Jumat Mendengar #1

GEMURUH
GEMURUH
Jul 28, 2017 · 2 min read

Setiap jumat kami membagikan sepilihan musik-musik untuk didengar. Karena bagi kami musik adalah ibadah dan layak untuk dibagi juga diresapi.

Gambar: tongkronganislami.net

Potongan trek untuk disuka:

  1. Blur — Beetlebum
    Lagu yang cukup populer untuk list pertama kami. Lupakan tentang heroin, Beetlebum memiliki vokal Albarn yang begitu relaks mungkin juga terkesan orgasmik seakan berlawanan dengan suara gitar yang kasar di latar. Dan jangan lupakan outro-nya yang sangat ‘berisik’ khas band-band post-Nirvana.
  2. The Mentawais — Flat Day
    Band surf-rock asal Bogor sepertinya benar tau rasanya surfing di Bogor. Musik lincah yang ada pada lagu Flat Day seakan mengajak pendengarnya untuk menikmati berselancar tak peduli jika hari kita biasa-biasa saja dan tidak ada ombak sama sekali.
  3. Ikkubaru — Chasing Your Shadow
    City-Pop. City-Pop. City-Pop. Lagu yang sangat ringan dan sangat asik ketika disetel dalam perjalanan mobil saat mengitari jalanan kota malam-malam. Ahiya, Chasing Your Shadow baru saja merilis MV-nya dengan Karina Sokowati yang menawan sebagai modelnya.
  4. Low Roar — Friends Make Garbage (Good Friends Take It Out)
    Social life seringkali melelahkan. Lagu yang dibawakan oleh musisi asal Islandia ini barangkali tepat bagi mereka yang butuh ruang dan waktu sejenak untuk menyendiri. Semakin tepat jika diputar saat dalam perjalanan menuju segala yang asing.
  5. Slowdive — Sugar For The Pills
    Sugar For The Pills tergolong lebih ngepop jika dibandingkan dengan lagu-lagu pada album masterpiecenya, Souvlaki. Tapi itu tidak menjadikan album baru ini cheesy. Sugar for The Pills rasanya menggambarkan musik Slowdive yang juga menjadi dewasa. Lagu yang indah untuk album comeback yang juga indah.

Album untuk hati yang penuh:

  1. Comedown Machine, The Strokes
    Album The Strokes yang menurut saya paling menjelajah dibanding album-album lainnya. Mungkin juga sebagai bentuk kemuakan setelah sekian lama dituntut untuk tetap senada dengan Is This It. Comedown Machine terasa seperti berada dalam mesin waktu yang sedang menuju masa 80an, tapi bukan 80an yang terkesan hangat dan homie. Comedown Machine lebih tentang menuju 80an dalam suasana yang dingin-menyakitkan. Seperti interpretasi terhadap keinginan untuk kembali ke suatu masa tapi sadar hal itu tidak mungkin.
    Coba dengar: ‘One Way Trigger’, ‘Welcome to Japan’, ‘80’s Comedown Machine’, ‘Chances’ ‘Call It Fate, Call It Karma’.
  2. In Rainbows, Radiohead
    Bagi saya In Rainbows tidak mendapatkan resepsi yang sepantasnya ia dapat jika dibandingkan dengan OK Computer atau Kid A. In Rainbows boleh jadi menjadi salah satu album yang lebih mudah didengar dibandingkan dengan album Radiohead lainnya, tapi yang paling menarik dari In Rainbows adalah bagaimana dia menangkap keseluruhan ‘suara’ Radiohead dan merangkumnya ke dalam satu album tanpa kehilangan identitas. Mendengarkan In Rainbows terasa jatuh ke dalam trapdoor yang kemudian jatuh lagi ke dalam trapdoor lainnya. Dipukuli habis-habisan oleh dekonstruksi.
    Coba dengar: ‘Nude’, ‘Weird Fishes / Arpeggi’, ‘All I Need’, ‘Reckoner’.

GEMURUH

Untuk kepentingan-kepentingan lainnya silahkan hubungi: redaksi.gemuruh@gmail.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade