You Don’t Know Jack (2010)

Al Pacino vs Jack Kevorkian

Kematian Robin William beberapa tahun yang lalu masih menjadi kehilangan yang berarti (bagi saya). Robin memiliki nggambleh power yang oke punya. Bila didukung screenplay yang memberikan kesempatan untuk unjuk power nggambleh, ia akan bersinar.

Yang lebih muda — sebutlah Tom Hardy atau Edward Norton, juga top markotop (menurut saya). Si Iron Man itu, ya bagus, Robert Downey Jr. Terbukti di beberapa judul film yang dibintanginya, power of gambleh yang disuguhkannya lumayan menggigit.

Sam Rockwell juga lumayan powerful, sayangnya orang ini baru bisa berpower di karakter slengean — filmnya yang berjudul Don Verdean membuktikan kurang nyokot-nya Sam Rockwell bila karakter yang dimainkannya ciyus.

Lokal Endonesah? Saya belum menemukan lagi yang power gambleh-nya sehebat Christine Hakim.

Kesempatan nggambleh

Power of Gambleh seorang aktor sekilas terlihat seperti skill individu, ketrampilan, atau yang lebih mistis lagi; bakat. Seberapa besar power of gambleh yang bisa dihasilkan oleh sang aktor bergantung pada kesempatan yang disediakan oleh screenplay. Ambillah contoh Robert Downey Jr yang powerful di semua sekuel Iron Man, namun lemah di Avenger, dan Civil War. Tony Stark tidak lagi muncul sebagai pribadi yang unik dan se-individualistik seperti di sekuel-sekuel Iron Man. Salah satunya karena ruang sempit yang ada di kedua film tersebut. Tempatnya nyerocos di embat oleh kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan oleh Avenger untuk melindungi dunia. Kita tidak lagi melihat celoteh-celoteh individualistik milik Tony Stark yang nyokot.

Siapa Jack? Medicine — Medicide.

Jack Kevorkian, yang populer di negeri asalnya sebagai Doctor Death, adalah salah satu dokter yang tidak ndokter.

Jack Kevorkian hadir sebagai salah satu agen euthanasia, atau yang lebih dikenal dengan istilah assissting suicide. Assissting suicide adalah keadaan dimana seorang pasien meminta pada sang dokter untuk ‘disembuhkan’ dari penyakit yang dideritanya dengan cara membantunya untuk mati. Medicine — Medicide.Ngono kuilah, males njelaske jane.

Film ini memaparkan lika-liku perjuangan Jack Kevorkian melegalkan praktik assissting suicide, praktik perdukunan yang sudah tentu kesusu ditolak oleh agama. Bahkan di negaranya kebebasan, kebebasan semacam ini bukan lagi kebebasan yang proper. Duh dek istilaeh hits tnan, ‘proper’.

Karakter yang membawa panji-panji ideologis dengan sedemikian kuatnya (Jack Kevorkian) biasanya berakhir sebagai karakter heroik fiktif yang kehilangan jati diri aslinya, seperti yang terjadi pada beberapa film biografi — yang terbaru sebutlah Trumbo — atau yang lokal itu ya Habibi Ainun — dimana para pemeran ‘yang dibiografikan’ malah membawa citra baru bagi ‘yang dibiografikan’. Tapi tak apa — itulah resiko membiografikan, resiko membungkus kembali barang yang sudah tidak terbungkus.

Lalu apa yang membedakan film biografi ini dengan Habibi Ainun? Sebenarnya tidak ada. Ahahaha. Keduanya sama kok, bila dilihat dari sisi sinematografi, pengemasan kisah yang memiliki rentang waktu sedemikian lama, dan bla-bla-bla.

Al Pacino

Bagi yang familiar dengan Al Pacino, film ini adalah salah satu film yang layak untuk difamiliarkan. Mengapa? Sebab di film ini kita bisa melihat kembali power of gambleh yang sudah sangat jarang muncul di film-film, katakanlah akhir-akhir ini. Sementara bagi yang belum familiar dengannya, tentu bisa memfamiliarkan.

Oh, ada juga aksi komedi (yang minim action) diantara Jack dan kakak perempuan Jack, Margo. Adegan-adegan yang mempertontonkan hubungan kakak-adik ini dipenuhi aksi komedi kasat mata berbahan dasar power of gambleh — yang memiliki komplektisitas, konteks, wacana, dramaturgi, dan lain sebagainya (alah embuh) yang ditata sedemikian rupa, dan tidak tumplek wutah saat dicerna oleh penonton.

Singkatnya pelm You Dont Know Jack ini, walau didominasi oleh power of gambleh milik Al Pacino, masih bercitarasa film pilosopis, yang hobi meninggalkan pertanyaan-pertanyaan kecil di benak penontonnya.

Ps: saya tak jadi memasukkan persoalan penistaan agama dan kebebasan yang bertanggung jawab yang lagi hits, sebab saya pens berat pelm ini, pelm yang ragu-ragu tapi benar.
Like what you read? Give Sambodo Sondang a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.