, padahal Jawa dan Madura sendiri berpopulasi sekitar 60 juta jiwa sedangkan ada 68.000 tawanan dan internit yang ditahan Jepang di Jawa[<strong>2</strong>]. Memperparah keadaan ini adalah keterikatan Inggris dengan sekutunya, Belanda, yang masih diakui sebagai yang berdaulat atas Indonesia. Hal ini menyebabkan sikap bermusuhan dari para pejuang kemerdekaan Indonesia terhadap Inggris, yang dianggap menolong kembalinya penjajahan Belanda, bahkan jika Inggris cenderung enggan mencampuri apa yang dianggapnya sebagai urusan internal Belanda[<strong>3</strong>].</p><p>Di sisi yang lain, ada sekitar 70.000 prajurit Jepang di Jawa[<strong>4</strong>, <strong>5</strong>]. Jepang telah kalah perang ketika Jepang menyerah, tapi prajurit Jepang di Jawa belum pernah bertempur langsung melawan Sekutu sejak jatuhnya Hindia Belanda ke tangan Jepang pada tahun 1942. Maka, kekalahan bisa dibilang cukup aneh. Selanjutnya, situasi ini diperburuk dengan lambatnya dan kurang jelasnya komunikasi dan koordinasi antara Jepang yang masih berada di Jawa dan Inggris yang akan datang[<strong>6</strong>]; keadaan inilah turut memungkinkan kaum nasionalis di Jawa mengambil alih pemerintahan lokal atas nama Republik Indonesia, seperti di Semarang, Ambarawa, dan Magelang.</p><p>Pada 19 Agustus 1945, pemerintahan daerah di Semarang mulai menyusun dirinya sendiri[<strong>7</strong>]. Selanjutnya, setelah pemerintah memutuskan membentuk suatu Badan Keamanan Rakyat (“BKR”) pada 22 Agustus 1945[<strong>8</strong>], satuan BKR di Semarang pun dibentuk di bawah pimpinan Soetrisno Soedomo [<strong>9</strong>]. BKR dan polisi Semarang, serta para pemuda dalam badan-badan perjuangan mereka kemudian mencoba memperoleh senjata dari pasukan Jepang di Semarang [<strong>10</strong>], antara lain sebuah unit yang dijuluki Kido Butai[11]. Kido Butai, yang disebut demikian karena dipimpin oleh Mayor Kido Shinichiro dan bukan merupakan suatu satuan elit[<strong>12</strong>], pun memberikan kurang lebih 700 senapan bekas Belanda yang pernah digunakan PETA kepada para pejuang Indonesia di awal Oktober 1945[<strong>13</strong>]. Lantas, para pemuda malah mendesak Kido Butai untuk menyerahkan seluruh persenjataan mereka — permintaan ini ditolak Mayor Kido yang akhirnya berujung pada Pertempuran Lima Hari Semarang pada tanggal 15—19 Oktober 1945, ketika pasukan Jepang yang dipimpin Mayor Kido berhasil merebut Semarang dan memukul mundur para pejuang Indonesia serta menawan Gubernur Jawa Tengah, Wongsonegoro.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*4kkdKa1v2fXt2b7_1U4Bvw.jpeg" /><figcaption>Dari kanan ke kiri: Mayor Kido, Kapten Tomlison, dan seorang penerjemah Jepang; Semarang, 1945. Sumber: <a href="https://nimh-beeldbank.defensie.nl/foto-s/detail/7fd67a03-a012-755d-5683-644db2ec3bb5/media/7532aa74-7dff-c661-db18-d3eab220227e">Netherlands Institute of Military History</a>.</figcaption></figure><p>Pertempuran ini usai di hari kelima, ketika pasukan Inggris-India datang ke Semarang. Batalyon Ke-3 dari Resimen Gurkha Ke-10 Inggris-India (“Batalyon Ke-3/10”) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel H.G. Edwardes mendarat pada pagi hari, 19 Oktober 1945, di pelabuhan Semarang[<strong>14</strong>]. Kedatangan batalyon ini berhasil mendorong pihak Indonesia maupun Jepang untuk berhenti bertempur dan menyetujui suatu gencatan senjata[<strong>15</strong>]. Namun, tujuan utama kedatangan Batalyon Ke-3/10 adalah demi keamanan para bekas tahanan perang.</p><p>Di wilayah Ambarawa, Banyubiru, Magelang, dan sekitarnya, ada kurang lebih 14.000 tahanan perang Sekutu [<strong>16</strong>], sebagian besar sipil dan berkewarganegaraan Belanda. Inggris memang telah menerjunkan sebuah tim kecil yang anggotanya tergabung dalam organisasi RAPWI (<em>Recovery of Allied Prisoners of War and Internees</em>). RAPWI bertugas memastikan kondisi para tahanan perang, sedang tim yang diterjunkan ke Magelang dipimpin oleh Wing Commander T.S. Tull yang tiba pada 18 September 1945[<strong>17</strong>]. Akan tetapi, karena jumlah anggota RAPWI-nya Tull terlalu sedikit, mereka harus bekerja sama dengan pasukan Jepang setempat untuk mengamankan ribuan bekas tahanan perang tersebut.</p><p>Sayangnya bagi Tull, satuan Jepang di Ambarawa kemudian menyerah pada pihak Indonesia, sedangkan pimpinan pasukan Jepang di Jawa Tengah, Mayor Jenderal Nakamura Junji, kemudian ditangkap para pejuang Indonesia pada 13 Oktober 1945 [<strong>18</strong>, <strong>19</strong>]. Mayjen Nakamura sendiri cukup bersimpati pada kemerdekaan Indonesia; ia telah beberapa kali setuju “meminjamkan” alias menyerahkan sejumlah senjata kepada para pejuang Indonesia [<strong>20</strong>, <strong>21</strong>], tapi ia ujung-ujungnya tetap ditawan.</p><p>Di saat yang sama di berbagai wilayah di Jawa Tengah, satuan-satuan militer Jepang lainnya menyerahkan senjata ke polisi, BKR, atau pemuda setempat dengan damai atau direbut senjatanya dengan serbuan massa rakyat setempat[<strong>22</strong>, <strong>23</strong>]. Berbekal persenjataan ini, satuan-satuan tempur di Jawa Tengah dibentuk, baik oleh rakyat dalam badan-badan perjuangan mereka, ataupun yang berada di bawah pemerintah seperti BKR. Banyak mantan anggota Heiho dan PETA (Pembela Tanah Air) yang telah dididik Jepang secara militer yang bergabung dengan BKR dan laskar rakyat lainnya[<strong>24</strong>, <strong>25</strong>]. Akhirnya, pemerintah pun membentuk suatu Tentara Keamanan Rakyat pada tanggal 5 Oktober 1945 melalui maklumat presiden[<strong>26</strong>], yang menjadi pengganti BKR[<strong>27</strong>].</p><h4>Menuju Magelang</h4><p>Pendaratan Batalyon Ke-3/10 di Semarang pada 19 Oktober memang berhasil menghentikan pertempuran di Semarang, namun tugas pasukan Gurkha ini adalah untuk mengamankan para bekas tahanan perang Sekutu. Karena tidak ada satuan manapun yang menjaga keberadaan dan keselamatan ribuan bekas tahanan perang di Ambarawa dan Banyubiru serta Magelang, Batalyon Ke-3/10 mengirimkan satu peleton berkekuatan kurang lebih 40-an prajurit yang dipimpin oleh Letnan Hardcastle ke Ambarawa, yang tiba pada 21 Oktober 1945 [Tull (1946): berkas 24]. Peletonnya Letnan Hardcastle lalu disusul oleh satu kompi, berkekuatan kurang lebih 100–150-an prajurit [Palmer (2013); Parrott (1975): 110], yang tiba di Ambarawa pada tanggal 24 Oktober [Tull (1946): berkas 26]. Di Magelang, ada beberapa ribu bekas tahanan perang, sebagian besar orang-orang sakit yang dipindahkan dari Ambarawa dan tempat-tempat lain sebab fasilitas kesehatan di Magelang lebih baik [Tull (1946): berkas 13].</p><p>Di Magelang sendiri, kendali Indonesia dan pemerintahan lokal sudah cukup kuat. Menurut Harnoko (1985: 9), kabar proklamasi Indonesia sampai di Magelang pada 25 Agustus 1945, dan kaum nasionalis setempat meminta pimpinan lokal Magelang, pada 3 September, untuk mengumumkan kabar ini kepada rakyat. Sampai akhir September, keadaan di Magelang antara pihak Indonesia dan Jepang, yang terbagi antara markas Jenderal Nakamura dan unit Kempeitai setempat, tergolong damai. Sayangnya, terjadi dua insiden di penghujung bulan tersebut: perobekan bendera merah-putih oleh beberapa orang Jepang pada 24 September, lalu penembakan oleh prajurit Kempeitai terhadap massa yang mengadakan upacara bendera pada 25 September, yang menewaskan empat orang [Harnoko (1985): 9—11].</p><p>Setelah kedua insiden ini, Jenderal Nakamura dan markasnya dipaksa menyerahkan sejumlah senjata kepada para pejuang di Magelang, lalu sejumlah pasukan Jepang pun mundur ke Ambarawa pada 7 Oktober 1945 [Harnoko (1985): 11]. Pasukan Jepang ini mungkin merupakan unit Kempeitai di Magelang, sebab Jenderal Nakamura ditangkap pihak Indonesia pada tanggal 13 Oktober 1945 [Kido Butai (1946): berkas 45—46] sedangkan pasukan Jepang di Ambarawa menyerah pada pihak Indonesia tanpa perlawanan pada 15 Oktober. Pada sekitar waktu ini juga, BKR — dan nantinya TKR — di Magelang telah disusun menjadi suatu Resimen Magelang yang dipimpin Letnan Kolonel Sarbini, terdiri dari lima batalyon [Harnoko (1985): 8].</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1009/1*k20uqUm98OWfBAD6HJ6kEw.png" /><figcaption>Brigadir R.B.W. Bethell; akhir 1945. Sumber: Connor (2015), hlm. 62.</figcaption></figure><p>Pada 24 Oktober 1945, Letnan Hardcastle dan peletonnya berangkat dari ke Magelang, setelah kompi yang menyusul mereka tiba di Ambarawa [Drooglever (1987): 53]. Persisnya kapan Hardcastle dan unitnya tiba di Magelang tidak diketahui, tapi dapat diterka terjadi tak lama sebelum datangnya Brigade <em>Royal Artillery </em>yang dipimpin Brigadir R.B.W. Bethell [Connor (2015): 62] di Semarang, yakni sebelum 26 Oktober 1945 berdasarkan Leland (1946: berkas 52). Datangnya Brigadir Bethell berarti Batalyon Ke-3/10 kini berada di bawah komando sang brigadir, yang menyuruh batalyon ini berpindah ke Ambarawa dan kemudian ke Magelang [Kirby (1969): 321]. Batalyon Ke-3/10 disebut-sebut tiba di Magelang pada 26 Oktober [Anderson (1970): 149; Harnoko (1985): 12], namun perpindahan batalyon ini terjadi secara perlahan karena kurangnya sarana transportasi: menurut Mullaly (1957: 392), unit markas Batalyon Ke-3/10 serta dua peleton dari Kompi B-nya berangkat terlebih dahulu; kemungkinan besar, unit-unit dari Batalyon Ke-3/10 yang diperintahkan ke Magelang baru tiba pada tanggal 30 jika menilik Tull (1946: berkas 33). Awalnya tidak ada percekcokan besar antara batalyonnya Kol. Edwardes ini dengan pihak Indonesia di Magelang, tetapi berbagai faktor akhirnya mendorong pemuda dan TKR untuk menyerang batalyon Gurkha tersebut.</p><p>Menurut Tull (1946: berkas 33), kejadian di Surabaya berdampak langsung di Magelang: Pertempuran Tiga Hari Surabaya pada 28–30 Oktober 1945 antara para pejuang Indonesia melawan Brigade Ke-49 Inggris-India yang dipimpin Brigadir Mallaby berperan memicu terjadinya Pertempuran Magelang. Tepatnya, Tull melaporkan bahwa pihak Indonesia di Surabaya mendorong agar para pejuang di Jawa Tengah ikut bertempur, dan sebuah mobil penyiar mengitari Kota Magelang dan menyerukan untuk menyerang pasukan Inggris-India di sana. Menimpali Tull, Mullaly [1957: 392] menyatakan bahwa pada 30 Oktober, mobil-mobil yang diperlengkapi radio berkeliling di Magelang, mengumumkan bahwa Inggris telah dikalahkan di Surabaya dan waktu revolusi sudah tiba; insiden mobil siar ini juga dilaporkan Daily Telegraph Service (1945). Selain itu, Mullaly juga melaporkan sejumlah insiden lainnya, seperti pengambilan paksa mobil-mobil RAPWI oleh pihak Indonesia yang tidak dikembalikan. Perampasan mobil ini turut dilaporkan McMillan (2005: 27), yang juga menyebutkan bahwa pertemuan antara Letkol Edwardes dengan pimpinan Indonesia di Magelang tidak berjalan lancar. Senada dengan tiga sumber ini, Kido Butai (1946: berkas 47) juga menyebutkan pihak Indonesia telah sengaja memusatkan kekuatan di Magelang sebelum menyerang Inggris.</p><p>Sebaliknya, Harnoko (1985: 12–13) mengklaim langkah-langkah Inggris di Magelang — seperti membebaskan tahanan perang Belanda serta menambah jumlah pasukan di Magelang — dianggap telah melanggar kedaulatan Indonesia. Walaupun kedua hal ini benar, tujuan kedatangan Inggris ke Indonesia sejak awal memang untuk mengamankan bekas tahanan perang Sekutu dan perlu adanya angkatan bersenjata untuk mengamankan mereka. Selain itu, juga ada tuduhan bahwa ada anggota NICA yang ikut memasuki Magelang bersama Batalyon Ke-3/10 [Sedjarah Militer (1968): 38—39; Harnoko (1985) 12—13]. Namun, menyadur dari Donnison (1956: 429), di Jakarta dan Semarang, personel NICA umumnya baru tiba sekitar dua minggu setelah pasukan Inggris-India sampai — dengan kata lain, bahkan jika ada anggota NICA, mereka baru sampai ke Semarang pada awal November, dan tidak mungkin sudah sampai ke Magelang. Selanjutnya, meski benar ada segelintir perwira Belanda di Magelang [McMillan (2005): 27] dan adanya insiden ketika unit Gurkha yang dipandu oleh seorang perwira Belanda dipercaya sebagai adanya unit yang dipimpin Belanda [Tull (1946): berkas 33], kemungkinan besar jumlah para prajurit Belanda ini sedikit sekali dan bahwa mereka bukanlah anggota NICA, melainkan anggota RAPWI [Anderson (1970): 149]. Selebihnya, Harnoko (1985: 13) menyebutkan kalau pasukan Gurkha menduduki lima atau lebih bangunan di Kota Magelang dan terjadi beberapa penembakan dan perampokan terhadap rakyat oleh pasukan Gurkha, serta menyimpulkan bahwa, <em>“Kota Magelang akhirnya menjadi kota NICA,”</em> — pernyataan yang cukup absurd, mengingat tidak ada laporan jelas bahwa Inggris mencoba mengambil alih administrasi atas Magelang ataupun melemahkan kendali Indonesia atas Magelang. Sama absurdnya adalah pernyataan bahwa bekas tahanan dipersenjatai seperti dalam Ambari (2014: 68) dan Amin dan Kurniawan (2018: 76), sebab Letnan Nooteboom (1946), seorang komandan kemah interniran di Ambarawa, terus-menerus mengeluh dan berharap dirinya (dan interniran lainnya) diberikan senjata, membantah pernyataan Ambari dan sumber Indonesia lainnya yang senada.</p><p>Merangkum berbagai sumber ini secara keseluruhan, bisa disimpulkan Pertempuran Magelang ialah hasil terjadinya insiden-insiden tersebut: kabar dan rumor yang beredar meningkatkan kecurigaan pihak Indonesia setempat, yang mempersulit Inggris, yang sebaliknya juga mencurigai pihak Indonesia. Hal ini terjadi terus-menerus hingga akhirnya, terdorong peristiwa di Surabaya, pertempuran terbuka berkobar di Magelang.</p><h4>Pertempuran Terbuka</h4><p>Pertempuran Magelang pun dimulai pada 31 Oktober 1945, dengan serangan mendadak para pejuang Indonesia terhadap pasukan Inggris-India di Magelang [Leland (1946): berkas 54; Tull (1946): 33]. Pada saat itu, satuan Inggris-India yang berada di Magelang terdiri dari sebagian dari Batalyon Ke-3/10, yang terbagi antara tiga kompi: Kompi A, B, dan D, serta satuan markas Batalyon Ke-3/10 sebab Kompi C masih berada di Ambarawa [Kirby (1969): 336; Mullaly (1957): 392–393, 396]. Estimasi pasukan Gurkha di Magelang berjumlah antara 300-an [Mullaly (1957): 393] sampai dengan 700-an prajurit [Australian Associated Press (1945); Netherlands Information (1945): 12]. Sementara itu, sebagian kekuatan pihak Indonesia di Magelang berasal dari lima batalyon Resimen Magelang, yakni Batalyon I, II, III, IV, dan IV, masing-masing dipimpin oleh Mayor Suryo Sumpeno, Mayor Kusen, Mayor Suwito Haryoko, Mayor Achmad Yani, dan Mayor Wagiman [Harnoko (1985): 8; Dinas Sejarah (1982): 330]. Di samping itu, menurut Sedjarah Militer (1968: 39) ada pula laskar rakyat dan badan perjuangan lainnya, antara lain: BPRI, Pesindo, Hisbullah, Sabillillah, API, Barisan Banteng, KRIS, Polisi Istimewa, dan lain sebagainya.</p><p>Mullaly (1957: 392) menyebutkan bahwa Kompi A, yang berada di Hotel Montagne di Magelang, mulai dikelilingi para pejuang Indonesia pada jam 08:00. Lantas, dalam waktu satu sampai dua jam, Pertempuran Magelang benar-benar meletus [Mullaly (1957): 392—393; Tull (1946): berkas 33], dengan pengepungan pejuang Indonesia terhadap pasukan Gurkha di Magelang. Kepungan ini menyebabkan terisolasinya unit-unit Batalyon Ke-3/10 dari satu sama lain, seperti Kompi A yang terjebak di Hotel Montagne [Tull (1946): berkas 33].</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Qt6Qa-baMDcbzAEBH6fSPg.jpeg" /><figcaption>Hotel Montagne; Magelang, 1945. Sumber: <a href="https://nimh-beeldbank.defensie.nl/foto-s/detail/5e8cbfb2-de54-3734-6512-c3c51b328684/media/3d46f5b4-0f6e-4ea2-fe46-e8ae15f2648e">Netherlands Institute of Military History</a>.</figcaption></figure><p>Sementara itu, Tull (1946: berkas 33—34) mengkhawatirkan nasib para bekas tahanan yang berada di beberapa rumah sakit di Magelang, sebab pertempuran terbuka dapat memperparah keadaan suplai mereka. Menurut Tull, baik pekerja kesehatan maupun orang-orang sipil Belanda dan Eurasia juga banyak yang diserang dan ditembaki pihak Indonesia, seperti beberapa pekerja Palang Merah dan pendeta Katolik.