Dikala hujan itu.

Seuntai bait kisah Surya dan Mentari #3


Hujan turun dengan deras malam ini. Bunyi nya begitu bising menabrak genteng rumah ku. Ku seruput coklat panas yang sengaja ku buat untuk menemani malam hari yang dingin karena hujan ini dan tidak lupa seperangkat drama dan film untuk menemani.

Ku tengkok ke kanan, Surya sedang berdiri dihadapan kaca besar ruang tamu. Dia diam dan terus menatap keluar. Ku lihat Surya menatap aliran air yang mengalir di kaca dengan… mesra? Ah tidak, itu bukan tatapan mesra. Tatapannya kosong… tapi… penuh makna dan ada semburat kesedihan diantara kekosongan itu.

“Sur,…” panggilku membuyarkan kekosongan dimatanya, seketika Surya menoleh ke kiri melihat ku dengan tatapan bingung seolah bertanya mengapa memanggil. “…hujanya emang kenapa?”

Surya mencoba membuka mulut namun menutupnya kembali. Ia nampak ingin mengatakan sesuatu tapi kebingungan bagaimana cara menyampaikannya. “Tar, besok pagi temenin keluar ya?”

Pertanyaan sebelumnya tidak dijawab dan malah dialihkan ke topik baru. Hmm. Aku rasa ada sesuatu yang aneh dengan Surya hari ini. Tanpa basa-basi tanya ba-bi-bu aku langsung mengiyakan permintaan Surya.

“Wah tumben langsung mau. Besok jam tujuh ya, entar aku yang nyupirin kok”

Keesokan harinya, setelah aku Shalat Subuh aku menggeliat kembali ke dalam selimut tebal di kasurku. Hangat. Nyaman. Diluar begitu dingin, hujan masih tidak henti-hentinya berderai turun membasahi bumi ini dengan semangat.

Tok. Tok.

Sepertinya Surya mengetuk pintuku. “Tari,…” Sudah kuduga itu suara Surya. Aku langsung bersiap dalam posisi duduk di kasur “…sudah jam segini, nanti bajunya jangan pake warna yang terang ya. Setidaknya kerudungnya warna gelap ya.”

Aku bersiap, mandi dan menggunakan baju. Ah, hari ini begitu dingin aku memilih sweater maroon dan rok biru dongker serta kerudung dengan warna yang senada dengan rok ku.

Saat aku keluar dari kamar, aku melihat Surya menggunakan long-coat berwarna blue-grey gelap dipadankan dengan satu pasang kemeja berwana khaki dan celana kain hitam.

“Kok keren amat bajunya”, komentarku.

“Kamunya yang nyantai banget kali bajunya.”, balasnya sambil terkekeh.

Sebal mendengarnya, aku langsung masuk kembali ke kamar dan segera mengganti sweater ku dengan turtle-neck putih dipadukan dengan blazer hitam.

Setelah sarapan, kami segera meluncur pergi dari rumah. Aku tidak bertanya kita akan kemana dan Surya hanya diam sambil menyetir mobil ke destinasi tujuannya.

Hening.

Rasanya ingin aku jitak kepala Surya. Membiarkan suasana hening ini berlangsung sekitar 30 menit di tengah kotak sempit berkecepatan 60km/jam ini. Tapi, saat aku melihat raut wajah Surya… Rasanya tidak tega untuk banyak mengeluh dan bertanya macam-macam. Raut muka Surya hari ini masih sama seperti kemarin malam. Aneh. Begitu aneh hingga aku tidak tahu harus mendeskripsikannya seperti apa.

Hening, lagi.

Akhirnya aku lelah dengan keheningan ini. Aku mencoba membuka pembicaraan dengan bertanya “Kira-kira, kita akan sampai kapan ya?”

“Hmm. Sekitar 10 menit lagi” jawab Surya dengan singkat.

Hening, lagi dan lagi.

