Lagibete lagi, lagibete lagi.

Tulisan ini mengandung isu sensitif. Kalau sudah yakin berbeda pendapat dengan saya lebih baik tidak usah baca saja.

Tulisan ini sesungguhnya ditulis sekitar pertengahan 2016. Namun disimpan cukup lama, entah mengapa. (laugh)


Akhir akhir ini, pembahasan si LaGiBeTe sedang panas panas panasnya. Sejujurnya setiap scrolling timeline Line, saya berusaha untuk tidak peduli atau menghindari tulisan tulisan marah-marah yang marah terhadap para bigot, katanya.

Duh.

Pada hakikatnya, saya sebagai manusia beragama Islam yang secara sadar tau konsekuensi ber-syahadatain adalah menjalankan perintah Allah menjauhi larangan Allah serta mengikuti tatacara kehidupan sesuai dengan contoh Sunnah Rasulullah.

Kita sama sama tau bahwa Islam melarang perilaku LGBT ini. Tidak usah dibahas lagi.

Yang jadi masalah adalah, kenapa orang orang marah kepada orang orang yang tok pada prinsip ini?

Memangnya dengan menyatakan LGBT adalah Haram berarti harus menjauhi orang orang yang sudah kadung LGBT? Ya ngga brosis, sama yang Kafir (dalam konteks Islam, Kafir teh ya berarti yang tidak ber-syahadatain) aja Rasul tetep melakukan Muamalah (kegiatan sehari-hari, red)

Jika dianalogikan pada bahasa pemograman Java, perilaku LGBT ini adalah Atribut yang bisa true or false. Sedangkan manusia adalah sebuah Object.

Saya pernah membaca sebuah tulisan marah marah seseorang yang bilang “Saya kenal seorang Gay yang tetap menikah dengan Wanita, punya anak, dan tetap beribadah kepada Tuhannya”, lah ya bagus dong kalau memang si mas nya seperti itu.

Berarti, kondisinya Atribute isLGBT dia memang masih true, tapi dia membuat dirinya menjadi object yang memiliki Atribut isLGBT dengan visibilty nya adalah Private. Tidak bisa diakses oleh Object-object lain (manusia-manusia lain) kecuali dia mengizinkannya.

Sehingga, kita semua tau kok kalau udah ada yang kena tuh bukan di jauhin. Iya bukan. Tapi ya, jangan dengan begitu saat tau ada yang mau menjadi salah satu dari LGBT malah di “lepaskan saja, jujur saja sama diri kamu”, tapi ya wong dimbimbing lah biar gak sampe jadi.

Jangan sampai malah jadi setuju dengan si Atribute LGBT ini boleh untuk di set visibilty nya menjadi Public.

Saya pernah membaca sebuah status line yang bertuliskan seperti ini

“Wong istri nya Nabi Luth yang PRO sama kelakuan Kaum Sodom aja akhirnya ikut kena Adzab. Sehingga hati hati”

Ya, betul. Jangan sampai kita merasa lebih mengerti dari Allah dan Rasul nya. Jangan malah menjadi mencaci maki Ulama yang mengeluarkan dalil dalil. Seolah-olah yang paling benar (ya katanya juga kan gam suka kan sama orang orang yang menyatakan dirinya paling benar)

Hati hati pada masalah hati.
Bisa saja bermula dari sekedar PRO terhadap hal hal yang Allah dan Rasul nya larang, nanti akhirnya menjadi bentuk Syirik kecil dan lama lama jadi besar.

Hati hati saja.
Betul kok, urusan keimanan memang hanya Allah dan diri kita sendiri yang tau. Tapi, setidaknya manusia sudah diberikan guideline seperti apa sih Akhlak orang orang dengan keimanan tertentu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.