</p><p>Kabar berkobarnya pertempuran di Magelang kemudian sampai di Semarang, sehingga Gubernur Wongsonegoro, Brigadir Bethell serta beberapa orang lainnya mencoba pergi ke Magelang untuk menghentikan pertempuran [Drooglever (1987): 55]. Salah satu dari orang-orang ini adalah seorang perwira Inggris yang tergabung dalam RAPWI, A.J. Leland, yang melaporkan pengalamannya tiap beberapa hari dalam surat-suratnya [Leland (1946)]. Menurut Leland (1946: berkas 54—55), ketika Wongsonegoro, Bethell, dirinya sendiri, dan lainnya pergi menuju Magelang, mereka dihentikan di Ungaran dan Ambarawa dan dilarang untuk pergi ke Magelang. Mereka mencoba menanyakan atas wewenang siapa mereka dilarang, mengingat Wongsonegoro adalah Gubernur Jawa Tengah, namun dijawab oleh para pemuda bahwa militerlah yang kini berkuasa sejak pertempuran dimulai.</p><p>Berikutnya, Leland (1946: berkas 54—56) melaporkan pada 31 Oktober kalau Presiden Sukarno akan datang ke Magelang besoknya; malam itu juga, Sukarno meminta melalui radio untuk menghentikan pertempuran, tapi tanpa hasil. Lantas pada tanggal 1 November, Sukarno sampai di Semarang pada jam 1 siang lalu bertemu dengan Wongsonegoro, Bethell, dan Leland. Mereka ingin berangkat langsung ke Magelang, namun para petinggi TKR meminta Sukarno, Bethell, dan delegasinya pergi ke Yogyakarta, yang merupakan lokasi Markas Tertinggi TKR. Sukarno dan delegasinya kemudian mengusulkan bertemu di Salatiga, namun pimpinan TKR masih bersikeras untuk bertemu di Yogyakarta. Akhirnya, Sukarno dan Wongsonegoro berangkat sendiri ke Yogyakarta tanpa Bethell, serta Leland, yang khawatir akan nasib mereka setelah mendengar kabar tewasnya Mallaby di Surabaya — Leland sendiri merasa was-was atas keamanan Sukarno dan Wongsonegoro, menyebutkan mereka berdua pemberani, tapi takut Sukarno bisa saja ditangkap atau bahkan dibunuh.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*xwBzJHzqbvy4rxg8IwZXng.jpeg" /><figcaption>Di bagian belakang foto ini, terdapat para prajurit Jepang yang tergabung dalam Kido Butai, sedangkan Gubernur Wongsonegoro adalah salah satu orang di bagian depan. Dipotret D. Soltau; Semarang, 16 Oktober 1945. Sumber: <a href="https://nimh-beeldbank.defensie.nl/foto-s/detail/8e22d282-f8d1-69ce-e0bb-d1760b9413ba/media/7657e114-a1a5-6b90-a41c-0f399a27f6d8">Netherlands Institute of Military History</a>.</figcaption></figure><p>Keadaan di Magelang juga kian memanas. Menanggapi merebaknya pertempuran, kedua belah pihak mengirim bala bantuan. Untuk menolong Batalyon Ke-3/10, Brigadir Bethell mengirimkan suatu pasukan gabungan antara Inggris-India dan Jepang: sekitar 30–40 prajurit India yang tersusun dalam suatu <em>troop</em> dengan empat mortir [Connor (2015): 53 <em>footnote</em> 77; Evans (2014a), (2014b); Leland (1946): berkas 54–55], yang diperkuat dengan Yamada-tai, yakni kompi pasukan Jepang di bawah Kapten Yamada yang berkekuatan 100 prajurit [Kido Butai (1946): berkas 47]. Leland (1946: berkas 54–56) melaporkan bahwa para prajurit Jepang ini memang ingin bertempur, tetapi Ambari (2014: 73), Harnoko (1985: 24), dan Amin dan Kurniawan (2018: 76) mengklaim mereka ini dimanipulasi lalu diperalat oleh Inggris. Klaim Ambari dkk. sepertinya kurang benar, sebab menimbang fakta bahwa Yamada-Tai ialah bagian dari Kido Butai yang telah ikut dalam Pertempuran Lima Hari Semarang [Kido Butai (1946); Siong (1996)] serta bahwa unit-unit Jepang kini bertanggung jawab kepada Inggris [Connor (2015)], sepertinya Yamada-Tai memang diperintah namun tidak dimanipulasi Inggris. Maka, bisa disimpulkan bahwa pasukan gabungan Inggris-Jepang di Magelang setelah 1 November terdiri dari sebagian besar Batalyon Ke-3/10 (unit markas dan tiga kompi infantri), kompi Kapten Yamada, dan sebuah <em>troop</em> pasukan Inggris-India, secara keseluruhan berkekuatan 700—800-an prajurit [Kido Butai (1946) berkas 47; Parrot (1975): 110; Palmer (2013): 16].</p><p>Bukan hanya pasukan Inggris-India yang menerima bantuan, tapi TKR dan pejuang di Magelang juga diperkuat dengan datangnya satuan-satuan dari berbagai tempat. Empat batalyon TKR datang dari Purwokerto dan Yogyakarta, yaitu: Batalyon I-nya Mayor Imam Hadrongi dan Batalyon Gabungan Widjajakusuma-nya Mayor Sugeng Tirtosewodjo dari Divisi V Purwokerto, keduanya dipimpin Letnan Kolonel Isdiman; dan Batalyon X-nya Mayor Soeharto dan Batalyon VIII-nya Mayor Sardjono dari Divisi III Yogyakarta, keduanya secara keseluruhan dipimpin Letkol Palal dan Letkol Umar Slamet [Harnoko (1985): 14; Sedjarah Militer (1986): 40]. Selain batalyon-batalyon tersebut, ada satuan badan perjuangan dan laskar rakyat lainnya, seperti Tentara Rakyat Mataram yang dipimpin Bung Tardjo dengan sekitar 150 anggota [Kuncoro (2020): 20] dan Polisi Istimewa yang dipimpin Oni Sastroatmodjo [Harnoko (1985): 14; Sedjarah Militer (1986): 40]. Seluruhnya, kini ada 9 batalyon TKR yang terlibat di Magelang, belum lagi kelompok-kelompok pemuda dan rakyat; menurut Mullaly (1957: 393) dan Kirby (1969: 336) total kekuatan pihak Indonesia diperkirakan berjumlah 5.000 orang.</p><p>Bala bantuan gabungan Inggris-Jepang ini mengiringi sejumlah kendaraan pengangkut suplai yang dibutuhkan, mungkin dengan sebanyak tujuh truk [Amin dan Kurniawan (2018): 76], dan berangkat dari Semarang pada pagi hari, 1 November 1945 [Kido Butai (1946): berkas 47]. Ketika pasukan ini berada 5 km dari Magelang, Kido Butai (1946: berkas 47) menyebutkan pasukan gabungan ini ditembaki mortir-mortir oleh para pejuang, dan serangan ini mungkin terjadi di area Kalibening dan Payaman [Amin dan Kurniawan (2018): 79]. Lantas, mereka menyerbu posisi pejuang di sana dengan bantuan tembakan mortir Inggris [Leland (1946): berkas 55], dan berhasil mematahkan salah satu pertahanan pihak Indonesia di utara [Kido Butai (1946): berkas 47]. Pasukan ini bergerak terus ke selatan, menembus pertahanan pihak Indonesia di area Potrobangsan, Kedungsari, dsb. [Amin dan Kurniawan (2018): 77, 79; Putranto (2016): 7] hingga sukses mencapai pasukan Batalyon Ke-3/10 di Magelang pada hari itu juga [Leland (1946): berkas 55].</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*-opt9VIbUaPIPe2Wfj7PVQ.jpeg" /><figcaption>Pesawat P-47 Thunderbolt buatan Amerika Serikat yang digunakan Inggris; Bandara Kemayoran, Jakarta, November 1945. Sumber: <a href="https://www.iwm.org.uk/collections/item/object/205369219">Imperial War Museum</a>.</figcaption></figure><p>Pengiriman suplai lewat udara telah dilakukan sebelumnya [Kido Butai (1946): berkas 47; Tull (1946): 33; Wiyono (1991): 85] kepada pasukan Gurkha yang sudah mulai kehabisan amunisi [Mullaly (1957): 393]. Ini disambung dengan enam pesawat P-47 Thunderbolt Inggris [Royal Air Force Museum (2020)] yang diperintahkan untuk berpatroli di angkasa di atas area Magelang dan sekitarnya [Daily Telegraph Service (1945); Kirby (1969): 337; Mullaly (1957): 393; Wiyono dkk. (1991): 85], yang membantu pergerakan pasukan Inggris-India dan Jepang serta menghambat pergerakan TKR dan pejuang dari arah Yogyakarta ke Magelang dengan persenjataannya.</p><p>Pasukan gabungan Inggris-India dan Jepang yang memperkuat Magelang pun berhasil mengantarkan suplai yang dibutuhkan dan membebaskan 120 orang Eropa dan 220 orang Jepang yang ditawan pihak Indonesia [Kido Butai (2018) berkas 47], dan bersama dengan pasukan Gurkha di Magelang, juga merebut sejumlah senjata dari pihak Indonesia [Kido Butai (1946): berkas 47; Kirby (1969): 337]. Secara khusus, Yamada-tai dianggap berjasa dengan menolong unit-unit Batalyon Ke-3/10 di Magelang berkontak dengan satu sama lain: pasukan Jepang ini bergabung dengan batalyon tersebut, diperintahkan membersihkan area di bagian utara Magelang dan sukses merebut sejumlah senjata dan menawan beberapa pejuang [Mullaly (1957): 393]. Tak hanya itu, mereka bergerak ke Kota Magelang untuk berkontak dengan Kompi A yang terisolasi di Hotel Montagne tetapi harus berhenti ketika malam tiba [Mullaly (1957): 393]. Walau Mullaly tidak memberi tahu akhir dari usaha ini, Kapten Yamada dan pasukannya sepertinya berhasil sebab nantinya, menurut Kido Butai (1946: berkas 47), Yamada-Tai sukses memaksa para pejuang di Hotel Nitaka menyerah!</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*oSDBFhgUawJ4FQsDpYhNRQ.jpeg" /><figcaption>Hotel Nitaka; Magelang. Sumber: Harnoko (1985) hlm. 55.</figcaption></figure><p>Pertempuran Magelang masih akan berkobar selama kurang lebih sehari lagi. Tibanya pasukan Jepang ke Magelang berujung pada tragedi Kampung Tulung, yakni ketika kampung tersebut — yang berada di bagian barat Magelang — diserang Jepang [Harnoko (1985): 14, Amin dan Kurniawan (2018)]. Ada ketidakjelasan kapan peristiwa Kampung Tulung terjadi, sebab Amin dan Kurniawan (2018) menyebutkan tanggal 31 Oktober di hlm. 77, tetapi di hlm. 79 menyebut tanggal 28 Oktober. Kedua tanggal ini sepertinya sama-sama salah, mengingat sumber Amin dan Kurniawan (2018) adalah seorang veteran yang sudah lansia [Putranto (2016)]. Sebaliknya, kita tahu dari laporan kontemporer [Leland (1946): berkas 55; Kido Butai (1946): berkas 47] kalau pasukan Jepang yang dikirim ke Magelang baru berangkat dari Semarang pada pagi hari, 1 November 1945. Maka, peristiwa penyerangan terhadap Kampung Tulung besar kemungkinan terjadi pada pagi ke siang hari pada tanggal 1 November 1945 dan dilakukan oleh 100-an prajurit Jepang, bukan 28 atau 31 Oktober 1945 dan oleh 500 prajurit seperti yang disebutkan Amin dan Kurniawan (2018: 76–79). Selebihnya, untuk peristiwanya sendiri, Amin dan Kurniawan (2018: 76–79) menulis bahwa pasukan Jepang merangsek dari arah utara Magelang sembari menyergap dan menembaki orang-orang. Kampung Tulung pada saat Pertempuran Magelang adalah dapur umum yang mendukung usaha TKR dan pejuang [Harnoko (1985): 17], sehingga mungkin bisa diperdebatkan apakah kampung ini merupakan target perang yang pantas. Terlepas dari hal ini, serangan pasukan Jepang pada Kampung Tulung memakan 54 korban: 16 pejuang dan 36 pejuang kehilangan nyawa mereka sedangkan 12 orang mengalami luka-luka [Amin dan Kurniawan (2018): 76—79].</p><p>Akhirnya, pada 2 November 1945, Pertempuran Magelang pun berakhir. Kepergian Sukarno dan Wongsonegoro pada sore hari, 1 November 1945, ke Yogyakarta yang disebutkan Leland (1946: berkas 55—56) dikonfirmasi oleh Amin dan Kurniawan (2018: 77), yang menyebutkan kalau datangnya Sukarno (serta Wongsonegoro) ke Yogyakarta disambung dengan pertemuan dengan Mayor Jenderal Urip Sumoharjo, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sri Pakualam VII, serta beberapa tokoh Indonesia dari Magelang pada jam 16:00. Leland (1946: berkas 56—57) lalu menuliskan kalau Sukarno, Wongsonegoro, dan beberapa utusan Indonesia kembali (kemungkinan ke Semarang) pada malam harinya. Amin dan Kurniawan (2018: 77) pun menyebutkan bahwa Pertempuran Magelang resmi berhenti pada jam 06:00 pada 2 November 1945, namun Leland (1946: berkas 13 &amp; 57) menjelaskan bahwa keputusan ini berlaku pada jam 09:00 sedangkan berita keputusan tersebut baru terdengar di Magelang pada jam 10:00. Setelah ini, Sukarno, Wongsonegoro, Bethell, dan Leland, serta orang-orang lainnya dari kedua belah pihak akhirnya berangkat ke Magelang [Leland (1946): berkas 57; Harnoko (1985: 15)].</p><p>Leland (1946: berkas 57) menceritakan bahwa Presiden Sukarno, Brigadir Bethell, dan Gubernur Wongsonegoro berada di satu mobil, urutan ketiga dari iring-iringan ke Magelang, sedangkan Leland sendiri berada di mobil keempat. Di belakang mobilnya Leland, ada tiga truk pasukan Inggris dan India dan sekitar sepuluh mobil orang-orang Indonesia. Mereka sampai di Ambarawa tanpa ada gangguan, tetapi jalan ke Magelang dihalangi pohon-pohon yang ditumbangkan yang perlu dibersihkan. Mereka pun sampai ke markas Batalyon Ke-3/10 di Magelang, tepatnya di area Badaan [Amin dan Kurniawan (2018): 77], kira-kira pada sore hari [Mullaly (1957): 394]. Mereka pun menyepakati sejumlah 12 pasal antara pihak Inggris dan Indonesia [Harnoko (1985): 15—16; Sedjarah Militer (1968): 40].</p><p>Persisnya apa isi dari 12 pasal tersebut tidaklah jelas, namun menurut Sedjarah Militer (1968: 40), Pasal 2 berisi, <em>“Sekutu akan tetap menempatkan pasukan2 jang setjukupnja di Magelang untuk melakukan kewadjibannja … mengurus evakuasi RAPWI. Besarnja pasukan ini ditetapkan oleh Panglima Sekutu; djumlah ini tidak akan lebih besar dari apa jang Panglima Sekutu pandang perlu untuk mendjalankan pekerdjaanja.”</em> Kutipan oleh Sedjarah Militer ini kurang lebih sama dengan apa yang disebutkan Leland (1946: berkas 13) dalam paragraf ke-36 poin (b) bahwa, <em>“Pihak Indonesia akan memberikan bantuan dalam menjaga RAPWI hingga saat yang tepat hingga mereka dapat dievakuasi ke Semarang; Inggris dapat mempertahankan pasukan apapun yang dianggap cukup untuk menjamin keamanan RAPWI sampai bisa dievakuasi…”</em> Leland (1946: berkas 13) juga menyebutkan di poin (a) bahwa pasukan Jepang di Magelang akan digantikan oleh pasukan Inggris(-India) dan diperintahkan kembali ke Semarang sesegera mungkin — senada dengan informasi dari Kido Butai (1946: berkas 47) bahwa pasukannya Kapten Yamada diperintah kembali ke Semarang pada tanggal 4 November. Suatu komite kontak dibentuk untuk memperhalus komunikasi antara kedua belah pihak, yang terdiri dari sepuluh orang [Mullaly (1957): 394] atau sembilan orang [Harnoko (1985): 16], yang terdiri dari lima wakil Indonesia dan empat wakil Inggris, demi mengurus para bekas tahanan. Disepakatinya pasal-pasal ini menandakan usainya Pertempuran Magelang.</p><h4>Pascapertempuran</h4><p>Korban-korban yang jatuh selama Pertempuran Magelang cukup signifikan, meski timpang. Di pihak Inggris-India dan Jepang, mereka mengalami total 37 hingga 40-an korban, antara lain 8 prajurit tewas dan 25 luka-luka dari antara prajurit Gurkha sedangkan pasukan Jepang kehilangan 2 prajurit dan beberapa luka-luka [Leland (1946) berkas 56]. Kerugian di pihak Indonesia jauh lebih besar, dengan perkiraan 200 [Tull (1946): berkas 33] hingga 300 korban [Leland (1946): berkas 56] atau bahkan 600 orang menurut Nooteboom (1946: berkas 22), meski tidak diketahui apakah ini termasuk 42 orang tewas dan 12 luka-luka yang menjadi korban serangan Jepang di Kampung Tulung. Kido Butai (1946: berkas 47) menyebutkan bahwa kompi Kapten Yamada berhasil merebut 2 mortir, 1 senapan mesin, lebih dari tiga puluh senapan, dan sekitar 800 peluru.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*i62_Tegk0onxDOUdIvRYAw.jpeg" /><figcaption>Anggota Palang Merah Indonesia bersama laskar rakyat di garis depan. Potret oleh IPPHOS; lokasi dan waktu tidak jelas, kemungkinan 1945. Sumber: Karsasmita, dkk. (1986). 30 tahun Indonesia Merdeka, 1945–1949. Jakarta: PT Citra Lamtoro Gung Persada, potret ke-38.</figcaption></figure><p>Maka, menengok Pertempuran Magelang dari ukuran kekuatan pihak-pihak yang terlibat, bisa dibilang skalanya tidak berbeda dengan Pertempuran Lima Hari Semarang. Setelah pihak Inggris dan Indonesia berhasil menyepakati beberapa pasal, Inggris pun (menyepakati pasal yang diperjanjikan) mundur pada tanggal 21 November 1945 ke Ambarawa [Kirby (1969): 337; McMillan (2005): 28; Mullaly (1957): 395–396; Sedjarah Militer (1968): 41] setelah berhasil mengevakuasi 2.500 [McMillan (2005): 28] hingga 2.800 [Scholtens (1946): berkas 80] orang bekas tahanan ke Ambarawa, ketika Pertempuran Ambarawa alias Palagan Ambarawa meletus [McMillan (2005): 29; Sedjarah Militer (1968): 41].</p><p>Keputusan ini dilatarbelakangi selesainya evakuasi bekas tahanan di Magelang, namun juga kekhawatiran akan nasib para bekas tahanan di area Jawa Tengah. Sebanyak 2.500 orang Eropa, Ambon, Timor, dan Manado di Magelang ditinggalkan Inggris sebab dirasa perlu memperkuat pasukan mereka di Ambarawa yang sedang diserang pihak Indonesia [Drooglever (1987): 57]. Mengutip Sedjarah Militer (1968: 41), “Agaknja karena sudah tak tertahan lagi bagi Sekutu, maka pada … 21 Nopember 1945 malam hari, setjara diam-diam mereka meninggalkan kedudukannja [di Magelang] dan mundur kedjurusan Ambarawa.” Namun, pernyataan sumber-sumber Indonesia yang menyebutkan bahwa gencatan senjata pasca-Pertempuran Magelang digunakan Sekutu memusatkan kekuatannya di Magelang harus ditilik ulang.</p><p>Pertama-tama, berdasarkan Drooglever (1987: 57), Kirby (1969: 337), dan Leland (1946: berkas 13), total pasukan Inggris-India yang dikirim ke Magelang setelah pasukan Yamada-Tai ditarik ke Semarang hanyalah berjumlah dua peleton transportasi dan empat tank ringan [Mullaly (1957): 395]. Hal ini berarti jumlah pasukan Inggris di Magelang malah berkurang, bukan bertambah. Kedua, kekhawatiran Inggris sebenarnya tidak mengejutkan, mengingat baru tiga minggu yang lalu pada tanggal 28 Oktober 1945, 300-an perempuan dan anak-anak Belanda dan Eropa tewas di tangan pemuda di Surabaya pada tanggal 28 Oktober 1945; saksi mata dari pihak Indonesia bahkan menyebutkan para pejuang memotong kelamin para prajurit India sebelum mereka cekoki ke mulut-mulut para wanita Belanda dan Eropa [Frederick (2012): 365–366]! Lantas, berkaca dari pembunuhan 100-an lebih orang sipil Jepang di Semarang oleh pemuda saat Pertempuran Lima Hari Semarang [Siong (1996)], bukannya tidak mungkin pembunuhan bekas tahanan sipil terulang di Jawa Tengah (dan memang terulang dalam skala yang lebih kecil [McMillan (2005): 29]) sehingga wajar saja pihak Inggris ingin menjamin keselamatan para bekas tahanan Sekutu.</p><p>Akan tetapi, Pertempuran Magelang terkesan bak suatu kesia-siaan nyawa dan senjata bagi kedua belah pihak, terlebih di pihak Indonesia. Pertama-tama, Inggris tidak pernah benar-benar merencanakan untuk menduduki Semarang dan sekitarnya [Dennis (1987)]. Walau benar bahwa Magelang dan Jawa Tengah penting secara strategis [Drooglever (1987): 54–55], hal ini tampaknya bukan prioritas di pembahasan strategi di tingkat tinggi — bukannya tidak mungkin keputusan untuk menarik pasukan dari Semarang dan sekitarnya dilakukan Inggris jika saja pihak Indonesia tidak menyerang, atau setidaknya menyerang di waktu yang berbeda. Kedua, dari segi jumlah, pihak Indonesia mengalami kerugian besar. Memang Pertempuran Magelang berakhir dengan gencatan senjata, tapi korban jiwa yang sebanyak 200—600 orang, belum lagi yang luka-luka, cukup besar apalagi jika dibandingkan dengan korban di pihak Inggris-India dan Jepang. Ini belum termasuk kerugian senjata: memang Yamada-Tai hanya merebut puluhan senjata, namun total yang direbut pasukan Inggris-India tidak diketahui banyaknya. Karena bahwa persenjataan Indonesia hanya berasal dari rampasan senjata Jepang [Siong (2001)], tiap senjata yang hilang kian berharga dan kian sulit digantikan.</p><p>Ketiga, Pertempuran Ambarawa — yang menyusul dan menyambung Pertempuran Magelang — benar bisa dianggap sebagai kemenangan bagi pihak Indonesia, tetapi tujuan strategis utama Inggris juga terpenuhi: pasukan Inggris-India di Jawa Tengah yang berjumlah sekitar 8.000 hingga 10.000 prajurit (meski terpencar antara Semarang, Ungaran, dan Ambarawa) berhasil mengevakuasi puluhan ribu bekas tahanan selama sebulan ke Semarang, walau dirong-rong 4 divisi TKR yang terbagi dalam 23 batalyon sepanjang Pertempuran Ambarawa [Ambari (2014): 136—140]. Mengingat para pejuang tidak mampu mengusir Inggris sepenuhnya dari Jawa Tengah, kemenangan di Ambarawa tidak lengkap dan patut dipertanyakan kesepadanannya dengan kerugian material yang ditanggung. Ketidakmampuan ini juga berbuah bagi Belanda, yang nantinya sukses memukul mundur Republik Indonesia hingga jatuhnya Yogyakarta ke tangan Belanda.</p><p>Mempertimbangkan faktor-faktor ini, sulit menggambarkan Pertempuran Magelang selain sebagai suatu kekalahan material dan taktis bagi rakyat dan balatentara Republik.</p><ol><li>Kirby, S.W. dkk., (1969). <em>The War Against Japan, Volume V: The Surrender of Japan</em>. London: Her Majesty’s Stationery Office, <strong>hlm. 315</strong>.</li><li>McMillan, R. (2005). <em>The British Occupation of Indonesia, 1945–1946: Britain, the Netherlands and the Indonesian revolution</em>. Oxon: Routledge, <strong>hlm. 2</strong>.</li><li>Dennis, P. (1987). <em>Troubled days of peace: Mountbatten and South East Asia Command, 1945–46</em>. Manchester: Manchester University Press.</li><li>McMillan, <em>British Occupation</em>, <strong>hlm. 2</strong>.</li><li>First Demobilization Bureau (1951). <em>Java Operations Record, 16th Army: Part II</em>. Japan: United States Army Forces Far East, <strong>hlm. 25</strong>. [Diakses pada 25 Juni 2023; <a href="http://ddsnext.crl.edu/titles/31862?terms=&amp;item_id=451278].">http://ddsnext.crl.edu/titles/31862?terms=&amp;item_id=451278</a>].</li><li>Remmelink, W.G.J. (1978). “The emergence of the new situation: The Japanese army on Java after the Surrender”. <em>Militaire Spectator</em>, 147(2): hlm. 49 —<strong> </strong>66. [Diakses pada 25 Juni 2023; <a href="https://www.militairespectator.nl/sites/default/files/bestanden/uitgaven/1978/1978-0049-01-0020.PDF].">https://www.militairespectator.nl/sites/default/files/bestanden/uitgaven/1978/1978-0049-01-0020.PDF</a>].</li><li>Panitia Penyusunan (1977). <em>Sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang</em>. Semarang: Suara Merdeka, <strong>hlm. 32</strong>.</li><li>Dinas Sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. (1982). <em>Sejarah TNI-AD 1945–1973, Volume 6: Sejarah Perkembangan Organisasi TNI-AD</em>. Bandung: Dinas Sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, <strong>hlm. 4—9</strong>.</li><li>Panitia Penyusunan, <em>Sejarah Pertempuran Semarang</em>, <strong>hlm. 34</strong>.</li><li>Siong, H.B. (1996). “The Secret of Major Kido; The Battle of Semarang, 15–19 October 1945”. <em>Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde</em>, 152(3): hlm. 382 — 428. [doi: 10.1163/22134379–90003005].</li><li>Kido Butai, (1946). “DEFENCE OF SAMARANG. A short History of Defensive Fighting in the area of SAMARANG”, dalam: (2022). <em>Rapporten en verslagen o.a. afkomstig van lieutenant commander A.J. Leland </em>[Bagian dari <em>509 Dekolonisatie van Nederlands-Indië (1945–1950)</em>], archieven.nl, berkas 45–48. [Diakses pada 25 Juni 2023; <a href="https://proxy.archieven.nl/0/814FDC51965C460B9DA77E6054F19B36">https://proxy.archieven.nl/0/E66099CD55D94DD1B88F9B289A130E98</a>].</li><li>Siong, <em>Secret of Major Kido</em>, <strong>hlm. 385</strong>.</li><li>Siong, <em>Secret of Major Kido</em>, <strong>hlm. 399—404</strong>.</li><li>Mullaly, B.R. (1957). <em>Bugle and Kukri: The Story of The 10th Princess Mary’s Own Gurkha Rifles</em>. Edinburgh: William Blackwood &amp; Sons Ltd, <strong>hlm. 389</strong>.</li><li>Panitia Penyusunan, <em>Sejarah Pertempuran Semarang</em>, <strong>hlm. 190—193</strong>.</li><li>Tull, T.S. (1946). “Report by Wing Commander T. S. Tull O.B.E. on Operation Salex Mastiff” [berkas daring], <strong>berkas 5</strong>, dalam: (2022). <em>Report by wingcommander T.S. Tull OBE on operation “Salex Mastiff” </em>[Bagian dari <em>509 Dekolonisatie van Nederlands-Indië (1945–1950)</em>], archieven.nl. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://proxy.archieven.nl/0/CC0BBE8511BF4B2ABFA2AC4229CC4168">https://proxy.archieven.nl/0/CC0BBE8511BF4B2ABFA2AC4229CC4168</a>].</li><li>Tull, <em>Operation Salex Mastiff</em>, <strong>berkas 4—5</strong>.</li><li>Drooglever, P.J. (1987). “Uneasy encounters; Semarang, Ambarawa and Magelang during the first months of the revolution”, <strong>hlm. 43</strong>, dalam: Alfian, T.I. dkk. (ed.), (1987). <em>Dari babad dan hikayat sampai sejarah kritis</em>. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.</li><li>Siong, <em>Secret of Major Kido</em>, <strong>hlm. 394</strong>.</li><li>Siong, <em>Secret of Major Kido</em>, <strong>hlm. 399—400</strong>.</li><li>Tull, <em>Operation Salex Mastiff</em>, <strong>berkas 4—5</strong>.</li><li>Sedjarah Militer Kodam VII/Diponegoro, (1968). <em>Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro</em>. Semarang: Jajasan Penerbit Diponegoro, <strong>hlm. 28—33</strong>.</li><li>Siong, H.B. (2001). “The Indonesian need of arms after the proclamation of independence”. <em>Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde</em>, 157(4): <strong>hlm. 821—822</strong>. [doi: 10.1163/22134379–90003793].</li><li>Notosusanto, N. (1979). <em>Tentara PETA pada jaman pendudukan Jepang di Indonesia</em>. Jakarta: Gramedia, <strong>hlm. 171—188</strong>.</li><li>Post, P. dkk. (ed.), (2010). <em>The encyclopedia of Indonesia in the Pacific War</em>. Leiden: Koninklijke Brill NV, <strong>hlm. 142—145 &amp; 505—506.</strong></li><li>Dinas Sejarah, <em>Sejarah TNI-AD Volume 6</em>,<strong> hlm. 9—11</strong><em>.</em></li><li>Notosusanto, <em>Tentara PETA</em>, <strong>hlm. 181</strong>.</li></ol><h3>Referensi</h3><p>Ambari, Y. dkk. (2014). <em>Palagan Ambarawa: Menumbuhkan Kepercayaan pada Kekuatan Sendiri</em>. Bandung: Dinas Sejarah Angkatan Darat.<br> Amin, S. dan Kurniawan, G.F. (2018). “Percikan Api Revolusi di Kampung Tulung Magelang 1945”. <em>Journal of Indonesian History</em>, 7(1): hlm. 71–81. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jih/article/view/25376].">https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jih/article/view/25376</a>].<br> Australian Associated Press. (1945). “RAF HELPS GURKHAS IN JAVA BATTLE”. <em>The Argus (Melbourne, Victoria)</em>: 2 November, hlm. 20 [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="http://nla.gov.au/nla.news-article12150789">http://nla.gov.au/nla.news-article12150789</a>].<br> Anderson, B.R.O. (1972). <em>Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–1946</em>. New York: Cornell University Press.<br> Connor, S.B. (2015). <em>Mountbatten’s Samurai: Imperial Japanese Army and Navy Forces under British Control in Southeast Asia, 1945–1948</em>. Seventh Citadel [Kindle].<br> Daily Telegraph Service dan A.A.P. (1945). “BRITISH IN HEAVY JAVA ACTION”. <em>The Daily Telegraph (Sydney, NSW)</em>: 1 November, hlm. 1. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="http://nla.gov.au/nla.news-article248033349].">http://nla.gov.au/nla.news-article248033349].</a><br> Dennis, P. (1987). <em>Troubled days of peace: Mountbatten and South East Asia Command, 1945–46</em>. Manchester: Manchester University Press.<br> Dinas Sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. (1982). <em>Sejarah TNI-AD 1945–1973, Volume 6: Sejarah Perkembangan Organisasi TNI-AD</em>. Bandung: Dinas Sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat.<br> Donnison, F.S.V. (1956). <em>British Military Administration in the Far East 1943–46</em>. London: Her Majesty’s Stationery Office. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://books.google.com/books?id=8JA1AQAAIAAJ">https://books.google.com/books?id=8JA1AQAAIAAJ</a> ].<br> Drooglever, P.J. (1987). “Uneasy encounters; Semarang, Ambarawa and Magelang during the first months of the revolution”, dalam: Alfian, T.I. dkk. (ed.), (1987). <em>Dari babad dan hikayat sampai sejarah kritis</em>. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.<br> Eager, C.C. dan A.A.P. (1945). “NEW FLARE UP IN JAVA FEARED: Indonesian Extremists Ignore Appeal”. <em>The Sydney Morning Herald (NSW)</em>: 2 November, hlm. 1. [Diakses 25/06/2023 lewat <a href="http://nla.gov.au/nla.news-article17958299">http://nla.gov.au/nla.news-article248033349</a>].<br> Evans, N.F (2014a). “ARTILLERY ORGANISATIONS”. <em>BRITISH ARTILLERY IN WORLD WAR 2</em>, nigelef.tripod.com. [Diakses pada 21/11/2022 lewat <a href="https://nigelef.tripod.com/RAorg.htm">https://nigelef.tripod.com/RAorg.htm</a>].<br> Evans, N.F (2014b). “FIELD REGIMENT 1944”. <em>BRITISH ARTILLERY IN WORLD WAR 2</em>, nigelef.tripod.com. [Diakses pada 21/11/2022 lewat <a href="https://nigelef.tripod.com/fdregt44.htm">https://nigelef.tripod.com/fdregt44.htm</a>].<br> First Demobilization Bureau (1951). <em>Java Operations Record, 16th Army: Part II</em>. Japan: United States Army Forces Far East. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="http://ddsnext.crl.edu/titles/31862?terms=&amp;item_id=451278">http://ddsnext.crl.edu/titles/31862?terms=&amp;item_id=451278</a>].<br> Frederick, W.H. (2012) “The killing of Dutch and Eurasians in Indonesia’s national revolution (1945–49): a ‘brief genocide’ reconsidered”. <em>Journal of Genocide Research</em>, 14(3–4), 359–380 [doi: 10.1080/14623528.2012.719370].<br> Harnoko, D. (1985). <em>Magelang pada Masa Revolusi Phisik Periode 1945–1949</em>. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.<br> Kuncoro, B.A. (2020). “Sejarah Tentara Rakyat Mataram (TRM) dalam Peran Sertanya Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945” [Skripsi]. <em>Universitas Kristen Satya Wacana</em>. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://repository.uksw.edu/handle/123456789/20784">https://repository.uksw.edu/handle/123456789/20784</a>].<br> Kido Butai, (1946). “DEFENCE OF SAMARANG. A short History of Defensive Fighting in the area of SAMARANG”, disalin A.J. Leland dalam: (2022). <em>Rapporten en verslagen o.a. afkomstig van lieutenant commander A.J. Leland </em>[Bagian dari <em>509 Dekolonisatie van Nederlands-Indië (1945–1950)</em>], archieven.nl, berkas 45–48. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://proxy.archieven.nl/0/E66099CD55D94DD1B88F9B289A130E98">https://proxy.archieven.nl/0/E66099CD55D94DD1B88F9B289A130E98</a>].<br> Kirby, S.W. dkk., (1969). <em>The War Against Japan, Volume V: The Surrender of Japan</em>. London: Her Majesty’s Stationery Office.<br> Leland, A.J. (1946). [Kumpulan laporan resmi dan surat pribadi sejak Oktober 1945 hingga 1946], dalam: (2022). <em>Rapporten en verslagen o.a. afkomstig van lieutenant commander A.J. Leland </em>[Bagian dari <em>509 Dekolonisatie van Nederlands-Indië (1945–1950)</em>], archieven.nl, berkas 8–44 dan 49–99. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://proxy.archieven.nl/0/E66099CD55D94DD1B88F9B289A130E98">https://proxy.archieven.nl/0/E66099CD55D94DD1B88F9B289A130E98</a>].<br> McMillan, R. (2005). <em>The British Occupation of Indonesia, 1945–1946: Britain, the Netherlands and the Indonesian revolution</em>. Oxon: Routledge.<br> Mullaly, B.R. (1957). <em>Bugle and Kukri: The Story of The 10th Princess Mary’s Own Gurkha Rifles</em>. Edinburgh: William Blackwood &amp; Sons Ltd.<br>Netherlands Information Bureau (1945) “II. Netherlands East Indies: (a) General” [buletin berita]. <em>Netherlands News</em>, 14(1), hlm. 8–20. New York: Netherlands Information Bureau. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://books.google.com/books?id=PFA8AQAAIAAJ">https://books.google.com/books?id=PFA8AQAAIAAJ</a>].<br> Nooteboom, A. (1946). [Berkas-berkas catatan A. Nooteboom di Ambarawa dan Banyubiru], dalam (2022). <em>Correspondentie, memoranda en nota’s vermoedelijk afkomstig van A. Nooteboom</em> [Bagian dari <em>509 Dekolonisatie van Nederlands-Indië (1945–1950)</em>], archieven.nl. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://proxy.archieven.nl/0/ADE3899345AF4DF9A7EE2ED1A4A97868">https://proxy.archieven.nl/0/ADE3899345AF4DF9A7EE2ED1A4A97868</a>].<br> Palmer, R. (2013). <em>A Concise Overview of British, African and Indian Infantry Battalions</em> [pamflet daring]. britishmilitaryhistory.co.uk. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://www.britishmilitaryhistory.co.uk/wp-content/uploads/sites/124/2017/10/British_-African-and-Indian-Battalions-Overview-V1_1.pdf">https://www.britishmilitaryhistory.co.uk/wp-content/uploads/sites/124/2017/10/British_-African-and-Indian-Battalions-Overview-V1_1.pdf</a>].<br> Panitia Penyusunan (1977). <em>Sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang</em>. Semarang: Suara Merdeka.<br> Parrott, J.G.A. (1975). “Who Killed Brigadier Mallaby?”. <em>Indonesia</em>, 20: 87–111. [doi: 10.2307/3350997].<br> Post, P. dkk. (ed.), (2010). <em>The encyclopedia of Indonesia in the Pacific War</em>. Leiden: Koninklijke Brill NV.<br> Putranto, I.D. (2016). “Pertempuran Melawan Sekutu di Magelang Tahun 1945”. <em>Mozaik Ilmu Sejarah</em>, 1(4). [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://journal.student.uny.ac.id/index.php/ilmu-sejarah/article/view/4243">https://journal.student.uny.ac.id/index.php/ilmu-sejarah/article/view/4243</a>].<br> Remmelink, W.G.J. (1978). “The emergence of the new situation: The Japanese army on Java after the Surrender”. <em>Militaire Spectator</em>, 147(2): 49–66. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://www.militairespectator.nl/sites/default/files/bestanden/uitgaven/1978/1978-0049-01-0020.PDF">https://www.militairespectator.nl/sites/default/files/bestanden/uitgaven/1978/1978-0049-01-0020.PDF</a>].<br> Royal Air Force Museum (2020). “Republic P-47D Thunderbolt II” [situs]. <em>Royal Air Force Museum</em>, rafmuseum.org.uk. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://www.rafmuseum.org.uk/research/collections/republic-p-47d-thunderbolt-ii/">https://www.rafmuseum.org.uk/research/collections/republic-p-47d-thunderbolt-ii/</a>].<br> Scholtens, K. (1946). “Report on RAPWI mid-Java activities” [berkas daring], dalam (2022). <em>RAPWI: rapport door majoor K. Scholtens… </em>[Bagian dari <em>400 Indische Collectie</em>], archieven.nl. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://proxy.archieven.nl/0/478CEEF430784BA2E0538A77ABC202B3">https://proxy.archieven.nl/0/478CEEF430784BA2E0538A77ABC202B3</a>].<br> Sedjarah Militer Kodam VII/Diponegoro, (1968). <em>Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro</em>. Semarang: Jajasan Penerbit Diponegoro.<br> Siong, H.B. (1996). “The Secret of Major Kido; The Battle of Semarang, 15–19 October 1945”. <em>Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde</em>, 152(3): hlm. 382–428. [doi: 10.1163/22134379–90003005].<br> Siong, H.B. (2001). “The Indonesian need of arms after the proclamation of independence”. <em>Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde</em>, 157(4): hlm. 799–830. [doi: 10.1163/22134379–90003793].<br> Tull, T.S. (1946). “Report by Wing Commander T. S. Tull O.B.E. on Operation Salex Mastiff” [berkas daring], dalam: (2022). <em>Report by wingcommander T.S. Tull OBE on operation “Salex Mastiff” </em>[Bagian dari <em>509 Dekolonisatie van Nederlands-Indië (1945–1950)</em>], archieven.nl. [Diakses pada 13/11/2022 lewat <a href="https://proxy.archieven.nl/0/CC0BBE8511BF4B2ABFA2AC4229CC4168">https://proxy.archieven.nl/0/CC0BBE8511BF4B2ABFA2AC4229CC4168</a>].<br> Wiyono, dkk. (1991). <em>Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945–1949) Daerah Jawa Tengah</em>. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=41162795ff97" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/historypedia/pertempuran-magelang-41162795ff97">Pertempuran Magelang</a> was originally published in <a href="https://medium.com/historypedia">Historypedia ID</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Pertempuran Surabaya: Pembangkangan, Miskomunikasi, dan Konflik atas Surabaya]]></title>
            <link>https://medium.com/historypedia/pertempuran-surabaya-pembangkangan-miskomunikasi-dan-konflik-atas-surabaya-f7513a271937?source=rss----390c82eaa03b---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f7513a271937</guid>
            <category><![CDATA[world-war-ii]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah]]></category>
            <category><![CDATA[history]]></category>
            <category><![CDATA[kemerdekaan-indonesia]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Historypedia]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 19 Feb 2021 12:01:38 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-02-02T08:40:35.753Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Pertempuran Surabaya: Pembangkangan, Miskomunikasi, dan Konflik</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*QzlVtUmwEV3HnLxFSxvqDA.png" /></figure><blockquote>Ditulis dalam rangka kolaborasi Historypedia dengan Inspect History.</blockquote><p>Pertempuran Surabaya telah lama menjadi bagian dari nasionalisme Indonesia, dengan diperingatinya Hari Pahlawan tiap tahun pada tanggal 10 November. Selain itu, dari segi pengetahuan publik, pertempuran ini juga telah diajarkan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan menengah. Nyatanya, pertempuran ini jelas lebih kompleks dari yang biasanya diketahui oleh publik. Meletusnya pertempuran ini banyak dipengaruhi oleh pembangkangan, miskomunikasi, dan konflik antara berbagai pihak yang terlibat. Oleh karena itu, agaknya pantas bila suatu ulasan ulang, dengan perspektif yang lebih berimbang, diusahakan untuk membantu menyingkapkan kejadian-kejadian di balik Pertempuran Surabaya.</p><p>Pertama-tama, mari kembali kepada proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dua hari setelah penyerahan Jepang. Kabar proklamasi kemerdekaan ini ternyata sudah sampai di Surabaya pada hari itu juga[24], walau baru disebarluaskan beberapa hari setelahnya[13][22]. Kemerdekaan segera didukung oleh wakil residen Jepang Surabaya, R. Soedirman[24], dan kepala Polisi Istimewa Surabaya, M. Jasin[14], yang disusul dengan penyusunan pemerintahan daerah di Surabaya, dengan pengangakatan R.M.T.A. Soerio sebagai Gubernur Jawa Timur dan R. Soedirman sebagai Residen Surabaya pada 19 Agustus 1945 oleh pemerintah pusat[24].</p><p>Pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Surabaya dilakukan pada 2 September 1945, yang dikepalai Moestopo. Moestopo sendiri kemudian menjadi kepala BKR Jawa Timur sebelum menjadi Menteri Pertahanan. BKR Laut dibentuk pada akhir September[13], dan BKR berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada 5 Oktober 1945[24]. BKR di Surabaya terdiri dari pemuda dan orang bekas PETA (Pembela Tanah Air)[24], sedangkan para pejuang lainnya membentuk badan-badan perjuangan pada September — Oktober 1945, seperti Pemuda Republik Indonesia (PRI), Angkatan Pemuda Indonesia (API), Barisan Hizbullah, dll[24].</p><p>Pembubaran PETA dan Heiho oleh Jepang seminggu setelah penyerahan Jepang[20] menyulitkan BKR dan badan-badan perjuangan dalam mempersenjatai diri. Kebutuhan akan senjata ini muncul karena adanya insiden pengibaran dan perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje[4][26] pada 18 atau 19 September 1945[4][26][28]. Perampasan senjata Jepang sudah dimulai sejak Agustus[20], tapi perebutan senjata dalam skala besar baru terjadi sejak pertengahan September[26]. Akan tetapi, sampai akhir September, usaha-usaha perebutan senjata belum berbuah banyak[26], yang dibuktikan dengan minimnya penggunaan senjata api ketika rakyat mengambil alih markas Kempeitai pada 30 September[19][20]. Situasi ini segera berubah pada tanggal 3 Oktober 1945[26].</p><p>Kenapa tanggal 3 Oktober bisa sangat menentukan? Ini semua ulah Kapten Huyer, seorang kapten Angkatan Laut (AL) Belanda yang dikirim dari Jakarta ke Surabaya pada September 1945[26]. Huyer sampai di Surabaya pada 23 September sebelum kembali ke Jakarta, namun berangkat lagi ke Surabaya dan sampai pada 29 September 1945[26]. Huyer membuat kesepakatan dengan pimpinan Indonesia di Surabaya agar pihak Indonesia menjaga senjata Jepang, sebelum Huyer memaksa pimpinan Jepang di Surabaya menyerah pada dirinya[6][18]. Mayor Jenderal Iwabe dan Laksamana Muda Shibata, pimpinan Angkatan Darat (AD) dan AL Jepang di Surabaya, akhirnya menyerah kepada Huyer pada tanggal 3 Oktober 1945[6][18][26].</p><p>Penyerahan Jepang kepada Huyer sangat menguntungkan pihak Indonesia[24], sebab penyerahan ini melibatkan nyaris semua satuan militer Jepang di Jawa Timur, sehingga ribuan senjata Jepang jatuh dengan mudahnya ke tangan para pejuang[18]. Huyer nantinya mengatakan bahwa penyerahan ini seharusnya hanyalah penyerahan “palsu” alias <em>pro forma</em>, tapi pimpinan militer Jepang di Surabaya malah menganggap bahwa kejadian itu merupakan suatu penyerahan resmi[26]. Diperkirakan puluhan ribu senjata Jepang jatuh ke tangan Indonesia di Jawa Timur, yang terdiri dari 19 ribu senapan, 900-an senapan mesin, 400-an mortir, 50-an pucuk artileri, 140-an meriam anti-udara, 16–25 tank[13][24], ribuan kendaraan, dan puluhan kapal, perahu, dan sekoci[13].</p><p>Di tengah perebutan senjata ini, 6,400-an interniran sipil Belanda berada di Surabaya dan pengevakuasian mereka jadi tugas pasukan Sekutu, di mana sekitar 1,800-an internir berasal dari kemah interniran di Jawa Tengah[16]. Meski demikian, angka 6,400-an ini hanyalah estimasi rendah, sebab terbukti kalau ada ribuan interniran yang belum dievakuasi sampai pada 10 November[3][25]. Keselamatan para interniran sipil ini memang menjadi fokus Sekutu, karena memang kerap terancam oleh para pemuda Indonesia[3]. Diperkirakan ratusan warga sipil Belanda, Ambon, Timor, dan lain-lain yang disiksa dan dibunuh oleh PRI pada Oktober 1945[10], tidak terkecuali wanita dan anak-anak[4][10].</p><p>Segala kejadian ini berarti Brigade Ke-49 Inggris-India, yang dipimpin Brigadir A.W.S. Mallaby, mendarat ke kota Surabaya, yang telah bersenjata dan siap mempertahankan kemerdekaan.</p><p>Beberapa kapal Inggris, yang mengangkut Brigade Ke-49, singgah dekat Surabaya pada 24 Oktober 1945[4][13][14][22]. Walau Mallaby dan bawahannya sempat berselisih dengan pihak Indonesia[4][5][13][22], sebagian dari Brigade Ke-49 tetap mendarat secara sepihak di Surabaya pada 25 Oktober 1945[14][16]. Langkah ini diprotes oleh pimpinan Indonesia di Surabaya, tapi pemerintah pusat Jakarta memerintahkan agar Surabaya tak menghalangi kedatangan Sekutu[13]. Keesokan harinya, persetujuan antara pihak Inggris dan Indonesia menghasilkan kesepakatan yang intinya mengatakan[24]:<br>1. Tak ada personel Belanda di antara pasukan Inggris-India di Surabaya;<br>2. Kerja sama antara Sekutu dan Indonesia dilakukan melalui suatu <em>contact bureau</em>;<br>3. Interniran dan tahanan Sekutu akan dievakuasi oleh Inggris[5]; dan<br>4. Pasukan Jepang akan dilucuti dan kemudian dipindahkan oleh Inggris[24].</p><p>Kesepakatan ini sayangnya tidak menghindari terjadinya baku tembak ketika pasukan Inggris-India menduduki beberapa gedung penting di Surabaya[13][22]. Selain itu, beberapa tahanan Belanda juga dibebaskan oleh pasukan Inggris[24], walau perlu diingat kalau aksi ini masih sesuai dengan kesepakatan Inggris-Indonesia. Di tengah perselisihan kecil-kecilan ini, sebuah pesawat menjatuhkan selebaran-selebaran dari langit Surabaya pada 27 Oktober 1945[16]. Selebaran-selebaran ini berisi perintah dari Mayor Jenderal Hawthorn, atasan Mallaby di Jakarta, agar penduduk Surabaya menyerahkan senjata mereka dalam waktu dua hari, atau mereka akan ditembak di tempat[16].</p><p>Siang itu juga, Mallaby menyatakan kalau ia akan melaksanakan perintah Mayjen Hawthorn[5][16[22][24]. Meski demikian, Mallaby tetap mengusahakan suatu jalan tengah dengan cara meminta Moestopo mengabarkan kalau kesepakatan 26 Oktober masih berlaku[5]. Moestopo dikabarkan mengiyakan pelucutan rakyat yang diperintahkan Hawthorn[5], dan ini terbukti karena Moestopo menyatakan pada 28 Oktober bahwa hanya TKR-lah yang boleh memegang senjata[28].</p><p>Setelah penjatuhan selebaran tersebut, sebagian pimpinan Surabaya ingin segera menyerang pasukan Inggris[24]. Moestopo awalnya tidak ingin TKR terlibat dalam pertempuran yang akan datang[28], dan pemerintah pusat Indonesia di Jakarta turut menganjurkan Surabaya untuk tidak melawan Inggris[13][24]. Masalahnya, Surabaya malah mengabaikan anjuran ini dan tetap bertekad untuk bertempur[13][24]; dengan kata lain, Surabaya pun memberontak terhadap pemerintah pusat RI. Pimpinan PRI kemudian meyakinkan Moestopo agar TKR ikut bertempur melawan Inggris[28], jadi baik TKR dan badan-badan perjuangan lalu sepakat untuk menyerbu pasukan Inggris di Surabaya; dengan demikian, nasib Surabaya pun ditentukan.</p><p>Fajar yang menyingsing pada 28 Oktober 1945 menandakan tepat 17 tahun sejak Sumpah Pemuda diikrarkan, dan pada hari itu jugalah Pertempuran Tiga Hari Surabaya dimulai. Pertempuran ini, yang berlangsung pada 28–30 Oktober 1945[13], mengejutkan Brigade Ke-49-nya Mallaby[13][16], padahal unit-unit terakhir brigade ini baru mendarat pada hari itu juga[16]. Brigade Ke-49 sedang tersebar di seluruh kota Surabaya saat para pejuang dan TKR Indonesia memulai serangannya, sekitar pukul 4-an sore pada tanggal 28 Oktober 1945[4][6][9][14][16][24][28].</p><p>Untuk memahami kegentingan situasi ini, ada baiknya mengulas kekuatan Brigade Ke-49 terlebih dahulu. Brigade dengan kekuatan 4,000-an prajurit ini merupakan bagian dari Divisi Ke-23 Inggris-India[16][21], yang terdiri dari:<br>1. Tiga batalyon infanteri (Mahratta Ke-4, Mahratta Ke-6, dan Rajputana Ke-5[21]), dengan 800-an prajurit per batalyon[11][23][31],<br>2. Satu resimen artileri dengan 24 meriam[21][31] dan 580-an prajurit[23],<br>3. Enam kompi pendukung dengan 120–160 prajurit per kompi[11][21], serta unit-unit lainnya[21].<br>Faktanya, tidak ada prajurit Gurkha dalam brigadenya Mallaby[21], tak seperti asumsi sebagian buku-buku Indonesia[20].</p><p>Brigade Ke-49 dengan cepat kewalahan. Dalam pertempuran ini, banyak satuan-satuan kecil Inggris-India yang dihabisi para pejuang karena tersebar dan terisolasi[16]; Mallaby dan stafnya saja hampir terkena rentetan tembakan pemuda[16]. Brigadenya Mallaby hanya memiliki 4,000 prajurit[21][23][31], dan di antaranya, hanya sekitar 3,000-an yang merupakan prajurit tempur[11][17][21][23]. untuk melawan kekuatan tempur TKR dan pemuda Surabaya, yang berkisar 15,000[8][22] — 30,000[19] personel, serta dengan dukungan massa penduduk setempat yang berjumlah 75–120 ribu orang[8][19][21].</p><p>Sayangnya, yang diserang bukanlah para prajurit Inggris-India saja, melainkan wartawan asing dan interniran sipil Sekutu pula. Wartawan India, P.R.S. Mani, dan wartawan asing lainnya yang di Surabaya diserang, dikepung, dan ditawan oleh pada pejuang tanpa ada provokasi[5][15]. Sementara itu, usaha evakuasi interniran sipil Sekutu yang dilakukan pasukan Mallaby turut menjadi korban, saat konvoi terakhir yang mengangkut para interniran diserang pemuda[16].</p><p>Ratusan interniran sipil Belanda sedang diangkut oleh konvoi tersebut[16], dengan kawalan 60-an prajurit Inggris-India[9], ketika dalam perjalanan mereka disergap oleh para pejuang Indonesia[1][2]. Para prajurit yang mengawal konvoi interniran tersebut mencoba melindungi mereka, tapi mereka pun kewalahan dan para pemuda menyerbu konvoi tersebut[1][2]. Beberapa interniran dilempari granat, 40-an wanita dan anak-anak dibantai para pejuang dengan senapan mesin, dan lainnya ditangkap atau melarikan diri[1][2]. Sekitar 150[1][2] — 300[10] wanita dan anak-anak tewas akibat kekejaman para pejuang Indonesia, sedangkan prajurit yang mengawal konvoi tersebut menderita lebih dari 40 korban jiwa[10].</p><p>Untungnya, sebagian besar interniran Sekutu telah terpusat di wilayah Darmo, yang dilindungi oleh Batalyon Rajputana Ke-5, Resimen Artileri India Ke-3, dan unit-unit lainnya[21]. Konsentrasi pasukan ini berarti wilayah Darmo, yang menampung sekitar 6,000-an interniran sipil, dilindungi lebih dari 1,000 prajurit Inggris-India yang juga diperkuat 24 pucuk meriam artileri[21], menjadikan wilayah Darmo relatif aman dari serangan pemuda[13][21].</p><p>Brigade Ke-49 menderita 420–480 korban tewas dan nyaris 900 korban luka[20]. Di sisi yang lain, para pejuang kita kehilangan 3,000-an korban jiwa[3] dan 3,000-an korban luka[8]. Sangat disayangkan, para interniran sipil Sekutu juga menderita[4][16] ratusan korban jiwa[1][2][10].</p><p>Sadar atas bahaya yang dapat menimpa baik pasukan Inggris-India dan para interniran sipil di Surabaya, Letnan Jenderal Christison selaku pimpinan Sekutu di Indonesia meminta Soekarno untuk mengintervensi di Surabaya[16]. Akhirnya, Soekarno, Hatta, dan Amir Sjarifuddin diterbangkan oleh sebuah pesawat Inggris ke Surabaya dan sampai pada siang hari, 29 Oktober 1945[5][13][22].</p><p>Tak lama setelah Soekarno menemui Mallaby, sebuah gencatan senjata yang diminta oleh pihak Inggris segera disetujui[4][24]. Gencatan senjata ini diikuti kesepakatan untuk mengevakuasi korban luka, jaminan akan keselamatan tawanan dari kedua belah pihak, dan kesepakatan lainnya[4][24]. Soekarno dan Hatta sendiri kurang menyetujui keputusan Surabaya menyerang Inggris[25]; Hatta bahkan mengatakan bahwa Moestopo adalah seorang pemberontak dan ekstremis[24]. Moestopo, setelah berdebat sengit dengan Hatta, lantas dipecat Soekarno dari jabatan Menteri Pertahanan[24].</p><p>Besok paginya, pada 30 Oktober, Mayor Jenderal Mansergh yang membawahkan Mallaby mendarat di Surabaya[4][24]. Dalam suatu perundingan antara Hawthorn, Mallaby, Soekarno, Hatta, Gubernur Soerio, serta perwakilan Inggris dan Indonesia lainnya, sebuah kesepakatan gencatan senjata tercapai kembali, dengan ketentuan lain yang jika disederhanakan berisi bahwa[24]:<br>1. TKR diakui oleh Inggris, dan baik TKR dan pemuda tak akan dilucuti.<br>2. Pasukan Inggris-India akan bertempat di pelabuhan dan wilayah Darmo, sedangkan pihak Indonesia berkuasa di luar kedua wilayah tersebut.<br>3. Evakuasi para interniran akan terus berlangsung dan keamanan mereka jadi prioritas, serta pemindahan para interniran tidak boleh dihalangi.<br>4. Para tawanan dari kedua belah pihak harus dibebaskan, dan sebuah Biro Kontak antara pihak Inggris dan Indonesia akan dibentuk[4].</p><p>Biro Kontak tersebut terdiri dari utusan pihak Inggris dan Indonesia[4]. Dari pihak Inggris ada Brigadir A.W.S. Mallaby, Kolonel Lewis H.O. Pugh[16], Mayor M. Hudson, Kapten H. Shaw, dan <em>Wing Commander </em>Groom[4]. Dari pihak Indonesia ada Residen Soedirman, Doel Arnowo, H. Roeslan Abdoelgani, T.D. Kundan, Muhammad Mangoendiprodjo[24], dan empat anggota lainnya[4]. Setelah perundingan selesai, Hawthorn, Soekarno, Hatta, dan Amir Syarifuddin meninggalkan Surabaya[16][24].</p><p>Sayangnya, persetujuan gencatan senjata Inggris-Indonesia tidak langsung ditepati kedua belah pihak[6][13][16][24][27]. Contoh dari ketidakpatuhan ini terjadi di Gedung Internasio, di mana sebuah kompi Inggris-India masih bersitegang dengan para pejuang Indonesia yang mengepung gedung tersebut[21]. Kompi yang berjumlah 120-an prajurit itu dipimpin Mayor K. Venu Gopal, yang ditekan oleh 500-an pemuda dan rakyat yang mengepung Internasio untuk menyerahkan senjata mereka[21].</p><p>Mallaby awalnya telah sempat meredakan situasi di sekitar Internasio, ketika ia datang dengan bendera putih untuk menenagkan kedua belah pihak, tapi tak lama kemudian, situasi memanas[21]. Maka, rombongan mobil Biro Kontak yang sedang berkeliling Surabaya menghampiri Gedung Internasio[4][21]. Rombongan ini terdiri dari Brigadir Mallaby, Kapten Shaw, Kapten R.C. Smith, Kapten T.L. Laughland, Residen Soedirman, Doel Arnowo, T.D. Kundan (seorang pedagang India), Muhammad Mangoendiprodjo (perwira TKR), dan lainnya[4][21].</p><p>Sesampainya dekat Gedung Internasio, beberapa kelompok kerumunan rakyat di sana menghentikan rombongan Biro Kontak tidak hanya sekali dan beberapa kali menuntut penyerahan pasukan Venu Gopal di dalam Internasio[21]. Biro Kontak menjawab berulang kali bahwa sudah ada gencatan senjata antara Inggris dan Indonesia[4][21], tapi sepertinya rakyat kurang puas. Biro Kontak pun bingung akan langkah yang kini perlu dilakukan. Meski ragu akan niat pihak Indonesia — mengingat bahwa banyak prajurit Inggris-India telah dibunuh setelah menyerah — Mallaby akhirnya memutuskan untuk memerintahkan agar kompinya Venu Gopal keluar tanpa senjata[21][24]. Mallaby mengutus Kapten Shaw ke Gedung Internasio untuk menyampaikan perintah tersebut, didampingi oleh T.D. Kundan dan Muhammad, sementara Mallaby, Smith, dan Laughland, dilucuti dan ditempatkan di mobilnya Residen Soedirman[4][21].</p><p>Ketika ketiga utusan Biro Kontak tersebut mendekati Internasio, kerumunan rakyat mencoba merangsek masuk ke Gedung Internasio[21]. Venu Gopal kemudian memperingatkan rakyat agar tidak memaksa masuk atau kompinya akan mulai menembak[21]. Walau Shaw, Kundan, dan Muhammad sempat dihalangi kerumunan rakyat ketika akan memasuki gedung, mereka bisa masuk, tapi setelah menyaksikan bahwa para pejuang telah mengarahkan sebuah senapan mesin ke pintu masuk Internasio[21].</p><p>Kapten Shaw, T.D. Kundan, dan Muhammad segera dipersilakan kompinya Venu Gopal memasuki Gedung Internasio[21]. Sebelum Venu Gopal bisa memutuskan langkah yang akan diambilnya[21], T.D. Kundan malah keluar dari Internasio[4]. Sayangnya, setelah Kundan keluar, kerumunan rakyat kembali mencoba merangsek masuk ke Internasio[21]. Sesuai dengan peringatannya tadi, Mayor Venu Gopal segera memerintahkan kompinya untuk menembaki pemuda dan rakyat yang mengepung Gedung Internasio[21].</p><p>Kekacauan lantas berkobar di sekitar Internasio[4][21]. Baku tembak antara kompi Venu Gopal dan ratusan pejuang berkecamuk selama beberapa jam[4][21][24]. Mallaby, Smith, dan Laughland meringkuk di dalam mobilnya Residen Soedirman[21][24]. Seorang pemuda sempat menembak mereka bertiga sebanyak empat kali[21][24]. Mujurnya, mereka selamat, tapi kemujuran ini tidak bertahan lama, sebab setelah itu, dua pemuda lainnya menghampiri mobil tersebut, dan sialnya, salah seorang pemuda tersebut tiba-tiba menembak Mallaby dari jarak dekat sebelum keduanya bersembunyi[21][24].</p><p>Smith dan Laughland keduanya bersaksi bahwa Mallaby tewas tak sampai semenit setelahnya[4][21][24] — masuk akal mengingat penembakan tersebut terjadi dari jarak dekat. Menebak bahwa kedua pemuda tadi akan kembali, Laughland dan Smith bersiap-siap melempar sebuah granat yang mereka sembunyikan[21][24]. Ketika kedua pemuda itu muncul dan menembak Laughland, Smith membalas dengan melempar granat tersebut, sebelum kedua kapten tersebut menceburkan diri ke Kali Mas, dan berenang ke pelabuhan[21][24].</p><p>Dengan demikian, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas di Surabaya, pada 30 Oktober 1945. Suatu sumber Indonesia meragukan bahwa Mallaby tewas karena tembakan pemuda, dan menyiratkan bahwa Mallaby mungkin saja tewas karena ledakan granat yang dilemparkan Smith[24], dengan alasan bahwa pernyataan Smith mengenai Mallaby tewas seketika bisa saja dinyatakannya untuk melindungi dirinya sendiri[24]. Hal tersebut bisa saja benar, tapi kita tahu jika Smith mengaku kepada J.G.A. Parrot kalau ia sengaja telah menyatakan bahwa Mallaby tewas seketika demi menjaga perasaan keluarganya Mallaby[21].</p><p>Lantas, siapakah yang menembak sang brigadir pada malam itu? Ada dua orang yang disebut-sebut sebagai pembunuh Brigadir Mallaby, yaitu Haji Abdul Azis dan Ook Hendranata[13][24].</p><p>Dua anggota TKR percaya Ook Hendranata-lah yang telah menembak Mallaby setelah keberanian Hendranata ditantang oleh komandan BKR Kota Surabaya, Sungkono[13]. Sementara itu, seorang pemuda bernama Amak Altuwy yakin bahwa ia menyaksikan Haji Abdul Azis menembak Mallaby[13]. Abdul Azis sendiri mengaku bahwa ia telah membunuh Mallaby, dan melaporkan aksinya kepada Doel Arnowo[13][24]. Walau begitu, kita tidak bisa sepenuhnya yakin siapakah yang sebenarnya membunuh Mallaby.</p><p>Hal yang pasti hanyalah bahwa tembak-menembak di sekitar Gedung Internasio baru mereda setelah suatu siaran radio oleh Bung Tomo menyerukan agar tembak menembak berhenti di malam itu juga[28]. Kematian Mallaby juga memaksa bawahannya, Kolonel Pugh, untuk mengambil alih kepemimpinan Brigade Ke-49[16]. Pihak Indonesia sempat meminta Pugh untuk menyerah, tapi sang kolonel menolak[8][12]. Ia memutuskan untuk memusatkan Brigade Ke-49 di dua lokasi, di pelabuhan dan di wilayah Darmo[12][16]. Pemusatan ini bisa terlaksana karena keberhasilan negosiasi Inggris-Indonesia setelah kematian Mallaby di Surabaya[12].</p><p>Pada 31 Oktober 1945, Letjen Christison selaku pemimpin pasukan Sekutu di Indonesia memperingatkan bahwa apabila pembunuh Mallaby tidak diserahkan, Inggris akan menggempur Surabaya[12][24]. Pernyataan resmi dari Surabaya menyanggah hal ini, ketika Doel Arnowo selaku ketua KNI Surabaya menyebutkan bahwa bagaimana Mallaby meninggal masih tidak jelas[13], dan beberapa laporan Indonesia lainnya juga yakin jika pembunuh Mallaby adalah dari pihak Inggris[24]. Pernyataan Doel Arnowo ini hanyalah bualan belaka, karena dia sendiri mendengar bahwa Mallaby sudah “dibereskan” pemuda[4]. Presiden Soekarno juga turut mengumumkan pada 31 Oktober kalau NICA-lah musuh Indonesia, bukan Sekutu, dan meminta dihentikannya serangan terhadap Inggris[4][17][24].</p><p>Selama seminggu setelah kematian Mallaby, evakuasi 6,000-an lebih interniran Sekutu dilaksanakan dengan relatif tertib[8][16]. Pasukan Divisi Inggris-India Ke-5 yang dipimpin Mayor Jenderal E.C. Mansergh — yang terlebih dahulu diperintahkan pergi ke Surabaya sejak 17 Oktober[4] — mulai mendarat sejak tanggal 1 November 1945[8], meski satuan-satuan utamanya baru mulai mendarat pada 3 November[12].</p><p>Diperlukan suatu penekanan bahwa Divisi Ke-5-nya Mansergh dikirim sebelum kematian Mallaby[4], dan perintah utama yang diberikan kepada Mansergh menekankan pada evakuasi interniran[12]. Oleh karenanya, tidak benar jika mereka didatangkan khusus untuk menyerang Surabaya[25]. Selain itu, perlu disebutkan pula bahwa Inggris tidak pernah menyalahkan Surabaya atau Republik Indonesia atas kematian Mallaby, melainkan hanya pada elemen-elemen ekstremis di pihak Indonesia saja[4][12]. Tentunya para pejuang di Surabaya kurang memberi perhatian pada hal tersebut[4], tapi pengetahuan ini penting untuk dipahami.</p><p>Mansergh akhirnya bertemu dengan Gubernur Soerio pada 7 November 1945[4][12][24]. Ia pun menuduh kalau pihak Indonesia tidak mampu menjaga ketertiban, telah menduduki lapangan udara Morokrembangan, sempat menghalangi evakuasi tawanan perang dan interniran Sekutu, dan tuduhan lainnya[4][24]. Dalam kesempatan ini, jasad Brigadir Mallaby juga diserahkan kepada pihak Inggris oleh delegasi Indonesia[24]. Gubernur Soerio segera membantah segala tuduhan Mansergh[4][24]. Pihak Indonesia terbukti tidak menduduki lapangan udara Morokrembangan, dan sang gubernur mengklaim ketertiban di Surabaya tetap terjaga dan tak ada penghalangan evakuasi interniran dan tawanan perang Sekutu[4][24].</p><p>Sanggahannya Soerio kerap dipercaya sumber Indonesia yang menyebutkan kalau tuduhan Mansergh tak berdasar[4][24], namun Mayjen Mansergh juga tidak sepenuhnya salah. Tuduhan Mansergh seputar interniran terbukti benar, sebab ribuan interniran lainnya baru bisa dibebaskan pasukan Inggris-India setelah Pertempuran Surabaya dimulai[3][8][12][25]. Selain itu, sepertinya Mayjen Mansergh awalnya berharap bahwa tidak akan ada halangan dalam pelaksanaan tugas evakuasi tahanan perang dan interniran Sekutu[12]. Akan tetapi, agaknya penolakan Gubernur Soerio mengubah baik pikiran sang mayor jenderal dan atasan-atasannya di Jakarta.</p><p>Mayjen Mansergh pun memberikan suatu ultimatum pada 9 November 1945 dengan <em>deadline </em>pada jam enam sore hari itu juga, yang sederhananya memerintahkan supaya:<br>1. Seluruh tawanan perang Sekutu dilepaskan pihak Indonesia.<br>2. Pimpinan Surabaya menyerah kepada pihak Inggris.<br>3. Orang-orang selain TKR dan polisi wajib menyerahkan senjata mereka.<br>4. Surabaya akan diamankan oleh pasukan Sekutu, dan orang-orang selain TKR dan polisi yang masih bersenjata dapat dihukum mati.<br>5. Orang-orang yang mengancam keselamatan para interniran dapat dihukum mati.<br>6. Penduduk wanita dan anak-anak dapat meninggalkan Surabaya sebelum tanggal 10 November 1945[12].</p><p>Merespons ultimatum ini, pimpinan Surabaya berkonsultasi kepada Soekarno dan pemerintah pusat[13][24]. Sayangnya, usaha ini tak berhasil sebab Letnan Jenderal Christison menolak permintaan Menteri Luar Negeri Ahmad Subarjo agar Inggris mencabut ultimatum tersebut. Keputusan pun diserahkan kepada pimpinan Surabaya[13][24], yang sepakat untuk mempertahankan Surabaya sampai titik darah penghabisan[24]. Rakyat diperingatkan, TKR dan badan perjuangan disiapkan, dan pusat kepemimpinan Surabaya segera dipindahkan ke luar Surabaya[13][24].</p><p>Meski Letjen Christison mengancam akan menggempur Surabaya atas kematian Mallaby, posisi Inggris sempat melunak melihat adanya harapan kesepakatan antara pihaknya dan Indonesia[12]. Sayangnya, isu evakuasi tahanan perang dan interniran tetap menjadi masalah, walau sebagian besar mungkin telah dilaksanakan[8][12]. Hal tersebut, serta urutan kejadian seputar kedatangan Divisi Ke-5, mengarahkan kami kepada kesimpulan bahwa kematian Mallaby bukanlah alasan terutama atas serangan Inggris pada 10 November 1945. Kematian sang brigadir memang berpengaruh, tapi beberapa pengamat yakin kalau ini bukanlah sebab utama meletusnya Pertempuran 10 November[12][25].</p><p>Pembahasan Pertempuran 10 November harus dimulai dari kekuatan kedua belah pihak terlebih dahulu. Beberapa sumber Indonesia mengatakan kekuatan Inggris di Surabaya mencapai 28,000 prajurit[5][13], tapi ini hanyalah bualan. Pasukan Inggris-India di Surabaya terdiri dari Divisi Ke-5 dan Brigade Ke-49, dan Brigade Ke-49 telah menderita nyaris 500 korban jiwa dari total 4,000 prajurit. Divisi Ke-5 terdiri dari dua brigade infanteri dan satuan-satuan divisionalnya ketika pertempuran dimulai, antara lain:<br>1. Brigade Ke-9 dan Brigade Ke-123[8][12][16], berjumlah 6,000–7,000 prajurit[21][23],<br>2. Tiga[16] atau empat[5] resimen artileri, dengan total 1,800–2,400 prajurit[23] dan 72–96 meriam[23][31],<br>3. Tiga batalyon divisional[5][16], seluruhnya sekitar 2,400-an prajurit[11][21][23], dan<br>4. Satu skuadron tank Stuart[8][14][22][27][30] dan satu skuadron tank Sherman[5][8][22][30], berjumlah total 30–40 tank[8][14][22][27][31].<br>Jadi, kekuatan pasukan Inggris-India di Surabaya berjumlah 14–16,000 prajurit, yang didukung setidaknya 72–120 pucuk artileri, 30–40 tank, 40-an pesawat[12][29], satu kapal penjelajah, lima kapal <em>destroyer</em>, serta beberapa kapal kecil lainnya[5][22].</p><p>Menghadapi kekuatan Inggris tersebut, kekuatan inti Surabaya diperkirakan berjumlah 15–32 ribu pejuang[3][19][22], yang terdiri dari anggota TKR dan badan-badan perjuangan[13][19][22]. Mereka diperkuat oleh sebagian penduduk Surabaya yang ikut bertempur serta ribuan bala bantuan Indonesia dari luar Surabaya[20]. Dapat diestimasi bahwa ada setidaknya 30–50 ribu pejuang di Surabaya, tapi bukannya tidak mungkin kalau kekuatan pejuang mencapai 150,000 orang[19]. Para pejuang juga memiliki senjata api, meriam artileri darat maupun antiudara, tank-tank dan panser-panser, dan lain sebagainya[5][13][18][19], biarpun masih jauh dari yang dimiliki Inggris dalam kualitas, kuantitas, dan keahlian penggunaan. Para pejuang turut diperkuat dengan bantuan lain yang ditawarkan penduduk Surabaya, seperti makanan, pengevakuasian dan perawatan korban luka, pemindahan mayat, dan lain-lain demi menolong para pejuang[20].</p><p>Akhirnya, pada pagi hari, 10 November 1945, Inggris mulai menggempur Surabaya[12][16]. Pasukan Mansergh bergerak perlahan dan hati-hati, sebab “penyapuan” Surabaya ini memang didesain untuk meminimalisasi korban di pihak Inggris[8][12]. Tembakan dari meriam darat maupun meriam kapal serta pengeboman pesawat memang digunakan Inggris secara tepat guna namun seperlunya saja[8][12]. Tank-tank Sherman milik Inggris saja hanya diperbolehkan menembakkan meriamnya jika diizinkan oleh seorang brigadir[8]. Tapi, tentunya Inggris lebih memprioritaskan keselamatan pasukan Inggris-Indianya dibandingkan korban-korban Indonesia yang ditimbulkannya.</p><p>Perlawanan para pejuang Surabaya awalnya bersifat fanatik dan bunuh diri[12]. Beberapa pejuang berani mati dengan meledakkan dirinya dekat tank-tank Inggris[20]. Akan tetapi, taktik Indonesia lambat laun berubah, dari serbuan membabi buta menjadi serangan yang lebih terarah[12]. Pihak Indonesia juga diuntungkan dengan fakta bahwa mereka lebih familiar dengan tata kota Surabaya; pertempuran kota adalah medan perang yang baru bagi Divisi Ke-5-nya Mansergh, yang sebelumnya bertempur di padang pasir Afrika Utara dan hutan-hutan Burma[12].</p><p>Dalam minggu pertama, Inggris sukses menduduki beberapa lokasi penting dan menguasai sepertiga Surabaya[13]. Keganasan serangan balasan para pejuang Indonesia, disertai bombardir Inggris, menimbulkan sekitar 300 korban jiwa Indonesia dalam waktu empat hari[24]. Sebaliknya, kehati-hatian Inggris terbukti dengan minimnya korban Inggris-India yang hanya menderita 18 korban tewas dan 95 luka-luka dalam minggu pertama pertempuran[3].</p><p>1,000–3,000 interniran dibebaskan oleh para prajurit Inggris-India dalam minggu pertama[3][12]; ratusan lagi akan mereka amankan dalam dua minggu berikutnya[3]. Selain itu, seminggu setelah pertempuran meletus, daerah pemikuman Tionghoa di Surabaya berhasil diamankan Inggris[12]. Meski ada beberapa penduduk Tionghoa di Surabaya yang pro-Republik[17][20], lainnya lebih menyukai perlindungan Inggris[12][20]. Beberapa sumber memang menyebutkan ada beberapa penduduk Tionghoa yang malah membantu Inggris[20][24], tapi sebagian besar penduduk Tionghoa, serta nonpribumi lainnya, lebih memilih untuk tidak terlibat walau tetap menunggu kedatangan Inggris[8][17].</p><p>Ribuan penduduk pribumi melarikan diri dari Surabaya setiap harinya seiring dengan datangnya ribuan pejuang dari luar Surabaya[17][20]. Walau pasukannya Mansergh sempat mengalami kemunduran lokal[13][20][24], Inggris pelan tapi pasti menguasai[3][8][12][16] dengan dukungan udara, darat, dan laut yang efektif[12]. Kemajuan Inggris dibayar mahal dengan darah pemuda. Soehario Padmodiwirjo, seorang pimpinan Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR), mengisahkan bagaimana gempuran artileri Inggris menghancurkan markas PTKR[19]. Ia sendiri sempat tidak siuman, tapi beberapa pemuda lain tewas seketika dalam kondisi yang mengenaskan akibat gempuran tersebut[19].</p><p>Sekitar dua minggu setelah pertempuran dimulai, pada 24 November, TKR dan pemuda telah terpukul mundur ke daerah Wonokromo[13][24]; dengan kata lain, dua per tiga dari Surabaya sudah dikuasai Inggris[3]. Butuh waktu sekitar empat hari lagi bagi Inggris untuk mengusir para pejuang dari Wonokromo[24], sebelum Divisi Ke-5 menganggap bahwa Pertempuran Surabaya telah berakhir di sini[8][12]. Masih ada perlawanan Indonesia di wilayah Gunungsari[22] dan di pinggiran Surabaya[12], tapi karena tak terlalu signifikan, pertempuran Surabaya umumnya dianggap telah usai pada akhir November atau awal Desember 1945[12][17][25].</p><p>Harga yang dibayar pihak Indonesia amatlah mahal. Inggris memperkirakan nyaris 4,700 korban Indonesia, di antaranya 1,600-an korban jiwa[14]. Beberapa estimasi lain memberikan jumlah 6,000 korban[25], sedangkan lainnya menyebutkan antara 7,000 sampai 15,000 tewas di pihak Indonesia[12]. Roeslan Abdoelgani, salah satu anggota Biro Kontak, memperkirakan jumlah korban sebesar 16,000 di pihak Indonesia[4]. Kasarnya, dapat ditaksir bahwa ada antara 5,000 sampai dengan 15,000, atau lebih, korban Indonesia dalam Pertempuran Tiga Hari dan Pertempuran 10 November. Di samping itu, ratusan senjata api dan puluhan meriam TKR dan pejuang juga jatuh ke tangan Inggris[22].</p><p>Di lain pihak, para prajurit Inggris-India “hanya” menderita ratusan korban. Salah satu taksiran yang ada memberikan angka 166 korban[25], tapi tak diketahui rincian angka ini. Christison mengestimasi kalau ada 600-an korban di pihak Inggris[7], tapi tidak diketahui apakah ini termasuk korban dari Pertempuran Tiga Hari atau tidak. Secara kasar, bisa diperkirakan kalau jumlah korban Inggris-India tak melebihi angka 600-an korban dalam Pertempuran 10 November, dan mungkin sekitar 2,000 jika memperhitungkan Pertempuran Tiga Hari.</p><p>Selebihnya, kira-kira ada setidaknya 500 korban Tionghoa[3] atau bahkan lebih dalam Pertempuran Surabaya. Ada ratusan korban di pihak interniran dan tahanan perang Sekutu akibat aksi-aksi pemuda sebelum dan selama Pertempuran Tiga Hari dan Pertempuran 10 November[1][2][10]. Entah berapa korban yang diderita kebangsaan dan etnis lainnya. Penduduk Surabaya nonpribumi umumnya menyambut baik ketenangan yang dibawa pasukan Inggris-India di Surabaya setelah pertempuran usai[8][12], sedangkan 400,000–500,000 rakyat pribumi mengungsi keluar dari Surabaya selama pertempuran ini berkobar[20].</p><p>Peristiwa-peristiwa di Surabaya pada Oktober — November 1945 berdampak luas bagi Indonesia, Inggris, dan Belanda. Keteledoran Kapten Huyer berakibat jatuhnya puluhan ribu senjata Jepang ke tangan Indonesia, yang memberikan Indonesia kekuatan tempur sampai dengan 1949, ketika Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Ribuan warga sipil, prajurit, dan pejuang juga menjadi korban dalam perebutan Surabaya, yang pada akhirnya dikuasai Inggris sebelum diserahkan ke Belanda.</p><p>Dinamika perpolitikan Inggris-Belanda-Indonesia turut dipengaruhi Pertempuran Surabaya. Inggris kian enggan menanggung beban kolonialisme Belanda dan malah makin kooperatif dengan Indonesia, yang memang sudah dimulai Inggris sejak September 1945. Hebatnya perlawanan Indonesia juga memaksa Belanda untuk lebih diplomatis dengan Indonesia, maka dampak Surabaya bagi Indonesia melampaui faktor dorongan moril yang kerap digaungkan.</p><p>Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa Surabaya adalah suatu keteledoran besar baik di pihak Inggris, Belanda, maupun Indonesia. Mengenai 10 November, Jenderal A.H. Nasution menyebutkan kalau pertempuran itu ialah suatu bencana bagi Indonesia[17]. Kita juga tidak boleh meniadakan bahwa pihak Indonesia juga telah berlaku kejam, baik dengan pembantaian wanita dan anak-anak sebelum dan selama pertempuran, pembunuhan tawanan perang, dan lain sebagainya. Ini bukan berarti kita tidak boleh mengenang para pahlawan, malah lebih dari itu, marilah kita tetap menjadikanHari Pahlawan untuk mengenang perjuangan bangsa kita, tapi tanpa mengabaikan kelamnya sejarah Indonesia pula.</p><h3><strong>Referensi</strong></h3><ol><li>1945. Internees’ Fate, Convoy Massacres in Java. <em>The West Australian</em>. [Diakses dari trove.nla.gov.au/newspaper/article/44830229]</li><li>1945. 100 mad hours in the Indonesian revolt. <em>The Sunday Sun &amp; Guardian</em>. [Diakses dari trove.nla.gov.au/newspaper/article/229026363]</li><li>1945. <em>Netherlands News, Volume 14</em>. New York: Netherlands Information Bureau. [Diakses dari books.google.com/books?id=PFA8AQAAIAAJ]</li><li>Abdulgani, R, 1994. <em>Seratus Hari di Surabaya yang Menggemparkan Indonesia</em>. Jakarta: Jayakarta Agung Offset.</li><li>Alwi, D, 2012. <em>Pertempuran Surabaya November 1945</em>. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.</li><li>Anderson, BRO, 1972. <em>Java in a Time of Revolution, Occupation and Resistance: 1944–1946</em>. New York: Cornell University Press.</li><li>Bayley, C dan Harper, T, 2007. <em>Forgotten Wars: The End of Britain’s Asian Empire</em>. London: Penguin Books Ltd.</li><li>Brett-James, A, 1951. <em>Ball of Fire: The Fifth Indian Division in the Second World War</em>. Aldershot: Gale &amp; Polden Ltd.</li><li>Frederick, WH, 1989. <em>Visions and Heat: the Making of the Indonesian Revolution</em>. Ohio: Ohio University Press.</li><li>Frederick, WH, 2012. “The killing of Dutch and Eurasians in Indonesia’s national revolution (1945–49): a ‘brief genocide’ reconsidered”. Journal of Genocide Research, 14(3–4): 359–380.</li><li>Gilbert, A, 2005. <em>Going to War on the Tube</em>. BBC, WW2 People’s War. [Diakses dari bbc.co.uk/history/ww2peopleswar/stories/49/a5010049.shtml]</li><li>Jordan, D, 2000. “‘A Particularly exacting operation’: British Forces and the Battle of Surabaya, November 1945”. Small Wars &amp; Insurgencies, 11(3): 89–114.</li><li>Kasdi, A, dkk., 1986. <em>Pertempuran 10 November 1945: Citra Kepahlawanan Bangsa Indonesia di Surabaya</em>. Surabaya: Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945.</li><li>Kirby, SW, 1969. <em>The War Against Japan, Volume V: The Surrender of Japan</em> [Kindle]. Inggris: Her Majesty’s Stationery Office.</li><li>Mani, PRS dan Goodall, H, 2014. <em>British Army dispatches reporting from Batavia and Surabaya, Indonesia, after Japanese surrender (includes personal diary entries), 1945</em>. UTS. [Diakses dari hdl.handle.net/10453/28090]</li><li>McMillan, R, 2005. <em>The British Occupation of Indonesia 1945–1946</em>. Oxon: Routledge.</li><li>Nasution, AH, 1977. <em>Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 2: Diplomasi atau Bertempur</em>, Bandung: DISJARAH-AD.</li><li>Remmelink, WGJ, 1978. “The Emergence of the New Situation: the Japanese Army on Java after the Surrender”. Militaire Spectator 147(2): 49–66.</li><li>Padmodiwiryo, S, 2016. <em>Revolution in the City of Heroes: A Memoir of the Battle that Sparked Indonesia’s National Revolution</em>. Singapura: Ridge Books.</li><li>Palmos, F, 2016. <em>Surabaya 1945: Sakral Tanahku</em>. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.</li><li>Parrott, JGA, 1975. “Who Killed Brigadier Mallaby?”. Indonesia 20:87–111.</li><li>Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, 1998. <em>Pertempuran Surabaya</em>. Jakarta: Balai Pustaka.</li><li>Schilling. <em>The Organization of Armies</em>. Columbia University. [Diakses dari ccnmtl.columbia.edu/services/dropoff/schilling/mil_org/milorgan_99.html]</li><li>Setiadijaya, B., 1992. <em>10 November 1945: Gelora Kepahlawanan Indonesia</em>. Jakarta: Yayasan 10 November 1945.</li><li>Siong, HB, 2000. “”Sukarno-Hatta versus the Pemuda in the first months after the surrender of Japan (August-November 1945)”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 156(2): 233–273.</li><li>Siong, HB, 2003. “Captain Huyer and the massive Japanese arms transfer in East Java in October 1945”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 159(2): 382–428.</li><li>Springhall, J, 1996. “‘Disaster in Surabaya’: The death of brigadier Mallaby during the British occupation of Java, 1945–46”. The Journal of Imperial and Commonwealth History, 24(3): 422–443.</li><li>Sutomo, 2008. <em>Pertempuran 10 November 1945: Kesaksian &amp; Pengalaman Seorang Aktor Sejarah</em>. Jakarta: Visimedia.</li><li>2015. <em>Royal Air Force’s size and structure</em>. BBC, BBC Academy. [Diakses dari bbc.co.uk/academy/en/articles/art20130702112133719]</li><li>Effendi, MY, 2007. <em>Punjab Cavalry: Evolution, Role, Organisation, and Tactical Doctrine 11 Cavalry (Frontier Force) 1849–1974</em>. Pakistan: OUP Pakistan.</li><li>Forty, G, 2000. <em>British Army Handbook 1939–1945</em>. London: Chancellor Press.</li></ol><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f7513a271937" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/historypedia/pertempuran-surabaya-pembangkangan-miskomunikasi-dan-konflik-atas-surabaya-f7513a271937">Pertempuran Surabaya: Pembangkangan, Miskomunikasi, dan Konflik atas Surabaya</a> was originally published in <a href="https://medium.com/historypedia">Historypedia ID</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Kemerdekaan Ditumpas di Semarang]]></title>
            <link>https://medium.com/historypedia/kemerdekaan-ditumpas-di-semarang-4da76244fcee?source=rss----390c82eaa03b---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4da76244fcee</guid>
            <category><![CDATA[history]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[world-war-ii]]></category>
            <category><![CDATA[kemerdekaan-indonesia]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Historypedia]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 24 Oct 2020 02:57:07 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2020-12-03T09:12:58.148Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/756/1*PrFRJTY1_fRH-bHJdRk7-Q.png" /></figure><blockquote>Ditulis oleh A. Buana, dalam rangka kolaborasi Historypedia dengan Inspect History.</blockquote><p>Perang Dunia Kedua berakhir dengan penyerahan Jepang terhadap blok Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Tetapi, kekalahan Jepang ini tidak serta merta diikuti dengan pengembalian wilayah Sekutu; antara lain, Hindia Belanda. Mengambil kesempatan dari kebingungan dan ketidakjelasan situasi pada saat itu, Soekarno dan Hatta, dengan dukungan pihak nasionalis Indonesia, segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan Indonesia tentunya tak cukup dideklarasikan, namun juga perlu dipertahankan. Sayangnya, dua bulan kemudian, kemerdekaan Indonesia di Semarang akan ditumpas Jepang dalam Pertempuran Lima Hari Semarang.</p><p>Pertama-tama, mari kita kembali kepada proklamasi kemerdekaan dan segala dampaknya. Proklamasi cepat disambut kaum nasionalis dengan pendirian pemerintahan-pemerintahan lokal di berbagai daerah. Pemerintahan daerah di Semarang berdiri pada 19 Agustus¹¹, yang dikepalai Wongsonegoro¹³. Sementara itu, pada 22 Agustus 1945 di Jakarta, Badan Keamanan Rakyat (BKR) didirikan⁵, yakni cikal bakal TNI modern⁹. Pendirian BKR Jakarta pun segera diikuti dengan pembentukan BKR lokal⁵. BKR Semarang dibentuk pada 28 Agustus¹¹ yang terdiri dari para pemuda dan orang-orang bekas Heiho dan PETA (Pembela Tanah Air)⁵. Selain BKR, berbagai kelompok pemuda dan badan kelaskaran juga didirikan¹³. Di Semarang sendiri, ada AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia), AMKA (Angkatan Muda Kereta Api), Barisan Banteng, Barisan Hizbullah, dan sebagainya¹¹ ¹³.</p><p>Pendirian pemerintahan lokal lalu disambung dengan berbagai usaha pihak Indonesia untuk merebut senjata dari pasukan Jepang sepanjang September — Oktober 1945 di seluruh Jawa⁹. Usaha perebutan senjata ini sebenarnya telah “dipermudah” pihak Jepang⁸. Contohnya, kebijakan Satuan Darat Ke-16 Jepang (yang berkuasa atas Jawa) sejak September 1945 adalah untuk menyerahkan urusan keamanan kepada pihak Indonesia⁸. Meski demikian, pelaksanaan dari kebijakan ini berbeda-beda oleh pasukan-pasukan Jepang di lapangan⁸, yang berdampak pada jalannya perebutan senjata oleh pihak Indonesia. Sebagai contoh, pasukan Jepang merebut Bandung dari tangan Indonesia setelah diprovokasi pihak pemuda pada tanggal 10 Oktober¹ ⁸. Sebaliknya, Sudirman, kepala BKR wilayah Banyumas, memperoleh ribuan senjata dari Jepang tanpa perlawanan¹².</p><p>Di tengah puluhan konflik lokal antara militer Jepang dengan pejuang Indonesia, ada ratusan ribu interniran dan tahanan perang Sekutu yang tersebar di seluruh Jawa³. Para interniran ini ialah warga sipil Belanda³, sedangkan tahanan perang Sekutu berkebangsaan Inggris, Belanda, Australia, dan lainnya. Untuk Semarang sendiri, ada ribuan interniran Sekutu di sana, sementara ada belasan ribu interniran di Ambarawa dan Banyubiru⁴. Sekutu membentuk RAPWI, atau Recovery of Allied Prisoners of War and Internees, untuk mengurus para interniran tersebut⁴. Sejumlah kecil personel RAPWI diterjunkan ke Magelang pada 18 September 1945 di bawah pimpinan Wing Commander Tull dari RAF, angkatan udara Inggris¹⁰. Unit RAPWI tersebut kemudian bekerja sama dengan pasukan Jepang untuk mengamankan puluhan ribu interniran di wilayah Semarang dan Ambarawa, dengan unit RAPWI Semarang di bawah komando Kapten Wishart¹⁰. Dengan kedatangan RAPWI, keamanan para interniran Sekutu juga jadi perhatian Jepang¹⁰. Maka, mungkin demi menjaga ketenangan lokal, ketika BKR Semarang meminta senjata dari pihak Jepang, Mayor Jenderal Nakamura (komandan Jepang di Jawa Tengah) memberi izin pada garnisun Jepang di Semarang untuk menyerahkan ratusan senjata bagi pihak Indonesia¹⁰.</p><p>Sebelum melanjutkan, agaknya lebih tepat apabila kita bahas mengenai garnisun Jepang di Semarang, yaitu Kido Butai. Tak seperti asumsi awal oleh beberapa sejarawan, Kido Butai bukanlah pasukan elit¹⁰, melainkan hanyalah suatu batalyon pelatihan khusus² yang kebetulan turut ditugaskan menjaga Semarang. Unit tersebut sepertinya dinamakan Kido Butai sebab unit tersebut dipimpin oleh seorang perwira, Mayor Kido Shinichiro¹⁰.</p><p>Kembali ke Semarang, sebenarnya para pemuda sudah mulai merampas sejumlah senjata dari Jepang sejak akhir September¹¹, dengan jumlah yang cukup signifikan. Kido Butai sendiri tidak dilucuti, tapi sesuai dengan izin Nakamura yang telah disebutkan sebelumnya, Kido Butai pun menyerahkan 660–700 pucuk senapan bekas PETA kepada BKR dan pemuda Semarang pada tanggal 4 dan 5 Oktober¹⁰. Sangat disesalkan bahwa para pemuda dan rakyat masih lapar senjata¹⁰. Maka, beberapa hari setelah mereka sukses merebut puluhan ribu amunisi senapan², para pemuda memaksa Kido agar Kido Butai dilucuti dan senjatanya diberikan kepada mereka¹⁰. Oleh karenanya, pada hari itu juga, tanggal 12 Oktober 1945, Kido pun pergi ke Magelang untuk membahas masalah ini dengan Mayjen Nakamura¹⁰.</p><p>Berlawanan dengan sikap Jepang sebelumnya, permintaan senjata kali ini ditolak Jepang¹⁰. Penolakan ini berdasar pada argumen Mayor Kido bahwa senjata Jepang tidak seharusnya diserahkan begitu saja¹⁰. Penyerahan senjata adalah hal yang tabu di mata militer Jepang sebab senjata mereka adalah kepunyaan sang Kaisar¹⁰. Sebaliknya, senjata yang sebelumnya diserahkan Kido Butai merupakan senjata bekas PETA di Semarang¹⁰. PETA dan Heiho, yakni unit-unit militer Indonesia di bawah kendali Jepang, telah dilucuti dan dibubarkan pasukan Jepang tak lama setelah kekalahan Jepang¹². Senjata PETA sendiri berasal dari persenjataan KNIL, yaitu militer Hindia Belanda, yang dirampas Jepang; penyerahan senjata pada tanggal 4 dan 5 Oktober tersebut adalah penyerahan senjata bekas PETA, bukan Jepang¹⁰.</p><p>Berbekal argumen tersebut, Kido memaksa Mayjen Nakamura berpikir ulang¹⁰. Akhirnya, Nakamura meminta pendapat markas militer Jepang di Jakarta mengenai masalah penyerahan senjata Jepang ini¹⁰. Permintaan Nakamura pun segera dijawab; markas militer Jepang melarang adanya penyerahan senjata¹⁰. Larangan tersebut bahkan mengizinkan penggunaan kekuatan militer demi menghentikan perebutan senjata ini¹⁰. Kido, agaknya puas dengan keputusan pimpinan Jepang di Jakarta², segera kembali ke Semarang¹⁰. Argumen Kido inilah yang menjadi alasan pribadi Kido dalam serangannya terhadap Semarang¹⁰. Pastinya, larangan penyerahan senjata memberikan izin yang dibutuhkan Kido¹⁰, dan ia juga khawatir pada nasib para interniran Sekutu yang terancam oleh para pemuda², tapi provokasi dari pihak pemudalah yang menjadi alasan utama mengapa Kido menyerang Semarang.</p><p>Sehari kemudian, pada tanggal 13, Mayjen Nakamura ditawan para pejuang Indonesia¹⁰. Malamnya, suatu rapat Angkatan Muda Republik Indonesia diadakan di Semarang, di mana mereka membulatkan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia⁵. Besoknya, AMRI bersama BKR menangkap baik orang-orang yang tertuduh NICA⁵ maupun para anggota RAPWI¹⁰. Mereka juga menangkap ratusan warga sipil Jepang dan sebagian dari orang-orang sipil ini lantas dipenjarakan di Penjara Bulu¹⁰. Eskalasi dan provokasi ini memperkuat niat Kido dalam merebut kembali Semarang; pada hari yang sama, ia merampungkan rencana Pertempuran Semarang¹⁰.</p><p>Kini kita akan beralih sebentar kepada dr. Kariadi, yang terkenal sebab ia ditembak oleh orang Jepang ketika sang dokter sedang memastikan rumor diracuninya suatu sumur air di Semarang¹⁰ ¹¹. Faktanya, sumur mana yang sebenarnya Kariadi tuju tak jelas, karena sumber-sumber yang ada saling membantah satu sama lain¹⁰. Kejadian yang pasti hanyalah bahwa ia ditembak di Jalan Pandanaran pada 14 Oktober, sebelum tengah malam¹¹. Mengapa ia ditembak tidak jelas, tapi kematiannya kayaknya terkait dengan sebuah kejadian lain di jalan tersebut¹⁰.</p><p>Ternyata, pada malam yang sama, Polisi Istimewa Indonesia sedang mencoba memindahkan 300-an orang sipil Jepang¹⁰. Orang-orang Jepang tersebut telah mendengar kabar jika Kido Butai akan menyerang, sehingga mereka lantas melawan Polisi Istimewa¹⁰. Walau awalnya berbekal senjata seadanya, mereka sukses memperoleh beberapa senjata api¹⁰. Sepertinya penembakan dr. Kariadi terjadi di tengah kerusuhan ini. Akhirnya, orang-orang Jepang itu kabur ke tangsi Kido Butai di Jatingaleh, selatan Semarang¹⁰.</p><p>Sampailah kita pada tengah malam antara tanggal 14 dan 15 Oktober 1945, di mana Mayor Kido dan pasukannya sudah siap merebut Semarang dari tangan Republik. Akan tetapi, sebelum beranjak untuk mengulas pertempurannya, ada baiknya apabila kita bahas kekuatan pihak Jepang dan juga Indonesia terlebih dahulu.</p><p>Berapa banyak prajurit Jepang di Semarang pada saat itu sebenarnya kurang jelas. Diketahui bahwa ada unit militer lain bernama Yagi Butai di Semarang, yang dipimpin Mayor Yagi dan berkekuatan 675 prajurit¹¹. Kekuatan Kido Butai sendiri dapat diperkirakan hanya berjumlah 112 prajurit¹⁰. Selain itu, ada satu kompi di bawah pimpinan Kapten Yamada dengan 101 prajurit¹⁰, satu peleton Jepang dari Cepiring¹⁰ (berjumlah 60 prajurit⁷), serta unit Kempeitai Semarang yang kira-kira berkekuatan 40-an prajurit¹⁰ ¹². Sebagai tambahan, menurut sebuah jurnal oleh Prof. Han Bing Siong, ada sekitar 600-an personel nonmiliter Jepang bersenjatakan bambu runcing yang ikut bertempur¹⁰ ¹¹. Merangkum berbagai sumber yang ada dan segala kesimpangsiurannya, sepertinya kekuatan tempur Jepang di Semarang berjumlah 988–1,000 prajurit dan 600-an personel sipil.</p><p>Di sisi yang lain, kekuatan tempur Indonesia juga sulit ditaksir. Kido Butai memberikan perkiraan sementara bahwa di Semarang ada sekitar 600-an anggota BKR, 700-an polisi Indonesia, serta 1,200-an pemuda¹⁰ ¹¹. Perkiraan BKR menurut Kido Butai sepertinya agak rendah, sebab PETA dan Heiho di Semarang dulunya berjumlah 1,600-an personel¹⁰. Jumlah pemuda di Semarang dapat mencapai 4,700-an orang, karena perkiraan kasar Kido Butai atas kekuatan tempur Indonesia di Semarang berjumlah 7,000 personel¹¹. Selain itu, ratusan atau bahkan ribuan BKR dan pemuda dari luar Semarang juga turut bertempur di sekitar Semarang¹¹. Oleh karenanya, kekuatan tempur Indonesia di Semarang kira-kira berjumlah 3,500–7,000 personel, di mana ada 1,600-an anggota BKR, 700-an polisi, dan 1,200–4,700 pemuda. Jika ditambahkan dengan bantuan dari luar Semarang, totalnya kekuatan tempur Republikan di Semarang bisa mencapai lebih 10,000 personel.</p><p>Serangan Kido dimulai pada jam tiga pagi, tanggal 15 Oktober 1945 ¹⁰. Rencana serangan Kido sederhana: pasukan sayap kiri yang lebih besar akab menyerang bagian barat Semarang, sedangkan sayap kanan yang dipimpin Kapten Sato akan menyerbu bagian timur Semarang¹⁰. Serangan sayap kiri Jepang bergerak cepat ke arah utara; alhasil, pada siang itu juga, Gubernur Wongsonegoro berhasil ditawan Jepang¹⁰. Sebaliknya, serangan sayap kanan Jepang bergerak dengan lebih lambat¹⁰, meski hal ini agaknya disengaja. Karena kemah-kemah interniran Sekutu berada di bagian timur Semarang, serangan Jepang yang lebih kuat di bagian barat diharapkan bisa mengalihkan perhatian pihak Indonesia agar pasukan Kapten Sato lebih mudah mengamankan interniran Sekutu¹⁰.</p><p>Merespon serangan Jepang ini, satuan-satuan BKR, polisi, dan pemuda melawan dengan sengit. Amarah pemuda pun meluap. Sekitar 25 pemuda Indonesia pun mengunjungi Penjara Bulu pada malam 15 Oktober¹¹. Di penjara itu, ada sekitar 900 tawanan Belanda¹¹, tetapi target para pemuda ini ialah ratusan tawanan sipil Jepang di sana² ¹⁰. Pemuda-pemuda itu kemudian membantai para tawanan Jepang tersebut¹ ¹⁰ ¹¹. Sekitar 100–150 orang Jepang tewas¹ ⁸ ¹⁰ ¹¹, puluhan hilang¹ ⁸, dan belasan luka-luka¹⁰. Besoknya, pasukan Jepang akhirnya mencapai Penjara Bulu² ¹⁰. Kedatangan pasukan Jepang yang membasmi pemuda di Penjara Bulu segera disambut dengan sorak-sorai dari ratusan tawanan Belanda². Meski Anderson mencatat bahwa sepertinya keganasan Jepang meluap setelah mereka tahu akan pembantaian Penjara Bulu¹, menurut catatan Siong, tingkah laku Jepang sudah ganas sejak awal, walau tak semua tahanan mereka bunuh dan anak-anak serta remaja mereka lepas¹⁰.</p><p>Pertempuran terus berlanjut dengan sengit. Pada sore hari, 15 Oktober 1945, kurang lebih 600-an orang sipil Jepang dipersenjatai dengan bambu runcing dan diperintahkan oleh Kido untuk ikut bertempur¹⁰. Dalam waktu tiga hari, serangan Jepang cepat bergerak ke arah utara dan sukses menguasai sebagian besar Semarang¹¹. Selain membunuh banyak tawanan Indonesia, pasukan Jepang juga membakar Kampung Batik Wedusan, yang membumihanguskan 250 rumah¹¹. Membalas keganasan ini, para pejuang Indonesia balik membunuh puluhan atau bahkan ratusan warga sipil Jepang¹ ¹¹. Perlawanan BKR dan pemuda Semarang masih tetap berlangsung, sementara ratusan BKR dan pemuda dari berbagai arah mencoba mendobrak pertahanan pasukan Kido¹¹. Meski begitu, usaha-usaha ini dengan mudah dihambat dan dipatahkan di barat dan selatan Semarang oleh pasukan Jepang, sedangkan pertempuran berkecamuk dengan hebatnya di bagian timur dan timur laut Semarang, di mana BKR dan pemuda dari arah Demak dan Pati menyerang Semarang¹¹.</p><p>Negosiasi agar diadakannya suatu gencatan senjata antara pihak Indonesia dan Jepang sebenarnya telah diusahakan sejak 16 Oktober² ¹¹, tetapi terus-menerus gagal. Kegagalan ini disebabkan keinginan pihak Jepang agar pihak Indonesia menyerahkan senjata mereka kembali ke pasukan Jepang¹¹. Tentunya pihak Indonesia tak sudi dan pastinya menolak¹¹. Penolakan ini lalu dibalas dengan ancaman Jepang, yakni bahwa mereka akan mengebom Semarang¹¹. Tidak diketahui apakah ini hanyalah gertak belaka atau ancaman nyata; tapi apapun itu, tiba-tiba, pasukan Inggris-India akhirnya mendarat di Semarang¹¹.</p><p>HMS Glenroy berlabuh di Semarang pada pagi hari¹¹, 19 Oktober 1945. Kapal Inggris (jenis Landing Ship, Infantry³) ini mendaratkan Batalyon 3/10 Gurkha³ yang dipimpin Kolonel Edwardes⁴. Kedatangan batalyon Inggris-India ini segera meredam pertempuran¹¹, yang kira-kira berhenti pada jam dua siang hari itu juga¹³. Keesokan harinya, konferensi antara pihak Indonesia, Jepang, dan Inggris di Hotel Du Pavilion akhirnya menghasilkan suatu kesepakatan gencatan senjata¹¹. Suatu pertemuan tambahan juga digelar pada 21 Oktober 1945, dengan kesepakatan kalo pasukan Jepang harus melepaskan seluruh tawanan Indonesia, dan pasukan Jepang di Semarang akan dilucuti oleh pasukan Inggris-India⁶.</p><p>Ratusan, dan ribuan, korban berjatuhan di kedua pihak. Berbagai sumber sepakat bahwa sekitar 2,000 pejuang dan rakyat Indonesia tewas¹ ⁵ ⁹ ¹³. Jumlah korban luka di pihak Indonesia tak pasti; walau, menilik dari proporsi korban tewas dan hilang terhadap korban luka di pihak Jepang, bisa diasumsikan bahwa ada setidaknya ratusan korban luka di pihak Indonesia. Kido Butai menaksir bahwa ada sekitar 40-an prajurit Jepang yang tewas, 40-an luka-luka, dan 210-an hilang¹⁰, sedangkan ada sekitar 140–250 tawanan sipil Jepang yang tewas, hilang, dan luka-luka¹ ¹⁰.</p><p>Semarang akan menjadi batu loncatan Inggris dalam mengamankan interniran Sekutu di Ambarawa dan Magelang⁴. Pasukan Jepang di Semarang di kemudian hari akan bertempur bahu-membahu bersama pasukan Inggris-India di Semarang, Magelang, dan Ambarawa² ³ ⁴ ⁸ ¹⁰. Dengan penguasaan Kido atas Semarang, kedatangan Inggris yang mengakhiri Pertempuran Lima Hari Semarang berarti Semarang langsung diduduki Sekutu tanpa ada perlawanan yang berarti. Hal ini memampukan gerakan Sekutu ke Jawa Tengah, seperti Magelang, Ambarawa, Banyubiru, dan Ungaran, serta lenyapnya kemerdekaan Indonesia di Semarang.</p><p>Referensi:</p><ol><li>Anderson, BRO, 1972. Java in a Time of Revolution, Occupation and Resistance: 1944–1946. New York: Cornell University Press.</li><li>Connor, SB, 2015. Mountbatten’s Samurai: Imperial Japanese Forces under British Control, 1945–1948 [Kindle]. Inggris: Seventh Citadel.</li><li>Kirby, SW, 1969. The War Against Japan, Volume V: The Surrender of Japan [Kindle]. Inggris: Her Majesty’s Stationery Office.</li><li>McMillan, R, 2005. The British Occupation of Indonesia 1945–1946. Oxon: Routledge.</li><li>Nasution, AH, 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 1: Proklamasi, Bandung: DISJARAH-AD.</li><li>Nasution, AH, 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 2: Diplomasi atau Bertempur, Bandung: DISJARAH-AD.</li><li>Ness, L, 2014. Rikugun: Guide to Japanese Ground Forces 1937–1945, Volume 1. Solihull: Helion &amp; Company.</li><li>Remmelink, WGJ, 1978. “The Emergence of the New Situation: the Japanese Army on Java after the Surrender”. Militaire Spectator 147–2: 49–66.</li><li>Sedjarah Militer Kodam VII/Diponegoro, 1968. Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro. Semarang: Jajasan Penerbit Diponegoro.</li><li>Siong, HB, 1996. “The Secret of Major Kido; The Battle of Semarang, 15–19 October 1945”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 152: 382–428. [doi: 10.1163/22134379–90003005].</li><li>Panitia Penyusunan Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang, 1977. Sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang. Semarang: Suara Merdeka.</li><li>Post, P [penyunting], 2010. The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War. Leiden: Koninklijke Brill NV.</li><li>Purwantana, PK, 1976. “Segi Koordinasi Pertempuran Lima Hari Semarang”. Bulletin Yaperna, 3–15: 3–20.</li></ol><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4da76244fcee" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/historypedia/kemerdekaan-ditumpas-di-semarang-4da76244fcee">Kemerdekaan Ditumpas di Semarang</a> was originally published in <a href="https://medium.com/historypedia">Historypedia ID</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Merdeka Karena Lalai]]></title>
            <link>https://medium.com/historypedia/merdeka-karena-lalai-56f64e2dfad4?source=rss----390c82eaa03b---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/56f64e2dfad4</guid>
            <category><![CDATA[history]]></category>
            <category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[kemerdekaan-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[sejarah]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Historypedia]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 20 Sep 2020 10:31:48 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2020-10-05T20:18:27.783Z</atom:updated>
            <cc:license>https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/</cc:license>
            <content:encoded><![CDATA[<h3>Merdeka Karena Lalai: Lalainya Sekutu, Malapetakanya Hindia Belanda</h3><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*tWfnMit3KulSS2WlEqTqZQ.png" /></figure><p>Sudah tak asing lagi bagi pelajar Indonesia untuk mendengar bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan buah perjuangan dan diplomasi rakyat Indonesia¹. Tentunya tanpa mengurangi rasa hormat bagi para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia, agaknya, ada alasan untuk menganggap jika nasib kemerdekaan Indonesia dalam bulan-bulan sekitar proklamasi kemerdekaan lebih ditentukan oleh kelalaian pihak non-Indonesia, yakni pihak Sekutu dan Jepang.</p><p>Kekalahan Jepang pada 14/15 Agustus 1945 segera digunakan oleh Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan diproklamirkan setelah Soekarno dan Hatta berunding dengan beberapa tokoh nasionalis lainnya². Proklamasinya Soekarno dan Hatta ini mengambil kesempatan suatu “kekosongan kekuasaan” semu yang terjadi di Indonesia, yang akan diterangkan lebih lanjut di bawah. Akan tetapi, perlu diingat bahwa usulan proklamasi oleh Soekarno dan Hatta turut digaungkan ke segelintir petinggi militer Jepang di Batavia³, bukan hanya ke tokoh-tokoh Indonesia lainnya.</p><p>Sayangnya, para proklamator gagal mendapatkan persetujuan ataupun izin dari petinggi Angkatan Darat Jepang di Batavia, sehingga masih ada risiko nyata bahwa Jepang bisa menekan proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan kekuatan militer³. Jika begitu, proklamasinya Soekarno dan Hatta bisa disebut mujur, sebab nyatanya Jepang memang tidak mengambil langkah militer terhadap proklamasi kemerdekaan² ³. Dari sudut pandang yang lain, Soekarno dan Hatta juga bisa dibilang mengambil risiko yang sangat berbahaya. Mereka tak bisa berbuat banyak jika Jepang memutuskan untuk menggunakan kekuatan militer mereka untuk menekan kemerdekaan Indonesia. Maka, bukankah pembiaran Jepang terhadap kemerdekaan Indonesia sudah cukup menentukan?</p><p>Peristiwa menentukan lainnya bagi kemerdekaan Indonesia terjadi pula di belahan dunia yang lain, dan ini menjadi akar dari adanya kekosongan kekuasaan semu di Indonesia. Marilah kita putar balikkan waktu kembali ke Konferensi Potsdam pada Juli — awal Agustus 1945 antara Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Uni Soviet⁴. Dalam konferensi tersebut, petinggi militer AS dan Inggris membahas mengenai peningkatan partisipasi Inggris dalam perang melawan Jepang⁵. Dalam konferensi ini pula, suatu pergantian tanggung jawab terjadi. AS, yang selama ini telah bertempur di Pasifik barat (seperti di Papua, Morotai, dan Filipina¹⁵), menyerahkan tanggung jawabnya atas beberapa wilayah di Asia Tenggara kepada Inggris.</p><p>Lebih tepatnya, kendali dan tanggung jawab atas Jawa, Kalimantan, dan Indochina selatan diserahkan dari AS kepada Komando Asia Tenggara (<em>South East Asia Command </em>atau SEAC) Inggris⁵. Perubahan ini telah diusulkan sejak April 1945, tapi baru diresmikan pada 20 Juli 1945, sebelum diinformasikan kepada komandan SEAC, Laksamana Mountbatten, pada 24 Juli 1945 ⁵. Karena Jepang menyerah hanya tiga pekan setelah penyerahan tanggung jawab ini kepada SEAC¹⁵, keputusan ini bisa dibilang amat terlambat. Beban tanggung jawab SEAC diperberat dengan perintah-perintah Douglas MacArthur, Panglima Tertinggi untuk Pasukan Sekutu (<em>Supreme Commander for the Allied Powers </em>atau SCAP). MacArthur memerintahkan bahwa unit-unit lokal Jepang hanya boleh menyerah setelah Jepang menyerah secara formal⁵, yang baru terjadi pada 2 September 1945 ¹⁵. Pada 2 September 1945, MacArthur memberi perintah lainnya yang menyatakan bahwa SEAC kini bertanggung jawab atas penyerahan pasukan Jepang di seluruh Hindia Belanda.</p><p>Dampak dari perubahan-perubahan ini cukup besar. SEAC, yang seharusnya hanya mengurus Burma, Malaya, Sumatra, dan Thailand⁷, kini harus bertanggung jawab juga atas Jawa dan Indochina selatan⁵ — Kalimantan dan Indonesia timur merupakan urusan Australia untuk sementara waktu. Tugas ini amat berat sebab baik pasukan, logistik, dan informasi yang dimiliki SEAC jauh dari cukup⁸. Maka dari itu, unit-unit SEAC baru mendarat di Jawa pada akhir September 1945 ¹³, memberikan waktu sejak 15 Agustus 1945 bagi kaum nasionalis Indonesia untuk memproklamirkan dan mempersiapkan diri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.</p><p>Kini kita bisa melihat bagaimana kelalaian Sekutu di tingkat teratas berakibat pada keterlambatan datangnya Sekutu, atau SEAC, ke Indonesia. Tentunya, keterlambatan ini hanya sebagian dari alur kisah kemerdekaan kita, sebab pihak Jepang sendiri lalai pula dalam beberapa tugasnya. Keteledoran Jepang sebagaimana dijabarkan di bawah turut menyulitkan SEAC di Hindia Belanda, memberikan Republik Indonesia lebih banyak waktu dan kesempatan untuk menyebarkan kabar kemerdekaan dan bersiap mempertahankan kemerdekaan.</p><p>Salah satu dari kelalaian pihak Jepang di Indonesia melibatkan pasukan Jepang di Jawa. Pendudukan militer Jepang di Jawa merupakan tanggung jawab dari <em>16th Army</em>-nya Jepang (Satuan Darat Ke-16). Satuan Darat Ke-16 sendiri berada di bawah komando <em>Japanese Expeditionary Forces Southern Region</em> (Satuan Darat Kawasan Selatan), unit militer yang dipimpin oleh Marsekal Terauchi dan yang bertanggung jawab atas seluruh Asia Tenggara⁸. SEAC telah mencoba menghubungi Satuan Darat Kawasan Selatan sejak 15 Agustus 1945, meski baru bisa terhubung pada 20 Agustus 1945; SEAC pun memberikan beberapa instruksi, antara lain adalah agar Satuan Darat Kawasan Selatan mempertahankan status quo di wilayah yang masih dikendalikannya⁸.</p><p>Mengikuti instruksi dari SEAC, Satuan Darat Kawasan Selatan memberi perintah kepada Satuan Darat Ke-16 di Jawa untuk membubarkan PETA (Pembela Tanah Air) dan Heiho, menjaga keamanan, dan mempertahankan status quo pada 29 Agustus 1945 ⁸. Akan tetapi, Satuan Darat Ke-16 telah membubarkan PETA dan Heiho bahkan sebelum perintah tersebut disampaikan Satuan Darat Kawasan Selatan⁵ ⁸ ⁹. Langkah mandiri Satuan Darat Ke-16 dalam membubarkan PETA dan Heiho adalah langkah yang tepat. Meski demikian, bertolak belakang dengan perintah status quo Satuan Darat Kawasan Selatan, Satuan Darat Ke-16 telah memutuskan secara terpisah untuk memberlakukan suatu kebijakan yang akan menjadi “senjata makan tuan” bagi pihak Jepang maupun Sekutu⁸.</p><p>Kebijakan tersebut ialah ‘self-internment’, yang berarti, sederhananya, bahwa Satuan Darat Ke-16 akan “memenjarakan” diri mereka sendiri. Iya, mayoritas satuan-satuan militer Jepang di Jawa secara perlahan mengurung diri mereka sendiri di wilayah terpencil demi menghindari insiden dengan pasukan Sekutu⁸ ¹⁰. Kebijakan ini juga didasari persepsi Jepang bahwa potensi perlawanan pribumi tak akan signifikan sebab PETA dan Heiho telah dibubarkan; jadi tugas menjaga keamanan dan status quo dapat dilakukan dengan jumlah pasukan yang minim dan dengan kooperasi dari satuan-satuan polisi Indonesia⁸. Asumsi ini tak salah¹⁰, sebab sampai awal September, situasi di Jawa bisa dibilang aman. Walau begitu, lama kelamaan, konflik antara pasukan Jepang dan para pejuang tak bisa dihindari⁸.</p><p>Salah satu penyebab perselisihan Jepang-Indonesia tersebut tentunya merupakan kebutuhan pejuang Indonesia akan persenjataan. Maka, mari kita mulai dari persenjataan para pejuang Indonesia., yang berasal dari persenjataan Jepang. Salah satu kejadian paling menentukan bagi usaha perjuangan kita terjadi di Surabaya, pada awal Oktober 1945, yang akan memberikan ‘arek-arek Suroboyo’ senjata yang cukup untuk bertempur melawan Inggris dalam Pertempuran Tiga Hari (28–30 Oktober 1945, ketika Brigade Ke-49 Mallaby dikepung¹¹) dan Pertempuran Surabaya. Meski usaha-usaha perebutan senjata telah dilakukan oleh ‘arek-arek Suroboyo’ sebelum tanggal 2 atau 3 Oktober 1945 ¹¹, keteledoran seorang kapten Belanda, Kapten Huyer, akan memberikan puluhan ribu pucuk senjata ke tangan para pejuang di seluruh Jawa bagian timur⁸ ¹⁰ ¹¹.</p><p>Sebagian besar senjata Jepang di Surabaya jatuh ke tangan ‘arek-arek Suroboyo’ melalui kelalaian Huyer. Huyer, tanpa perintah resmi dari SEAC, menerima penyerahan pasukan Jepang di Surabaya pada 2 atau 3 Oktober 1945 ⁸ ¹⁰. Penyerahan Jepang kepada Huyer ini melibatkan pelucutan senjata Jepang, dan komando Jepang di Surabaya menganggap bahwa penyerahan ini berarti mereka sudah tak memegang tanggung jawab atas Surabaya. Huyer datang ke Surabaya dengan segelintir prajurit, dengan kata lain, ia tak memiliki pasukan untuk menjaga persenjataan tersebut. Tanpa perlawanan, para pejuang mengambil alih senjata Jepang¹⁰. Ini adalah suatu bencana, sebab beberapa batalyon Jepang di Jawa bagian timur juga berada di bawah komando Jepang di Surabaya. Penyerahan Surabaya segera diikuti oleh penyerahan dan ‘self-internment’ batalyon-batalyon Jepang di Jawa bagian timur, yang memberikan para pejuang kita 21–31 ribu pucuk senjata⁸ ⁵.</p><p>Meski begitu, kebijakan ‘self-internment’ tak serta merta menghilangkan daya tempur pasukan Jepang. Mari kita alihkan perhatian kita ke Semarang. Mayor Kido, pimpinan dari ‘Kido Butai’ yang merupakan unit garnisun Semarang, sebenarnya telah menyerahkan sekitar 700 pucuk senjata bekas PETA dan Heiho kepada para pejuang sebagaimana diperintahkan atasannya Kido¹². Pemuda-pemuda kita tidak puas. Mereka masih memaksa untuk melucuti senjata milik ‘Kido Butai’, dan mereka dianggap berbahaya terhadap ribuan interniran sipil Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Magelang. Kido pun bertindak — dalam waktu lima hari, ‘Kido Butai’ merebut Semarang dari tangan Indonesia¹². Pertempuran ini dikenal kini sebagai Pertempuran Lima Hari, 15–19 Oktober 1945.</p><p>Contoh lain dari perlawanan Jepang lainnya dapat terlihat di Bandung. Suatu persetujuan pada 4 Oktober 1945 antara pihak Indonesia dan komandan Jepang di Bandung, Mayor Jenderal Mabuchi, memberikan pihak Indonesia keleluasaan¹⁶ di Bandung. Tak lama setelah persetujuan itu, para pemuda dan pejuang memprovokasi pasukan Jepang di Bandung, melalui pengambilalihan suatu landasan udara dan perampasan persenjataan Jepang¹⁶. Mabuchi muak — pasukannya menangkap lalu mengarak pimpinan Indonesia di Bandung yang dipaksa mengimbau agar para pemuda tak menyerang pasukan Jepang¹⁶. Pasukannya Mabuchi juga mengambil alih Bandung kembali dari kendali parsial Indonesia pada 10 Oktober 1945 ¹⁶.</p><p>Tapi, apabila Jepang masih mampu menekan pejuang-pejuang kita, mengapa tak banyak dari mereka yang melakukannya? Pertanyaan tersebut akan mengarahkan kita kepada pernyataan oleh komandan AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), Letnan Jenderal Christison. Ia menyatakan pada 29 September¹⁰ atau 1 Oktober 1945 ¹³, tak lama sampai di Batavia, bahwa keamanan di daerah di luar kendali Inggris menjadi tanggung jawab Indonesia. Pernyataan ini memberikan NKRI pengakuan de facto dari pasukan Inggris, dan mengakibatkan perselisihan antara Inggris dan Belanda¹³ ¹⁴. Pernyataan ini juga memberikan alasan tambahan bagi unit-unit Jepang untuk membiarkan usaha-usaha para pejuang Indonesia.</p><p>Sebagai penutup, kita akan kembali ke Surabaya. Brigadir Jenderal Mallaby dan Brigade Ke-49-nya mendarat di Surabaya pada 25/26 Oktober 1945 ³ ¹³. Ia telah mencapai suatu kesepakatan dengan pimpinan Indonesia di Surabaya, sementara tanpa sepengetahuannya, komando Inggris di Batavia kemudian menjatuhkan selebaran berisi ancaman agar pihak Indonesia segera menyerahkan senjata mereka³ ¹³. Pejuang-pejuang Surabaya pun menyerang pasukan Mallaby dalam Pertempuran Tiga Hari — di mana 4.000 pasukan Mallaby dan ratusan warga sipil Belanda diserang oleh setidaknya 100 ribu pejuang³ ¹³ ¹⁴. Serangan oleh pejuang kita ini sebenarnya merupakan pembangkangan¹⁷ terhadap perintah Jakarta, alias pemerintah pusat Indonesia di Jakarta.</p><p>Keteledoran Inggris ini berujung pada tewasnya 400-an dan terlukanya 894 prajurit Inggris-India¹¹, sedangkan 3.000 pejuang di pihak Indonesia tewas¹⁴. Brigade Ke-49 Mallaby juga tidak siap bertempur¹⁸, yang menjelaskan tingkat korbannya yang tinggi. Kelalaian Mallaby ini bukannya tak terjustifikasi, sebab meski dikatakan bahwa pasukannya memprovokasi para pejuang, pihak Indonesialah yang menyerang terlebih dahulu¹¹ ¹⁷. Kisah Pertempuran Surabaya yang mengikuti Pertempuran Tiga Hari dan kematian Mallaby cukup terkenal dan tak perlu dijelaskan — walau perlu dikatakan bahwa lebih masuk akal apabila Pertempuran Surabaya bukanlah bentuk balas dendam Inggris atas kematian Mallaby³.</p><p>Sebagai kesimpulan, tak sedikit dari berbagai kesempatan yang memungkinkan Indonesia mempertahankan kemerdekaannya lahir dari ketidakjelasan situasi pada saat itu, yang sendirinya diakibatkan kelalaian pihak Sekutu dan Jepang. Perjuangan para pahlawan perlu kita ingat dan hasrat perjuangan mereka harus dipertahankan, tapi di sisi lain hal ini bisa berujung pada bencana. Mengambil contoh Pertempuran Tiga Hari di Surabaya, ada berbagai macam kesaksian atas liarnya dan barbarnya ‘arek-arek Suroboyo’ yang membunuh wanita dan anak-anak dan memutilasi mayat para prajurit Inggris-India³ ¹³.</p><p>Beberapa penulis sejarah beropini bahwa intervensi tersebut merupakan kesalahan³, tapi semisal pasukan Mallaby dan warga sipil Belanda di Surabaya dihabisi, apa kata dunia³? Bukannya tak mungkin simpati internasional untuk Indonesia lenyap ketika kabar musnahnya Brigade Ke-49 terdengar. Lagipula, Pertempuran Tiga Hari terjadi sebab Surabaya tidak patuh pada pemerintah pusat Indonesia*. Hatta, ketika datang ke Surabaya mendampingi Soekarno untuk mengakhiri Pertempuran Tiga Hari, bahkan menyebut dr. Moestopo, seorang pemimpin para pejuang Surabaya, sebagai seorang ekstremis³!</p><p>Terlihat pulalah bahwa persepsi mengenai bulan-bulan awal kemerdekaan Indonesia masih sering diselimuti bias pro-Indonesia. Minimnya pemahaman konteks dan kurangnya hasrat akan objektivitas bukanlah sesuatu yang patut dilakukan dalam menulis sejarah. Diperlukan suatu reevaluasi atas perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang seharusnya dilakukan tanpa bias kebangsaan kita.</p><p>Referensi:<br>¹ Sardiman dan Lestariningsih, AD, 2017. <em>Sejarah Indonesia, Kelas XI Semester 2</em>. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan<br>² Nasution, AH, 1977. <em>Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 1: Proklamasi</em>. Bandung: DISJARAH-AD<br>³ Siong, HB, 2000. “Sukarno-Hatta Versus the Pemuda in the First Months after the Surrender of Japan (August-November 1945)”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 156: 233–273. [Diakses 19–08–2020, doi: 10.1163/22134379–90003844]<br>⁴ “The Potsdam Conference, 1945” [daring]. United States Department of State. [Diakses 19–08–2020, history.state.gov/milestones/1937–1945/potsdam-conf]<br>⁵ Kirby, SW, 1969. <em>The War Against Japan, Volume V: The Surrender of Japan</em> [Kindle]. Inggris: HMSO.<br>⁶ “SCAP Directives to the Imperial Japanese Government” [daring]. National Diet Library Digital Collection. [Diakses 19–08–2020, dl.ndl.go.jp/info:ndljp/pid/9885063]<br>⁷ “Order of Battle South East Asia Command, 1943” [daring]. National Archives of Singapore. [Diakses 19–08–2020, nas.gov.sg/archivesonline/maps_building_plans/record-details/b79d84a2–57a3–11e6-b4c5–0050568939ad]<br>⁸ Remmelink, WGJ, 1978. “The Emergence of the New Situation: the Japanese Army on Java After the Surrender”. De Militaire Spectator, 147(2): 49–66<br>⁹ Oktorino, N, 2019. <em>Heiho</em>. Jakarta: Elex Media Komputindo<br>¹⁰ Siong, HB, 2003. “Captain Huyer and the Massive Japanese Arms Transfer in East Java in October 1945”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 159: 291–350. [Diakses 19–08–2020, doi: 10.1163/22134379–90003746]<br>¹¹ Palmos, F, 2016. <em>Surabaya 1945: Sakral Tanahku</em>. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.<br>¹² Siong, HB, 1996. “The Secret of Major Kido; The Battle of Semarang, 15–19 October 1945”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 152: 382–428. [Diakses 19–08–2020, doi: 10.1163/22134379–90003005]<br>¹³ McMillan, R, 2005. <em>The British Occupation of Indonesia 1945–1946</em>. Oxon: Routledge<br>¹⁴ “Netherlands News” [daring]. [Diakses 19–08–2020, hdl.handle.net/2027/uc1.$c160722]<br>¹⁵ 1950. <em>Reports of General MacArthur: Volume 1</em>. Amerika Serikat: Department of the Army<br>¹⁶ Anderson, BRO, 1972. <em>Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–1946</em>. New York: Cornell University Press<br>¹⁷ Kasdi, A, dkk., 1986. <em>Pertempuran 10 November 1945</em>. Surabaya: Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945<br>¹⁸ Parrot, JGA, 1975. “Who Killed Brigadier Mallaby?”. Indonesia. 20: 87–111</p><p>Referensi lainnya:<br>Nasution, AH, 1977. <em>Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 2: Diplomasi atau Bertempur</em>. Bandung: DISJARAH-AD<br>Setiadijaya, B, 1992. <em>10 November 1945</em>. Jakarta: Yayasan 10 November ‘45</p><p>Oleh A. Buana, diunggah ulang dengan suntingan dari timeline.line.me/post/_dRTqjYr1k1kfNPHCGFLWZCPDjvpAP5KhFBqSb3c/1159766710409034297 dan timeline.line.me/post/_dRTqjYr1k1kfNPHCGFLWZCPDjvpAP5KhFBqSb3c/1159783476009031523</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=56f64e2dfad4" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/historypedia/merdeka-karena-lalai-56f64e2dfad4">Merdeka Karena Lalai</a> was originally published in <a href="https://medium.com/historypedia">Historypedia ID</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>