FORGED FOR GOOD
Published in

FORGED FOR GOOD

Seperti lensa, fokus itu bisa diatur.

Aku sering bingung bila ada yang bilang aku tidak fokus, apa aja dikerjain, apa aja dipikirin, segala dicobain, tidak ada yang jadi jago di satu bidang. Argumen yang dipakai seringkali, hanya pinjaman kutipan seperti, “When you try to be everything , you end up being nothing.” atau, “Jack of all trades but a master of none.” yang aku ragukan apakah mereka benar-benar paham maksudnya atau sejauh apa kutipan tersebut dapat dimaknai dalam konteks hidupku.

Contoh, katakanlah kamu bercita-cita, berencana, berjuang untuk menjadi seorang dokter. Dalam prosesnya kamu harus mempelajari ilmu kedokteran, yang didalamnya sendiri terbentuk oleh beragam cabang ilmu, seperti: anatomi, kimia, biologi, mikrobiologi, dsb. Namun apakah kamu bisa menjadi dokter bila hanya menguasai itu semua? Tidak. Setelah itu kamu perlu belajar bersosialisasi dengan teman-teman satu angkatan, bekerjasama dibawah tekanan, berpolitik menghadapi senior, berempati dengan pasien, atau belajar manajemen waktu untuk istirahat, dan menjaga kesehatan dengan belajar berolahraga, meditasi, atau dengan mengatur diet tertentu. Banyak sekali yang perlu dipelajari untuk menjadi dokter. Dan hal itu belum termasuk nanti, saat sudah praktek, lalu berumah tangga misalnya, atau punya anak, dan menjadi bagian dari keluarga besar, lalu tetangga, masyarakat, dan warga negara. Rasanya banyak sekali cara untuk memecah fokus. Seakan kamu tidak bisa hanya ‘fokus’ menjadi dokter saja.

Dengan prinsip berpikir yang seperti contoh diatas, sekarang bayangkan profesi lainnya; pemain bola, pegawai negeri sipil, akuntan, pengacara, aktor, penata rias, pembuat film, astronot, penyelam, penari, pilot, supir, barista, dst. Semua sama saja.

Masalahnya adalah, penggunaan label profesi yang menyempitkan identitas seseorang kurang tepat digunakan sebagai ‘penggaris’ untuk mengukur seberapa fokus seseorang dalam menjalani hidupnya.

Apakah cukup kamu didefinisikan dengan kata benda?

Aku tidak.

Namun bukan berarti kata benda tidak berguna ya.. Kata benda sangat membantu untuk memperkenalkan diri lewat kartu nama, atau linked.in, atau dalam forum profesi, atau lingkaran sosial yang spesifik.

Tapi jika hanya dengan itu, kamu dapat mengatakan seseorang tidak fokus, mungkin sebaiknya tunggu dulu.

Bagaimana jika aku bilang, aku sedang fokus untuk menjadi seorang enabler, yang definisinya aku ciptakan sendiri sebagai, seseorang yang membantu orang lain untuk berdaya, yang definisi berdaya ini buatku, sama dengan kreatif, yang definisi kreatif ini buatku adalah kemampuan untuk nyaman berada dalam proses keluar dan masuk zona nyaman untuk menyelesaikan masalah diri sendiri dan sekitarnya. Dan untuk menjalankan fokus itu, aku perlu kuliah biologi, belajar membuat robot dan program, membuat film, tari, teater, lukis, musik, animasi, belajar kebijakan publik, hukum, teologi, psikologi, membaca buku-buku sejarah, filosofi, manga, novel klasik, majalah bokep, kitab suci, dsb. Ah aku bisa tidak berhenti mengoceh tentang apa yang aku percayai.

Dan tidak praktis juga rasanya menjelaskan itu semua setiap saat kan. Dan memang tidak perlu juga. Tidak semua hal perlu dijelaskan. Tidak semua tempat tepat untuk menerima penjelasan semacam itu. Salah-salah aku bisa dibenci karena sombong lah.. arogan lah.. sok lah..

Aku ingin memberikan ilustrasi saja. Aku yakin setiap individu pasti punya caranya masing-masing dalam mendeskripsikan dirinya, dalam menjalani hidupnya, dalam menciptakan definsi-definisinya sendiri akan segala sesuatu.

Ide besarnya adalah, pertama, fokus itu relatif untuk tiap orang. Sulit untuk memberikan penghakiman apakah seseorang itu fokus atau tidak hanya dari media sosial atau bergurau sesekali.

Kedua, bagaimana cara kita memaknai kata fokus itu fleksibel ko.. tergantung cara membingkai perspektifnya. Jadi buat aku yang di masa lalu, yang awal dua puluhan, tenang saja. Fokus saja dengan apa yang ada disekitar kamu sekarang. Kalau ternyata ada banyak, jalani saja semuanya, hingga nanti kamu menemukan titik tidak sanggupnya. Ntar juga ketemu enaknya gimana menjalani hidupmu.

Bye.

--

--

Forge myself by spending an hour to write for a year straight, for good.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store