Tak terasa sambil terus merasa kesal sepuluh menit berlalu begitu saja. Mobil hitam Surya segera belok ke parkiran dan menepikan kendaraanya dengan sangat elok. Surya segera turun dan langsung membukakan pintu untuk Mentari sambil sudah membuka payung untuk digunakan berdua.

Surya membawa ku ke tempat seperti ini?

Aku hanya menatap Surya dengan wajah bingung. Surya tersenyum dan meminta aku untuk mengikutinya. Hingga sampai ditempat yang Surya maksudkan, aku tetap terdiam dengan wajah kebingungan.

“Jadi Tar, kenalin ini Gumelar”

Aku masih terdiam. Menatap tidak percaya. Aku melihat segunduk tanah dan sebuah nisan yang bertuliskan nama Gumelar.

“Jadi… Gumelar ini kawan ku. Sudah lama aku membersamainya dan dia membersamai aku. Berkali-kali kami konflik dan berulang-ulang pula kami berbaikan kembali. Tapi, kemarin adalah puncaknya… dimana aku sudah tidak bisa lagi mentolerir Gumelar dan Gumelar sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan ku lagi…”

Surya menghela nafas.

“…aku meninggalkan Gumelar pada kondisi tersulit hidupnya. Setelah berjuta-juta kali konflik aku memutuskan untuk meninggalkannya dan dia pun seolah tidak peduli dengan kepergian ku…”

Kali ini Surya menundukan kepalanya.

“…dan tepat setelah kejadian itu, Gumelar diserang oleh segerombolan orang tidak bertanggung jawab. Gumelar tidak bisa melawan, dan dia disaat sekaratnya sempat berusaha menelefon ku. Tapi aku abaikan…”

Kulihat, ada sebulir air mata yang mengalir.

“…dan aku baru tau bahwa maksud Gumelar menelefon bukan hanya untuk sekedar membujukku kembali. Tapi ternyata itu adalah telefon untuk meminta tolong. Dan aku menjadi orang pertama yang ditelefon warga setempat yang menemukan mayat Gumelar karena nomor ku adalah nomor teratas yang ditelefon Gumelar.”

Berkali-kali Surya menyeka air matanya.

“Dan kau tau? Suasana hari itu… persis seperti hari ini. Hujan deras yang begitu syahdu, ditemani perasaan yang tidak karuan.”

Surya menoleh dan menatap ku sambil tersenyum halus.

“Ingat saat aku bilang tentang jangan mau menjadi seperti aku? Ya, inilah yang aku maksud. Jangan sampai kamu, saudaraku, merasakan hal pahit seperti ini. Hanya karena ya kamu berusaha mencoba berlaku seperti aku.”

Aku terdiam mengingat kejadian beberapa pekan lalu. “Sur! Rasanya aku pengen kayak kamu aja, bisa gak peduli sama sesuatu dan yaudah biarin aja.” Aku pernah berkata seperti itu…

“Sekalipun kamu memutuskan untuk meninggalkan sesuatu. Yakinlah, saat kamu meninggalkan hal tersebut tidak akan melukai siapapun. Kamu atau yang kamu tinggalkan”


Surya dan Mentari adalah personifikasi sifat yang bersemayam pada pribadi ini. Personifikasi sifat Ekstrovert, Feeling dan Feminine akan diwakilkan oleh Mentari dan Surya lah yang akan menjadi personifikasi dari sifat Intovert, Thinking dan Masculine.

Kisah Surya dan Mentari adalah sebuah Arc terkait kisah-kisah personal yang dielaborasikan dengan sudut pandang yang berbeda dalam format cerita pendek

Previous Story > BERTAHAN, MENAHAN, TERTAHAN
Next Story > BANDUNG LAGI, BANDUNG TERUS, AKANKAH SELAMANYA BERSAMA BANDUNG?

Disclaimer : Kawan yang mati ini bukan maksudnya ada kawan yang benar-benar meninggal. Semoga ada yang faham, apa yang “mati” dalam kisah ini

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Nurizka Fitrianingrum’s story.