Kamisan Membaca #1

GEMURUH
GEMURUH
Jul 27, 2017 · 3 min read

Setiap kamis malam kami membagikan sepilihan bacaan untuk dibaca. Membaca untuk tau, membaca untuk mengingat, membaca untuk melawan dan menolak lupa.

Gambar: http://ui.progresif.org/

Dari penjuru internet:

  1. Kamisan: Kesabaran dalam Kebisuan, Andre Barahamin
    Sering mendengar ‘aksi kamisan’? Tapi sampai sekarang masih belum tau aksi ini tentang apa? Tepat pada hari ini aksi kamisan telah mencapai kamis ke-500. Artikel yang ditulis oleh Andre Barahamin ini kurang lebih menjelaskan latar belakang dari aksi kamisan dengan gaya bahasa yang enak dan mudah dibaca. Ssstt iya yang nulis Andre, udah jangan menggosip.
  2. Instagram account of University of Pennsylvania runner showed only part of story, Kate Fagan
    Seminggu lebih ini isu depresi dan bunuh diri kembali terangkat menyusul meninggalnya Chester Bennington, vokalis Linkin Park tepat pada hari ulang tahun Chris Cornell yang juga mengakhiri hidup dengan cara yang kuranglebih sama. Pada artikel ini Kate Fagan melalui cerita sepanjang 5000 kata-nya menuliskan dengan sangat detil bagaimana seorang yang tampak senang-senang saja dari luar (feed sosial medianya) ternyata hidupnya begitu menderita sampai memutuskan untuk melakukan bunuh diri. Tulisan Kate Fagan seakan menyerang stigma terhadap mental illness, berusaha memberikan insight baru tentang pentingnya kepedulian akan kesehatan jiwa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat modern.
  3. My Family’s Slave, Alex Tizon
    Meskipun artikel yang dikeluarkan oleh The Atlantic ini sudah dikeluarkan beberapa bulan yang lalu, namun artikel ini berhasil masuk ke dalam list Kamisan Membaca. Artikel yang ditulis oleh Alm. Alex Tizon dari The Atlantic mengisahkan kisah hidup Lola, “budak” yang ia warisi dari keluarga ibunya di Filipina. Tulisan ini pun menggambarkan modern-slavery yang secara terpaksa harus ia saksikan di dalam keluarganya sendiri, meskipun ia menentang praktek tersebut. Hingga akhir hayat Lola, Alex memperlakukan Lola selayaknya seorang manusia dan sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarganya.
  4. Sikapi Post-Truth dengan Kritis, Putri Rosmalia Octaviyani
    Di era keterbukaan informasi ini, dimana kita bisa mengakses informasi sebebas-bebasnya, ada hal yang patut diingat sebelum anda berlayar melalui perangkat mesin penelurusan Google: Jangan pernah lupakan fakta. Meski pendek, artikel tersebut dengan jelas memperingatkan masyarakat untuk fact-check dikala mereka menemukan pandangan mayoritas yang bisa jadi terdistorsi/bagian dari sebuah propaganda yang sudah usang.
  5. Intelektual dan Sosialisme John Stuart Mill, Hendra Manggopa
    John Stuart Mill adalah seorang tokoh Liberal klasik. Bukunya, “On Liberty”, bisa dikatakan sebagai bacaan dasar mengenai libertariansime. Artikel di atas membahas mengenai ide dan pokok yang dituangkan oleh John Stuart Mill ke dalam buku-bukunya. Tapi, hati-hati jika anda membaca ini, sebab kaum sumbu pendek bakalan men-cap anda Liberal Kafir!

Debu-debu rak buku:

  1. Nyanyian Akar Rumput, Wiji Thukul
    Melalui puisi-puisinya, Wiji menggambarkan seperti apa bentuk sebuah opresi. Terkadang sunyi, terkadang api, buru juga rindu. Sebuah perwakilan atas kelas sosialnya sampai akhirnya ia dinyatakan ‘hilang’ beberapa waktu sebelum reformasi. Kata-kata di buku ini mungkin tidak seindah sebagaimana puisi milik penyair lainnya, tapi setidaknya cukup jujur untuk membuat penonton film Istirahatlah Kata-Kata berani protes dan mengatakan: “Seperti ada yang kurang”.
  2. The Myth of Sisyphus, Albert Camus
    Bertumbuh dewasa dan kita menemukan sebuah problema baru: krisis eksistensial. Pengejaran jati diri juga pencarian-pencarian akan arti hidup terkadang begitu banal dan tak jarang hanya akan mengujung kesia-siaan. Albert Camus membuka buku ini dengan opening line yang sangat asik: “Hanya ada satu masalah filosofis yang benar-benar serius, yakni bunuh diri. Menimbang-nimbang apakah hidup ini berarti bergantung dengan jumlah pertanyaan yang terjawab”. Yang juga ditutup dengan closing line yang tak kalah memukau tentang bagaimana Sisifus mungkin memandang kebahagiaan.

GEMURUH

Untuk kepentingan-kepentingan lainnya silahkan hubungi: redaksi.gemuruh@gmail.com

GEMURUH

Written by

GEMURUH

GEMURUH

GEMURUH

Untuk kepentingan-kepentingan lainnya silahkan hubungi: redaksi.gemuruh@gmail.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade