Menjadi Hujan

Sebuah kisah, bahwa sejatinya wanita memimpin untuk mendampingi.

Bukan untuk menjadi lebih tinggi atau lebih didepan, namun untuk selalu ada disamping berjalan berdampingan mencapai tujuan yang selaras demi visi besar yang telah diimpikan bersama.


Prologue

Gimana Nu, jadi ngahim?”

Pertanyaan dengan nada serupa sering sekali digulirkan pada diriku yang sejatinya seorang perempuan yang notabene memiliki jutaan hambatan untuk memegang tampu kepemimpinan.

Aku adalah seorang perempuan kelahiran 1996, setahun lebih muda dari tahun kelahiran normal angkatan ku yaitu 1995. Aku adalah seorang perempuan yang tinggal di Bandung dan berkuliah di Bandung. Selama 19 tahun hidup selalu di Bandung, tidak pernah mengecap apa yang disebut oleh orang-orang “Merantau”. Aku juga adalah seorang perempuan dengan orang tua yang sangat keras mengenai jam malam seorang perempuan, jangan harap melihat seorang Nunu berkeliaran di kampus hingga jam 11 malam. Jika aku pernah ditemui pada jam langka tersebut, maka yakinlah kampus sedang ada sebuah kegiatan eventual yang sangat urgent tidak bisa dihindari lagi kepulangan malamnya.

Sesungguhnya, pertanyaan serupa dengan “Gimana Nu, jadi ngahim?” bukan baru-baru saja dilontarkan pada masa-masa ini. Semenjak masa-masa pencarian ketua Patlaborcamp pun pernyataan serupa pun sering sekali dilontarkan, seperti “Udahlah Nu, daripada susah mencari mendingan kamu aja yang jadi ketua Patlaborcamp-nya”


Bermaksud Jumawa

Mungkin kalian yang membaca tulisan pada bagian Prologue akan berfikir bahwa aku bermaksud Jumawa. Menunjukan bahwa orang-orang mengharapkan aku untuk memimpin mereka, mengurusi mereka, menjadi pengambilan keputusan untuk mereka.

Ya, aku (mungkin) bermaksud untuk jumawa. Terkadang rasa besar hati muncul dalam diri, rasa ingin mengambil “amanah” tersebut pun membeludak dan membuncah di dalam dada. Berfikir bahwa mungkin hal tersebut bisa menjadi sarana aktualisasi diri.

“Ingat Nu, jangan membiasakan hal yang tabu”
- Fathimatuz Zahro (Roro), PL’13

Kalimat itu, adalah titik awal permulaan dan pemaknaan ulang dari peran wanita sebagai pemimpin. Ya, kalimat itu dilontarkan oleh sahabat ku saat berpekan-pekan tak kunjung menemukan ketua Patlaborcamp 2014 dan pernyataan seperti : “Udahlah Nu, daripada susah mencari mendingan kamu aja yang jadi ketua Patlaborcamp-nya”, “Kamu aja Nu yang jadi ketuanya! Bisa kok”.


“Memangnya, tidak ada laki-laki (Muslim) lainnya?”

Hasil perenungan dari pernyataan Roro, adalah sebuah pertanyaan besar yaitu “Memangnya, tidak ada laki-laki lainnya yang bisa mimpin? Kok bisa-bisanya akhirnya seorang perempuan semacam Nunu ini yang dituding bisa memimpin mereka?”

Pertanyaan itulah yang menghantarkan aku kepada sebuah habit yang aku pelihara, biasakan dan diasah yaitu sebuah kebiasaan untuk selalu berusaha mencari laki-laki yang sanggup dan kapabel untuk memimpin apa-apa yang aku cita-citakan.

Karena aku yakin, Allah memiliki maksud mengapa seluruh Rasul dan Nabi adalah laki-laki bukan wanita. Oleh karena itu, selama masih ada laki-laki muslim dihamparan muka bumi ini maka belum perlu perannya digantikan oleh wanita.

Apakah hal itu berhasil?
Silahkan intip kisah manis yang ditorehkan Patlaborcamp 2014


Mudah? Jangan bercanda.

Kisah manis Patlaborcamp 2014 mungkin akan memberikan padangan pada kalian semua yang membaca bahwa “Wah enak ya, tinggal lempar aja ke laki-laki dan voila semuanya selesai. Gampang banget!”

Jangan bercanda.

Perjalananku mencari ketua tidak selalu semulus aku bertemu dengan Haqi. Haqi yang notabene sudah memiliki kapabilitas yang luar biasa dan kompatibel dengan sifat ku tentu saja seolah menggambarkan seluruh kisah ku mencari pemimpin akan selalu mudah.

Jangan bercanda. Kenyataanya, tidak semanis itu. Karena sesungguhnya konflik terjadi cukup keras dikemudian harinya.

Aku memiliki mimpi dan tujuan pada sebuah tempat, lalu aku harus menemukan seorang lelaki yang memiliki potensi untuk memimpin di tempat tersebut. Saat aku berhasil menemukan orang yang potensial tersebut, ternyata orang tersebut belum tertempa dengan baik sehingga harus menjalani proses berat namun sebentar untuk membuatnya mencapai titik dimana dia dinyatakan layak oleh khalayak umum. Beriringan dengan proses penempaan dirinya, aku pun harus secara implisit menanamkan mimpi ku pada dirinya agar mimpi tersebut bisa lahir dari dalam jiwanya.

Percayalah bahwa proses itu tidak mudah. Tidak jarang akhirnya aku dibenci. Tidak jarang akhirnya aku dan dia menjadi saling destruktif saat bersama. Tidak jarang pula orang-orang melihat aku sebagai orang yang mengerikan. Tidak jarang pula akhirnya aku gagal menanamkan mimpi ku dan akhirnya aku lelah sendiri untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang terjadi.


Epilogue

Perjalanan yang mungkin masing seumur jagung ini telah memberikan ku sebuah pembelajaran yang besar. Karena semakin sering aku membiasakan kebiasaan mencari sang-pemimpin ini aku semaki sadar akan sesuatu.

Bahwasanya, pemimpin yang paling atas tetaplah harus seorang lelaki. Namun, aku yakin bahwa Wanita pun adalah seorang pemimpin. Pemimpin yang hadir bukan untuk menjadi lebih tinggi atau lebih depan. Namun ia hadir untuk berada di samping dan akan menjadi hujan.

Dan kita akan belajar menjadi hujan. Bahwa ia akan turun dan ia tidak peduli dengan banyak orang yang menyesali kehadirannya. Hujan akan tetap turun untuk ia yang membutuhkannya, untuk orang-orang yang merindukan kedatangannya. Hujan akan tetap turun meski ia dibenci, karena ia datang bukan untuk mereka. Ia datang untuk orang-orang yang merindukan dan mencintainya
- Suaracerita

Laki-laki ataupun Wanita. Semuanya adalah Pemimpin. Namun yakinlah, setiap orang telah memiliki perannya masing-masing. Dan saat semuanya menjalankan perannya dengan tepat, maka saat kita berjalan bersama semua akan terasa lebih mudah dan kita akan bergerak lebih cepat dan lebih jauh bersama-sama.