Kampung Susun Manusiawi Kampung Pulo


Salah satu image dari konsep Kampung Susun Manusiawi Kampung Pulo. Jendela warna warni beragam ukuran berasal dari jendela daur ulang milik warga sendiri. Tiap unit dirancang untuk bisa dijadikan khas selera masing-masing. Credit: Yu Sing

Konsep Kampung Susun Manusiawi Kampung Pulo telah mengalami jatuh bangun selama pengembangannya beberapa tahun ini: Diterima, ditolak, diterima lagi, dan terakhir digantung oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Meski nasib belum sungguh jelas, sementara sebagian Kampung Pulo sudah digusur tahun lalu, Yu Sing, tetap membantu warga setempat dan Ciliwung Merdeka pimpinan Pak Sandyawan Sumardi, biasa disapa Romo Sandy, untuk menggodok konsep yang paling pas untuk peremajaan kampung yang sifatnya “on-site”, di mana warga tidak dipindahkan jauh dari tempat semula, juga sedapat mungkin ikatan sosial tidak dipecah. Tetangga tetap bisa jadi tetangga di tempat baru.

Tampak atas dari konsep Kampung Susun Manusiawi Kampung Pulo di Jakarta Timur, di tepian Sungai Ciliwung. Yu Sing sengaja membuat image hijau di sepanjang kali, meski pada kenyataannya yang tadinya hijau sudah menjadi beton. Yu Sing mengatakan: Ini semacam protes kecil atas betonisasi sungai. Credit: Yu Sing

Dalam presentasinya mengenai kampung susun, Yu Sing mengutip keterangan tentang kampung:

Kampung mendominasi peruntukan lahan di kota-kota di Indonesia (sekitar 70 persen), kampung menjadi tumpuan perumahan 70 sampai 85 persen penduduk kota (Kementrian Perumahan Rakyat, 2009). Sementara itu, penyediaan perumahan melalui jalur formal oleh sektor swasta dan pemerintah hanya mampu menyediakan sekitar 15 persen dari total kebutuhan rumah di perkotaan. (Sumber: kampungnesia.org)

Data dan fakta menunjukkan bahwa swadaya warga adalah pemasok perumahan yang paling banyak. Dan warga kampung baik urban maupun rural, membangun rumah tanpa utang bank. Mengutip salah satu korban gusuran di Pasar Ikan, Jakarta Utara: Paku saja kami beli.

Yu Sing juga mengatakan setelah mempelajari kampung, ia menyadari betapa kampung, yang tidak direncanakan, telah menjadi “compact city.” “Banyak ruang-ruang jenius yang tak akan bisa didesain oleh arsitek,” ujar Yu Sing dalam presentasinya bulan September 2016.

Mengutip Dr. M. Sani Rochmansyah, arsitek muda dari Bandung ini mengatakan bahwa kampung mengikuti prinsip compact city dengan pola guna lahan campuran/mixed uses.

“Kampung menjadi semacam kolase mini warga kota yang memungkinkan mereka untuk terus mengembangkan prinsip-prinsip keragaman, toleransi, dan kesetiakawanan,” lanjut Yu Sing, mengutip Patrick Guiness, yang menulis buku Harmony and Hierarchy in a Javanese Kampung, 1986.

Mixed use. Satu ruang digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti jalanan di perkampungan yang digunakan untuk kendaraan lewat, bermain, nongkrong, sampai mencari nafkah. Credit: Yu Sing

Yu Sing mengatakan dalam konsep awal tim desain merancang kampung susun untuk lebih dari 3,000 keluarga. Tapi setelah ditelaah lagi, tim menemukan akan lebih murah dan “compact” jika setiap RT dibangunkan satu bangunan kampung susun.

Tim membahas konsep penataan yang paling tepat. Hunian vertikal bagi warga berpenghasilan rendah dan menengah tidak boleh terlalu tinggi karena biaya pemeliharaan akan semakin tinggi. Credit: Yu Sing
Sirkulasi udara sekaligus ruang bermain. Credit: Yu Sing

“Seluruh rumah dalam satu RT didesain menjadi satu bangunan kampung susun. Jumlah rumah disediakan sejumlah kepala keluarga, bukan sejumlah rumah eksisting (dalam satu rumah eksisting dapat terdiri dari beberapa KK), sehingga rumah lebih nyaman. Antar blok bangunan dihubungkan oleh jembatan-jembatan dengan material expanded metal agar tidak menghalangi aliran udara dan cahaya matahari ke ruang-ruang di bawahnya. Jaringan jalan dan jembatan itu merupakan representasi jalan kampung yang menyatu dengan ruang-ruang sosial di semua lantai,” demikian keterangan Yu Sing.

Konektivitas antar gedung disediakan oleh jembatan-jembatan penghubung. Bagi warga kampung kota ikatan sosial yang melekat di pemukiman sangat penting. Meski pemukiman menjadi bertingkat, desain mengupayakan keterhubungan. Credit: Yu Sing

Konsep kampung susun mendukung perbaikan Sungai Ciliwung bahkan juga bisa mengakomodasi jalan inspeksi dengan cara warga mundur beberapa meter dari pinggir kali. Namun, para ahli air yang membantu pematangan konsep telah mengatakan ada yang jauh lebih baik dari betonisasi dan sodetan dan jalan inspeksi. Dengan konsep pasang surut, di mana jika musim hujan warga merelakan bagian bawah kampung susun terendam, maka air yang bisa ditampung di wilayah Kampung Pulo bisa lebih banyak, dan mengurangi beban di hilir atau di utara Jakarta.

Gambar kiri atas adalah rencana pemerintah daerah Jakarta, dengan membangun sodetan (warna biru) dan menguruk sungai yang berkelok. Namun konsep kampung susun mengharapkan pemerintah daerah dan pusat untuk menggunakan konsep yang lebih mutakhir. Di Belanda sedang ada satu gerakan penataan air baru, yang disebut sebagai Room for the River, atau ruang untuk air. Credit: Yu Sing
Kehidupan sungai Ciliwung tempo dulu. “Vrouwen doen de was in een rivier in Meester Cornelis te Batavia”, tahun 1930an.
 Sumber: http://media-kitlv.nl/image/531caf00-65ab-438b-e3a7-e3bdd2cd3ebc

Kampung susun tentu tidak melupakan hal terpenting bagi warga yaitu bagaimana tempat tinggal bisa menyejahterakan dengan memberi ruang pada ekonomi informal. Kampung susun akan memiliki “ramp” untuk mempermudah warga yang berdagang untuk memasukkan gerobak ke tempat aman.

Tim konsep juga memberi ruang untuk urban farming kecil-kecilan sehingga warga bisa memproduksi makanan mereka sendiri. Kalau panen baik mungkin bisa dijual.

Selain bercocok tanam di wilayah kampung susun, warga juga bisa melanjutkan bisnis mereka. Credit: Yu Sing

Gagasan ini tentu saja terus berkembang dan warga juga dilibatkan dalam konsepnya. Warga juga telah mengungkapkan mereka tidak keberatan mencicil asal unit di kampung susun bisa menjadi milik, bukan sewa.

Masih ada harapan bagi warga. Semoga jalan terbuka bagi mereka sehingga warga bisa ikut aktif membangun kota Jakarta yang bersih, sehat, dan makmur bagi semuanya.

Maket ini dipamerkan di pameran arsitektur indonesialand di Selasar Sunaryo mulai 2 September hingga 2 Oktober 2016. Credit: Yu Sing
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Forum Kampung Kota’s story.