You, Me, Youtube dan Media

Alwan Ammar
Aug 9, 2017 · 7 min read
video oleh MisterAmazing

*Saya menemukan video esai yang menarik dan saya rasa perlu untuk ditranskrip dan translasikan ke dalam bahasa Indonesia. Kali ini saya melakukan beberapa ‘penyesuaian’ kecil ketika menerjemahkan karena memang pada dasarnya script yang ditujukan untuk lisan belum tentu enak untuk dibaca, begitu juga sebaliknya. Tapi saya tetap mencoba agar tetap seorisinal mungkin.*


Sejak founder Youtube, Jawed Karim memposting video pertamanya lebih dari 10 tahun yang lalu pada tahun 2005, sudah lebih dari 1,3 miliar video yang disebarkan dan sekitar 300 jam per menit video baru terupload setiap harinya di dalam websitenya. Di waktu yang bersamaan 34,7 miliar video dibuka oleh lebih dari 900 juta orang. Kebanyakan dari video-video ini tidak akan dilihat oleh siapapun, dan banyak sekali video yang akan dilupakan dan tinggal sebagai arsip dari waktu yang terlewat sebelum akhirnya terkubur bersama pengalaman yang terkubur oleh pengalaman lainnya.

Beberapa video mungkin tentang kawan-kawan yang sedang bermain menikmati kota pada malam hari. Mungkin ada juga seseorang yang mengupload speedpainting, review, atau bahkan video Gangnam Style karena orang-orang masih saja membuatnya entah kamu mau percaya atau tidak. Tapi apapun itu, akan selalu ada seseorang di dalam video atau setidaknya seseorang yang merekam dan mengupload video tersebut. Hal-hal seperti ini memberikan semacam elemen personal yang bahkan sebenarnya bisa juga ditemukan di video-video yang paling banyak dilihat seperti video-video challenge, let’s play atau gosipan drama sekalipun.

Saya pernah mendengar kalau Youtube telah menjadi semacam media alternatif atau mungkin menjadi sumber dari jurnalisme alternatif. Tapi berbicara seperti ini hanya membuat Youtube tampak seperti bentuk lain dari media-media yang sudah established, walau sebenarnya hal ini tidaklah benar.

Ketika kamu berpikir tentang media, kamu akan cenderung untuk memikirkan besarnya budget dan mahalnya bahan-bahan untuk melakukan proses produksi. Game of Thrones, TV show yang paling tinggi ratingnya pada tahun 2016 memakan biaya sekitar 10 juta dollar per episode. Hal ini menjadikan total biaya produksinya mencapai 100 juta dollar tiap season, dengan beberapa pemeran yang mendapatkan lebih dari setengah juta dollar tiap episodenya. Tapi hal seperti ini tidaklah terjadi di Youtube.

Banyak Youtuber yang bilang kalau Bart Baker atau Fredding Wong tidak modal dalam membuat konten. Tapi sebenarnya bahkan orang-orang seperti Casey Neistat, Vsauce atau bahkan PewDiePie sudah pasti tidak akan mengeluarkan uang sebanyak 10 juta dollar per video yang di upload. Jadi mengapa orang-orang begitu keranjingan menonton Youtube? Mengapa 4 juta video dilihat setiap harinya ketika orang-orang bisa melihat konten yang mungkin punya kualitas produksi 100x lipat lebih baik? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali satu dekade yang lalu ketika semua orang masih memperdebatkan bahaya-bahaya yang mungkin terjadi sebagai dampak dari reality show. Juga pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan mengapa ada orang yang mau menontonnya? Mengapa menontoni orang-orang yang tidak melakukan apa-apa dan tidak seperti The Wire, salah satu TV show yang populer pada masa itu?

