FORGED FOR GOOD
Published in

FORGED FOR GOOD

Karyamu tidak laku? Kamu selalu bisa berhenti berusaha kok

Pernah ada yang bilang ke aku, orang Indonesia lebih pragmatis dan praktis, masalahnya berat, kebutuhan dasar aja sulit terpenuhi, susah kalau mau dikasih cerita fantasi. Pernah juga ada yang bilang, orang Indonesia sukanya horor, cinta-cinta, gosip, agama, dan receh-receh, kalau kamu kasih cerita fiksi fantasi tidak laku.

Jarang ada yang bilang ke aku, kalau mau jualan cerita fantasi di Indonesia, masalah pertama yang perlu kamu pecahkan itu bagaimana caranya agar ceritanya bisa relate. Langka ada yang bilang ke aku, karakter kamu sebaiknya dibikin lucu-lucu, karena visual is key, atau peluang pasar paling besar kalau mau cerita fantasi tuh ke target market anak-anak, tapi kalau cerita kamu terlalu dewasa, bisa.. cuma perlu bikin rencana jangka panjang dan strategi yang baik, atau coba kamu pelajari pola dari masa-masa awal Disney dan industri animasi Jepang.

Mudah sekali jengkel dan masuk ke dalam klise, “Ah, dasar orang Indonesia tuh ya… cih..” Aku sering mendengar ungkapan tersebut disampaikan oleh diriku dan teman-teman kreator; mengambil jarak dan bermain peran sebagai bukan orang Indonesia. Aku sih sering ya. Sulit untuk tidak merasa lebih ‘maju’ dari orang lain.

Aku menemukan kesulitan yang teramat sangat untuk membiasakan diri — boro-boro tim — untuk melihat kejengkelan sebagai tantangan kreatif, dan menjadikan keangkuhan sebagai dorongan untuk mawas diri dan mencoba lebih mengenal masyarakat Indonesia.

Sebagai warga dari negara dengan dasar negara bernama Pancasila, menurutku ironis sekali melihat perilaku aku yang sulit berempati dan beradaptasi dengan keragaman preferensi dan perspektif masyarakatnya.

Karena setelah aku perhatikan, empat sila dari Pancasila semuanya berbicara tentang keharmonisan antar manusia; kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jika kupahami dengan keterbatasan pemahamanku, seharusnya, dengan mengamini dan mengamalkan pancasila, aku dapat menjadi orang yang adem-adem ayem melihat hal-hal yang aku sukai dan tidak, dari negaraku dan masyarakatnya. Yang artinya.. kalau ada orang yang bilang karyaku sulit untuk dijual, atau tidak masuk akal, ya ndak papa. Dan kalau ada yang mendukung ya juga biasa saja.

Aku yang perlu memahami bahwa tidak semua harus setuju dan cocok dengan karya apa pun yang kupilih dan jalan yang kuambil untuk berproses. Itu saja dulu. Karena dari situ aku baru bisa lebih legowo untuk memikirkan bagaimana cara berkomunikasi yang tepat untuk cerita yang ingin kusampaikan, baik itu fantasi, horor, romansa, alay, keren, receh, berat, apa pun.

Aku perlu bersikap adil dengan diriku sendiri dan menyampaikan perbedaan pendapatku dengan cara yang beradab, agar tidak memecah belah persatuan. Toh aku bisa memimpin dengan cara yang lebih bijak, dengan bermusyawarah, bersama perwakilan dari beragam archetype masyarakat Indonesia yang dapat kutemui.

Apakah dengan begitu tercipta keadialan sosial? Tidak tahu. Yang dapat aku usahakan adalah, untuk sadar akan keadaan sosial kita yang berbeda-beda, sehingga cara berkomunikasinya pun harus berbeda-beda, menyesuaikan.

Pada akhirnya, kalau sudah memilih untuk membuat suatu karya, yang mungkin sepi peminatnya, jalanilah dengan kesadaran dan kesabaran. Bukan salah siapa-siapa, bukan masyarakat, bukan dirimu sendiri. Keberadaanmu diperlukan, kamu berbeda, sama seperti semua orang lain. Belajarlah untuk berkomunikasi lebih baik. Kalau sudah tidak membahagiakan, ingin menyerah, tidak apa-apa, kamu selalu bisa berhenti berusaha kok.

--

--

Forge myself by spending an hour to write for a year straight, for good.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store