Entah dulu atau sekarang, jawabannya ada pada alasan psikologis mengapa orang mau ikut melihat sesuatu entah dalam media apapun itu. Ada elemen fantasi diantara diri kita yang seakan melihat diri sendiri di dalam tontonan yang kita tonton. Reality Show membawa batasan-batasan itu semakin dekat dengan penonton, memberikan semacam kesempatan kepada penonton untuk menemukan diri mereka berada di dalamnya reality show itu sendiri. Reality Show menunjukan kalau sebenarnya kemampuan scriptwriting, diskusi kelompok, sinematografi, plot atau apapun itu tidak lagi terlalu dibutuhkan. Yang sebenarnya diperlukan hanyalah 1 orang atau sekelompok orang yang sebenarnya bisa siapa saja untuk memproduksi acaranya sendiri.

Kembali ke hampir 2 dekade berikutnya dan apa yang terjadi di dalam Youtube sebenarnya sebuah breakdown dari batasan-batasan antara media dengan konsumen. Hal ini menjadi semakin rancu karena terkadang keduanya bisa menjadi satu di saat bersamaan. Tapi hal ini bukanlah sesuatu yang benar-benar unik dari Youtube karena kalau diingat-ingat dari sejarah awal internet, kamu mungkin menemukan hal yang sama seperti ini di Newgrounds dimana konsumen bisa membuat konten yang menghibur konsumen lainnya. Hal ini penting untuk konsumen bisa menjadi si entertainer dan vice-versa.

The only thing you need…

Meskipun begitu akan selalu ada batasan berupa kemampuan individu yang akan menjadi halangan untuk merealisasikan fantasi-fantasi yang mereka bayangkan. Youtube mengubah semua hal ini agar seseorang tidak butuh skill untuk menjadi seorang Youtuber. Kamu tidak perlu lagi membuang berjam-jam waktu untuk membuat animasi sepanjang 20 detik seperti yang pernah kamu lakukan di Newgrounds. Kamu juga tidak perlu belajar kemampuan videografi atau editing yang rumit itu. Yang kamu butuhkan hanyalah sebuah iPhone dan kehidupan yang cukup menarik bagi orang. Lalu kamu akan mendapati dirimu sebagai seseorang yang berpotensi untuk menjadi orang paling terkenal di Youtube. Secara otomatis kamu akan menjadi penulis, sutradara dan si kreator karena plot story dan fokus di semua episode yang kamu post di channelmu adalah tentang kamu. Tapi itu bukan berarti kamu hanya perlu duduk di depan kamera dan membuang waktu penonton. Kamu tetap harus melakukan sesuatu yang bisa memaksimalkan potensi terkenalmu.

Youtube menawarkan sebuah pengalaman yang mirip dengan keberagaman dalam televisi. Tapi meskipun begitu, konten yang bisa dibilang tidak terlalu butuh usaha untuk membuatnya tetaplah populer di Youtube. Hal ini bisa terjadi karena blog / vlog adalah sebuah lambang dari individualitas seseorang. Vlog merupakan contoh video paling sederhana yang seseorang bisa buat dan yang mendorong tingkat kepersonalan Youtube menjadi lebih lagi.

Para vlogger pada umumnya bisa dibagi menjadi 2. Kalau kamu adalah seorang youtuber seperti Kacey Neistat atau Sam Colder yang mendorong vlog-vlognya mencapai kualitas yang sangat tinggi, kamu akan merencanakan sinematografi dan menghabiskan waktu untuk mempersiapkan shot seperti apa yang ingin diambil. Mungkin membiarkan kamera menyala begitu saja selama sejam untuk mendapatkan timelapse yang bagus. Kamu akan banyak menggunakan lensa wide untuk membawa dirimu lebih dekat dengan audiens dengan mensimulasikan tatapan mata pada kamera seolah sedang bertatapan sungguhan. Mungkin kamu akan menggunakan montage dari beberapa kamera untuk mendapatkan gambar-gambar kontinyu yang membuatmu hidupmu seperti di dalam film. Kamu mungkin akan membuat editan yang sangat halus, mendetail dan saling bersambungan untuk membuat hidupmu terlihat seperti petualangan yang tak pernah habis. Hal ini dibantu oleh color contrast yang menabrakan warna cyan dengan oranye yang akan membuat semuanya tampak benar-benar lebih ‘hidup’. Biasanya kamu juga akan memasukan musik-musik emosional entah itu yang membangkitkan moodmu atau menjadikanmu lebih merenung. Dengan menggabungkan kesemua hal itu kamu akan membuat audiens mau memiliki hidup seperti dirimu. Karena sekali lagi, fokus dari semua video yang kamu buat adalah kamu seorang.

The Holy Trinity is fucked up

Kemudian jika berbicara hal sebaliknya, ada juga vlogger-vlogger yang proses produksinya sangat minimalis seperti Guava Juice, WolfieRaps atau ComedyShortsGamer. Ketimbang menilai mereka menggunakan pertimbangan segitiga kualitas yang begitu retoris (subject, speaker, audience), orang-orang seperti ini melakukan semacam men-tai-kan realisme untuk terhubung pada audiensnya. Seperti Guava Juice yang pada satu waktu duduk diatas tumpukan mashed potato di dalam bathtubnya atau mungkin juga pada saat dia membuat burger berbentuk lego. Tapi bagi audiens, reaksi yang ditampakkan Guava Juice tampak sangat ‘nyata’ seakan mereka sendiri juga bisa melakukan apa yang mereka lihat. Improvisasi dan rendahnya kualitas video-video ini tidaklah menekankan berakhirnya pikiran ‘jika itu aku’, tetapi justru menghadirkan pikiran ‘mengapa bukan aku?’.

Bobby Burns dalam videonya yang membedah Filthy Frank menunjukan kalau realisme seperti ini tidaklah terbatas hanya ada pada para vlogger. Tapi dia gagal untuk tetap memfokuskan kontennya pada Frank seorang. Setiap episode dari kontennya ini ialah Frank pada situasi yang berbeda. Apa yang kira-kira Frank lakukan, apa yang kira-kira ia katakan, rasakan, siapa yang sedang bersamanya juga mengapa ia berpikir seperti ini. Realisme macam ini hanya akan bekerja jika fokus dari keseluruhan konten tetaplah si Frank dan membuat kita kembali berpikir apa yang kira-kira kita lakukan jika menjadi dirinya. Kesalahan-kesalahan yang disengaja juga efek-efek visual yang jelek yang ada di dalam videonya justru malah menjadikan acaranya berfokus pada individu, dalam hal ini Frank.

Kalau dibandingkan, sebenarnya video-video komentari atau channel video esai tidaklah jauh berbeda. Fokus dari konten mereka tetaplah ada pada apa yang orang itu sedang lakukan, pikirkan dan mengapa mereka memikirkan hal itu. Kamu benar-benar menginginkan kalau mereka ini mirip dengan dirimu. Jadi pengambilan-pengambilan gambar di dalam kamar atau penggunaan mic kualitas konsumer atau bahkan tidak menunjukan wajahmu sama sekali adalah hal yang semua orang bisa lakukan. Dan ketika si youtuber meminta hal-hal seperti subscribe, komentar, atau likes kamu akan semakin merasa kalau kamu bisa menjadi bagian dari video itu sendiri. Kamu akan merasa jika setiap hal yang ada di dalam website ini memang sengaja dibangun untuk menciptakan fantasi kalau kamulah pemeran utama dalam kehidupan yang sebenarnya sudah menjadikanmu sebagai pemeran utama.

Sebuah filosofi You dalam Tube

Seperti inilah bagaimana Youtube bersaing dengan televisi entah itu melalui video-video berkualitas tinggi yang merekam kehidupan, entah itu jokes-jokes receh atau karena sistem yang mengurangi perbedaan antara kreator dan konsumen. Bagaimana Youtube mampu menyesuaikan diri dengan audiensnya jauh melampaui apa yang televisi bisa lakukan. Dan dengan begitu para speaker, subject dan audience telah menjadi hal yang satu. Kamu.

GEMURUH

Untuk kepentingan-kepentingan lainnya silahkan hubungi: redaksi.gemuruh@gmail.com

Alwan Ammar

Written by

Should I pee or should I write a new story?

GEMURUH

GEMURUH

Untuk kepentingan-kepentingan lainnya silahkan hubungi: redaksi.gemuruh@gmail.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade